Kabut Cinta
Aku masih termenung di sini. Mencoba paham akan semua problematika. Cinta ... terlalu rumit, karena sebab akibat dan sebutir kasih sayang. Dia berikan pada jiwa-jiwa nestapa di ujung mayapada, termasuk diriku dan juga kau.
Percayalah! Aku mencintaimu tanpa syarat, mengasihimu tanpa belas ataupun iba dengan segenap jiwa raga, karena cinta yang sesungguhnya takkan pernah menghadirkan titik hitam bagi hati. Tak kan pula membuat pelakunya menjadi ternodai. Sebab cinta yang sejati adalah cinta yang dilandasi untuk menggapai ridho Illahi, bukan semata karena hanya ingin merasakan kenikmatan sesaaat yang kelak kan disesali.
"Kau masih berani menampakkan diri dengan menginjakkan kaki kembali ke rumah ini? Dengan semua yang telah kau perbuat membuat nama besar dan kehormatan keluarga tercoreng sebab aibmu itu!" Keras suara ayah terdengar saat aku baru saja kembali ke rumah. Gurat amarah jelas tergambar di wajah keriputnya. Bahkan, aku hampir tak mengenali lagi lelaki yang selama dua puluh lima tahun begitu lembut menyayangi dan selalu memanjakanku.
"A-ayah, aku tidak bersalah. Semua ini fitnah," jawabku dengan kedua netra berkaca-kaca.
"Kau berusaha mengalihkan kesalahanmu pada orang lain. Begitukah cara kami mendidikmu selama ini? Sungguh, aku malu pada keluarga Wijaya--sahabat karibku, karena putriku telah melakukan perbuatan keji!" Kemarahan ayah benar-benar ada di puncaknya.
"Tidak, Ayah. Aku tidak seperti yang dituduhkan Jovan. Percayalah! Aku tidak mungkin melakukan perbuatan terkutuk itu. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua kebenarannya." Retak kaca-kaca di netraku seiring bulir hangat lolos begitu saja mengalir tanpa perintah. Disusul rasa sakit yang menghimpit dada. Bukankah lebih menderita bila melihat kedua orang tua yang kita sayangi sangat kecewa?
"Lalu, siapa Nazran? Lelaki yang telah menanamkan benih di rahimmu itu. Sungguh beraninya kau membohongi ku!"
Kubekap mulut yang menganga. Aku sungguh tak percaya, ayah bisa mengatakan itu. Rupanya Jovan telah mengatakan semuanya pada ayah.
"Aku bisa memberikan penjelasan tentang Nazran, Ayah."
"Cukup, Riana! Ayah tak ingin mendengar penjelasan apa pun darimu. Karena setiap kebohongan akan melahirkan kebohongan baru. Aku telah gagal mendidikmu." Memalingkan dan mengusap wajah. Sementara salah satu tangannya meraba dada sebelah kiri.
Aku berlari ke kamar. Menutup pintunya rapat. Menyandarkan tubuh ke dinding dengan berurai airmata. Samar terlihat, tetapi nampak jelas, cinta pertamaku gulita sebelum dapat kusentuh terangnya. Terlintas pikiran buruk di benakku untuk mengakhiri hidup.
Allah ... ampuni aku. Kalau seperti ini, ingin rasanya aku pulang ke rahim ibu dan tak pernah terlahir lagi.
Apa yang kau lakukan, Riana? Kau lupa, ada kehidupan yang kini telah bersemayam di tubuhmu. Anugerah terindah yang tidak semua wanita bisa mendapatkannya. Tanda sempurna sebagai seorang perempuan. Kau harus kuat dan tegar demi dia yang tak berdosa. Bukankah setiap kesulitan pasti ada kemudahan? Dan kebenaran selalu membuka tabirnya melawan kejahatan yang berusaha menghalangi. Sebuah suara tiba-tiba berbisik lirih dari dalam hati.
"Aku akan memperlihatkan keindahan semesta ini, Nak. Bagaimana pun caranya! Tak ada satu orang pun yang akan bisa menghalangi. Ibu sangat mengasihimu," ucapku memantapkan diri. Kuelus perlahan perut yang masih rata dengan derai airmata.
*****
Pernikahanku dengan Jovan hasil dari perjodohan bisnis kedua orang tua kami. Ayah Jovan--Wijaya--sahabat karib ayah sejak SMA sekaligus rekan bisnis.
Suatu saat perusahaan Wijaya yang bergerak di bidang properti terkena masalah, karena uang perusahaan dibawa lari oleh manajer keuangannya ke luar negeri dan dinyatakan pailit.
Beberapa tender dari pemerintah maupun swasta yang telah menanam modal mulai tidak percaya. Satu per satu mengundurkan diri dari kerjasama proyek dan meminta semua uangnya dikembalikan. Wijaya meminta bantuan pada ayah untuk meminjam uang guna menutup utang- utang perusahaan.
Ayah menyetujui untuk menolong perusahaan sahabatnya itu dari kebangkrutan. Apalagi perusahaan ayah sedang berkembang pesat dan sedang melebarkan sayap, saat itu.
Perusahaan Wijaya bangkit kembali dari keterpurukan berkat suntikan dana dari perusahaan ayah. Untuk membalas budi atas jasa ayah, Wijaya menjodohkan Jovan denganku agar hubungan mereka berubah menjadi keluarga dan harta kekayaan tidak jatuh ke tangan orang lain.
*****
Enam bulan yang lalu.
"Riana, sudah saatnya kau menikah," ucap ayah di suatu senja kala kami duduk di beranda rumah.
"Tapi Ayah, aku baru saja lulus dan ingin melanjutkan studi S2." Aku berusaha menolak halus permintaannya.
"Kau bisa tetap melanjutkan studi S2-mu, meskipun menikah, kan? Kalau kau mementingkan kuliah, kapan Ayah bisa menimang cucu? Kau tahu aku sudah sangat merindukan kehadirannya." Kulihat di sinar mata tuanya, seberkas kerinduan membias bersama senyum yang terbingkai sempurna. Lalu katanya lagi, "Kalau kau setuju bulan depan kau menikah dengan pemuda pilihanku?"
"Secepat itu kah?" tanyaku terbeliak.
"Lebih cepat lebih baik, Na. Aku tak mau punya anak gadis yang menyandang predikat perawan tua. Meski aku hidup di jaman modern, tapi prinsip hidup tak berubah."
"Apa Riana boleh tahu, siapa calon suamiku?" tanyaku penasaran ingin tahu.
"Kau pasti akan setuju, karena Ayah tahu. Kau sangat menyukainya," jawab ayah menatapku dengan tersenyum.
"Iih ... Ayah. Riana penasaran ini," balasku manja.
"Coba kau pejamkan mata dan sebut namanya dalam hati. Nanti, pada hitungan ke tiga buka netramu. Dia sudah berdiri dihadapanmu."
Aku menuruti perintah ayah. Menutup mata dan membukanya pada hitungan ketiga. Ternyata Jovan sudah berada di depanku, tersenyum dan menyapa, "Apa kabar, Riana?"
Hatiku mencelos melihat kehadiran lelaki berkulit putih dengan wajah rupawan itu. Rupanya, tanpa sepengetahuanku ayah telah menyuruh Jovan datang ke rumah. Ah, Ayah ... kau selalu mengerti apa yang diharapkan hati ini.
"Jo-Jovan ... kapan kau datang? A-aku baik- baik saja," ucapku gugup menahan debar yang begitu cepat menjalar.
Deg!
Dadaku bergemuruh bak genderang perang yang bertalu-talu saat ditabuh, kala tatapan kami saling beradu.
"Baiklah, Silakan ngobrol! Aku tinggal kalian. Ada urusan yang penting harus kuselesaikan dengan Pak Wijaya. Jovan, titip Riana," ujar Ayah sembari tersenyum menatapku dan melangkahkan kaki mendekati pintu ruang keluarga.
"Ayah, terima kasih," ucapku menahan haru sekaligus malu.
Ayah tersenyum menatapku sembari melangkah meninggalkan kami.
Hening.
Untuk beberapa saat kami tenggelam dalam perasaan masing-masing, karena tujuh tahun kami berpisah. Aku dan Jovan berteman sejak kecil. Tumbuh dan besar bersama, karena keluarga kami begitu akrab.
"Kudengar, kau baru saja menyelesaikan studi ekonomimu. Congrats, ya," ucap Jovan mencairkan suasana.
"Iya. Terima kasih, Van," jawabku.
"Kapan kau pulang dari Amerika?"
"Baru seminggu."
"Oh ... apa kau akan kembali lagi ke sana?"
"Mungkin tidak, Na. Aku sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia."
"Lah, kenapa? Gimana dengan pekerjaanmu?"
"Aku diminta ayah untuk menangani perusahaannya. Dia ingin istirahat. Selain itu, gadis- gadis di sana gak ada yang cantik. Beda dengan di sini. Apalagi gadis yang sekarang duduk di hadapanku ini."
"Ah, kau bisa saja."
"Aku serius ... eh dupuluh rius, deh! Kau semakin cantik, Na." Manik kelam netranya menatapku lekat.
"Dasar tukang ngegombal. Bisa saja merayu wanita."
"Jujur dan suer, deh!" Senyum di kedua lesung pipinya semakin menggetarkan hatiku.
Aku menundukkan pandangan. Menyembunyikan muka yang bersemu merah. Mendadak telapak tanganku terasa hangat kala tangan kekar Jovan mengenggamnya erat. Membuat rasa sejuk seketika memenuhi rongga dada.
*****
Setelah terjadi kesepakatan antara kedua keluarga, kami pun menikah. Pesta digelar dengan meriah.
Ketika para tamu undangan berpamitan, disusul karib kerabat. Kami langsung pulang ke rumah pemberian Wijaya sebagai hadiah pernikahanku dengan Jovan.
Sejak perjalanan menuju rumah baru, debar di dada tak beraturan iramanya. Nervos. Mungkin semua gadis mengalami hal yang sama sepertiku, saat akan menghadapi malam pertama. Perasaan mengharu biru kini tengah menguasai kalbu.
"Rapikan dirimu, Na. Aku mau mandi dulu," perintah Jovan dengan suara lembut. Mendudukkanku di sofa dekat tempat tidur. Pemilik manik hitam kelam itu menatapku teduh.
Aku hanya mengangguk dan menunduk. Berusaha menyembunyikan rasa yang sedari tadi tak mau beranjak pergi, tetapi malah semakin menjadi.
Setelah mengganti pakaian pengantin dan melepas berbagai aksesoris yang melekat, aku duduk di tepi pembaringan. Hamparan sprei putih bertabur helaian mawar merah berada di hadapan.
Suara langkah kaki perlahan mendekat. Untuk yang kesekian kali dadaku kembali bergemuruh hebat. Seketika harum aroma maskulin menguar memenuhi ruangan. Bau wewangian parfum khas kesukaan Jovan. Tangan kekarnya mengusap lembut bahu dan membalikkan badanku.
"Apa kau takut ... maksudku belum siap?" tanyanya sembari mengangkat dagu tirusku.
"A-aku ...." Belum selesai aku meneruskan kata-kata, Jovan sudah menarik tubuhku lebih dekat. Membuat pandangan kami nyaris tak berjarak dan aku pun pasrah pada bahtera cinta yang menenggelamkanku, hingga ke dasar samudera dengan hempasan badai gelora asmaranya. Aku bangga hampir purna bisa mempersembahkan apa yang menjadi hak Jovan. Andai saja, ia tak menyebut satu nama berulang yang membuatku terhina.
Siska.
Nama yang terucap dari bibirnya bersama desah kenikmatan, saat ia mereguk manisnya surga dunia.
Aku seperti dedaunan yang menguning , bersiap terlepas dari dahan yang kering. Lalu, angin menerbangkan sesuka hati dan menjatuhkan di hamparan tanah dengan berguling-guling dan hanya bisa bergeming.
Adakah siksa yang paling pedih mendera? Kala nama wanita lain yang justru disebut, saat dua raga melebur dalam cinta.
Di luar, hujan menderas. Seiring derasnya bulir hangat yang membasahi pipi, tetapi Jovan seakan tak peduli.
"Childish," ejeknya seraya membuka selimut dan mengenakan kembali celana pendeknya.
"Apa katamu? Kau telah menghinaku, Jovan!" ucapku dengan nada sedih.
"Kau pantas menerimanya, Na. Karena kau yang mulai menyulut api kebencian ini!" seringainya tajam.
"Apa maksudmu, Jovan? Bukankah kau yang telah menghinaku dengan menyebut nama wanita itu," balasku dengan rasa kecewa.
"Kau mau bukti?" sergahnya diiringi sorot mata yang tajam.
"Bukti apa?"
"Nih, lihat! Siapa Nazran? Kalau kau mencintainya, mengapa kau menikah denganku?!" ujarnya sambil melemparkan benda pipih ke arahku.
Aku terkejut bukan main, saat membuka Whattsap. Nazran telah mengirimiku pesan sebanyak duapuluh kali dan isi pesan itu telah dibaca semua oleh Jovan. Sifat posessif dan egoisnya spontan memberontak.
"Jovan, aku bisa menjelaskan siapa Nazran ...."
"Tak perlu! Karena aku tak ingin mendengarnya. Pun darimu. Kau telah berselingkuh, Riana. Maaf, aku tak bisa mengampunimu." Meninggalkanku sendiri di kamar. Ia segera merapikan diri. Di menit berikutnya gawai Jovan berdering.
"Sebentar, Siska. Aku akan datang. Malam ini kita habiskan dengan bersenang-senang," seringainya sinis melirik ke arahku.
"Ok, Babe. Aku yakin kau pasti kembali padaku. Hanya aku yang bisa mengerti dirimu luar dalam. Salam buat istri barumu, ya, hahaha ...." Suara wanita tertawa terkekeh di seberang. Sengaja mengejekku kegirangan.
"Kau benar-benar egois dan tak berperasaan. Suatu saat kau akan menyesal, Jovan," rutukku kesal. Malam itu menjadi malam yang paling kelam dalam hidupku.
Bersambung
Nasehat Ibu
Jika malam tak selalu diartikan gelap, maka cinta tak seharusnya memberikan luka. Mungkin waktu dan jarak harus menjeda agar rasa sakit bisa mereda.
Dua bulan di rumah ayah terasa lebih menyakitkan. Apalagi ia masih saja diam dan bermuka masam. Sungguh, baru kali ini ayah bersikap seperti itu.
Aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Kamar yang luas dengan jendela menghadap ke taman dan sinar matahari pagi menorobos melalui tirainya, terasa hangat serta memberikan tidak hanya ketenangan, tetapi juga menyegarkan raga dari kepenatan sebab rutinitas sehari-hari, kini seakan terasa mati.
Aku duduk di meja rias. Pantulan wajah di cermin terlihat kuyu dan mata sembab, karena tak mendapatkan haknya untuk tidur semalam. Tak sedetik pun aku bisa memejamkan mata. Terlebih bila mengingat kejadian kemarin. Bulir hangat itu masih saja mengalir membasahi wajahku yang kian menirus. Memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi dengan calon buah hatiku nanti. Haruskah aku pergi atau bertahan dalam badai ujian ini?
"Bukannya kami tak suka kau tinggal di sini, Na. Tapi kau sekarang sudah menjadi tanggung jawab, Jovan," ucap ibu dengan suara lembut yang mendadak sudah berdiri di samping dan mengusap bahuku.
Aku menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan melepaskan rasa sesak yang menekan dada.
"Ibu, aku ingin menenangkan hati dan pikiran yang kacau ini," jawabku memohon.
"Ini juga rumahmu, Na. Ibu tak pernah melarang kau ke sini. Tapi pergi meninggalkan suami dan lari dari masalah, itu tidak baik."
"Tapi, Bu. Ini terlalu sakit buat Riana. Menuduh tanpa tahu kebenarannya, bukankah sama dengan fitnah?"
"Kau tahu, Na. Seseorang yang sangat mencintai pasti takut kehilangan. Bahkan, rasa takutnya itu melebihi keyakinan pada diri sendiri. Ia akan begitu cemburu bila miliknya diganggu apalagi dimiliki orang lain. Untuk menutupi rasa ketakutan yang menghantui dirinya itu, maka ia akan menumpahkannya dengan kemarahan yang kadang sulit dimengerti nalar."
Aku bergeming. Pikiranku mencerna perkataan ibu. Mencoba memahami apa yang beliau maksudkan.
'Mungkinkah, Jovan melakukan semuanya itu seperti yang dikatakan ibu?' Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hatiku tentang sikapnnya yang kemarin itu.
"Lelaki itu identik dengan ego yang tinggi. Ia akan tersakiti bila egonya tersentil sedikit saja tak terkecuali dengan Jovan. Ibu menyadari, kalian masih muda dengan ego yang sama. Penyesuaian dua pribadi memang tak mudah." Wanita paruh baya itu mengelus rambut dan mengecup keningku.
"Jadi aku harus bagaimana, Bu? Aku sudah tidak tahan dengan sikapnya," balasku menahan rasa pedih di hati.
"Seiring berjalannya waktu dan adanya kemauan untuk saling belajar dari pasangan, Ibu yakin, semua akan indah pada waktunya." Tangan keriputnya mengelus lembut punggung tanganku.
"Jadi Ibu menyarankan agar aku kembali ke rumah Jovan?"
"Dia, suamimu dan berhak sepenuhnya atas dirimu. Bukankah sudah seharusnya seorang wanita menyelamatkan biduk rumah tangganya?"
"I-ibu ...."
"Ada cinta yang tulus untukmu, Na. Ibu bisa melihat dari sorot kedua mata Jovan," ucapnya mantap penuh keyakinan.
*****
"Makasih sudah mengantar, Pak Atmo," ucapku pada sopir pribadi ayah. Dia sudah lama mengabdi di keluargaku.
"Sama-sama, Non dan hati-hati. Jaga kesehatan!" jawabnya tersenyum dengan membuka pintu mobil.
"Biar saya bantu angkat kopernya. Berat ini," pintanya menawarkan bantuan.
"Tidak usah, Pak. Biar saya bawa sendiri. Isinya cuma beberapa potong pakaian saja. Lebih baik pak Atmo segera kembali, karena Ayah sudah menunggu."
"Baiklah, Non. Saya pamit," ucapnya mohon diri.
Detik berikutnya mobil yang dikemudikan pak Atmo sudah melesat jauh.
*****
"Makasih sudah mengantar, Pak Atmo," ucapku pada sopir pribadi ayah. Dia sudah lama mengabdi di keluargaku.
"Sama-sama, Non dan hati-hati. Jaga kesehatan!" jawabnya tersenyum dengan membuka pintu mobil.
"Biar saya bantu angkat kopernya. Berat ini," pintanya menawarkan bantuan.
"Tidak usah, Pak. Biar saya bawa sendiri. Isinya cuma beberapa potong pakaian saja. Lebih baik pak Atmo segera kembali, karena Ayah sudah menunggu."
"Baiklah, Non. Saya pamit," ucapnya mohon diri.
Detik berikutnya mobil yang dikemudikan pak Atmo sudah melesat jauh.
*****
Aku membuka pelan pintu depan dan berjalan menuju kamar. Sprei tempat tidur masih nampak berserakan. Rupanya, sejak pertengkaran malam itu Jovan juga tak pulang ke rumah.
Di manakah dia? Ah, untuk apa aku ingin tahu keberadaannya. Toh, sudah jelas ia pasti sedang bersama Siska. Apa yang sedang mereka lakukan? Tentu saja bersenang-senang. Apalagi yang bisa mereka lakukan selain itu. Ah, masa bodoh. Ingin sebenarnya aku bersikap demikian, tetapi pertanyaan demi pertanyaan masih saja menggerimit di benak.
Pandanganku beralih ke atas nakas di sudut kamar. Foto pernikahan masih berdiri menghiasi kamar pengantin ini. Jovan tampak tersenyum bahagia saat menatap dan memasukkan sebentuk cincin bertahtakan berlian putih ke jari manisku. Kubalas tatapan lelaki berhidung mancung itu bersama degup jantung yang tak beraturan rimanya. Kami benar-benar merasakan kebahagiaan, saat itu.
Tak terasa sepasang bulir bening dari kolam netraku jatuh membasahi bingkai foto itu. Tepat mengenai wajah Jovan yang tengah tersenyum. Tiba-tiba sebuah telapak tangan kekar mendarat di bahu, membelai lembut pipi dengan menghapus airmataku dan menangkup sisa bulir hangat yang berada di bingkai foto pernikahan seraya berkata, "Maafkan, aku. Telah membuatmu bersedih.Tak seharusnya aku mencurigai kesetiaanmu. Kau telah menyerahkan segalanya untukku, Riana."
"Jovan, aku ...."
"Sssttt ... sudahlah Riana. Kau jangan menangis dan pergi. Aku tak bisa hidup tanpamu."
Lelaki berkulit putih itu meraih kepalaku dan merebahkan ke dada bidangnya. Rasa damai segera menghampiri dan aku pun membenamkan wajahku di sana. Namun, tiba-tiba semua sirna, karena itu hanya khayalanku semata.
Aku segera membuka mata dan meletakkan kembali bingkai foto pernikahan itu ke atas nakas. Ketika hendak berbalik dan keluar dari kamar tidur kulihat Jovan keluar dari kamar tamu yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur. Ia terkejut melihatku begitu juga denganku. Untuk sesaat kami saling menatap. Bisu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua.
"Kau masih ingat jalan pulang. Aku kira sudah tak ingat," seringainya sinis menatapku.
"Maaf, aku lagi gak ada mood berdebat denganmu. Aku lelah dan ingin istirahat," jawabku ketus.
"Pergi kemana kau selama dua bulan ini? Menemui Nazran, kekasihmu itu?" tanyanya penuh selidik.
"Apa urusanmu, mengapa kau tiba-tiba peduli, kemana dan dengan siapa aku pergi?" balasku tak kalah sengit.
"Hei! Aku ini masih suamimu, Riana. Ingat itu!" Wajahnya seketika berubah menjadi merah padam.
"Suami ... suami yang memperlakukan istrinya seperti selembar tisu, sekali pakai lalu dibuang dan pergi begitu saja dengan wanita lain. Pantaskah itu disebut suami?"
Jovan bergeming. Seketika manik kelam netranya menatapku tajam sarat dengan kebencian.
Allah ... kuatkan hatiku untuk menghadapi sikapnya ini. Sungguh, aku hanya berharap akan janji-Mu. Memberi hujan setelah pelangi, senyum di setiap airmata, berkah di setiap cobaan dan jawaban di setiap doa.
Bersambung.
Luka di atas luka
Mendadak kepalaku pusing dan mata berkunang-kunang. Badan terasa lemas, hingga tanpa bisa menahan keseimbangan badan aku luruh hampir menyentuh lantai marmer yang menghampar menutupi seluruh permukaan ruang keluarga. Namun, dengan sigap Jovan menangkapku. Tangan kekarnya berhasil meraih tubuhku. Lalu, pelan dan penuh kelembutan lelaki pemilik postur tubuh tegap dan perut sixpeck itu menggendong dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur di ruang tamu. Lamat-lamat pandanganku masih bisa melihat tangan Jovan yang membuka beberapa kancing baju blues atasku untuk melonggarkan dan memberi jalan napas, karena memerlukan asupan oksigen lebih banyak untuk melonggarkan dada. Kurasakan getaran tangan, bibir tipisnya naik turun menelan saliva dan peluh bercucuran membasahi dahi. Sesekali ia mengusapnya dengan membuang napas kasar. Sepertinya lelaki itu harus menahan desakan hasrat yang mendadak muncul. Berulang kali ia berusaha menguasai gejolak gairah itu. Aku dapat memahami keadaan Jovan, karena hal itu wajar sebagai seorang lelaki normal. Dari sudut mata terlihat wajah putihnya berubah sedikit memucat menyiratkan rasa cemas yang mendalam. Setelah itu pandanganku dipenuhi bintang yang berputar-putar hingga akhirnya semua terlihat gelap .
Aku pingsan.
Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Setelah berulang kali mengerjap karena mataku merasa silau terkena cahaya lampu kamar yang begitu terang mengenai wajah, perlahan aku membuka mata sambil telapak tangan berusaha menutupi muka dan tangan lelaki berahang keras itu perlahan menggoncang- goncang tubuhku. Terbias rasa cemas masih membingkai sempurna di air mukanya.
"Riana, buka mata. Kau kenapa? Kita ke dokter saja, ya?" ucapnya lembut dengan tangannya naik turun mengusap-usap lembut pipiku.
"Jovan, aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan saja," ucapku lemah.
"Wajahmu pucat dan badanmu panas. Sebaiknya kita ke dokter biar kau dapat penanganan," ajaknya seraya dengan tatapan teduh. Iris hitam milik lelaki itu memandang intens ke arahku.
Saat pandangan kami bertemu, selalu ada selaksa rasa muncul tiba-tiba mengusik kalbu diiringi gelenyar aneh yang menjalar ke seluruh raga dan tak bisa kujelaskan pun dengan berjuta kata.
"Sebentar lagi juga akan membaik. Aku minum obat saja dari dokter. Kau tak usah khawatir."
"Dari dokter ... kapan kau ke dokter? Kok, aku gak tahu?" ucapnya ingin tahu.
"Satu setengah bulan yang lalu, karena mendadak badanku terasa gak enak.Tamu bulananku juga tak kunjung datang. Akibatnya tubuh terasa lemas, kepala pusing dan perut terasa mual. Lalu, aku pergi ke dokter diantar Ibu," jawabku memberikan penjelasan pada lelaki bertubuh tegap itu.
"Apa hasil pemeriksaan dokter dengan kondisimu yang seperti itu?" tanya lelaki itu kemudian.
"Bisakah aku istirahat dulu, Van. Nanti kalau sudah baikan kau akan beritahu," balasku datar. Berusaha menata hati dan pikiran.
"Baiklah istirahat saja kalau begitu. Aku akan membelikan sesuatu agar kau makan dan segera pulih," ucapnya lembut.
Aku hanya bisa mengangguk karena merasa lemah. Tiga puluh menit kemudian aku terbangun dari tidur, karena aroma bubur ayam menggoda indra penciuman. Jovan sengaja membauiku dengan semangkuk bubur hangat yang diletakkan di tangannya. Kemudian ia menyandarkanku di pembatas tempat tidur dan perlahan menyuapiku dengan penuh kasih sayang.
Kali ini, aku melihat sikap Jovan sama seperti dulu. Penuh kelembutan dan kehangatan. Sesekali pandangan kami bertemu. Dari sorot tajam manik hitamnya dapat kutangkap, bahwa benar yang dikatakan ibu, kalau ada cinta yang besar ia persembahkan untukku. Meski tatapan tajam dari manik kelamnya seolah mampu menembus jantung, hingga kadang aku harus mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan gelenyar aneh yang kian menggila sampai menjalar ke seluruh raga.
Seandainya tidak ada nama Siska di antara hubungan kami yang baru saja dimulai, mungkin bunga cinta telah sempurna kami miliki.
"Terima kasih. Aku sudah kenyang," ucapku dengan menyorongkan sendok untuk suapan yang kesekian kali.
"Baiklah! Kau istirahat saja sekarang. Aku akan membersihkan rumah yang berantakan," tuturnya sembari meletakkan mangkuk dan sendok di atas nampan yang tergeletak di nakas samping tempat tidur. Jovan meraih tisu dan memberikannya padaku. Sesaat kemudian, lelaki dengan senyum karismatiknya itu berdiri hendak berlalu. Namun, aku berhasil mencegah dengan mencekal lembut lengan kekarnya.
"Jovan, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Bisa kau duduk sebentar?" pintaku dengan memintanya duduk kembali.
"Katakanlah! Aku akan mendengarkan," sahutnya datar sembari kembali duduk.
"Tiga minggu ini tamu bulananku tak datang. Aku periksa pakai tespeck dan hasilnya dua garis merah. Karena gak yakin aku periksa ke dokter dan hasilnya positif. Aku hamil, Jovan. Ini buah cinta kita."
"Apa, kau hamil? Kita menikah baru tiga bulan. Mungkinkah secepat itu? Tidak, Riana. Itu bukan anakku karena aku tak yakin. Aku belum siap menjadi seorang ayah." Lalu katanya lagi,"Gugurkan saja kandunganmu itu! Aku tak sudi menjadi ayahnya. Dia bukan darah dagingku, tapi anak Nazran." Keras Jovan meninggikan suara dengan membuang muka. Mendadak sikapnya berubah dan gurat kebencian jelas terbias kembali di wajahnya.
"Astagfirullahaladzim ... aku tak menyangka kau tega menyuruhku melakukan perbuatan keji itu. Ini anakmu, Jovan! Aku bersumpah atas nama Allah," jawabku menahan rasa sakit yang luar biasa di dada. Seperti gunung batu yang seakan sengaja ditimpakan, hingga membuatku tersengal. Meski begitu nadi masih berdenyut, hingga aku pun tetap hidup dan bernapas.
"Aku akan jujur padamu, Riana. Sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu! Ini semua kulakukan demi memenuhi permintaan ayah. Tidak lebih! Pernikahan kita hanya pernyataan status pada selembar kertas dan bagiku itu tidak berarti apa-apa. Aku tetap pria bebas, bisa melakukan apa saja seperti yang kuinginkan," ucapnya dengan ketus tanpa perasaan.
"Aku tahu, apa yang kau inginkan. Semua demi warisan ayahmu dan wanita itu." Tanpa terasa sepasang bulir hangat lolos membasahi pipi. Meninggalkan segaris jejak pertanda luka begitu menganga.
"Diam! Kau tak berhak menilaiku, Riana. Kaulah wanita penghancur cinta dan impianku. Aku benci kau, Riana!" teriaknya dengan kedua rahang mengeras dan gigi bergemelatuk. Tangannya terkepal dan menghantam nakas di samping pembaringan. Kemudian berlalu meninggalkanku yang jatuh terduduk dengan berurai airmata.
Allah ... begitu dalam cinta ini telah membenamkanku ke dalam jurang penderitaan. Haruskah aku menyerah?
Seperti pisau tumpul yang sengaja dihujamkan ke dada, hingga luka sayatannya begitu pedih menyiksa. Seperti dicambuk, tetapi tidak meninggalkan bekas, hingga lara terasa dalam melanda. Adakah rasa yang lebih sakit selain penghinaan yang dilakukan oleh suami sendiri--lelaki yang hanya padanya kehormatan wanita telah aku berikan?
Seharusnya, sebagai pasangan muda yang mendamba buah cinta, ia bahagia mendengar kabar kehamilanku. Namun, ternyata aku salah. Justru tak mengubah apa pun. Bahkan, gunung es yang sengaja ia ciptakan di hatinya masih saja berdiri menantang dengan kebekuan abadi.
Bersambung