Pernah tidak kalian membayangkan adanya kehidupan lain selain di bumi? Seperti dunia lain misalnya. Bukan di galaksi atau planet lain, melainkan benar-benar dunia lain. Di mana dunia itu juga dihuni oleh sekumpulan manusia seperti manusia pada umumnya, dan yang membedakan hanya peradaban dan situasi kehidupan.
Amelia akui, dia pernah memikirkan dunia seperti itu, bahkan pernah membayangkan hidup di dunia itu. Hidup bahagia tanpa khawatir kekurangan kasih sayang dari siapa pun. Terkadang Amelia berharap dalam doa agar diberi satu kali kesempatan untuk hidup di dunia impiannya.
‘Harapanmu dikabulkan Amelia.’
Begitu mudahnya terjadi, dunia yang hampir sama seperti khayalan Amelia muncul. Amelia yang telah mati, kini hidup kembali selayaknya manusia biasa. Yang membedakan hanya lah situasi dan kondisinya yang tidak lagi berstatus biasa.
‘Kamu terlahir lagi, itu hebat, sebuah keberkahan besar. Namun, kenapa harus menggantikan wanita yang sudah bersuami? Ini pasti sudah gila!’
Ya, seperti yang kalian baca, Amelia sungguh hidup kembali dengan jati diri baru, status baru serta peradaban baru. Serba baru hingga hampir membuat Amelia menggila.
Dirinya yang biasa saja selama di kehidupan pertamanya, kini menggantikan wanita tersohor yang dibenci oleh suaminya sendiri karena kejahatan serta keegoisannya. Castarica Gene Leslie, itulah jati diri Amelia sekarang. Terlahir sebagai Putri kesayangan dari Raja Roland dan Ratu Merica. Memiliki dua saudara laki-laki bernama Pangeran Felix dan Pangeran Chris. Putri Castarica terkenal bukan hanya karena memiliki kecantikan yang tiada dua, tapi juga karena perangai buruknya sebagai kaum penindas. Kehidupan sehari-hari Castarica hanya lah membucini Duke Erick, sang suami tercinta, sampai-sampai suaminya merasa jijik dan kesal padanya. Ada pun aktivitas lain hanyalah membully wanita yang berusaha mendekati suaminya.
‘Ini bukan berkah! Tapi kutukan! Kenapa aku harus hidup lagi menggantikan wanita iblis ini. Sungguh kenapa bukan menggantikan Aliyah saja, kenapa harus Castarica?’
***
“Em?” Terdengar suara rintihan pelan. Seorang gadis berambut putih indah yang terbaring di kasur perlahan membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit ruangan yang terasa amat asing baginya. Cukup lama gadis itu menatap langit-langit ruangan tersebut, hingga tiba-tiba dia terlonjak kaget, bangkit dari tidurnya lalu duduk hingga selimut yang menutupi sebagian tubuhnya terturun.
“Di mana aku? Kamar siapa ini? Tidak, tidak, apa yang terjadi ....”
Gadis itu menggeleng keras sembari memegang kepalanya. Berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi padanya hingga dia bisa berakhir di kamar asing ini. Namun, yang dapat ia ingat hanya lah saat terakhir dia terkulai lemah di pinggir jalan akibat tertabrak mobil. Setelah itu semuanya gelap. Seharusnya dia sudah mati setelah gelap itu menghampirinya, tapi sekarang? Tidak tahu bagaimana dan apa yang terjadi, dia bisa berada di dalam kamar asing ini.
Plak!
“Ugh, sakit, uy!” Tiba-tiba saja gadis itu menampar pipinya, meringis sebentar kemudian terdiam lagi seperti orang bodoh.
‘Jadi aku masih hidup? Tidak mati? Tapi bagaimana bisa?’ Pikirannya keruh, masih belum dapat mengerti dengan keadaannya sendiri. Dia sangat yakin, seharusnya setelah dirinya tertabrak, melayang di udara, kemudian jatuh terantuk di pinggir trotoar, dan bersimbah darah banyak, kematian menjadi hadiah utama atas kecelakaan maut itu.
Tapi apa sekarang? Dia masih hidup dan bahkan bisa bernapas lega tanpa merasakan sakit sedikit pun meski telah mendapat tabrakan maut.
‘Jadi apakah sekarang aku sudah menjadi hantu gentayangan?’ Gadis itu segera menggeleng. ‘Tidak mungkin, jika aku sungguh menjadi hantu, tidak seharusnya tamparanku tadi terasa sangat perih. Hantu itu tembus pandang, mana bisa merasakan sakit.’
Lalu apa maksudnya ini?
Tepat saat gadis itu sibuk memikirkan apa yang terjadi pada dirinya, seorang wanita asing masuk tanpa permisi sambil membawa satu baskom perak kecil serta handuk kecil di pundaknya.
Melihat penghuni kamar itu sudah terbangun, wanita paruh baya itu menyapa, “Wah, lihatlah anugerah ini, Anda sudah bangun rupanya, Nona.” Karena kedatangannya tidak disadari, sapaannya membuat gadis itu terkejut dan ketakutan.
“Ka-kamu siapa?” tanya gadis itu yang tidak lain adalah Amelia.
Sesaat wanita paruh baya itu berhenti berjalan, menatap Amelia kebingungan, dan detik berikut langkah kakinya kembali berjalan seiring jawaban yang ia lontarkan.
“Nona ini kenapa? Mimpi buruk lagi? Saya Erin, kepala pelayan di kediaman ini. Tidak mungkin bukan Anda melupakan saya?”
“Kepala pelayan?” Amelia mengernyit heran, tapi tetap berpikir positif, berusaha mengingat-ingat apakah dia pernah mengenal dengan wanita itu. ‘Tunggu dulu, memangnya aku pernah mengenal wanita ini? Sepertinya tidak. Ini saja baru pertama kalinya aku melihatnya.’
“Kamu jangan sembarangan bicara, aku saja tidak mengenalmu.” Amelia segera menentang karena memang dia tidak mengenal wanita paruh baya itu.
Erin tak menggubris ucapan Amelia, ia tetap mendekat lalu meletakkan barang bawaannya di meja. Setelah itu Erin menyibak selimut Amelia, membuat Amelia terkejut hebat.
“A-apa yang kamu ingin lakukan! Jangan bilang kamu ingin mengambil organ tubuhku lalu menjual secara ilegal di luar sana!” Panik, Amelia segera menutup tubuhnya dengan ke dua tangan yang menyilang di dadanya. Terbayang sudah di kepalanya kalau dia akan dibedah, lalu organ tubuhnya diambil. Begitu yang Amelia lihat di berita-berita terkini, kasus pembunuhan beruntun, di mana para korban ditemukan dengan kondisi tubuh tak lagi lengkap, sebagian organ tubuh mereka hilang alias diambil lalu dijual.
“Apa yang Anda katakan, Nona?” Erin terkejut mendengar perkataan tak masuk akal dari mulut Amelia. Alisnya bertaut cukup keras dengan wajah yang perlahan terlihat masam. “Mana mungkin saya berani membunuh Anda yang merupakan Putri terhormat kerajaan Isaac. Yang ada saya dan seluruh keluarga saya akan dihukum penggal jika saya melakukan tindakan tercela nan jahat itu.” Lanjut Erin, menentang tuduhan Amelia. Mana mungkin Erin berani melakukan tindakan jahat itu meski sebenarnya Erin memang tidak menyukai Amelia, dibandingkan dengan membunuh Amelia, Erin lebih memikirkan nasibnya jika dia sungguh membunuh gadis berstatus tak biasa itu.
“Hah? Kamu ngomong apa tadi? Putri?” Amelia tertegun, cengok sebentar lantaran belum konek dengan ucapan Erin. “Oke kalau Anda bukan penculik atau semacamnya, tapi tidak perlu mengatakan saya Putri, Putri, Putri ... aahh, Putri apa pun itu. Karena kenyataannya saya bukan lah Putri yang Anda maksud, saya ini hanya lah gadis malang yang baru patah hati. Ingat, ini sudah tahun berapa? Zaman sekarang bukan lagi peradaban kerajaan zaman dahulu. Kita tidak sedang memainkan sinetron, oke, jadi jangan ada drama-dramaan di sini.”
“Nona, Anda semakin aneh saja, sepertinya Anda kurang sehat. Apa mungkin karena semalam Tuan Duke tidak datang ke kamar Anda.” Erin mulai dilanda kebingungan, pasalnya sikap Amelia hari ini cukup aneh dari biasanya, ya, meski Amelia memang sudah aneh dari lahir, selalu bersikap posesif pada apa pun yang ia sukai. Namun, untuk hari ini sikap Amelia kelewatan aneh karena berbicara hal yang tidak masuk akal.
Amelia yang tidak mengerti maksud ucapan Erin lantas mengernyit keras. “Tunggu dulu, kenapa jalan pembicaraan Anda semakin melenceng saja. Aku ini habis tertabrak mobil, seharusnya sudah mati dan berada di surga. Lalu bertemu malaikat impian yang akan melayaniku tiap harinya. Kenapa juga ada sangkut paut dengan Tuan Duke yang anda maksud itu? Apa dia malaikat penjaga pintu surga?” timpal Amelia, sebenarnya dia masih bingung, apakah dia sungguh masih hidup atau sudah berada di surga. Dan dia beranggap kamar ini adalah kamar menuju surga.
Erin mendesis pelan, sudah tidak tahu harus membalas seperti apa. Sama halnya seperti Amelia, dia juga merasa topik pembicaraan semakin aneh saja. Aneh karena Amelia terus membalas dengan perkataan aneh dan tak masuk akal.
“Mobil? Mati? Surga? Malaikat? Saya rasa Nona sedang sakit. Saya akan panggilan Tabib untuk Anda.” Erin rasa memang Tabib yang diperlukan Amelia sekarang. Dengan sikap Amelia yang semakin aneh saja, Erin khawatir kalau majikannya ini sudah tidak waras lagi, lantaran terus diacuhkan oleh suaminya sendiri. Pasti begitu, pikir Erin.
Beranjak Erin ingin memanggil Tabib, khawatir sikap aneh Amelia semakin parah. Bersamaan dengan kepergiannya, Amelia berteriak setengah keras memanggilnya.
“Tunggu dulu! Siapa yang Anda katakan sakit? Saya? Ohoho ... justru Anda yang sakit. Saya memang habis merasa galau karena masalah cinta, tapi bukan berarti saya sudah tidak waras lagi.” Amelia mendengus keras, membalas ucapan Erin yang menurutnya terdengar seperti ejekan untuknya. Seolah Amelia ini mengalami sakit yang membuatnya kehilangan kewarasannya.
‘Aku? Gila? Huh, kamu saja yang gila?’
Namun, Erin tak menggubris ucapan Amelia, Erin justru semakin yakin kalau Amelia sudah menjadi gila, sebab cara bahasa Amelia sejak tadi terdengar sangat asing dan aneh tentunya.
Melihat Erin terus pergi tanpa memedulikan ucapannya, Amelia segera beranjak, berniat mengejarnya.
“Hei! Tunggu!”
Namun, naas, saat Amelia hendak mengejar wanita paruh baya itu, Amelia tiba-tiba saja tersungkur ke lantai akibat kakinya tersangkut di selimut. Dan naasnya lagi, wajahnya yang pertama kali menghantam ubin.
Bruk!
“Aduuhh! Sa-sakit! Eestt ....” Amelia segera bangkit dan duduk di lantai sembari memegangi hidung malangnya yang pertama kali menabrak lantai. Bisa ia rasakan sesuatu kental keluar dari sana.
“Da-darah?! Aku mimisan?!” Terbelalak Amelia melihat darahnya sendiri. Meski bukan kali pertamanya Amelia melihat darah, tapi inilah kelemahannya, dia sangat fobia terhadap darah, mau itu darah hewan atau darah manusia. Dan setiap kali ia melihat darah, kepalanya pasti akan berdenyut sakit dengan matanya yang berputar-putar seperti orang juling.
“Ugh! Eesstt ....” Tepat seperti yang ia khawatirkan, kepalanya mulai berdengung sakit. Sangat sakit dari rasa sakit biasanya. Amelia memegang kepalanya, meremas rambutnya sambil meringis pelan menahan sakit.
Bersamaan dengan itu, sekelebat ingatan asing masuk ke otaknya. Dan entah karena kepalanya yang memang terasa sakit atau rasa sesak yang dia dapat ketika ingatan asing itu masuk, Amelia tiba-tiba dia jatuh pingsan.
***
“Siapa dia, Yona?”
Bocah cantik berambut putih panjang, memiliki mata biru indah seperti berlian, bertanya pada seorang pelayan paruh baya di sampingnya. Pandangannya pada bocah laki-laki berusia sekitar 7 tahun tidak terlepas. Entah kenapa dia merasa tertarik dan enggan untuk melepaskan bocah laki-laki itu dari pandangannya barang sejenak, seolah takut kehilangan bocah tersebut.
“Dia Tuan Muda Erick Wesley, anak dari Tuan Duke Aroy Wesley,” jawab pelayan bernama Yona.
Bocah cantik itu terdiam sejenak, ada yang aneh menurutnya. “Kenapa aku tidak pernah melihatnya, Yona? Aku pikir Paman Aroy tidak memiliki anak.”
“Itu karena Tuan Muda Erick dibesarkan di wilayah perbatasan dan baru bisa pulang setelah mendapat kabar kematian ibunya. Kasihan, dia masih sangat kecil, tapi sudah harus menghadapi situasi menyedihkan seperti ini, apalagi Tuan Muda Erick tidak pernah pulang lantaran Duke Aroy tidak ingin dia pulang sebelum menjadi pria hebat,” jelas pelayan itu lagi.
Mendengar penjelasan Yona, bocah perempuan itu mengangguk, seakan mengerti dengan penjelasan pelayan itu. Dia kembali terdiam sambil terus menatap punggung bocah bernama Erick Wesley itu, cukup Lamat ia menatapnya lantaran rasa penasaran sekaligus simpatik setelah mendengar kisah malang tentang Erick.
Deg!
“Ah ....”
Saat gadis kecil terus menatap Erick yang memunggunginya, bocah laki-laki itu tiba-tiba berbalik, menatapnya untuk sesaat dengan raut wajah datar, lalu kemudian pergi begitu saja dari tempat pemakaman.
‘Tampan sekali. Dia ... dia hebat! Dia tidak menangis meski telah kehilangan sosok yang berarti baginya,’ puji gadis kecil itu dalam hati dengan pipi yang mulai bersemu. Dia sangat terkesima melihat Erick tak sedikit pun mengeluarkan air mata di hadapan makam ibunya. Jika itu dirinya sudah pasti ia akan menangis keras hingga meraung-raung seperti orang gila lantaran ditinggalkan sosok yang amat disayang.
Setelah Erick benar-benar hilang dari pandangannya, barulah dia kembali tersadar dari rasa kekagumannya pada Erick.
“Yona!”
Tiba-tiba gadis kecil memanggil pelayannya lagi dengan nada sedikit keras. Untung saja mereka berdiri di barisan belakang sebab tidak ingin terlihat banyak orang, jika tidak, semua orang pasti akan melirik ke arahnya, dan sudah pasti orang tua serta ke dua kakaknya akan menegurnya sebab bersikap tidak sopan, berteriak di saat acara pemakaman berlangsung.
“Ya, Putri,” jawab Yona segera.
Bocah cantik itu menatap ke arah Yona dengan pandangan cukup serius. “Ketika aku besar nanti, aku ingin Erick menjadi suamiku,” ucapnya enteng, dan jangan lupa dengan senyum tanpa beban yang mengakhiri ucapannya.
“Apa?!” Yona terkejut sampai menjerit. Segera saja dia menutup mulutnya ketika seseorang di depannya berbalik lalu memberinya tatapan tajam, seakan berkata, diamlah, pemakaman sedang berlangsung, apakah kau tidak tahu sopan santun? Yona pun segera meminta maaf atas ketidak sopanannya.
Yona menunduk lalu berbisik pelan pada bocah cantik itu. “Putri, Anda tidak boleh berkata seperti itu, jika yang lain mendengar ucapan Anda tadi, bisa terjadi kesalah pahaman nantinya.” Yona menatap majikan kecilnya cemas sekaligus terkejut.
Bagaimana tidak? Bayangkan, bocah kecil yang masih berusia 4 tahun tiba-tiba saja berkata sesuatu hal dewasa begitu lugasnya, tanpa berpikir apakah ucapannya itu cukup wajar atau tidak? Usianya masih 4 tahun, loh! Tapi dengan santainya berkata ingin menikah dengan pria yang baru saja dia kenal. Sudah pasti mengejutkan!
Raut wajah gadis kecil itu berubah datar. Dia tahu apa yang dia lakukan memang terlalu mengejutkan, tapi apalah daya dia sudah bertekad dan berjanji pada dirinya bahwa ia akan menemani Erick seumur hidupnya, agar pria kecil itu tidak kesepian.
“Aku ingin membantunya menghapus kesedihannya, Yona. Jika Ayahnya tidak sayang padanya, maka aku yang akan menyayanginya,” ucapnya mantap.