Entah kenapa Stanley sangat betah memandangi wajah cantik Arabella, bagi Stanley wajah cantik alaminya sangat berbeda dibandingkan dengan wajah cantik wanita-wanita yang banyak dia temui diluaran sana.
Satu tangan besar Stanley masih betah mencengkram kuat tulang pipi Arabella, dipandangnya wajah Arabella oleh Stanley membuat Arabella semakin ketakutan dibuatnya.
Hidungnya yang mancung serta bibirnya yang terlihat lembab, tipis dan berwarna merah muda membuat Stanley tergiur untuk bisa merasakan bibir Arabella yang diyakininya pasti sangat manis dan lembut.
Perlahan Stanley mendekatkan wajahnya pada wajah Arabella, membuat Arabella langsung memalingkan wajahnya tidak ingin sama sekali Stanley bisa melakukan apa yang dia inginkan.
"Aku mohon jangan sentuh aku!"
"Kenapa aku tidak boleh menyentuh tawanan ku sendiri? Kau tidak berhak menolak,"
"Tuan aku tidak tau apa kesalahan ayahku terhadap mu sampai kau dengan teganya membunuh ayahku, tapi Tuan aku tidak memiliki kesalahan apapun terhadap mu jadi aku mohon jangan sentuh aku lepaskan aku!"
Hahaha..
"Memangnya kau siapa berani memerintah ku?"
"Aku tidak akan pernah sudi kau menyentuhku,"
"Kau benar-benar gadis pembangkang, tapi aku suka gadis seperti mu membuatku semakin tertarik untuk bisa menguasai dirimu!"
"Kau gila! Kau gila!"
"Diam!"
Stanley membentak lalu mendekatkan wajahnya.
"Siapkan air hangat untukku mandi sekarang!"
"Aku tidak mau!"
"Kau mau melawanku?"
Ditariknya satu kancing pakaian Arabella hingga membuat kancing itu terlepas, membuat bagian yang tak semestinya terlihat kini bisa terlihat.
"Ampun Tuan!"
"Jangan membangkang cepat siapkan air hangat untukku!"
"Ba-baik Tuan,"
Tidak ingin Stanley semakin murka terhadap dirinya! Arabella buru-buru menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat seperti yang diinginkan oleh Stanley.
Tetapi sambil menyiapkan air hangat! Arabella melihat ada kaca jendela didalam kamar mandi tersebut, dengan mudahnya jendela kamar mandi itu bisa dia buka.
"Akhirnya aku menemukan jalan untuk kabur dari sini,"
Buru-buru Arabella mengangkat kakinya untuk keluar dari dalam kamar mandi itu! Tetapi saat berhasil keluar dari dalam kamar mandi, begitu melihat kearah bawah tubuh Arabella langsung gemetaran.
Rupanya tempat dia berdiri sekarang ini adalah dilantai 5 mansion mewah milik Stanley.
"Ba-bagaimana bisa aku melompat dari sini? Tolong! Tolong!"
Membuat Stanley yang sedang duduk disofa kamarnya mendengar teriakan Arabella dari dalam kamar mandi! Suara teriakan Arabella nyaring terdengar tetapi gadis itu tidak ada didalam kamar mandi.
Stanley menengok ke kanan kirinya dan mendapati kaca jendela kamarnya sudah terbuka, itu artinya Arabella si pembangkang itu berusaha kabur dengan melewati jendela kamar mandi tanpa memikirkan betapa tingginya tempat dia berdiri sekarang.
Jika melompat dari jendela kamar mandi itu bisa-bisa Arabella akan lumpuh seumur hidup atau mati sia-sia, apalagi kakinya berpijak disela-sela tembok yang sangat kecil.
Stanley pun dengan santai menengok kejendela dan melihat Arabella sedang ketakutan berdiri diluar jendela kamar mandi.
"Kau mau kabur?"
"Tu-tuan aku takut,"
"Loncat saja sana!"
"Maafkan aku Tuan, tolong aku Tuan,"
Melihat Arabella yang nekat padahal aslinya dia gadis yang sangat penakut apalagi pada ketinggian seperti ini, Stanley pun mengulurkan tangannya untuk menolong Arabella.
"Raih tanganku!"
"Kau janji tidak akan melepaskannya kan?"
"Kau ini bawel sekali, cepat atau aku berubah pikiran,"
"Jangan Tuan, baik aku akan meraih tanganmu,"
Meskipun ragu-ragu Stanley benar akan menolongnya tetapi tidak ada pilihan lain bagi Arabella selain meraih tangan Stanley untuk bisa kembali masuk kedalam, jika tidak dia bisa berdiri seumur hidup diatas sana.
Tangan mungil itu perlahan meraih tangan Stanley, kaki Arabella perlahan berjalan menuju jendela kembali tetapi dengan isengnya Stanley justru mengibaskan tangannya yang sedang memegang erat tangan Arabella.
Seketika tubuh Arabella pun terhempas bergelantungan pada satu tangan Stanley.
"Tuan, kenapa kau lakukan ini aku takut,"
Arabella menangis histeris karena sekarang tubuhnya bergantung pada satu tangan Stanley yang masih memegang erat tangannya.
"Itu akibat kau selalu membantah ku,"
"Kau sudah berjanji akan menolong ku, kau jahat Tuan seharusnya aku tidak percaya dengan pembunuh ayahku sendiri sudah pasti kau juga akan membunuhku,"
Kini Arabella pasrah jika memang tubuhnya akan terjun bebas dari lantai 5 ini, dia tidak lagi berharap pada Stanley yang akan menolongnya! Lagipula apa yang bisa dia harapkan dengan pembunuh ayahnya itu?
Dengan perlahan Stanley pun semakin menggenggam erat tangan Arabella lalu mengangkat tubuh mungil itu, hingga tubuh mungil itu semakin bergerak keatas dan akhirnya Stanley berhasil menangkap tubuh Arabella.
Dipeluknya tubuh gadis yang saat ini sedang memejamkan kedua matanya karena dia pikir dia akan jatuh kebawah sana! Tubuh Arabella masuk kembali kedalam kamar mandi dengan posisi Stanley yang memeluknya dengan erat.
"Kenapa matamu terpejam?"
Mendengar suara berat Stanley membuat Arabella akhirnya membuka kedua mata indahnya. Dipandanginya wajah Stanley yang ternyata sangat tampan.
Cukup lama Arabella menatap wajah Stanley.
"Apa aku tidak terjatuh?"
"Kalau kau terjatuh tidak mungkin aku bisa memelukmu seperti sekarang,"
Kedua mata Arabella mengerjap melihat ternyata Stanley melingkarkan kedua tangannya dipinggulnya.
"Ah, lepaskan aku Tuan,"
"Hei nona, bukankah sebaiknya kau berterimakasih padaku jika bukan karena aku menolong mu kau sudah jatuh kebawah sana,"
"Aku lebih baik jatuh daripada kau tolong,"
"Kau gadis tidak tau diri,"
Stanley melepaskan pelukannya lalu keduanya saking terdiam.
"Keluar sana, aku mau mandi!"
"Tuan aku ingin bertemu ayahku,"
"Dia sudah mati,"
"Kenapa kau lakukan ini? Hanya dia satu-satunya yang aku punya Tuan,"
"Itu bukan urusanmu,"
"Aku berhak tau, aku putrinya,"
"Jika kau tidak mau keluar dari kamar mandi ini, aku akan mandi didepan mu,"
"Hah? Kau gila Tuan,"
Langsung saja Stanley membuka kemejanya dihadapan Arabella hingga Arabella pun langsung berlarian keluar dari dalam kamar mandi. Tidak mungkin dia menodai kedua matanya dengan melihat tubuh laki-laki jahat seperti Stanley.
"Dasar gadis kecil,"
Sekarang Arabella tidak tau harus berbuat apa agar dia bisa keluar dari kamar Stanley, hidupnya seperti sudah hancur karena kehilangan sosok ayah keluarga satu-satunya yang dia punya, disisi lain dia juga harus terkurung menjadi tawanan Tuan Stanley Limson.
Arabella duduk dilantai sambil bersandar pada ranjang dibelakangnya, banyak hal yang tidak dia mengerti dan banyak hal yang dia pikirkan.
"Ayah, kenapa semua ini terjadi? Ara sekarang sendirian Yah, Ara harus bagaimana?"
Setelah kurang lebih setengah jam Stanley keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Arabella yang sedang termenung duduk dilantai.
"Hei, kau sedang apa disitu?"
"Maaf Tuan aku hanya capek makanya aku duduk,"
Arabella bangkit berdiri, sementara Stanley semakin mendekatkan diri pada Arabella. Gadis itu hanya tertunduk tidak berani menatap Stanley yang hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.
"Siapkan baju tidurku!"
"Baik Tuan,"
Tidak ada yang bisa Arabella lakukan selain pasrah melaksanakan semua perintah Stanley. Meskipun dia sangat ingin sekali pergi dan mencari jenazah ayahnya tetapi untuk saat ini menurut pada Stanley adalah hal yang harus dia lakukan.
"Ini Tuan,"
Diberikannya satu set pakaian tidur pada Stanley, berbeda dengan banyak wanita yang sudah dia temui entah kenapa melihat wajah sendu Arabella membuat Stanley betah berlama-lama memandangi wajahnya.
Meskipun Arabella adalah putri dari pengkhianat group Limson yang hampir saja membuat para anggota group Limson dalam bahaya, tetapi Arabella begitu polos dan tidak tau apa-apa.
Diraihnya pakaian tidur itu dari tangan Arabella, langsung saja Arabella berbalik badan.
"Kenapa kau berbalik badan?"
"Karena kau mau memakai pakaian mu kan, Tuan?"
"Kau tidak mau melihat?"
"Dasar gila,"
Gadis lugu itu sungguh membuat Stanley selalu ingin menggoda kepolosannya.
Malam harinya Stanley merebahkan tubuhnya diatas ranjang sementara Arabella masih betah duduk di sofa.
"Hei kau, kemari!"
Dengan menghela nafas panjang, Arabella pun menghampiri Stanley.
"Pijat aku,"
"Aku tidak bisa memijat,"
"Harus bisa atau aku lempar tubuhmu keluar jendela!"
Rasanya ingin sekali Arabella menyumpal mulut pedas Stanley, tapi dia tidak akan mungkin bisa melakukan hal itu mau tidak mau Arabella pun menuruti perintah Stanley.
Stanley membalikkan tubuhnya tidur dengan posisi tengkurap, perlahan tangan Arabella pun mulai memijat pindah Stanley dengan pelan-pelan, saking pelannya tubuh kekar Stanley merasa jika Arabella bukan sedang memijatnya melainkan sedang mencolek-colek tubuhnya.
"Kau sedang apa? Aku menyuruhmu memijit bukan mencolek,"
"A-aku memijit sesuai perintah mu Tuan,"
"Ini tidak terasa yang benar kencangkan lagi!"
Bibir Arabella mengerucut saking kesalnya dia pada Stanley karena sepanjang Arabella memijit, Stanley terus melayangkan protes padahal Arabella sudah berusaha keras untuk bisa memijat dengan kencang sesuai dengan apa yang Stanley perintahkan.
Semakin larut kedua mata Arabella semakin merasa ngantuk, ada banyak hal yang malam ini dia alami tetapi hingga larut malam begini dia masih belum bisa beristirahat karena harus memijit Stanley.
"Tuan aku ngantuk dan lelah,"
"Jangan mengeluh dan tetap memijat!"
"Baik Tuan!"
Hingga akhirnya Arabella pun tidak dapat lagi mempertahankan rasa kantuknya sampai-sampai dia pun tertidur dengan kepala yang bersandar diatas punggung Stanley.
"Hei kau tidur?"
Tidak kunjung mendapat jawaban sementara punggungnya dijadikan bantal oleh Arabella, Stanley pun perlahan bangun sambil memegangi kepala Arabella.
"Sit, gadis ini tidak ada takut-takutnya padaku bisa-bisanya dia tidur!"
Diangkatnya tubuh Arabella kemudian direbahkannya diatas ranjang. Karena sudah sangat ngantuk Stanley pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Arabella.
Hingga malam harinya Arabella memeluk tubuh Stanley disela-sela tidur nyenyak nya, membuat Stanley terbangun dari tidurnya saat merasakan tubuhnya dipeluk bagaikan bantal guling oleh Arabella.
"Hei kau pikir aku guling?"
Tetapi Arabella tetap tertidur pulas tetapi melihat wajah lelah dan letih Arabella yang sedang tertidur lelap begini, Stanley pun membalas pelukan Arabella dengan melingkarkan satu tangannya dipinggang Arabella.
Pagi menjelang, Arabella terusik ketika mentari pagi menyapa dirinya dengan masuk melewati celah jendela kamar mewah itu.
Saat terbangun hal pertama yang Arabella lihat adalah wajah tampan Stanley yang saat ini tepat berada didepan wajahnya. Arabella melirik semakin bawah dan semakin bawah mendapati Stanley yang melingkarkan tangannya pada pinggangnya.
"Dasar laki-laki kurang ajar!"
Didorongnya tubuh Stanley oleh Arabella hingga Stanley pun terbangun.
"Kau, berani sekali kau mengganggu tidur ku!"
Pagi-pagi begini hanya Arabella yang bisa membuat Stanley terusik dari tidurnya hingga Stanley pun sangat marah.
"Kau laki-laki kurang ajar kau memelukku, dan kenapa kau tidur satu ranjang denganku?"
"Hei gadis gila ranjang ini milikku dan kau tawanan kamar ku, apapun yang aku lakukan itu adalah hak ku,"
"Tapi tidak dengan menyentuh tubuhku, aku tidak akan pernah rela,"
Ditariknya tubuh Arabella hingga tubuh mungil kini bisa dengan mudahnya berada dibawah tubuh Stanley.
"Dengar, cepat atau lambat tubuhmu ini akan menjadi milikku jadi berhentilah protes,"
"Kau jahat! Kau adalah manusia paling menjijikkan, kau pembunuh,"
"Lebih baik kau mandi sekarang jika kau masih ingin melihat jenazah ayahmu sebelum dia dikebumikan!"
"Apa? Jenazah ayahku?"
Stanley segera berdiri dari sana lalu pergi menuju kamar mandi sementara Arabella terus menangis mendengar jenazah ayahnya akan segera dikebumikan.
Seperti mimpi kini dia tidak memiliki siapapun lagi dihidup nya, Arabella sangat mengutuk Stanley karena dialah ayahnya sampai tewas. Separah apapun kesalahan ayahnya, tidak ada yang berhak membunuh ayahnya dengan keji seperti ini.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Arabella terus menangis sampai Stanley selesai mandi.
"Kau tidak mau melihat jenazah ayahmu?"
Arabella langsung bangkit dan memukul-mukul dada bidang Stanley. Rasanya ingin sekali Arabella bunuh laki-laki kejam yang berada dihadapannya ini.
"Aku benci kau, aku benci kau!"
Disingkirkannya tangan Arabella dengan kasar oleh Stanley.
"Mandilah aku tunggu dibawah!"
Setelah mengatakan itu Stanley pun pergi meninggalkan kamar sementara Arabella mau tidak mau dia harus mandi untuk bisa pergi melihat jenazah ayahnya.
Saat selesai mandi beberapa pelayan datang sambil membawa banyak pakaian wanita untuk Arabella.
"Nona silahkan anda pilih pakaian mana yang akan anda pakai hari ini!"
"Ini pakaian untukku?"
"Benar,"
"Apa ini yang menyuruh kalian itu Tuan jahat yang tinggi dan seram itu?"
"Maksud anda Tuan Stanley?"
"Iya Stanley atau Stan up pokoknya itulah,"
"Benar nona kami diperintahkan oleh Tuan untuk membawakan pakaian ini,"
"Katakan padanya aku akan pakai pakaian ku yang ini lagi!"
"Maaf nona tapi Tuan berpesan jika anda menolak, maka anda tidak akan diizinkan untuk ikut ke pemakaman,"
"Dasar laki-laki jahat, bisanya hanya mengancam saja!"
Akhirnya Arabella memilih salah satu pakaian bagus dan mahal itu untuk dia kenakan, pilihannya jatuh pada dress berwarna hitam yang membuat wajah Arabella terlihat lebih cerah dan cantik lagi memakai gaun itu.
Arabella turun ke lantai bawah untuk menemui Stanley, saat sedang menikmati sebatang rokok sambil duduk santai di sofa ruang tamunya! Stanley melihat Arabella datang menghampirinya.
Hampir saja Stanley lupa caranya berkedip saat menyaksikan betapa cantiknya Arabella mengenakan dress berwarna hitam itu.
"Kau sudah siap?"
Arabella hanya diam saja dan tidak mau menatap wajah Stanley.
Akhirnya Stanley, Arabella dan beberapa anggota group Limson masuk kedalam mobil untuk pergi menyaksikan jenazah ayahnya Arabella dikebumikan.
Tangisan Arabella tak terbendung lagi ketika melihat ayahnya didalam peti jenazah, rasanya hancur seperti tidak ingin hidup lagi ketika harus melihat ayahnya terbujur kaku didalam peti. Arabella menangis histeris dan memeluk peti jenazah.
Melihat Arabella menangis histeris membuat Stanley merasakan sesuatu dalam hatinya, biasanya dia tidak pernah memiliki rasa kasihan atau iba tetapi melihat Arabella menangis seperti itu, Stanley merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya.