Menjelang siang, Darwis keluar dari area kantornya untuk ngider cari berita. Tepat di depan pintu utama Elis memanggil sambil beranjak menghampiri Darwis,“Bang Darwis.” kata Elis, lalu berdiri tepat di depan Darwis, “Ada pesan dari Pak Bos. Siang ini sekitar jam dua… Abang ada tugas meliput acara ulang tahunnya Mbak Arini.” lanjut Elis, lalu mengatur nafasnya karena tadi sempat lari memburu Darwis,“Ini lokasinya.” lanjut Elis lagi, lalu mengirimkan pesan whatsupp share lokasi ulang tahunnya Arini, tepatnya di area sebuah taman yang indah, namanya Taman Giriloka. Darwis menerima pesan dari Elis, “Wuihhh ultahnya anak orang kaya nih.” Elis tersenyum kecil, “Iya.” Darwis mengangguk, “Oce siap. Jalan dulu ya…” balas Darwis.“Ehmmm Bang Darwis…” sela Elis. “Apaan lagi, neng geulis…?” balas Darwis. “Hati-hati di jalan ya. Kalo jatoh bangun sendiri.” kata Elis bercanda ringan. “Iyaaa makasih perhatiannya.” balas Darwis tersenyum juga. “Ehh abang sini deh deketan.” kata Elis sedikit berbisik, lalu Darwis semakin dekat menghampiri Elis, “Apaan lagi?” Elis hanya tersenyum melihati wajahnya Darwis dari deket. “Kok malah senyam-senyum gitu?” tanya Darwis. “Bang Darwis… Ganteng.” balas Elis singkat sambil menahan senyumnya. “Bisa aja si neng geulis muji abang. Makasih banyak deh kalo gitu.” balas Darwis, lalu kembali pamitan dan beranjak pergi dari hadapan Elis. Sejenak Elis terpaku diam menatap kepergian Darwis, lalu perhatiannya teralihkan dan segera beranjak masuk karena telfon kantor di meja kerjanya berdering.
Darwis beranjak menuju area parkiran ruko, dan menghampiri motor RX-King kesayangannya yang diberinya nama si bongki, “Kita ngider lagi, kawan.” kata Darwis pada motor kesayangannya. Darwis sangat perhatian pada motornya, dan sebelum melaju pergi Darwis sempat mengelus bagian tangki bensin motornya sambil berkata pelan, “Jangan mogok ya.” Perlahan namun pasti Darwis menyela si bongki, dan mesin motor langsung nyala, betapa bahagianya hati Darwis mendengar suara mesin si bongki, “Kita berangkat…” kata Darwis sambil melaju keluar dari area parkiran.
Si bongki melaju lumayan cepat menyusuri jalanan yang tak terlalu macet saat itu. Ntah kenapa setiap kali mengendarai si bongki ada perasaan bahagia terpancar di hatinya Darwis yang selalu teringat kenangannya bersama almarhum babeh ketika melaju dengan si bongki. Beliau pernah berpesan pada Darwis untuk selalu menjaga si bongki karena ia motor kesayangan babeh, “Kalo nanti babeh udah nggak ada, elu jangan pernah jual ini motor.” kata almarhum babeh waktu itu. “Emangnya kenapa, Beh?” tanya Darwis masih duduk di bonceng si babeh. “Karena ini motor banyak kenangannya. Dulu gue sama nyak elu juga pacaran di motor ini. Lahiran elu juga dianter sama ini motor, sampe bolak-balik puskesmas ngecek elu dalam perut nyak elu.” jawab si babeh dalam kenangannya Darwis. Darwis tersenyum kecil teringat kenangan bersama almarhum babeh, lalu dengan nada pelan penuh rasa kebanggan Darwis berkata, “Iya beh… Sampe kapanpun Darwis nggak akan pernah jual si bongki. Darwis akan terus rawat ini motor sampe anak cucu Darwis nanti.”
***
Matahari udah ada di atas ubun-ubun kepala Darwis ketika sampai di area jalanan yang dipenuhi siswa-siswa SMA yang sedang tawuran. Bongkahan batu dan serpihan kayu berterbangan di langit yang memisahkan dua kubu mereka yang sedang tawuran. Kata-kata makian bercampur umpatan serta ancaman keluar dari mulut anak-anak SMA itu. “Maju lu semua kalo berani.” teriak seorang siswa. “Nyali elu ciut. Maju sini semua.” balas siswa lainnya, diiringi riuh teriakan teman-temannya. Situasi berubah tegang ketika mereka saling berhadapan sekitar lima meter. Darwis melihat semua itu, lalu memarkirkan si bongki di pinggiran jalan. Instingnya sebagai wartawan bilang jika ini moment bagus memotret kejadian real tawuran. Darwis mengeluarkan kameranya dan tanpa pikir panjang langsung terjun beberapa meter agak jauh dari arena tawuran. Sebenarnya ada rasa takut dalam diri Darwis jika nanti ada batu atau kayu yang mengarah langsung ke kepalanya, tapi saat itu Darwis sedikit lebih tenang ketika ia masih memakai helmnya, meskipun begitu Darwis harus tetap hati-hati menjaga kamera dan juga badannya jangan sampe terkena lemparan batu. Disana tak hanya Darwis yang merekam moment tawuran itu, ada juga beberapa wartawan lain yang tak kalah nyali memotret puluhan siswa garang yang sedang tawuran. Sesekali Darwis tersenyum puas karena ia merasa telah merekam beberapa foto bagus dan sempat memvideokan juga kejadian itu. Suara gerungan sebuah motor sport terdengar, lalu Darwis segera memutar kepalanya dan melihat jelas motor itu melaju kencang kearahnya. Darwis reflex minggir kanan, tapi motor itu udah keburu minggir kanan juga, tapi si pengendara motor sport yang memakai helm tertutup rapat segera membanting stang motornya ke kiri sehingga tak jadi menabrak Darwis, hanya saja motornya oleng, tapi untung saja skill mengendarai motornya lumayan sehingga motornya tak jatuh. Perasaan Darwis udah ketar-ketir, namun ia lega karena telah lepas dari kejadian tertabrak motor mahal. “Woiii…” teriak kesal Darwis, dan memicu si pengendara motor sport menghentikan lajunya. “Mentang-mentang motor bagus ngebut sembarangan aja. Nggak tau apa ini jalanan umum.” lanjut Darwis melampiaskan kesalnya. Si pengendara motor turun dari motornya dan menghampiri Darwis, sehingga membuat Darwis beranjak mundur beberapa langkah, “Ehhh mau ngapain lu.” kata Darwis sambil menyiapkan jurus alakadarnya, “Mau nyobain kebisaan gue, apa.” kata Darwis lagi berusaha tak bergeming. Si pengendara motor sempat tertegun melihat konyolnya tingkah si Darwis.
Sementara itu kondisi tawuran masih seperti semula. Dua kubu siswa yang hendak tawuran masih saja saling mengejek dan mengancam satu sama lainnya tanpa ada yang bergerak menyerang lebih dulu meskipun emparan batu dan kayu masih tetap berlangsung. Tanpa Darwis sadari ada sebuah batu yang melayang di belakangnya, si pengendara motor melihatnya lebih dulu, dan Darwis baru nyadar ketika melihat bayangan batu terbang itu dari pantulan bayangan kaca helm. Kedua matanya Darwis terbelalak dan refleksnya saat itu tak bergeming. Dengan cekatan si pengendara motor segera menarik Darwis dan memeluknya sehingga batu itu mengenai tepat di bagian belakang helm. Brukkk… Si pengendara motor jatuh menindih Darwis di permukaan aspal jalan. Untung saja keduanya tak pingsan. Darwis segera beranjak berdiri dengan kedua kakinya, begitu juga dengan si pengendara motor yang langsung mencopot helm dan memeriksa kondisi helm yang lecet akibat benturan keras melawan batu. Rambutnya yang panjang terurai keluar dari ketatnya helm motor sport. Darwis terpaku dengan mulut sedikit menganga melihat si pengendara motor itu ternyata cewek. Wajahnya cantik dengan kulit putih memikat hati.“Elu cewek?” tanya Darwis masih menganga. “Kenapa emangnya kalo gue cewek?” balas tanya si cewek pengendara. “Nggak apa-apa sih. Gue pikir cowok. Gaya lu tomboy banget.” kata Darwis tak lepas memandang si cewek, “Nama elu siapa?” lanjut Darwis lagi. “Kepo lu.” balas si cewek singkat, padat, dan jelas. “Ehhh bukan gue doang yang kepo.” sela Darwis, “Noh elu lihat orang-orang pada liatin elu.” Si cewek melihat sekitarnya, dan benar saja orang-orang yang berkerumun disana melihatinya dengan pandangan mata penuh pesona, begitu juga dengan dua kubu siswa yang hendak tawuran langsung menghentikan tawuran mereka melihati si cewek cantik pengendara motor, dan membuat si cewek jadi salah tingkah. Mendadak hp nya berdering, si cewek langsung menerima panggilan telefon dari Oma-nya, “Halo, Oma.” Tak sengaja ia memencet tombol speaker ketika menempelkan hp itu ke telinganya dan membuat speaker hp-nya langsung aktif, sehingga mereka bisa mendengar suara Oma dengan sangat jelas memanggil nama si cewek, “Marlenna.” kata Oma di ujung telefon, sehingga Darwis dan mereka semua yang ada disekitaran akhirnya tahu siapa nama si cewek, yaitu Marlenna.“Marlenna, nama yang cantik. Sama cantik kayak orangnya.” gumam Darwis pelan, namun terdengar oleh Marlenna, sehingga membuat Marlenna melotot manja pada Darwis, “Berisik.” sentak Marlenna pada Darwis, namun malah membuat orang-orang disekitarnya tertarik godain Marlenna, “Haiiii Marlenna…” sahut mereka satu per satu, lalu serempak menyapa Marlenna bersamaan, sehingga membuat Marlenna tambah bete, “Apaan sih!” Mereka yang mau tawuran malah sepakat menikmati cantiknya Marlenna yang penuh pesona.
***
“Pokoknya lu harus tanggungjawab! Lihat nih helm gue lecet gara-gara elu!” seru Marlenna dengan lantang. “Lho kok gue yang mesti tanggungjawab? Yang ngerusakin helm lu kan bukan gue.” bantah Darwis dengan tegas dan lantang juga, tak mau kalah dengan lantangnya Marlenna, “Lu salah minta tanggungjawab sama gue. Yang ngelempar batu sampe nimpuk helm lu kan salah seorang dari mereka ntuh.” kata Darwis lagi sambil nunjuk kearah siswa yang berhenti tawuran di sana, “Lagian siapa juga yang nyuruh lu nolongin gue.” lanjut Darwis dengan pembelaan dirinya. Marlenna yang udah bete berat langsung nimpalin, “Dasar orang nggak tahu terima kasih. Udah ditolongin malah ngomong gitu! Kalo gue nggak nolongin elu, udah bocor kepala lu kena batu.” balas Marlenna mencurahkan kekesalannya pada Darwis,“Nyesel gue nolongin lu.” lanjut Marlenna lagi, sehingga membuat Darwis semakin emosi, “Kalo nggak ada niat nolongin orang, jangan nolongin! Paham lu.” balas Darwis dengan nada tinggi bicara pada Marlenna. “Kok malah elu yang ngegas.” balas Marlenna, “Harusnya gue yang marah. Helm mahal gue jadi lecet gini. Lagian kalo gue nggak nolongin lu, dari tadi lu udah mampus kena batu.” Darwis semakin resah menghadapi Marlenna, “Lu ntuh aneh jadi orang. Gue nggak minta ditolongin, tapi elu sendiri yang mau nolongin gue. Sekarang helm lu lecet kena batu, elu malah minta ganti rugi sama gue. Mikir! Harusnya kalo nolongin orang ntuh harus ikhlas. Kalo nggak bisa ikhlas, nggak usah nolongin orang.” sentak Darwis lagi. Beberapa orang disana malah ikutan mendukung ucapan Darwis barusan. “Bener kata si abang ini, Neng. Kalo nolongin orang tuh harus ikhlas.” Marlenna semakin bete, “Berisik!” Oma mendengar semuanya, “Kamu lagi sama siapa di sana?” tanya Oma dengan resah hatinya. “Speaker hp lu masih nyala.” sela Darwis dengan niat tulus mengingatkan Marlenna, tapi Marlenna malah cemberut, “Gue tau. Nggak usah elu kasih tahu. Gue udah tau.” sentak Marlenna, lalu segera mematikan speaker hp-nya dan kembali bicara di telefon dengan Oma, “Ada orang nyebelin di depan aku, Oma.” jawab Marlenna, sehingga membuat Oma semakin penasaran bercampur marah, “Siapa orangnya yang berani bikin sebel cucu kesayangan Oma?” tanya Oma. “Nama lu siapa?” tanya Marlenna mengalihkan perhatian matanya sekilas memandang Darwis. “Kepo.” balas Darwis singkat, dan langsung bikin Marlenna semakin bete. “Dia malah ngeledek aku, Oma.” kata Marlenna ngasih laporan pada Oma, sehingga membuat Oma ikutan kesal, “Kasih hp kamu ke orang itu, biar Oma yang ngelabrak dia.” kata Oma pada Marlenna. “Nggak usah, Oma. Biar masalah ini aku yang selesaiin.” balas Marlenna, “Gampang kok ngurus orang beginian.” Darwis membalas Marlenna dengan senyuman nyinyir, “Nyenyenye…” Marlenna nampak tak perduli dengan nyinyiran Darwis, “Aku tutup telefonnya ya, Oma. Aku mau bikin perhitungan dulu sama orang ini.” Oma semakin penasaran, “Perhitungan gimana maksud kamu? Kamu dimana? Biar Oma kesana sekarang.” Marlenna menolak, “Nggak usah, Oma. Masalah kecil begini nggak usah Oma turun tangan.” kata Marlenna dengan nada terkesan menyepelekan. “Oma nggak bisa tenang. Kamu sharelok sekarang juga, biar Oma samperin kamu.” balas Oma terkesan sedikit memaksa, sehingga Marlenna langsung keluarin trik menghadapi Oma di saat sedang keras kepala, “Halo… Halo, Oma… Haloooo… Oma, signalnya lagi nggak bener. Adeuhh gimana ini. Oma maaf… Udah dulu ya, Oma… Daghhh Oma… Muachhh…” kata Marlenna langsung menutup pembicaraan di hp-nya, dan tanpa pikir panjang mematikan hp-nya. Darwis dan beberapa orang disana tercengang dengan aksinya Marlenna terhadap Oma-nya sendiri. “Kualat bohongin Oma lu sendiri.” kata Darwis menatap tegas kearah Marlenna, dan di balas dengan ekspresi betenya Marlenna, “Mau ganti rugi nggak?” Darwis menggelengkan kepalanya dengan tegas, “Nggak.”
Selang beberapa detik keduanya terpaku diam dan saling menatap seakan tak ada yang akan saling mengalah. “Oke kalo gitu elu ikut gue ke kantor polisi. Biar kita selesaikan masalah ini secara hukum.” kata Marlenna dengan tegasnya menakuti Darwis, tapi Darwis dengan lantang balas menantang Marlenna seakan tak ingin nampak lembek di depan cewek itu, “Oke. Siapa takut. Mau urusan hukum kek… Urusan adat kek… Urusan surga neraka kek. Gue nggak mundur! Nggak ada cerita di kamus gue harus kalah dari orang kayak elu.” Darwis semakin menegakkan posisi berdirinya di depan Marlenna, sehingga membuat Marlenna merasa tertantang balik berhadapan dengan Darwis sambil membusungkan dadanya, “Ikut gue. Sekarang juga kita ke kantor polisi.” kata Marlenna dengan tegas dan lugas, lalu tanpa basa-basi lagi Marlenna beranjak menuju motornya, begitu juga dengan Darwis beranjak menuju si bongki yang masih terparkir tidak jauh dari sana.
Dari kejauhan terdengar jelas bunyi sirine mobil polisi. “Polisi…!” seru beberapa siswa disana, dan langsung membuat mereka kabur berhamburan. Selang beberapa menit kemudian, dua mobil polisi baru saja sampai di lokasi, mereka para polisi langsung mengejar mereka yang larinya belum terlalu jauh. “Kebetulan ada polisi datang.” kata Marlenna sambil turun lagi dari motornya, “Kita selesaikan disini saja.” Darwis turun juga dari motornya, “Oke. Siapa takut.” lanjut Darwis lagi. Marlenna dan Darwis sempat berdiri saling berhadapan dan saling menunjukkan ekspresi bete, lalu Marlenna mengalihkan perhatiannya pada seorang petinggi polisi yang datang dengan mobil sedan milik kepolisian. Marlenna dan Darwis menghampiri petinggi polisi itu. “Selamat siang, Pak.” sapa Marlenna, dan Darwis masih berdiri dekat Marlenna. “Selamat siang juga, Mbak.” balas sapa dari polisi itu, namanya Pak Bambang, ada id namanya di seragam kepolisian yang dipakai beliau. “Saya mau ngaduin masalah sama bapak.” kata Marlenna memulai pembicaraannya, “Orang ini nggak mau ganti rugi helm saya yang lecet, pak. Padahal saya udah nolongin dia. Kalo nggak ada saya, mungkin kepala dia udah bocor kena lemparan batu.” kata Marlenna dengan semangat menjelaskan. “Mana helm-nya? Boleh saya lihat?” tanya Pak Bambang, karena sebagai polisi beliau diajarkan untuk selalu melihat barang bukti lebih dulu jika dihadapkan para pernyelesaian masalah masyarakat. Tanpa pikir panjang Marlenna memperlihatkan helm-nya yang lecet di bagian belakang, “Ini helm saya, Pak. Ntuh kan lecet, jadi nggak bagus helm saya.” Pak Bambang mengalihkan perhatiannya pada Darwis, “Kenapa anda nggak mau ganti rugi helm-nya mbak ini?” tanya Pak Bambang, dan langsung di jawab Darwis dengan lugas, “Masalahnya bukan saya yang ngelempar batunya, Pak.” Pak Bambang mengernyit, “Lantas siapa yang ngelempar batu?” Darwis nimpalin lagi, “Mereka yang tawuran itu, pak.” Pak Bambang kembali mengernyit kedua kalinya menatap Marlenna, “Kalo bukan dia yang ngelempar batu, kenapa mbak malah minta ganti rugi sama dia?” Marlenna tak mau kalah dari Darwis dan menjawab pertanyan Pak Bambang dengan lugas juga, “Saya nggak tau siapa orang yang ngelempar batu itu, tapi yang jelas batu itu melayang persis mau menghantam kepalanya dia, lalu saya refleks tolongin dia, saya lindungin dia, sehingga batu itu malah menghantam helm saya sampai lecet gini. Sekarang apa saya salah minta ganti rugi helm saya ke dia, pak?” Darwis langsung nimpalin, “Salah lah.” Marlenna balas nimpalin juga, “Diem lu. Gue nggak nanya ke elu.” Sejenak Pak Bambang terpaku diam sambil mikirin masalah Darwis dan Marlenna, lalu dengan berat hati Pak Bambang bilang, “Mbak harusnya jangan minta ganti rugi helm mbak yang lecet ke dia.” Darwis girang karena merasa menang, tapi Marlenna malah makin bete, “Kok bapak malah belain dia?” Pak Bambang berusaha menjelaskan, “Saya nggak belain siapa-siapa. Saya hanya berusaha menjadi penengah yang baik. Kalo mbak mau minta ganti rugi, harusnya mbak cari siapa orang yang sudah melempar batu.” Marlenna semakin bete, “Mana saya tau siapa orangnya yang ngelempar batu.” Darwis nimpalin lagi, “Kalo elu nggak tau, ya udah jangan nimpalin kesalahan orang lain ke gue.” Marlenna tak mau kalah, “Nggak bisa! Pokoknya elu yang harus ganti rugi!” Darwis balas dengan senyuman nyinyir lagi pada Marlenna, “Dihhh bisa gitu…” Marlenna menggeram kesal pada Darwis, tapi malah di balas geraman nyinyir oleh Darwis, sehingga membuat Marlenna semakin marah membara pada diri Darwis. Sebagai polisi yang baik Pak Bambang berusaha mendamaikan mereka, “Udah begini saja, daripada mbak sama mas-nya ribut terus, masalahnya juga nggak akan selesai, lebih baik saling memaafkan saja, gimana? Toh helm mbak kan nggak hancur, masih bisa diperbaiki. Lagipula mas ini nggak salah juga, toh bukan dia yang ngelempar batu.” Marlenna menolak tegas, “Nggak bisa! Masalah ini nggak akan bisa damai sebelum orang ini ganti rugi helm saya yang lecet. Titik. Nggak pake koma.” Darwis menatap Marlenna, “Gileee ini cewek keras kepala banget. Ngebetein sih, tapi kok malah bikin gue happy punya masalah sama dia.” kata hatinya Darwis masih terpaku menatap Marlenna. “Elu sini deh deketan.” kata Marlenna pelan, dan tanpa pikir panjang Darwis sedikit mendekati Marlenna, “Apaan…?” tanya Darwis penasaran. “Dasar elu nyebelin kayak kampret.” balas Marlenna, sehingga membuat Darwis mendadak bete.
HAPPY BIRTHDAY ARINI… Tulisan itu terpampang besar dan indah di pintu masuk area taman pinggiran kota. Sore nampak begitu sejuk di tengah hijaunya daun dan banyak pepohonan di sana. Beberapa tamu undangan sudah datang dengan mengisi buku daftar tamu terlebih dahulu yang di jaga oleh beberapa cewek berpakaian peri, karena konsep ulang tahun Arini di tahun ini mengambil tema fantasi peri yang cantik dan tampan, bahkan beberapa tamu undangan pun khususnya cewek mengenakan kostum pergi beraneka warna lengkap dengan make up dan juga wig cantik penghias kepala. Hiasan pesta ulang tahun berupa puluhan balon, pita warna-warni, dan juga lampu kerlap-kerlip menghiasi setiap batang pepohonan sehingga nampak seperti sebuah hutan peri di negeri dongeng yang penuh warna. Pak Burhan, papanya Arini, nampak gagah dan elegant menyambut beberapa tamu kolega bisnisnya, begitu juga dengan Bu Laras yang sedang menemani ngobrol beberapa ibu-ibu sosialita lainnya. Sebagai orangtua, Pak Burhan dan Bu Laras selalu mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuk anak satu-satunya mereka, yaitu Arini, si cewek tajir, pintar, tapi sedikit introvert, namun hari itu di pesta spesialnya Arini dituntut untuk bahagia penuh senyuman menyambut beberapa temannya yang hadir berdatangan bergerombol. Di pinggiran danau area taman, Arini sedang ngobrol bersama beberapa teman cewek. Mereka nampak asyik membahas topik cowok mereka masing-masing, ada Lisa yang mengeluh karena cowoknya selingkuh, ada Yuni yang sedang happy karena baru jadian kemarin, ada Sissy yang baru putus, dan ada juga Betty yang akan menikah di bulan depan. Arini menanggapi curhatan teman-temannya dengan senyuman, dan terkadang ikut sedih dan juga ketawa tergantung mood obrolan. “Marcel mana?” tanya Mia menatap Arini. “Ehmmm mungkin masih di jalan.” jawab Arini singkat. “Marcel pasti datang kan?” tanya Mia lagi. “Iya mungkin.” jawab Arini seakan ragu, sehingga membuat Mia dan teman lainnya heran dengan jawaban Arini. “Kok mungkin?” tanya Mia semakin penasaran. Arini hanya tertunduk sedih, sehingga membuat mereka ikutan sedih juga. “Kamu masih musuhan sama Marcel karena masalah yang satu itu?” tanya Lisa, dan Arini mengangguk kecil. “Masalah apa?” tanya Mia, diikuti oleh Yuni, Betty dan Sissy yang nampak penasaran dengan progress hubungan Arini dan Marcel yang mereka anggap sebagai pasangan termesra di antara geng persahabatan mereka. ‘Biasalah masalah kecil.” jawab Arini kembali singkat. “Cerita dong…” balas Mia, Yuni, Betty dan Sissy yang nampak semakin penasaran. Sejenak Arini terpaku diam menatapi mereka yang udah siap mendengar jawaban Arini, “Marcel mau ngelamar aku, tapi aku jawab aku belum siap.” kata Arini menjelaskan singkat. “Terus Marcel marah sama kamu, gitu?” balas Mia. “Nggak tau.” jawab Arini. Sissy nimpalin, “Kalo aku jadi kamu, aku akan langsung terima lamarannya Marcel. Kadang aku heran sama kamu, Arini… Kamu tuh udah dikasih cowok terbaik dari Tuhan, yang pastinya type cowok kayak Marcel itu idaman semua cewek. Udah mukanya cakep, body-nya keren, tajir anak pengusaha. Apa sih yang bikin kamu ragu sama Marcel?” Arini menggeleng pelan, “Aku juga nggak tau.” Betty menghela nafas, lalu melanjutkan bicaranya, “Kalo kamu nggak mau, biar Marcel buat aku aja, gimana? Mumpung aku udah jomblo nih.” Serentak ucapan Betty barusan mengundang tawa mereka, “Maunyaaa tuh…” balas Yuni, dan kembali mengundang tawa mereka. Arini hanya tersenyum kecil, lalu kembali terpaku diam sehingga membuat mereka semakin penasaran. Tak berapa lama tatapan Arini teralihkan ke pintu masuk utama, sehingga mengundang mereka untuk ikut menatap ke pintu masuk utama juga, dan mereka melihat Marcel yang tampan dan juga gagah dengan setelan jas kerennya berwarna hitam pekat. “Nah itu Marcel.” kata Lisa, “Akhirnya datang juga si ganteng.” balas Betty terlihat senang. “Kok kamu yang girang sih.” kata Sissy yang berdiri tepat disampingnya Betty, “Harusnya yang girang itu Arini, bukan kamu, Bet.” lanjut Sissy nimpalin, diikuti tawa canda mereka sehingga membuat Betty cemberut, “Emang salah aku ikutan happy melihat pacar temen datang? Nggak salah dong.” balas Betty mempertahankan diri, “Kan tadi Arini cerita kalo lagi ada masalah sama Marcel, terus Marcel datang, itu tandanya hubungan mereka akan baik-baik saja. Aku ikut seneng dong. Nggak salah kan…?” lanjut Betty lagi. “Iyaaa dehhh nggak salah…” kata Mia nimpalin diiringi senyuman canda.
Setelah menyapa Papa dan Mamanya Arini, serta sedikit ngobrol dengan teman cowoknya yang kebetulan hadir di sana, Marcel celingukan mencari Arini, dan di satu titik tatapan mereka bertemu, selang beberapa detik Marcel melemparkan senyumannya, dan di balas senyuman kecil oleh Arini. Tanpa pikir panjang Marcel segera beranjak menghampiri Arini yang masih berdiri bersama teman-temannya. “Hai semua…” sapa Marcel pada Mia, Yuni, Lisa, Betty dan Sissy. Mereka balas sapaan Marcel, “Hai jugaaa…” Marcel nampak happy dengan tampang ceria berdiri di dekat mereka, “Lagi seru ya ngobrolnya? Aku ganggu nggak nih…?” tanya Marcel memulai pembicaraan dengan mereka. “Nggaklah…” jawab Mia lebih dulu, diikuti yang lain. “Syukur deh kalo gitu.” balas Marcel lega hatinya, lalu tatapan Marcel berpaling kearah Arini dan kembali Marcel menyapanya lembut, “Hai…” Arini membalasnya dengan anggukan serta senyuman kecil, “Hai juga…” lalu keduanya saling terpaku diam seakan sungkan bercampur grogi karena ada mereka di sana. Mia yang lebih dulu nyadar jika Arini dan Marcel perlu waktu untuk berduaan, “Ehmmm kita kesana aja lanjutin ngobrolnya, yukkk… Biar Arini sama Marcel nggak grogi kita pelototin terus dari tadi.” kata Mia diselingi tawa kecil, setelah itu barulah mereka nyadar kalo keberadaan mereka menganggu Arini dan Marcel yang mungkin aja ingin berduaan, dan akhirnya mereka sepakat pamitan pada Arini dan Marcel, lalu beranjak meninggalkan mereka dan melanjutkan ngobrol di area lain, tapi masih area pinggiran danau tenang. Sesekali meskipun udah saling berjauhan, mereka masih melihati Arini dan Marcel.
Sekarang Arini bisa ngobrol berduaan dengan Marcel di tengah keramaian para tamu undangan yang semakin lama semakin banyak berdatangan. Marcel memfokuskan pandangannya tepat menatap kedua matanya Arini, lalu dengan lembut Marcel mengucapkan sesuatu untuk Arini, “Selamat ulang tahun ya, Arini. I wish you all the best in your life.” Arini tersenyum kecil, “Makasih.” Tatapan matanya Marcel tak berpindah seakan masih betah melihati cantiknya paras Arini, “Kalo aku boleh tau, apa harapan terbesar kamu di tahun ini?” Arini terpaku sejenak, terpikir sesuatu dibenaknya, lalu terucapkan kata-kata itu, “Aku ingin bertemu dengan jodohku.” Marcel masih menatapi Arini, dan kali ini semakin bertambah lebih dalam menatap, “Aku?” tanya Marcel. Arini tak menjawabnya, lalu gerakan refleksnya mengalihkan perhatian Arini pada seseorang yang baru datang memasuki pintu utama gerbang taman, dialah Darwis.