Bab 1

Hujan deras yang turun malam hari ini penuh dengan suara-suara petir yang sangat kencang.

Arabella Gaziella, gadis berusia 18 tahun itu baru saja selesai mengerjakan tugas kuliah bersama dengan beberapa teman-temannya di salah satu rumah teman kuliahnya.

Seperti biasa tidak ada hal lain yang dilakukan Arabella ketika sudah selesai mengerjakan tugas dia akan langsung pulang untuk menemui ayahnya, sejak ibunya meninggal 2 tahun lalu karena sakit yang dideritanya! Arabella begitu manja dan tidak bisa berlama-lama jauh dari ayah tercintanya.

"Sebaiknya aku belikan ayah kue muffin, malam-malam begini ayah pasti suka jika ngemil kue muffin,"

Sambil bersenandung Arabella membeli beberapa kue muffin dan berjalan sendirian sambil membawa payung! Bunyi petir terasa lebih kencang dibandingkan malam-malam sebelumnya.

Satu tangan Arabella memegangi gagang payung berwarna hitam miliknya, sementara satu tangannya yang lain memegangi kantong berisi kue muffin untuk ayahnya.

Dor..

Kedua kaki Arabella terhenti sesaat ketika mendengar suara tembakan didekat kediamannya yang sederhana!

"Suara apa itu? Ke-kenapa seperti suara tembakan?"

Arabella bertanya-tanya firasat tidak baik mulai menghantui dirinya! Dengan langkah kaki terburu-buru Arabella berjalan masuk ke pekarangan rumahnya itu!

Taangannya yang sedang memegangi gagang payung itu melepaskan payung begitu saja, begitu juga dengan satu tangannya yang menggenggam erat kantong berisi kue muffin ikut terlepas.

Payung dan kue muffin itu jatuh ke tanah sementara wajah Arabella menjadi pucat pasih! Bibirnya bergetar tidak mampu berkata-kata sementara kedua kakinya mematung.

Sekelompok orang-orang memakai pakaian serba hitam itu sedang mengelilingi ayahnya yang sudah bersimbah darah dilantai teras rumah!

"A-ayah,"

Air mata Arabella mengalir deras ketika melihat ayahnya memiliki banyak luka tembak dan tubuh ayahnya sudah tidak bergerak.

"Tangkap gadis itu!"

Seorang anggota group Limson memerintahkan untuk menangkap Arabella, bukannya berlari menghindari para anggota group Limson yang sudah membunuh ayahnya! Arabella justru berlari untuk menghampiri jasad ayahnya.

"Ayah!"

Dengan terus menangis pilu dan berusaha meraih tubuh ayahnya, Arabella langsung ditangkap beberapa anggota group Limson dan menyeretnya semakin jauh dari tubuh sang ayah.

Tubuh Arabella yang mungil membuatnya tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dari para anggota group Limson.

Mereka semua membawa Arabella masuk kedalam mobil, entah mau diapakan dan mau dibawa kemana Arabella oleh para anggota group Limson itu?

"Kalian jahat! Siapa kalian?"

Didalam mobil pun Arabella terus memaki dan memukul-mukul para anggota group Limson yang membawanya, tetapi para anggota group Limson itu diam seribu bahasa.

Hingga akhirnya tibalah mobil anggota group Limson itu di sebuah mansion mewah dengan gerbang utama yang menjulang tinggi!

Mereka menyeret tubuh Arabella memaksa tubuhnya untuk ikut kedalam tempat mewah yang entah milik siapa itu?

Arabella dikunci disalah satu ruangan, sementara beberapa anggota group Limson menuju salah satu ruangan tempat dimana ketua mafia terbesar di negara ini tengah duduk santai dikursi kebesarannya.

"Kami sudah menyelesaikan tugas kami, Tuan!"

Stanley Limson yang merupakan ketua group Limson memberikan senyum disudut bibirnya, setelah mendengar para anggotanya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka.

"Bagus,"

Dingin, kejam dan terkenal tanpa belas kasihan terhadap siapapun yang berani mengkhianati group Limson ataupun kepada para musuhnya, sosok pria tampan berusia 30 tahun itu tidak pernah mengenal dengan namanya cinta.

Bagi Stanley Limson wanita hanyalah sebuah mainan dikala dia jenuh dengan pekerjaannya, membuat Stanley tidak pernah memiliki hubungan serius dengan wanita manapun.

"Tapi Tuan,"

"Kau tau aku tidak menyukai kata tapi, bukan?"

Para anggota group Limson langsung tertunduk dan tidak berani melanjutkan perkataannya.

"Katakan, apa ada masalah?"

"Ternyata, pengkhianat itu memiliki putri!"

"Putri?"

"Iya Tuan, putrinya masih sangat muda dan sepertinya dia tidak tau menahu tentang apa yang dilakukan oleh ayahnya terhadap group Limson!"

"Lalu apa gadis itu masih hidup?"

"Kami membawanya hidup-hidup, Tuan!"

"Bawa dia kehadapan ku!"

"Baik Tuan,"

Setelah diperintahkan oleh Stanley, seorang anggota group Limson membawa Arabella yang semula dikurung disalah satu ruangan untuk dibawa kehadapan Stanley.

"Lepaskan aku! Kalian seenaknya saja memperlakukan aku dan ayahku, siapa kalian?"

Arabella terus melawan dan memaki para anggota group Limson, hingga akhirnya tubuhnya yang mungil itu dihempaskan oleh salah seorang anggota group Limson kehadapan Stanley Limson.

Melihat sosok tinggi tegap dihadapannya, Arabella langsung tercengang! Tatapan Stanley terhadap Arabella sudah seperti tatapan seekor serigala yang hendak menerkam mangsanya.

"Ka-kau siapa?"

"Kau putri dari pengkhianat itu rupanya,"

Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Stanley, Arabella menyadari satu hal jika laki-laki yang ada dihadapannya saat ini merupakan dalang dibalik tewasnya ayahnya.

Dengan berani Arabella menghampiri Stanley kemudian mencengkram kerah kemeja Stanley, tindakan Arabella membuat para anggota group Limson yang berada disekelilingnya hendak maju untuk menarik paksa Arabella.

Akan tetapi, Stanley memberi isyarat agar para anggota group Limson tetap diam ditempat.

"Kau yang sudah memerintahkan orang-orang itu membunuh ayahku, kan?"

"Jika kau tidak mau ikut menyusul ayahmu ke neraka, maka singkirkan tanganmu ini dari kerah baju ku!"

"Aku tidak tau kenapa kau melakukan ini pada ayahku, tapi aku akan membunuhmu juga!"

Arabella mencekik leher Stanley Limson, tindakan Arabella berhasil memancing amarah Stanley Limson.

Dengan secepat kilat kedua tangan Stanley menyingkirkan kedua tangan Arabella yang sedang mencekiknya, kemudian memutar kedua tangan Arabella kebelakang tubuhnya sendiri dan berakhir dengan tubuh Arabella yang terkunci oleh Stanley.

"Lepaskan! Lepaskan aku!"

Dicengkeramnya tulang pipi Arabella oleh Stanley kemudian diangkatnya wajah Arabella, beberapa saat Stanley memperhatikan wajah Arabella yang sangat cantik sempurna meskipun tanpa polesan make up berlebihan.

"Cuih,"

Arabella meludahi wajah Stanley membuat Stanley kali ini benar-benar murka.

Diangkatnya tubuh Arabella dengan dinaikkan keatas pundaknya! Stanley berjalan sambil mengangkat tubuh Arabella menuju kamarnya sendiri.

"Turunkan aku! Dasar laki-laki brengsek,"

Tetapi Stanley tidak menggubris umpatan demi umpatan yang dilayangkan oleh Arabella, hingga tibalah disebuah kamar dengan dekorasi serba hitam dan putih.

Tubuh Arabella dilemparkan dengan kasar oleh Stanley keatas ranjang miliknya. Tubuh Arabella terlentang diatas ranjang mewah milik Stanley.

"Mau apa kau?"

Arabella berusaha untuk menjauh dari Stanley, tetapi Stanley malah menarik kedua kaki Arabella dengan kasar hingga tubuh Arabella pun mendekat pada Stanley.

Ditariknya kedua tangan Arabella hingga tubuh Arabella kini posisinya duduk dengan tulang pipi yang dicengkeram oleh Stanley.

"Mulai malam ini, kau adalah tawanan kamar Tuan Stanley! Kau tawanan ku,"

"Tidak, aku tidak mau aku mau pergi!"

"Dengar gadis kecil, semua kebutuhan ku harus kau siapkan dan tubuhmu adalah milikku!"

Bagai tersambar petir setiap kali Arabella mendengar kata yang terucap dari bibir laki-laki berusia 30 tahun itu!

Bab 2

Entah kenapa Stanley sangat betah memandangi wajah cantik Arabella, bagi Stanley wajah cantik alaminya sangat berbeda dibandingkan dengan wajah cantik wanita-wanita yang banyak dia temui diluaran sana.

Satu tangan besar Stanley masih betah mencengkram kuat tulang pipi Arabella, dipandangnya wajah Arabella oleh Stanley membuat Arabella semakin ketakutan dibuatnya.

Hidungnya yang mancung serta bibirnya yang terlihat lembab, tipis dan berwarna merah muda membuat Stanley tergiur untuk bisa merasakan bibir Arabella yang diyakininya pasti sangat manis dan lembut.

Perlahan Stanley mendekatkan wajahnya pada wajah Arabella, membuat Arabella langsung memalingkan wajahnya tidak ingin sama sekali Stanley bisa melakukan apa yang dia inginkan.

"Aku mohon jangan sentuh aku!"

"Kenapa aku tidak boleh menyentuh tawanan ku sendiri? Kau tidak berhak menolak,"

"Tuan aku tidak tau apa kesalahan ayahku terhadap mu sampai kau dengan teganya membunuh ayahku, tapi Tuan aku tidak memiliki kesalahan apapun terhadap mu jadi aku mohon jangan sentuh aku lepaskan aku!"

Hahaha..

"Memangnya kau siapa berani memerintah ku?"

"Aku tidak akan pernah sudi kau menyentuhku,"

"Kau benar-benar gadis pembangkang, tapi aku suka gadis seperti mu membuatku semakin tertarik untuk bisa menguasai dirimu!"

"Kau gila! Kau gila!"

"Diam!"

Stanley membentak lalu mendekatkan wajahnya.

"Siapkan air hangat untukku mandi sekarang!"

"Aku tidak mau!"

"Kau mau melawanku?"

Ditariknya satu kancing pakaian Arabella hingga membuat kancing itu terlepas, membuat bagian yang tak semestinya terlihat kini bisa terlihat.

"Ampun Tuan!"

"Jangan membangkang cepat siapkan air hangat untukku!"

"Ba-baik Tuan,"

Tidak ingin Stanley semakin murka terhadap dirinya! Arabella buru-buru menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat seperti yang diinginkan oleh Stanley.

Tetapi sambil menyiapkan air hangat! Arabella melihat ada kaca jendela didalam kamar mandi tersebut, dengan mudahnya jendela kamar mandi itu bisa dia buka.

"Akhirnya aku menemukan jalan untuk kabur dari sini,"

Buru-buru Arabella mengangkat kakinya untuk keluar dari dalam kamar mandi itu! Tetapi saat berhasil keluar dari dalam kamar mandi, begitu melihat kearah bawah tubuh Arabella langsung gemetaran.

Rupanya tempat dia berdiri sekarang ini adalah dilantai 5 mansion mewah milik Stanley.

"Ba-bagaimana bisa aku melompat dari sini? Tolong! Tolong!"

Membuat Stanley yang sedang duduk disofa kamarnya mendengar teriakan Arabella dari dalam kamar mandi! Suara teriakan Arabella nyaring terdengar tetapi gadis itu tidak ada didalam kamar mandi.

Stanley menengok ke kanan kirinya dan mendapati kaca jendela kamarnya sudah terbuka, itu artinya Arabella si pembangkang itu berusaha kabur dengan melewati jendela kamar mandi tanpa memikirkan betapa tingginya tempat dia berdiri sekarang.

Jika melompat dari jendela kamar mandi itu bisa-bisa Arabella akan lumpuh seumur hidup atau mati sia-sia, apalagi kakinya berpijak disela-sela tembok yang sangat kecil.

Stanley pun dengan santai menengok kejendela dan melihat Arabella sedang ketakutan berdiri diluar jendela kamar mandi.

"Kau mau kabur?"

"Tu-tuan aku takut,"

"Loncat saja sana!"

"Maafkan aku Tuan, tolong aku Tuan,"

Melihat Arabella yang nekat padahal aslinya dia gadis yang sangat penakut apalagi pada ketinggian seperti ini, Stanley pun mengulurkan tangannya untuk menolong Arabella.

"Raih tanganku!"

"Kau janji tidak akan melepaskannya kan?"

"Kau ini bawel sekali, cepat atau aku berubah pikiran,"

"Jangan Tuan, baik aku akan meraih tanganmu,"

Meskipun ragu-ragu Stanley benar akan menolongnya tetapi tidak ada pilihan lain bagi Arabella selain meraih tangan Stanley untuk bisa kembali masuk kedalam, jika tidak dia bisa berdiri seumur hidup diatas sana.

Tangan mungil itu perlahan meraih tangan Stanley, kaki Arabella perlahan berjalan menuju jendela kembali tetapi dengan isengnya Stanley justru mengibaskan tangannya yang sedang memegang erat tangan Arabella.

Seketika tubuh Arabella pun terhempas bergelantungan pada satu tangan Stanley.

"Tuan, kenapa kau lakukan ini aku takut,"

Arabella menangis histeris karena sekarang tubuhnya bergantung pada satu tangan Stanley yang masih memegang erat tangannya.

"Itu akibat kau selalu membantah ku,"

"Kau sudah berjanji akan menolong ku, kau jahat Tuan seharusnya aku tidak percaya dengan pembunuh ayahku sendiri sudah pasti kau juga akan membunuhku,"

Kini Arabella pasrah jika memang tubuhnya akan terjun bebas dari lantai 5 ini, dia tidak lagi berharap pada Stanley yang akan menolongnya! Lagipula apa yang bisa dia harapkan dengan pembunuh ayahnya itu?

Dengan perlahan Stanley pun semakin menggenggam erat tangan Arabella lalu mengangkat tubuh mungil itu, hingga tubuh mungil itu semakin bergerak keatas dan akhirnya Stanley berhasil menangkap tubuh Arabella.

Dipeluknya tubuh gadis yang saat ini sedang memejamkan kedua matanya karena dia pikir dia akan jatuh kebawah sana! Tubuh Arabella masuk kembali kedalam kamar mandi dengan posisi Stanley yang memeluknya dengan erat.

"Kenapa matamu terpejam?"

Mendengar suara berat Stanley membuat Arabella akhirnya membuka kedua mata indahnya. Dipandanginya wajah Stanley yang ternyata sangat tampan.

Cukup lama Arabella menatap wajah Stanley.

"Apa aku tidak terjatuh?"

"Kalau kau terjatuh tidak mungkin aku bisa memelukmu seperti sekarang,"

Kedua mata Arabella mengerjap melihat ternyata Stanley melingkarkan kedua tangannya dipinggulnya.

"Ah, lepaskan aku Tuan,"

"Hei nona, bukankah sebaiknya kau berterimakasih padaku jika bukan karena aku menolong mu kau sudah jatuh kebawah sana,"

"Aku lebih baik jatuh daripada kau tolong,"

"Kau gadis tidak tau diri,"

Stanley melepaskan pelukannya lalu keduanya saking terdiam.

"Keluar sana, aku mau mandi!"

"Tuan aku ingin bertemu ayahku,"

"Dia sudah mati,"

"Kenapa kau lakukan ini? Hanya dia satu-satunya yang aku punya Tuan,"

"Itu bukan urusanmu,"

"Aku berhak tau, aku putrinya,"

"Jika kau tidak mau keluar dari kamar mandi ini, aku akan mandi didepan mu,"

"Hah? Kau gila Tuan,"

Langsung saja Stanley membuka kemejanya dihadapan Arabella hingga Arabella pun langsung berlarian keluar dari dalam kamar mandi. Tidak mungkin dia menodai kedua matanya dengan melihat tubuh laki-laki jahat seperti Stanley.

"Dasar gadis kecil,"

Sekarang Arabella tidak tau harus berbuat apa agar dia bisa keluar dari kamar Stanley, hidupnya seperti sudah hancur karena kehilangan sosok ayah keluarga satu-satunya yang dia punya, disisi lain dia juga harus terkurung menjadi tawanan Tuan Stanley Limson.

Arabella duduk dilantai sambil bersandar pada ranjang dibelakangnya, banyak hal yang tidak dia mengerti dan banyak hal yang dia pikirkan.

"Ayah, kenapa semua ini terjadi? Ara sekarang sendirian Yah, Ara harus bagaimana?"

Setelah kurang lebih setengah jam Stanley keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Arabella yang sedang termenung duduk dilantai.

"Hei, kau sedang apa disitu?"

"Maaf Tuan aku hanya capek makanya aku duduk,"

Arabella bangkit berdiri, sementara Stanley semakin mendekatkan diri pada Arabella. Gadis itu hanya tertunduk tidak berani menatap Stanley yang hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.

Bab 3

"Siapkan baju tidurku!"

"Baik Tuan,"

Tidak ada yang bisa Arabella lakukan selain pasrah melaksanakan semua perintah Stanley. Meskipun dia sangat ingin sekali pergi dan mencari jenazah ayahnya tetapi untuk saat ini menurut pada Stanley adalah hal yang harus dia lakukan.

"Ini Tuan,"

Diberikannya satu set pakaian tidur pada Stanley, berbeda dengan banyak wanita yang sudah dia temui entah kenapa melihat wajah sendu Arabella membuat Stanley betah berlama-lama memandangi wajahnya.

Meskipun Arabella adalah putri dari pengkhianat group Limson yang hampir saja membuat para anggota group Limson dalam bahaya, tetapi Arabella begitu polos dan tidak tau apa-apa.

Diraihnya pakaian tidur itu dari tangan Arabella, langsung saja Arabella berbalik badan.

"Kenapa kau berbalik badan?"

"Karena kau mau memakai pakaian mu kan, Tuan?"

"Kau tidak mau melihat?"

"Dasar gila,"

Gadis lugu itu sungguh membuat Stanley selalu ingin menggoda kepolosannya.

Malam harinya Stanley merebahkan tubuhnya diatas ranjang sementara Arabella masih betah duduk di sofa.

"Hei kau, kemari!"

Dengan menghela nafas panjang, Arabella pun menghampiri Stanley.

"Pijat aku,"

"Aku tidak bisa memijat,"

"Harus bisa atau aku lempar tubuhmu keluar jendela!"

Rasanya ingin sekali Arabella menyumpal mulut pedas Stanley, tapi dia tidak akan mungkin bisa melakukan hal itu mau tidak mau Arabella pun menuruti perintah Stanley.

Stanley membalikkan tubuhnya tidur dengan posisi tengkurap, perlahan tangan Arabella pun mulai memijat pindah Stanley dengan pelan-pelan, saking pelannya tubuh kekar Stanley merasa jika Arabella bukan sedang memijatnya melainkan sedang mencolek-colek tubuhnya.

"Kau sedang apa? Aku menyuruhmu memijit bukan mencolek,"

"A-aku memijit sesuai perintah mu Tuan,"

"Ini tidak terasa yang benar kencangkan lagi!"

Bibir Arabella mengerucut saking kesalnya dia pada Stanley karena sepanjang Arabella memijit, Stanley terus melayangkan protes padahal Arabella sudah berusaha keras untuk bisa memijat dengan kencang sesuai dengan apa yang Stanley perintahkan.

Semakin larut kedua mata Arabella semakin merasa ngantuk, ada banyak hal yang malam ini dia alami tetapi hingga larut malam begini dia masih belum bisa beristirahat karena harus memijit Stanley.

"Tuan aku ngantuk dan lelah,"

"Jangan mengeluh dan tetap memijat!"

"Baik Tuan!"

Hingga akhirnya Arabella pun tidak dapat lagi mempertahankan rasa kantuknya sampai-sampai dia pun tertidur dengan kepala yang bersandar diatas punggung Stanley.

"Hei kau tidur?"

Tidak kunjung mendapat jawaban sementara punggungnya dijadikan bantal oleh Arabella, Stanley pun perlahan bangun sambil memegangi kepala Arabella.

"Sit, gadis ini tidak ada takut-takutnya padaku bisa-bisanya dia tidur!"

Diangkatnya tubuh Arabella kemudian direbahkannya diatas ranjang. Karena sudah sangat ngantuk Stanley pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Arabella.

Hingga malam harinya Arabella memeluk tubuh Stanley disela-sela tidur nyenyak nya, membuat Stanley terbangun dari tidurnya saat merasakan tubuhnya dipeluk bagaikan bantal guling oleh Arabella.

"Hei kau pikir aku guling?"

Tetapi Arabella tetap tertidur pulas tetapi melihat wajah lelah dan letih Arabella yang sedang tertidur lelap begini, Stanley pun membalas pelukan Arabella dengan melingkarkan satu tangannya dipinggang Arabella.

Pagi menjelang, Arabella terusik ketika mentari pagi menyapa dirinya dengan masuk melewati celah jendela kamar mewah itu.

Saat terbangun hal pertama yang Arabella lihat adalah wajah tampan Stanley yang saat ini tepat berada didepan wajahnya. Arabella melirik semakin bawah dan semakin bawah mendapati Stanley yang melingkarkan tangannya pada pinggangnya.

"Dasar laki-laki kurang ajar!"

Didorongnya tubuh Stanley oleh Arabella hingga Stanley pun terbangun.

"Kau, berani sekali kau mengganggu tidur ku!"

Pagi-pagi begini hanya Arabella yang bisa membuat Stanley terusik dari tidurnya hingga Stanley pun sangat marah.

"Kau laki-laki kurang ajar kau memelukku, dan kenapa kau tidur satu ranjang denganku?"

"Hei gadis gila ranjang ini milikku dan kau tawanan kamar ku, apapun yang aku lakukan itu adalah hak ku,"

"Tapi tidak dengan menyentuh tubuhku, aku tidak akan pernah rela,"

Ditariknya tubuh Arabella hingga tubuh mungil kini bisa dengan mudahnya berada dibawah tubuh Stanley.

"Dengar, cepat atau lambat tubuhmu ini akan menjadi milikku jadi berhentilah protes,"

"Kau jahat! Kau adalah manusia paling menjijikkan, kau pembunuh,"

"Lebih baik kau mandi sekarang jika kau masih ingin melihat jenazah ayahmu sebelum dia dikebumikan!"

"Apa? Jenazah ayahku?"

Stanley segera berdiri dari sana lalu pergi menuju kamar mandi sementara Arabella terus menangis mendengar jenazah ayahnya akan segera dikebumikan.

Seperti mimpi kini dia tidak memiliki siapapun lagi dihidup nya, Arabella sangat mengutuk Stanley karena dialah ayahnya sampai tewas. Separah apapun kesalahan ayahnya, tidak ada yang berhak membunuh ayahnya dengan keji seperti ini.

Hiks.

Hiks.

Hiks.

Arabella terus menangis sampai Stanley selesai mandi.

"Kau tidak mau melihat jenazah ayahmu?"

Arabella langsung bangkit dan memukul-mukul dada bidang Stanley. Rasanya ingin sekali Arabella bunuh laki-laki kejam yang berada dihadapannya ini.

"Aku benci kau, aku benci kau!"

Disingkirkannya tangan Arabella dengan kasar oleh Stanley.

"Mandilah aku tunggu dibawah!"

Setelah mengatakan itu Stanley pun pergi meninggalkan kamar sementara Arabella mau tidak mau dia harus mandi untuk bisa pergi melihat jenazah ayahnya.

Saat selesai mandi beberapa pelayan datang sambil membawa banyak pakaian wanita untuk Arabella.

"Nona silahkan anda pilih pakaian mana yang akan anda pakai hari ini!"

"Ini pakaian untukku?"

"Benar,"

"Apa ini yang menyuruh kalian itu Tuan jahat yang tinggi dan seram itu?"

"Maksud anda Tuan Stanley?"

"Iya Stanley atau Stan up pokoknya itulah,"

"Benar nona kami diperintahkan oleh Tuan untuk membawakan pakaian ini,"

"Katakan padanya aku akan pakai pakaian ku yang ini lagi!"

"Maaf nona tapi Tuan berpesan jika anda menolak, maka anda tidak akan diizinkan untuk ikut ke pemakaman,"

"Dasar laki-laki jahat, bisanya hanya mengancam saja!"

Akhirnya Arabella memilih salah satu pakaian bagus dan mahal itu untuk dia kenakan, pilihannya jatuh pada dress berwarna hitam yang membuat wajah Arabella terlihat lebih cerah dan cantik lagi memakai gaun itu.

Arabella turun ke lantai bawah untuk menemui Stanley, saat sedang menikmati sebatang rokok sambil duduk santai di sofa ruang tamunya! Stanley melihat Arabella datang menghampirinya.

Hampir saja Stanley lupa caranya berkedip saat menyaksikan betapa cantiknya Arabella mengenakan dress berwarna hitam itu.

"Kau sudah siap?"

Arabella hanya diam saja dan tidak mau menatap wajah Stanley.

Akhirnya Stanley, Arabella dan beberapa anggota group Limson masuk kedalam mobil untuk pergi menyaksikan jenazah ayahnya Arabella dikebumikan.

Tangisan Arabella tak terbendung lagi ketika melihat ayahnya didalam peti jenazah, rasanya hancur seperti tidak ingin hidup lagi ketika harus melihat ayahnya terbujur kaku didalam peti. Arabella menangis histeris dan memeluk peti jenazah.

Melihat Arabella menangis histeris membuat Stanley merasakan sesuatu dalam hatinya, biasanya dia tidak pernah memiliki rasa kasihan atau iba tetapi melihat Arabella menangis seperti itu, Stanley merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED