Dua belas kali aku mencoba menikah dengan Zaki, dan dua belas kali pula pernikahan itu batal. Setiap kali, dia selalu memilih adik angkatnya, Selma, yang tiba-tiba sakit atau panik tepat di saat-saat penting.
Kali ini, di depan penghulu dan para tamu, Selma kembali berulah. Zaki, tunanganku selama delapan tahun, lagi-lagi meninggalkanku di altar demi menenangkan Selma.
Aku sudah lelah. Lelah dengan janji-janji kosongnya, lelah dengan drama Selma yang tak berkesudahan. Rasa sakit dan penghinaan ini sudah terlalu banyak.
Namun, kehancuran total datang saat Selma, dengan senyum kemenangan, memamerkan kalung pemberian Zaki-kalung yang sama persis dengan liontin kunci hati, simbol cinta kami.
Saat itu aku sadar, delapan tahun pengorbananku hanyalah lelucon.
Aku membatalkan pernikahan untuk terakhir kalinya, meninggalkan semua kenangan, dan terbang ke Bali untuk mengejar mimpiku yang telah lama terkubur.
Setahun kemudian, aku telah menjadi arsitek sukses yang memimpin proyek resor mewah. Dan Zaki, pria yang telah menghancurkan hidupku, kini muncul kembali.
Bukan sebagai tunangan yang memohon, tapi sebagai karyawan rendahan yang melamar pekerjaan di bawah pengawasanku.
Bab 1
Kinasih POV:
Aku menatap cermin, refleksi diriku tampak asing dalam balutan kebaya putih mutiara. Ini adalah kali kedua belas aku mencoba mengenakan gaun pernikahan ini. Kali kedua belas aku berdiri di ambang pintu, jantung berdebar antara harapan dan kelelahan. Setiap jahitan, setiap payet, terasa seperti janji yang rapuh, siap hancur kapan saja.
"Jangan khawatir, Sayang," suara Zaki terdengar dari balik pintu, mencoba menenangkan. "Kali ini berbeda. Aku sudah mengatur semuanya."
Kata-kata itu, yang seharusnya menghangatkan, malah terasa dingin di kulitku. Berapa kali lagi aku akan mendengar janji yang sama? Berapa kali lagi aku akan membiarkan diriku percaya?
Aku memejamkan mata, mencoba mengusir rasa pusing yang menyerang. Migrain kembali menyerang, akibat kurang tidur dan stres berlebihan selama berminggu-minggu. Tapi Zaki tidak melihatnya. Dia tidak pernah melihatnya. Baginya, aku selalu baik-baik saja.
Aku membuka pintu, langkahku terasa berat. Ruangan sudah penuh dengan tamu. Para kerabat dan teman-teman kami, yang sebagian besar sudah menyaksikan drama ini berkali-kali. Senyum di wajah mereka tampak tegang, bercampur rasa ingin tahu dan kasihan.
Zaki berdiri di dekat penghulu, jubah putihnya terlihat sempurna. Dia tampan, karismatik, pengacara sukses yang diidamkan banyak wanita. Dia menoleh ke arahku, senyumnya cerah. Senyum yang selalu berhasil meluluhkan hatiku, terlepas dari segala kekecewaan yang dia taburkan.
"Kamu cantik sekali, Kinasih," bisiknya saat aku mendekat. Tangannya yang hangat menggenggam tanganku, terasa seperti jangkar di tengah badai. Aku berusaha membalas senyumnya, tapi sudut bibirku terasa kaku.
Aku menatap sekeliling. Pemandangan ini terlalu akrab. Dekorasi bunga, meja hidangan, semua saksi bisu dari janji-janji yang tak pernah ditepati. Aku melihat Riska, sahabatku, berdiri di antara para tamu, tatapannya penuh kekhawatiran. Dia menggelengkan kepala samar, seolah berkata, Jangan lagi, Kinasih.
Tapi aku sudah di sini. Sudah sejauh ini. Aku hanya ingin semuanya berakhir. Kali ini, tolong, biarkan ini benar-benar terjadi.
Sebuah suara melengking memecah keheningan. "Kak Zaki!"
Zaki menoleh, wajahnya langsung berubah. Selma, adik angkatnya, terjatuh di sudut ruangan, tangannya memegangi kepala. Wajahnya pucat, matanya terpejam. Semua mata tertuju padanya.
"Selma?" Zaki segera melepaskan tanganku, bergegas menghampiri Selma. Aku berdiri terpaku, menyaksikan pemandangan yang tak asing ini.
"Kak Zaki, sakit sekali…" Selma merintih, suaranya terdengar sangat lemah. Dia bersandar pada Zaki, tubuhnya lunglai.
Zaki mengusap rambut Selma, wajahnya penuh kekhawatiran. "Ada apa, Sayang? Apa yang sakit?"
"Kepalaku… rasanya mau pecah. Dan mual… Mungkin aku alergi sesuatu di sini." Selma memeluk Zaki erat, seolah Zaki adalah satu-satunya pelindungnya.
Aku melihat sekeliling. Tidak ada yang aneh, tidak ada bau menyengat atau makanan yang mencurigakan. Ini bukan kali pertama Selma mengalami "serangan panik" atau "alergi mendadak" di momen-momen penting dalam hidupku.
"Alergi apa?" suara Zaki terdengar panik. "Kamu makan apa?"
"Aku… aku tidak tahu. Mungkin bunga-bunga ini?" Selma menunjuk ke arah rangkaian bunga mawar putih yang menghiasi ruangan, matanya sedikit terbuka melirik ke arahku. Sebuah kilatan licik melintas di sana, sebelum kembali merintih.
Rasa dingin merayapi tulang punggungku. Aku tahu, aku tahu apa yang sedang terjadi.
"Ini konyol!" Riska tiba-tiba berseru dari kerumunan, langkahnya maju. "Bunga mawar tidak menimbulkan alergi separah itu, Selma! Hentikan drama ini!"
Zaki menoleh ke Riska, matanya menyala marah. "Riska! Jangan bicara sembarangan! Selma benar-benar sakit!"
"Sakit? Atau hanya ingin mencari perhatian seperti biasa? Zaki, lihatlah Kinasih! Dia sudah di sini, siap menikah denganku!" Riska menunjuk ke arahku.
Zaki melirikku sekilas, tatapannya dipenuhi kekesalan. "Kinasih, kamu tidak apa-apa kan?"
Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa? Aku berdiri di sini, calon pengantin yang ditinggalkan, untuk kali kesekian. Tubuhku bergetar, migrainku semakin parah, dan rasa mual di perutku tak tertahankan. Tapi aku hanya bisa menggelengkan kepala, bibirku membisu.
"Tentu saja dia baik-baik saja! Kamu tidak melihatnya?" Zaki kembali menoleh ke arah Selma, suaranya melembut. "Selma, kita harus ke rumah sakit. Sekarang."
"Tapi Kak Zaki… pernikahanmu…" Selma merintih, nadanya terdahi-dahi tapi matanya masih mencuri pandang ke arahku, seolah ingin memastikan apakah aku melihat tatapan kemenangannya.
"Tidak ada yang lebih penting daripada kesehatanmu, Sayang." Zaki bangkit, menggendong Selma dengan mudah. Selma membenamkan wajahnya di dada Zaki, lengannya melingkar erat di lehernya.
Zaki menoleh ke arah penghulu. "Maaf, Pak. Saya rasa kita harus menunda pernikahan lagi."
Suara-suara berbisik terdengar dari para tamu. Bisikan simpati untukku, bisikan cemooh untuk Zaki.
"Astaga, ini sudah yang ke berapa kalinya dia melakukan ini?"
"Kasihan sekali Kinasih. Sampai kapan dia mau bertahan?"
"Gila, ya. Adiknya itu benar-benar… keterlaluan."
Aku mendengar semuanya. Setiap kata menusuk hatiku. Tapi anehnya, aku tidak merasa marah. Hanya letih. Letih yang teramat sangat.
"Zaki!" Riska berteriak, suaranya penuh kemarahan. "Jangan biarkan dia mempermainkanmu lagi! Kinasih sudah berkorban terlalu banyak!"
Zaki mengabaikan Riska. Dia menatapku, matanya memohon maaf. "Kinasih, aku akan kembali setelah mengantar Selma. Aku janji. Kali ini, aku benar-benar janji. Kita akan menikah."
Aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatapnya, hampa. Sudah berapa kali janji itu dia ucapkan? Terlalu sering untuk diingat.
Zaki tampak bingung dengan ketenanganku. Dia sedikit ragu, menatapku seolah mencari perlawanan. Tapi aku tidak memberikannya.
Aku hanya mengangguk pelan. "Pergilah, Zaki. Bawa Selma."
Zaki terkejut dengan responsku. Dia mungkin mengharapkan teriakan, tangisan, atau setidaknya permohonan agar dia tetap tinggal. Tapi tidak ada. Hanya keheningan yang mematikan.
"Kinasih, aku…"
"Pergilah," aku mengulang, suaraku nyaris tak terdengar. "Dia membutuhkanmu."
Zaki mengangguk kaku, lalu berbalik, membawa Selma keluar dari ruangan. Para tamu menyingkir, memberikan jalan. Aku melihat Selma menyeringai samar sebelum menghilang dari pandangan.
Dan kemudian, kegelapan. Dunia berputar, kakiku lemas, dan aku terjatuh.
Aku terbangun di ranjang yang familiar. Aroma antiseptik menusuk hidungku. Ruangan rumah sakit ini, aku mengenalnya dengan baik. Bukan kali pertama aku berakhir di sini karena kelelahan atau serangan migrain parah akibat stres.
"Kinasih? Kamu sudah sadar?" Riska duduk di samping ranjangku, matanya sembab.
Aku mengerjapkan mata, mencoba mengingat apa yang terjadi. Kebaya putih, Zaki, Selma… pernikahan yang batal. Lagi.
"Zaki di mana?" tanyaku, suaraku serak.
Riska menatapku dengan tatapan kasihan. "Dia belum kembali. Aku sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban."
Aku tersenyum miris. Sudah kuduga. Dia tidak akan kembali. Tidak hari ini, tidak besok, mungkin tidak akan pernah.
Riska menggenggam tanganku. "Keluargamu sudah pulang. Mereka bilang mereka tidak bisa melihatmu seperti ini lagi."
Riska memberitahuku bahwa orang tuaku, yang biasanya selalu bersamaku, telah pergi. Mereka terlalu lelah melihatku dihancurkan berkali-kali. Aku tidak menyalahkan mereka. Aku sendiri pun lelah.
Aku menatap cincin tunanganku yang melingkar di jari manis. Cincin yang sama yang dulu Zaki berikan padaku delapan tahun lalu, di hari dia melamarku. Delapan tahun. Dua belas kali mencoba menikah. Dan setiap kali, dia memilih Selma.
Zaki pernah berkata, "Kinasih, kamu adalah rumahku. Kamu adalah ketenangan jiwaku." Dia juga pernah berjanji akan menjagaku, melindungi impianku. Tapi semua itu hanya omong kosong.
"Riska," kataku, suaraku lebih tegas dari yang kukira. "Aku sudah selesai."
Riska menatapku, matanya melebar. "Selesai? Maksudmu… dengan Zaki?"
Aku melepas cincin tunangan itu dari jariku. Cincin itu terasa dingin, berat, seperti beban yang selama ini membebani hidupku. Telapak tanganku gemetar saat aku melihatnya. Sudah berapa kali aku melepasnya? Setelah setiap pembatalan, aku akan melepasnya, menangis, lalu memakainya lagi ketika Zaki datang dengan janji-janji manis.
Tapi kali ini berbeda. Tidak ada lagi janji. Tidak ada lagi harapan.
"Aku tidak akan memakainya lagi," kataku. Aku membuang cincin itu ke tong sampah di samping ranjang.
Riska menatapku tak percaya, lalu senyum lega perlahan terukir di wajahnya. "Akhirnya, Kinasih. Akhirnya kamu melihatnya."
"Aku akan menerima tawaran proyek resor di Bali itu," kataku, memalingkan pandangan dari Riska, menatap keluar jendela. Proyek impian yang dulu kutolak demi Zaki, demi membangun rumah bersamanya.
Riska menggenggam tanganku erat. "Aku akan mendukungmu sepenuhnya, Sayang. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."
Aku tahu Zaki akan datang memohon lagi. Dia akan mengatakan dia menyesal, bahwa dia tidak bisa hidup tanpaku. Dia akan bersumpah demi Tuhan bahwa kali ini dia akan berubah. Dia selalu begitu.
Tapi kali ini, aku tidak akan ada di sini untuk mendengarnya. Aku tidak akan lagi membiarkan masa laluku menghancurkan masa depanku. Aku tidak akan lagi menjadi wanita yang sama.
Aku akan pergi. Dan aku tidak akan pernah kembali.
Kinasih POV:
Riska membantuku berkemas. Dia tidak banyak bicara, hanya sesekali menatapku dengan mata khawatir. Aku tahu dia masih takut aku akan berubah pikiran. Tapi tidak ada lagi yang bisa berubah. Keputusanku sudah bulat, seperti batu yang keras.
"Aku akan merindukanmu," kata Riska saat kami berpelukan di depan pintu rumah sakit.
"Aku juga," balasku, mencoba tersenyum meyakinkan. "Tapi ini bukan perpisahan. Kita akan tetap terhubung."
Dia mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan biarkan siapa pun lagi menyakitimu."
Aku mengangguk. Janji itu, kali ini, aku akan menepatinya untuk diriku sendiri.
Riska pergi, dan aku kembali ke kamar rumah sakit yang sunyi. Zaki belum juga datang. Teleponku mati, tidak ada pesan darinya. Seolah-olah aku tidak pernah ada dalam hidupnya.
Sakit kepala kembali menyerang. Rasanya seperti ada palu godam yang menghantam tengkorakku. Aku meraba laci di samping ranjang, mencari obat migrain yang selalu kubawa. Kosong. Obatku habis. Aku lupa membelinya karena terlalu sibuk mengurus pernikahan yang tidak pernah terjadi.
Aku memejamkan mata, mencoba menahan rasa sakit. Zaki dulu selalu sigap. Dia akan membelikanku obat, mengompres kepalaku, dan membisikkan kata-kata menenangkan. Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Aku di sini.
Mengingatnya sekarang terasa seperti racun.
Aku meraih ponsel, berniat menghubungi Zaki untuk meminta dia membawakan obat. Tapi jariku berhenti melayang di atas namanya. Untuk apa? Dia tidak akan datang. Dia sedang bersama Selma, dan Selma adalah prioritasnya. Aku sudah menyaksikan itu berkali-kali.
Aku tertawa hampa. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan, hanya kepedihan. Aku tidak butuh dia. Aku bisa mengurus diriku sendiri.
Dengan langkah gontai, aku bangkit dari ranjang, mengenakan pakaian seadanya, dan berjalan keluar dari kamar rumah sakit. Koridor rumah sakit sepi di malam hari. Aku berjalan perlahan menuju apotek.
Saat aku menunggu antrean, sebuah suara familiar menyapa. "Kinasih? Sedang apa kamu di sini?"
Aku menoleh. Itu Bu Citra, manajer proyek dari kantor lamaku. Dia menatapku dengan tatapan terkejut, bergantian melihatku dan piyama rumah sakit yang masih kukenakan.
"Bu Citra? Saya… saya hanya…" Aku tergagap, tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana aku menjelaskan bahwa aku baru saja pingsan di hari pernikahanku yang ke-12 karena calon suamiku memilih adik angkatnya?
"Kamu baik-baik saja?" Bu Citra bertanya, matanya menyipit penuh selidik. "Kamu terlihat sangat pucat. Dan… bukankah hari ini…?"
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi aku tahu apa yang ingin dia tanyakan. Semua orang tahu tentang drama pernikahan Zaki dan aku.
"Saya baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit kelelahan," kataku, mencoba tersenyum.
Bu Citra mendengus. "Kelelahan? Kinasih, kamu tidak pernah berbohong dengan baik. Aku tahu apa yang terjadi. Zaki itu… dia keterlaluan."
Aku menunduk, tidak bisa membantah.
Tiba-tiba, dari arah ruang IGD, aku mendengar suara Zaki. "Selma, pelan-pelan, Sayang. Jangan sampai jatuh lagi."
Jantungku mencelos. Aku mendongak, dan di sana, terlihat Zaki sedang memeluk Selma yang berjalan terhuyung-huyung keluar dari ruang IGD. Selma terlihat baik-baik saja, bahkan senyum tipis tersungging di bibirnya saat dia bersandar manja pada Zaki.
Mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih, tidak seperti kakak-adik angkat. Zaki mengusap pipi Selma dengan lembut, matanya penuh kasih sayang. Tatapan yang dulu selalu dia berikan padaku.
Sebuah sengatan nyeri menusuk hatiku. Sakitnya bukan karena cemburu, tapi karena kesadaran. Kesadaran bahwa aku telah membiarkan diriku disakiti sedalam ini.
Aku bersembunyi di balik pilar, tidak ingin terlihat. Bu Citra menatapku dengan iba, lalu melirik ke arah Zaki dan Selma dengan tatapan jijik.
Selma merangkul lengan Zaki, kepalanya menyandar di bahu pria itu. "Kak Zaki, aku lapar. Kita makan sate padang ya?"
"Tentu, Sayang. Apa pun untukmu." Zaki tersenyum, mengangguk.
Aku menatap mereka sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangan. Rasa pahit memenuhi mulutku. Bu Citra menepuk bahuku.
"Pulanglah, Kinasih. Istirahat," katanya, suaranya lembut.
Aku mengangguk, lalu berbalik dan berjalan kembali ke kamar. Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menatap langit-langit, membiarkan air mata mengalir tanpa suara. Tapi anehnya, air mata itu tidak terasa panas. Hanya dingin, seperti jiwaku.
Keesokan harinya, aku mengemasi barang-barangku. Tidak banyak yang kubawa. Hanya beberapa pakaian dan buku-buku sketsa arsitekturku yang kumal. Semua kenangan dengan Zaki, semua barang yang dia berikan, aku tinggalkan. Aku tidak butuh lagi.
Tepat saat aku hendak keluar, ponselku berdering. Nomor Zaki. Aku terdiam sejenak, lalu mengangkatnya.
"Kinasih? Kamu di mana? Kenapa tidak di kantor?" Suaranya terdengar cemas, tapi ada nada ketidakpuasan di sana.
"Aku sakit," jawabku singkat.
"Sakit? Kenapa tidak memberitahuku? Sejak kapan? Apa yang sakit?"
Aku tersenyum miris. Kau tidak tahu? Kau yang meninggalkanku pingsan di altar, Zaki. Dan sekarang kau bertanya apa yang sakit?
"Kepalaku pusing. Agak demam," jawabku datar.
"Astaga. Aku minta maaf, Sayang. Tadi malam Selma demam tinggi, jadi aku harus menemaninya. Aku baru bisa pulang pagi ini. Bagaimana kalau aku bawakan makanan untukmu? Atau obat?"
Aku mendengar suara Selma dari balik telepon, memanggil nama Zaki. "Kak Zaki, aku mau es krim!"
"Iya, Sayang, sebentar," Zaki menjawab Selma. Lalu kembali kepadaku, "Kinasih, aku akan segera ke sana setelah ini. Kamu istirahat saja dulu, ya."
Aku menutup mata. Suara Selma, permintaan es krim, dan janji Zaki yang tidak akan pernah ditepati. Semua itu terasa seperti déjà vu. Aku tahu dia tidak akan datang.
Aku menatap sekeliling apartemen yang dulu kami impikan, apartemen yang kami rancang bersama. Sekarang, tempat ini terasa hampa. Aku hanya ingin pergi.
Dua hari kemudian, aku berdiri di kantor arsitektur tempatku bekerja selama lima tahun. Surat pengunduran diri ada di tanganku.
Pak Budi, atasanku, menatapku dengan ekspresi kecewa. "Kinasih, kamu yakin? Apa kamu tahu ini akan memengaruhi kariermu?"
"Saya yakin, Pak," kataku, suaraku mantap.
"Tapi… bukankah Zaki ingin kamu tetap di sini? Dia juga kan salah satu klien besar kita," kata Pak Budi, mencoba mencari tahu. "Saya tahu kalian berdua dulu adalah calon arsitek paling menjanjikan di sini. Tapi kamu memilih untuk menunda impianmu demi dia. Sekarang, kenapa tiba-tiba begini?"
Aku menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Saya rasa, sudah waktunya saya mengejar impian saya sendiri, Pak. Bukan impian orang lain."
Pak Budi menghela napas. "Saya mengerti. Tapi… apa karena Zaki lagi?"
Aku menggeleng. "Ini tentang saya, Pak. Saya ingin sesuatu yang baru."
Baru saja Pak Budi ingin mengatakan sesuatu lagi, pintu kantornya terbuka dengan kasar.
Zaki berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah. Matanya menatapku tajam, seolah aku telah melakukan kejahatan besar.
Aku tahu dia akan datang. Tapi tidak secepat ini.
"Kinasih," suaranya berat, penuh kemarahan. "Apa yang kamu lakukan?"
Kinasih POV:
Zaki menarik lenganku, menyeretku keluar dari ruangan Pak Budi. Cengkeramannya begitu kuat hingga aku merasa pergelangan tanganku akan memar. Dia tidak peduli dengan tatapan mata rekan-rekan kerja kami yang mengikuti kami dengan rasa ingin tahu dan kaget.
"Ada apa denganmu, Kinasih?" Zaki membentak saat kami tiba di lorong yang sepi. "Kenapa kamu tiba-tiba mengundurkan diri? Apa kamu sudah gila?"
Aku menatapnya, mencoba melepaskan tanganku. "Lepaskan aku, Zaki. Ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Tidak ada hubungannya denganku?" Dia tertawa hambar. "Segala sesuatu dalam hidupmu ada hubungannya denganku! Kita akan menikah! Kamu tidak bisa tiba-tiba berhenti bekerja tanpa persetujuanku!"
"Persetujuanmu?" aku mengulang, suaraku dingin. "Sejak kapan kamu peduli dengan pekerjaanku? Atau keputusanku?"
Zaki terdiam, matanya menyala. "Aku peduli! Tentu saja aku peduli! Ada apa denganmu? Apa ini tentang kemarin? Tentang Selma?"
"Oh, jadi kamu masih ingat 'kemarin' itu?" aku membalas, nadaku penuh sindiran. "Aku pikir kamu sudah lupa, mengingat betapa sibuknya kamu mengurus Selma."
Zaki menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Kinasih, kamu tahu kan Selma itu adik angkatku. Dia tidak punya siapa-siapa. Dia sangat ketakutan kemarin. Serangan paniknya kambuh karena kliennya membatalkan proyek. Dia sangat rapuh, Kinasih. Apa aku salah kalau aku peduli padanya? Apa aku salah kalau aku ingin melindunginya?"
Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Dulu, kata-kata itu akan membuatku merasa bersalah, merasa kejam karena cemburu pada adik angkatnya yang sebatang kara. Tapi sekarang, tidak lagi.
"Kamu tahu, Zaki, aku tidak pernah melarangmu peduli pada Selma," kataku, suaraku datar. "Bahkan aku memahami kondisi Selma. Tapi sepertinya kamu lupa bahwa kamu punya tunangan yang juga butuh perhatian. Tunangan yang kamu tinggalkan di depan penghulu. Untuk ke-12 kalinya."
Wajah Zaki memucat. Dia tahu aku benar. Dia tahu dia keterlaluan.
"Aku… aku minta maaf, Kinasih," bisiknya, suaranya melembut. "Aku tahu aku salah. Aku janji, kali ini aku akan menebusnya. Kita akan segera menikah. Kamu bisa bekerja di mana pun kamu mau, Sayang."
"Aku sudah menemukan pekerjaan baru," kataku, senyum tipis terukir di bibirku. "Di Bali. Proyek resor mewah yang dulu aku tolak."
Mata Zaki terbelalak. Wajahnya langsung berubah muram. "Apa? Bali? Kamu tidak bisa pergi, Kinasih! Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan Selma? Dia pasti akan sangat sedih jika kamu pergi. Dia sudah terbiasa dengan kehadiranmu."
Dunia di sekitarku terasa berputar. Harapan yang sejenak timbul, kini hancur berkeping-keping. Dia masih saja sama. Demi Selma. Selalu demi Selma.
"Jadi, aku harus mengorbankan impianku lagi, demi Selma?" tanyaku, suaraku menipis.
"Bukan mengorbankan, Sayang," Zaki mencoba meyakinkan, tangannya menggenggam tanganku lagi. "Ini hanya sementara. Setelah Selma stabil, kita bisa memikirkan ini lagi. Aku janji, kita akan membangun rumah impian kita di Bali, bersama. Tapi tidak sekarang, Kinasih. Selma butuh kita."
Aku menatap tangannya yang menggenggamku. Cincin tunangan yang dia berikan padaku delapan tahun lalu, kini tidak ada di jariku. Dia tidak menyadarinya. Dia tidak menyadari apa-apa.
Aku menarik napas dalam-dalam. Aku lelah. Sangat lelah.
Zaki salah mengartikan diamku. Dia tersenyum, mengira aku sudah melunak. "Makan malam nanti? Di restoran favorit kita? Kita akan membicarakan semuanya."
Aku mengangguk. "Baiklah."
Zaki tersenyum lebar, lalu mendekat, mencoba menciumku. Tapi aku menoleh, menolaknya. Sebuah janji tidak akan lagi mengikatku.
"Nanti malam, ya," katanya, masih dengan senyumnya.
Aku hanya mengangguk, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kantor. Zaki masih berdiri di sana, menatapku, mungkin bertanya-tanya mengapa aku begitu tenang. Tapi aku tidak lagi peduli dengan apa yang dia pikirkan.
Aku menunggu di lobi kantor, berniat pulang. Tiba-tiba, suara Selma terdengar dari belakangku.
"Kak Kinasih?"
Aku menoleh. Selma berdiri di sana, wajahnya tampak lelah, tapi matanya berbinar licik.
"Ada apa, Selma?" tanyaku, nadaku datar.
"Aku… aku hanya ingin berterima kasih atas pengertianmu kemarin," katanya, suaranya terdengar manis, tapi aku tahu itu hanya topeng. "Kak Zaki bilang, kamu sangat pengertian. Kamu menyuruhnya untuk menjagaku."
Aku tersenyum tipis. "Dia memang harus menjagamu, Selma. Itu tanggung jawabnya."
Selma mendekat, menggenggam tanganku. "Kak Kinasih memang baik sekali. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu bagaimana."
Aku menarik tanganku pelan. "Tidak perlu membalas apa-apa."
"Tapi Kak Kinasih…" Selma menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Aku baru saja bertemu dengan klien pentingku. Dan mereka… mereka mengancam akan membatalkan proyek. Aku sangat takut. Bagaimana kalau aku tidak punya pekerjaan lagi?"
Aku tahu ini hanya sandiwara untuk membuat Zaki merasa bersalah. Dan aku tahu Zaki akan membatalkan makan malam kami demi Selma. Lagi.
"Lalu?" tanyaku, mengangkat alis.
Selma menatapku, seolah terkejut dengan ketidakpedulianku. "Aku… aku hanya ingin tahu. Apa Kak Zaki bisa membantuku? Dia kan pengacara hebat."
Aku tersenyum, lalu menoleh ke samping. Dan di sana, berdiri Zaki, menatap kami berdua.
Selma langsung melepaskan tanganku, wajahnya pucat. "Kak Zaki!"
Zaki menatap kami berdua, matanya penuh tanya. "Ada apa?"
Selma langsung menghampiri Zaki, memeluk lengannya. "Kak Zaki, aku takut sekali. Klienku mengancam akan membatalkan proyek. Aku tidak tahu harus bagaimana."
Zaki mengusap rambut Selma, menenangkannya. Matanya melirik ke arahku, seolah meminta izin.
Aku hanya tersenyum. "Tentu saja kamu harus membantunya, Zaki. Dia butuh kamu."
Zaki menatapku, sedikit terkejut dengan reaksiku. Dia mungkin mengharapkan aku akan marah, atau cemburu. Tapi tidak ada. Hanya ketenangan yang dingin.
"Kinasih…"
"Pergilah, Zaki. Selma butuh kamu," kataku, suaraku mantap.
Zaki ragu-ragu, lalu mengangguk. "Baiklah. Aku akan mengurus Selma dulu. Kamu pulang duluan saja, ya. Aku akan menyusul."
Aku hanya mengangguk. Zaki berbalik, membawa Selma pergi. Selma melirikku, senyum kemenangannya tak bisa disembunyikan.
"Kak Kinasih, kamu baik sekali," katanya, suaranya manis sekali. Lalu, dia menyentuh liontin kalungnya. "Wah, kalungmu cantik sekali. Mirip dengan punyaku. Kak Zaki yang memberikannya padaku."
Jantungku mencelos. Liontin itu… liontin yang sama dengan yang kupakai. Liontin perak berbentuk kunci yang Zaki berikan padaku saat kami pertama kali berpacaran. Dia bilang itu adalah kunci hatinya. Dia berjanji akan selalu memakainya, dan memintaku juga memakainya, sebagai simbol cinta kami yang tak terpisahkan.
Aku menatap kalung di leherku, lalu beralih ke kalung di leher Selma. Sama persis. Bahkan detail ukiran di belakangnya pun sama.
Tanganku gemetar. Bukan karena marah, tapi karena kesadaran yang menusuk.
Aku melepas kalungku, air mata mengalir tanpa kusadari. Kalung itu terasa dingin di telapak tanganku, seperti sisa-sisa cinta yang telah lama mati.
Aku menyerahkan kalungku pada Selma. "Ambullah. Biar kalung kalian kembar. Seperti cinta kalian."
Selma menatapku, wajahnya terkejut. Dia tidak menyangka aku akan bereaksi seperti ini. Dia mengambil kalung itu, tatapan bingung dan sedikit ketakutan di matanya.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya berbalik, berjalan pergi, meninggalkan Selma yang masih berdiri terpaku di sana. Hatiku terasa hampa, tapi ada rasa lega yang aneh. Beban berat telah terangkat dari pundakku.
Malam itu, Zaki menjemputku di apartemen untuk makan malam. Dia tampak ceria, seolah tidak terjadi apa-apa siang tadi.
"Maafkan aku, Sayang," katanya, mencium keningku. "Selma benar-benar butuh aku. Tapi sekarang aku di sini. Kita bisa menghabiskan waktu berdua."
Aku hanya tersenyum tipis.
Zaki menatapku, lalu keningnya berkerut. "Kinasih, kenapa kamu tidak memakai kalungmu?"
Aku menatapnya, lalu ke arah lehernya. Dia juga tidak memakainya.
"Aku… aku kehilangan itu," kataku, mencoba menahan senyum miris. "Mungkin jatuh di jalan."
Zaki terlihat panik. "Apa? Jatuh? Astaga, aku akan mencarinya besok! Kita harus menemukannya! Itu kan hadiah dariku!"
"Tidak perlu," kataku, tersenyum lebih lebar. "Aku juga kehilangan punyaku. Jadi, kita impas."
Zaki menatapku bingung. "Kehilangan juga? Oh, kalau begitu, aku akan membelikan kita yang baru! Yang lebih indah!"
Aku hanya mengangguk. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan.