"Ca, kuliah dimana?"
"Enggak kuliah. Aku kerja,"
"Kerja dimana?"
"Belum dapat sih. Doakan ya, semoga dapat kerjaan secepatnya,"
Dan aku mengaminkan dalam hati atas apa yang aku ucapkan. Nyatanya selalu kujawab seperti itu kalo ada orang yang bertanya. Jujur sebenarnya aku benci kalo ditanya tentang masalah itu. Rasanya susah banget menjadi pengangguran habis lulus sekolah.
Mereka yang kedepannya punya niat untuk kuliah tidak pernah merasakan hal ini. Tinggal ongkang-ongkang saja menunggu ospek dimulai. Sementara yang berniat kerja, sibuk keluyuran mencari pekerjaan. Senang bukan main kalo cepat dapat kerja, apalagi yang sesuai dengan keinginan.
"Teman-temanmu banyak yang sudah kerja Ca?" tanya Ibu saat aku sedang mengambil makanan di dapur.
Wanita itu sibuk dengan kegiatan potong memotong sayur.
"Banyak Bu," kataku lesu.
Mood baikku mendadak berubah. Lagi lagi rasa nggak sukaku muncul setiap kali membicarakan tentang pekerjaan. Ditambah lagi ini yang bicara adalah Ibu, rasa bersalah campur rasa sedih mengerumuni perasaanku saat ini.
"Dimana aja Ca?" tanya Ibu lagi tanpa melihat ke arahku.
"Macam-macam Bu. Ada yang di konter HP, diller, toko. Paling banyak kerja di diller sih Bu,"
Itu yang kutau tentang pekerjaan teman-temanku sekarang hasil dari membaca laporan dimana mereka kerja yang pernah ditanyakan guru di grup alumni sekolah.
Sedih banget rasanya teringat kalo aku dengan terpaksa menjawab belum dapat kerja sementara temanku yang lain sudah gajian. Ada rasa malu juga, membuktikan kalo belum ada pihak yang mau mengajakku bergabung di usahanya.
"Susah Bu, zaman sekarang kerja tuh dari pagi sampai malam. Kalo nyari yang shift pun mesti ada jam malamnya,"
Salah satu alasan kenapa aku sulit mendapatkan kerja yaitu sulitnya menemukan kerja yang jam pulangnya sesuai dengan keinginan Ibu.
Dari sini aku tau, kalo Ibu adalah orang yang protektif kepadaku. Dia nggak mau kalo aku kerja berangkat pagi pulang malam. Maunya, aku berangkat pagi pulang sore. Mencari kerja dengan aturan jam kerja seperti itu hanya dengan bermodal ijazah SMK sama saja halnya dengan mencari jodoh untuk menikah denganku sekarang.
Mustahil dan sulit. Kalo pun ada pasti tidak di dalam kota. Dan itu akan menjadi alasan kedua kenapa sampai sekarang aku sulit mendapatkan kerja.
Ibu melarangku kerja di kota orang. Memaksaku untuk tinggal saja disini, dan mencari kerja di kota sendiri.
"Gak usah kerja Ca,"
Bapak tiba-tiba datang dan ikut dalam obrolan.
"Bapak nggak nyuruh kamu kerja. Kamu mondok saja, gak usah cari uang. Ilmu yang kamu pelajari masih sedikit, apa gunanya hidup di dunia kalo cuma didedikasikan bukan mencari bekal akhirat,"
Aku ingin mewujudkan apa yang Bapak inginkan, tapi aku juga memikirkan kalo masuk pesantren itu tidak gratis.
"Pak, kita berdua udah tua. Biaya mondok itu gak sedikit, siapa yang bakal biayain kalo tenaga kita udah loyo kayak gini," Ibu menyerukan pendapatnya.
Alasan kenapa aku memilih kerja, karena keinginanku untuk kuliah tidak akan pernah terlaksana kalo terkendala biaya. Andai saja aku terlahir dari keluarga berada, aku pasti sudah ikutan ongkang-ongkang menunggu ospek an.
"Uang bisa dicari Bu. Allah udah ngatur rezeki kita, ngapain susah sih. Yang penting mau berusaha pasti ada jalannya,"
Kalo sudah begitu, aku memilih untuk pergi karena nggak kuat menyaksikan kejadian selanjutnya yang akan terjadi. Sekarang, aku merasa menjadi anak yang nggak berguna bagi orangtua. Yang cita-citanya ingin membahagiakan orangtua, tapi nyatanya malah menjadi beban keluarga.
Mengunci diri di dalam kamar, aku menangis tersedu, mecurahkan semua rasa yang kupendam agar ikut luruh bersama air mata. Sepiring makan siangku teronggok di atas meja rias, kuacuhkan. Mungkin saja nasi-nasi di piring itu ikut menangis sepertiku.
Andai saja, Ibu ada tapi tidak dengan sifat protektifnya, sudah pasti dari dulu aku merantau mengarungi pulau Jawa untuk mencari kerja. Kalo Ibu ada tanpa banyak aturan kerja, aku sudah ikut keja di diller motor bersama temanku. Menjadi SPG cantik berpakaian seksi tanpa memperdulikan dosa yang penting setiap bulan mengalir uang gajian.
Kalo sudah begitu, aku hanya bisa merutuki diri sendiri kenapa ditakdirkan terlahir di keluarga seperti ini. Banyak berandai-andai kalo saja aku terlahir dari keluarga yang netral tanpa haus agama, ataupun bahkan sama sekali nggak peduli agama. Nggak ada larangan, gak ada dosa, hanya ada kebebasan.
Dulu, waktu masih sekolah, ingin banget untuk segera lulus dan kerja. Sekarang, setelah lulus dan belum kerja, ingin rasanya kembali bersekolah. Setelah tau rasanya dunia kerja itu seperti ini, aku jadi setuju dengan perkataan kakak kelas, "Nikmati masa sekolahmu dek, enakan sekolah sumpah."
Sekarang menyesal karena sadar kalo masa itu gak bisa terulang.
"Caca"
"Ping,"
"Ping,"
Menghapus air mataku yang mengalir gak berguna, aku melirik notifikasi pesan Facebook yang tertera di layar handphone.
"Besok ikut ke sekolah kan? Ngambil ijazah."
***
Jiwa 'ngaret' ku ternyata masih berlaku meskipun sudah tidak lagi kugunakan saat masih sekolah. Janjian ketemu jam sembilan, nyatanya jam sepuluh masih ada di jalan. Yang jelas aku terlambat dan sialnya aku sendirian.
Teman temanku pasti sudah berkumpul di aula sekolah bersama anak-anak jurusan lain.
Menginjakkan kaki di sekolah yang kutinggalkan beberapa bulan lalu, rasanya seperti kembali mengarungi memori masa putih abu-abu. Teringat tempat-tempat dimana dulu pernah terjadi peristiwa yang hingga kini membekas di kepala.
"Mas, mau ngambil ijazah juga?" tanyaku pada dua cowok yang berdiri di samping gedung aula.
Mereka tidak mengenakan seragam sekolah, itu yang menjadi alasan kenapa aku bisa langsung menebak.
"Iya Mbak," jawab salah satu dari keduanya.
"Ikut masuk ya Mas, barengan," kataku.
Cukup lama tidak bertemu teman-teman rasanya rindu, tapi juga ada rasa malu. Malu kalo ditanya kerja dimana sementara yang menanyai memakai seragam kerjanya. Malu kalo aku yang ditanyai datang kesini karena menghabiskan waktu pengangguran, sementara mereka menyempatkan izin sebentar dari kerjaan.
"Caca," panggil Ratna saat aku masuk ke aula yang ternyata sudah dipenuhi para alumni. Aku langsung memisahkan diri dari dua cowok tadi, dan menghampiri Ratna yang ternyata bergabung dibarisan teman kelasku yang lain.
"Hai." sapaku kepada teman-temanku yang aktivitasnya terganggu akibat kedatanganku.
"Makin kurus aja lo. Tambah putihan juga, luluran pake apa?" Celetuk Ratna saat aku berhasil menghenyakkan pantatku di kursi sebelahnya.
"Pake bayklin,"
"Hah? Yang serius Ca? Pake bayklin bisa bikin kulit putih?" Lalin, temanku cewek yang duduk di depan kami mendadak menoleh kebelakang hanya untuk melontarkan pertanyaan yang sepertinya gak dibutuhkan jawaban.
"Janjian jam 9, setengah sebelas baru nyampe. Kemana aja lo,"
"Jiwa ngaret gue masih tertanam di tubuh yang suka rebahan ini Na,"
Ratna ini yang kemarin menggantikan tugas setan untuk merayuku agar datang hari ini. Kalo saja rayuannya gak maut, aku juga lebih memilih mendekam di kamar sembari scroll beranda Facebook.
"Udah dapat kerja apa belum Lo" tanya Ratna lagi.
Aku merespon dengan gelengan lemah, lalu bersuara, "Lo ada info loker? Gue butuh kerja,"
"Lo kira gue koran?"
Menanggapi pertanyaanku yang serius dengan pertanyaan balik, membuatku mengerucutkan bibir. Cewek itu gak pernah bisa merasakan menjadi aku yang galau karena gak kunjung dapat kerja. Dia enak ongkang-ongkang menunggu ospek an.
"Capek gue Na, pengangguran di rumah mulu."
"Udahlah, nikmatin aja. Kalo nanti lo udah kerja, lo gak bakal bisa enak-enak rebahan santai di rumah. Santai bro, ikutin aja alurnya,"
Aku manggut-manggut setuju dengan perkataan Ratna. Perkataannya bisa diterima nalar.
Melihat-lihat para teman kelasku yang hadir dengan berbagai macam penampilan, mengubah raut wajahku menjadi masam. Ada yang memakai seragam kerja dengan merk handphone terkenal, ada yang memakai seragam kerja warna merah merk kendaraan, ada juga yang berpakaian lusuh seadanya sepertiku karena kutau mereka juga masih pengangguran.
"Mau gue isiin apa lo isi sendiri?" tanya Ratna sembari mengangkat berkas di tangannya.
"Isi sendiri," jawabku sambil meraih berkas yang entah apa isinya.
Keningku berkernyit saat tau kalo ini adalah berkas laporan alumni yang berisi kolom-kolom berstatus apa mereka sekarang.
Kolom bekerja, belum bekerja, kuliah, dan yang terakhir adalah kolom 'masuk ponpes'. Memilih jalan aman, satu centang kuberikan pada kolom terakhir.
Aku menghela nafas lega.
"Hah? Lo serius masuk pesantren Ca?" tanya Tata yang duduk di sampingku, setelah kuserahkan berkas yang sudah kuisi kepadanya.
"Iya, tapi gak sekarang," kataku santai.
"Serius? Modelan kayak lo masuk pesantren?" tanya Tata lagi. Temanku itu menggeleng tak percaya. Matanya menyusuri tubuhku, dari kaki hingga ujung kepala.
"Kenapa sih Ta, gue kan alim sebenarnya, cuma gara-gara temenan sama orang modelan kayak Lo, gue jadi amburadul,"
"Btw, tumben lo pake celana," katanya lagi sambil melirik ke kakiku yang terbalut celana jins biru pudar.
Aku meringis.
"Iya dong. Aman, baju gue panjang soalnya,"
Kesan yang sangat buruk untuk memulai sebuah perkenalan.
Harusnya Nana datang ke rumahku tadi malam, bukannya tadi pagi jam setengah delapan, memberi kabar kalo pelatihan dimulai jam delapan pagi ini. Sepupuku itu masih sempat membela diri, katanya tadi malam dia gak membuka handphone, jadi pesan yang berisi info dari dinas masih dia baca tadi pagi.
Alhasil aku yang akan mulai menjemur pakaian, lari pontang-panting bersiap diri. Mengambil pakaian dari keranjang kotor yang untungnya belum kurendam detergen. Masih wangi, meskipun sedikit kusut.
"Sabrina, panggil aja Caca,"
kataku memulai perkenalan.
Berdiri di depan banyak orang setelah sekian lama gak sekolah rasanya sedikit grogi. Apalagi ada lima cowok disana yang menatapku dengan tatapan intimidasi. Rasanya, ingin segera mengakhiri sesi ini, dan menyilahkan peserta lain untuk memperkenalkan diri.
Ditambah lagi tampil dengan pakaian kusut, dan sama sekali gak stylish seperti ini, membuat pipiku perlahan merah karena menahan malu. Salahkan kemalasanku yang kalo mencuci baju menunggu dulu hingga menumpuk satu ember. Beginilah hasilnya, memungut baju seadanya, dan jadilah sepertiku. "Jemuran berjalan".
Hijab warna cream, baju warna hijau, dan rok warna abu-abu.
Setelah berbulan-bulan mendekam diri di rumah dan jarang berinteraksi dengan orang banyak, rasanya canggung sekali saat dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Aku adalah tipe orang yang lumayan cuek kalo berhadapan dengan orang baru, tapi mendadak bobrok saat bersama dengan orang yang kukenal. Kepribadian seperti itu bisa jadi terjadi pada diri orang lain juga, gak hanya padaku. Dan aku bangga.
"Konfirm fb ku ya Sab,"
Menoleh ke sosok yang bersuara, refleks mataku menyipit menghindari silaunya matahari siang hari. Kedua alisku bertaut, mengamati sosok yang ada disebelahku, tersenyum, lalu berdiri usai menalikan sepatunya.
"Oh, Pak Ketu." kataku setelah menyadari bahwa dia adalah ketua kelasku.
Aku lupa namanya, karena tadi saat dia memperkenalkan diri, aku terlalu sibuk meredakan detakan jantung agar gak grogi saat tiba waktu perkenalanku.
Dia yang dipilih emak-emak untuk menjadi ketua kelas dijurusanku. Aku cuma ikutan setuju, dan gak mempermasalahkan hal itu. Dan nenyerahkan semuanya pada emak-emak yang menjadi mayoritas menjadi peserta pelatihan di kelasku. Menjadi peserta paling muda sudah sepatutnya bersikap ikut-ikutan saja.
Sosoknya paling menonjol diantara empat peserta cowok yang lain. Mungkin karena tubuhnya yang paling tinggi, dan juga wajahnya yang rupawan.
Masih duduk di undakan mushola, menunggu Mbak Kar dan Mbak Rita yang masih menunaikan ibadah sholat, mataku berkeliling. Menyusuri sekeliling mushola yang terdapat kelas kelas jurusan lain. Paling pojok adalah kelas jurusan mesin, bisa ditebak dari penghuninya yang seluruhnya adalah cowok. Lalu kelasku jurusan tata boga, disusul dengan jurusan jahit, tata rias pengantin, dan yang pojok lagi adalah jurusan pengelasan.
Seharusnya aku gak salah pilih untuk mengikuti pelatihan kerja ini. Tujuan utamaku adalah untuk menghapus status pengangguran. Dengan begini, Ibu tidak lagi khawatir karena aku gak lagi rebahan malas-malasan di kamar karena gak ada kerjaan. Meskipun statusku gak berubahmenjadi pekerja, setidaknya aku akan lebih produktif untuk tiga minggu ke depan.
Dua teman yang kudapat hari ini, yang bisa langsung akrab, karena umur kami gak jauh beda. Mbak Kar, dan Mbak Rita. Senang sekali mendapat teman baru di hari pertama pelatihan. Dengan begini hari-hariku tiga minggu ke depan seharusnya akan aman.
"Bisa gak Ca?" tanya cowok yang berdiri gak jauh dari tempatku.
Kelas sudah berakhir, dan kini saatnya pulang. Berbeda dengan Mbak Kar dan Mbak Rita yang sudah tancap gas duluan, aku masih sibuk berusaha mengeluarkan motorku dengan aman tanpa menyenggol motor yang lain.
Padahal tadi pagi aku datang tidak kepagian, tapi kenapa motorku jadi yang terdepan. Dengan tubuh seringkih ini, gimana caranya menyisihkan motor sebanyak itu.
"Gak bisa," kataku putus asa.
Cowok itu mendekat, mengamati sekitar, lalu bertanya, "Motor kamu yang mana?"
Jariku menunjuk dimana motorku berada.
"Dalam banget. Udah nunggu aja sampe yang lain pulang,"
Aku mendengus. Kukira dia bakal membantuku, tapi ternyata malah memberi keputusan yang sebenarnya akan kulakukan kalo nanti aku sudah lelah dan putus asa.
Aku ingat dia.
Satu kelas denganku. Cowok berkulit putih dengan sedikit jerawat kemerahan di wajahnya, namanya kalo gak salah adalah Tino. Datang paling telat, sekitar pukul sepuluhan, dengan penampilan rapi ala mas-mas kantoran.
"Kamu kenapa belum pulang Mas?" tanyaku begitu melihat dia gak kunjung tancap gas seperti anak-anak yang lain.
Dia yang asyik dengan handphone ditangannya, menoleh.
"Nungguin Barik," jawabnya lalu kembali terpaku ke layar handphone.
"Hah? Barik siapa? Teman kamu Mas?"
Dia mengangguk, lalu kepalanya terangkat saat seorang cowok datang menghampiri kami.
"Lama banget. Keburu tutup ntar bengkelnya," katanya yang kutebak ditujukan kepada cowok yang baru datang.
"Pak Ketu. Jadi nama kamu Barik?" tanyaku setelah sadar bahwa cowok tinggi menjulang di depanku ini yang menjabat sebagai ketua kelas, memiliki nama yang baru saja kutau. Bisa-bisanya aku gak tau nama sosok penting seperti dia. Dia juga yang tadi menyuruhku menerima pertemanan di akun Facebook.
Barikli mengangguk, lalu berkata, "Jangan lupa konfirm,"
Aku mengangguk pelan, menyaksikan kedua cowok itu yang beranjak akan pulang. Membalas sapaan selamat tinggalnya dengan anggukan, aku masih terpaku. Lalu sadar, kalo motorku masih terbelenggu disana, dan gak ada lagi orang yang kukenal yang bisa kumintai bantuan.
###
"Mbak minta air panas,"
Aku menghembus nafas kasar. Membilas piring terakhir sebelum akhirnya berdiri.
"Rebus sendiri Mas, kompornya nganggur," responku lalu beranjak memasuki kelas.
Belum siang, tapi cowok-cowok jurusan sebelah sudah antri pinjam kompor untuk merebus air panas buat menyeduh kopi.
Sudah menjadi kebiasaan setiap hari, seperti ini. Kayaknya, jurusan sebelah emang hobi mencari yang gratis-gratis.
Gak kelewatan juga, kalo masakan hasil praktek diminta juga sama mereka. Apalagi ada Andri, salah satu cowok yang mereka kenal menjadi peserta di kelasku, tambah berani mereka seenaknya keluar masuk sudah seperti rumah sendiri.
Gak masalah sebenarnya, cuma aku sedikit terganggu. Kalo hanya minta air panas gak masalah. Kadang, salah satu mereka gak gentar memberondongku dengan pertanyaan, "Mbak, nama fb mu apa?"
Kalo sudah gitu, moodku yang tadinya good, berubah jadi not good.
"Buat aku Mas?" tanyaku dengan mata terbelalak karena terkejut.
Tino mendadak menghampiriku yang tengah asyik berghibah dengan emak-emak, mengulurkan sepotong paha ayam goreng kepadaku.
Sama terkejutnya, para emak juga ikutan melongo, lalu kembali dengan aksi per-ghibahan setelah aku menerima pemberian Tino masih dengan rasa terkejut yang belum reda.
"Makasih," kataku kemudian. Cowok itu pergi, sementara aku meratapi sepotong paha ayam goreng hasil praktek hari ini dengan tatapan bingung.
Melirik Tino yang sudah bergabung dengan para cowok, aku masih gak tau apa maksud dibalik pemberiannya kepadaku. Dia baik, karena sudah memberiku, tapi ini membingungkan. Kenapa harus aku.
Orang lain di kelas ini masih banyak. Ada Mbak Kar dan Mbak Rita yang malah satu kelompok sama dia. Tapi kenapa malah aku yang gak ada hak untuk menerima sepotong paha ayam hasil karya kelompoknya.
Aneh.
Menjelang jam istirahat, aku memutuskan untuk duduk berdua bersama Mbak Kar di teras depan kelas. Menyaksikan anak-anak kelas lain berbondong-bondong menuju ke mushola untuk sholat. Di dalam rasanya panas banget. Ada AC tapi dinginnya gak terasa.
Memilih mencari udara alami, sambil bercerita tentang masa sekolah dulu bersama Mbak Kar, mengulang memori masa putih abu-abu yang sama sekali gak seindah di sinetron.
"Udah selesai Mas?" tanya Mbak Kar begitu para cowok telah kembali dari mushola.
"Udah dong. Gak masuk kalian? Mau cepet pulang gak?" kata Ilham yang membuat kami refleks berdiri dan mengikuti mereka masuk ke kelas.
Berjalan sejajar dengan Tino, mendadak dia menepuk bahuku, seraya berkata, "Mbak-mbak,"
Aku menoleh.
"Kenapa?"
tanyaku.
"Rambutmu kelihatan," katanya seraya menunjuk bagian belakang hijabku.
Refleks aku menarik belakang hijabku, menutupi rambut yang dimaksud Tino. Berjalan dengan bingung, hingga cowok itu mendahuluiku. Dalam hati aku bertanya-tanya, "Ada apa gerangan dengan cowok itu hari ini?"