Nadia buru-buru berlari dan melihat dari pintu utama, melihat mobil yang sangat mewah entah mobil siapa, matanya tidak berkedip sedikit pun seorang pria berkaca mata hitam keluar, dia membuka kacamatanya dan sedikit terkejut karena ternyata itu Aldo kakak iparnya.
Tiga tahun tidak bertemu rupanya membawa banyak perubahan, kakak iparnya terlihat sangat tampan tubuhnya tinggi dan memiliki kulit putih. Ditambah dia membawa mobil Mewah menambah kesan tampannya. Tapi anehnya rupanya dia sendiri dia tidak pulang bersama kak Tasya.
Padahal sebelumnya kak Tasya berjanji akan pulang ke rumah sambil menjemput Nadia, kami pun sudah tiga tahun tidak bertemu karena kesibukan mereka.
“Ibu, Kak Aldo sudah datang!”
Ibu segera menghampiri Nadia, lalu membuka pintu utamanya dan tersenyum pada menantunya, namun seketika senyumnya hilang saat mengetahui Aldo sendiri, Nadia tahu Ibu sangat berharap anak sulungnya pulang.
“Tasya tidak ikut, Aldo.”
Aldo menyalami Ibu, kemudian memeluk Ibu karena memang sudah lama tidak bertemu. Aldo pun kembali ke mobilnya mengambil sesuatu, rupanya kak Tasya membelikan banyak oleh-oleh untuk Ibu. Hanya untuk Ibu, karena memang Ibu sudah bercerai dengan Ayah.
Nadia pun keluar, kemudian tersenyum pada Aldo, kakak Iparnya, seketika Aldo tertegun menatap Nadia, merasa seperti ada yang aneh dengan wajah dan penampilannya. Nadia memang memakai pakaian seksi karena memang posisinya sedang bersantai di rumah.
“Kak Aldo!”
“Nadia?”
“Iya, aku Nadia.”
Aldo menatap Nadia dari atas sampai bawah, dia melihat sambil menggeleng, mungkin saja dia heran karena Nadia kini sudah beranjak dewasa, dulu mereka terakhir bertemu pada saat Nadia SMP kelas tiga. Padahal mungkin bukan itu bisa jadi dia melihat Nadia terlalu seksi berpakaian.
“Kenapa, Kak.”
“Ah, enggak.”
Entah apa yang Aldo pikirkan, Nadia pun tidak tahu. Ibu langsung menyambut kedatangan menantunya, sambil meletakan oleh-oleh dari Kak Tasya dia mempersilakan Aldo untuk beristirahat terlebih dahulu. Walaupun Nadia tahu hati Ibu sedikit kecewa.
“Tasya sibuk, Bu. Dia tidak bisa pulang.”
“Kapan dia pulang? tiga tahun Ibu sudah tidak bertemu dengan dia.”
“Jika ada waktu dia akan pulang, hanya kebetulan hari ini dia harus ke luar kota ada urusan kantor .”
“Bagaimana kalian mau punya anak, Tasya saja selalu sibuk. Minggu saja dia harus tetap kerja.”
Aldo terlihat menghela napas kasarnya. Nadia pun tidak terlalu mau ikut campur urusan anak dewasa, dia lebih memilih tidur sebentar sebelum akhirnya berangkat ke Jakarta. Dia melirik sebelum meninggalkan keduanya, dan melihat jika Aldo menatapnya begitu intens.
Nadia menggeliat saat ibu membangunkannya, menyuruh bersiap-siap sebab hari sudah semakin sore, dengan rasa malas, Nadia bangkit dan segera membersihkan tubuhnya. Setelah selesai wanita itu segera keluar kamar dan menemui ibu.
“Kak Aldo ke mana, Bu?”
“Sekalian kamu bangunkan, dia tidur di kamar kak Tasya mungkin dia kecapean.”
Nadia menghela napas sejenak, dia pikir Ibu membangunkannya karena Aldo sudah siap, namun ternyata pria itu masih tertidur. Dengan malas Nadia menuju kamar kakak iparnya dan mengetuk pintu, namun tidak ada yang menyahut, dia pun membuka gagang pintu dan membuka pintu dengan pelan. Wanita itu sungguh terkejut saat mendapati Aldo ternyata sedang bertelanjang dada, dia memakai celana boxer hitam dengan sedikit menyembul bagian bawah, dia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil lalu mendekati Nadia.
Nadia meneguk saliva saat mendapati pemandangan indah tersebut, jujur dia terkesima melihat tubuh indah Kakak iparnya, Nadia sudah dewasa dan bisa mengatakan jika tubuh kakak iparnya sangat bagus. Dan dia sungguh tertarik dengan tubuh Aldo.
Selama ini Nadia belum pernah melihat tubuh pria mana pun, karena Ibuku sering mewanti-wanti dan membuat banyak peraturan melarang aku untuk tidak berpacaran, terkadang wanita itu lebih banyak mengurung diri dikamar mencari kebebasan di dunia maya. Padahal itu yang berbahaya karena luput dari pantauan kedua orang tuanya yang boleh dikatakan sedikit gaptek.
“Kenapa?”
Nadia sedikit salah tingkah, saat Aldo bertanya namun matanya sambil mengedip nakal. Apa maksud Aldo dirinya pun tidak paham. Namun buru-buru Nadia keluar dari kamar dengan jantung yang berdebar.
Aldo dan Tasya memang sudah lama tidak pulang, hampir tiga tahun keduanya tidak pernah mengunjungi orang tua Tasya, hari ini Aldo disuruh oleh Tasya untuk menjemput adiknya karena dia ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya pria itu pun tidak bisa menolak dan memenuhi keinginan istrinya
Dia terkejut saat melihat Nadia, ternyata adik Tasya sudah dewasa dia sangat cantik dengan perawakan tinggi, wajahnya berbeda dengan Tasya wanita itu terlihat dewasa dia pun lebih feminim, senyumnya manis dan menarik berbeda dengan saat dirinya lihat dulu tiga tahun yang lalu saat dirinya baru kelas tiga SMP.
Obrolan yang sering Tasya dan Aldo hindari adalah dengan Ibu, wanita itu sering bertanya kapan mereka mendapatkan momongan, sebetulnya bukan tidak ingin, setiap hari pun bahkan mereka selalu berikhtiar, Aldo hanya mendengarkan apa yang ibu sarankan sambil mengangguk, sedikit mengantuk yang sengaja dia buat,
Ibu pun mengira jika menantunya memang mengantuk dan menyuruh untuk pindah ke kamar, namun di dalam kamar bukannya pria itu tidur, dirinya malah memikirkan hal yang tidak-tidak, hanya gara-gara melihat Nadia berpakaian seksi.
Aldo membayangkan tubuh indah adiknya Tasya. dia pun mandi setelah cairan kental keluar dari miliknya, entah apa yang terjadi dengan dirinya hanya membayangkannya saja dia bisa begitu, dan dia tidak bisa mengontrol diri.
Selama perjalanan menuju Jakarta mereka berdua tidak banyak mengobrol, Aldo fokus dengan jalanan dan Nadia fokus dengan ponselnya sambil sesekali tersenyum, Aldo hanya melirik sesekali penampilan Nadia, bahaya jika wanita itu selalu berpakaian seperti ini bukan hanya Aldo saja yang imannya akan pudar namun pria lain pun sama.
Sampai akhirnya mereka pun sampai, berkali-kali Nadya bertanya meyakinkan dirinya jika benar ini adalah rumah kakaknya . Mungkin wanita itu terkejut karena besarnya rumah mereka saat ini, dia pun belum pernah mengunjungi rumah ini sehingga dia baru tahu. Aldo mempersilakan Nadia masuk, dia merasa terpukau dengan isi rumah mereka. Tasya memang jago dalam membuat desain rumah selain itu dia juga gemar mengoleksi barang-barang unik.
Aldo membawa barang-barang milik Nadia, wanita itu sudah terlebih dulu mendorong kopernya masuk dan melihat suasana rumah, dia tidak canggung lagi dia tampak menganggap rumah ini seperti rumahnya.
“Kak Aldo, kamarku di mana?” Aldo menunjuk ke lantai atas, Aldo dan Tasya sudah membicarakan ini, dan sudah merapikan kamar atas untuk menjadi kamar adiknya. Dengan antusias Nadia pun mengangkat koper miliknya menuju lantai atas napasnya tersengal begitu dia sampai di depan pintu. Aldo segera membuka pintu kamar untuk Nadia, dan dia tersenyum begitu melihat kamar tersebut.
“Bagaimana, kamu suka?”
“Aku suka, Kak terima kasih.”
Aldo keluar dari kamar membiarkan Nadia beristirahat sejenak, sementara dirinya memesan makanan untuk sore nanti. Namun baru melangkah beberapa langkah menyusuri anak tangga wanita itu menjerit dari dalam kamar, Aldo segera kembali dan melihat apa yang terjadi dia memeluk Aldo dengan hanya memakai sehelai handuk.
“Ada apa?”
“Ada kecoak di kamar mandi, kak Aldo Nadia takut.”
Sumpah Nadia benci yang namanya kecoak, baru saja wanita masuk ke dalam kamar mandi dia muncul dari WC Nadia menjerit lalu kembali keluar dari kamar mandi, dan dia lebih terkejut karena kakak iparnya ternyata kembali ke kamar dalam keadaan tubuhnya yang hanya mengenakan sehelai handuk saja, Nadia malu dengan penampilannya namun rasa takut mengalahkan segalanya. Kak Aldo akhirnya membuka kamar mandi dan memeriksanya, Nadia pun mengikuti Aldo dari belakang.
“Mana kecoaknya?” tanya Aldo saat masuk memeriksa kamar mandi, sementara Nadia lihat kecoak tersebut seolah mempermainkannya, Nadia menggenggam tangan kak Aldo karena takut. Namun sosok makhluk menjijikkan itu tidak terlihat lagi.
“Tadi di WC, Kak, Nadia takut.”
Aldo melangkah menghampiri WC, dia menggeleng dan tidak menemukan kecoak.
“Tidak ada Nadia, kecoaknya tidak ada.”
“Tapi Kak.” Nadia bergelayut manja menggenggam tangan kanan Aldo karena memang Nadia sangat takut.
Aldo melirik tubuh Nadia dari atas sampai bawah seketika Nadia menjadi salah tingkah di buatnya, dia pun tersenyum dan menggeleng.
“Kamu mau mandi? Sekarang sudah aman tidak ada kecoak lagi.”
Aldo memegang kedua bahunya, meyakinkan agar Nadia tidak takut lagi, sebelum akhirnya dia keluar dari kamar mandi.
Nadia menghela napas sambil menatap dinding kamar mandi tersebut melihat apakah makhluk itu ada di sekitar kamar mandi atau memang sudah pergi. Nadia mulai menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah selesai, dia langsung menjatuhkan diri di kasur untuk beristirahat.
Sore harinya setelah Nadia bangun dari tidur, Nadia mencium aroma bau makanan masuk ke indra penciumannya, sambil menguap Nadia menggeliat bebas, rasanya dirinya sudah tidur cukup lama, karena Nadia merasakan tubuhnya remuk, akibat lamanya perjalanan tadi dengan kak Aldo.
Nadia melihat jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul lima sore, namun belum tampak kehidupan terdengar, Nadia tidak melihat Ka Tasya masuk menemuinya. Nadia pun bangkit dengan malas kemudian membersihkan diri dan berniat akan turun ke lantai bawah untuk memastikan kak Tasya sudah pulang atau belum.
Seperti biasa saat mandi Nadia pasti bernyanyi dan memang paling lama, Nadia belum bisa mengubah kebiasaan buruk itu dan bisa jadi Nadia menghabiskan waktu lama bila di kamar mandi. Nadia mengenakan kaos santai dan celana panjang begitu menuruni anak tangga, mungkin saja kak Tasya memang sedang sibuk memasak di dapur sehingga belum sempat menemuinya ke lantai atas.
Nadia memeriksa dapur, namun Nadia mengerutkan kening saat melihat bukan kak Tasya melainkan kak Aldo Kakak iparnya sedang memakai celemek seperti koki dan seperti tengah sibuk.
Nadia menghela napas sebelum akhirnya menghampiri kakak iparnya.
“Kak, memang kak Tasya belum datang, Ini Kak Aldo masak apa?” tanya Nadia sambil mendekatinya. Kak Aldo hanya melirik sekilas kemudian menjawab pertanyaan itu.
“Kak Tasya mendadak bilang mau lembur, Kakak sudah beli bahan sebelumnya untuk biar dia masak supaya kita makan sore sama-sama tapi barusan dia kabari Kakak bakalan pulang malam.”
Nadia melihat Kak Aldo seperti sudah terbiasa masak, terlihat pria itu tampak tidak ragu lagi, bahkan dia seperti semangat memasak sesuatu, Nadia pun jadi tidak enak karena mungkin saja semua ini gara-gara kedatangannya, jika tidak ada Nadia, mungkin saja kak Aldo bisa makan di luar tanpa harus masak banyak.
“Boleh Nadia bantu, Kak.”
Nadia mulai mengambil pisau dan mengambil alih bawang yang berada di tangan kak Aldo, pria itu mengangguk dan membolehkan membantunya, sore ini ternyata kakak iparnya membuat gurami saus lada hitam dan ukurannya pun sangat besar, dia juga memasak cumi goreng kesukaan kak Tasya dan Nadia pun sangat menyukainya.
Semua terlihat istimewa dan kak Aldo terlihat senang saat menghidangkan hasil masakannya di meja makan, walau Nadia melihat ada bulir keringat di dahi kakak iparnya itu.
“Kak Maaf,” Nadia mengambil tisu dan mengelap keringat di dahi Kak Aldo, seketika pria itu terdiam dan kemudian mencegah untuk mengelap keringatnya.
“Terima kasih Kakak memang sangat gerah.”
Dirinya duduk di meja makan sambil melihat Kak Aldo merapikan dapur, Nadia suka dengan pria seperti kak Aldo yang seolah tidak gengsi mengerjakan apa pun dan bisa segalanya, padahal pria itu bukan pria pengangguran dia sama sibuknya jika hari kerja.
“Kamu sudah melihat kampusnya? Kapan mulai masuk Nadia.” Kak Aldo bertanya sambil membuka celemeknya. Dia ikut duduk sambil memegang gelas yang berisi air putih.
“Belum sih, Nadia baru saja ke sini, Kapan Nadia ke kampus, besok bilangnya sudah mulai ospek Kak, tapi Nadia sudah diberitahu lewat grup mahasiswa baru oleh pihak kampus.”
“Bagus, kalau begitu. Dari sini jaraknya memang tidak terlalu jauh tapi kayanya kak Tasya dan kak Aldo tidak bisa mengantar kamu.”
“Tidak masalah, Kak. Nadia bukan anak kecil lagi.”
Saat Nadia dan Aldo sedang mengobrol, tiba-tiba saja suara mobil terdengar berhenti di depan. Nadia pikir itu pasti kak Tasya, karena memang ini sudah mendekati magrib.
“Kayanya Kak Tasya datang,” ucap Aldo, pria itu bangkit dan menghampiri ke depan, dan Nadia pun mengikutinya dari belakang karena sudah tidak sabar bertemu dengan kakaknya.
Kak Tasya tersenyum sambil menutup pintu mobilnya, dia berjalan mendekat dan langsung memeluk suaminya.
“Maaf aku telat, Pak Burhan sedikit resek hari ini aku sangat lelah.” Tampak Aldo membalas pelukan erat kak Tasya, lagi-lagi bagi Nadia keduanya memang pasangan yang sangat serasi Nadia senang melihat kak Aldo terlihat begitu menyayangi kak Tasya.
“Aku buatkan makanan spesial sore ini untukmu.” Kak Tasya mengangguk terlihat senang dia menoleh ke arah adiknya dan langsung memeluknya, ada bulir air mata yang tumpah begitu saja, dia meminta maaf karena terlalu mementingkan pekerjaan dibandingkan pulang menjemput adiknya dan menemui Ibu.
"Ibu maklum kok, Kak. Kak Aldo sudah mengatakanya dan dia juga bilang jika ada waktu Ibu akan ke sini apa lagi Nadia sekarang sudah di sini.”
Aldo langsung mengajak kak Tasya ke meja makan, terlihat Kak Tasya sangat senang karena semua menu makanan adalah makanan kesukaannya.
“Begini Nadia, Kakak Iparmu ini memang telaten kalau di tinggal, dia tidak pernah mengeluh dan selalu banyak inisiatif.”
“Aku dibantu Nadia juga, ternyata dia sudah pandai masak.”
“Kamu sudah dewasa Nadia bukan anak SMA lagi, harus serba bisa apa lagi perempuan, bentar lagi kamu punya pacar dan menikah.”
“Nadia belum memikirkan itu, pacar aja belum punya.”
“Ibu masih melarang kamu pacaran?”
Nadia mengangguk, memang kenyataannya seperti itu. Kak Tasya tersenyum seolah menertawakan Nadia.
“Sekarang Kakak sudah boleh izinkan kamu pacaran, tapi kamu harus tahu batasan,” kata kak Tasya sambil tersenyum pada Nadia, dia mengatakan jika pacaran hal yang wajar.
“Tidak, Nadia masih ingin fokus kuliah, Kak.”
Mereka pun makan malam bersama, setelah selesai, Nadia duduk di sofa santai sambil menonton televisi sementara kak Tasya dia lihat masuk ke kamarnya bersama kak Aldo mungkin keduanya tengah beristirahat, dirinya pun tahu jika kak Tasya mungkin sangat lelah.
“Eum ….” Nadia mengerjapkan mata sebentar menahan kantuk saat tangan seseorang mengguncangkan tubuhnya, rupanya Nadia tertidur di ruang televisi. Dan kak Aldo membangunkannya.
“Bangun, Nadia pindah ke kamar sana.”
Nadia menghirup aroma kopi yang menyeruak ke hidung, Aldo memang menaruhnya tepat di meja dekat dengan wajahnya.
“Boleh Nadia tidur di sini, Kak. Nadia malas jika naik tangga Nadia sangat mengantuk,” jawabnya asal. Nadia bisa melihat samar-samar jika Aldo sedang mencari sesuatu dan dia mendekatinya lalu berjongkok Nadia tersentak kaget apa yang hendak Aldo lakukan pada Nadia, dia menghampiri tubuhnya lalu tangannya menyelinap di belakang tubuh Nadia.
Nadia menjerit ketakutan, dia pun membungkam mulut Nadia dengan tangan kanannya.
Pagi-pagi Ka Tasya sedikit berdebat dengan suaminya sambil menyiapkan keperluan kantornya, Nadia pikir topiknya bukan dirinya, namun langkah kakinya berhenti menuruni anak tangga saat mendengar nama Nadia yang disebut.
“Nadia itu adikmu, jadi tolonglah sedikit berkorban kau tidak bisa terlalu mementingkan pekerjaan, ini Jakarta Tasya, kasihan Nadia dia belum paham bagaimana bahayanya di sini.” Entah apa yang mereka debatkan Nadia pun tidak paham, tapi terlihat kakaknya tampak kesal pada suaminya.
“Kamu tidak paham posisiku, Aku hanya pegawai sementara kamu bos kamu bisa kapan saja berangkat sesukamu sementara Nadia harus tepat waktu, Ayolah Aldo kau harus paham itu, Nadia ingin tidak mengecewakan Nadia, kasihan jika dia harus pergi sendiri ke kampus sementara dia belum pernah ke sana.”
“Dan aku yang selalu harus mengalah, aku tidak bisa mengantarkan Nadia, besok-besok aku siapkan mobil dan sopir untuk Nadia!” ucap Aldo terlihat kesal, Nadia baru tahu jika perdebatan keduanya tidak sempat mengantar jemput Nadia, padahal sudah Nadia bilang semalam pada kak Tasya jika dirinya bukan anak kecil lagi.
“Aku tidak mau menambah pengeluaran lagi, hanya kali ini aku mohon lagian Nadia sama saja adik kamu.”
Aldo menghembuskan napas kasarnya, lagi-lagi dia tidak bisa menolak keinginan istrinya yang harus mengantarkan Nadia, Nadia mendekati keduanya di ruang makan lalu menggeserkan satu kursi untuk dirinya bergabung dengan mereka yang sudah rapi hendak ke kantor.
“Nadia tidak perlu kak Aldo antar, Kak Tasya. Nadia bisa naik taksi banyak juga ojek Online. Kalian tidak perlu merasa repot hanya karena ada Nadia.” Nadia sengaja mengatakan itu karena merasa tidak enak dengan kak Aldo, Nadia merasa kasihan karena kakak iparnya selalu disuruh oleh kak Tasya dan tidak mampu menolaknya.
“Kalian boleh kerja, Nadia bisa naik taksi ke kampus.”
“Tidak bisa, kamu tidak boleh sendiri ke kampus, lagian kamu belum tahu betul Jakarta Nadia, Kakak khawatir lagian Kak Aldo direktur dia bisa kapan saja masuk kantor tanpa berpatokan dengan waktu.”
Nadia melirik sedikit raut wajah Kakak iparnya, seketika pria itu mengangguk, Nadia yakin semua karena kecintaan dirinya pada kak Tasya dia begitu rela melakukan semuanya.
Setelah selesai sarapan, Kak Tasya mengambil kunci mobilnya lalu berpamitan pada Aldo, sedangkan Nadia pun bersiap-siap berangkat ke kampus.
“Nadia agak sedikit cepat ya, Kak Aldo ada meeting hari ini.”
“Loh kok Kak Aldo enggak bilang sih jika ada meeting, Nadia enggak bisa buru-buru.” Nadia naik ke atas untuk berganti pakaian, Nadia merasa tidak enak karena kak Aldo tetap memaksa untuk mengantarnya meski ternyata pria itu sangat sibuk dengan pekerjaan kantor.
Nadia tahu mungkin Aldo malas berdebat begitu panjang dengan istrinya sehingga memutuskan untuk memenuhi keinginan istrinya untuk mengantarkan Nadia padahal kenyataannya dirinya pun ternyata sedang buru-buru. Nadia memakai jeans dan kemeja kotak-kotak serta rambut di kucir kuda berdandan seadanya karena Nadia tidak begitu suka berdandan tebal. Karena melihat Aldo buru-buru Nadia pun tidak enak hati dan langsung menuruni anak tangga menghampirinya di kursi tamu.
“Lets go!”
Aldo melihat penampilannya dari atas sampai bawah, mungkin dalam hatinya Nadia tidak terlalu ribet sebagai seorang perempuan karena memang Nadia hanya membutuhkan waktu lima menit untuk berdandan beda halnya dengan mandi.
“Pakai sabuk pengamanmu.”
Aldo memperingati, Nadia mengangguk mulai memakai sabuk pengaman tersebut, Nadia diantar sampai depan gerbang kampus, wanita itu hendak keluar namun Aldo memanggilnya dan mengatakan jika dia akan menjemputnya kembali saat jam pulang kampus.
“Kak Aldo hanya bisa antar sampai sini, ini kampusmu, kamu bisa tanya ke Kakak senior jika kamu ingin bertanya-tanya tentang kampus ini, pulang ngampus nanti Kakak jemput lagi.”
Nadia mengangguk, dirinya memang belum memiliki teman di sini, dan Nadia senang jika Kakak iparnya akan menjemput setelah selesai kuliah.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Nadia merasa lelah setelah seharian berada di kampus memperhatikan kakak senior yang memberikan materi ospek hari ini, Nadia mulai bingung karena baru memiliki beberapa teman saja dan mereka pun membawa kendaraan sendiri sementara Nadia menunggu kakak iparnya di halte depan gerbang kampus.
Beberapa catatan sudah Nadia tuliskan di buku untuk di bawa esok harinya, Nadia tidak tahu harus membeli di mana karena memang masih asing di Jakarta.
“Ayo masuk.”
Nadia melihat kak Aldo membuka kaca mobilnya dan menyuruh Nadia buru-buru masuk ke dalam mobilnya, dengan cepat Nadia masuk dan duduk di samping kemudi. Nadia melambaikan tangan pada Siska teman yang baru saja Nadia kenal hari ini, wanita itu sedang menunggu taksi Online.
“Besok-besok Kak Aldo tidak perlu mengantar jemputku, Nadia jadinya merepotkan kakak, Nadia tahu jika Kakak sangat sibuk.”
“Tidak apa-apa, Kakak sudah selesai bekerja, kamu mau ke mana dulu, apa mau langsung pulang?”
Nadia sampai tidak percaya jika Kakak iparnya memberikan penawaran, awalnya Nadia malu namun tidak ada lagi yang mengantarkan Nadia untuk membeli peralatan untuk besok selain Aldo.
“Nadia harus beli sesuatu untuk besok.” Nadia membuka tas untuk melihat catatan yang dirinya sudah catat lalu memberi tahu pada Kak Aldo. Pria itu langsung paham dan membawa Nadia ke sebuah Mal dan menunjukkan satu toko yang terdapat perlengkapan kain dan peralatan lainnya untuk besok ospek. Dia ikut masuk dan menemani Nadia belanja, dia juga tidak membolehkan Nadia untuk mengeluarkan sepeser pun dari uang sakunya, dia yang membayar semua keperluan, Mungkin Kak Tasya yang sudah menyuruhnya.
Setelah pergi ke beberapa toko untuk membeli keperluan untuk besok, kak Aldo mengajak Nadia berkeliling dia mengatakan ingin membeli kemeja baru untuk bekerja. Nadia hanya memperhatikan dengan seksama sambil berdiri memainkan ponselnya, namun tiba-tiba saja dia meminta pendapat dua kemeja yang berada di kedua tangannya.
“Nadia menurut kamu bagus yang mana?” Nadia sedikit terkejut karena Kak Aldo meminta pendapat pada Nadia, dan Nadia pun berpikir sejenak menimang mana yang menurutnya bagus.
“Nadia pikir bagus warna ini Kak, terlihat soft.” Nadia menunjuk warna kemeja biru muda yang berada di tangan kirinya, dia pun tersenyum lalu mengangguk memberikan ini pada pelayan toko.
“Ayo biar kamu sekalian?”
Nadia merasa tidak enak hati Kak Aldo menawarkan pakaian untuknya, dengan senang hati Nadia tidak menolaknya karena kebetulan Nadia sempat melirik celana jeans dan kemeja yang menarik perhatiannya sejak dari tadi. Nadia pun tidak segan meminta pendapat kak Aldo.
“Ini cocok gak Kak?” kata Nadia setelah keluar dari tempat ganti memperlihatkan pakaian yang Nadia coba.
“Eum, Nadia pikir kamu cocok pakai apa pun karena badanmu tinggi, itu bagus di tubuhmu.”
Aldo terlihat memegang ponselnya dan memotretnya, mengatakan jika akan dikirimkan pada kak Tasya jika kami sedang berada di Mal. Entah benar atau tidak Nadia pun tidak tahu.
Sebelum pulang kak Aldo pun mengajak Nadia makan bersama, Nadia senang karena begitu diperhatikan oleh kakak iparnya sendiri, Nadia juga ditawarkan beberapa makanan yang enak dan terasa asing di lidahnya maklum karena Nadia berasal dari desa. Setelah puas berbelanja dan makan akhirnya kami pun pulang.
Nadia melihat ada gurat kelelahan di wajah Kakak iparnya, dengan cepat Nadia mengambilkan minum air putih dingin untuknya saat dia duduk di kursi santai. Karena biar bagaimana pun dia sudah cukup banyak membantunya.
“Sebentar ya Kak, Nadia ambilkan air dingin dulu.”
Aldo mengangguk dia mengambil ponsel dari kantong celananya kemudian menjawab panggilan dari seseorang. Tidak lama Nadia pun kembali membawa satu gelas air dingin dan menghampiri Aldo, namun Nadia terkejut bukan main karena melihat kakak iparnya sedang mengamati gambar wajah di ponselnya ,sambil mengusap layar ponsel itu, foto itu foto tadi saat Nadia sedang berpose memperlihatkan baju pada dirinya.