Bab 1

Kain Basahan Basah di Kamar Mandi

Part 01: Kain Basahan Basah

"Pa, kok ada di rumah? Bukannya tadi sudah berangkat ke kantor?" cecarku dengan heran. Aku menautkan satu alis ke atas. 

"Ada yang ketinggalan," jawabnya santai.

"Semuanya sudah kusiap 'kan tadi. Kenapa masih ada yang ketinggalan," tanyaku kembali.

"Sudahlah jangan banyak tanya. Berkas ini sangat penting buat meeting siang ini bersama klien kita, Ma. Maka dari itu, aku pulang mengambilnya," jawab Rusly dengan santai sembari membereskan kemeja dan dasinya.

Tiba-tiba, aku kebelet ke kamar mandi, aku terkejut kain basahan basah di kamar mandi dan yang lebih mengejutkan lagi tetesan airnya masih deras menetes. Lantai dan dinding kamar mandi masih setengah kering. Tidak hanya itu, botol shampo yang tidak pernah aku beli dan pakai ada di tempat sabun. Merk shampo ini biasa dipakai perempuan. Cuma aku perempuan di rumah ini. Nggak mungkin Bu Ijah pakai shampo merk ini.

"Papa baru selesai mandi ya?" tanyaku menyelidiki sambil keluar dari kamar mandi.

Masih kuingat suamiku duluan mandi daripada aku. Kenapa kain basahan ini basah? Otakku terus berpikir kejadian yang sangat aneh menurutku.

"Mandi! mau pipis saja nggak sempat, Ma. Aku pulang ke rumah mau ambil berkas ini saja, nggak lebih," jawab Mas Rusly sambil memperlihatkan map batik. Dia menuju meja rias. Kemudian duduk dan meletakkan map itu di atas meja rias. Sesekali dia menyisir rambutnya.

Aku melangkah masuk kembali ke dalam kamar mandi. Tidak buang-buang waktu, aku mencari tahu kebenaran yang telah terjadi.

"Ini shampo siapa Pa?! Dan Kenapa kain basahan ini basah?" tanyaku dengan bertubi-tubi.

Kubawa botol shampo itu menghampiri Rusly yang sedang duduk di meja rias. Dia asyik menyisir rambutnya dan sesekali melirik ke arahku.

Seketika wajah Rusly berubah merah. "Ma! Bisa nggak sih, nggak curiga samaku. Kalau aku mau selingkuh sejak dulu bisa. Mana mungkin aku mengkhianatimu, Ma!" jawabnya mulai emosi.

Nada suaranya sudah mulai naik dan tidak seperti biasanya. Rasa curigaku mulai meronta untuk membuktikan suamiku selingkuh atau tidak. Namun, aku masih bisa menahan diri untuk bermain cantik.

"Aku masih ingat betul kamar mandi yang aku tinggalkan seperti apa, Pa! Shampo ini nggak ada tadi. Mana mungkin perempuan lain mandi di sini kalau bukan kamu yang bawa, Pa!"

Aku tersulut emosi, rasanya aku ingin menampar wajah suamiku dengan keras. Ternyata aku tidak bisa menahan amarah dan rasa curigaku pada suamiku.

"Belakangan ini mama selalu curiga setiap gerak-gerikku. Aku risih dengan tingkahmu, Ma."

"Wajar dong aku menaruh curiga sama papa. Kebiasaan papa jauh berubah semenjak naik jabatan."

Rusly berpikir sejenak, dia baru sadar kalau aku selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya.

"Berubah apanya, Ma?! Perasaan aku biasa saja. Pikiranmu saja yang berlebihan dan terlalu menaruh curiga padaku," ucapnya pergi melangkah turun ke bawah. Langkah kakinya sangat cepat menapaki anak tangga.

"Aku belum selesai ngomong Pa! Tolong jelaskan apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku!"

Aku terus berusaha mencari kebenaran yang ada. Aku yakin, suatu saat kebusukan suamiku pasti tercium juga.

"Nggak ada rahasia yang aku sembunyikan, Ma! Sudahlah aku mau pergi ke kantor, takut terlambat."

Rusly terus melangkah dan sambil mengotak-atik ponselnya. Tidak berapa lama, dia memasukkan gawainya ke saku celananya. Dia fokus berjalan dengan cepat.

Aku melihat map batik tinggal di atas Meja rias. Aku mengayunkan kakiku menghampiri map itu lalu kuambil. Mataku melotot melihat ada sehelai rambut panjang dekat map tersebut.

'Nggak mungkin rambutku, aku cuma memiliki rambut pendek, itu pun sebahu. Rambut siapa?' gumamku sembari memperhatikannya dengan seksama.

Kukejar Rusly sambil membawa map dan sehelai rambut tersebut. Langkah kakiku sengaja aku percepat.

"Pa ... Pa ... Mapnya ketinggalan," teriakku memanggil sembari mengejarnya.

Dia tidak menggubris panggilanku. Aku heran seketika, katanya berkas dalam map ini penting buat bahan meeting. Kenapa map-nya ketinggalan tidak dihiraukannya? Pertanyaan ini muncul di benakku.

Rusly berhenti tiba-tiba, ponsel miliknya berdering. Dia merogoh kotak perseginya dari dalam saku celananya. Tidak butuh waktu lama, dia menjawab panggilan telepon tersebut.

[Sayang aku lupa membawa shampoku di kamar mandi. Takut kalau Nesya menaruh curiga kepada hubungan gelap kita. Merk shampo itu bukan sembarangan orang pakai,] ucap wanita itu di ujung sana.

Kebiasaan suamiku kalau menerima panggilan telepon, dia selalu mengaktifkan speakernya. Sehingga aku dapat mendengar isi percakapan suamiku dengan lawan bicaranya.

Deg!

Jantungku berdegup kencang, darahku mulai mendidih mendengar ucapan perempuan yang baru saja bicara sama Rusly, suamiku.

[Sudah aman kok sayang, untung saja aku bisa bersilat lidah. Pokoknya kamu tenang saja. Nggak bakalan ketahuan kok sama istriku,] jawab Rusly dengan santai.

Suamiku tidak tahu kalau aku sekarang menguping di belakangnya. Kebiasaan buruknya masih saja melekat pada dirinya yaitu kalau menelpon selalu mengaktifkan speakernya. Itu sebabnya aku mendengar jelas ucapan mereka via telepon.

[Usai meeting kita lunch di tempat biasa ya, sayang. Aku klepek-klepek sama kamu. Pokoknya aku nggak bisa jauh dari kamu, sayang.]

Suara perempuan itu kembali menggoda suamiku. Darahku mendidih mendengar kata sayang. Suamiku masih saja santai dan belum mengetahui kalau aku di belakangnya.

"Pa! siapa wanita itu?! Kenapa bisa dia memanggil sayang, jawab Mas!" amukku, rasa emosi sudah tidak terkontrol sehingga kurobek map batik itu di depannya.

"Mama! Kamu sudah gila ya?! Itu berkas sangat penting buat karierku. Kenapa di robek?" ucap Rusly sambil menampar jidatnya.

Ponsel miliknya masih saja melekat di daun telinganya sebelah kiri. Tidak berapa lama, sambungan telepon terputus.

"Lebih bagus jabatan kamu biasa-biasa saja daripada seperti ini, Pa! Betul pepatah mengatakan, semakin tinggi pohon itu semakin kencang angin menerpanya. Papa juga seperti itu, semakin tinggi jabatan kamu semakin banyak wanita lain di luar sana mulai menggodamu!"

Plak!

Sebuah tamparan menepis di wajahku. Aku mengelus pipi mulusku yang baru saja panas karena pukulan yang diberikan Rusly padaku.

"Kamu jahat, Pa. Aku tidak menyangka kamu setega ini memperlakukanku. Sudah banyak bukti yang aku temukan satu hari ini. Mulai dari kain basahan yang basah, botol shampo, sehelai rambut panjang dan kamu telah terang-terangan menjawab telepon wanita lain dengan nada mesra. Papa kira aku bakalan diam dengan semua bukti yang sudah cukup jelas."

"Terus kamu mau apa?!"

Rusly bukannya tidak merasa bersalah malah dia semakin melawan. Dia tidak tahu diri, kalau asal muasalnya kariernya naik dan cemerlang berkat usahaku.

"Aku mau cerai, Pa!"

"Tidak bisa."

Rusly berkacak pinggang sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Kalau kamu nggak mau, aku akan menggugat cerai kamu, Pa!"

"Berani kamu menggugat ceraiku, hidupmu akan melarat. Kamu nggak tahu siapa aku sekarang. Aku bisa mencampakkan kamu laksana sampah tidak berguna."

Rusly sudah berani melawan. Dia sudah merasa hebat, sehingga bisa berkata seperti itu.

"Silahkan Pa! kalau kamu lebih memilih wanita itu daripada aku yang sudah lama bersamamu. Aku menerimamu apa adanya mulai dari nol, sekarang kamu sukses dan kaya raya malah mencampakkan aku laksana sampah tak berguna. Kamu kira aku diam, kita lihat saja siapa yang bakalan menderita dan menyesal."

Sudah saatnya diriku bangkit untuk melawan kekejian suamiku.

"Kamu itu cuma wanita biasa. Hidupmu sekarang bergantung kepadaku. Kalau aku tidak memberi uang kepadamu, mana bisa kamu makan."

Rusly lupa kalau aku bekerja dan menjadi wanita karier.

"Kamu lupa kalau aku punya penghasilan sendiri. Aku ini sudah bekerja."

"Oh iya, aku lupa. Kalau kamu itu karyawan biasa."

Rusly mengukir senyum smirk. Dia sangat bahagia melihat aku mati kutu dan tidak bisa menjawab lagi.

"Sayang ...!" suara wanita terdengar jelas membuyarkan perang dingin antara aku dan suamiku.

"Kamu ...," ucapku terjeda dengan mulut menganga.

Bersambung ....

Next?

Bab 2

Kain Basahan Basah di Kamar Mandi

Bagian 02: Nomor Tidak dikenal

"Maaf, Bu. Aku tadi mandi di kamar mandi ibu dan bapak. Soalnya di kamarku air panasnya nggak hidup. Botol shampo itu milikku. Maaf kalau aku sudah membuat kegaduhan di pagi ini antara Ibu Nesya dan Pak Rusly."

Aku tidak tahu teka-teka yang diberikan Lala kepadaku. Apakah Lala mendukung Rusly selingkuh atau memang mereka bermain api di belakangku? Aku tahu suara Lala tidak seperti itu pada saat bicara melalui telepon seluler tadi. Lantas, siapa yang menelpon itu? Siapa yang mandi di kamar mandiku. Suara perempuan itu sangat jelas aku dengar.

"Sekarang lihat saja Nesya, apa yang bakalan terjadi. Kamu terlalu mengikuti setan sehingga amarah dan pikiran jernihmu hilang tidak terkendali."

"Aku tahu ini pasti kerja sama kalian berdua. Kalian nggak usah menipuku dengan alibi seperti ini."

Aku yakin dan percaya kalau Lala dan suamiku sudah mengatur skenario. Namun, aku belum punya bukti yang kuat.

"Menipu kata, ibu! Sebentar dulu, kenapa ibu bisa di sini? Bukannya jam kerja sekarang? Kalau Pak Rusly katanya mau mengambil berkas yang ketinggalan. Kalau ibu mau ngapain?" tanya Lala memutar balikkan fakta.

"Apa sebenarnya maksudmu, Lala? Apakah kamu biang kerok dari semua ini?" cecarku.

Aku heran kenapa Lala bisa bersilat lidah seperti itu. Ada apa gerangan? Kenapa Lala dan suamiku sekarang seperti ini. Seolah-olah mereka berdua sekongkol.

"Sudah! aku capek membuang energi tak berfaedah. Kalau sudah pikiran negatif, sekali pun itu kujelaskan, tidak akan diterima olehmu, Nesya. Dasar istri yang tidak tahu diuntung. Kamu nggak tahu siapa yang mengangkat derajatmu, sehingga bisa hidup mewah seperti ini," jelas Rusly mengalihkan pertanyaanku pada Lala.

"Jadi, kamu mau mengungkit masa laluku? Iya!" jawabku ketus.

Aku memang berdua dengan Rusly di panti asuhan. Pada saat itu, aku lagi sedang pengabdian kepada masyarakat. Aku mengambil tempat di panti asuhan. Semua identitas diriku sudahku sembunyikan agar tidak ada satu orang pun yang tahu.

"Pak Rusly, sudahlah! Serahkan saja samaku masalah ini. Lebih baik bapak fokus pada meeting siang ini, Sebentar aku masuk ke dalam kamarku," ucap Lala sembari pergi melangkah ke dalam kamarnya.

Kamar Lala sengaja disediakan suamiku sangat istimewa. Penuturan Rusly kepadaku, Lala ini adik sepupunya dari kampung. Dia ditinggal mati kedua orang tuanya ketika mau mudik pulang kampung. Hanya dia yang selamat dari kejadian naas itu.

Tak butuh waktu lama, Lala datang membawa map batik. "Ini berkas pentingnya, Pak!" ucap Lala menyodorkan map tersebut.

"Jadi map yang aku koyak apa?" tanyaku spontan.

"Itu nggak ada isinya, aku tadi sengaja mengambil map ini dan mengganti map kosong. Dugaan aku ternyata nggak melenceng. Ibu Nesya pasti merobek map ini."

Lala tersenyum tipis, melihat dramanya berhasil.

'Sebenarnya apa yang disembunyikan Lala dan Rusly?' tanyaku dalam hati.

Aku memutar otak mencoba menebak skenario yang mereka atur. Namun, otakku tidak sanggup memikirkannya. Akhirnya aku memilih diam seribu bahasa.

"Thanks Lala. Kamu memang benar adek yang baik hati. Kalau nggak kamu selamatkan berkas ini, bisa-bisa karierku hancur seketika gara-gara istri yang tidak tahu diri. Aku pergi dulu, permisi," pamitnya dan sebuah kiss landing di kening Lala.

Wajahku memerah melihat ulah suamiku pada Lala. Siapa sebenarnya Lala ini? Apa jangan-jangan dia berpura-pura adik angkat Rusly atau pacar selingkuhannya.

'Aku harus hati-hati membongkar semuanya. Lihat saja nanti,' gumamku.

****

Aku pergi keluar menuju kantor tempat mengais rezeki. sepanjang jalan, aku terus berpikir bagaimana cara membongkar perselingkuhan suamiku. Apakah sama Lala atau sama wanita lain?

Kejadian tadi sangat aneh dan janggal dalam pikiranku. Kapan Lala ada di rumah? Kenapa nggak ada sama sekali permisi samaku. Walaupun dia itu adik suamiku, Rusly. Seharusnya dia izin terlebih dahulu kepadaku. Apa mereka nggak menganggap aku ada atau bagaimana?

'Ya Allah, aku serahkan semua masalah ini kepadamu.'

Tidak terasa aku sudah sampai di plataran parkiran. Memang aku hanya karyawan biasa di kantor ini. Penampilanku juga biasa saja. Tidak glamour maupun kesan orang kaya. Bagiku, itu semua titipan Allah. Tidak mesti terlalu dipamerkan melalui pakaian bermerk terkenal.

Baru saja aku hendak mau turun dari dalam mobil, kotak persegiku bergetar. Kuambil telepon seluler dan membaca pesan chatting di aplikasi hijau mirip gagang telepon.

[Jika kamu mau mengetahui semua rahasia suamimu, segera datang ke restaurant jalan kencana nomor 14 B. Aku tunggu sekarang juga.]

Pesan chat masuk ke nomor WhatsApp-ku.

'Siapa pemilik nomor ini? Dari mana dia mengetahui nomorku,' gumamku.

Aku keluar dari dalam mobil. Aku berjalan menuju kantor. Niat hatiku finger print terlebih dahulu baru permisi.

Aku berhenti sejenak, sambil membalas chat tersebut.

[Maaf aku lagi kerja, nggak ada waktu meladeni kamu. Thanks atas informasinya.]

Aku membalas pesan chat tersebut. Setelah pesan terkirim, aku melangkah menuju tempat finger print. Setelah semua beres, aku melangkah menuju sekretaris untuk mengamankan semua pekerjaanku yang terbengkalai kemaren siang. Setelah semua beres, aku keluar menuju ruanganku.

Baru saja aku duduk di atas kursi ruang kerjaku, tiba-tiba pesan chat kembali masuk.

[Kamu bakalan mengetahui siapa sebenarnya wanita yang mandi di dalam kamar mandimu itu. Jika tidak datang, mereka akan merencanakan ke jenjang lebih serius. Jangan buat dirimu menyesal selamanya.]

Balasan chat dari nomor yang tidak kukenal. Ada sedikit kata batinku untuk mengikuti pesan itu. Barangkali informasi yang diberikan ada benarnya.

Pilihan yang sangat membingungkan. Kalau aku keluar dari jam kerja, nggak enak sama atasanku. Apalagi Rusly sudah mengancamku untuk memecatku dari sini.

Aku coba permisi sama sekretaris, kali aja dia mengerti dan memberi izin.

"Permisi, Bu. Bolehkah saya izin keluar sebentar."

"Ngapain ibu permisi segala. Ini 'kan-,"

Aku mengedipkan mataku memberi kode, kalau aku ini hanya karyawan biasa.

"Maaf, Bu! Aa-aku tidak ...."

Ucapan sekretaris itu membuat aku tidak enak. Aku mengalihkan pembicaraannya. Di dalam ruangan itu, ada kawan dekat suamiku. Itu sebabnya aku tidak mau identitas diriku yang sesungguhnya.

"Bu Nesya! Mau izin kemana?" tanya Bima. Dia mau menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat aku mengais rezeki.

"Aa-aku mau keluar sebentar. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Itu pun jikalau ada izin dari Bu Siska."

Bima melihat Siska dengan pandangan penuh makna. Seolah-olah dia tidak percaya kalau aku permisi keluar sebentar.

"Karyawan seperti dia mau permisi? Terus Bu Siska kasih izin tidak?"

Siska hanya bisa menghela napas, sebenarnya dia sudah tidak tahan mendengar cemoohan karyawan di sini. Cuma dirinyalah yang tahu kalau aku yang mempunyai perusahaan ini.

"Kalau aku sih nggak ngasih izin. Lagi pula, baru saja Bu Nesya datang sudah minta izin keluar. Ini jam kantor! Lagi pula harus profesional. Masalah keluarga ya masalah keluarga, urusan kantor, iya urusan kantor. Masa digabungin."

"Cukup! Hentikan suaramu! Kalau bukan karena penting, aku juga tidak pergi keluar. Aku tahu kalau ini jam kerja. Cuma, masalahnya hal darurat yang harus aku selesaikan dengan cepat!" ucapku ketus.

Aku sudah tidak bisa mengontrol amarah yang sudah membuncah. Padahal, aku ingin sekali tidak terpancing emosi mendengar ucapan Bima. Namun, ucapannya sudah melewati batas. Aku juga sudah terlalu sabar menghadapi nyinyiran Bima kepadaku.

"Ingat! Ini kantor. Nggak usah kamu terlalu mengikuti emosimu. Jika kamu mau tetap bekerja di sini, maka jangan kamu keluar dari jam kerja, paham!"

Aku mengepalkan tangan, rasanya ingin menampar wajahnya yang sangat menjijikkan itu.

"Kamu merasa kepedasan mendengar ucapan ku?" ledek Bima sambil mengulas senyum smirk.

"Tidak ...!" jawabku dengan nada biasa. Aku mencoba bersikap biasa, walaupun dadaku panas akibat mendengar perkataan Bima.

Ponselku berdering, nadanya terdengar jelas membuyarkan perhatianku. Aku merogoh gawai milikku, nomor tidak dikenal dan tidak ada nama memanggil.

'Siapakah pemilik nomor ini?' tanyaku dalam hati.

Bersambung ....

Next?

Bab 3

Kain Basahan Basah di Kamar Mandi

Part 03: USG

Tidak butuh waktu lama, aku sampai di restoran sesuai alamat yang ada di kirim lewat pesan chat aplikasi hijau mirip gagang telepon.

Aku masuk menelusuri ruangan, mataku ke sana kemari mencari ciri-ciri orang sesuai petunjuk yang aku dapatkan. Untung saja pengunjung restoran itu masih sepi, jadi leluasa aku melihat ke sana ke mari.

'Yes, aku telah menemukannya. Itu dia orangnya.'

Aku sangat girang dan senang. Semoga saja aku tidak salah sasaran. Aku melangkah gontai sambil memasang kaca mata hitam. Aku sengaja memakai masker agar tidak dikenal. Tidak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai. Aku juga sudah tidak sabar ingin melabrak suamiku bersama selingkuhannya.

"Rusly sayang, kamu ngapain di sini?" tegurku dengan nada mesra sambil bergelayut manja di bahunya.

"Maaf kamu siapa? Datang-datang memanggil sayang kepada suamiku. Apa kamu itu pelakor yang selama ini mengganggu suamiku. Dasar pelakor, rasakan ini!"

Wanita itu membabi buta menghajarku tanpa henti. Pria yang aku anggap suamiku itu tidak ada sama sekali melerai aku dan istrinya. Memang ini salahku, ceroboh menegur orang lain memanggil sayang tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.

Napasku sudah tidak beraturan, pukulan demi pukulan mendarat di tubuhku. Aku mengumpulkan tenaga agar bisa melawan perempuan itu.

"Argh ...." amukku dengan sekuat tenaga. "Kamu kira aku lemah."

Plak!

Aku menampar wajahnya sekali, dia langsung tersungkur dan jatuh ke lantai. Satu sisi aku merasa bersalah, di sisi lain aku merasa senang bisa membalas atas perlakuannya terhadap diriku.

"Aw," ucapnya lirih.

Penampilanku sudah acak-acakan dibuat oleh wanita itu. Sebenarnya siapa mereka? Apa yang direncanakan pengirim pesan chat tersebut? Ini sungguh sangat misterius.

Pelayan restoran hanya melihat kejadian yang ada. Tidak ada sama sekali melerai.

"Rendy, hajar perempuan ini! Kenapa diam begitu saja!" sergah wanita itu, sebut saja Dara. "Dalam skenario nggak ada adu jotos. Kenapa kenyataannya bertolak belakang dengan suruhan ...,"

Dara tidak melanjutkan ucapannya, dia takut kedoknya ketahuan kalau dirinya suruhan seseorang.

"Kenapa tidak melanjutkan ucapan kamu? Hah! Katakan siapa yang menyuruh dan siapa yang membayar kamu dan berapa nominalnya? Jika kamu berkata jujur, akan aku bayar tiga kali lipat bahkan lebih dari yang kamu dapatkan," ucapku sambil menantangnya dan mengiming-imingi kalau aku ingin mengasih uang lima kali lipat.

"Kamu pikir kami kekurangan uang! Aku nggak butuh uangmu, dasar istri tidak becus mengurus suami."

Dara sok jual mahal dan kelihatan tidak ingin dipandang sebelah mata. Walaupun dalam hatinya ingin sekali menerima uang dariku.

Sebenarnya mereka ini suruhan siapa? Kenapa Rendy mengetahui keadaanku yang tidak becus mengurus suami. Kenapa Dara mengetahui masalah keluarga kecilku? Padahal aku tidak mengenal mereka sama sekali.

'Apa jangan-jangan mereka suruhan ...,' gumamku dalam hati.

Tiba-tiba, sebuah pukulan mendarat di punggungku. Aku jatuh dan merintih kesakitan.

"Argh ...!"

Mereka berdua pergi lari meninggalkanku sendirian. Aku merogoh ponselku di dalam tas mini. Kutelepon Bi Ijah agar datang menolongku. Kebetulan jarak dari rumahku ke restoran tidak jauh.

Sudah terlalu lama aku menelpon ke rumah, tidak ada sama sekali diangkat Bi Ijah panggilanku. Aku sudah hampir putus asa menunggu. Toh jua tidak diangkat. Akhirnya aku pasrah dan berserah diri kepada Tuhan.

'Apa beliau benar-benar sibuk?' tanyaku dalam hati.

Aku beranjak pergi walaupun badanku masih terasa sakit. Tepat di plataran parkiran aku melihat seseorang masuk ke dalam toilet di ujung sana.

"Bajunya tidak asing, tapi siapa dia?" batinku.

Kususuri lorong restoran itu untuk membuntuti seseorang tadi. Namun, aku ketinggalan jejak.

"Ya, sial!"

Aku menarik napas berat. Kutunggu pria itu keluar dari dalam toilet laki-laki, toh jua tidak ada sama sekali keluar. 

'Apa dia mengetahui keberadaan aku kalau dia sedang kutunggu?' tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba, ada laki-laki keluar dari dalam kamar mandi. Tidak asing wajahnya, tapi bajunya sudah berganti. 'Apa dia pria yang tadi?' batinku kembali.

Aku mengikuti langkah kakinya menuju parkiran, dia tidak nampak. Aku kehilangan jejak terus.

'Sungguh cepat sekali dia menghilang,' gumamku.

Telepon selulerku berdering, [Maafkan aku kali ini tidak sesuai dengan rencana.]

Pesan chat masuk dari nomor yang tidak kukenal tadi.

[Apa mau kamu dan siapa dirimu?! kalau kamu hanya menjebakku dan tidak bermanfaat lebih baik aku blokir nomormu! Aku memang sedang mencari tahu keberadaan suamiku yang selingkuh. Kalau kamu berniat baik mau membantu, jangan seperti ini caranya,] balasku dengan sedikit kesal.

Badanku sakit akibat serangan Rendy dan Dara. Aku masuk ke dalam mobil dan menuju rumah sakit biasa menangani aku. Aku ingin cek up dengan dokter yang biasa aku konsultasi. Sesampainya di parkiran, aku langsung masuk ke dalam ruangan. Kebetulan tidak ada sama sekali pasien yang lagi antri.

Aku mengetuk pintu ruangan dokter, terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk.

"Mari masuk!"

Aku masuk sesuai perintahnya. "Assalamualaikum, maaf aku datang tidak ada mengabari terlebih dahulu, Dok."

Aku masuk begitu saja, meskipun tubuhku sedikit lemah. Wajahku memar akibat tamparan Rendy yang tidak berperikemanusiaan.

"Nggak apa-apa, santai saja. Kebetulan pasienku hari ini lagi sepi. Wajahmu kenapa memar? Baru berkelahi sama Mas Rusly atau bagaimana?" cecarnya sembari berjalan mengambil botol mineral water. Dia kembali dan mempersilahkan aku minum.

"Silahkan di minum!"

"Aku mau berobat luka memar ini, Dok," ucapku. Setelah itu aku meneguk mineral water yang disajikan dokter kepadaku. Tenggorokanku terasa adem. Rasa haus hilang setelah aku meneguk air putih itu.

"Alhamdulillah!"

Aku sendawa, bunyinya kuat pula. Aku merasa malu karena kurang sopan di depan Dokter Faisal.

"Baik kalau begitu, Mbak Nesya silahkan berbaring di atas brangkar agar aku obati luka memarnya.

!"

Faisal mempersiapkan obat-obat yang dia butuhkan. Sementara aku masih meringis kesakitan. Perih dan sakit kini hadir di wajahku. Rasa ngilu hadir di bagian kakiku.

Aku berjalan dan naik ke atas brangkar, aku merebahkan tubuh mungilku ini. Tidak berapa lama, dokter Faisal datang menghampiri aku dengan semua obat yang ingin dia gunakan mengobatiku.

"Mbak Nesya!"

Aku menoleh ke wajah Faisal.

"Iya, Dok."

Aku memalingkan pandanganku kembali. Aku takut timbul rasa yang tidak enak dan membuat aku berdosa. Wanita mana yang tidak tergila-gila melihat wajah tampan dokter Faisal. Aku saja yang sudah memiliki suami, masih saja jatuh hati kepada dia.

Lesung pipinya, hidung mancungnya, bahkan senyumnya membuat aku meleleh dan tidak bisa mengontrol syahwatku.

"Mohon maaf, izinkan aku menyentuhmu."

"Iya."

Aku salut melihat sifat dokter Faisal. Dia sangat menjaga pandangannya juga imannya.

Pelan-pelan, dokter Faisal membersihkan luka memarku memakai kapas yang sudah diberi obat.

"Aw!" ucapku lirih.

Rasa perih kini lahir akibat alkohol yang sudah ditetesi ke kapas itu.

'Apakah ini yang dinamakan jodoh?' tanyaku dalam hati.

Perasaanku sangat nyaman di samping dokter Faisal. Andai saja suamiku seperti dokter Faisal. Aku merasa tidak menderita bahkan tersiksa batin.

Faisal melihat perutku dengan seksama. Aku merasa risih, pandangannya tidak seperti biasanya.

"Dokter Faisal!" ucapku membuyarkan pikirannya. Namun, dia tetap tidak sadar. Pandangannya tidak berkedip melihat perutku.

Aku salah tingkah, bahkan merasa tidak enak. Aku takut kalau setan menghasut akal sehat dokter Faisal. Walaupun aku sudah memiliki suami dan Dokter Faisal belum menikah, kalau sudah berduaan. Aku takut setan menghasut akal sehatnya.

"Sepertinya ada yang aneh dalam perutmu. Aku melihatnya tidak seperti biasanya."

Aku mengatupkan kedua bibirku. Aku masih memikirkan ucapan dokter Faisal.

"Ada apa dengan perutku, Dok?!" tanyaku. Aku memberanikan diri. Aku tidak mau mati penasaran.

Faisal tidak menjawab, dia melangkah menuju rak tempat penyimpanan alatnya. Setelah alat yang dia inginkan dapat, lalu dirinya melangkah menghampiri aku.

Aku masih traveling memikirkan apa yang dikatakan Faisal.

"Maaf, izinkan aku memeriksa keadaanmu."

"Aku baik-baik saja, Dok!"

Faisal menyalakan alat USG, aku terkejut melihatnya. 'Aku 'kan tidak hamil! Kenapa Dokter Faisal memasang USG?'

Otakku semakin traveling memikirkan kelakuan Dokter Faisal yang sangat aneh menurutku.

"Dok! Aku tidak hamil, kenapa kamu memasang alat USG?"

Bersambung ....

Next?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED