Bab 1

Tut tut tut... juuu jesssss... juuuuu jessss...

Pung pung pung... Dedeg Dedeg Dedeg... pung...

Suara klakson kereta api berbunyi, mengingatkan orang yang sedang berbaring di tengah-tengah rel kereta api.

"Datang!!!"

Seorang pria muda berbaring terlentang di tengah rel kereta api yang sangat sepi dari manusia.

Sebenarnya, aku berniat bunuh diri. Hidup selalu menguras tenaga dan otak.

Pemuda itu mendengarnya. Suara kereta api semakin mendekat.

Dedeg... Dedeg... pung pung pung...

Klakson kereta api itu begitu nyaring, membuat pemuda itu sedikit bergetar.

"Tenang, Gala. Nggak perlu takut. Rasa sakitnya cuma sebentar, jangan panik. Ayolah, Gala... nggak perlu takut untuk bunuh diri. Penderitaanmu cuma sebentar."

Pemuda itu sudah memposisikan dirinya agar, jika kereta lewat, kepala dan tubuhnya berpisah.Dia melakukan ini agar tidak perlu merenggang nyawa terlalu lama.Tapi tetap saja menakutkan... terlindas kereta api.

Pung pung... Dedeg Dedeg pung...

"Sampai jumpa, dunia!!"

Ia memejamkan mata, sambil berbaring, memangku kedua tangan di atas dadanya. Kepalanya tepat di atas rel kereta api. Ia menunggu keajaiban, meski ia sendiri tidak mengerti, keajaiban apa yang ia maksud.

Sebelum sempat terlindas, aku merasakan ada seseorang...

Mungkin...

Aku juga tidak tahu siapa yang menarik kakiku.

"Ughhh..."

Dedeg Dedeg Dedeg Dedeg... pungggggg... pung...

Angin kencang berhembus sangat keras.

Kereta api itu melewati pemuda yang jatuh di pinggiran rel kereta api yang tidak sempat terlindas.

Bukannya berterima kasih karena sudah diselamatkan, pemuda itu malah mengumpat dengan keras dan tidak senang.

"Jalang! Oh... sakit. Siapa yang menarik kakiku?!"

Kepalaku sakit. Apa aku terbentur besi tadi?

"Ikut aku."

Ucapan itu keluar dari seseorang yang menyelamatkan pemuda itu.

Lalu, ia menampar dengan keras pemuda yang akan bunuh diri tadi.

Aku yang merasa tertampar pun hanya diam saja, mencoba mencerna ucapan dan maksud pria keajaiban itu.

Kalau dilihat-lihat, wajahnya tampan walaupun sedikit tertutup debu.

Ya, sebagai sesama pria aku akui, pria itu cukup tampan... tidak, aku lebih tampan darinya.

Kuikuti dia sampai ke sebuah perkampungan. Aku juga tidak yakin apakah ini bisa disebut perkampungan.

Malam harinya, di rumah penyelamatku, aku disuruh menginap di rumah penyelamatku itu.

Dia bilang begini padaku:

"Hari ini kamu menginap di sini!" Penyelamatku itu menunjuk ruang tidur. Tidak disebut kamar tidur pun rasanya masih agak canggung, karena tempat tidur itu hanya terlihat sangat kecil dan kusut dibanding kemewahan rumahku.

"Besok kamu boleh pergi! Oh ya, juga jangan bunuh diri di hadapanku!"

"Begitu, ya? Apa kau tak tertarik kenapa aku bunuh diri?!" Kudekati pria itu sambil mencondongkan badanku ke arahnya.

"Tidak sama sekali, tidak!"

Pria itu mendorongku ke kamar dengan paksa, lalu menguncinya dari luar.

Aku mencoba segala cara agar pintu itu bisa terbuka. Tapi sayangnya, hasilnya nihil tidak bisa dibuka sama sekali. Aku hanya bisa menyerah, lalu berteriak dengan keras:

"Woi... setidaknya kasih tahu namamu? Aku Tegek Gala!"

Setelah hening beberapa menit, dari balik pintu aku mendengar penyelamatku menyebutkan namanya:

"Sono Kelingga, itu namaku."

Setelah itu, aku mencoba segala cara agar bisa bercakap-cakap dengannya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Hanya keheningan sepi. Walaupun aku memancing percakapan dengan segala cara, dia tetap bungkam.

..........

Kukuruyuk... Kukuruyuk...

Kukuruyuk...

Lingga langsung bangun ketika mendengar suara ayam berkokok. Lalu, dirinya bersiap untuk salat sunnah dua rakaat di malam hari.

Lingga berjalan ke arah kamar mandi tepat pukul 01.05 dini hari untuk mandi, agar pikirannya jernih, dan mengambil air wudhu. Selanjutnya, ia langsung salat Tahajud dan Witir sambil menahan pegal di tubuhnya. Pegal ini disebabkan karena tidur hanya memakai alas karpet. Mau bagaimana lagi? Kamar tidurnya sedang dihuni oleh tamu yang berniat bunuh diri itu.

Lingga mengangkat tangannya berdoa setelah menyebut Asmaul Husna, istighfar, lalu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian, ia memanjatkan doanya:

"Ya Allah, berikanlah hidayah dan petunjuk pada saudaraku yang berniat bunuh diri. Ya Allah, semoga Engkau menunjukkan jalan yang benar. Allahumma sholli 'ala Muhammad."

Setelah itu, Lingga kembali rebahan di karpet sambil beristighfar 100 kali dan menyebut tasbih, sampai tidak terasa dirinya tertidur lelap.

Gala, yang memperhatikannya, pun terheran-heran.

Apa sebegitu seriusnya sampai dia tidak menyadari kalau aku sejak tadi memperhatikannya, ya?

Benar. Dari tadi, sejak suara berisik di kamar mandi, aku sudah bangun. Hanya saja, aku tetap diam di depan pintu, melihat bagaimana orang yang menggagalkan niat bunuh diriku itu sedang beribadah.

Ya, aku hanya diam di depan pintu. Mengawasi apa yang dilakukan pria ini, sehingga tubuhku sakit karena duduk bersandar di sana cukup lama. Aku cukup kagum padanya, yang bisa beribadah dengan keadaan seperti itu.

Apa ini rupa "penggagal bunuh diriku."

Atau hanya pikiranku saja? Kenapa wajahnya terlihat berkilau, seakan mempunyai cahayanya sendiri?

Aku mendekati pria yang tertidur saat bertasbih dan beristighfar. Aku tahu dia masih mempunyai sedikit kesadaran, jadi aku meninggalkan pesan padanya:

"Aku pergi. Terima kasih atas tumpanganmu malam ini."

Aku tahu pasti, dia yang tertidur itu pasti mendengarnya. Bukannya sombong, tapi terlihat dari kesehariannya, dia tipe pria yang tidak bisa tidur nyenyak.

Berhenti sejenak di depan pintu keluar, aku berucap lagi pada pria yang tertidur itu:

"Aku tidak akan berterima kasih karena kau telah menyelamatkanku. Bagiku, itu adalah sebuah kejahatan yang sangat besar... karena menggagalkan bunuh diriku."

Sekarang, tekad untuk bunuh diriku sudah melemah.

Membuka pintu pelan-pelan, lalu aku pergi dari rumah itu. Bagiku, pertemuan dengan Lingga adalah sebuah episode yang tidak terlalu penting dalam keseharian hidupnya.

Aku pergi dari rumah itu dengan keadaan bingung, tepat mendekati azan Subuh. Aku mendengarnya di masjid sudah ada tadarusan. Aku tidak tahu arah di daerah desa ini.

"Di desa mana aku sekarang? Oh, aku harus bagaimana sekarang?! Ini di mana?! Apa yang harus kulakukan?"

Dalam kebingungan yang tak kunjung selesai itu, aku memutuskan untuk mendekati suara tadarusan di masjid itu.

Semakin dekat dengan suara azan, aku merasakan langkah kakiku semakin berat.

"Itu bukan tempat untukku..."

Hal itu yang terlintas dalam benakku.

Akhirnya, aku paksa diriku untuk membuka pintu masjid itu. Pelan-pelan, tapi kubuka dengan penuh keyakinan.

Saat kubuka masjid itu, seseorang tersenyum kepadaku, seolah dia tahu apa yang akan kulakukan.

"Nak, kamu mau salat Tahajud?"

"Siapa, Paman? Aku baru pertama kali di sini!"

"Oh, pelancong tersesat, ya?"

Tersesat.

Bahaya dong kalau benar-benar tersesat...

"Nih, apa kamu mau Paman pinjamkan ponsel?" Ucap paman itu sambil mengangkat ponselnya.

"Tidak perlu."

Dengan terburu-buru aku menghentikan uluran tangan yang memegang ponsel itu. Aku harus cepat-cepat pergi...

"Pemuda sekarang aneh-aneh," Paman itu menggelengkan kepala.

Bernapas dengan berat lalu mengeluarkannya perlahan. Setelah berhasil lolos dari bapak itu, aku duduk bersandar ke tembok, di saf barisan pertama dalam masjid. Saat pertama menghadapi paman itu, batinku berkecamuk.

Aku berpikir dengan gelisah, gila-gilaan memeras otak.

Tatapan ramah paman itu... menakutkan.

Gala mengelus dadanya, tersengal-sengal.

Detak jantungnya berpacu sangat cepat... sampai berkeringat dingin.

Dia terus berkeringat dingin didalam hati.

Dari luar tidak terlihat sama sekali keadaan janggal-nya. Siapapun yang melihatnya hanya akan mengira dia pria cuek yang memegangi dadanya sambil berdiam diri.

Aku memegang dadaku sampai merasa rileks, mencoba menenangkan pikiran gila-gilaan itu.

"Ya Allah, sebenarnya aku sangat takut dengan manusia. Kenapa mereka selalu memandangku saat berbicara? Ya Allah, Engkau tahu segala yang ada di dada manusia. Aku takut tatapan mereka yang selalu menghakimiku..."

Gala terisak dalam diam, air matanya terus mengucur tanpa bisa dibendung.

"Ya Allah Yang Maha Berbalas Kasih, maafkanlah hamba-Mu yang fasik ini dan kufur nikmat, ya Allah."

"Engkau sangat baik, ya Allah. Sedangkan diriku yang hina ini sangat takut untuk melanjutkan hidup. Aku pikir, hidup selama 19 tahun ini hanya membebani orang lain."

Sejujurnya...kemarin saat akan bunuh diri aku hanya berpikir, menjelang detik-detik terakhir sebelum terlindas kereta api aku akan bersyahadat. Dalam hadis, begitu yang aku baca syahadat pasti membuka pintu surga. Aku dengar, orang yang menjelang matinya mengucapkan syahadat, pasti masuk surga.

Tapi entah kenapa, hati kecilku berbicara lain... Seakan ini salah dan pernyataan ini tidak memiliki argumen kuat, ini membuatku tidak pernah berhenti untuk berpikiran buruk.

Apa aku akan disucikan dulu dari dosaku di neraka?

Berapa tahun kan itu?!

Setiap yang bertobat pasti diampuni, aku pikir juga begitu. Aku memang mempercayainya. Aku mempercayai itu dan yakin tentangnya. Hanya saja aku malu dengan noda dosa itu. Yah, walaupun diampuni... tapi masih berbekas.

Menakutkan membayangkannya.

Itu saja sudah menakutkan.

Membayangkannya saja menakutkan.

Membuatku khawatir... jika dosa-dosa kecil dan besar menumpuk. Tapi yang lebih menakutkan adalah...

Aku khawatir, jika dosa-dosa itu, tanpa aku sadari... menjerumuskanku.

Hal-hal menakutkan itu juga salah satu penyebab keinginan untuk bunuh diri.

"Ya Allah, semoga Engkau menutup aibku di dunia dan akhirat. Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang otak dangkal ini telah rusak dan perbuat."

Pikiran-pikiran itu ada dan terlintas dalam hati kecilku. Dalam kenyataan hidupku di dunia, aku tetap menjadi orang fasik, yang bodoh, yang suka berpura-pura.

"Semoga aku menjadi apa yang baik di sisi-Mu, ya Allah."

Aamiin.

Berbekal naluri manusia yang tidak ingin hidup susah dan sengsara, aku berhasil dengan selamat pulang ke rumah yang paling aku takuti, yang paling enggan untuk kudatangi, dan juga tempat... yang paling kurindukan.

Tok tok tok.

"Assalamu'alaikum."

Ketukan pintu itu berlangsung lama, tapi tidak ada yang menjawab. Baru setelah yang ketiga kali, ada yang menjawabnya.

Bukannya disambut dengan ekspresi bahagia dari kedua orang tuaku... aku malah disuguhi penampakan muram dari ibuku.

"Habis dari mana?! Begadang di rumah siapa?! Kamu kenapa pulang setiap hari hanya saat mau berangkat sekolah?!"

Adikku yang ikut berdiri di samping ibuku ikut berbicara dengan nada sarkasme:

"Biasa, Bu. Anak cowok, main mulu..."

Ucap adik perempuanku, sinis. Aku tak membalas ucapan mereka. Aku langsung ke kamar, mengunci pintu, rebahan... tak bernyawa.

"Mereka tidak mengerti... tapi aku juga tidak memberitahu keluhanku."

Gala begitu tersayat hatinya, putus asa untuk hidup.

Bab 2

Hari begitu cepat berlalu. Tahu-tahu sudah pagi saja. Aku beranjak dari tempat tidur menuju cermin.

Aku berdiri di depan cermin, memakai seragam abu-abu putih, bersiap untuk bertempur, bukan hanya dengan pelajaran sekolah, tetapi juga dengan masyarakat yang menyebut dirinya teman-teman dan guru-guru.

Ketika aku berjalan ke arah pintu untuk berangkat, langkahku tertahan. Ibu juga sedang menuju ke arah yang sama. Jantungku hampir lompat dari dadaku. Refleks, pikiranku berteriak: "Gala, putar balik! Tunggu Ibu pergi dulu!"

Namun aku menahan diri. Ku paksatubuhku tetap tenang, walau kecemasan menggigit-gigit dadaku. Wajah Ibu yang bisa meledak kapan saja dengan kemarahan tak terduga selalu menyimpan teror tersendiri pada diriku. Tapi yang lebih menakutkan dari amarahnya adalah tatapan itu. Tatapan yang seolah mengatakan bahwa aku ini adalah sebuah kegagalan. Sebuah penyesalan hidup yang tidak bisa diperbaiki. Padahal itu hanya perasangka ku saja... Mungkin.

Tetap saja, pikiran kacau itu cukup untuk membuatku gemetar.

"Bu, aku berangkat." Aku mengangkat tanganku sekadar memberi salam ketika melewati pintu.

"Hati-hati di jalan, Nak." Ibu menatapku lama. Seolah matanya ingin membakar tubuhku sampai aku menghilang dari pandangannya.

Aku berbalik dan melangkah pergi. Dalam hati, seperti otomatis, aku mengucapkan doa yang tak selalu kuingat tiap hari, tapi entah kenapa hari ini aku mengingatnya:

"Bismillahi tawakkaltu 'alallahi, la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim."

Doa itu seharusnya memberiku ketenangan. Tapi tidak hari ini.

Entah kenapa, sekalipun aku sudah mengucapkannya, aku tidak percaya bisa jadi anak pintar, apalagi berprestasi di sekolah. Tidak ada optimisme di sana. Hanya semacam do'a yang kuucapkan karena kebiasaan. Memilukan.

Yang lebih memilukan, wajah Ibu masih menempel kuat dalam pikiranku. Tatapannya mengekori langkahku seperti bayangan gelap yang tidak bisa dihindari.

Sebenarnya... Sebenarnya aku ingin mengumpat semua manusia.

Termasuk Ibuku sendiri.

Ya, bahkan dia.

Terdengar keji, bukan?

Aku tahu. Tapi aku tidak sedang mencari pembenaran. Aku hanya jujur. Aku sering merasa Ibu termasuk dalam daftar manusia yang ingin sekali kuumpati habis-habisan. Aku benci perasaan ini. Tapi aku juga benci bagaimana semua orang yang kuumpat menyebabkan diriku harus selalu kualat.

Kadang aku berpikir... mungkin aku hanya terlalu berprasangka buruk. Terlalu banyak menuduh orang lain padahal belum tentu mereka seburuk itu. Tapi... prasangka buruk ini seolah sudah menjadi bagian dari darah dangingku. Menyatu seperti sebuah kata istilah orang orang sudah mendarah daging. Sulit dihilangkan.

Dan yang lebih menyiksa: setiap kali aku berpikir buruk tentang orang lain, seolah-olah kutukan balik mengenai diriku sendiri. Kutukan yang kusebut sendiri, kuucapkan sendiri, dan kemudian melukai diriku sendiri.

Prasangka buruk itu seperti bom waktu. Meledak di dalam hati, mengacaukan pikiranku, membuatku ingin menjerit tanpa suara. Menjadikan hidup ini seperti lorong gelap tanpa ujung.

Lebih-lebih jika itu tentang Ibu.

Saat prasangka itu datang, aku tahu... aku takut. Takut jika kutukan itu menjadi nyata. Takut jika kelak aku menjadi seperti yang kubenci. Takut jika rasa benci itu suatu saat kembali padaku dalam bentuk yang lebih mengerikan.

Tapi... prasangka itu tidak bisa hilang. Ia datang lagi dan lagi, seperti monster dalam kegelapan. Menggerogoti tenagaku, pikiranku, jiwaku.

Aku tidak bisa mengeluh. Tidak bisa menyalahkan siapa pun. Karena perang ini adalah perang batinku sendiri.

Jika rasa sakit yang diberikan oleh orang lain adalah cambukan, maka rasa sakit yang ditanamkan oleh keluarga, tanpa mereka sadari... adalah kanker. Ia tumbuh diam-diam, menyebar pelan, tapi pasti menghancurkan dari dalam. Lebih menyakitkan, lebih menyiksa.

Hingga aku kehilangan gairah hidup.

Itulah pikiranku sekarang. Entah sampai kapan. Mungkin sampai aku bisa qana'ah (menerima semua ini sebagai bagian dari takdir dan hidup). Mungkin... saat itu semua ini akan jadi kenangan saja. Tapi belum itu, ayo kembali kerealita sekarang.

"Gala! Kau sudah kerjain PR PAI belum? Hari ini dikoreksi, loh!"

"Belum," jawabku malas.

Ketika bel masuk berbunyi, aku membuka buku Pendidikan Agama Islam. PR itu masih belum kukerjakan, jadi kutulis dan mengerjakannya saja dengan asal-asalan. Toh aku tidak peduli. Nilai bagus atau jelek, sama saja. Dunia tetap menyebalkan.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Sebuah suara terdengar di depan kelas. Suara guru. Tapi... tunggu. Suaranya berbeda?

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab murid-murid serempak.

Aku sendiri tidak menjawab. Masih sibuk menulis. Masih ingin menyelesaikan PR itu sebelum benar-benar terlambat.

"Itu yang masih menulis, bisa berhenti dulu?"

Suara guru itu mengarah padaku.

Sontak aku menutup bukuku tergesa-gesa. Duduk tegak. Memandang ke arah depan.

Dan dalam waktu 0,02 detik, aku tersentak.

Mataku membulat. Jantungku berdetak tak karuan. Nafasku tercekat.

Dia... Guru itu.

Sekali lagi aku ingin mati saja. Menghilang dari dunia. Bahkan jika harus ke neraka. Aku ingin lenyap tanpa abu dan tulang.

"Sedang belajar, ya?" tanyanya sambil menatapku.

"Tidak," jawabku pelan, dengan senyum kecil, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Seolah aku belum pernah bertemu dia sebelumnya.

Lalu dia memperkenalkan diri. Katanya, dia akan menggantikan guru sebelumnya yang sedang cuti karena melahirkan.

Dunia seolah runtuh.

Aku duduk seperti tahanan yang menunggu putusan hakim. Dihukum mati, dibebaskan, atau dipenjara seumur hidup?

"Anak-anak, sudah sampai mana pelajaran sebelumnya?" tanya guru itu.

Hening.

"Loh, kenapa diam?" katanya lagi, menatap seluruh kelas.

"Coba salah satu dari kalian maju ke depan. Pak guru mau lihat buku salah satu dari kalian. Sudah sampai mana ibu guru sebelumnya mengajar."

Satu menit kemudian...

"Kenapa diam terus?!"

"Baiklah. Kalau tidak ada yang mau maju, biar Pak Guru saja yang tunjuk. Kalian setuju?"

"Iya, Pak," seru beberapa murid.

Aku menatap teman sebangkuku dengan tatapan tajam. Kenapa dia malah semangat begitu?! Rasanya ingin kubanting wajahnya ke meja.

Setelah dia duduk tenang, aku mencondongkan tubuh ke arahnya, brbisik di telinganya.

"Kenapa nggak lo aja yang maju?"

Tapi ternyata justru aku yang dipanggil.

"Itu kamu yang di sebelah situ! Ayo maju ke depan!"

Aku menunjuk diriku sendiri, memastikan.

"Ya kamu! Ayo ke sini!"

"Iya, Pak Guru," jawabku lemas.

Aku maju ke depan, membawa buku PR yang tadi kukerjakan asal-asalan. Jantungku berdetak kencang.

"Baiklah, kamu boleh duduk sekarang. Tapi Pak Guru pinjam bukunya sebentar, ya."

Aku menghela napas lega.

Ternyata... dia tidak mengungkit kejadian hari itu.

Aku memandangi wajahnya. Untuk pertama kalinya hari ini, ada rasa syukur dalam hatiku. Setidaknya, dia tidak membuka aibku di depan teman-teman. Tidak menelanjangiku di hadapan publik.

Untuk itu... aku ingin memberi penghormatan terdalam.

Terima kasih, Pak Guru. Setidaknya hari ini... kau tidak menambahi luka di hidupku yang sudah porak-poranda ini.

Kemudian kelas berjalan normal seperti sebelumnya walaupun yang mengajar ini guru baru. Ya, guru sebelumnya cuti melahirkan.

Jadi, dia guru pengganti sementara.

Bab 3

Kebaikan itu pernah datang sejenak. Tapi dalam semalam saja, semua sirna seperti embun yang menguap saat mentari menampakkan diri. Aku kembali menjadi manusia yang penuh kepura-puraan, rendah diri, hidup tanpa kebahagiaan. Seperti pengecut yang takut disakiti manusia, aku dan guru itu tidak pernah benar-benar bicara. Kami bertemu, bersisian di lorong, tapi hanya sebagai bayangan dalam dunia masing-masing. Dia tetap guru pengganti. Aku, murid transparan. Tanpa waktu. Tanpa keberadaan.

Padahal, dia pernah menyelamatkanku sekali.

Namun rasa cemas dan takut akan aib membuatku seperti diburu. Bayangan bahwa hal itu akan terbongkar, bahwa semuanya akan tahu, membuatku menggigil, membuatku merasa jijik pada diri sendiri. Kadang, bukan aku yang dihina, tapi aku merasa seakan setiap hinaan itu ditujukan kepadaku. Lucu, bukan?

"Aku jijik melihat hal busuk ini!!"

"Buang! Cepat buang!"

"Orang tuanya sudah meninggal... menyedihkan."

"Busuk sekali baunya, aku tidak tahan."

"Jelek sekali. Aku benci bentuknya."

Semua kata itu... Bukan untukku. Tapi dalam kepalaku, mereka menampar wajahku, menusuk dadaku. Entah sejak kapan, setiap kali seseorang dihina, aku merasa akulah yang dimaksud. Jelek. Busuk. Menyedihkan itu adalah diriku.

Bayangan-bayangan itu hidup dalam kepalaku, menari-nari, terus berputar hingga aku tak bisa fokus. Aku ingin kabur dari kenyataan. Ingin mati. Bunuh diri.

Tapi, aku tahu... aku tidak bisa mengulanginya lagi.

Jika aku benar-benar mati waktu itu, keluargaku akan hancur. Akan merasa bersalah dan terbelah. Tubuhku ini, kata hatiku, bukan milikku sepenuhnya. Orang tuaku punya hak atasnya. Aku tidak bisa bunuh diri sesuka hati.

"Yah, itu benar!" Aku membenarkan suara hatiku dengan rasa bersalah.

Lagipula, mengucap syahadat di ujung ajal mungkin bisa membuka pintu surga, tapi jika aku yang membunuh diriku sendiri? Bukankah itu berarti aku mendahului takdir dan ketetapan Allah? Maka apa gunanya surga terbuka jika tubuhku dilempar ke dalam neraka yang tak berujung?

Membayangkannya saja sangat mengerikan jika ada diposisi ini.

Aku dipenuhi penyesalan yang tak pernah selesai. Tapi tetap saja, di dunia nyata, aku memilih kabur dalam delusi.

Lucunya, aku malah malu berbuat baik. Padahal aku tahu itu tipuan setan. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Setan itu membisikkan dosa, dan aku menuruti. Langkahku makin gelap, dan aku tahu itu.

Semua ini... semua kekacauan ini dimulai sejak hari aku membuka pintu kamar adikku.

Waktu itu, aku hanya ingin kabur dari kecemasan yang menggunung di dadaku. Tapi langkah kecil itu menjadi kutukan, membuka aib yang terus membayangiku. Seperti melihat kalajengking di hadapanmu, kau tahu jika kau tak berbuat ulah dengan-nya, dia tak akan menyengat. Tapi begitu tersentuh, bisa jadi sengatannya mematikan.

Aku membuka pintu kamar itu.

"Sister!" Seruku ringan, berpura-pura santai.

Aku memeluk bahunya, mencoba melihat apa yang ditontonnya di layar ponsel.

"Lepas, Kak!" katanya cepat.

"Apa yang kau tonton, Sister?"

Dia mendongak, tidak tampak bersalah atau gugup ketahuan menonton pornografi.

"Tidak lihat? Ini, porno."

Di mataku, gambar itu tampak seperti dua belatung menggeliat.

"Menjijikan," gumamku, lebih ke arah diriku sendiri. Setiap kali aku mengucapkan kata itu, ada suara kecil di dalam hati yang berkata: "Itu kamu sendiri bukan yang menjijikan."

Sister menatapku tajam, ekspresinya berubah jadi ketidak percayaan.

"Apa kau sakit?" begitulah kira-kira jika di ucapkan melalui wajahnya yang seolah berbicara.

"Kalau jijik, pergi sana!" katanya ketus.

Dia mendorongku ke luar kamar dan membanting pintu.

"Jangan rusak kebahagiaan orang," katanya sebelum menutup pintu.

Aku berdiri di depan pintu tertutup itu, linglung. Bahagia? Apakah menonton manusia saling menggeliat bisa membuat seseorang bahagia? Apakah itu bisa membuatku berhenti takut pada manusia? Jika benar, kalau itu bisa menghapus rasa takut ini... apakah aku juga harus mencobanya?

Keesokan harinya, saat berjalan menuju sekolah, aku masih memikirkan hal itu. Apa yang sebenarnya membuat manusia mencari kebahagiaan dari tubuh yang saling bersentuhan? Sampai sekarang pun, aku belum paham.

Tapi yang kutahu, aku makin menjauh dari diriku kerumunan, mengurung diri sendiri.

Setelah jam pelajaran pertama selesai, ada waktu luang sebelum guru masuk. Diriku memutuskan untuk keluar buang air kecil.

Dalam perjalanan ke kamar mandi itu pikiran untuk menonton pornografi sekelebat muncul.

Akhirnya rasa penasaran itu mengalahkan analisis rasional dan pikiran penasaran itu akhirnya menang.

Bagus setan, kamu berhasil menipuku, sekalipun aku mengetahuinya, itu tidak bisa menahan keinginan burukku untuk mencoba menuruti napsu.

Sebut saja keinginan buruk sebagai nafsu.

Aku tahu setan hanya berbisik ke hati manusia.

Aku tidak bisa mengumpati setan dan iblis itu.

Semua yang akan terjadi ke depan itulah yang kulakukan. Aku hanya bisa terima kalah, tertipu oleh tipu muslihat yang tidak menghasilkan apa-apa.

Aku sedikit melompat tepi kolam kamar mandi, diriku duduk di tepian kolam itu bersandar pada tembok.

Merogoh sakuku celana, laluku ku nyalakan ponsel untuk membuka situs web porno dengan rasa keingintahuan yang sangat besar.

Di ponsel itu kutonton video pornografi sampai selesai. Ku lirik tubuh bagian vitalku yang bangun dengan heran?

Aku bernafsu ?!!!!!?!??!

Memalukan!!!!!!

Tok tok tok

Siapa yang mengetuk pintu kamar mandi!

Begitu ku buka pintu, seakan kejadian menonton porno itu tidak pernah terjadi padaku. Seolah olah aku belum pernah menonton pornografi di dalam kamar mandi sampai membuat penis ku regresi.

"Nak, jangan cum di kamar mandi, itu dosa!".

"Begitu ya, pak." Aku hanya bisa cengengesan menatap guru itu .

"Ah, sial !!!!!! aku ketahuan."

Selalu seperti ini, sekalipun guru itu tidak mengungkit kejadian kamar mandi waktu itu, tetap saja, aku sangat takut, mungkin guru itu yang melakukan c***. Oh tidak mungkin dia pernah melakukan c*** di situ juga.

"Memakluminya. Yah, guru itu memakluminya."

"Juga tidak pernah mengungkit-ungkit soal menonton pornografi itu lagi."

Tapi yang aku takutkan bukan itu, yang ku takutkan jika guru itu berbicara tentang hal itu pada orang yang bermulut besar dan akhirnya aibku itu menyebar tanpa ku ketahui.

Itulah yang terus menghantuiku.

Berpikir setiap manusia yang bertemu denganku pasti mengetahui aib ini, aku makin suram saja memikirkannya.

'Lihat pria itu melakukan c*** di sini!!'

'Bocah ini menonton pornografi ditempat ini dan itu'

Pria itu saat berbicara dan saling menatap denganku, hatinya terus mengingat aib-aib yang pernah terjadi padaku.

Padahal dia tidak mengatakan apapun. Hanya berbicara seperti biasa.

Itu hanya pikiranku saja setiap manusia yang mengenalku tahu aib tubuhku ini. Aku semakin takut.

Untuk menatap...

Mendekati mereka...

Berbicara dengan yang lain...

Sampai semua yang berhubungan dengan manusia itu ku anggap menakutkan dan menyeramkan. Kejadian ini yang mendorong ku terus untuk menonton pornografi.

Membuatku tak perduli kesedihan besar yang menanti.

Merasakan kebahagiaan atau suka saat menonton hal-hal yang tidak senonoh ini aku tidak merasakannya.

Aku masih melihatnya seperti...

Melihat belatung yang menggeliat sangat menjijikan.

Tapi dengan menonton pornografi itu membuatku melupakan kehidupan dunia yang menakutkan.

Kehidupan manusia itu seperti medan perang.

Lebih baik bersembunyi dari manusia yang menakutkan itu.

"Gila Gala, kenapa kamu semakin jatuh?"

"Apa yang jatuh?"

"Tidak Bu, aku berangkat ke sekolah,ya Bu."

"Jangan nakal di sekolah!"

"Iya Bu. Dah, aku berangkat!"

Berakhirlah diriku yang setiap hari selalu menonton pornografi.

Sampai setiap celah otakku berisi dengan kumpulan hal-hal mesum setiap harinya.

Dengan menonton pornografi membuatku sebagai manusia menjadi semakin bodoh dan melupakan ajaran agama Islam.

Ditambah ilmu-ilmu yang kudapat juga hilang. Hilang dari ingatan memori otaku.

Sekarang Otaku hanya penuh sampah-sampah mesum, gambar pornografi yang terus terngiang-ngiang.

Itu sedikit mengesalkan dan menjengkelkan

Yang paling menakutkan dalam sekejap rasa penyesalan menjadi bodoh ini hilang, dilebur pikiran pornografi. Walaupun aku sedikit menyesal, percuma saja, keburukan itu menang.

Hari demi hari aku menjadi semakin ekstrem.

Menonton pornografi dari sm, 3p, np, 2p dan seterusnya tidak memuaskan ku.

................

Diruang kelas aku terus terbengong

"Gala. Mukamu Aneh, kenapa, ya?"

"Hah. Terus kenapa?"

"Kelihatan kusam, sangat jelek. Jika kau menjadi gelisah olehku. Maaf oke."

Dengan raut wajah heran, teman sebangku ku itu menggosok wajahku dengan keras.

Sambil bergumam yang masih bisa didengar olehku.

'Berminyak tidak, berdebu juga tidak, kenapa kelihatan putih kusam?'

"Apa yang kamu lakukan sampai wajah berseri-seri dulu hilang?!"

"Mungkin.... aku tidak melakukan apapun. Aku tidak melakukan hal-hal buruk seperti itu. Berhenti mengoreksi, dasar anjay sialan!!!"

"Begitu, ya. Hehehe."

Hal yang dikatakan temanku yang selalu anggap bodoh selama ini, membuatku tercengang. Orang bodoh seperti dia saja bisa tahu apa sejelas itu efek menonton porno. Jika orang bodoh pun melihatnya. Bagaimana dengan orang normal.

Apa yang lebih pintar dari si bodoh ini juga melihatnya?

Jika itu terjadi itu sungguh memalukan.

Selama tidak ada yang bilang padaku, aku juga tidak akan peduli kalau mereka tau kalau otakku hanya berpikir tentang halal mesum.

Selama mereka tetap bungkam tidak jadi masalah bagiku.

Dulu aku berpikir nikmat itu dalam makan dan minum.

Lezatnya makanan enak. Minuman yang dingin mewah. Atau... apapun itu yang berkelas dan mewah.

Ternyata dugaan itu salah kaprah, yang nikmat tanpa terasa itu ditutupi aibnya.

Apalagi jika Allah menutup aibku di akherat, aku mungkin akan menangis tersedu sedu. Tuhanku maha mengetahui!

Hari-hariku silih berganti, aku makin tidak puas hanya dengan menonton pornografi.

Ternyata dengan menonton pornografi iblis musuhku itu berbisik 'ayo lakukan hal yang membuat kebahagiaan yang meletup-letup'

Aku ikuti bisikan nafsu itu.

Memang benar orang yang melakukan dosa tidak takut saat tidak ada manusia yang mengetahuinya.

Padahal ada yang mengawasi tingkah dan gerak-gerik manusia. Bahkan manusia tidak mengenal dirinya dengan baik, tapi Allah lebih mengenal ciptaannya.

"Hahaha, Gala kau orang fasik menjijikan."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED