"Mom," pria itu merengek, sangat tidak cocok dengan sikap kaku-nya yang biasa dia perlihatkan. Aku baru tahu, ternyata dia anak yang bisa menjadi orang yang berbeda seperti ini hanya karena sedang berhadapan dengan ibunya. Aku tidak tahu harus merasa seperti apa karena bisa melihat hal yang langka itu. Sepertinya dia memang anak yang baik, terutama pada ibunya.
Pria itu tidak membentak dan terlihat hanya seperti merengek.
"Dengar penjelasan Mom dulu," kata wanita paruh baya di sampingku membalas ucapan pria itu. Pandanganku beralih dari pria di depanku ke ibunya.
"Mom ingin kamu sama Helen menjalin hubungan baik. Soalnya kamu masih tidak punya kekasih sampai sekarang, dan dengan pertunangan ini kamu bisa mengenal Helen dengan lebih baik. Helen itu perempuan yang baik." Aku hanya diam saat namaku disebut kesekian kalinya, kalimatnya tidak lepas dari kata 'baik'. Lagi pula akan sangat tidak sopan jika aku bicara saat belum waktunya disuruh bicara.
"Aku punya, Mom. Aku sudah punya kekasih. Berapa kali aku harus bilang pada Mom?" Pria itu meringis.
Aku tertarik dengan apa yang dia katakan. Bukannya dia sedang sendirian, tidak menjalin hubungan dengan siapa pun? Ibunya yang mengatakan itu padaku.
Ibu pria itu membalas, "Dan berapa kali Mom bilang, kalau kamu punya kekasih, kenalkan sama Mom, tapi kamu satu kali pun tidak pernah melakukannya. Terus, mana kekasih kamu itu?" Pria itu rewel, tapi aku tahu sifat itu dari mana, ibunya juga sama.
Mereka sudah dari tadi membalas perkataan masing-masing dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir dalam waktu singkat. Sedangkan aku, tentu saja hanya diam mendengarkan. Jujur saja, aku berusaha terlihat tenang. Tapi sebenarnya, sejak pria itu protes pada ibunya, aku sudah merasa gelisah. Pria itu jelas sekali menolakku. Dan ibunya masih belum menyerah sampai anaknya itu menurut, semakin membuatku tidak tenang.
"Dia di luar negeri, Mom. Di Amsterdam." Pria itu menjawab dengan enggan.
"Nah, kan. kamu jawabnya begitu lagi." Ibunya terlihat geram. Aku bingung, karena jawaban pria di hadapanku dan bingung karena tidak tahu harus bagaimana untuk menenangkan wanita berumur di sampingku ini yang mulai tampak mengamuk.
“Yeah, soalnya dia lanjut S2-nya di sana Mom,” kata pria itu terlihat bosan, mungkin dia juga sudah kesekian kalinya mengatakan kalimatnya tadi.
“Lalu kapan dia-nya balik ke sini?” tanya ibunya masih belum terima begitu saja perkataan anaknya.
“Dia belum lama di sana Mom, jadi masih kurang lebih dua tahun lagi.” Pria itu terlihat bersabar meladeni ibunya.
Oh, jadi begitu. Kekasihnya belum lama ini pergi?
“Mom tidak percaya sama kamu. Itu cuma alasan kamu saja supaya kamu tidak perlu dekat dengan siapa-siapa.” Ibunya masih setia dengan pendapatnya sendiri.
“Mom,” Pria itu merengek lagi kesekian kalinya.
“Kamu tahu tidak, sih? Mom itu takut kalau kamu itu ternyata kelainan seksual.” Perkataan ibunya membuat aku dan pria itu melotot horor, tapi aku rasa pria itu bukan hanya kaget karena kalimat ibunya, juga kaget karena aku yang yang tiba-tiba tersedak ludah sendiri. Saking terkejutnya, aku sampai tersedak.
“Mom!” Pria itu menyebut dengan suara yang lebih keras. Tapi rupanya, wanita di sampingku tidak terpengaruh oleh seruan putranya.
Ibunya kembali bersuara, masih belum selesai berkata, “Tapi kamu tidak pernah mau jujur sama Mom. Kalau memang begitu, belum terlambat mengaku sekarang, Steve.”
Sekarang rasanya aku malah seperti barang yang dimanfaatkan ibunya untuk memojokkan anaknya agar mengaku. Apa lagi sudah bermenit-menit aku seperti diabaikan. Aku menatap pria di depanku, bagaimana dirinya membela diri sekarang?
“Aku tidak begitu Mom. Aku tidak mengaku karena memang itu tidak terjadi, bisa-bisanya Mom mengatakan hal seperti itu.” Pria itu menatap ke arahku, seakan baru sadar kehadiranku karena baru saja tersedak. Dia malu.
Tapi sebenarnya aku merasa lebih malu lagi karena tiba-tiba tersedak dengan tidak elitnya beberapa saat yang lalu.
Aku mengerti perasaannya, aku juga pasti malu jika berada di posisinya. Bagaimana tidak? Ibunya bertanya atau bisa dibilang menuduh kelainan seksual seperti itu saat ada kehadiran orang lain yang baru dikenal, yaitu aku. Bahkan bisa dibilang aku masih orang asing.
“Mom tidak mau dengar kamu protes lagi. Kalau memang dugaan Mom itu tidak benar, turuti perkataan Mom.” Pria itu menatap tak percaya pada ibunya, memang sudah kesekian kalinya dia menampakkan ekspresi seolah terkhianati-nya itu. Tapi ibunya sama sekali tidak peduli.
Aku turut berduka cita untuk pria itu. Tapi di menit selanjutnya aku berubah pikiran, mungkin saja pria itu memang mengalami kelainan seksual. Lalu ibunya ingin mengatasinya dengan memaksanya menjalin hubungan denganku. Ini seperti cerita novel dewasa yang bertema kelainan seksual.
Aku ingin berteriak histeris rasanya, aku korban di sini! Aku yang paling menyedihkan di sini!
Dan sekalipun pria itu tidak mengalami kelainan seksual, bagaimana dengan dirinya yang akan menjadi orang ketiga nantinya? Pria itu mengatakan punya kekasih, hanya saja mereka sedang terhalang jarak untuk sementara.
Oh, sempurna sudah! Aku tidak bisa menolak karena wanita di sampingku ini bersahabat dekat dengan ibu dan akhirnya aku terpaksa berada dalam situasi ini.
Padahal saat pertama kali wanita yang mengaku sebagai ibu dari pria itu datang padaku, lalu mengatakan akan membuatku dan pria itu bersama, jujur saja aku merasa sangat senang. Siapa yang tidak senang jika diberi jodoh yang tampan dan mapan? Terus kata ibunya dia pria yang baik, jadilah jodoh yang sempurna.
Tidak ada yang bisa menolak, jangan munafik. Yah, kecuali jika dia memang mencintai orang lain yang lebih baik dengan cinta berlebihan yang terlalu dalam. Atau dia, wanita yang punya kelainan seksual.
Tapi aku normal, jadi tidak menolaknya. Mungkin sepertinya aku harus memikirkan solusi agar terbebas dari predikat ‘korban’. Apa ada yang mengerti keadaanku? Atau malah menertawakanku?
Aku ingin histeris lagi. Hanya ingin, aku tidak benar-benar melakukannya.
Tapi, dalam hati kecilku, aku ingin bersama pria itu walau hanya sementara. Perasaanku malah membuat situasi semakin sulit untukku. Aku sadar, aku bahagia hanya karena bisa melihatnya dengan jarak sedekat ini. Sebelumnya aku hanya bisa memandangnya dari jauh dan menyukainya dalam diam.
Aku tidak mengingkari, aku termasuk salah satu dari banyaknya perempuan yang mengagumi pria itu. Dan aku tidak merasa istimewa sedikit pun hanya karena mencintai pria itu selama bertahun-tahun. Aku mencintai pria yang bahkan abai dengan kehadiranku. Tadi saja, dia acuh padaku karena aku tersedak dan dia merasa tidak nyaman, nyatanya dia melakukan itu karena hanya peduli pada dirinya yang merasa malu saja.
Aku memang tidak pernah melakukan apa pun untuk menarik perhatiannya sejak dulu. Aku tidak berani. Aku bukan perempuan yang bisa dibandingkan dengan para perempuan yang pernah dekat dengannya dan menjalin hubungan. Kalau begitu untuk apa bertahan menyukainya? Tidak, aku juga pernah menyukai pria lain.
Tapi setelah perasaanku berubah pada orang lain, aku akan teringat kembali padanya lagi. Mungkin inilah yang disebut cinta pertama. Padahal aku menyukai beberapa pria, tapi yang teringat setelah itu hanya dirinya saja. Dan begitulah, saat aku tidak menyukai siapapun, aku selalu memikirkannya. Aku menyukainya lagi dan lagi.
Aku memang sudah lama menyukainya, sejak masih berumur sepuluh tahun. Dan dia sebelas tahun saat itu.
Dia adalah cinta pertamaku. Steve Felton. Pemilik Felton Insurance, perusahaan terbaik di Hampshire.
*****
“Mom ingin kamu membiarkan Helen tinggal di apartemenmu, perlakukan dia dengan baik,” kata ibu Steve seraya menatap Steve dengan tegas. Steve hendak mengatakan sesuatu karena mulutnya tampak terbuka tapi dihentikan ibunya yang berbicara padaku.
“Helen.” Ibunya memanggilku, mengambil perhatianku yang sebelumnya terarah pada Steve.
“Iya, Mrs. Felton?” balasku sopan.
“Kamu boleh panggil Mom, seperti Steve. Kamu 'kan seperti anak Mom juga.” Ibu Steve tersenyum lembut padaku. Aku membalasnya dengan senyum kaku karena merasa canggung dengan keinginannya.
Tapi aku menuruti keinginannya, “Iya, Mom.” Aku mengangguk. Sempat melihat Steve memutar bola matanya.
“Aduh, Helen. Sebenarnya siapa yang paling pantas jadi anak Mom di sini? Kamu lebih patuh daripada Steve anak kandung Mom sendiri. Helen manis sekali, jangan berhenti panggil Mom, ya?” Ibu Steve mencubit pipiku dengan gemas.
Aku hanya bisa terkekeh pelan sedangkan didalam hati sedang tidak nyaman.
“Nanti kalau Steve tidak memperlakukan kamu dengan baik, langsung bilang Mom, ya?” Aku melirik Steve yang memasang ekspresi seolah terkhianati-nya lagi. Setelah itu aku kembali menatap ibunya untuk menjawab.
“Oke, Mom,” jawabku. Masih setia dengan rasa tidak nyaman dalam hati.
Aku adalah orang yang sensitif, terlalu peka dengan orang lain. Tapi aku malah sering disalah pahami, padahal aku sudah susah payah memahami orang lain. Dulu aku berpikir jika peka pada orang lain itu baik, tapi ternyata aku malah jadi sensitif. Dan yang menyakitkan adalah merasakan tidak nyaman karena orang lain, dan aku tidak pernah bisa menunjukkannya.
Seperti saat ini, jika ada masalah aku lebih suka memakai topeng untuk bersembunyi dan memendamnya sendirian. Hah, tipe yang mudah depresi.
Setelah ibu Steve pergi, aku hanya bisa diam berhadapan dengan Steve di ruang duduk dalam apartemennya yang luas.
“Aku,” ucapku bersamaan dengan Steve. Kami saling memandang untuk mendengarkan.
Kami terdiam. Hening beberapa saat, seolah kami menunggu salah satu berkata ‘kau duluan’. Atau bisa juga menunggu salah satu kami langsung mengatakan apa yang ingin dikatakan.
Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara lebih dulu, aku terlalu malu untuk mengatakan ‘kau duluan’. Ini bukan suasana yang mendukung untuk acara romantis, berbicara hati ke hati seperti dalam film yang memiliki adegan dimana pemerannya bicara bersamaan.
“Jadi..” tapi kenyataannya, kami sekali lagi mengambil keputusan yang sama. Kami sekali lagi berkata disaat yang sama dan sekali lagi saling memandang dan terdiam.
Di sisi lain, aku merasa bersyukur Steve tidak mengeluarkan hawa kebencian dan melihatku seperti musuh. Hal yang mungkin terjadi jika seseorang menolak di jodohkan.
Steve melemaskan punggungnya di sandaran sofa seraya menghela napas. “Oke, kau duluan.”
Gantian aku yang menegakkan punggungku ketika mendengar ucapannya. Aku mengatur napas, menariknya pelan-pelan sebelum bersuara, “Jadi, aku minta maaf.”
“Minta maaf?” Steve terlihat kembali menegakkan punggungnya, “Untuk apa?” tanyanya.
“Aku sudah menduga kalau kau akan menolak, aku memang ragu kau menerimanya. Tapi aku tetap saja menuruti kemauan ibumu dan tidak menolak.” Aku tahu diri untuk tidak dengan bangganya menyebut ibunya dengan panggilan 'Mom' didepan Steve sendiri. Meski ibunya sendiri yang menyuruh. Lagi pula disini tidak ada ibunya.
“Hanya saja, aku tidak bisa menolak karena dia mengatakan hal tersebut adalah harapannya dan harapan ibuku, harapan mereka. Entah kenapa aku ingin mengabulkannya meski ibuku sudah tiada.” Aku menunduk, melihat meja yang memisahkanku dengan Steve.
Aku sebenarnya mengerti jika ibu tidak akan memaksakan harapannya padaku, buktinya aku baru tahu jika ibu ingin aku menikah dengan anak sahabatnya saat sudah lama meninggal.
Steve belum mengatakan apa-apa sebagai balasan, membuatku menggenggam tangan dengan lebih erat, aku juga belum ingin melihat langsung wajah Steve.
“Baik, aku maafkan. Walau sebenarnya kau sama sekali tidak bersalah.”
Aku akhirnya mengangkat kepalaku karena balasan Steve yang akhirnya keluar juga.
“Kenapa aku tidak bersalah?”
Aku malah menanyakan hal yang membuat Steve terlihat canggung. Aku hanya ingin mengerti bagaimana pandangannya terhadapku. Steve menggaruk tengkuknya.
“Ah, karena.. Karena itulah yang aku rasakan. Seperti itulah menurutku,” jawabnya.
Aku mengangguk mengerti seraya bergumam mengiyakan. Dia memang pria yang baik. Aku seharusnya tahu itu sejak dia tidak menganggapku sebagai musuhnya.
“Lalu, apa yang ingin kau katakan?” Aku bertanya dengan suara pelan. Sedikit menerka-nerka apa yang ingin dia katakan.
“Jadi begini, aku tidak bisa menerimamu karena sebenarnya aku tidak berbohong, aku punya kekasih. Tapi memang hubungan kami merenggang karena jarak. Kami jarang bisa berkomunikasi. Bisa dibilang kami sudah berpisah, tapi aku tetap menunggunya,” ungkapnya dengan pandangan menerawang.
“Apa-” ucapanku terputus karena bel apartemen berbunyi tiba-tiba. Yang ingin aku tanyakan adalah apa mungkin Steve akan menerimaku jika dia sedang tidak punya kekasih? Tapi kemudian aku bersyukur pertanyaan itu belum terucap karena aku sadar terlalu konyol untuk menanyakannya seperti itu. Aku sendiri yang akan malu.
“Sebentar.” Steve bangkit berdiri menuju pintu lalu membukanya.
“Helen!” aku tersentak mendengar Steve memanggil namaku. Segera aku menuju tempatnya berdiri di depan pintu yang terbuka.
Saat aku berada disampingnya, Steve menunjuk seorang berseragam yang ternyata adalah seorang petugas pengirim barang yang sedang membawa kardus. Dan ternyata aku sadar, bukan hanya satu orang tapi beberapa orang.
“Ini paketmu?” tanya Steve.
“Ah,” aku teringat barangku yang memang dipaketkan untuk dipindahkan ke apartemen Steve, “Iya benar. Tapi seingatku tidak sebanyak ini,” lanjutku sambil mengerutkan kening.
“Benarkah?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Ya sudah, masukkan saja semua. Nanti cari tahu kenapa paket barangmu kelebihan.” Steve menyuruh para petugas pengirim itu untuk membawa semuanya masuk.
Dalam hatiku, takut Steve merasa tidak nyaman dengan pengiriman ini. Padahal dia tidak menerimaku tapi aku sudah membawa barang untuk tinggal disini. Dan aku tidak mungkin menyalahkan ibunya yang menyuruhku.
“Maaf,” ungkapku begitu para petugas pengirim paket sudah pergi.
Steve mengerutkan alisnya lagi, “Apa?”
Aku diam, masih berusaha mengumpulkan kata-kata yang pas.
“Kau minta maaf lagi?” tanya Steve lagi. Aku mengangguk sembari melihat ke samping tubuhnya. Tidak berani melihatnya langsung.
“Sudahlah. Sepertinya aku tahu kenapa paketmu kelebihan. Ini pasti dari Mom.” ucapnya sambil memperhatikan paket barangku.
Saat dia hendak mengangkatnya, aku segera mencegah. “Tidak usah, biar aku saja,” kataku. Aku sudah merepotkannya lagi.
“Aku yang akan mengurusnya. Tidak apa-apa, oke?” kataku saat dia hendak membalas, aku tahu dia menawarkan diri. Dan sekarang dia sempat terlihat tak percaya karena perkataanku.
“Kau yakin?” tanyanya memastikan. Aku mengangguk yakin. Dia terdiam sebentar lalu mengangguk juga. “Baiklah.”
Steve lalu membuka salah satu kamar apartemennya, yang mana apartemennya terdapat dua buah kamar. “Kamar ini tidak digunakan cukup lama, dulu Julia yang memakainya.”
“Kekasihmu?” tanyaku saat mendengar nama perempuan yang dia sebut.
Steve mengangguk kaku, terlihat bahwa ia tidak nyaman. Mungkin ia tanpa sadar mengucapkan nama Julia, dan takut membuatku sedih karena aku dijodohkan dengannya yang sudah menolakku karena perempuan lain. Aku tahu karena tatapan matanya tidak berani melihatku. Seperti aku yang beberapa kali tidak berani melihatnya.
“Jadi, aku akan membantumu membersihkan kamar ini.” Ia segera berjalan masuk kamar yang memang terlihat berdebu. Tapi aku menghentikannya lagi. Kali ini tanpa gerakan, aku mencegahnya lewat ucapan saja karena aku sedang memegang salah satu kardus, paket yang tadi.
“Tidak usah!” ucapku sedikit berseru membuat Steve berhenti melangkah dan berbalik menatapku.
“Aku akan melakukan semuanya,” ucapku seraya masuk kamar dan menaruh paket di sudut ruangan kamar.
“Kau mau menolak lagi?” tanyanya, mungkin merasa gemas dengan keinginanku.
“Apa kau tidak punya sesuatu untuk kau kerjakan? Kau itu sebenarnya banyak kerjaan, kan?” tanyaku, berusaha agar dia tidak membantu dengan mengungkit pekerjaannya.
“Sebenarnya ada..” Steve masih menggantungkan kalimatnya, aku segera menimpali.
“Kalau begitu lakukan, aku tidak punya kerjaan hari ini. Jadi ini akan membantuku menghabiskan waktu,” ucapku lalu tanpa sadar menariknya pelan keluar.
Steve terkejut saat aku memegang lengan bawahnya, tapi dia tidak bereaksi apa pun yang tampak menolak atau keberatan.
Aku tahu dia tidak akan melepas tanganku kecuali hal itu akan membuatku tersinggung. Dia memang pria yang baik.
Saat dia telah berhadapan dengan pintu kamar yang terbuka aku segera mendorongnya pelan agar keluar. Dia menurut.
“Jadi, selamat bekerja...” ucapku tersenyum kecil menatapnya yang berbalik melihatku kemudian terdiam karena Steve memandangku dengan tidak biasa, matanya menatapku dalam. Membuatku seolah tenggelam dalam mata hijaunya yang kini semakin terlihat memikat. Aku segera menyadarkan diri dan melanjutkan perkataanku yang terhenti beberapa detik, “.. masing-masing.”
*****
Aku membuka mata tiba-tiba, merasa kaget karena sebuah bunyi nyaring. Segera aku tolehkan kepalaku untuk mencari sumber bunyi tersebut.
Mataku menemukan ponsel milikku sendiri berkedip-kedip dan berdering. Ah, mataku berkedip beberapa kali. Aku ingat kalau aku menyalakan alarm di ponsel.
Tanganku akhirnya menggapai ponsel yang berada di meja lalu mematikan alarmnya. Aku tadi tertidur di kasur setelah lelah membersihkan kamar.
Aku juga hanya sempat mengatur sebagian barang-barangku, belum semuanya. Awal kedatanganku di apartemen ini adalah tadi pagi, dan sekarang sudah sore.
Steve sepertinya sedang tidak di apartemen, sejak aku menyuruhnya melanjutkan pekerjaannya.
Aku tahu dia berencana libur sehari karena diminta oleh ibunya, tapi aku rasa sebenarnya ia masih punya pekerjaan untuk dilakukan meski seharusnya terpaksa ditunda, dan ternyata benar. Aku membuatnya batal libur dan melanjutkan pekerjaannya, aku tidak melakukan kesalahan, kan?
Tiba-tiba perutku berbunyi, astaga. Inilah akibatnya menunda makan siang.
Aku bangun dari posisi berbaring dan duduk di kasur. Aku menghela napas melihat kardus yang masih menumpuk di sudut ruangan kamar.
“Bagaimana aku bisa cepat selesai mengatur barang, jika saja barangku bertambah tiga kali lipat,” gumamku.
Ibunya Steve mengirimkan banyak pakaian, aksesoris sampai alat rias. Aku tahu tidak seharusnya aku mengeluh, aku tahu seharusnya aku berterimakasih. Yeah, aku memutuskan menelepon Ibunya Steve.
Aku mendekatkan ponselku ke telinga setelah menekan nomor kontak milik Ibu Steve. Telepon diangkat setelah dering kedua.
“Halo, Helen?”
“Halo, Mrs,” aku berdehem dan meralat ucapanku, “Halo, Mom.” Hampir saja.
“Ada apa Helen?”
“Mom,” aku menarik napas, belum terbiasa memanggil beliau seperti itu, “Apa Mom yang mengirimkan banyak paket untuk Helen?” tanyaku.
“Oh, itu ya? Kalau ada barang yang kurang bilang, ya.”
“Jadi memang Mom, ya?” tanyaku memastikan lagi.
“Iya, sayang.”
“Tapi, Helen tidak minta Mom untuk...” ucapanku terputus oleh ibu Steve.
“Bukannya Mom sudah bilang, kenapa kamu hanya boleh bawa sedikit barang ke apartemen Steve?”
“Eh?” Aku mengingat-ingat percakapan kami, ah, sepertinya aku tidak memperhatikan karena terlalu fokus pada hal yang mengejutkan tentang perjodohan yang mana aku bisa berdekatan dengan Steve.
“Semua keperluan kamu nanti Mom dan Steve yang tanggung. Kalau ada sesuatu bilang saja sama Mom dan Steve. Tapi karena Steve tidak paham tentang barang wanita, jadinya Mom yang urus untuk yang satu itu. Kalau sama Steve kamu perlu sebutin detailnya baru dia mengerti barang-barang yang kamu perlukan. ”
“Ah, hm.” Aku bergumam seraya mengangguk. Jadi, aku sengaja diminta membawa sedikit barang karena Ibunya Steve akan mempersiapkan banyak barang. Dan barang yang tidak ku bawa aku sumbangkan atas saran ibu Steve juga.
Kurasa keadaan ini cocok dengan kalimat sedekah tidak mengurangi harta. Aku menyumbangkan barang tapi kemudian diberi barang yang lebih banyak. Padahal aku tidak tahu karena tidak mendengar perkataan ibunya Steve.
“Thanks ya, Mom,” ucapku sambil tersenyum tulus. “Oh iya Mom,” aku teringat tentang nomor ponsel Steve, aku perlu untuk menghubunginya.
“Ya?”
“Steve..” aku belum menyelesaikan kalimatku dan terhenti karena bel apartemen berbunyi hingga terdengar di kamar baruku.
“Tunggu sebentar Mom.” aku keluar kamar dan menuju pintu apartemen, melihat siapa yang menekan bel apartemen. Apakah Steve sudah pulang? Sepertinya bukan, untuk apa dia menekan bel apartemennya sendiri?
Aku membuka pintu apartemen dan menemukan seorang pria yang terkejut mendapati diriku di apartemen Steve. “Mom, nanti Helen telepon lagi, ya?”
Setelah aku memutuskan sambungan telepon, aku memperhatikan pria di hadapanku.
“Siapa?” tanya kami berdua kompak. Oh jangan lagi memulai drama seperti tadi pagi.
Kali ini aku memutuskan menjawab lebih dulu dan lebih cepat, “Aku...” tapi kemudian aku sadar, aku harus memperkenalkan diri sebagai siapanya Steve? Calon tunangan?
Terdengar gila setelah Steve menolakku. Ayo berpikir! Aku harus cepat menemukan kata yang pas!
Oh! Aku tahu. “Aku Helena Davies,” ungkapku sambil mengulurkan tangan pada pria itu yang sepertinya seumuran Steve.
Akhirnya aku memutuskan mengatakan nama, memang seharusnya itu yang penting.
“Oh, maaf Miss Davies. Saya Dave Wright ingin menemui Mr. Felton, apakah beliau ada?” ucapnya formal sambil menyambut uluran tanganku.
Aku mengerutkan alis, “Tidak ada, bukannya dia sedang bekerja?” Salaman kami sudah terlepas.
Pria yang memiliki rambut hitam itu tampak terkejut. “Dia?”
Oh, aku mengiranya kaget karena tidak menemukan Steve, tapi justru hanya karena dia menyebut Steve ‘beliau’ dan aku menyebut Steve ‘dia’. Dia kaget karena panggilan ku?
“Aku kerabatnya,” balasku akhirnya.
Dave Wright mengangguk tanda mengerti. “Saya diberi tahu kalau Mr. Felton sedang libur hari ini, karena itu saya ingin mendiskusikan beberapa hal pada beliau." ucapnya sambil menunjukkan berkas yang dipegangnya.
“Kalau begitu, mau menunggu di dalam? Anda pernah ke sini sebelumnya, kan?” tanyaku.
“Memang pernah. Tapi kira-kira kapan Mr. Felton kembali?” tanyanya terlihat ragu untuk masuk.
Benar juga, jika Steve tidak pulang hari ini tidak mungkin Dave Wright menunggunya, kan? Selanjutnya aku berubah muram saat memikirkan Steve tidak pulang, apa karena keberadaanku dia enggan pulang ke apartemennya sendiri? Tapi dimana dia akan bermalam jika dia tidak pulang?
“Ah, kenapa tidak menghubunginya saja?” tanyaku.
“Sudah, dan beliau tidak menjawab panggilan saya. Saya pikir beliau sakit atau sedang beristirahat, tapi hal ini,” Dave menggoyangkan berkasnya, “Cukup penting, jadi saya ke sini sekaligus memastikan keadaan Mr. Felton. Beliau juga tinggal sendiri sebelumnya, jadi saya khawatir terjadi sesuatu pada beliau karena tidak menjawab panggilan saya.” Dave Wright berkata panjang lebar.
Aku tidak tahu hubungan Dave Wright dengan Steve, yang pasti Dave adalah rekan kerja yang perhatian.
Kemudian aku merasa gugup saat dia menatapku aneh. Dave tahu Steve sebelumnya tinggal sendiri, lalu kenapa aku tiba-tiba berada di tempat tinggal Steve? Mungkin seperti itu yang ada dipikirannya. Aku sadar karena Dave menatapku tajam saat dia mengatakan Steve tinggal sendiri.
“Bagaimana jika anda menelepon Mr. Felton sekarang Miss? Mungkin saja beliau akan mengangkatnya,” ucap Dave lagi.
Aku mengerutkan kening, tadi belum sempat minta nomor ponsel Steve pada ibunya.
“Kenapa tidak anda saja?” aku mengembalikan kalimatnya. Dia tampak mengerutkan alis dan semakin menajamkan pandangannya padaku.
“Tadi saya sudah mengatakan Mr. Felton tidak menjawabnya,” balasnya.
“Kalau begitu tidak ada bedanya jika aku yang menghubunginya, kan?” balasku.
“Tapi jika Miss Davies mau menelepon Mr. Felton sekarang mungkin beliau akan menjawabnya,” kata Dave lagi, masih dengan tatapan anehnya.
Aku mengerutkan alis semakin dalam. Aku ingin sekali menanyakan maksud ekspresinya dari tadi, apa dia mencurigaiku macam-macam? Kenapa melihatku begitu?
“Anda saja yang meneleponnya.” Aku kembali membalasnya.
“Kenapa?” tanyanya, dia juga mengerutkan alis. Aku juga ingin menanyakan hal yang sama, ada apa dengan perkataan-perkatannya dan ekspresinya?
Aku menghela napas, “Aku belum menyimpan nomor ponselnya karena tidak sempat.”
Jawabanku tampaknya tidak membuat Dave puas.
“Sebenarnya anda siapa?” tanyanya benar-benar mengintimidasi.
Aku menahan napas. Lalu akhirnya keluarlah pertanyaan yang sedari tadi ingin kukeluarkan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Saya yang bertanya lebih dulu, apa hubungan anda dengan Mr. Felton?” Dave bersikeras.
“Bukannya aku sudah bilang tadi, aku kerabatnya.” Tidak biasanya aku juga bersikap keras seperti ini, ini semua karena aku tidak ingin mengaku sebagai mantan calon tunangan Steve, calon tunangan yang ditolak.
Dave menggeleng mendengar jawabanku. Dia ternyata masih tidak menerima.
“Kerabat yang tidak tahu nomor ponselnya?” tanyanya, sekarang terdengar menyindir ditelingaku.
Dan itulah kenapa nomor ponsel jadi begitu penting sekarang.
*****