Bab 1

Ervan melirik sekilas pada jam digital di pergelangan tangan kirinya, menghitung sesaat, ternyata sudah lebih dari tiga puluh menit ia duduk tanpa melakukan pergerakan apapun di salah satu sudut Crystal View yang ia miliki di kawasan Jakarta Timur. Selama itu pula matanya tak beralih dari tubuh putra bungsunya yang tidur sangat pulas hingga sedikit menganga. Bocah lelaki dengan rambut ikal dan pipi sebulat bakpao merekah itu tertidur sangat nyenyak di atas pangkuan seorang gadis muda yang Ervan yakini adalah salah satu dari guru pengajar Giri di sekolah barunya.

Sudah dua bulan ini Ervan mengajak Tama dan Giri untuk pindah ke ibu kota. Hal tersebut dikarenakan ia menerima tawaran dari salah satu stasiun televisi yang mengajaknya menjadi salah satu juri di ajang lomba memasak bergengsi tanah air. Ervan tak perlu berpikir dua kali untuk menerima tawaran menarik tersebut, apalagi sudah satu tahun ini ia membuka cabang cafenya di Jakarta. Selain itu Ervan memang sudah lama berencana pindah dari pulau Dewata, karena terlalu banyak kenangan menyesakkan di sana. Entah itu kenangan indah bersama perempuan yang tak bisa ia miliki ataupun kenangan pahit akan hancurnya rumah tangganya bersama Irina.

Ini pemandangan yang langka. Batin Ervan tergelitik penasaran.

Sangat langka. Karena itu sedari tadi chef tampan itu tak melarikan netranya kemana-mana selain pada putranya, sesekali juga melirik pada perempuan yang siang ini tampil modis dengan blouse berwarna hijau tua dipadukan kulot panjang berwarna cerah. Tak heran jika Ervan menyebut ini sebagai pemandangan tak biasa, karena sebelum-sebelumnya Giri sangat sulit untuk akrab dengan orang asing. Dengan Sashi yang notabene adalah kakak kandung Ervan saja balita itu cenderung menghindar, juga dengan beberapa pengasuh yang sudah sangat sering berganti-ganti karena tak ada yang mampu ‘menaklukkan’ seorang Giri. Tapi lihat saja sekarang, bocah itu tidur dengan damainya di pangkuan orang yang baru ia kenal.

Baru saja Ervan hendak bangkit berdiri, terpaksa  kembali mendaratkan bokongnya pada sofa tunggal yang tadi ia duduki. Hal tersebut karena ada satu sosok lain yang mendekati perempuan muda tersebut. Yang sepertinya masih rekan satu profesi si gadis yang kini tangannya mengusap lengan Giri dengan perlahan itu.

“Gis, belom pulang juga lo?” tanya perempuan berkacamata hitam yang baru saja memasuki area café.

“Lo gak liat gue gak bisa gerak gini. Ni bocah anteng banget dari tadi. Mana tega gue bangunin.” jawab si perempuan yang tadi dipanggil ‘Gis’ itu.

“Bokapnya belom dateng?”

“Boro-boro dateng, pesan terakhir gue aja belom dibaca.” jawab si Gis Gis ini dengan wajah sebal.

Ervan sontak merogoh saku celana guna mencari benda pipih yang sedari tadi belum ia rubah dari mode silent. Cepat-cepat ia membuka aplikasi berlogo hijau itu, dan benar saja di sana ada tiga pesan yang ternyata terlewat belum ia buka.

Wali kelas Giri : Giri bilang minta diantar ke tempat makan yang namanya Crystal View pak. Saya tunggu bapak di sana lima belas menit lagi. Kasihan kalau Giri terlalu lama rewel.

Wali kelas Giri : Kami sudah sampai pak. Pak Ervan dimana?

Wali kelas Giri : Bapak dimana? masih jauh? Giri mengantuk pak.

“Ngapain sih Giri minta antar ke sini?” tanya si sahabat Gis-Gis,  membuat Ervan menajamkan pendengarannya lagi pada dua sahabat yang sedang berbincang santai itu.

“Mana gue tau, tadi pas dia nangis kejer. Cuma bilang minta antar ke tempat papanya sering ajak  dia makan. Namanya Crystal View. Laah di Jakarta, tempat makan yang namanya Crystal View cuma ini kan?”

“Gisa.. Gisa…”

Oke ternyata namanya Gisa.

“Ribet banget dah nasib lo jadi guru toddler, tiap hari gak senewen apa hadepin bocah piyik yang bikin repot gitu? Salah lo sendiri deh, kemaren sempat nolak tawaran jadi dosen di Bina Bangsa.” protes si sahabat Gisa ini.

“Ribet sih nggak Ra, gemes aja kadang-kadang. Ni anak masih baru satu minggu trial di Eleven School, pindahan juga dari luar kota. Masih adaptasi gitu, makanya agak rewel.” jawab si Gisa santai. Jemarinya asik berputar-putar memainkan rambut ikal Giri yang mulai memanjang.

“Ckk… alasan lo aja.” sahabat Gisa mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pramusaji café.

“Elo tau sendiri lah kenapa gue lebih milih jadi guru toddler dari pada jadi dosen kan?”

“Iya deh iya… elo suka anak kecil karena peris—”

“Bentar.. bentar, gue telpon aja deh bapaknya si Gigi ini. Kaku nih paha gue.” potong Gisa lantas sibuk mencari kontak ayah dari salah satu muridnya itu.

“Giri maksud lo?”

“Gue lebih suka manggil dia Gigi, kalo ketawa kocak banget pas keliatan gigi kelincinya gitu.” Gisa terkekeh pelan. Perlahan ia menempelkan ponselnya pada telinga kiri, berharap kali ini panggilannya akan diangkat oleh orang tua dari muridnya ini.

Ervan yang sadar ponselnya berdering nyaring mendadak diserang panik saat melihat nama Wali kelas Giri berkedip di layar ponselnya. Apalagi selang satu detik kemudian sepasang netra dari gadis bernama Gisa itu menatapnya tak putus seolah penasaran dengan gerak geriknya yang mendadak kikuk. Sejak mendaftarkan sang putra bungsu ke Elven School, Ervan memang belum sempat bertemu langsung dengan wali kelas Giri. Karena saat itu sang wali kelas sedang berhalangan hadir, jadi Ervan langsung berurusan dengan kepala sekolah di sana. Dan sekarang, terjawab sudah rasa penasaran Ervan pada sosok wali kelas yang beberapa hari ini sering diceritakan oleh Giri.

“Pak Ervano, saya Magisa wali kelas Giri di Eleven School.” ucap Gisa masih fokus pada sosok pria yang duduk tak jauh dari tempatnya.

“I- iya saya Ervan.” Ervan mendadak berdiri salah tingkah, seolah penyamarannya terkuak secara paksa.

Gisa menurunkan ponselnya perlahan. Telunjuk kanannya terangkat menunjuk pada Ervan yang tengah berjalan dengan canggung mendekatinya.

“Sa- sa- saya Ervan.” seru Ervan terbata-bata seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Pak Ervano, papanya Narendra Giri?” tanya Gisa lirih sambil menatap pada balita yang masih nyaman terbuai mimpi dalam pangkuannya.

“I- iya saya papanya Narendra Giri.”

Gisa lantas memutar bola matanya jengah. Seolah sedang dikerjai habis-habisan oleh sepasang ayah dan anak ini. “Astaga…” Gisa sedikit mengacak rambutnya kesal.

“Bapak gak baca pesan dari saya?” protes Gisa masih bisa mengontrol suaranya agar Giri tak terkejut.

“Ponsel saya silent, jadi gak denger. Ma- maaf miss.”

“Terusss?? Dari tadi bapak duduk  kayak patung hampir satu jam disitu ngapain? padahal udah jelas-jelas tau anak bapak lagi sama saya.” Gisa sedikit mendelik kesal pada wali murid aneh yang baru ia temui ini.

Ervan gelagapan. Tak bisa menemukan alasan tepat untuk menjawab pertanyaan dari perempuan berlesung pipi yang terlihat sangat jengah siang hari ini. “Hmm.. itu.. itu karena.. hmm takut Giri terbangun.”

“Gigi.. hmm.. Giri kan anak bapak. Tanggung jawab dong.”

“I- iya.. miss. Ma- maaf. Sekali lagi maaf.” Ervan heran kenapa ia mendadak gagap seperti ini. Pria itu bergerak pelan mendekati Gisa. Sedikit menunduk untuk memindahkan sang putra ke dalam gendongannya.

“Biar Giri sayang gendong.” Ervan mengulurkan tangannya perlahan.

“Ya iyalah. Masa saya yang bapak gendong!! Gimana sih?”

Gisa sedikit menaikkan nada suaranya. Membuat balita di pangkuannya menggeliat pelan. Bukan menggeliat untuk bangun dari tidurnya, si kecil Giri justru makin erat memeluk perut wali kelasnya dan melanjutkan perjalanan mimpinya lagi.

Ervan memejamkan mata sejenak. Baru sekali ini ia bertemu dengan perempuan yang nampak kalem  serta tenang dari luar namun ternyata ketus dan banyak bicara blak-blakan. Sudah hampir tiga tahun sejak ia menyandang status duda, baru kali ini Ervan temui perempuan dengan perangai unik seperti sosok mungil di depannya ini. Sosok yang sepertinya akan membuat hidupnya lebih berwarna untuk beberapa waktu ke depan, karena sosok mungil inilah yang ternyata mampu menaklukkan tingkah ajaib putra bungsunya.

▪️

Tbc

Bab 2

"Morning miss Gisa."

"Morning Satria."

"Haiii Miss Gisa."

"Haiii Nadira."

"Hello Miss Gisa."

"Hello princess Keana."

"Morning my beauty Miss Gigi."

Gisa mendadak menghentikan langkahnya di depan kelas nursery 2, dimana bocah lelaki yang memanggilnya berdiri menyambut kedatangannya.

"Morning little Gigi." balas Gisa seraya berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan bocah kecil berambut ikal di depannya. Si bocah yang didekati Gisa justru menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri dengan gerakan menggemaskan.

"Gigi tumben nih dateng lebih pagi?" tanya Gisa pada pemilik pipi bulat bernama Narendra Giri tersebut.

"Yes Miss, soalnya pak Damar sakit jadi gak bisa anterin go to school."

Gisa mengangguk pelan. Damar yang disebutkan Giri tadi adalah pria paruh baya yang beberapa hari lalu selalu mengantarkan Giri ke sekolah. Supir pribadi Giri tersebut biasa terlihat di depan pagar sampai Giri benar-benar masuk kelas tanpa drama tantrum dan sebagainya.

"Terus tadi diantar siapa ke sekolah?"

"Diantar papaku dong, abis drop kak Tama di sekolahnya terus antar Giri ke sini, ngebut wuzzz… gitu Miss." jawabnya sambil melebarkan kelopak matanya dan berkedip-kedip ceria.

"Iiih... Ini tumben banget masih belepotan susu gini mulutnya." refleks Gisa yang masih berjongkok mengambil tissue basah dari dalam sakunya dan membersihkan tepian mulut balita itu.

"Ini matanya juga masih ada beleknya sayang." lanjut perempuan itu lagi setelah menghembus napas kasar. "Tumbenan banget deh Gigi."

Tak menjawab, si bocah balita yang ditanya justru mengangkat bahunya tak tahu menahu. "I don't know miss, tanya papa aja." serunya sambil mengerucutkan bibir.

"Emang mbak susternya nggak rapihin dulu?"

"Mbak Narti?" tanya Giri langsung diangguki Gisa.

"Mbak Narti gak dateng Miss, bolos lagi. Maybe?"

Bolos?

Ckkk... Anak ini, bukannya bolos. Bisa jadi si susternya yang kali ini bernama Narti Narti itu sudah hengkang lantaran tak sanggup dengan tingkah luar biasa anak majikannya.

Terkekeh kecil, Gisa lantas membuang tissue basah yang sudah ia gunakan, lalu berpamitan pada si kecil Giri. "Okay udah cakep lagi, sekarang Miss Gisa ke ruang guru sebentar ya." pamit Gisa lantas berdiri. Namun baru selangkah ia pergi, ujung blousenya ditahan oleh tangan kecil bocah yang usianya belum genap empat tahun itu.

"Itutt Miss." gumam Giri lagi-lagi menarik ujung blouse yang dikenakan Gisa.

"Hmm? Kenapa sayang?" Gisa menoleh dan mengusap samar punggung tangan Giri.

"Ituttt Miss Gisa." cicit Giri dengan memasang puppy eyes yang menggemaskan. "Boleh dong. Iya dong Miss. Jawab iya. gitu dong Miss." lanjutnya kini mengerucutkan bibir.

Tak langsung menjawab, Gisa malah berpikir cepat. Padahal ia berniat menghabiskan sarapan nasi uduknya dengan tenang pagi ini, tapi jika Giri terus membuntutinya seperti kemarin... mungkin gadis itu harus menahan lapar lagi hingga istirahat siang jam sebelas nanti.

"Boleh kan Miss?" rengek Giri tak sabar menunggu anggukan kepala Miss kesayangannya.

"Tapi janji.." Gisa mengangkat telunjuknya. "Duduk anteng, pinter, gak lari-larian di dalem ruangan. Deal?" lanjut Gisa kini mengulurkan kelingking kecilnya.

Gisa masih ingat benar di hari kedua masa trial Giri di Eleven Preschool ini, bocah itu tak henti-hentinya membuntutinya dengan berlarian ke sana kemari. Hingga kemarin berhasil membuat meja kerjanya di ruang guru banjir lokal karena Giri menumpahkan botol air berukuran besar milik Gisa.

"Deal Miss Gigi." senyum Giri melebar sempurna tatkala Gisa menyetujui pintanya.

Mengambil napas panjang, akhirnya Gisa memutuskan untuk menggandeng balita itu guna mengikuti langkahnya menuju ruang guru yang tinggal beberapa meter lagi.

"Kayaknya jadi nih Giri sekolah disini.." ucap Amira ketika lagi-lagi melihat Gisa sudah menggandeng murid barunya untuk masuk ke ruangan.

"Harus jadi dong, tuh udah nempel banget sama Miss Gisa." jawab Ana sambil terkekeh geli.

"Sstt... dilarang ghibah pagi-pagi, gue laper." saut Gisa saat mendengar kasak kusuk dari teman-teman seprofesinya.

"Apa hubungannya ghibah sama laper?" bisik Amira mencondongkan tubuhnya mendekati meja. Gisa.

"Kalau gue laper gak bisa bales mulut laknat kalian yang ngumpanin gue buat jadi nanny nya Giri." Gisa ikut berbisik karena tak ingin muridnya mendengar sang guru yang lancar bergosip pagi dengan bahasa non formal elo-gue nya.

"Ehh by the way Gis, kemaren Lo jadi ketemu sama bokapnya Giri kan?" tanya Ana lagi.

Gisa mengangguk pelan sambil sibuk mengeluarkan bungkusan nasi uduk yang ia beli ketika perjalanan menuju sekolah tadi.

"Terus?" ganti Amira yang penasaran.

"Terusin aja sendiri." jawab Gisa acuh tak acuh.

"Ckk ... Serius gue Gis, Giri jadi kan sekolah disini setelah trial dua minggu?"

"Gak ada obrolan apa-apa lagi sih, abis gue serahin Giri ke gendongan bapaknya gue langsung ngibrit pulang. Pegel tau berjam-jam pangku di iting Gigi itu." desis Gisa seraya melirik Giri yang sibuk merapikan spidol warna warni di meja kerjanya. Memastikan sekali lagi agar bocah itu tak mendengar percakapan yang membicarakan tentang dirinya.

"Kalo Giri jadi masuk sini kan setidaknya bonus performance lo bisa nambah dodol, iih gimana sih?"

"Iya juga sih, kemren tuh gue keburu capek mbak An, makanya gue langsung cabut begitu Giri diambil alih bokapnya." jawab Gisa dengan mulut penuh makanan. Perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu memang tak sempat memikirkan untuk bertanya mengenai keputusan orang tua Giri terkait kelanjutan sekolah putranya.

"Elo mah Gis, kesempatan tau."

"Kalo udah cocok juga pasti akan daftar mbak." bela Gisa. "Nanti juga bokapnya kesini, nanti gue tanyain deh, feeling gue sih kuat banget kalau Giri pasti bakalan lanjut daftar beneran di sini." lanjut Gisa masih dengan mulut penuh makanan.

"Pak Ervan nanti kesini?" tanya Amira antusias.

"Seinget gue emang namanya Ervan, Ervano Bhalendra."

"Serius Gis?" gantian Ana yang terbeliak hingga berdiri dari kursinya.

"Kenapa dah?"

"Ckkk ... Lo kudet amat sih Gisa, sampe gak tau Ervano Bhalendra itu siapa?" ledek Amira.

"Bapaknya Giri kan?" jawab Gisa dengan santainya.

"Astaga naga Gisa ... repot amat ngobrol sama manusia jaman batu yang jauh dari sosial media macem Lo ya?" Ana menepuk keningnya tak habis pikir dengan sahabat baiknya ini.

Kenapa sih?

Emang Ervano Bhalendra siapa sih?

Penting gitu?

Gisa masih diam, sambil menatap bergantian pada kedua rekan kerjanya itu. Dia sendiri tak paham letak kesalahannya dimana. Bukannya wajar saja kalau dirinya enggan bersinggungan dengan sosial media yang isinya hanya itu-itu saja.

"Tanya sendiri sono sama anaknya." pekik Ana lantas mengendikkan dagu ke arah Giri yang masih duduk tenang di kursi kecil dekat dengan meja kerja Gisa.

'Heii, Gigi Giri, bapak kamu siapa sih? emang orang penting gitu?' pekik Gisa hanya hanya mampu ia teriakkan dalam hati.

Bab 3

Sudah hampir satu jam Gisa menemani Giri seorang diri di dalam kelas. Jam pelajaran para balita ini sudah berakhir beberapa saat yang lalu, dan lagi-lagi tinggal Giri seorang yang belum dijemput hingga waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Mundur satu jam dari waktu yang seharusnya.

"Giri ngantuk?" Gisa bertanya tepat ketika bocah berambut ikal itu menguap untuk yang ke empat kalinya. Menggemaskan.

"Yes Miss, I'm so sleepy.. I boleh tidur?" tanya bocah dengan pipi bakpau itu malu-malu kucing.

"Of course, sini.. sini lebih dekat sama Miss Gisa. Tiduran sini dulu." Gisa duduk bersila di atas matras tebal di tengah kelas yang sudah ia bersihkan dari berbagai macam mainan balita. Setelah perempuan itu menepuk bantal panjang bermotif Spiderman beberapa kali, barulah Giri paham dengan maksud dari wali kelasnya itu.

"Miss." Gisa menoleh pada Giri yang menarik seragam batik yang ia kenakan.

"Kenapa ganteng?"

"Aku kapan pulang?" tanya balita itu lagi setelah merebahkan kepala di atas bantal empuk yang ditawarkan Gisa.

"Nunggu jemputan dong Gigi. Pak Damar atau Papa yang hari ini jemput?"

"Hmm... Siapa ya?" Giri memutar bola matanya dengan gerakan yang lucu.

"Kayaknya sih Papa, Miss... soalnya Pak Damar belum masuk."

"Emang Papa gak kerja?" jiwa ingin tau Gisa tiba-tiba tergelitik untuk kembali bertanya.

"Kerja doong, habis jemput sekolah langsung kerja lagi."

"Kerja dimana emang?"

Kan?

Jika sudah bertanya sekali, Gisa tak bisa begitu saja berhenti.

"Papa aku tuh tukang masak-masak gitu Miss, pinter banget masakin aku yang yummy-yummy, di kistal viu yang kemarin itu." jawab Giri dengan bahasa yang masih acak-acakan.

"Crystal View?"

"Yess, itu maksudnya Miss."

Gisa manggut-manggut saja seolah paham. Meskipun ia masih ingin bertanya, tapi tak tega juga setelah melihat mata sayu Giri yang berkedip-kedip lelah. Hmmm... Dasar anak kecil ya. Main-main, makan, lelah lanjut tidur. Ritme kehidupan yang begitu dirindukan banyak orang dewasa.

"Miss..." lirih Giri lagi sampil menarik pelan siku Gisa.

"Hmm... Kenapa lagi Gigi? Mau pipis?"

Giri menggeleng.

"Hungry?"

Lagi-lagi bocah itu menggelengkan kepalanya.

"Terus?"

"Bobo situ kayak kemarin boleh kan... Miss?" bujuk bocah gemuk itu sambil melirik ragu pada pangkuan Gisa.

"Dipangku Miss Gisa maksudnya?" ulang Gisa yang langsung diangguki Giri. Lengkap dengan cengiran lebar yang menampakkan gigi-gigi kecilnya yang berderet rapi.

"Kalau boleh Miss. Miss Gisa wangi banget, Giri suka. Bisa langsung bobo nyanyak gitu." jujurnya sambil menunduk malu-malu.

Nyanyak? aah.. mungkin maksudnya nyenyak.

Gisa terkekeh kecil tak langsung mengiyakan, karena gadis itu malah terhipnotis dengan manisnya Narendra Giri ini ketika meminta ijin padanya. "Sini.. sini. Tentu aja boleh." Gisa mendorong meja kecil di hadapannya lantas menepuk pahanya pelan. Memberi isyarat pada murid barunya itu untuk mendekat dan merebahkan diri di pangkuannya.

Kedua bola mata Giri lantas bersinar cerah. "Thank you Miss Gigi."

"Miss Gisa."

"Tapi Miss panggil aku Gigi Gigi..." protes Giri sambil manyun.

"Habis kamu lucu banget sih kalau senyum sampe kelihatan gigi kelincinya gitu." Gisa mencubit emas salah satu pipi bulat Giri.

"Oke deal. Thank you Miss Gisa." ucap Giri lantas memejamkan mata ketika sudah merebahkan diri di pangkuan Gisa.

Entah sudah berlangsung berapa lama, Giri tertidur dengan meringkuk di pangkuan wali kelasnya. Gisa tak memperhatikan karena ia sendiri sibuk dengan laptop kecil yang ia letakkan di sebelah kanannya. Sengaja ia geser meja kecil laptopnya agar tak mengganggu gerakan Giri.

Sampai suara ketukan dan salam menginterupsi gerakan tangannya kala mengusap pelan punggung balita tiga tahun itu.

"Selamat siang Miss."

Gisa refleks menoleh. Namun gerakannya sangat terbatas karena si balita gemuk yang masih tertidur pulas di pangkuannya.

"Maaf Miss... Sekali lagi maaf, tadi masih ada rapat di sekolah anak sulung saya." pria yang mengaku ayah dari Narendra Giri ini membungkuk pelan lantas berjalan berlahan ke sudut kelas dekat papan tulis. Tempat dirinya sedang menyandarkan punggung.

Gisa memaksakan senyum ketika pria dewasa itu tersenyum canggung padanya. "Iya pak, bisa dimaklumi." ucapnya masih memasang cengiran kuda yang tampak sekali jika ia terpaksa melakukannya.

"Giri bolehkan langsung saya bawa pulang?"

Hellawww... situ bapaknya kan? Kenapa masih tanya wahai bapak ganteng?

Ingin sekali Gisa menyuarakan isi kepalanya, namun ia masih bisa bersikap normal dan wajar pada calon wali kelas yang akan mendaftarkan putranya ke Eleven preschool ini.

Ehh.. jadi daftar kan?

Harus jadi dong, pokoknya harus. Biar pengorbanan Gisa hingga pahanya terasa kaku tak sia-sia. Tekad Gisa dalam hati.

"Boleh pak Ervan, tentu saja boleh. Tadi Gigi... ehmm Giri maksud saya. Dia kelelahan bermain, dipadukan dengan kekenyangan dan berakhir dengan ketiduran. All is well. Bapak boleh langsung bawa pulang. Kasian kalau harus tidur di matras kayak gini terlalu lama." jawab Gisa menahan ekspresinya sebiasa mungkin.

"Ma.. makasih banyak Miss Gisa."

"Your welcome pak Ervan."

Baru saja Ervan melangkah keluar kelas, sampai Gisa memanggilnya lagi karena teringat sesuatu.

"Maaf pak Ervan." panggilnya cepat sebelum ayah Giri itu melenggang pergi meninggalkan sekolah.

"Iya Miss."

"Masa trial Giri akan berakhir tiga hari lagi. Hmmm.. Giri jadi didaftarkan ke sini kan pak?" tanyanya tak ingin berbasa-basi terlalu lama. Kasihan juga jika membayangkan lengan pria itu akan kram dalam waktu lama jika terus menerus menggendong putra keduanya.

"Aah.. itu, tentu saja Miss. Saya akan daftarkan giri di sini. Jarang sekali Giri bisa cepat akrab dengan orang asing. Jadi saya rasa, mendaftarkan Giri disini adalah pilihan yang tepat."

Good!! Gisa mengepalkan tangannya yang ia sembunyikan di belakang punggung.

"Saya ambilkan form pendaftarannya kalau begitu ya pak. Nanti bisa bapak isi dirumah, besok atau lusa bisa dikembalikan sekaligus dengan dokumen pelengkapnya." kali ini perempuan itu mengembangkan senyum tulusnya. "Tolong tunggu sebentar."

Gisa dengan cepat memakai flat shoes berwarna merah menyala yang ia letakkan di rak paling bawah, lantas berjalan cepat menuju ruang guru. Sedangkan Ervan hanya mengangguk samar dengan pose tak jauh berbeda dari patung yang biasanya terpasang di tengah kota. Kaku, tegap, dan tanpa ekspresi.

"Naah... Ini form nya ada.. satu, tiga, lima.. hmm ada enam lembar pak. Silakan diisi lengkap, nanti dikumpulkan langsung ke saya atau ke bagian administrasi di sebelah ruang guru." Gisa berbinar ketika menyodorkan beberapa lembar formulir yang ia masukkan dalam map kuning itu.

Tapi tiba-tiba senyumnya lesap ketika si ayah balita bernama Giri itu hanya diam bak patung yang baru saja kering karena sinar matahari yang siang ini begitu ganas menyapa kulitnya.

Hellow... Kenapa si bapak Gigi ini diem-diem bae? Masa ia gak jadi daftarin anaknya.

"Ini pak." ulang Gisa pelan.

"Anu Miss, maaf. Hmm... boleh minta tolong bawakan formulirnya sampai ke mobil saya. Ta- tangan saya kram."

Kaan, benar lagi tebakan Gisa. Si balita gemuk dengan rambut ikal yang lucu itu beneran bikin lengan sang ayah kram. Padahal baru beberapa menit. Tapi memang menggendong balita segemuk dengan giri dengan posisi seperti itu— leher ditopang lengan kiri, sedang tubuh bagian bawah ditahan dengan lengan kanan, bisa membuat lengan cepat kram.

Ckkk... dasar!!

Udah punya anak dua kenapa gak tau trik gendong anak biar gak cepet pegel sih?

"Ooh ... oke, siap pak, siap."

Gisa berjalan cepat sembari menunduk ketika mengekor si pak Ervan yang tangannya sedang kaku karena anak bungsunya ini. Persis sekali seperti nanny yang sedang membuntuti kemana saja sepasang majikannya pergi.

But heiii ... Gisa itu bukan nanny loh!!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED