Hari begitu cepat berlalu. Tahu-tahu sudah pagi saja. Aku beranjak dari tempat tidur menuju cermin.
Aku berdiri di depan cermin, memakai seragam abu-abu putih, bersiap untuk bertempur, bukan hanya dengan pelajaran sekolah, tetapi juga dengan masyarakat yang menyebut dirinya teman-teman dan guru-guru.
Ketika aku berjalan ke arah pintu untuk berangkat, langkahku tertahan. Ibu juga sedang menuju ke arah yang sama. Jantungku hampir lompat dari dadaku. Refleks, pikiranku berteriak: "Gala, putar balik! Tunggu Ibu pergi dulu!"
Namun aku menahan diri. Ku paksatubuhku tetap tenang, walau kecemasan menggigit-gigit dadaku. Wajah Ibu yang bisa meledak kapan saja dengan kemarahan tak terduga selalu menyimpan teror tersendiri pada diriku. Tapi yang lebih menakutkan dari amarahnya adalah tatapan itu. Tatapan yang seolah mengatakan bahwa aku ini adalah sebuah kegagalan. Sebuah penyesalan hidup yang tidak bisa diperbaiki. Padahal itu hanya perasangka ku saja... Mungkin.
Tetap saja, pikiran kacau itu cukup untuk membuatku gemetar.
"Bu, aku berangkat." Aku mengangkat tanganku sekadar memberi salam ketika melewati pintu.
"Hati-hati di jalan, Nak." Ibu menatapku lama. Seolah matanya ingin membakar tubuhku sampai aku menghilang dari pandangannya.
Aku berbalik dan melangkah pergi. Dalam hati, seperti otomatis, aku mengucapkan doa yang tak selalu kuingat tiap hari, tapi entah kenapa hari ini aku mengingatnya:
"Bismillahi tawakkaltu 'alallahi, la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim."
Doa itu seharusnya memberiku ketenangan. Tapi tidak hari ini.
Entah kenapa, sekalipun aku sudah mengucapkannya, aku tidak percaya bisa jadi anak pintar, apalagi berprestasi di sekolah. Tidak ada optimisme di sana. Hanya semacam do'a yang kuucapkan karena kebiasaan. Memilukan.
Yang lebih memilukan, wajah Ibu masih menempel kuat dalam pikiranku. Tatapannya mengekori langkahku seperti bayangan gelap yang tidak bisa dihindari.
Sebenarnya... Sebenarnya aku ingin mengumpat semua manusia.
Termasuk Ibuku sendiri.
Ya, bahkan dia.
Terdengar keji, bukan?
Aku tahu. Tapi aku tidak sedang mencari pembenaran. Aku hanya jujur. Aku sering merasa Ibu termasuk dalam daftar manusia yang ingin sekali kuumpati habis-habisan. Aku benci perasaan ini. Tapi aku juga benci bagaimana semua orang yang kuumpat menyebabkan diriku harus selalu kualat.
Kadang aku berpikir... mungkin aku hanya terlalu berprasangka buruk. Terlalu banyak menuduh orang lain padahal belum tentu mereka seburuk itu. Tapi... prasangka buruk ini seolah sudah menjadi bagian dari darah dangingku. Menyatu seperti sebuah kata istilah orang orang sudah mendarah daging. Sulit dihilangkan.
Dan yang lebih menyiksa: setiap kali aku berpikir buruk tentang orang lain, seolah-olah kutukan balik mengenai diriku sendiri. Kutukan yang kusebut sendiri, kuucapkan sendiri, dan kemudian melukai diriku sendiri.
Prasangka buruk itu seperti bom waktu. Meledak di dalam hati, mengacaukan pikiranku, membuatku ingin menjerit tanpa suara. Menjadikan hidup ini seperti lorong gelap tanpa ujung.
Lebih-lebih jika itu tentang Ibu.
Saat prasangka itu datang, aku tahu... aku takut. Takut jika kutukan itu menjadi nyata. Takut jika kelak aku menjadi seperti yang kubenci. Takut jika rasa benci itu suatu saat kembali padaku dalam bentuk yang lebih mengerikan.
Tapi... prasangka itu tidak bisa hilang. Ia datang lagi dan lagi, seperti monster dalam kegelapan. Menggerogoti tenagaku, pikiranku, jiwaku.
Aku tidak bisa mengeluh. Tidak bisa menyalahkan siapa pun. Karena perang ini adalah perang batinku sendiri.
Jika rasa sakit yang diberikan oleh orang lain adalah cambukan, maka rasa sakit yang ditanamkan oleh keluarga, tanpa mereka sadari... adalah kanker. Ia tumbuh diam-diam, menyebar pelan, tapi pasti menghancurkan dari dalam. Lebih menyakitkan, lebih menyiksa.
Hingga aku kehilangan gairah hidup.
Itulah pikiranku sekarang. Entah sampai kapan. Mungkin sampai aku bisa qana'ah (menerima semua ini sebagai bagian dari takdir dan hidup). Mungkin... saat itu semua ini akan jadi kenangan saja. Tapi belum itu, ayo kembali kerealita sekarang.
"Gala! Kau sudah kerjain PR PAI belum? Hari ini dikoreksi, loh!"
"Belum," jawabku malas.
Ketika bel masuk berbunyi, aku membuka buku Pendidikan Agama Islam. PR itu masih belum kukerjakan, jadi kutulis dan mengerjakannya saja dengan asal-asalan. Toh aku tidak peduli. Nilai bagus atau jelek, sama saja. Dunia tetap menyebalkan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Sebuah suara terdengar di depan kelas. Suara guru. Tapi... tunggu. Suaranya berbeda?
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab murid-murid serempak.
Aku sendiri tidak menjawab. Masih sibuk menulis. Masih ingin menyelesaikan PR itu sebelum benar-benar terlambat.
"Itu yang masih menulis, bisa berhenti dulu?"
Suara guru itu mengarah padaku.
Sontak aku menutup bukuku tergesa-gesa. Duduk tegak. Memandang ke arah depan.
Dan dalam waktu 0,02 detik, aku tersentak.
Mataku membulat. Jantungku berdetak tak karuan. Nafasku tercekat.
Dia... Guru itu.
Sekali lagi aku ingin mati saja. Menghilang dari dunia. Bahkan jika harus ke neraka. Aku ingin lenyap tanpa abu dan tulang.
"Sedang belajar, ya?" tanyanya sambil menatapku.
"Tidak," jawabku pelan, dengan senyum kecil, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Seolah aku belum pernah bertemu dia sebelumnya.
Lalu dia memperkenalkan diri. Katanya, dia akan menggantikan guru sebelumnya yang sedang cuti karena melahirkan.
Dunia seolah runtuh.
Aku duduk seperti tahanan yang menunggu putusan hakim. Dihukum mati, dibebaskan, atau dipenjara seumur hidup?
"Anak-anak, sudah sampai mana pelajaran sebelumnya?" tanya guru itu.
Hening.
"Loh, kenapa diam?" katanya lagi, menatap seluruh kelas.
"Coba salah satu dari kalian maju ke depan. Pak guru mau lihat buku salah satu dari kalian. Sudah sampai mana ibu guru sebelumnya mengajar."
Satu menit kemudian...
"Kenapa diam terus?!"
"Baiklah. Kalau tidak ada yang mau maju, biar Pak Guru saja yang tunjuk. Kalian setuju?"
"Iya, Pak," seru beberapa murid.
Aku menatap teman sebangkuku dengan tatapan tajam. Kenapa dia malah semangat begitu?! Rasanya ingin kubanting wajahnya ke meja.
Setelah dia duduk tenang, aku mencondongkan tubuh ke arahnya, brbisik di telinganya.
"Kenapa nggak lo aja yang maju?"
Tapi ternyata justru aku yang dipanggil.
"Itu kamu yang di sebelah situ! Ayo maju ke depan!"
Aku menunjuk diriku sendiri, memastikan.
"Ya kamu! Ayo ke sini!"
"Iya, Pak Guru," jawabku lemas.
Aku maju ke depan, membawa buku PR yang tadi kukerjakan asal-asalan. Jantungku berdetak kencang.
"Baiklah, kamu boleh duduk sekarang. Tapi Pak Guru pinjam bukunya sebentar, ya."
Aku menghela napas lega.
Ternyata... dia tidak mengungkit kejadian hari itu.
Aku memandangi wajahnya. Untuk pertama kalinya hari ini, ada rasa syukur dalam hatiku. Setidaknya, dia tidak membuka aibku di depan teman-teman. Tidak menelanjangiku di hadapan publik.
Untuk itu... aku ingin memberi penghormatan terdalam.
Terima kasih, Pak Guru. Setidaknya hari ini... kau tidak menambahi luka di hidupku yang sudah porak-poranda ini.
Kemudian kelas berjalan normal seperti sebelumnya walaupun yang mengajar ini guru baru. Ya, guru sebelumnya cuti melahirkan.
Jadi, dia guru pengganti sementara.
Kebaikan itu pernah datang sejenak. Tapi dalam semalam saja, semua sirna seperti embun yang menguap saat mentari menampakkan diri. Aku kembali menjadi manusia yang penuh kepura-puraan, rendah diri, hidup tanpa kebahagiaan. Seperti pengecut yang takut disakiti manusia, aku dan guru itu tidak pernah benar-benar bicara. Kami bertemu, bersisian di lorong, tapi hanya sebagai bayangan dalam dunia masing-masing. Dia tetap guru pengganti. Aku, murid transparan. Tanpa waktu. Tanpa keberadaan.
Padahal, dia pernah menyelamatkanku sekali.
Namun rasa cemas dan takut akan aib membuatku seperti diburu. Bayangan bahwa hal itu akan terbongkar, bahwa semuanya akan tahu, membuatku menggigil, membuatku merasa jijik pada diri sendiri. Kadang, bukan aku yang dihina, tapi aku merasa seakan setiap hinaan itu ditujukan kepadaku. Lucu, bukan?
"Aku jijik melihat hal busuk ini!!"
"Buang! Cepat buang!"
"Orang tuanya sudah meninggal... menyedihkan."
"Busuk sekali baunya, aku tidak tahan."
"Jelek sekali. Aku benci bentuknya."
Semua kata itu... Bukan untukku. Tapi dalam kepalaku, mereka menampar wajahku, menusuk dadaku. Entah sejak kapan, setiap kali seseorang dihina, aku merasa akulah yang dimaksud. Jelek. Busuk. Menyedihkan itu adalah diriku.
Bayangan-bayangan itu hidup dalam kepalaku, menari-nari, terus berputar hingga aku tak bisa fokus. Aku ingin kabur dari kenyataan. Ingin mati. Bunuh diri.
Tapi, aku tahu... aku tidak bisa mengulanginya lagi.
Jika aku benar-benar mati waktu itu, keluargaku akan hancur. Akan merasa bersalah dan terbelah. Tubuhku ini, kata hatiku, bukan milikku sepenuhnya. Orang tuaku punya hak atasnya. Aku tidak bisa bunuh diri sesuka hati.
"Yah, itu benar!" Aku membenarkan suara hatiku dengan rasa bersalah.
Lagipula, mengucap syahadat di ujung ajal mungkin bisa membuka pintu surga, tapi jika aku yang membunuh diriku sendiri? Bukankah itu berarti aku mendahului takdir dan ketetapan Allah? Maka apa gunanya surga terbuka jika tubuhku dilempar ke dalam neraka yang tak berujung?
Membayangkannya saja sangat mengerikan jika ada diposisi ini.
Aku dipenuhi penyesalan yang tak pernah selesai. Tapi tetap saja, di dunia nyata, aku memilih kabur dalam delusi.
Lucunya, aku malah malu berbuat baik. Padahal aku tahu itu tipuan setan. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Setan itu membisikkan dosa, dan aku menuruti. Langkahku makin gelap, dan aku tahu itu.
Semua ini... semua kekacauan ini dimulai sejak hari aku membuka pintu kamar adikku.
Waktu itu, aku hanya ingin kabur dari kecemasan yang menggunung di dadaku. Tapi langkah kecil itu menjadi kutukan, membuka aib yang terus membayangiku. Seperti melihat kalajengking di hadapanmu, kau tahu jika kau tak berbuat ulah dengan-nya, dia tak akan menyengat. Tapi begitu tersentuh, bisa jadi sengatannya mematikan.
Aku membuka pintu kamar itu.
"Sister!" Seruku ringan, berpura-pura santai.
Aku memeluk bahunya, mencoba melihat apa yang ditontonnya di layar ponsel.
"Lepas, Kak!" katanya cepat.
"Apa yang kau tonton, Sister?"
Dia mendongak, tidak tampak bersalah atau gugup ketahuan menonton pornografi.
"Tidak lihat? Ini, porno."
Di mataku, gambar itu tampak seperti dua belatung menggeliat.
"Menjijikan," gumamku, lebih ke arah diriku sendiri. Setiap kali aku mengucapkan kata itu, ada suara kecil di dalam hati yang berkata: "Itu kamu sendiri bukan yang menjijikan."
Sister menatapku tajam, ekspresinya berubah jadi ketidak percayaan.
"Apa kau sakit?" begitulah kira-kira jika di ucapkan melalui wajahnya yang seolah berbicara.
"Kalau jijik, pergi sana!" katanya ketus.
Dia mendorongku ke luar kamar dan membanting pintu.
"Jangan rusak kebahagiaan orang," katanya sebelum menutup pintu.
Aku berdiri di depan pintu tertutup itu, linglung. Bahagia? Apakah menonton manusia saling menggeliat bisa membuat seseorang bahagia? Apakah itu bisa membuatku berhenti takut pada manusia? Jika benar, kalau itu bisa menghapus rasa takut ini... apakah aku juga harus mencobanya?
Keesokan harinya, saat berjalan menuju sekolah, aku masih memikirkan hal itu. Apa yang sebenarnya membuat manusia mencari kebahagiaan dari tubuh yang saling bersentuhan? Sampai sekarang pun, aku belum paham.
Tapi yang kutahu, aku makin menjauh dari diriku kerumunan, mengurung diri sendiri.
Setelah jam pelajaran pertama selesai, ada waktu luang sebelum guru masuk. Diriku memutuskan untuk keluar buang air kecil.
Dalam perjalanan ke kamar mandi itu pikiran untuk menonton pornografi sekelebat muncul.
Akhirnya rasa penasaran itu mengalahkan analisis rasional dan pikiran penasaran itu akhirnya menang.
Bagus setan, kamu berhasil menipuku, sekalipun aku mengetahuinya, itu tidak bisa menahan keinginan burukku untuk mencoba menuruti napsu.
Sebut saja keinginan buruk sebagai nafsu.
Aku tahu setan hanya berbisik ke hati manusia.
Aku tidak bisa mengumpati setan dan iblis itu.
Semua yang akan terjadi ke depan itulah yang kulakukan. Aku hanya bisa terima kalah, tertipu oleh tipu muslihat yang tidak menghasilkan apa-apa.
Aku sedikit melompat tepi kolam kamar mandi, diriku duduk di tepian kolam itu bersandar pada tembok.
Merogoh sakuku celana, laluku ku nyalakan ponsel untuk membuka situs web porno dengan rasa keingintahuan yang sangat besar.
Di ponsel itu kutonton video pornografi sampai selesai. Ku lirik tubuh bagian vitalku yang bangun dengan heran?
Aku bernafsu ?!!!!!?!??!
Memalukan!!!!!!
Tok tok tok
Siapa yang mengetuk pintu kamar mandi!
Begitu ku buka pintu, seakan kejadian menonton porno itu tidak pernah terjadi padaku. Seolah olah aku belum pernah menonton pornografi di dalam kamar mandi sampai membuat penis ku regresi.
"Nak, jangan cum di kamar mandi, itu dosa!".
"Begitu ya, pak." Aku hanya bisa cengengesan menatap guru itu .
"Ah, sial !!!!!! aku ketahuan."
Selalu seperti ini, sekalipun guru itu tidak mengungkit kejadian kamar mandi waktu itu, tetap saja, aku sangat takut, mungkin guru itu yang melakukan c***. Oh tidak mungkin dia pernah melakukan c*** di situ juga.
"Memakluminya. Yah, guru itu memakluminya."
"Juga tidak pernah mengungkit-ungkit soal menonton pornografi itu lagi."
Tapi yang aku takutkan bukan itu, yang ku takutkan jika guru itu berbicara tentang hal itu pada orang yang bermulut besar dan akhirnya aibku itu menyebar tanpa ku ketahui.
Itulah yang terus menghantuiku.
Berpikir setiap manusia yang bertemu denganku pasti mengetahui aib ini, aku makin suram saja memikirkannya.
'Lihat pria itu melakukan c*** di sini!!'
'Bocah ini menonton pornografi ditempat ini dan itu'
Pria itu saat berbicara dan saling menatap denganku, hatinya terus mengingat aib-aib yang pernah terjadi padaku.
Padahal dia tidak mengatakan apapun. Hanya berbicara seperti biasa.
Itu hanya pikiranku saja setiap manusia yang mengenalku tahu aib tubuhku ini. Aku semakin takut.
Untuk menatap...
Mendekati mereka...
Berbicara dengan yang lain...
Sampai semua yang berhubungan dengan manusia itu ku anggap menakutkan dan menyeramkan. Kejadian ini yang mendorong ku terus untuk menonton pornografi.
Membuatku tak perduli kesedihan besar yang menanti.
Merasakan kebahagiaan atau suka saat menonton hal-hal yang tidak senonoh ini aku tidak merasakannya.
Aku masih melihatnya seperti...
Melihat belatung yang menggeliat sangat menjijikan.
Tapi dengan menonton pornografi itu membuatku melupakan kehidupan dunia yang menakutkan.
Kehidupan manusia itu seperti medan perang.
Lebih baik bersembunyi dari manusia yang menakutkan itu.
"Gila Gala, kenapa kamu semakin jatuh?"
"Apa yang jatuh?"
"Tidak Bu, aku berangkat ke sekolah,ya Bu."
"Jangan nakal di sekolah!"
"Iya Bu. Dah, aku berangkat!"
Berakhirlah diriku yang setiap hari selalu menonton pornografi.
Sampai setiap celah otakku berisi dengan kumpulan hal-hal mesum setiap harinya.
Dengan menonton pornografi membuatku sebagai manusia menjadi semakin bodoh dan melupakan ajaran agama Islam.
Ditambah ilmu-ilmu yang kudapat juga hilang. Hilang dari ingatan memori otaku.
Sekarang Otaku hanya penuh sampah-sampah mesum, gambar pornografi yang terus terngiang-ngiang.
Itu sedikit mengesalkan dan menjengkelkan
Yang paling menakutkan dalam sekejap rasa penyesalan menjadi bodoh ini hilang, dilebur pikiran pornografi. Walaupun aku sedikit menyesal, percuma saja, keburukan itu menang.
Hari demi hari aku menjadi semakin ekstrem.
Menonton pornografi dari sm, 3p, np, 2p dan seterusnya tidak memuaskan ku.
................
Diruang kelas aku terus terbengong
"Gala. Mukamu Aneh, kenapa, ya?"
"Hah. Terus kenapa?"
"Kelihatan kusam, sangat jelek. Jika kau menjadi gelisah olehku. Maaf oke."
Dengan raut wajah heran, teman sebangku ku itu menggosok wajahku dengan keras.
Sambil bergumam yang masih bisa didengar olehku.
'Berminyak tidak, berdebu juga tidak, kenapa kelihatan putih kusam?'
"Apa yang kamu lakukan sampai wajah berseri-seri dulu hilang?!"
"Mungkin.... aku tidak melakukan apapun. Aku tidak melakukan hal-hal buruk seperti itu. Berhenti mengoreksi, dasar anjay sialan!!!"
"Begitu, ya. Hehehe."
Hal yang dikatakan temanku yang selalu anggap bodoh selama ini, membuatku tercengang. Orang bodoh seperti dia saja bisa tahu apa sejelas itu efek menonton porno. Jika orang bodoh pun melihatnya. Bagaimana dengan orang normal.
Apa yang lebih pintar dari si bodoh ini juga melihatnya?
Jika itu terjadi itu sungguh memalukan.
Selama tidak ada yang bilang padaku, aku juga tidak akan peduli kalau mereka tau kalau otakku hanya berpikir tentang halal mesum.
Selama mereka tetap bungkam tidak jadi masalah bagiku.
Dulu aku berpikir nikmat itu dalam makan dan minum.
Lezatnya makanan enak. Minuman yang dingin mewah. Atau... apapun itu yang berkelas dan mewah.
Ternyata dugaan itu salah kaprah, yang nikmat tanpa terasa itu ditutupi aibnya.
Apalagi jika Allah menutup aibku di akherat, aku mungkin akan menangis tersedu sedu. Tuhanku maha mengetahui!
Hari-hariku silih berganti, aku makin tidak puas hanya dengan menonton pornografi.
Ternyata dengan menonton pornografi iblis musuhku itu berbisik 'ayo lakukan hal yang membuat kebahagiaan yang meletup-letup'
Aku ikuti bisikan nafsu itu.
Memang benar orang yang melakukan dosa tidak takut saat tidak ada manusia yang mengetahuinya.
Padahal ada yang mengawasi tingkah dan gerak-gerik manusia. Bahkan manusia tidak mengenal dirinya dengan baik, tapi Allah lebih mengenal ciptaannya.
"Hahaha, Gala kau orang fasik menjijikan."