"Hai, Renata! Adikku tersay— Ah, tidak! Maksudku termalang! Hahaha."
"Florencia, tidak usah berbicara dengan calon mayat ini! Cepat pastikan dia meninggal," kata Ibu Bellacia—Ibu tiri dari Renata yang seolah benar-benar menunggu saat-saat ini.
Renata tercekat. Dia merasakan sakit dari tenggorokan hingga dadanya. Dirinya pun semakin sulit menarik nafasnya. Dia diracuni oleh kedua orang itu. Mengapa kedua orang yang menyayangi dirinya sejak remaja ini menginginkan kematiannya?
"Me…nga—" tersengal, Renata berusaha berbicara pada mereka namun tidak selesai.
"Mengapa? Kau ingin mengatakan kata itu?" Florencia tertawa sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "dasar bodoh. Tentu saja karena kami membencimu. Kami hanya menginginkan perusahaan La Luna milik ibumu."
Tubuh Renata terjerembab ke lantai. Dia merasakan air mata luruh di wajah sebelah kirinya. Dia tidak tahu air mata itu mengalir karena rasa sakit pada fisiknya atau justru karena perasaannya terluka saat ini. Kenapa dia harus mati di tangan dua orang ini hanya karena sebuah perusahaan? Renata kini menatap Bellacia, seolah mencari konfirmasi atas pernyataan mengerikan itu.
"Kenapa kau menatapku, anak bodoh? Ya, kami menginginkan perusahaanmu. Ah, tentu saja aku juga menginginkan ayahmu juga. Aku mencintai Ferdinand Soleil! Namun, pria itu selalu memprioritaskan dirimu dan bukan aku istrinya! Sekarang, akhirnya aku bisa menjalani hidup tanpa beban sebagai istri ayahmu!"
"Betul. Ayahmu terlalu mencintaimu dan ibumu yang sudah mati itu! Kasihan sekali, ibuku ini. Bila kau mati, ayahmu pasti hanya fokus pada ibuku! Aku sih tidak peduli padanya. Bagiku, kekayaan ini sudah cukup."
Florencia berjalan mendekati tubuh Renata. Dia juga menendang lutut Renata seolah mencari kepuasan atas rasa sakit Renata. Wajah Florencia begitu semringah bagaikan mendapat mobil baru di umurnya yang ke-17.
"Ah. Satu lagi! Aku membencimu, Renata! Semua orang menyayangimu, bahkan banyak mantan pacarku kagum denganmu. Namun, satu hal yang tidak bisa kuterima adalah kau bertunangan dengan orang yang kucintai! Dasar hama! Akhirnya, aku bisa membunuhmu dan membuatmu tahu aku membencimu!" Florencia kembali berkata dan terlihat begitu lega seolah beban di hatinya terangkat.
Renata memejamkan matanya. Sangat sulit menerima berbagai informasi yang begitu mendadak ini. Mengapa Florencia tidak pernah mengatakan apa pun selama ini? Bagaimana mungkin Renata tidak dapat menyadari sedikit pun keanehan dari kedua orang ini.
Saat membuka mata, mata Renata bertemu dengan Bellacia. Ibu tirinya itu benar-benar memandang Renata seolah dirinya seekor serangga. Rasa jijik dan keinginan untuk menyingkirkan Renata benar-benar tidak disembunyikan lagi.
Semua kejadian ini begitu menyakitkan.
"Akhirnya, aku tidak perlu berpura-pura lagi menyayangimu Renata. Melihatmu membuatku muak. Rambut perakmu mengingatkanku pada setiap foto yang dipajang ayahmu di rumah ini. Aku ini istrinya! Namun, ayahmu berperilaku seolah aku tidak ada dan bahkan memperlakukan orang mati itu seperti masih hidup," Bellacia kembali bersuara.
Renata tidak habis pikir. Dirinya begitu tulus menyayangi dua orang jahat ini. Dia benar-benar tulus, tetapi kenapa pembalasannya begini? Renata begitu menyesal. Rasa sayangnya dimanfaatkan begitu saja oleh kedua orang ini.
Perempuan itu kembali mengambil nafas untuk mengalihkan rasa sakitnya, tetapi tidak bisa. Dirinya menemukan bahwa tidak bisa bergerak, tidak bisa bersuara, tetapi memiliki kesadaran adalah tiga kombinasi paling mengerikan yang dirasakan Renata sebagai manusia. Dia tidak bisa berbuat apa-apa padahal dirinya sadar sedang dicelakai.
Racun apa yang mereka pakai dan dari mana racun ini berasal?
Apakah ada orang lain yang membantu kedua orang ini?
Lalu, di mana ayahnya? Mengapa dia belum menyelamatkan Renata.
Renata memejamkan mata menahan rasa sakit. Seolah film, Renata menonton semua kisah hidupnya. Dari lahir, pertama berbicara, semua dongeng malam Ibunya, ajaran ayahnya, mimpinya, masa sekolahnya, teman-temannya, bahkan Dewa Fenrir—yang kata Ibunya harus Renata hormati.
Di saat kritis ini, kepercayaan kepada Dewa Fenrir yang diturunkan Ibunya pada Renata seolah kembali pada diri Renata.
Renata ingat Dewa itu, Sang Maha Adil. Kata ibunya, Dia tidak pernah melewatkan sekecil apa pun perbuatan kaum-Nya. Dia menuntut balas atas rasa sakit kaum-Nya. Dia juga membalas kebaikan bagi yang membahagiakan kaum-Nya. Namun, Dewa Fenrir tidak juga memanjakan kaum-Nya. Jika ada dari mereka yang berbuat salah, Dewa Fenrir akan menghukumnya dengan adil.
Dewa kesayangan Ibu dan teladan Ibunya yang entah mengapa tergerus dari ingatan Renata setelah dia beranjak dewasa.
Renata memaksa dirinya untuk membuka mata berusaha menatap keduanya dengan tajam.
Meskipun dia tidak bisa menyentuh kedua orang itu ataupun membalas mereka, Renata berharap tatapan mata terakhir dalam hidupnya ini akan menghantui mereka. Setiap langkah mereka tidak akan pernah tenang. Dia juga berharap ayahnya membalas mereka. Atau bahkan Sang Maha Adil, Dewa Fenrir. Namun, kedua orang itu hanya tersenyum bahagia. Mereka kini tidak bersuara dan justru menikmati detik-detik kematian Renata.
"Anak bodoh. Mengapa kamu menatap kami seperti itu? Percuma saja. Kami tidak takut dengan calon mayat sepertimu."
"Betul sekali, Ibu. Dia hidup saja, kita tidak takut. Apalagi sudah nyaris mati begini?"
"Tidak akan ada yang menolongmu Renata. Jadi, nikmatilah detik-detik terakhirmu ini," ucap Bellacia.
"Akhirnya! Tiada lagi hama pengganggu dalam hidup kita," kata Florencia berbahagia sebelum mengulurkan tangannya pada Ibunya.
Bellacia menaikkan sebelah alisnya pertanda tidak mengerti maksud dari tindakan Florencia.
"Aku ingin menjabat tanganmu, Ibu," Florencia pun menyalami tangan Ibunya, "selamat Nyonya Soleil, misi Anda berhasil dan kesabaranmu berbuah manis.
"Hahaha… Anak pintar! Terima kasih juga anakku yang mau bersusah payah untuk terlihat menyayangi serangga kecil itu," ucap Bellacia senang. Perempuan itu benar-benar bangga pada putrinya yang mampu bersandiwara dalam menyayangi Renata. Padahal, usianya saat masuk kediaman Soleil juga cukup masih muda. Namun, Florencia benar-benar mampu membuat Renata terperdaya hingga sekarang berusia 21.
Saat kedua orang itu menikmati kebahagiaan mereka, Renata mengalami pergumulan luar biasa. Ada penyesalan dan sedikit harapan bercampur dalam sisa-sisa kesadaran.
Ibu, aku menyesal terlena dengan mereka dan nyaris melupakan semua ajaranmu.
Ayah, tolong tangkap basah kedua Iblis ini dan jangan terperdaya oleh siapa pun lagi setelah kematianku.
Dewa Fenrir, maafkan aku yang melupakan-Mu. Aku mengaku salah telah melupakan Engkau sebagai Alfa dan Omega dalam hidup. Aku berasal dan kembali pada-Mu, tetapi aku terlena akan hidup. Dewa, tolong balaskan mereka.
Mata Renata tertutup. Dia tidak bisa lagi membuka matanya. Badannya terasa dingin. Samar-samar, dia mendengar suara menggelegar menyerukan kata LUNA. Mengapa nama perusahaannya diteriakkan begitu keras?
Anehnya, dia merasakan telapak tangan yang besar dan hangat memegang wajahnya. Dia memaksa untuk melihat, namun tak bisa. Renata sangat yakin bahwa ini bukanlah tangan ayahnya yang kasar ataupun tangan tunangannya yang dingin. Sayangnya, kini Renata tak mampu berpikir dan benar-benar hilang kesadaran.
Renata, 21 tahun, mahasiswi dan pewaris La Luna meninggal di rumah pribadi keluarga Soleil.
Aneh! Benar-benar Aneh! Luar biasa Aneh!
Renata ingat dia baru saja meninggal. Namun, kini dia menemukan dirinya tiba-tiba terbangun di tempat tidurnya. Seperti minum dalam sekali tegukan.
Dia pun memeriksa handphone miliknya dan menemukan bahwa sekarang masih tanggal 7 Juli—sebulan sebelum kematiannya.
Ada apa ini? Apa semua hal yang aku rasakan tadi hanya mimpi? Namun, mengapa terasa begitu nyata?
"Nona Renata, apakah Nona ingin sarapan sekarang atau nanti?" tanya Ibu Sentia mengembalikan Renata dari lamunannya. Renata memandang wajah renta itu.
Dia mengingat Ibu Sentia yang tiba-tiba mengundurkan diri dua minggu sebelum Renata berumur 21 tahun. Perempuan itu telah merawat Renata sejak kecil dan mengabdi pada keluarga Soleil bahkan sebelum Renata lahir. Saat itu, Renata pikir semua hal itu wajar: mungkin, Ibu Sentia telah lelah dan ingin beristirahat. Namun sekarang, Renata sadar bahwa itu mungkin rencana duo iblis untuk menjauhkan Ibu Sentia dari Renata. Mereka tak akan berhasil membunuh Renata jika Ibu Sentia tetap ada di rumah sebab Ibu Sentia begitu teliti dan detail sebagai kepala pelayan di rumah ini. Kedudukan Sentia bahkan sedikit lebih rendah dibanding Bellacia di rumah Soleil.
"Nona?" kembali Ibu Sentia memanggil Renata.
"Sarapannya nanti aja, Bu, " balas Renata sambil tersenyum pada Ibu Sentia, "Oh iya, Bu. Sekarang jangan panggil aku nona lagi ya. Panggil aja Renata atau Nak seperti dulu lagi."
"Tapi, nanti Ibu Bellacia marah. Apa tidak apa-apa?"
Ya, Induk Iblis itu pandai sekali memanipulasi diriku dahulu. Aku bahkan sampai menuruti permintaannya untuk menerima Ibu Sentia memanggilku Nona, alih-alih namaku langsung atau nak seperti sejak aku kecil. Walaupun masih dekat, ada jarak yang tercipta antara Ibu Sentia dengan dirinya.
"Tidak apa-apa, Bu. Renata rindu dipanggil langsung namanya sama Ibu Sentia."
Mata perempuan tua itu berkaca-kaca. Dewa-Dewi tahu betapa dia menyayangi Renata sejak dalam kandungan. Dia merasa Renata bukan hanya tuannya, melainkan cucunya. Namun Bellacia hadir dan nyaris mengendalikan Renata tanpa gadis itu sadari.
Ibu Sentia ingin memberitahu namun panggilan Nona mengingatkan kembali perempuan tua itu akan tempatnya. Dia tidak bisa sembarang memberi nasihat jika tidak ingin dianggap sebagai pekerja yang kurang ajar. Bellacia begitu memengaruhi hidup Renata. Ibu Sentia pun tahu bahwa Renata masih haus akan kasih sayang Ibu dan mungkin didapatkan Renata dari Bellacia.
"Iya, Renata. Ibu juga rindu panggil nama Renata langsung," kata Ibu Sentia sambil mengusap setitik air mata yang tak terasa mengalir di pipinya, "kalau begitu, Ibu keluar dulu, ya."
"Baik, Ibu."
Renata kembali merenungi segala peristiwa yang baru dia alami ini. Mengapa dia bisa hidup dan kembali ke masa lalu? Perempuan itu berpikir namun tidak bisa menemukan jawabannya.
"Tunggu, jangan-jangan Dewa Fenrir yang membawaku kembali ke sini?" tanpa sadar Renata menyuarakan pikirannya.
Renata tidak menyadari bahwa dirinya tidak sendiri lagi di kamarnya. Seorang pria tua yang masih gagah telah masuk ke kamar Renata tepat setelah dia mengucapkan kata Dewa Fenrir. Maha Adil itu menunggu Renata sadar, tetapi perempuan itu tetap bergeming.
Merasa terlalu lama, sang Dewa pun mencolek pundak Renata dan menatap datar gadis itu seraya menyebut namanya, "Renata."
"AAA…Siapa Kau?"
"Dewa Fenrir. Aku datang sebab kamu tadi menyebut namaku."
"Ta-pi mengapa aku bisa melihat Dewa?"
"Kau penasaran?"
Renata mengangguk.
"Hufft. Baiklah, aku akan memberitahumu. Namun, hanya sekali dan tidak ada pengulangan. Jadi, dengarkan baik-baik. Kamu dapat melihatku karena kamu meminta untuk membalas dendam kepada manusia-manusia biasa itu. Selain itu, engkau memang salah satu anakku yang terpilih."
"Terpilih?"
"Ya, terpilih. Apakah kamu tahu kamu adalah keturunan manusia serigala yang berarti kamu adalah kaumku?"
"Maaf. Aku tidak ta—"
"Sebenarnya, Sarah mengajarkanmu apa, sih? Sampai kamu tidak mengetahui apa pun tentang kaummu sendiri?" gerutu Dewa Fenrir yang sekarang terlihat seperti seorang kakek yang mengomel. Jika saja Renata tidak ingat bahwa laki-laki di depannya ini adalah Dewa, dia tentu saja akan mengusir Dewa Fenrir dari kamarnya.
Tersadar dari lamunannya, Sarah kemudian kembali berbicara, "tunggu. Sarah? Apakah Dewa mengenal ibuku?"
"Tentu saja. Dia adalah salah satu keturunanku yang kusayang. Sungguh malang, dia tidak bisa pergi menemuimu karena satu dan lain hal, kecuali kamu ke Bulan."
"Apakah aku bisa ke Bulan?"
"Tentu. Tapi, kamu harus mati dan menjadi arwah saja. Wahai anak manusia serigala, bukankah kamu bilang ingin membalas dendammu?"
"Apa aku bisa?" ucap Renata yang masih labil. Bagaimana bisa dia memimpin suatu kaum. Sementara dia adalah manusia biasa yang kebetulan baru tahu sekarang dia merupakan kaum werewolf.
"Tentu saja, bisa! Mengapa kau meragukan dirimu? Aduh, kau sungguh berbeda dibanding Sarah, cucu kesayanganku."
"Berarti, aku ini cicit-Mu?"
"Aku benci mengakuinya, namun ya. Kau anak dari Sarah, berarti kau adalah cicitku. Yang paling menyebalkan adalah kau bahkan baru memanggil namaku dengan kesadaranmu sendiri setelah 21 tahun. Sungguh waktu yang lama!"
Dewa ini sungguh penggerutu. Mengapa dia begitu kekanakan? batin Renata.
"Hoi! Aku dapat mendengar suara hatimu jika aku mau! Ini adalah kedua kalinya kamu mengataiku."
Terkejut, Renata pun meminta maaf.
"Baiklah. Aku akan straight to the point, Renata. Kamu memang hidup kembali, tetapi kamu harus membalaskan dendammu tepat sebelum usiamu yang ke-21."
"Berarti sebulan lagi?" Renata masih menganggap jika ini adalah mimpi. Mimpi yang menjadi nyata. Dia menduga ini adalah halusinasi karena terlalu sering membaca komik serta buku-buku fantasi. Terutama buku werewolf. Renata bisa saja gila. Namun itu adalah nyata. Hal yang selama ini dibicarakan oleh mendiang Ibunya benar.
"Betul! Selain itu, kamu harus menemukan jodohmu. Ingat, kamu ini istimewa. Jadi, carilah pasangan yang tepat, ya!"
"Maaf, jika aku tidak salah mengingat, bukankah werewolf sudah memiliki jodoh yang ditakdirkan Selene?"
"Kau berbeda. Selene, kakakku, sangat menyayangimu dan memerhatikan kehidupanmu. Dia mengatakan bahwa dia akan memberikanmu tiga pilihan benang takdir yang harus kau pilih dengan baik."
"Kalau aku gagal memilih pasangan yang tepat?" tanya Renata.
"Kehancuran kaummu, anak muda."
"Apa? Mengapa konsekuensinya begitu besar?" Renata tak terima jika karena ulahnya, kaum, rakyatnya menjadi sengsara.
"Karena kau punya kekuatan besar. Kenalilah dirimu dan jangan memandang kecil dirimu. Selene sedikit memberikan spoiler bahwa kamu akan menjadi titik balik sejarah kaum werewolf dan manusia."
"Tapi—"
"Tidak ada kata tapi, Renata. Ah, ingat! Jodohmu bukanlah manusia biasa, ya!"
Tiba-tiba, Renata teringat tunangannya. Lalu, bagaimana nasib pertunangannya dengan Ferdinand? Renata sungguh menyayangi pria itu. Namun, belum sempat Renata bertanya, Dewa Fenrir telah meninggalkan kamarnya.
"Sial," lirih Renata
. Setelah berhasil memproses segala informasi baru yang dia dapatkan, Renata bergegas memulai rencananya. Perempuan itu tahu benar bahwa sesungguhnya yang dikatakan Bellacia benar: ayahnya sungguh memprioritaskan dia. Walaupun ayahnya tidak banyak berbicara, tetapi laki-laki itu selalu mengetahui kegiatannya.
Bodohnya Renata jika sempat berpikir ayahnya tidak menyayanginya, sehingga membuat dia haus akan kasih sayang orang yang salah. Namun, kesadarannya kini membuat Renata yakin untuk menemui ayahnya. Renata harus memastikan sesuatu tentang hubungan ayahnya dengan Bellacia.
Untuk duo iblis itu akan dipikirkan lain kali.
Renata
Ayah di mana?
Ayah
Di kantor. Kenapa?
Renata
Renata pengen ketemu. Boleh?
Ayah
Boleh.
Renata
Okeee
Renata pun bersiap-siap membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Hanya butuh sedikit polesan make-up untuk membuatnya terlihat menawan dan segar. Rasanya, tidak akan sedikit orang yang menolehkan mata mereka untuk melihat Renata jika berpapasan dengan perempuan itu.
"Renata, semangat!"
Keluar dari kamar dan menuruni lift, Renata menemukan Ibu Sentia yang sedang tersenyum dengan Ana, Leticia, dan pelayan lainnya. Mereka semua sedang menata makanan yang akan disantap Renata. Entah mengapa Renata juga tidak menemukan duo iblis ini di meja makan.
Apa mereka sudah sarapan? batin Renata.
"Bellacia dan Florencia—mereka di mana, Bu Sentia?"
"Bellacia dan Florencia?" para pelayan berbisik-bisik karena tidak biasanya Nona Muda Soleil yang satu ini tidak memanggil langsung kedua nama itu. Biasanya ada embel-embel ibu dan juga kakak di depannya. Hanya Ibu Sentia yang tersenyum dan memahami perubahan Nona-nya. Sepertinya, putri kecil Soleil telah tumbuh dan tidak lagi membutuhkan dua orang itu.
"Mereka sedang pergi untuk menemui Event Organizer yang akan membantu penyelenggaraan ulang tahun Renata yang ke-21," jawab Ibu Sentia.
Lagi dan lagi, pelayan lain kebingungan. Ibu Sentia kembali memanggil langsung nama nona muda. Apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang ini? Sepertinya mereka mendapatkan bahan pembicaraan saat mereka makan siang nanti.
"Ibu Sentia, tolong bantu saya membatalkan kerja sama denga EO pilihan mereka. Saya minta tolong Ibu Sentia yang mengatur pesta ulang tahun saya nanti. Untuk Bellacia dan Florencia, tidak usah dipikirkan."
Leticia menatap tidak suka penuturan Renata. Pelayan yang seumuran dengan Ibu Sentia itu mengepalkan tangannya. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun, semua itu tidak lepas dari pengamatan Renata. Perempuan itu baru sadar bahwa panca indranya begitu menguat setelah kembali hidup.
"Kenapa, Leticia? Kau sepertinya tidak suka dengan perintahku?"
Tak siap, Leticia berusaha menjawab pertanyaan Renata, "tidak, nona muda. Saya tidak berani untuk tidak suka dengan perintah Anda."
"Baiklah. Kalau begitu, saya makan dulu. Yang lainnya boleh pergi. Saya ingin berbicara dengan Ibu Sentia."
"Baik, Nona!" jawab para pelayan lainnya serentak sebelum meninggalkan tempat itu. Di sisi lain, Ibu Sentia bingung mengapa Renata menahannya. Apa ada hal lain yang diinginkan gadis itu? Sayangnya, yang menjadi sumber pikiran Ibu Sentia, justru asik memakan makanannya dan sedikit lupa bahwa Ibu Sentia masih berdiri—menanti Renata untuk berbicara sesuatu.
"Renata, apa ada yang ingin kamu bicarakan?" Ibu Sentia tidak tahan lagi untuk bertanya pada Renata.
Terkesiap, Renata langsung menyuruh Ibu Sentia duduk di sampingnya. Dan setelahnya, Ibu Sentia duduk walaupun masih dalam keadaan bingung.
"Ibu, selain tugas aku tadi, aku harap Ibu dapat mengawasi Bellacia dan Florencia. Ibu mungkin sedikit sadar bahwa aku telah mengetahui sifat buruk dua orang tersebut, bukan?"
"Iya, Renata. Saat kamu menyuruh Ibu untuk memanggil nama kamu langsung, Ibu yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan mereka. Ditambah lagi, kamu tadi meminta Ibu untuk membatalkan kerja sama antara keluarga Soleil dengan EO pilihan mereka. Walaupun Ibu tidak tahu detailnya, tetapi Ibu sangat senang untukmu, nak."
"Iya, Bu. Untuk saat ini, Renata belum bisa memberitahukan detailnya. Tapi, aku mohon perhatikan mereka. Renata curiga ada pelayan lain yang mungkin juga sekutu mereka, seperti Leticia contohnya. Dia terlalu menunjukkan ketidaksukaannya pada perintahku tadi. Atau mungkin yang lain? Renata tidak tahu siapa saja yang sudah berpindah tuan baik karena terpaksa atau memang dari dalam hatinya."
Ibu Sentia benar-benar dipenuhi rasa suka cita. Nonanya mulai memerhatikan sekelilingnya selain masalah pendidikan dan pekerjaan. Dia tidak perlu pusing dan memendam semuanya sendiri.
"Baik, Renata. Nanti, Ibu akan memberitahukan perkembangannya."
"Baik, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu."
"Sama-sama, Renata. Kalau begitu, apa Ibu bisa pergi sekarang atau masih ada yang ingin Renata sampaikan?"
"Tidak ada lagi, Bu. Kalau bisa, Renata minta tolong Ibu untuk cepat memutuskan kerjasama dengan EO itu. Jangan sampai terlalu lama."
"Baik. Kalau begitu, Ibu pergi dulu, ya."
"Siap, Bu. Aku juga makan dulu."
Renata akhirnya makan kembali dan bersiap ke kantor untuk menemui ayahnya.
"Nona Renata. Bapak Ferdinand sudah menunggu di atas," kata sekretaris ayahnya yang ternyata sudah menunggu dia di lobby.
"Iya, Nona. Bapak suruh saya jemput Nona karena sepertinya urusannya mendadak sekali."
Renata tersenyum mendengar penuturan Pak Rey barusan. Apakah ayahnya merasakan keanehan atas keinginan Renata yang ingin menemuinya? Sembari berjalan, Renata memikirkannya dan menemukan jawabannya. Bodohnya, dia! Renata selama ini selalu mendekatkan diri pada Bellacia dan Florencia. Tanpa sadar dia yang membatasi ruang antara dirinya dan sang ayah. Dia merasa sedikit bersalah.
Dalam perjalanan, Renata menemukan karyawan Perusahaan Soleil yang menyapa dirinya. Seperti di kehidupan sebelumnya, Renata membalas sapaan mereka. Namun kali ini, perempuan itu memerhatikan ada keanehan pada beberapa orang. Tatapan mereka lain. Sepertinya intuisi Renata juga muncul setelah kelahirannya kembali. Renata merasa bahwa dirinya perlu untuk mencari tahu tentang kemampuan apa saja yang dia dapatkan untuk merancang strategi yang baik.
Tak terasa, Renata kini telah sampai ke ruangan ayahnya. Tanpa mengetuk pintu, Renata langsung masuk dan dia menemukan ayahnya sedang menatap pigura. Ayahnya dengan terburu-buru berusaha menyembunyikan pigura tersebut dan meletakkannya ke dalam laci. Yang ayahnya tidak tahu adalah Renata tahu benar foto yang ada di pigura tersebut.
Di sana ada foto mereka bertiga. Renata, Ayahnya, dan Sarah—Ibunya. Itu liburan terakhir mereka sebelum kematian mendadak ibunya. Kejadian pahit yang penuh tanda tanya dan selalu dilupakan Renata. Dia dulu tidak sadar bahwa ayahnya mungkin sama terluka dengan dirinya. Namun, dia memaksa ayahnya untuk "bangkit" dan melupakan ibunya. Ah, mungkin kehidupan sebelumnya adalah buah pahit akibat perlakuan tidak adilnya pada ayahnya.
Kini, Renata yakin dengan perasaan ayahnya. Namun, dia harus tetap mengonfirmasinya. Renata tidak ingin kembali egois dan membuat ayahnya mengorbankan dirinya kembali.
"Renata, kamu sudah datang? Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?"
Tanpa basa-basi, Renata langsung bertanya pada ayahnya, "Apa ayah masih mencintai Sarah, Ibuku?"