Berlari ketempat dimana orang tua Edwin dan orang tua Piona bertemu. Mereka bercengkrama dengan serius diruang keluarga rumah itu. Piona tertatih-tatih dengan kaki telanjangnya menuju ruangan itu. Ketika piona tiba mereka sejenak hening dan menyembunyikan segala barang-barang seperti figura dan brosur entah apa yang mereka lakukan.
Kenapa rasanya ada rahasia di ruangan ini, kali ini apalagi yang direncanakan? Pikiranku sedang tidak terkontrol dengan pertunangan yang mendadak ini, melihat mereka hening membuatku ingin berteriak dan cukup marah.
"Tante,om,ma,pah bisakah memberikan aku sedikit bocoran apa yang mau direncanakan? Rasanya paru-paru ku sesak dan jantungku hampir copot karena pertunangan yang tidak masuk akal ini?!"
Piona menghela nafas panjang dengan emosi yang tertatahan
"Gini piona tante sama om dan orang tua kamu emang punya rencana " Jelas tante Marta.
Tiba-tiba dari belakang muncul edwin yang setengah berlari
"Tunggu! aku juga harus tahu, ada rencana apa lagi ini?"
Aku mengerti sekarang, anak ini ternyata tidak terlibat dengan rencana pertunangan dadakan ini
Edwin melirik ke wajah Piona
"Gini nak Edwin, tante dan om dan juga orang tua kamu punya rencana sebenarnya ini sudah di rencanakan sejak kalian kecil dan--" Mama Piona bingung menjelaskan bagaimana takut akan menjadi salah paham lagi.
"Begini pada intinya, kami ingin menikahkan kalian berdua. Selain untuk bisnis keluarga dan menyelamatkan aset keluarga Piona, sebenarnya pernikahan ini kami rencanakan sejak kalian kecil" tante marta menjelaskan dengan hati-hati tapi spontan.
"Apa?MENIKAH!" Piona dan Edwin bersamaan berteriak dan saling bertatapan satu sama lain.
"Ma, Pah, batalkan rencana pernikahan ini ya? Aku dan edwin tidak saling mencintai Tolonglah ma!" Piona meringkuk dikaki orang tuanya memohon pernikahan ini dibatalkan
Begitu juga edwin
" Ma, pah, sudah jangan berbuat sembarangan lagi, ini bukan main-main pah ma. Tidak ada cinta dan ini demi bisnis apakah mama dan papa tega mengorbankan anaknya jadi seperti ini? " Rengek Edwin bersujud di depan mamanya
"Jika yang kalian khawatirkan adalah Cinta dalam sebuah pernikahan hari ini mama, papa, tante ratna dan om dodi punya rencana B,"Mata tante marta memberi isyarat kepada mama piona
Dengan sigap mencengkeram lengan anak- anak mereka dan mereka di masukkan dalam satu kamar lalu di kunci dari luar.
"Lohh, maa, kok dikunci ? buka ma pintunya!" Piona berteriak sambil menggedor nggedor pintu.
"Apa-apaan ini ma, pah, tolong jangan bercanda, maksud kalian apa?" Edwin ikut menggedor pintu
"Bagaimanapun caranya kalian tetap harus menikah, kami sepakat membuat kalian jatuh cinta. tidurlah dikamar yang sama,pikirkanlah baik-baik. dalam waktu tiga hari kami akan mempersiapkan pernikahan kalian. Aku harap besok pagi kalian sudah menyerah dan berkata untuk menyetujui pernikahan ini"
" Tante marta,mama Piona nggak mau ma!" Piona menangis.
"Sepertinya orang tua kita sudah kehilangan akal mereka" Edwin terduduk bersandar di pintu bersama piona
"Kenapa sih kamu nggak memberontak?kamu bisa kan mencongkel pintu ini ?kenapa kamu diam saja "
Piona memaki dan terus memaki edwin sambil terisak dan menangis
Edwin tidak tega melihat piona menangis, tangannya spontan membelai rambut panjang piona yang sedang menangis itu. Entah jarak mereka yang jauh berubah menjadi dekat ketika bahu edwin tiba-tiba bersiaga di samping Piona, tangan edwin meletakkan kepala piona kebahunya perlahan dan membelainya perlahan
Bahu edwin?dia bisa melakukan kelembutan seperti ini ?dia membelaiku? Apa yang dipelajarinya di amerika? banyak pertanyaan tersimpan di benak piona
Debaran jantung ini tidak bisa tertahan lagi semakin kencang dan membuat ku berhenti menangis dan tersisa sesenggukan yang membuat dada semakin sesak, aku mulai terhanyut bersandar di bahunya serasa luruh begitu saja.
Kenapa aku melakukannya ? Oh Tuhan apa yang terjadi padaku, tangisnya sudah berhenti apa yang harus kulakukan ?Gumam edwin gelisah dan terus memikirkan sesuatu.
Suasana berubah menjadi canggung,tangisan itu berhenti tapi mereka sedekat itu. Aliran darah terasa mengalir dan semakin menghangat melalui pori-pori kulit mereka. Sejenak mereka lupa dengan apa yang sedang terjadi dan lupa bagaimana dulu mereka bermusuhan. Piona mengangkat kepalanya dari bahu edwin dan duduk bersebelahan dengan edwin, suasana semakin canggung. Dengan polos mereka berdua menoleh kearah yang bersamaan dan mata mereka bertemu lagi. Tidak ada yang terpikir saat itu suasana menjadi hening, tatapan mata itu begitu dalam dan mengisyaratkan sesuatu kemudian Jarak pandang mata itu semakin dekat, adrenalin mulai mengunci tiap energi untuk berkata - kata, mata mereka seperti magnet yang berbicara.
Liar pikiranku sekarang, tidak, aku...tidak aku tidak bisa menahanya pandangan edwin berubah kebibir warna pink yang berada tepat didepannya. Bibir itu terasa memanggil hasrat nya untuk menyentuh dan menikmatinya sejenak.berulang kali edwin selalu menahan gejolak yang ada di dadanya saat ini.
Kenapa tubuhku kaku dan tidak bergerak aku terus menatap mata edwin tanpa ada rasa ragu, ada apa ini? Tidak kenapa tidak bisa menahan jarak oh Tuhan tidak, piona mencoba mengendalikan pikirannya dan tubuhnya.
Edwin mendekatkan bibirnya ke bibir piona,mata piona terbelalak ketika akhirnya bibir itu menyentuh dan melumat bibirnya perlahan dan perlahan, kemudian mata piona mulai tertutup sedikit demi sedikit dan tangan Edwin meraih bagian telinga dan pipi piona. Piona pun terhanyut, tanpa sadar tangannya mulai melingkar di leher Edwin dan mereka menikmatinya sangat lama.
Sampai akhirnya bibir Edwin berhenti dan mereka membuka mata. Jarak pandang ini masih terlalu dekat, mereka menarik diri mereka masing-masing. Suasana semakin canggung karena perasaan tidak menentu dan detak jantung yang tidak beraturan itu.
Mereka duduk terdiam dengan jarak yang cukup jauh. Tanpa kata dan hanya merenungkan apa yang sedang terjadi.
"Maaf" edwin mencairkan suasana.
Kenapa maaf yang terpikirkan olehku?
"E-e untuk apa? " Piona bertanya seolah tidak mengetahui masalah apa yang terjadi saat ini. Bodoh kenapa aku bertanya?bukanya sudah jelas? piona menggerutu dalam hatinya.
"Maaf karena aku pernah berbuat jahat padamu dan membullymu hingga mungkin kamu membenciku sampai detik ini," Edwin meluapkan segala yang ada dipikiranya dan akhirnya hal manis inilah yang keluar. Sepertinya aku malah membahas masa lalu, Edwin, Edwin.
Aneh tapi nyata, pria bengis itu bisa mengucapkan maaf padaku, gumam piona dalam hati
"Lupakan! mungkin sudah waktunya kita melupakan hal itu," Piona spontan mengucapkan kata-kata ini.
Apa yang terjadi piona, kamu luluh? Kamu memaafkannya? Oh tidak kamu berkata dengan cukup sopan, Piona tidak berhenti menggerutu dalam hatinya.
Sudah pukul 12.00 mereka akhirnya lelah dan ingin beristirahat. Mereka menatap kesekeliling pikiran mereka berlarian kemana-mana.
Tidak piona hanya ada satu ranjang, apa yang harus kulakukan? Jangan! piona mencoba menghentikan pikiran nakalnya
Tidak ada sofa, sepertinya dia takut melihat hanya ada satu ranjang saja, Edwin bingung sendiri mencoba berfikir dengan jernih.
"Maaf ternyata tidak ada sofa, mungkin aku akan tidur di lantai saja masih ada selimut tambahan dilemari,"
Edwin berinisiatif mencoba mencairkan kecanggungan ini.
"E-e, baiklah, aku akan kekamar mandi sebentar," Piona masuk kekamar mandi yang ada dikamar itu.
Edwin sudah merapikan tempat tidurnya dilantai dan membersihkan ranjang yang akan dipakai Piona.
Edwin mulai berbaring, mendengar Piona selesai dari kamar mandi. Edwin pura-pura tidur, ternyata dia gampang tertidur juga, kata Piona dalam hati.
Dengan spontan Piona menaikkan selimut Edwin agar menutupi tubuhnya itu dan berharap Edwin tidak masuk angin karena tidur di lantai.
Piona berbaring di ranjang dan masih terjaga melihat langit- langit.
Kenapa masih saja tidak bisa tidur? Piona menarik selimutnya lagi, piona diam-diam memperhatikan edwin dari atas ranjangnya.
Kenapa terasa berbeda waktu itu dengan saat ini ? Dia memang tampan? Tapi melihat sikapnya saat itu membuatku muak, hanya saja sekarang terasa lebih dewasa dan dia manis saat tidur', Piona tersenyum kecil
Apa yang kamu pikirkan Piona? hatinya gusar dan mulai menggigit selimutnya.
Ciuman tadi juga ciuman pertama ku, Kenapa dia yang mendapatkanya? Piona mengernyitkan dahi dan melirik lagi ke Edwin lalu menutup mukanya dengan tangan dengan perasaan malu.
Edwin yang hanya pura-pura tertidur sadar dirinya diperhatikan sejak tadi. Ada senyum tersungging kecil di bibirnya. Edwin semakin membayangkan ciuman tadi dan wajahnya mulai memerah. Kali ini Edwin tidak tahan untuk pura-pura tertidur lagi.
"Hahahahha," Edwin terduduk dan tertawa membelakangi Piona.
Piona terkejut dan melihat kearah Edwin yang sedang terkikih geli tanpa alasan.
"Maaf Piona sepertinya aku tidak tahan lagi berpura-pura tidur. Kenapa kamu mencuri pandang menatap wajahku ? Apa kamu mulai sadar aku tampan?" masih tertawa kecil dan dia mulai tertawa jahil sambil membelakangi Piona.
"Apa an sih, nggak!! siapa juga yang ngeliatin kamu, PD banget sih kamu!" muka Piona memerah dan membalikkan tubuhnya kearah yang lain.
"Hati-hati nanti kamu bisa jatuh cinta sama aku, lo?" Edwin mulai menggodanya.
Piona terdiam mendengar perkataan itu dan tidak menjawab sama sekali.
Edwin kembali terbaring dan menatap punggung Piona dari bawah ranjangu
Mungkin aku tidak akan menyesal menerima pertunangan dan pernikahan ini, Edwin tersenyum kecil dan berkata dalam hatinya. Sambil menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur.
Piona masih mencoba untuk tidur, tapi pikirannya kemana- mana. Piona menoleh ke arah edwin lagi.Melihatnya sudah tidur pulas.
Dia bisa-bisanya tertidur lelap, apa dia tidak berfikir jawaban apa yang harus dipersiapkan ketika tante Marta dan mamaku tanya? sudahlah, aku tidur saja ! Dasar pria aneh, Piona akhirnya tertidur.
Sekitar pukul 04.00 pagi
Seperti biasa Piona tertidur tapi akan berguling ke sana kemari. Ini kebiasaan buruknya yang selalu bergerak ketika tidur dan seketika itu Piona jatuh dari ranjang.
Namun, matanya tidak juga terbuka, tanganya meraih sesuatu disampingnya dan memeluknya seperti guling, gadis itu tidak sadar jika itu adalah Edwin. Pria bertubuh kekar yang juga tidur pulas sama sekali tidak membuka matanya bahkan dalam posisi nyaman dengan tidur terlentang, tangan kanannya tanpa sadar tertindih tubuh gadis cantik yang berpindah dengan cepat untuk meringkuk dilengannya.
Mereka tidak sadar gerakan itu saling memeluk dan Edwin yang merasa dingin dikakinya, ia menarik selimut sampai ke dadanya dan menutupi tubuh piona juga.
Pukul 06.00 pagi hari
Marta, mama Piona selesai memasak di dapur. Para bapak sedang membaca koran sambil minum kopi di teras belakang. Marta dan mama Piona mulai mebicarajan anak-anaknya itu dan berniat membangunkan mereka untuk sarapan.
"Piona ... Edwin ...! Bangun, sudah pagi Nak. Ayo sarapan!" Marta berteriak dari dapur.
"Jeng, kuncinya 'kan di kita?" Mama Piona memperlihatkan kuncinya.
"Astaga! Aku lupa, ayuk kita ke atas,Jeng!" Marta menarik sahabatnya untuk ke lantai atas.
Marta mengetuk pintu untuk membangunkan mereka berdua, tapi tidak ada satupun yang menjawab.
"Jeng, apa mungkin ..." Marta tersenyum dengan penuh berbagai bayangan. Mereka berdua akhirnya kesenangan karena rencana mereka kemungkinan berhasil.
Mereka berdua mengintip sebentar dan melihat anak mereka tidur dilantai sambil berpelukan.
"Yes, kita berhasil!" Marta mengangkat kelima jarinya dan di sambut ke lima jari sahabatnya-Eli.
"Mereka bisa semesra itu ya, Jeng?" kata li.
"Anak muda jaman sekarang, aku yakin mereka tidak akan bisa menolak untuk menikah. Setidaknya, yang mereka lakukan kali ini udah keluar batas dan hal itu bisa menjadi ancaman buat mereka." Marta tersenyum menyeringai seperti baru saja menang dalam sebuah pertandingan.
"Kamu benar-benar licik, tapi makasih kamu mau menerima anakku ya, Jeng." Eli memandang Marta sambil saling menggenggam.
"Sama-sama, Jeng." Marta pun ikut tersenyum.
Wanita setengah baya ini mengambil gawai di dalam kantong lalu mengabadikan momen manis anaknya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruangan karena inilah waktu yang tepat untuk menyadarkan dua manusia berlainan jenis ini agar mereka sadar hari sudah pagi.
Pintunya dibuka perlahan dan Edwin sedikit demi sedikit menyeka matanya yang tidak mau terbuka, pria berambut hitam melihat kesamping kanan. Mengusap matanya sekali lagi, kali ini dia terdiam, ketika pintu yang satu dibuka lagi, barulah Piona membuka matanya dan mendapati rivalnya ada di sampingnya. Mereka berpandangan mata, heran, bingung dan bertanya-tanya.
Piona melihat ke arah pintu dan menatap Edwin lagi. Tanpa menunggu waktu, suara melengking terdengar memenuhi ruangan.
"Argh ...!" Teriakan ini membuat Edwin ikut berteriak juga, alhasil kedua wanita setengah baya menutup telinga mereka dengan kedua tangan.
"Apa yang kamu lakukan?" Piona menggertak sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Hei ... sadarlah kamu yang turun ke bawah, harusnya aku yang tanya begitu," jelas Edwin sambil mengernyitkan dahinya, tidak terima.
Piona tersadar dan mengacak-acak rambutnya, ia menyesali kebiasaan tidurnya yang buruk. Untuk mengalihkan keadaan yang bisa dilakukan gadis itu adalah melempar kesalahan ke orang lain.
"Dasar mesum, lalu kenapa kamu memeluku?"
"Siapa yang mesum? Jelas- jelas kamu duluan yang turun kebawah, aku pikir kamu guling."
Piona mengambil bantal dan melemparnya ke pria tampan di sampingnya.
"Enak aja bilang aku guling." Gadis manis itu terus melempari bantal ke arah pria berwajah bangun tidur.
"Mana aku tahu, berhenti melempariku!" Edwin yang tidak tahan ikut mengambil bantal dan membalas lemparan gadis yang disukainya ini.
"Dasar Edwin mesum, kamu cari kesempatan, 'kan?" Piona memukul Edwin dengan guling.
"Sakit, aku nggak mesum nggak nyari kesempatan juga. Berhenti nggak!" Pria tampan itu gagal menghentikan pukulan sang ratu kodok.
"Jangan mengelak, dasar cowok, mesum ya mesum. Otakmu di sapu dulu, biar bersih!"
"Eh ... sudah, sudah, jangan bertengkar!" Mereka akhirnya dilerai oleh kedua wanita cantik yang sedari tadi melihat pertengkaran mesra anak mereka.
"Sepertinya kalian udah melakukan ..." Marta mengisyaratkan hal- hal yang menjurus ke sana.
Keduanya yang sudah berhenti melempar bantal, sejenak saling menatap memikirkan maksud dan tujuan Marta.
Setelah menemukan jawaban yang dimaksud mereka berdua menghela napas bersamaan dan menggelengkan kepala.
"Yakin, nggak?"Marta mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto bahkan video yang dia rekam saat mengintip.
"Coba lihat sendiri, kalian masih bilang tidak melakukan apa-apa?"
Kedua orang mulai panik. "Ma, ini salah paham tadi aku--" Ucapan Edwin terputus.
"Apa?Mau mengelak, kira-kira kalau ini tersebar kalian gimana?" Ternyata ini senjata yang dimaksud oleh mama Edwin.
"Tante please, jangan tante!" Dengan spontan wanita yang berambut acak-acakkan ini mengatupkan tangannya dan memohon.
"Ma, tolong jangan melakukan hal diluar batas lagi, sini ma! Kasih ke Edwin." Pria itu ingin mengambil gawai yang di pegang mamanya tapi tidak berhasil.
"Oke, syaratnya cukup mudah. Kalian harus menikah dua hari lagi, aku tunggu kalian di bawah untuk sarapan, karena sebentar lagi desainer baju pernikahan dan cincin pernikahan akan datang." Wanita sang pemilik rumah dan Eli keluar dari kamar.
"Apa Tante? Aku 'kan masuk kuliah, Tante." Piona mengekori Marta sampai ke pintu.
"Kuliahmu sudah kubereskan, aku udah minta cuti dua minggu, lagian dosenmu bilang ke Tante kalau dua minggu ini banyak dosen yang cuti jadi tidak ada alasan lagi." Sepertinya Marta merencanakan dengan matang.
"Ih, Tante ..." Piona sangat kesal dan mengertakan kaki nya kelantai berkali- kali.
Edwin yang sedari tadi diam hanya memperhtikan Piona dari dalam kamar, ia terkikih kecil melihat tingkah calon istrinya.
Pria tampan itu mendekat ke samping Piona yang duduk di anak tangga.
"Apa kamu benar- benar sangat membenciku?Sampai- sampai kamu nggak mau menikah denganku?" Edwin berbicara sembari menatap lawan bicaranya.
Piona melirik ke arah rivalnya. "Nggak! Apa kata dunia kakak kelas tukang buli akhirnya nikah sama gadis yang di buli, aneh 'kan? Bukannya kamu nggak setuju sama pernikahan ini?"
"Hm ... kalau aku setuju menikah sama kamu gimana?"Edwin berkata sambil berdiri dan meninggalkan sang wanita di anak tangga. Piona terdiam baru menoleh menatap punggung pria yang meninggalkannya.
"Apa dia udah gila? Gawat, kalau dia sampai setuju. Siapa yang dukung aku buat nolak, dasar jahat!" Dengan perasaan yang masih kesal Piona naik lagi masuk ke dalam kamar untuk mandi.
***
Edwin selesai mandi mengenakan kaos dan setelan jas yang menutupi dada bidangnya itu, rambutnya yang masih basah di biarkan tanpa disisir. Aroma parfum sudah dipakainya diseluruh tubuh.
Edwin membayangkan setiap kejadian semalam dari balkon sampai ke dalam kamar. Ia tertawa sendiri di depan kaca.
"Apa aku jatuh cinta sama ratu kodok?" Pria bertubuh kekar ini berbicara sendiri masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Ia memutuskan untuk segera pergi ke ruang makan dan menemui seluruh keluarganya.
"Tante, aku pinjam baju yang ada di lemari boleh nggak? Piona nggak bawa ganti," tanya Piona ke tante Marta.
"Pakai saja semuanya, itu buat kamu kok Piona. Aku sengaja membeli baju wanita untukmu," jelas tante marta.
"Seriusan Tante. " Tiba-tiba muka gadis berparas menawan ini terlihat senang karena dapat pakaian baru.
"Serius dong, tapi kamu menikah dulu dengan Edwin, ya." Lanjut Marta sambil tertawa renyah.
Sedetik kemudian gadis cantik ini melipat wajahnya karena ujung-ujungnya adalah menikah yang ia dengar.
"Nak, menurutmu bagaimana dengan pernikahan ini, apa kamu setuju?" Tiba - tiba om Dodi-Papa Piona bertanya pada Edwin.
Mata Piona memberi isyarat tapi Edwin tidak peduli. "Aku udah bilang kok om, aku tidak keberatan dengan pernikahan ini."
Mendengar ucapan rivalnya, Piona seperti ingin melempar piring atau sendok sayur ke depan wajahnya, agar Pria itu sadar bahwa ini akan menjadi hal buruk untuk nasib keduanya.
Akhirnya, Piona hanya bisa menepuk jidat dan merutuki nasibnya.
"Baiklah jika sudah selesai kita ke ruang tengah karena para desainer sudah datang," ajak Marta yang sudah lebih dulu perni meninggalkan meja makan.
Hari itu semua persiapan diadakan dirumah, dari foto prawedding, baju pengantin bahkan cincin semua sudah siap. Piona dan Edwin yang sudah selesei makan langsung pergi ke ruang tengah.
Wajah Piona benar-benar tidak bersemangat, ia hanya menyodorkan senyum alakadarnya untuk menutupi kejengkelannya kepada Pria yang menyebalkan itu.
Akhirnya acara mencoba baju pengantin di mulai. Kedua belah pihak dari orang tua mereka duduk dan memberi pendapat ketika mereka keluar dari ruang ganti.
Sampai akhirnya pengantin pria yang tidak lain adalah Edwin sudah mendapatkan pilihanya. Kemudian dia menunggu baju yang akan dikenakan Piona kali ini.
Tirai akhirnya dibuka.
Semuanya mengacungkan jempol, mata Edwin tidak berkedip ketika Piona keluar dengan gaun panjang putih brokat yang terurai sampai ke lantai dilengkapi buket bunga dan segenap asesoris yang melekat ditubuhnya.
Pria itu terlihat fokus dan sangat terkesima. Jelas terlihat bahwa ia sangat mengagumi Piona.
Mama Edwin tiba-tiba mencuri pandang ke putra tunggalnya yang sedari tadi tidak berkedip memandang calon istrinya
"Ehemm ..."Marta berdehem sambil menyentuh lengan anaknya.
Spontan putranya menoleh, untuk melihat siapa yang mencolek tubuhnya.
"Bilang ke mama kalau kamu terpesona! " Goda wanita dewasa ini kepada anaknya.
"Nggak ma, biasa aja kok." Edwin mencoba menutupi kekagumanya.
Wajah Piona yang masih cemberut dipaksanya untuk tersenyum, walau hal ini sangat sulit, ia ingin sekali kabur dari tempat ini.
Para fotografer sudah siap, sang gadis cantik dan calon suaminya harus melakukan adegan mesra untuk foto pra-wedding.
Ada pengarah foto yang membuat mereka bingung sendiri saat menempatkan diri.
"Tangan Nona letakkan di dada Tuan!" Sang fotografer mencari posisi yang pas untuk mereka foto, saat meletakkan tangannya, Piona gemetar bahkan keringat dingin membasahi telapaknya. Edwin yang menikmati suasana ini, menatap wajah calon istrinya yang sangat terlihat gugup bahkan ragu untuk meletakkan tangannya.
Dengan cekatan, pria tampan itu menggenggam satu tangan wanitanya lalu memembantunya untuk melakukan perintah fotografer. Piona yang terkejut menatap mata calon suaminya. Ia menyadari jantungnya sudah berlari maraton di sana.
"Posisinya udah bagus, sekarang tangan Tuan letakkan dipinggang Nona dua-duanya!" Fotografer kembali mencari posisi yang tepat.
Edwin pelan meletakkan kedua tangannya di pinggang calon istrinya, ....
mereka berdua terpaku sejenak dengan pikiran masing-masing ketika mata mereka bertemu lagi. Bayangan ciuman semalam juga menghiasi pikiran mereka masing-masing. Adegan yang mulai terlihat natural tidak sia-siakan oleh sang fotografer.
"Oke bagus, sudah selesai."Kata fotografernya .
Mereka menarik diri mereka masing- masing, tanpa menunggu wanita bergaun pengantin melesat pergi mencari minum, ia menahan kegugupannya sejak tadi yang membuat tenggorokannya terasa kering. Ia mengelus dadanya pelan agar lebih tenang. Dari kejauhan sang pria terkikih melihat Piona yang masih sangat gugup.
Waktunya memilih cincin pernikahan.
Disini Piona benar- benar tidak berselera untuk memilih. Karena hal itu calon mertuanya yang memilih cincin untuk mereka.
Akhirnya, persiapan pernikahan ini selesai. Terasa berat di benak Piona tak ada yang bisa terbayangkan dari pandangan masa depannya. Piona mengikuti arus yang ada, karena tidak bisa menolak perjodohan yang mendadak ini.