5 tahun sebelumnya
Mega terbangun dalam keadaan tangan terikat pada pinggir ranjang yang menyerupai milik rumah sakit. Namun, je las ia tahu saat ini dirinya tidak berada di sana. Wanita itu juga merasakan nyeri hebat pada perut bagian bawahnya. Ia tahu si jabang bayi sudah lahir ke dunia. Pandangan matanya memindai seluruh ruangan bercat putih tersebut. Akan tetapi, tidak menemukan ranjang lain ataupun ranjang bayi di sana. Lantas, di mana anaknya?
Tatapannya kemudian beralih ke pintu yang kini terbuka dari arah luar. Muncullah pria tampan yang selama setahun ini telah mengurungnya.
“Mana anakku?” tanya Mega ketus dengan raut wajah antara takut dan benci pada sosok itu.
“Jangan lupa, dia juga anakku.”
“Mana dia?” tanya Mega lagi, tidak menggubris jawaban pria itu. Karena bukan itu yang Mega inginkan.
“Jangan buru-buru, kamu masih harus banyak istirahat.”
“Nggak usah sok perhatian. Di mana anakku? Kamu sudah janji akan melepaskan aku setelah melahirkan dan membiarkan kami pergi,” kata Mega seraya pandangan matanya mengikuti ke mana arah pria yang semakin masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa tunggal.
“Aku memang akan melepaskan kalian, tapi aku tidak pernah mengatakan akan membiarkan kalian untuk lepas bersamaan." Ujarnya santai.
“A ... pa maksudmu?! Di mana bayiku?” Ketakutan tidak lagi bisa melihat anak yang belum lama dilahirkannya semakin menjadi.
“Bayimu yang juga anakku itu, sudah aku serahkan ke panti asuhan. Kamu tidak perlu repot-repot mengurus darah daging dari seorang pria pemerkosa sepertiku, bukan? Harusnya, kamu berterima kasih denganku. Aku juga tidak menginginkan bayi-bayi itu. Sungguh tidak berguna dan merepotkan.”
“APA! Jahat kamu. Dasar pria Baj*ngan! Kembalikan anakku.” Mega meraung histeris dan meronta di atas ranjangnya. Dia sudah tidak peduli jika usahanya untuk melepaskan diri bisa menimbulkan memar pada kedua pergelangan tangannya, nyeri di perut dan bagian vitalnya juga tidak dirasakan. Anak yang tercipta dari perbuatan bejat, tetapi ia cintai itu, tidak lagi bisa direngkuh dan diketahui keberadaannya. Ia mencintai anak itu, apapun yang terjadi. Anak yang sudah ia tunggu. Bagaimana wajah anak itu, apakah mirip dengan dirinya atau sang pemerkosa? Mega membesarkan hatinya sendiri untuk bisa menerima keberadaan si jabang bayi. Kini, jangankan untuk tahu, menyusui bayinya saja ia tidak bisa.
“Berhenti meronta Mega! Jangan lebay. Kamu akan semakin terluka!”
“Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada kehilangan anak. Kembalikan anakku!” jerit Mega yang tiba-tiba panik, karena pria tersebut telah berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Zafran mendengkus, lantas tersenyum mengejek. “Kamu bahkan baru menjadi ibu belum ada 2×24 jam, nggak usah terlalu lebay. Kamu akan bertemu dengannya suatu hari nanti. Asal kamu berjanji untuk pergi dari negara ini dan tidak pernah kembali lagi,” kata Zafran kembali mendekat dan membukakan ikatan kedua tangan Mega. Ia sangat yakin wanita itu tidak akan melompat dari ranjang dan menerjangnya. Kondisinya masih sangat lemah saat ini.
“Omong kosong!” balas Mega sengit.
“Kamu boleh saja tidak mempercayai perkataanku. Tapi, jika dalam enam bulan kamu tidak meninggalkan negara ini, orang tua dan anak itu akan segera menjadi mayat dan aku akan menghabisi mereka di depanmu. Apa masih kurang jelas? Satu hal lagi, jauhi Athaya Tonda!”
“Jangan lakukan!” ujar Mega seraya menggeleng panik, memohon dengan kedua tangan. Ia tidak sanggup membayangkan kehilangan mereka.
Harga untuk mencintai seorang Athaya Tonda ternyata tidak main-main. Ia pikir bisa melalui ujian cinta ini dengan baik dan mulus, tapi kenyataannya sungguh tragis.
Dua minggu kemudian pria itu benar-benar menurunkan Mega di pinggir jalan raya, tidak jauh dari kampungnya berada. Tentu saja, disertai ancaman, jika sampai Mega melaporkan kepada polisi tentang apa yang menimpanya, nasib naas akan Mega dan keluarganya terima.
Wanita itu berjalan gontai menuju rumah orang tuanya. Berusaha terlihat baik-baik saja dengan menyapa para tetangga yang ia kenal dan mulai menyiapkan segala keperluannya untuk pergi. Pria itu sudah membuatkan dirinya paspor dan pada akhirnya Mega harus merantau ke Hong Kong. Ia berharap pria itu tidak akan merecoki hidupnya karena selama sekembalinya ia ke kampung tak sekalipun ia bertemu dengan Athaya dan keluarganya. Mega mengurung diri di dalam kamar dan hanya keluar untuk memenuhi kebutuhan perutnya saja. Semuanya tenang selama dua minggu dia kembali, sampai suatu hari Athaya menghadangnya di tepi sungai.
Mega sangat ketakutan. Matanya membelalak menatap pria tampan itu yang tampak sangat berbeda dari biasanya.
“Ke mana saja kamu?”
“Bukan urusanmu. Sebaiknya kamu pergi Athaya. Tidak baik kita terlihat berdua di sini.”
“Memangnya kenapa?”
“Kamu sudah punya kekasih. Aku tidak mau dituduh merusak hubungan orang. Lagi pula, kita tidak cocok.”
“Apa maksudmu dengan tidak cocok. Jangan bilang hanya karena status sosial, kamu minder? Aku dan keluargaku tidak pernah mempermasalahkan hal itu.”
“Aku tahu. Tapi, bagiku semua bermasalah. Dekat denganmu membuat hidupku tidak baik-baik saja.”
“Apa sih maksudmu? Aku punya salah apa? Apa aku salah, jika mencintaimu?”
Mega tersenyum masam menanggapi ungkapan cinta dari Athaya. “Cinta? Kalau cinta, kamu tidak mungkin meniduri perempuan lain.”
“Aku dijebak,” bela Athaya. “Tapi, aku cinta kamu." Tambahnya lagi.
“Cinta saja tidak cukup. Nyatanya, kamu tetap menikahi dia.”
“Iya, aku memang menikahi dia, tetapi hanya sebagai formalitas agar anak itu punya status. Semua terjadi juga karena kamu.”
“Kenapa aku yang disalahkan?”
“Kenapa kamu menolakku dulu dan kemudian menghilang?”
“A … ku.” Mega tercekat. Dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya telah disekap dan diperkosa karena dekat dengan Athaya. Mega tidak mau ada masalah baru lagi, sekarang saja rasanya ia sudah mau gila karena tidak bisa bertemu dengan anaknya.
“Katakan padaku, ke mana kamu menghilang? Aku yakin kamu menghilang karena Dama menemuimu.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu, Dama ke sini, tetapi dia tidak ke rumah. Jadi, pasti dia menemuimu. Beritahu, apa yang dia katakan kepadamu?”
“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun. Semua sudah terjadi. Satu hal yang pasti, jangan ganggu aku lagi. Status sosial kita berbeda, begitu juga selisih umur kita terlalu jauh. Aku malu memiliki suami yang lebih muda dariku.”
Setelah berkata demikian, Mega bergegas pulang meninggalkan Athaya di sana.
Banyak spekulasi yang beredar karena kemunculannya yang tiba-tiba. Sudah setahun lamanya ia tidak terlihat di kampung. Kedua orang tuanya juga tidak berani bertanya, bagi mereka sang putri sudah kembali ke rumah itu sudah lebih dari cukup. Hingga suatu hari bapaknya Akhmad, menemukan fakta yang terjadi pada anaknya.
Namun apa lacur, semua sudah terjadi. Akhmad dengan ancaman dari Mega untuk tidak mengungkapkan apapun kepada ibunya, terpaksa bungkam sampai saatnya tiba. Akhmad menyalahkan dirinya, karena tidak bisa menjaga putri semata wayangnya. Hingga gunjingan omong kosong tentang putrinya, sekarang ia diamkan. Demi keselamatan sang putri dan cucunya yang entah di mana. Ini adalah sebuah aib yang harus ditutup rapat untuk saat ini.
Akhmad bukan orang kaya. Dia juga tidak tahu harus mulai dari mana untuk membantu sang putri. Mega masih bungkam, tidak mau memberitahu siapa pemerkosanya. Sehingga Akhmad juga tidak mau memaksa. Membawa Mega ke psikiater juga percuma, karena anaknya itu menolak.
Pada akhirnya, Akhmad harus merelakan putrinya pergi untuk merantau. Walau sejatinya dengan berada di rumah mereka tidak akan kekurangan. Penggilingan padi milik Akhmad juga masih ramai diminati para warga untuk digunakan jasanya. Ia berharap putrinya segera bisa pulih. Mungkin saja Mega memerlukan suasana yang baru dan melupakan semua kepahitan hidup di sini.
“Jangan mencoba bunuh diri ya, Nak. Dosa itu. Apa pun yang terjadi, kamu masih punya Bapak, Ibu dan Tuhan.”
Pesan itu selalu diingat oleh Mega. Menguatkan dan memberikan penghiburan pada masa depan yang tidak tahu pasti arahnya. Semua serba abu-abu kini. Rasa cintanya kepada Athaya sudah beralih dengan upayanya untuk menyingkir sejenak dan mencari anaknya nanti. Entah bagaimanapun caranya, ia pasti bisa menemukannya. Dia sudah mencuri beberapa bukti sebelum pria itu melepaskannya. Mega sendiri heran, kenapa dirinya tidak bisa ketahuan. Namun, dia berharap pria itu memang tidak tahu jika Mega mengambil sesuatu dari ruang kerjanya. Pasti begitu. Karena jika ketahuan, bukan tidak mungkin Mega akan berakhir menjadi mayat saat ini. Bisa jadi tubuhnya akan dibuang di tengah hutan belantara dan menjadi santapan ular atau binatang buas lainnya.
Hidup Mega di Hong Kong selama lima tahun terakhir ini termasuk tenang. Dia bisa bekerja dengan baik, walau kadang kala dirinya sering merasa ada yang memantau atau memperhatikan saat libur tiba. Ia sering pergi ke Wan Chai bersama teman-teman setanah air yang sudah seperti saudara di perantauan sekedar melepas penat di daerah perbelanjaan itu. Walau kadang Mega tidak berbelanja, tetapi hanya sekedar melihat-lihat saja. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Kostav, pria Rusia yang memiliki usaha di sana.
Beberapa kali Mega bertemu dengan pria itu. Bahkan sering kali Kostav mentraktir dirinya serta temannya Paijem dan Inem untuk makan di restoran mewah. Mega masih merasakan trauma untuk dekat dengan pria tampan karena pengalaman terakhir dengan pria pemerkosanya dahulu.
Mega, sebetulnya mencoba membuka hati agar bisa melupakan Athaya, tetapi ternyata malah dimanfaatkan sedemikian rupa oleh pria tersebut. Mega tahu, pria itu sangat kenal dengan Dama atau mungkin mereka bersekongkol untuk menjauhkan dirinya dari Athaya. Akan tetapi, sampai saat ini Mega belum tahu apa hubungan mereka. Kalau dibilang pria itu adalah orang bayaran dari Dama sangat tidak mungkin. Pria itu jelas dari keluarga berada. Hanya saja, selama satu tahun ia tinggal bersama dengan pria itu, Mega sama sekali tidak mengetahui namanya.
Bodohnya, pikiran Mega hanya berpusat pada bagaimana bisa terlepas dari pria itu, tanpa mencari tahu identitas si pemerkosa. Masih teringat dengan jelas saat ia berkenalan dan sampai malam naas itu terjadi.
Mega sedang mengecek kembali semua dokumen di ruang arsip karena hari ini pekerjaannya lumayan banyak, sehingga membuatnya lembur. Pintu gudang dibuka dari luar dan masuklah Zafran sang pemilik perusahaan ke dalam.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Mega.
“Kamu tahu siapa saya?”
“Bapak, pemilik perusahaan, bukan?”
“Betul.”
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” ulang Mega lagi, penasaran kenapa pria itu berada di sini.
“Ya, tentu saja ada. Tapi, tidak di sini?”
“Maksud Bapak?”
“Kamu ikut saya dulu.”
Mega menuruti kemauan Zafran dan bermaksud lebih dulu berjalan keluar, tetapi saat melewati depan Zafran. Pria itu lantas membekap mulut Mega dan membuatnya pingsan dengan obat bius.
Zafran membawa Mega ke sebuah villa yang cukup terpencil. Wanita itu terbangun karena rasa perih di pusat tubuh serta badannya yang terasa bergoyang. Hingga pada kesadaran saat puncak kepalanya terantuk kepala ranjang. Ia membuka matanya lebar-lebar dan pria yang tadi bertemu dengannya di ruang arsip saat ini sedang menggagahinya, memperkosa lebih tepatnya. Kedua tangan dan kaki Mega diikat kuat, tubuhnya lemah tak berdaya untuk melawan karena rasa sakit yang hebat itu mengalahkan semuanya. Mega hanya bisa menangis dan kemudian mendapatkan tamparan bertubi-tubi sampai ia kembali pingsan.
Kengerian itu berlangsung sampai ia dinyatakan hamil. Pria itu tidak lagi menyentuhnya, tetapi selalu menemani tidurnya. Anggap saja, selama satu tahun itu Mega kumpul kebo dengan pria itu. Mega tidak diizinkan untuk keluar dari kamar. Banyak penjaga berbaju hitam di luar kamar dan hampir di seluruh penjuru rumah. Sekalinya ia keluar, seluruh pandangan orang-orang berpusat padanya. Ia sangat tidak leluasa untuk melakukan kegiatan. Bahkan Dokter Kandungan juga khusus didatangkan untuk memeriksa dirinya. Bukan tidak pernah Mega meminta tolong, tetapi Dokter tersebut tidak bisa membantunya. Ancaman pembunuhan juga akan terjadi pada keluarga Dokter itu jika sampai membantu Mega. Jelas, Mega tidak mau itu terjadi.
Kini ia bisa bernapas lega, kontrak kerjanya sudah selesai dan ia ingin kembali ke tanah air menuntut haknya. Mencari keberadaan sang anak dan juga meniti masa depan, semoga saja ia tidak bertemu dengan Athaya kembali. Pria penyebab dirinya harus kehilangan ketentraman hidup. Mega ingin membuang sial dan merajut masa depan yang baik bersama anaknya. Memang sulit, tapi Mega yakin bisa menemukan anak itu. Karena bagaimanapun anak itu miliknya dan ia harus mendapatkan kembali.
♥
Masih teringat dengan jelas dalam ingatan Mega Asturi percakapan terakhir lima tahun yang lalu sebelum ia pergi dan sekarang sosok pemeran utamanya muncul kembali.
Mega tetap bergeming di tempatnya yang bersandar pada tembok pemisah antara dapur dan warung bagian depan. Suara itu tidak akan pernah dilupakan. Namun, saat ini suara itu lebih terdengar dewasa. Mengingat sang pemilik masih sama membuat aliran darah Mega berdesir merindu. Pemilik hatinya sedang berada di depan berinteraksi dengan ibunya mengingatkan pesanan mamanya, sekaligus membeli sebungkus rokok.
Mega mencondongkan tubuh karena rasa penasaran bagaimana penampakan pria itu saat ini. Matanya membulat sempurna dan kaget dengan perbedaan mencolok pada Athaya yang dulunya kurus serta berwajah imut telah berubah maskulin dengan wajah tegas dan sedikit jambang yang terpangkas rapi. Namun, satu hal yang membuat Mega tersenyum tipis saat ini adalah potongan khas pria itu yang seperti rambut para penegak hukum.
Mega buru-buru menarik tubuhnya kembali saat Athaya seperti merasa diperhatikan dan melayangkan pandangan ke arahnya.
“Ibu sendirian?”
Suara dalam itu menyadarkan Mega bahwa Athaya pasti menyadari keberadaan dirinya. Ia segera melerai punggungnya yang bersandar pada tembok dan mendekati wajan besar tempat ia menggoreng tahu isi.
Mega sedang membalik gorengannya saat mendengar jawaban dari ibunya.
“Nggak dong. Ada Mega yang membantu ibu.”
“Mega? Bukannya dia masih di Hongkong?”
“Oh, udah nggak kok. Baru pulang dua minggu yang lalu,” jawab Rukmi.
Mega memejamkan matanya sejenak mendengarkan jawaban ibunya dengan bernada riang tanpa beban memberikan informasi kepada pria itu. Mega sedikit menyesali kesediaan diri membantu ibunya hari ini. Rasa diri, masih belum siap bertemu dengan pria itu kembali. Lantas Mega mengerutkan keningnya saat kembali mendengar balasan dari Athaya.
“Oh, pantas.”
Apa maksud dari Athaya dengan balasan singkat yang disusul keheningan penuh penantian dari kalimat berikutnya dari pernyataan tersebut? Mega bertanya-tanya dalam hati sampai pada akhirnya sang ibu menuntaskan rasa penasaran Mega dengan bertanya, “Pantas apa, Nak? Dari mana kamu tahu jika Mega kerja di Hong kong.”
Mega mendengarkan sambil berkhayal, apa kira-kira jawaban dari Athaya? Apakah pria itu tahu dari mamanya atau dari Adithy? Namun, jawaban Athaya mengejutkan dirinya dan pasti sang ibu karena jawaban singkat dari sang ibu semakin membuat Mega dirundung rasa penasaran dan kaget.
“Saya sempat melihat dia di salah satu distrik pusat perbelanjaan di Hong kong akhir bulan lalu.”
“Oh,” jawab Rukmi singkat, terkejut.
Tak lama, Athaya pamit tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Mega melanjutkan acara menggorengnya setelah mendengar langkah kaki menjauh dari warung bagian depan yang disusul langkah cepat menuju ke arahnya.
“Ibu kaget loh, dia tiba-tiba kembali. Lebih kaget lagi, Ibu nggak lihat dia pakai cincin kawin. Apa dia sudah menduda?” ujar Rukmi.
Mega memalingkan wajahnya sekilas menatap wajah ibunya yang tampak sangat berseri-seri kali ini. Sungguh berbeda jika bertemu dengan pria lain kenalan mereka.
“Jangan bergosip, Bu. Kita nggak tahu kenyataannya, jangan berburuk sangka.”
“Eh ... Ibu nggak bergosip. Semua orang di sini juga tahu kalau Athaya pernah mengusir istrinya dari rumah Ibu Karmila.”
“Mega juga mendengar hal itu. Tapi, semua yang kita lihat tidak bisa begitu saja dipakai sebagai kebenaran tanpa ada kroscek dari yang bersangkutan.”
Athaya mengerutkan dahinya seraya meninggalkan warung milik Rukmi. Ia sangat yakin, jika tadi melihat Mega bersandar di balik tembok. Bayangan Wanita itu jelas Athaya hafal. Senyum tipis tersungging, saat dirinya menduga bahwa wanita itu pasti mencuri pandang ke arahnya tadi. Persis yang selalu wanita itu lakukan sejak dahulu kala jika bertandang ke rumah orang tuanya untuk bercengkrama dengan kakaknya, Adithy. Di segala kesempatan, ia berulang kali mendapati saat-saat Mega mencuri pandangan ke arahnya. Itu juga yang membuat Athaya merasa wanita itu dulu menaruh rasa yang sama dengannya.
Namun, Athaya menelan kenyataan pahit saat wanita itu menolaknya dan memilih untuk kembali ke Hongkong. Padahal jelas sekali, jika Athaya yang masih berusia 20 tahun di kala itu juga tidak bisa diremehkan. Ia sudah memiliki penghasilan sendiri sebagai seorang programer. Mega tidak perlu khawatir akan kelaparan jika menerima lamarannya kala itu. Akan tetapi, yang lebih melukai perasaan dan harga dirinya sebagai pria adalah wanita itu menolaknya karena menganggap perbedaan status sosial dan usia yang menjadi penyebabnya. Seumur-umur, hanya Mega seorang yang pernah menolaknya. Padahal impian untuk menikahi wanita itu sudah ada dalam benak Athaya bahkan sejak duduk di bangku kelas dua SMA.
Athaya mendesah panjang saat kembali mengingat kekecewaannya dan kegagalannya dalam membina rumah tangga bersama dengan Dama. Athaya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kegagalan rumah tangganya yang dipicu karena Dama yang kedapatan berselingkuh. Namun, jelas andilnya lebih besar di sini. Ia merasa tidak bergairah saat bersama dengan istrinya itu. Dama adalah teman sekolahnya dan Athaya mengetahui jika Dama telah menyukainya sejak SMP. Jadi, begitu wanita itu menginginkan untuk menikah dengannya. Athaya yang kala itu sakit hati dengan penolakan Mega, akhirnya menyetujui hal itu.
♥
Kesialan yang dirasakan oleh Mega tidak berhenti sejak bisa melihat penampakan Athaya di warung ibunya tadi. Karena begitu Athaya pergi sepupu pria itu yang bernama Cavero dan Enzi mendatangi warung ibu Gandes. Lantas kali ini, bertemulah mereka dengannya.
“Loh, ada Mbak Mega rupanya? Lama sekali nggak kelihatan. Sudah lima tahun kalau nggak salah. Oh, pantas saja tadi Athaya lama banget baru sampai rumah. Betah dia di warung ketemu Mbak Mega.”
Asumsi Cavero membuat Mega merasa harus meluruskan hal itu. Jelas, dirinya tidak ingin menjadi bahan perbincangan. Tidak hanya bagi warga kampung yang menganggapnya sebagai perawan tua atau bahkan dikira telah menjadi janda muda terlebih di dalam keluarga pria itu. Demi Tuhan, dia masih 30 tahun belum menjadi wanita uzur. Jaman sekarang, bahkan lebih tua darinya banyak yang baru melepas masa lajangnya. Toh, jodoh siapa yang tahu. Semuanya adalah rancangan misteri Ilahi.
“Tidak. Kami tidak bertemu.”
“Mbak Mega belum ada di warung ya tadi?” Cavero masih tidak mau kalah dan berusaha mengobati rasa keingintahuannya.
“Tidak juga, hanya saja kami tadi tidak bertemu. Kalian mau beli apa ini?” ujar Mega yang sejurus kemudian mengalihkan pembicaraan.
“Kami mau dua mie kuah dan teh tawar panas.” Kali ini Enzi yang menimpali. Pria tampan itu tahu jika Mega pasti merasa kurang nyaman ketika disinggung tentang Athaya.
“Di rumah tidak ada makanan?” tanya Rukmi seraya tersenyum kepada kedua pria muda tersebut.
“Ada, Bu, tapi kami kangen mie kuah buatan Ibu. Jarang-jarang kami datang ke sini,” jawab Cavero seraya melirik pada Mega yang memunggunginya.
“Banyak pesanan ya, Bu?” tanya Cavero masih dengan pandangan ke arah Mega yang sedang mengemasi pesanan.
“Pesanan tantemu itu, katanya untuk acara nanti malam. Itu juga sudah mau selesai bungkusinnya,” jawab Rukmi sembari membuatkan pesanan kedua pria tersebut.
Tiga puluh menit kemudian kedua pria itu telah selesai menandaskan dua piring mie kuah dan berjalan tergesa-gesa menyusul Mega yang menenteng pesanan. Enzi lantas mengambil satu tumpukan kotak kemasan yang dibawa oleh Mega setelah menawarkan bantuan. Begitu juga dengan Cavero yang tanpa berkata apa-apa segera meraih tumpukan yang lainnya dan kini dirinya berjalan tanpa membawa apa pun sambil diapit oleh kedua pria tampan itu. Wajah Mega bersemu merah menahan malu, terlebih beberapa pasang mata para tetangga melihat ke arahnya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Gimana, Mbak, senangkan diapit dua pria tampan?” goda Cavero.
“Ish ... sok tahu kamu,” tegur Mega dengan nada lirih dan dibalas dengan kikikan geli dari kedua pria tersebut.
Athaya yang melihat kedatangan Mega bersama dengan kedua sepupunya segera menyusul ke depan dan meraih kedua tumpukan kemasan pesanan mamanya.
“Masuk,” kata singkat yang kemudian dipatuhi mereka bertiga setelah saling melempar pandangan penuh tanya.
Mega ikut masuk karena memang pesanan makanan itu belum dibayar oleh Karmila, mamanya Athaya.
“Eh, ada Mega. Sini Nak, bantu Mama sebentar di dapur,” ajak Karmila begitu melihat Mega melintasi ruang tamu mengikuti kedua pria muda yang lebih dulu mendudukkan diri di kursi ruang makan.
Mega meringis, melirik kedua pria itu sebelum mengikuti Karmila masuk ke dapur. Ia sering merasa sungkan karena Karmila selalu menyuruhnya memanggil wanita paruh baya itu, Mama. Karmila masih menganggapnya anak-anak, seperti dahulu saat masih sering bertandang ke sini dan bermain dengan Adithy.
Adithy sendiri, saat ini sudah mengikuti suaminya yang bekerja di Korea. Keluarga Tonda memang dipandang paling kaya dan dermawan di kampung mereka. Padahal, andaikan mereka mau, mereka bisa saja tinggal di kota. Toh, Athaya memiliki perusahaan property yang bekerjasama dengan beberapa temannya. Hanya itu yang diketahui oleh Mega. Wanita itu tidak ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan Athaya sejak ia tolak dahulu, mengingat sikapnya saat itu juga melukai dirinya sendiri. Athaya tidak terluka sendirian. Luka yang Mega torehkan juga berdampak sama. Mungkin, dengan menyakiti hati Athaya ia ingin melihat sebesar rasa yang pria itu punya untuknya.
Namun, saat melihat reaksi Athaya yang tanpa sepatah kata kemudian menjauh dan menghilang hingga akhirnya menikah itu, membuktikan jika pria itu hanya tertarik karena hanya Mega yang sering ia lihat selama ini.
“Tolong potong jambu ini ya, Sayang. Mama mau buat setup jambu, kamu tahukan Athaya sangat suka dengan minuman ini.”
Mega menelan salivanya kasar dan segera menggeser mundur kursi untuk ia duduki. Ucapan ceria Karmila membuat kakinya melemah, satu hal lagi yang menjadi acuan Mega. Karmila tidak tahu menahu akan perbuatannya yang menolak Athaya dahulu. Mega cukup lega dengan pemikirannya ini. Jika mereka semua tahu, entah apakah dirinya masih punya muka untuk muncul ke sini. Mega tahu perkataannya saat itu sangat kasar kepada Athaya, sepatutnya memang dirinya tidak pernah mengucapkan kata-kata tersebut. Harga diri seorang pria seperti Athaya tentu saja terluka. Kadang Mega berpikir, apakah karena perbuatannya itu sampai saat ini rasa bersalah itu masih bercokol dalam dirinya sehingga tidak bisa move on dari Athaya. Meskipun Kostav sampai sekarang terus menunggu dirinya. Sama halnya saat berurusan dengan Athaya, penolakan dengan kalimat pedas juga Mega ucapkan pada pria tampan itu. Namun, Kostav sangat gigih dan tidak terpengaruh dengan ucapan pedas dan kasarnya. Terus terang Mega merasa bukan tidak menjadi dirinya ketika berhadapan dengan dua pria tersebut.
Jika pun harus memilih, seharusnya Mega bisa menentukan bersama dengan Kostav. Setidaknya, masa depannya pasti terjamin. Ibunya tidak perlu capek membuka warung seperti saat ini dan jelas status sosial dirinya juga meningkat. Akan tetapi, hati kecil Mega menolak semua itu. Ia merasa belum siap melepaskan masa lajangnya saat ini, entah untuk apa dirinya pun tak tahu.