Bab 1

Oh ya, kasih bintang lima, tinggalkan komentar dan tekan love di setiap bab baru ya.

Selamat menikmati tulisanku, semoga bermanfaat buat teman-teman semua.

***B.Utami***

17 tahun ke atas

"Alhamdulillah lulus." Teriakan terdengar kencang.

Koridor bangunan buatan Belanda, bekas kantor Karisidenan Banyumas yang dibangun tahun 1921 terlihat rame. Siswa-siswi kelas tiga riuh setelah mendapatkan amplop kelulusan. Ada yang memilih membuka sendiri, tetapi banyak yang membuka bersama dengan teman.

Bangunan tua yang berdiri kokoh seolah bergoyang karena ikut merasakan kebahagiaan, setelah semua siswa dinyatakan lulus. Angin berhembus pelan dari jendela panjang yang terbuka lebar membuat hawa tetap terasa sejuk, walau suasana panas dan hiruk-pikuk. Pintu kelas tidak berhenti dilewati siswa yang ingin menemui temannya untuk merayakan kelulusan.

Semua tersenyum bahagia karena perjuangan panjang dan penantian yang menyita hati dan pikiran akhirnya terlewati. Hari itu, tidak ada satu pun siswa yang berani mencorat-coret baju karena dari jauh hari diumumkan, tidak boleh merayakan kelulusan dengan cara tidak terpuji.

Banyak siswa yang belum bisa bernafas lega karena setelah pengumuman kelulusan masih harus berjuang mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Baru sebagian kecil siswa yang lolos seleksi Penelusuran Minat dan Kemampuan.

Hari itu, ada satu wajah yang senyumnya lebih lebar dari yang lain karena selain dinyatakan lulus, juga merasakan untuk pertama kali ditembak laki-laki. Dan yang membuat lebih bahagia lagi karena yang menyatakan cinta adalah laki-laki yang selama ini dikagumi.

Gayatri tidak berani menunjukkan perasaan karena banyak teman wanita menaruh hati. Dia sedikit kaget karena tidak terpikir, laki-laki yang dikagumi juga menaruh perasaan yang sama. Dia berpenampilan sederhana dan berwajah biasa jika dibanding teman-temannya. Dia juga fokus membantu ibunya menjahit karena sadar anak janda tidak mempunyai waktu untuk bermain seperti teman-teman.

Gayatri masih ragu menerima cinta laki-laki itu dan meminta ditunggu sampai pengumuman penerimaan UMPTN. Dia sadar kalau tidak diterima di PTN, tidak akan bisa kuliah. Hasil usaha ibunya dan pensiunan janda tentara berpangkat rendah tidak akan sanggup untuk membiayai di Perguruan Tinggi Swasta.

Gayatri tahu laki-laki yang menyukai berasal dari keluarga cukup berada. Dia tidak akan menerima cinta tersebut kalau tidak kuliah karena jarak akan semakin terbuka lebar.

***B.Utami***

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, walau bukan pilihan pertama, tapi bisa diterima di PTN sudah membuat hati bahagia. Namun, Gayatri sedikit bimbang karena akan meninggalkan ibunya seorang diri di Purwokerto. Dia khawatir kalau tidak dibantu, ibunya tidak sanggup menyelesaikan jahitan karena jumlah pelanggan sudah semakin banyak.

Beruntung ibunya bisa meyakinkan untuk tetap pergi mengejar cita-cita. Saudara dari Banjarnegara akan datang untuk belajar menjahit dan membantu ibunya karena setelah lulus SMA tidak melanjutkan sekolah. Sekarang dia pun merasa sedikit tenang meninggalkan ibunya.

***B.Utami***

Bu Sekar menitikan air mata bahagia karena amanat suami untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya akan segera terwujud. Beliau terharu saat menyadari Gayatri telah tumbuh menjadi gadis cantik dan baik hati. Lelah yang selama ini dirasakan pun menghilang saat melihat anaknya bisa melewati satu tahapan penting dalam hidup.

Bu Sekar membuka buku rekening yang sudah menunjukkan saldo cukup banyak. Air mata mengucur deras karena mengingat suaminya sudah menyiapkan biaya pendidikan untuk Gayatri. Sayang suaminya tidak bisa menyaksikan keberhasilan Gayatri karena meninggal di usia muda. Saat itu umur Gayatri baru lima tahun, sehingga tidak bisa mengingat ayahnya dengan jelas.

***B.Utami***

Malam itu Andika datang dan disambut Bu Sekar dengan hangat seperti biasa. Ini bukan pertama kali dia datang ke rumah Gayatri karena sudah sering menghabiskan waktu untuk belajar bersama.

Bu Sekar senang dengan Andika karena selalu membantu Gayatri mengerjakan soal-soal latihan, sehingga bisa lolos UMPTN. Gayatri memutuskan tidak ikut les untuk menghemat biaya dan merasa yakin akan diterima PMDK karena selalu masuk sepuluh besar. Namun, sayang di semester terakhir nilai rapor turun karena sakit typus.

“Selamat ya Tri, kamu keterima di IPB.”

“Iya Dik, makasih banyak. Kapan berangkat ke Magelang?"

“Insya Allah besok, sebelum aku pergi gimana jawaban kamu, Tri?”

Gayatri tertunduk karena merasa malu dan ragu untuk menjawab. Dia pun diam cukup lama untuk menata hati.

"Tri, aku udah siap menerima jawaban terburuk." Andika kembali bersuara.

“Aku mau jadi pacar kamu.”

“Alhamdulillah, aku bisa pergi dengan tenang sekarang. Kamu harus semangat kuliah, biar cepet lulus. Begitu lulus aku akan melamar kamu.” Andika tersenyum lebar dengan mata berkaca.

Gayatri mangangguk kemudian menunduk menahan malu karena Andika terus menatapnya. Namun, bibirnya tersenyum karena tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Mereka berjanji akan menjaga hati, walau harus menuntut ilmu di kota yang berbeda.

Malam itu terasa berbeda karena merupakan malam minggu pertama sekaligus terakhir bagi sepasang kekasih yang baru jadian. Sebelum pergi Andika menyerahkan kalung perak lengkap dengan liontin bertuliskan huruf A.

"Semoga dengan memakai kalung ini, kamu akan ingat sama aku terus ya, Tri."

"Iya Dik, makasih."

Gayatri melepas kepergian Andika dengan linangan air mata. Dia merasa sedih akan berpisah dengan laki-laki yang sudah banyak membantu dan mendorong masuk PTN. Jalan Dr Angka terlihat lengang, seolah ingin memberi kesempatan kepada mereka untuk mengucapkan kata perpisahan.

***B.Utami***

Bu Linda kaget saat masuk kamar Andika melihat foto perempuan terpampang di meja. Beliau tidak mau harapan melihat Andika bisa meraih posisi puncak dalam karir militer pupus. Beliau pun berniat untuk menyelidiki siapa perempuan tersebut.

Bu Linda sesaat melupakan masalah Andika karena teringat harus menjahit baju kebaya untuk mendampingi suami pelantikan. Beliau pun pergi ke tukang jahit langganan. Beliau terlihat bingung karena untuk pertama kali datang sendiri ke rumah Bu Sekar. Biasanya hanya meminta tukang becak langganan untuk mengantar bahan dan mengambil jahitan. Hari itu beliau menemui Bu Sekar karena ingin model kebaya yang berbeda dari biasa.

Setelah  menyusuri gang sempit yang cukup panjang Bu Linda sampai di rumah Bu Sekar. Beliau tidak percaya di rumah kecil dan sangat sederhana baju-bajunya telah dibuat. Beliau senang dengan jahitan Bu Sekar karena murah, rapih dan bagus, sehingga membuatnya percaya diri berdampingan dengan ibu-ibu pejabat.

Bu Linda memilih bergaul dengan kalangan atas, agar ikut terangkat derajatnya. Beliau tidak mau bergaul dengan kelas bawah karena merasa sudah terlalu lama hidup dalam kesederhanaan. Beliau berasal dari keluarga biasa dan diperistri perwira.

“Bu, minta tolong jahitkan kebaya untuk pelantikan suami saya ya!”

“Maaf Bu, sedang banyak pesanan dan saya mau mengantar anak ke Bogor.”

“Saya minta tolong dibantu, saya siap membayar lebih kalau perlu.”

Bu Sekar akhirnya menerima karena Bu Linda terus memaksa. Beliau juga butuh uang untuk tambahan ongkos mengantar Gayatri ke Bogor.

Saat sedang ngobrol, Gayatri ke luar kamar untuk pamit karena akan mengantar jahitan. Dia bersalaman dengan Bu Sekar dan Bu Linda, tanpa menaruh curiga kalau hari itu kebahagiaannya akan berubah.

Wajah Bu Linda langsung berubah masam setelah menyadari anak Bu Sekar adalah perempuan yang sama dengan foto di meja Andika. Beliau mulai memikirkan cara untuk memisahkan Andika sebelum hubungan mereka berjalan terlalu jauh. Beliau merasa harus bertindak secepat agar tidak sampai terlambat.

“Maaf, saya sebenarnya tidak mau mencampuri urusan anak-anak. Namun, Bu Sekar kan tahu siapa keluarga saya, jadi mohon mengerti kalau Andika harus mendapat istri dari kalangan yang sepadan.”

“Maksud Ibu?”

“Foto anak Ibu ada di kamar Andika, pasti di antara mereka ada hubungan spesial. Saya mohon sebelum hubungan mereka berjalan terlalu jauh kita hentikan.”

Bu Sekar kaget mendengar ucapan Bu Linda. Beliau sakit hati dan merasa terhina karena berpikir sudah mengenal Bu Linda dengan baik. Namun, beliau tetap tersenyum, walaupun hati mendidih.

“Baik, Bu Linda tidak usah khawatir, Gayatri dan Andika akan putus hari ini juga.” Suara Bu Sekar agak terbata karena menahan emosi.

“Satu lagi, saya mohon jangan sampai Andika tahu kalau saya yang meminta hubungan ini berakhir.”

Bu Sekar hanya mengangguk kemudian diam menahan marah. Beliau ingin membatalkan jahitan baju Bu Linda, tetapi diurungkan karena sudah terlanjur berjanji dan harus ditepati.

Kata-kata Bu Linda telah menyayat hati Bu Sekar karena kalau suaminya tidak meninggal di usia muda pasti sudah mempunyai kedudukan di atas suami Bu Linda. Bu Sekar mengusap air mata sambil memikirkan cara agar Gayatri mau memutuskan hubungan dengan Andika.

***B.Utami***

“Assaalamu’alaikum.”

“Wa'alaikumsalam.”

“Maaf saya mau antar jahitan dan ada titipan dari Ibu.”

Bu Broto mengernyitkan dahi, walau bisa menebak gadis tinggi semampai berkulit putih bersih di depannya adalah Gayatri. Bu Broto tertengun gadis kecil yang dulu sering digendong sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Beliau juga kagum karena Gayatri mewarisi kecantikan yang dimiliki ibunya. Namun, beliau tidak mau gegabah karena takut salah menebak.

“Ayo masuk!”

"Nggih Bu."

Bu Broto baru seminggu pindah ke Purwokerto dan membutuhkan kebaya baru untuk pelantikan jabatan suami. Beruntung ada penjahit yang direkomendasikan ibu-ibu kepada Bu Broto.

“Siapa nama kamu?"

"Nami kulo, Gayatri.”

“Kamu sekolah di mana?” Bu Broto kembali dibuat takjub. Gayatri kecil menjelma menjadi gadis yang sopan dan halus tutur katanya.

“Kulo nembe lulus SMA dan alhamdulillah ketampi wonten IPB.”

“Wah selamat ya, kamu hebat. Terus semangat, walau ayah kamu tidak bisa menyaksikan, tapi pasti bangga melihat kamu sukses.” Bu Broto berusaha menahan rasa haru.

"Nggih Bu."

Gayatri terus tersenyum selama meladeni percakapan yang cukup panjang. Dia tidak pernah berpikir pertemuan dengan Bu Broto akan merubah jalan hidup. Hatinya sedang berbunga, sebentar lagi akan ke Bogor untuk melanjutkan kuliah dan mengejar cita-cita. Dia sangat bersemangat meraih masa depan agar sejajar dengan Andika dan pantas menjadi pendamping hidupnya.

***B.Utami***

BERSAMBUNG

Silahkan tinggalkan komentar dan pencet love ...

Terima kasih

Bab 2

Jangan lupa subscribe dan kasih bintang lima ya!

***B.Utami***

17 tahun ke atas

Bu Broto sedih saat mengingat peristiwa minggu lalu, saat pertama kali bertemu Bu Sekar. Beliau kaget saat bertemu karena sejak suami meninggal, sahabatnya pindah dari komplek tentara di Bogor dan memilih pulang ke kampung halaman tanpa pamit sama sekali.

Bu Broto semakin sedih melihat sahabatnya menempati rumah kecil di gang sempit di jalan Dr Angka. Namun, beliau kagum dengan kerja keras Bu Sekar, sehingga bisa mempunyai usaha jahit yang maju dan memiliki banyak pelanggan.

Bu Sekar sangat terkenal dan disukai ibu-ibu karena jahitan rapih dan tepat waktu. Beliau juga hobi masak, sehingga membuat pelanggan setia sering merasakan kelezatan masakan.    

“Bu, bajunya tolong dicek!” Gayatri mengingatkan karena melihat wanita di depannya melamun.

“Oh ya, maaf Ibu terpesona sama kecantikan kamu.” Bu Broto memuji Gayatri agar tidak kentara sedang memikirkan masa lalu.

Gayatri hanya tersenyum tipis dan kembali menunduk, “Matur nuwun.”

“Jahitan rapih dan bagus, bilang terima kasih ke Ibu!"

“Nggih Bu, kulo pamit.”

“Sebentar, Ibu mau nitip buat Ibu!” Bu Broto masuk ke ruang tengah kemudian menyerahkan bungkusan kecil ke Gayatri.

"Matur nuwun, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan."

Gayatri pamit dan mencium tangan Bu Broto sebelum pergi. Bu Broto tidak kuasa menahan haru dan langsung memeluk tubuh kurus Gayatri kemudian mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang.

***B.Utami***

Sesampai di rumah Gayatri kaget melihat ibunya menangis. Dia mengambil air minum dan menawarkan obat ke ibunya. Namun, ibunya hanya mau minum air putih dan menolak obat yang diberikan karena merasa tidak sakit. Setelah bisa menahan emosi, Bu Sekar mulai membuka percakapan.

“Nduk, apa benar kamu pacaran sama Andika?”

Gayatri menunduk karena sedikit takut untuk menjawab. “Dereng pacaran Bu, nembe jadian wingi sonten.”

“Ya udah kalau begitu putusin aja!”

“Terosipun Ibu, nek kulo sampun lulus SMA, pareng pacaran.”

“Iya, tapi jangan sama Andika!”

“Andika baik Bu, Ibu kan sampun kenal kaleh Andika.”

“Iya, tapi Ibunya Andika tidak setuju. Kamu harus sadar kita ini miskin, jadi jangan bermimpi menikah dengan orang kaya.” Air mata Bu Sekar semakin deras mengalir.

“Ibu jangan sedih, aku akan putus sama Andika. Ibu jangan menangis lagi!”

Gayatri menyeka air mata ibunya dan berusaha terlihat tegar, meskipun hati sedih harus putus dengan laki-laki yang sangat dicintai. Dia melepas kalung yang ada di leher sambil menahan air mata. Dia tidak siap harus perpisah dengan Andika, tapi tidak akan membiarkan siapa pun menghina dan membuat sedih ibunya. Dia membungkus kalung tersebut dan mengirim ke alamat Andika.

Bu Linda tersenyum bahagia saat menerima amplop dari Gayatri. Beliau bernafas lega karena bisa memisahkan Andika dengan Gayatri dengan mudah.

***B.Utami***

Pak Broto Susetyo pusing memikirkan anak semata wayangnya yang belum mau menikah, padahal umur sudah mendekati kepala tiga. Anaknya juga lulusan S1 dan S2 dari perguruan tinggi ternama di Depok. Pekerjaan mapan dan kalau mau sudah mampu membeli kendaraan dan rumah.

Baskoro tidak belum membeli mobil karena dididik orangtua untuk hidup sederhana. Dia terbiasa naik motor karena praktis dan hemat, sehingga tidak terlihat seperti anak orang berada.

“Baskoro, sampai kapan kamu akan melajang?”

“Tenang Pak, kalau sudah waktunya juga akan nikah. Sekarang nikah di atas usia tiga puluh sudah biasa.”

“Ga bisa, pokoknya kalau sampai lebaran ini kamu ga bisa ngenalin calon, Bapak akan carikan istri!"

Baskoro terdiam karena kekasihnya belum mau diajak menikah. Kekasihnya masih ingin meraih cita-cita untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri. Kekasihnya sedang menunggu hasil tes akhir beasiswa S2 ke London, sehingga tidak mau diajak nikah dalam waktu dekat.

Baskoro pusing karena sudah tahu sifat bapaknya, kalau punya keinginan harus dituruti. Dia pun menemui kekasihnya untuk membicarakan rencana pernikahan.

“Ras, sebelum kamu pergi sekolah kita nikah aja dulu.”

“Mas, S2 di luar negeri itu berat, kalau aku menikah sekarang khawatir ga bisa konsentrasi karena pikiran akan terpecah. Aku juga belum siap harus mengurus keluarga. Umur kita juga masih muda, nikah setelah aku lulus S2 aja ya?”

Baskoro menghela napas, “Bapak terus mendesak, kalau lebaran tahun ini aku belum bisa ngenalin calon harus menikah dengan calon pilihan Bapak.”

Saraswati menolak diajak menikah karena masih merasa ragu dengan masa depan. Baskoro selalu datang dengan motor butut dan masa depan kurang menjanjikan. Dia merasa punya kesempatan untuk mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Baskoro. Dia juga merasa akan mempunyai masa depan cerah setelah selesai S2. 

Saraswati bingung mencari cara memutuskan hubungan dengan Baskoro karena selama ini semua berjalan baik. Dia senang akhirnya punya kesempatan untuk putus dengan Baskoro. Dia merasa sudah mempunyai pengganti yang lebih baik, ada laki-laki yang memberi perhatian dan punya masa depan lebih menjanjikan karena mengantar jemput menggunakan mobil.

“Ya udah kalau orangtua Mas Baskoro sudah ga sabar menunggu nikah aja sama wanita pilihan orangtua Mas Baskoro.”

“Kamu bisa ngomong begitu Ras?”

“Aku mau mengerjar cita-cita dan ga mau menjadi penghambat kebahagiaan Mas Baskoro.”

"Ya udah aku pamit, semoga kamu bisa meraih cita-cita seperti yang kamu impikan, mulai hari ini di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."

Baskoro pergi dengan hati terluka dan menahan marah. Dia tidak percaya Saras tetap pada pendirian untuk menunda pernikahan karena ingin sekolah lagi. Dia membayangkan Saras akan setuju menikah sebelum berangkat ke luar negeri. Dia sudah beberapa kali survey rumah dan ingin mengajak Saras memilih. Namun, niat itu terpaksa diurungkan karena Saras selalu beralasan sibuk setiap diajak jalan.

***B.Utami***

“Assalamu’alaikum Wr. Wb."

"Wa'alaikumsalam Wr. Wb, ada apa pagi-pagi telepon?"

"Bu, bilang sama Bapak, kalau punya calon aku siap menikah dengan calon pilihan Bapak.”

Suara Baskoro disambut sumringah oleh Bu Broto karena merasa punya calon yang tepat untuk anaknya. Saat makan malam beliau pun membicarakan masalah tersebut dengan suaminya.

“Pak, Baskoro setuju menikah. Bapak punya calon?”

“Belum, Bapak cuma menggertak biar dia cepat nikah.”

“Kalau kita jodohkan dengan anak Mas Ridho gimana Pak?” Wajah Bu Broto semakin sumringah.

Ayah Gayatri satu angkatan saat masuk Akmil dengan ayah Baskoro. Dua keluarga ini sangat akrab karena pernah tinggal di asrama yang sama. Bu Sekar cukup lama menanti buah hati dan untuk menutupi rasa sepi sering bermain dengan Baskoro kecil.

“Kemarin anaknya ke sini, cantik dan baik. Dia diterima di IPB, jadi pas setelah nikah masih bisa tetap kuliah. Mereka bisa menempati rumah kita di Bogor dan Baskoro bisa dilaju ke tempat kerja.” Bu Broto semakin semangat.

“Kalau anaknya mau Bapak seneng, sudah lama Bapak memikirkan nasib anak dan istrinya Ridho. Semoga mereka berjodoh dan anak kita bisa memperlakukan istrinya dengan baik. Bagaimana pun kita harus hati-hati karena dia anak yatim. Jangan sampai kita dan anak kita menyakiti.”

Setelah Pak Broto setuju, Bu Broto langsung datang ke rumah Bu Sekar. Beliau menginginkan pernikahan dilakukan secepatnya karena takut Baskoro akan berubah pikiran. Beliau juga ingin tanggung jawab Bu Sekar diambil alih oleh Baskoro karena merasa tidak tega melihat kondisi Bu Sekar sekarang.

Seperti mendapat angin segar Bu Sekar langsung menyetujui perjodohan tersebut. Mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan sebelum Gayatri pergi ke Bogor. Bu Sekar merasa bahagia, hinaan Bu Linda langsung dibalas oleh Allah dengan nikmat yang jauh lebih besar.

Bu Sekar bahagia yang melamar Gayatri mempunyai pangkat jauh di atas suami Bu Linda. Beliau juga bahagia Gayatri akan menikah dengan laki-laki dari keluarga baik yang sudah dikenal

“Bu, aku belum sembilan belas tahun masa harus menikah?”

“Tri, jodoh kalau sudah datang tidak boleh ditolak. Apalagi kalau kita tahu yang melamar baik dan dari keluarga baik.”

“Tapi Bu, aku belum siap untuk menikah.”

Bu Sekar menarik napas, kembali berusaha membuka pikiran Gayatri agar mau menikah. Beliau ingin beban di pundak bisa sedikit berkurang.

Gayatri terpaksa menyetujui perjodohan karena keluarga suami berjanji akan mengijinkan dan membiayai kuliah. Dia berpikir ini cara Allah untuk meringankan beban ibunya. Dia juga berpikir cinta akan mudah tumbuhkan dari hati.

***B.Utami***

Baskoro tidak pernah menyangka yang dinikahi adalah gadis kecil yang dulu suka menangis saat ditinggal ayahnya kerja. Dia masih teringat dengan jelas saat Om Ridho harus berputar-putar komplek berkali-kali dengan motor sampai Gayatri mau ditinggal. Saat itu Baskoro sudah duduk di bangku SMP, sehingga sudah mengingat semua dengan baik.

Baskoro mengakui kecantikan Gayatri, tetapi melihat dia baru lulus SMA membuat seperti ada tembok untuk mencintai. Dia merasa Gayatri anak kecil yang lebih pantas untuk dijadikan adik. Umur mereka memang terpaut jauh dan Baskoro masih mengingat saat ibunya mengajari Bu Sekar menggantikan popok Gayatri.

Baskoro tidak percaya saat Gayatri mencium tangan, hatinya bergejolak. Jantung berdetak kencang, saat tamu undangan menyuruh mencium kening Gayatri. Sebagai laki-laki normal dia merasakan getaran berbeda saat bibir menyentuh kening Gayatri.

Semerbak wangi bunga melati yang menghiasi sanggul Gayatri membuat pikiran Baskoro melayang. Namun, dia berusaha mengendalikan diri karena hati masih menjadi milik Saras. Dia masih berpikir Saras yang seharusnya menjadi istrinya.

Bu Linda kaget pernikahan yang dihadiri adalah pernikahan anak Bu Sekar yang satu bulan lalu diminta meninggalkan Andika. Beliau tidak percaya atasannya mengambil anak Bu Sekar sebagai menantu.

Bu Linda tertunduk karena malu dengan Bu Sekar. Namun, sesaat kemudian beliau kembali tersenyum karena Andika tidak bisa lagi mendekati Gayatri. Beliau berharap setelah lulus Andika menikah dengan anak atasan dan mencapai puncak karir dalam militer.

"Andika akan jadi orang sukses!"

***B.Utami***

BERSAMBUNG

Silahkan tinggalkan komentar dan pencet love ...

Terima kasih

Bab 3

Jangan lupa subscribe dan kasih bintang lima ya!

***B.Utami***

17 tahun ke atas

Bu Sekar tersenyum bahagia Gayatri menemukan jodoh yang baik. Beliau merasa beban di pundak sudah berkurang. Pak Broto dan istri juga bahagia karena kekhawatiran Baskoro salah bergaul hilang sudah. Mereka bersyukur Baskoro menikah dan yang lebih membahagiakan Baskoro mau menikahi anak sahabat seperjuangan.

Gayatri tertunduk dan mencoba tersenyum, walau hati tegang dan deg-degan. Dia sadar sudah menjadi seorang istri dan punya kewajiban untuk melayani suami. Dia bersikap biasa, meskipun takut akan melewati malam pertama yang katanya sangat menyeramkan. Saat Baskoro mencium kening saja, dia sudah kesulitan bernafas karena baru pertama kali ada lawan jenis yang menyentuhnya.

“Ga usah takut, malam ini aku ga akan menyentuh kamu.”

Suara pertama Baskoro yang didengar cukup membuat Gayatri lega. Sebagai wanita tidak disentuh pada malam pertama adalah musibah besar, tapi tidak berlaku untuk Gayatri. Dia justru merasa bersyukur Baskoro masih memberi waktu untuk bernafas. Dia merasa belum siap untuk menerima nafkah batin karena masih terlalu muda. Dia pun kembali tersenyum setelah seharian tegang selama acara pernikahan.

Baskoro melirik Gayatri yang terlihat begitu cantik saat tersenyum, pipi putih bersih bersemu merah. Lesung pipi juga terlihat jelas, semakin membuat Gayatri menawan dan terlihat sempurna. Dia kemudian memalingkan muka karena tidak mau perasaan di hati semakin bergejolak.

“Kita harus merahasiakan ini dari orangtua. Kita juga  harus pura-pura mesra saat di depan mereka.” Baskoro kembali membuka suara.

"Iya Mas."

Gayatri mengernyitkan dahi karena tidak percaya Baskoro mengajak bermain sandiwara. Namun, dia hanya bisa mengiyakan karena tidak mau pusing dan belum siap menjadi istri. Dia juga merasa tidak sulit untuk memerankan sandiwara dengan baik karena selalu menonton film-film drama dan tinggal mempraktekan saja.

***B.Utami***

Semalaman Baskoro gelisah karena tidak terbiasa tidur dengan wanita. Apalagi saat mau tidur tanpa sengaja melihat aurat Gayatri sedikit tersingkap. Napasnya naik turun, pikiran melanglang buana ke mana-mana, kalau tidak karena menahan gengsi, dia pasti sudah melampiaskan hasrat.

"Huh ... " Baskoro membuang nafas. 

Baskoro masih tidak percaya gadis kecil yang dulu sering main ke rumah telah menjelma menjadi gadis cantik jelita. Dia menarik selimut, kemudian memejamkan mata karena tidak mau pikiran semakin berkelana.

"Ehhhh ... " Gayatri menggeliat.

"Aaaa ... " Gayatri terbangun dan membuka muluat saat tangan Baskoro tiba-tiba memeluk.

Gayatri hampir saja menjerit, untung cepat tersadar kalau sudah menikah. Dia mengangkat tangan Baskoro yang tepat mengenai dada kemudian duduk. Dia bisa bernapas lega saat menyadari Baskoro masih pulas dalam tidur. Dia langsung meletakkan guling pembatas yang jatuh ke lantai lalu kembali tidur.

"Aaa ... " Baskoro kaget.

Baskoro tidak percaya saat bangun mulutnya begitu dekat dengan pipi Gayatri. Dia bersyukur Gayatri masih tidur nyenyak, sehingga tidak harus menahan malu karena telah menerjang guling pembatas yang dipasang sendiri sebelum tidur.

Baskoro semakin kaget saat menyadari posisi kaki terletak tepat di atas paha Gayatri. Dia baru menyadari memeluk guling hidup memberikan sensasi yang berbeda. Dia pun segera melepaskan pelukan agar perasaan kembali tenang. Dia juga menahan keinginan untuk mencium dan mengelus pipi putih yang halus seperti bayi karena takut Gayatri terbangun.

***B.Utami***

Pagi hari sepasang suami istri itu hanya diam, mereka tidak berani menceritakan apa yang terjadi semalam. Mereka juga memilih sholat sendiri, kemudian mandi dan sarapan. Gayatri diam seribu bahasa karena malu saat ingat peristiwa semalam. Baskoro mencoba menata hati yang mulai merasakan getaran tidak biasa. Dia baru menyadari getaran itu lebih dasyat dibandingkan saat dekat dengan Saras.

Untung hanya semalam mereka tidur berdua di kamar pengantin yang terletak di hotel tidak jauh dari rumah, sehingga tidak sampai terjadi sesuatu yang diinginkan. Mereka pergi ke rumah Baskoro untuk berpamitan sebelum berangkat ke Bogor.

Mereka buru-buru ke Bogor karena Gayatri harus segera daftar ulang kuliah dan Baskoro hanya mengambil cuti nikah tiga hari. Mereka juga tidak mau berlama-lama di Purwokerto karena khawatir rahasia terbongkar.

Mereka juga berpamitan ke rumah Gayatri sebelum berangkat ke Bogor. Bu Sekar bahagia melihat Baskoro dan Gayatri bergandengan saat datang. Setelah memberi wejangan panjang lebar beliau pun melepas kepergian anak semata wayangnya. Walau merasa tenang Gayatri pergi ke Bogor dengan suami, tetapi tetap saja beliau merasa sedih ditinggalkan.

***B.Utami***

Begitu masuk mobil Gayatri langsung menjaga jarak dengan Baskoro. Dia duduk mepet kaca dan menaruh tangan di dekat pintu. Dia tidak mau kembali bersentuhan dengan Baskoro karena takut membuat getaran di dada semakin kencang. Dia diam dengan pandangan mata lurus ke depan dan hanya sesekali melihat ke samping.

Baskoro gatal duduk diam berjam-jam dan mulai mengajak Gayatri bicara. Dia semakin kagum saat menyadari, walau masih muda wawasan Gayatri cukup luas. Dia juga senang Gayatri enak diajak ngobrol, sehingga perjalanan yang sempat membosankan berubah jadi menyenangkan.

Sesampai di Cirebon, Baskoro memarkirkan mobil di rumah makan yang menyediakan empal gentong. Dia makan siang dengan empal gentong karena kuah panas dan bumbunya yang gurih sangat ampuh untuk menghilangkan rasa penat dan kantuk.

“Tri, pilih aja makanan kesukaan kamu.”

“Mas aja yang pilihin, aku tidak tahu harus pesen apa karena baru pertama kali ke sini.”

Baskoro tersenyum melihat Gayatri begitu polos menanyakan empal gentong. Dia kembali tersenyum saat melihat tingkah laku dan mimik muka Gayatri lucu dan menggemaskan saat menyantap makanan.

“Kenapa ngeliatin aku terus?”

“Kamu lucu juga ternyata ya."

“Hehehe maaf aku rakus karena laper banget.”

"Mau nambah?"

"Ga, makasih udah kenyang."

Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan ke Bogor. Setelah menempuh perjalanan selama dua belas jam, mereka akhirnya sampai di rumah bercat abu-abu yang terletak di daerah Bantarjati. Bau cat masih tercium karena rumah belum lama selesai direnovasi.

"Aku cari makan malam, kamar kamu di lantai atas dekat tangga."

"Iya Mas, makasih." Gayatri tersenyum saat tahu kamarnya akan terpisah.

Baskoro ke luar untuk membeli makan malam, sedang Gayatri langsung ke kamar. Gayatri tersenyum melihat kamar ukuran enam kali empat dengan kamar mandi di dalam. Dipan ukuran king, lemari pakaian dua pintu dan meja melengkapi kamar.

Gayatri memasang sprei yang sudah tersedia di atas ranjang. Dia membongkar tas dan meletakkan barang-barang sebelum pergi mandi.

***B.Utami***

Saras tidak percaya mendengar temen-temen di kantor membicarakan pernikahan Baskoro. Dia tidak menyangka Baskoro akan secepat itu menikah. Teman-teman di kantor tidak ada yang memberi tahu rencana pernikahan setelah tahu Saras lebih memilih putus dibanding menikah dengan Baskoro.

Saat kantor sepi, Saras memberanikan diri untuk melihat foto-foto hasil jepretan Adrian yang tergeletak di ruang meeting. Hanya Adrian yang datang ke Purwokerto menghadiri pernikahan Baskoro, sehingga mengabadikan pernikahan tersebut untuk ditunjukan ke teman-teman. Hati Saras sakit melihat foto pernikahan Baskoro karena cukup megah. Dia semakin sakit hati saat mendengar hampir semua teman-teman memuji kecantikan istri Baskoro.

Saras merasa salah langkah telah melepas Baskoro apalagi tahu Baskoro telah dipromosikan sebagai manager operasional. Kabar Baskoro telah merenovasi rumah dan membeli mobil baru juga sampai ke telinga.

Saras pun berpikir untuk mendapatkan cinta Baskoro kembali. Dia melakukan itu, setelah tahu laki-laki yang mendekatinya sudah mempunyai anak dari hasil pernikahan sebelumnya.

Saras tidak mau menunda rencana dan langsung menghubungi nomor telepon rumah Baskoro. Dia ingin mendapatkan kembali hati Baskoro sebelum dimiliki oleh istrinya.

“Kring ... kring ... kring ...”

Gayatri turun karena tahu Bsskoro sedang ke luar. Dia mengangkat telepon karena khawatir ada hal penting.

“Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Mas Baskoro?”

“Wa’alaikumsalam, maaf dengan siapa?”

Saras terdiam mendengar suara di sebrang telepon. Hatinya sakit mengetahui Baskoro sudah tinggal satu rumah dengan istrinya. Namun, dia tidak mau kesempatan untuk mendapatkan Baskoro kembali cinta Baskoro.

“Saya teman kantor Mas Baskoro.”

“Maaf Mas Baskoro sedang ke luar cari makan malam, mau titip pesan?”

“Saya cuma mau kasih selamat atas pernikahan Mas Baskoro.”

“Terima kasih, maaf ini dengan Mba siapa?”

“Saras, mantan pacar Mas Baskoro. Saya kasihan sama Mas Baskoro dipaksa harus menikahi gadis pilihan orangtua”

"Maksud Mba?"

"Bulan lalu Mas Baskoro mengajak saya menikah." Saras diam cukup lama.

Bagai disambar petir Gayatri pun langsung melepaskan gagang telepon. Dada mendadak sesak dan air mata mulai tumpah karena akhirnya tahu Baskoro tidak menyentuh di malam pertama bukan karena ingin memberi waktu, tapi karena ada wanita lain di hatinya.

Gayatri langsung ke kamar karena ingin segera mandi untuk menghilangkan kesedihan. Dia bertekad untuk tidak merepotkan dan menggunakan sepeser pun uang Baskoro. Dia membuka tas untuk melihat saldo di buku rekening tabungan. Dia bersyukur walau sempat ditolak, ibunya tetap memberi uang cash dan buku tabungan. Ibu bilang buat jaga-jaga kalau diperlukan dan ternyata memang diperlukan.

Gayatri menarik napas dan mulai berpikir untuk mencari pekerjaan sampingan. Dia berniat menjadi guru privat seperti kakak kelas. Dia tidak mau gagal kuliah dan mengecewakan ibunya. Dia pun menutup hati yang belum sempat terbuka karena tidak ingin jatuh cinta dengan laki-laki yang salah.

“Tri makanan sudah siap.” Suara Baskoro tidak diindahkan sama sekali.

Setelah mengetuk pintu berulang-ulang tidak dibuka Baskoro pun turun dan mulai menikmati makan malam. Dia menaruh makanan di depan pintu kamar karena berpikir Gayatri ketiduran. Tidak lama kemudian dia tertidur di sofa karena kelelahan setelah menyetir seharian.

Air mata Gayatri semakin deras mengalir, sederas hujan yang mengguyur Kota Bogor malam itu. Semalaman dia tidak ke luar kamar karena tidak mau melihat wajah Baskoro. Dia memilih mengganjal perut dengan bantal untuk menahan lapar sampai akhirnya ketiduran.

***B.Utami***

BERSAMBUNG

Silahkan tinggalkan komentar dan pencet love ...

Terima kasih

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED