Universitas Ghifanesia.
Susana di kampus Ghifanesia terlihat ramai dengan banyaknya mahasiswa yang berlalu lalang, juga berkumpul hanya untuk sekedar bercengkrama atau membicarakan tugas di kuliahnya.
Di salah satu kelas di kampus Ghifanesia, tengah serius dengan pelajaran yang dosennya berikan, semua mahasiswa memperhatikan dosennya dengan serius, namun ada satu wanita yang terlihat tidak memperhatikan dosen yang ada di depannya, yang sedang menjelaskan materi pelajaran yang tengah di ikuti. Wanita itu melihat ke arah buku dengan balpoin yang ia pegang di tangan kanannya, membuat sebuah coretan di atas kertas putih dengan pandangan yang kosong, dan wanita itu tampak terlihat bersedih.
Teman yang duduk di dekatnya terlihat menggeleng - gelengkan kepalanya, temannya pun mengerti dengan keadaan yang sedang wanita itu alami, sebuah masalah yang sedang di alami olehnya.
Jesslyn Cavista Raharja, wanita cantik berusia 19 tahun, harus mengalami kandasnya sebuah hubungan disaat dirinya benar - benar mencintai kekasihnya, Jesslyn dikhianati oleh kekasihnya dengan seorang wanita yang menurutnya jauh lebih baik.
Suasana dalam kelas mendadak ramai karena dosen yang mengajar telah keluar dari kelas, namun Jesslyn masih setia dengan keheningannya. Chika Salvina teman dekat Jesslyn pun terlihat menutup buku dan menatap Jesslyn dengan kesal.
"Jess, lo masih mikirin dia, oh ayolah, dia udah ninggalin lo dan dia lebih memilih tuh cewek murahan, lagian dia gak nerima lo dengan tulus!" Chika yang menasehati Jesslyn agar tidak terlalu hanyut dalam kesedihan dan rasa sakitnya, apalagi pada lelaki yang sudah mengkhinatinya.
Jesslyn tetap diam, ia juga tidak mau seperti ini, hanya saja perasaan untuk pria yang bernama Aditya Abraham sudah terlalu dalam, bukan hanya sebentar ia menjalin hubungannya dengan Aditya. Hubungannya dengan Aditya sudah berjalan sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas, selama satu tahun Jesslyn sudah menjalani hubungan dengan Aditya saat hubungan itu berkahir.
Jesslyn dan Aditya memang berhubungan tanpa restu dari kedua orang tua Adit yang pernah di kenalkannya, orang tua Adit yang cukup kaya menginginkan wanita yang sepadan dengannya, dan yang Adit tahu dan juga kedua orang tuanya lihat, jika Jesslyn hanya salah satu orang yang tidak sepadan kekayaanya dengan mereka. Tapi nyatanya, mereka salah, kekayaan Jesslyn bahkan melebihi mereka, mereka yang tidak tahu akan identitas asli dari Jesslyn.
Jesslyn memang lebih suka dengan kesederhanaan, ia tidak pernah memamerkan kekayaan, selain dia yang tidak suka dengan kemewahan yang berlebihan, juga karena Jesslyn ingin mencari teman dan pria yang tulus padanya, tanpa melihat identitas di belakangannya.
Keluarga Raharja, adalah salah satu keluarga yang memliki perusahaan ternama di Asia, Perusahaan Gendratama, dan Jesslyn tentu ia menjadi ahli waris dari perusahaan teresebut, karena dia adalah anak satu - satunya dari keluarga Raharja.
Jesslyn menatap Chika sekilas dan kembali melihat ke arah buku dengan coretan seperti benang kusut, seolah ia tidak peduli dengan apa yang Chika katakan.
"Ck, Jess lo ngeselin banget sih, seharusnya ya, lo itu move on! dan jangan liatin sama dia kalo lo itu menderita setelah di putusin sama tuh cowok brengsek, kalo perlu ya, lo tuh cari cowok yang lebih dari tuh si Aditya sombong!" decak kesal Chika menjeda ucapannya karena terlalu kesal, " atau ga, lo kasih tahu aja apa yang lo punya, biar mata mereka melotot, karena ternyata mereka udah buang berlian, dan lebih memilih mata ikan!" lanjut Chika membuat Jesslyn tersenyum tipis.
Jesslyn menghela nafasnya, ia memang harus bisa bangkit, dan melupakan apa yang sudah Aditya torehkan luka di dalam di hatinya, tapi untuk mencari pria baru, mungkin itu akan sulit, karena Jesslyn ingin menata hatinya lebih dulu, juga dirinya yang masih belum bisa mempercayai lelaki lagi, yang mungkin akan sama brengseknya seperti Aditya.
"Gue emang sedih, karena rasa sakit hati gue yang ga gampang dilupain gitu aja, lo ga tahukan apa yang gue rasain, Cik! Ya, tapi lo ada benernya juga, gue ga bisa gini terus, gue mesti move on, tapi itu susah, Chika !" Jesslyn yang meluapkan apa yang ada di hatinya, memang benar ia harus bisa move on dan melupakan pria yang sudah ada di hatinya sejak lama, tapi itu tidak segampang apa yang di ucapkan.
Chika mengangguk - anggukan kepalanya, " lo ga usah lupain, karena jika lo mau lupain, itu justru malah semakin buat lo ga bisa lupa, tapi lo harus bisa nerima, dan biarin itu jadi masalalu lo, dan jadi pelajaran juga buat lo kedepannya, biar lo lebih selektif lagi cari cowok!"
Jesslyn terdiam, apa yang di katakan oleh sahabatnya ada benarnya juga, dia harus bisa lebih menerima apa yang sudah ia alami.
"Apa gue bisa nerima semuanya, menerima semua rasa sakit ini," batin Jesslyn
"Aditya, lo udah bener membuat hati gue remuk, bahkan lo buat gue ga bisa percaya lagi akan yang namanya cinta, tapi gue bakal tunjukin sama lo, kalo gue bisa bahagia walaupun bukan sama lo ! "isi hati Jesslyn, marah dan kecewa pada Aditya.
Flashback.
Jesslyn yang terlihat sedang berjalan di koridor kampus dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, dengan tas slendang yang ia pakai, juga pakaian yang sederhana, seperti kaos dan celana jins dan juga sepatu kets yang menurutnya nyaman. Tapi, walaupun dandanan sederhana Jesslyn terlihat sangat cantik. Jesllyn tidak seperti gadis - gadis lainnya, yang selalu mementingkan fashion dan riasan di wajahnya, Jesslyn lebih cuek dan apa adanya.
Hari ini adalah hari dimana tepat satu tahunnya hubungannya dengan Aditya, kekasihnya yang sejak SMA mereka sudah menjalin hubungan, dengan kado di tangannya, Jesslyn ingin memberikan sebuah hadiah pada kekasihnya, dengan harapan, Aditya akan senang dan menyukainya.
Jesslyn mencari - cari keberadaan Aditya, hingga ia bertanya pada seorang yang biasa bersama dengan Aditya.
"Lo tahu dimana Adit ?" tanya Jesslyn.
"Adit, ah dia kebelakang kampus," jawabnya dengan ragu, membuat Jesslyn heran, bukan karena kegugupan teman dari Adit yang memberikan jawaban padanya, tapi yang ia herankan, mengapa Adit pergi ke belakang kampus.
"Belakang kampus, ngapain ?" tanya kembali Jesslyn.
Temannya Adit hanya bisa mengedikkan bahunya, walaupun dia tahu apa di lakukan Adit disana.
Jesslyn pun segera pergi kebelakang kampus, dan mencari keberadaan Adit. Hingga ia sampai di belakang kampus, dan mendengar suara yang sangat ia kenali, Aditya.
Akan tetapi Jesslyn juga merasa heran, karena Jesslyn bukan hanya mendengar suara Aditya saja, tapi juga suara seorang wanita yang terdengar manja pada Aditya.
Langkah Jesslyn semakin melambat, ia meyakinkan pendengarannya, dan berharap jika itu bukan Aditya yang sedang bersama dengan seorang wanita, namun semakin ia mendekat, suara Aditya semakin terdengar jelas, bahkan ia mengatakan, jika dirinya memerlukan waktu untuk memutuskan hubungannya dengan Jesslyn.
"Aku perlu waktu sayang, untuk memutuskan Jesslyn, " ucap Aditya pada wanita di depannya yang sedang bersandar di tembok.
"Ck, sampai kapan? aku lelah bersembunyi seperti ini, aku ingin kita segera publish hubungan kita, apalagi orang tuamu sudah merestui kita, tidak seperti Jesslyn yang tidak di sukai oleh ibu dan ayahmu !" kesalnya pada Adit yang masih mengulur waktunya untuk memutuskan hubungan dengan Jesslyn.
Aditya yang megulur waktu hubungannya dengan Jesslyn, karena Jesslyn baginya mudah diperdaya, meski yang ia tahu Jesslyn bukan orang kaya, tapi Jesslyn selalu bisa berusaha untuk memberikan apa yang dia mau.
"Baiklah - baiklah, aku segera memutuskan hubunganku dengan Jesslyn, lagipula kita akan segera bertunangan bukan ?" jawab Aditya membuat wanita yang bersamanya tersenyum senang.
Jesslyn yang mendengar itu terlihat bergetar, air meatanya keluar tanpa ia minta, kotak hadiah yang ia siapkan untuk Aditya pun terjatuh begitu saja, sakit hati dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini, Aditya mengkhianatinya, bahkan mungkin sudah sejak lama, dan bodohnya dia tidak tahu dan tetap menganggap jika Adit adalah pria yang setia dan baik, yang mau memperjuangkan dirinya pada orang tuanya, tapi nyatanya itu hanya bualan belaka.
Kotak kado yang terjatuh terdengar oleh mereka, membuat Adit melihat ke arah Jesslyn yang sudah terlihat menangis dengan mata yang memandang benci pada Aditya dan wanita yang juga ia kenali.
"Tidak perlu repot memutuskanku, aku yang akan memutuskanmu dan mundur dengan hubungan ini, aku yang bodoh karena terlalu percaya padamu, terimakasih dengan rasa sakit hati ini!" ucap Jesslyn yang langsung pergi meninggalkan mereka, karena tidak mau terus melihat wajah - wajah yang sudah membuat sakit di hatinya.
Flashback of.
***
Jesslyn dan Chika kini sudah berada di kantin kampus, dengan dua mangkok bakso yang mereka pesan dan dua gelas orange jus.
Pandangam Jesslyn mengarah pada sepasang kekasih yang terlihat romantis, mereka yang tidak segan memgumbar kemesraan mereka, bahkan terang - terangan memamerkan cincin yang melingkar dijari manis mereka.
"Ch, norak!" ucap Chika menbuat Jesslyn yang awalnya terlihat sedih menjadi tersenyum setelah mendengar Chika berbicara.
"Norak ?" ucap Jesslyn dan Chika mengangguk.
"Iya, mereka norak, kaya gak pernah pake cincin aja!" jawab Chika dengan suara cukup keras, membuat sepasang kekasih itu melihat ke arah Chika.
Wanita dari kekasihnya berdiri dan menghampiri Chika, karena dirinya yang tidak terima jika disebut norak.
"Maksud lo apa, lo ngatain gue norak ?" tanyanya membuat Chika menatapnya sinis.
"Oh lo ngerasa kesindir, bagus deh, karena lo emang NORAK !" balas Chika membuat wanita itu geram.
"Sialan lo! ck, bilang aja lo syirik kan, dan kasihan sama temen lo ini, karena Adit lebih memilih gue !" balasnya sambil mendelik ke arah Jesslyn.
Mendengar wanita itu menyinggungnya, Jesslyn pun menatapnya dengan kesal, " gue, syirik? apa yang harus gue syirikkin atau iri dari lo berdua? Adit cowok yang gak setia, dan lo perebut cowok orang, ya cocoklah lo berdua, dan gue harus iri atau syirik sama lo berdua, yang bener aja. Gue cewek yang terhormat, lebih memilih cowok setia!"
Wanita yang bernama Clarissa Ethelind itu kesal, karena Jesslyn berbicara cukup kecang hingga semua tahu jika Clarissa berpacaran dengan Adit, di saat Jesslyn dan Adit belum berpisah, dan itu membuat semua yang ada di kantin menyoraki Calrissa, karena dia yang sudah sesumbar pada orang lain, mengenai hubungannya dengan Adit. Adit yang sejak tadi hanya menyimak, langsung membawa Clarissa menjauh dari Jesslyn, dan pergi meninggalkan kantin.
Jesslyn berdecak kesal, melihat Clarissa dan Adit pergi begitu saja, sedangkan Chika, dia terlihat tertawa senang, karena Jesslyn membalas perkataan Clarissa hingga dia merasa malu.
"Sialan banget, gak tahu apa gue lagi bad mood!" kesal Jesslyn.
"Enggak apa - apalah, kan lo jadi ada buat keluarin kekesalan lo, dan tepat sasaran lagi, " ucap Chika membuat Jesslyn tersenyum tipis.
***
Sebuah perusahaan besar dengan nama PT. GHIFACORP, dengan CEO tampan dan masih sangat muda di antara CEO lainnya, Arrion Chedric Ghifari. Pria tampan berusia 22 tahun, sudah menduduki kursi CEO sejak dirinya menginjak usia 20 tahun.
Masih sangat muda bukan?.
Perusahaan yang di bangun oleh ayahnya yang bernama August Ghifari, dan lalu di teruskan olehnya pun semakin bertambah pesat, dengan kepintarannya yang di atas rata - rata. Namun sayangnya, jika perihal cinta, Arrion tidak terlihat pintar dengan hal ini, bahkan kini membuat perusahaannya goyah.
Arrion memiliki kekasih bernama Sheila Zhopia. Sheila adalah seorang model cantik yang begitu bangga jika ia berhasil menggaet pria bernama Arrion. Seorang CEO tampan dan muda di perusahaan besar. Sheila yang senang Arrion menjadi kekasihnya, karena Arrion yang royal terhadapnya, bahkan segala apapun yang diminta oleh Sheila, Arrion pasti akan menurutinya.
Bagi Arrion, Shiela adalah segalannya, dia selalu ingin membuat Sheila senang, meski harus menguras ATM nya. Tapi, itu bukan masalah untuknya, karena dia seorang CEO yang bisa menghasilkan uang milliaran dalam satu bulan.
Akan tetapi, Arrion memiliki masalah, orang tuanya tidak setuju Arrion dengan Sheila, dengan alasan Sheila bukan wanita yang baik, dan tentu Arrion tidak percaya begitu saja, sebelum Arrion melihat dengan mata kepalanya sendiri, dan selama ini Arrion berhubungan dengan Sheila, tidak pernah memiliki masalah apapun, atau hal yang bisa membuat Arrion curiga.
Di rungannya, Arrion sedang bersama dengan kedua sahabatnya, Bastian Hartigan dan Lucas Mallory.
"Kenapa wajah lo, pucet amat ?" tanya Lucas pada Arrion.
"Palingan lo udah tahu sesuatu soal Sheila ?" tambah Bastian membuat Arrion berdecak kesal.
"Lo berdua sama aja kaya nyokap bokap gue, kalian berpikir kalo Sheila itu gak baik!" kesal Arrion.
"Emang, dan lo BUTA !" jawab Bastian kembali membuat Arrion kesal dan Lucas mengangguk.
"Gue gak akan percaya sebelum gue lihat sendiri, lagian gue bad mood bukan soal Sheila, tapi bokap dan nyokap gue malah mau jodohin gue sama cewek lain!"
"SETUJU!" jawab Lucas dan Bastian bersamaan membuat Arrion kesal dan mengusir mereka dari ruangannya.
"Sialan banget mereka, apa coba salah Sheila, dia cewek baik, cantik sexy juga, dan malah di bilang Sheila bukan cewek baik. Gue gak akan percaya gitu aja, gue yakin Sheila dia cewek yang baik dan sekarang gue harus berpikir, gimana caranya agar nyokap sama bokap gue, mau terima Sheila, dan gagalin rencana perjodohan gue sama cewek yang gak jelas itu saiapa !" gumamnya kesal.
Lucas dan Bastian yang di usir oleh Arrion, mereka telihat kesal.
"Gue heran, Arrion dia itu CEO, pinter juga kan ya, tapi anehnya, dia gampang banget di bodohin sama cewek !" heran Lucas yang di angguki Bastian
"Dahlah, biarin aja, yang penting kita udah kasih tahu dia, mending kita ke cafe aja deh, cari cewek sekalian," ajak Bastian pada Lucas.
Mereka berbeda dengan Arrion yang sudah menjadi seorang CEO, Bastian dan Lucas masih berkuliah, di kampus yang sama dengan Jesslyn, Universitas Ghifanesia.
***
Sheila, kekasih Arrion selepas kepergian kedua sahabatnya datang ke perusahaan menemui Arrion.
"Sayang, kamu sibuk ?" Sheila datang dan langsung duduk di pangkuan Arrion.
"Sibuk, tentu tidak, jika kamu ada disini pekerjaan akan aku abaikan, " ucap Arrion dan Sheila tersenyum.
"Apa tidak apa, bukankah itu mungkin saja sedang di tunggu ?" tanya Sheila dengan manjanya.
"Tidak, biarkan saja, ada asistenku yang akan mengurusnya, kamu sudah makan siang ?" tanya Arrion.
Selalu, Arrion selalu mengabaikan pekerjannya, dan ia limpahkan pada asistennya, yang membuat pekerjaan asisten Arrion menunpuk, tapi Arrion tidak pernah mengerti, yang selalu meminta agar pekerjaanya selesai tepat waktu, dan itu membuat Asisten ataupun sekretaris Arrion tidak pernah betah bekerja dengannya, dan akan cepat mengundurkan diri. Arrion tidak peduli, pikirnya banyak orang yang pasti butuh pekerjaan, dan dia adalah bosnya, yang harus mengikuti semua aturannya.
Sheila menggelengkan kepalanya, "aku kesini karena ingin mengajakmu makan siang, dan ada yang ingin aku beli, itu jika kamu mengizinkannya."
"Tentu, ayo! Aku tidak pernah menolak bukan? yang penting kamu bahagia," ucap Arrion membuat Sheila tersenyum senang, Arrion yang selalu menuruti apapun keinginannya.
Asisten dan sekertaris Arrion terlihat berdecak kesal selepas kepergiaan CEO nya. Meraka kesal karena jika pacar bosnya datang, itu akan membuat mereka bekerja lembur, dan Arrion yang pasti akan menyalahkan mereka jika pekerjaannya tidak selesai.
Arrion, pria kasar, tengil dan juga bisa dingin terhadap orang yang tidak ia suka. Namun, dia juga pria bodoh soal cinta dan juga bucin jika memang dia benar - benar cinta pada pasangannya.
Sikapnya yang seperti itu, membuat orang terdekatnya kesal, terutama kedua orang tuanya, yang pada mereka akhirnya membuat keputusan untuk menjodohkan Arrion pada wanita yang menurut mereka bisa merubah sifat Arrion, menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, dan menjadi terbuka, akan apa itu arti cinta yang sebenarnya.
***
"Di jodohkan ?" Jesslyn terkejut, ketika selesai makan malam dengan keluarganya, jika ayah Jesslyn mengatakan, dia akan di jodohkan.
"Benar, dan kami harap kamu mau menerima ini. Perjodohan ini sudah kami rencanakan sejak kamu kecil, " jelas Ayah Jesslyn yang bernama Bagas.
"Benar sayang, kamu juga pasti akan menyukainya, dia tampan dan juga pintar, " Melani, ibu dari Jesslyn ikut membujuk Jesslyn.
Jesslyn menggelengkan kepalanya, dia benar - benar tidak percaya jika kedua orang tuanya merencanakan hal ini.
Gue bakal di jodohin? bahkan di saat hati gue ga siap untuk nerima cowok di hati gue secepat ini, bahkan mungkin akan cepat menikah.
"Enggak, Jesslyn ga mau, kalian ga bisa maksa Jeaslyn !" tolak Jesslyn, yang lantas meninggalkan mereka di meja makan.
Bagas dan Melani mengerti, karena mereka memang harua secara perlahan untuk membujuk putrinya menikah dengan pria yang sudah mereka rencanaian.
"Biarkan Jesslyn sendiri dulu, nanti aku akan membujuknya lagi, " ucap Melani pada Bagas.
Bagas mengangguk, " sebenarnya aku juga tidak mau memaksanya, hanya saja, ini juga demi kebaikan Jesllyn."
Melani mengangguk setuju, dia juga percaya dengan pihak keluarga yang akan menjadi besannya.
Di dalam kamar, Jesslyn membaringkan tubuhnya di atas ranjang king sizenya, dia terlihat mengehela nafas panjang, menenangkan dirinya yang kesal, jika kedua orang tuanya memiliki keputusan sepihak.
"Gue ga mau di jodohin, lagian ini zaman apa coba? masih aja ada yang jodoh - jodohin anaknya, " guman Jesslyn kesal.
"Mamah sama papah ada - ada aja, moga aja mereka bakal berubah pikiran, dan mau nurutin apa mau gue, kalo gue ga mau di jodohin !" kesalnya
***
Universitas Ghifanesia.
"Kusut banget muka lo Jess, soal Adit lagi ?" tanya Chika.
"Ck, gue udah ga peduli soal Adit, bodo amatlah dia mau kawin sama tuh cewek juga, gue ga peduli! Gue punya masalah hidup sendiri, dan ini nyangkut masa depan gue," decak kesal Jesslyn mengeluarkan keluh kesalnya pada Chika.
"Apaan sih, perasaan lo punya masalah mulu ?" tanya Chika dan Jesslyn megangguk membenarkan.
"Lo juga bakal kesel kalo tahu apa masalah gue saat ini !" ucap Jesslyn.
"Cerita sama gue, gue jadi penasaran!" ujar Chika dan Jesslyn mengangguk.
"Nanti pas jam kuliah selesai gue ceita!" jawab Jesslyn dan Chika mengangguk setuju, karena mungkin sebentar lagi dosen akan masuk ke kelasnya.
***
Siang hari di sebuah kafe di dekat kampus, Jesslyn dan Chika sedang makan dan juga saling bertukar cerita, tertuma Jesslyn yang cerita jika dia memiliki masalah yang membuatnya kesal.
"Jadi nyokap bokap lo mau jodohin lo, sama siapa ?" tanya Chika, satu itu yang sangat membuat dia penasaran.
"Gue ga tahu, gue ga nanya, lagian gue juga nolak perjodohan ini !" jelas Jesslyn membuat Chika mengerti.
"Tapi kalo ganteng dan kaya, harusnya sih lo terima aja," ujar Chika sambil tersenyum.
"Ck, lo aja sonoh, gue ga mau! lagian gue juga ga tahu sikap dia gimana kan, kenal aja enggak, contohnya hubungan gue sama Adit, yang gue kira dia baik, tapi tahunya busuk, tampang ga bisa nebak apa yang ada di hati dan pikirannya !" kesal Jesslyn, karena kembali mengungkit Aditya.
Chika terkekeh, " lagian gue bercanda aja kali, tapi nyokap bokap lo pasti ada alasan kenapa jodohin elo, dan sekarang gue tahu, kenapa lo ga boleh pacaran."
"Lo bener, tapi apa coba alasan mereka, di zaman modern gini masih ada aja orang tua yang jodohin anaknya, ia kalo anaknya bahagia sama cowo pilihan mereka, kalo engga ?" kesal Jesslyn.
"Santai elah, gue tahu nyokap bokap lo kaya gimana, pasti mereka juga udah pikirin mateng -mateng soal perjodohan ini, mending lo tanya baik - baik sama mereka, lo juga tahukan gimana orang tua lo sendiri ?" tanya Chika pada Jesslyn yang terdiam.
"Lo bener, tapi masa iya gue mau di jodohin gtu aja!"
"Ck, lo bisa kan bikin persyaratan, lo mau di jodohin, tapi harus kenal dulu tuh cowo, dan kalo lo sama dia ga cocok, mungkin bisa di pertimbangin sama kedua belah pihak !" usul Chika kembali membuat Jesslyn terdiam.
"Nanti deh, gue pikirin, mumet kepala gue lama - lama," ucap Jesslyn membuat Cjika tertawa.
"Gue aja males mikirin masalah lo! udah deh, mending lo temenin gue shopping sekarang, gimana? atau ga kita ke salon, rubah nih gaya lo, biar mantan lo nyesel udah buang lo !" usul Cikha.
"Gue nyaman kaya gini, lagian ke kampus doang, apa harus dandan heboh !" jawab Jesslyn membuat Chika tertawa.
Jesslyn memang wanita yang malas untuk berdandan, dia akan memakai pakaian yang meurutnya nyaman ke tempat yang dia tuju, dalam artian, dia bisa menempatkan diri harus mengenakan pakaian seperti apa nantinya.
"Jadi gimana, shopping ?" tanya Chika lagi.
"Ok deh, gue juga udah lama ga abisin duit yang di kasih bokap." Jesslyn beranjak dari kursinya di ikuti oleh Chika yang senang, jika Jesslyn mau menemaninya shopping, satu hal yang di sukai wanita, berbelanja.
Di mall, Jesslyn dan Chika masuk kesebuah toko dengan merk yang terkenal, disana Chika terlihat antusias memilih tas, sedangkan Jesslyn ia lebih memilih pakaian.
Jesslyn yang serius memilih pakaian yang menganggutung di berbagai sudut, dan sudah ada beberapa pula yang ada ditangannya, yang sudah ia pilih.
Namun, ada seorang wanita yang merebutnya dari tangan Jesslyn, membuat Jesslyn terkejut dan lalu menatap malas ke arah wanita yang sangat ia kenali.
"Lo milih nih baju, yakin ?" tanyanya pada Jesslyn yang hanya menatapnya malas, tanpa mau menjawab.
"Ck, lo itu ga pantes masuk sini, atau lo ga tahu ya, jika ini barang - barang di toko ini itu branded, barang mahal, mendingan ya lo beli di tanah abang aja sana!"
"Mau beli disini ke, tanah abang ke, terserah gue, gue yang punya duit, urusan lo apa ?" jawab Jesslyn ngeggas, dia sudah tidak mau untuk lembek lagi, apalagi pikirannya yang sudah kacau selama sebulan kebelakang.
Mendekatinya dan mencari masalah dengannya, maka siap siap - saja menerima amukannya.
"Ck, gue itu baik, nasehatin lo, dari pada duit lo abis, lagian ya, ko toko ini bisa - bisanya ngebiarin lo masuk, ga takut apa kalo ada yang ilang ?" decak kesalnya sambil memandang remeh Jesslyn yang sudah semakin naik darah.
"Lo nuduh gue maling ?" ucap Jesslyn pada wanita di depannya.
"Mungkin, karena kita ga tahu? dan dimana ada maling yang mau ngaku bukan ?" balasnya.
Jesslyn semakin kesal, namun ia mengontrol emosinya dan lalu menatap wanita itu kembali dengan tersenyum sedikit, "gue ga tahu ya masalah gue sama lo itu apa? padahal gue udah relain Adit buat lo, Karena sampah emang pantes di buang ke tempatnya. So mulai sekarang gue minta jangan ganggu gue, bisa?" balas Jesslyn pada wanita di depannya yang tidak lain adalah Clarrisa.
"Sampah lo bilang ?" kesalnya membuat Jesslyn mengangguk.
"Mohon maaf nona, untuk tidak membuat keributan di toko kami !" manager toko itu turun tangan, karena melihat dua wanita yang sedang bersitegang, dan akan menganggu pelanggan lainnya.
"Ch, anda manager toko ini? bagus deh, usir ini cewek, siapa tahu dia maling !" ujarnya membuat Jesslyn berdecak kesal.
Manganer itu terlihat menggaruk lehernya yang tidak gatal dan menatap Jesslyn, dan juga Clarrisa, yang bingung dengan pertengkaran mereka.
"Mengusirnya?" Kata hati manager tersebut dengan bingung.
***