Bab 1

"Jadi, Ibu akan menikah lagi?"

Luna menatap Ibunya dengan gembira. Akhirnya setelah sekian lama sang ibu membuka hatinya pada seorang pria. Meski gadis berusia 20 tahun itu sedikit terkejut mendengarnya.

"Iya, Luna. Ibu akhirnya menemukan sosok yang sangat baik, kami memang baru berkenalan enam bulan, tapi kami merasa sangat cocok. Dia sangat pengertian dan mengerti kondisi Ibu. Maaf Ibu baru bilang padamu sekarang. Itulah kenapa Ibu mengajakmu untuk bertemu dan berkenalan dengannya malam ini," jelas Diana, Ibu Luna yang telah berusia 42 tahun.

Senyum dibibir Luna perlahan memudar. "Malam ini? Kenapa sangat tiba-tiba, Bu? Aku sudah ada janji dengan seseorang."

"Ohh... sorry, Sweety. Ibu tidak tahu kalau kau sudah ada janji. Apakah itu dengan pria yang kemarin kau ceritakan?"

Luna tak kuasa menahan senyumnya mengingat pria yang satu bulan lalu baru dikenalnya. Gadis itu belum pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi ini adalah pengalaman pertama.

Luna mengangguk pelan, pipinya bersemu merah. "Dia mengajakku makan malam hari ini, Bu."

Diana tersenyum menatap wajah merona putrinya. Meski Luna belum bercerita banyak mengenai pria itu dan identitasnya karena ingin mengenalkannya secara langsung. Diana berusaha mendukung setiap pilihan putrinya, terlebih ini kali pertama Luna merasakan jatuh cinta.

Diana lantas mengusap lengan Luna dengan lembut. "Luna, Ibu sungguh ikut bahagia mendengarnya. Tapi maaf apa kau bisa mengundurnya dulu? Lucas Peterson, calon ayah tirimu adalah orang yang sangat sibuk, kami telah mengatur pertemuan ini dari jauh-jauh hari dan dia baru bisa memberi Ibu kepastian bertemu hari ini. Ibu mohon padamu, ya?"

Luna terdiam berpikir sejenak. Sungguh ia sangat ingin bertemu pria yang berhasil memikat hati sang ibu, tapi gadis itu juga tidak sabar untuk bertemu dengan pria pujaan hatinya.

Drttttr drttt drrrttt

Belum sempat Luna menjawab, ponselnya bergetar. Senyumnya seketika merekah melihat nama pengirim pesan di layar. Namun, dia kembali murung setelah melihat isi pesan singkat tersebut. Pria itu ternyata membatalkan janji temu mereka.

Akhirnya setelah membalas pesan dan mematikan ponselnya, Luna menghela napas berat lalu berkata, "Baiklah, Bu. Apa yang harus aku gunakan nanti malam?"

Diana tersenyum senang. "Apa saja. Tidak perlu terlalu formal, kita hanya makan malam bersama dan berkenalan dengan calon Ayah dan Kakakmu."

"Tunggu... Kakak? Jadi, aku akan punya Kakak setelah Ibu menikah?"

"Kakak laki-laki, tepatnya." Diana mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

Wow, Luna tak menyangka dia bukan hanya akan memiliki ayah, tapi juga akan memiliki kakak? Sungguh sejak dulu Luna sangat ingin memiliki kakak laki-laki, gadis itu merasa jika ia memiliki seorang kakak disampingnya pasti dia akan sangat dimanja dan dilindungi, tapi sayang Luna anak pertama dan satu-satunya karena sang ayah telah meninggal sejak ia berusia 5 tahun.

"Oke... rasanya aku semakin penasaran. Sebenarnya kenapa baru sekarang Ibu mau menikah lagi?"

Diana mendekat lantas menangkup wajah mungil Luna. "Karena Ibu merasa sekarang waktunya sudah tepat, putri Ibu sudah beranjak dewasa, jadi kau tidak memerlukan perhatian extra dari Ibu lagi, selain itu sebentar lagi kau juga akan menemukan tambatan hatimu sendiri. Ibu tidak ingin jadi bebanmu dikemudian hari, jadi Ibu juga menerima pendamping hidup baru, yang Ibu tahu dia bukan hanya menerima Ibu, tapi juga menerimamu. Itu sebabnya."

Mata Luna dipenuhi genangan air mata ketika mendengar penjelasan sang Ibu. Betapa tulus dan besar cinta Diana padanya. Padahal Luna tahu Ibunya selama ini hancur karena kehilangan sang ayah dan harus membesarkan dia seorang diri. Bahkan tak jarang Diana menerima cacian dan hinaan karena statusnya sebagai single parent.

Luna segera memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup pipi Diana lembut. "Aku sangat menyayangi Ibu, terimakasih telah menjadi Ibu yang luar biasa untukku selama ini. Aku tidak sabar segera bertemu mereka."

Diana tak kuasa menahan air matanya juga, akhirnya mereka berpelukan sambil menangis siang itu kemudian membicarakan apa yang akan mereka kenakan nanti malam.

Malam harinya Luna dan Diana telah tiba di sebuah restoran. Ketika mereka sampai di sebuah meja, seorang pria berdiri menyambut. Luna langsung bertemu tatap dengan calon ayah tirinya. Lucas Peterson, seperti namanya, pria paruh baya itu terlihat penuh wibawa dan mapan, meski usianya sudah menginjak 48 tahun, postur tubuhnya yang tegap dan tinggi membuat Lucas lebih terlihat muda dari usianya.

Lucas tersenyum lembut pada Luna kemudian ia menarik Diana ke pelukannya, Lucas memberi kecupan ringan di pipi Diana, yang membuat senyum mereka lebih lebar lagi.

Luna baru melihat pemandangan itu, cara Lucas memperlakukan Diana dengan mesra dan Ibunya yang tampak merona, mereka terlihat sangat kasmaran.

"Jadi, ini Luna? kau terlihat lebih cantik dari foto yang Ibumu perlihatkan padaku."

Pujian Lucas terdengar sangat tulus jadi Luna tersenyum menanggapinya. "Terima kasih... P-paman." Luna terdengar ragu-ragu dengan panggilan yang dia berikan.

Lucas yang merasakannya hanya tersenyum. "Tidak apa. Kita baru bertemu, kau bebas memanggilku senyamannya dirimu." Luna mengangguk merasa lega. Untungnya Lucas terlihat sangat pengertian.

"Oh ya, dimana putramu?" tanya Diana pada Lucas. Mereka akhirnya duduk di tempat duduk masing-masing.

Luna dan Diana duduk berdampingan, Lucas duduk dihadapan Diana sementara tempat duduk kosong di samping Lucas akan terisi oleh putranya.

"Oh, dia masih dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi juga sampai."

Diana mengangguk antusias, sementara Luna entah mengapa tiba-tiba merasa lebih gugup, mungkin karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan calon kakak tirinya. Gadis itu sangat berharap, dia tidak membuat kesan pertama yang buruk dan mereka bisa cepat akrab.

"Jadi, bagaimana dengan kuliahmu, Luna? Aku dengar dari Ibumu, kau baru saja memenangkan kompetisi melukis? Aku sudah melihat lukisanmu difoto dan itu sangat luar biasa." Lucas menatap Luna, pria paruh baya itu berusaha mencairkan suasana dan Diana sangat senang melihat bagaimana Lucas berinteraksi dengan putrinya.

"Ah, ya... terimakasih. Aku sangat menikmati kuliahku," jawab Luna singkat.

"Luna memang sangat suka melukis sejak kecil. Sekarang dia sedang fokus untuk meningkatkan skill dan nilainya karena ingin lolos pertukaran pelajar ke London tahun depan," lanjut Diana dengan bangga.

"Wow, sound's good. kau memiliki putri yang cantik dan pintar, Diana."

"Kau juga, buktinya Reno berhasil memenangkan tender besar baru-baru ini. kau sangat berhasil mendidik putramu, Luc."

Reno? Kening Luna mengernyit mendengar nama familiar itu. Tapi, banyak pria yang bernama Reno, kan?

"Ya, itu karena dia sangat pekerja keras." balas Lucas diiringi kekehan kecil. "Oh, itu dia sudah datang!" Beberapa detik setelahnya, ada langkah kaki mendekat disusul suara maskulin seorang pria.

"Hai, semua. Maaf aku terlambat."

Bab 2

Senyuman di bibir Luna lenyap seketika saat ia melihat Reno yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Pria itu berhenti melangkah beberapa meter, tampak sama terkejutnya dengan Luna.

'Luna? Kenapa dia ada di sini?'

Tersadar. Reno kembali mendekat. Luna semakin yakin pria itu adalah Reno yang sama, Reno yang beberapa waktu ini mengisi hatinya. Reno yang begitu dia sukai, Reno yang telah membatalkan janji temu mereka malam ini.

Tapi, siapa sangka mereka akan tetap bertemu dalam situasi yang berbeda? Dan Luna jadi tahu alasan mengapa Reno membatalkan makan malam mereka.

Semuanya berdiri menyambut kedatangan Reno yang tampak rapi dengan setelan jas berwarna abu. "Reno, kenalkan ini Diana dan putrinya, Luna." Suara Lucas menyadarkan Luna dan Reno. Pria berusia 24 tahun itu menatap antara ayahnya, Diana, kemudian Luna. Dengan mudah dia memahami situasi yang ada.

"Moreno Peterson." Reno lantas memaksakan senyum dan mengulurkan tangan pada Diana, setelah itu pada... gadis cantik yang berdiri kaku di samping ibunya.

Luna terdiam sejenak menatap uluran tangan Reno. Kenapa baru sekarang ia menyadari kesamaan nama belakang Lucas dan Reno? Mereka sama-sama Peterson. Betapa bodohnya. Kemudian gadis itu menatap Diana yang tersenyum bahagia disampingnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

"Emm... seb-" Reno hampir menurunkan tangannya dan bersiap berkata yang sejujurnya jika dia dan Luna telah saling mengenal. Namun, sayangnya Luna malah menerima uluran tangan tersebut dan memperkenalkan diri seolah mereka baru pertama kali bertemu. "Luna Gracia."

"Jadi, kau adalah calon adikku." Reno berkata. Meski raut wajahnya masih penuh keterkejutan.

Luna tak menjawab. Gadis itu memilih kembali duduk setelah melepas uluran tangannya dalam waktu singkat. Mereka semua pun duduk di tempat masing-masing dengan Reno yang tak bisa mengalihkan pandangan dari Luna yang kini menundukkan kepala di hadapannya.

"Ehem... senang bertemu dengan kalian. Maaf aku terlambat. Lalu lintas sangat padat. Aku harap tidak membuat kalian menunggu lama," jelas Reno dengan nada profesional seolah tengah berada dalam pertemuan bisnis alih-alih pertemuan keluarga.

"Reno, rileks. Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga dan kau akan memiliki seorang adik perempuan. Lihat, Luna sangat cantik, kan?" Lucas terkekeh seraya merangkul bahu putranya yang tampak tegang.

"Ya, secantik Ibunya." Reno mencoba membuat dirinya rileks.

Diana dan Lucas sama-sama terkekeh. Mereka terlihat bahagia telah berhasil mempertemukan anak mereka.

"Kalau begitu bagaimana jika sekarang kita makan dulu sebelum berbicara lebih lanjut? Sejujurnya aku sudah lapar." tawar Lucas disambut kekehan Diana, sementara Luna dan Reno hanya mengangguk mengiyakan tawaran Lucas.

Suasana meja makan begitu tenang terkendali selama makan malam itu berlangsung, hingga sesi berbicara kembali dimulai dengan pernyataan Lucas. "Jadi, aku dan Diana telah sepakat kami akan menikah dua minggu lagi."

Mendengar itu Luna yang sejak tadi tertunduk mengangkat kepalanya terkejut. Begitupun dengan Reno, pria itu menatap ekspresi ayahnya, seolah mencari sebuah kebohongan, tapi wajah tegas Lucas sudah menjawab semuanya.

Memang mereka sama-sama tahu jika Diana dan Lucas berencana menikah, tapi mereka tidak berekspektasi pernikahan itu akan datang dalam waktu dekat.

"Apakah itu tidak terlalu cepat?" Luna akhirnya angkat bicara setelah sekian lama terdiam.

"Luna..." Diana menggenggam tangan putrinya. "Apakah kau keberatan jika kami menikah dua minggu lagi?" tanyanya sedikit cemas.

Luna terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Oh Tuhan... apakah semua ini adalah nyata? Luna masih perlu memproses semuanya. Gadis itu masih tak menyangka bahwa pria yang satu bulan lalu ia temui di sebuah pameran seni, membuatnya jatuh cinta, kemudian berhubungan intens dengannya, pria yang ia pikir mungkin akan menjadi kekasih pertama nyatanya sekarang justru akan menjadi kakaknya di masa depan? Sangat sulit untuk Luna menerima itu.

"Menurutku itu juga terlalu cepat. Mengapa kalian sangat terburu-buru? Kita baru pertama melakukan pertemuan keluarga dan kalian mengatakan akan menikah dua minggu lagi." Melihat Luna yang tampak frustasi, Reno ikut mengutarakan pendapatnya.

Mata mereka bertemu, saling tatap dan menyelami perasaan masing-masing. Keduanya sama-sama tak menginginkan hal ini terjadi. Tentu saja.

"Sebenarnya ini tidak terburu-buru, kami sudah saling mengenal selama enam bulan dan merasa cocok. Kami juga sudah sama-sama tua, untuk apa menunda? Masalah pertemuan, aku seringkali menanyakannya padamu, Reno." Lucas menatap serius putranya. "Kau ingat? Tapi, jadwalmu begitu padat belakangan ini dan kita baru menemukan waktu yang tepat sekarang. Apa masalahnya? Kita bisa saling mengenal setelah resmi menjadi keluarga yang utuh, bukan begitu?"

Setelah mendengar ucapan Lucas, Reno sama sekali tidak bisa mengelak. Ayahnya adalah orang yang tegas dan berprinsip. Jika Lucas sudah berkehendak demikian, meski Reno memberikan ribuan alasan rasanya akan percuma. Ayahnya dan dia sama-sama lelaki keras kepala.

"Lucas, mungkin anak-anak masih terkejut. Tidak apa. Kita harus bisa memahami mereka." Diana dengan suara lembutnya mencoba mencairkan suasana tegang di meja makan tersebut. "Luna... Ibu tidak akan memaksa jika kau memang belum siap." Diana mempererat genggaman tangannya pada Luna, seakan menegaskan dia akan selalu berada di pihak putrinya.

Luna menatap wajah teduh Diana. Sungguh ia tidak tega jika harus membuat sang ibu kecewa bahkan sedih, Luna bisa melihat bagaimana Diana sangat mencintai Lucas. Wajah bahagia ibunya saat berada dalam pelukan pria mapan itu terus terngiang di kepala. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan ibunya.

Bab 3

Dengan setengah hati dan memaksakan senyum, akhirnya Luna berkata, "Jika Ibu dan Paman merasa ini yang terbaik, maka lakukanlah. Aku setuju jika Ibuku bahagia."

Luna menatap dalam mata Diana yang telah digenangi air mata, terharu setelah mendengar perkataannya. Sementara Reno, rahangnya mengeras mendengar ucapan pasrah Luna barusan.

Lucas tersenyum senang. "Terimakasih, Luna. Aku ingin menikahi Ibumu memang untuk membuatnya terus bahagia. Kau tidak perlu khawatir."

"Bagaimana denganmu, Reno? Apa kau baik-baik saja dengan itu? Sungguh, aku tidak ingin memaksa kalian," tanya Diana menatap Reno yang sejak tadi menatap ke arahnya, lebih tepatnya ke arah Luna yang berada di samping Diana.

Reno menatap bergantian pada Lucas, Diana, dan Luna yang tersenyum menunggu jawabannya. Bagaimana gadis itu bisa tersenyum sekarang? Reno sama sekali tidak mengerti apa yang ada di otak cantik Luna. Benar-benar membuatnya muak.

"Jika itu keputusannya, aku hanya bisa mendukung," jawab Reno berusaha kuat menahan emosi yang tengah bergejolak di dada.

Jika itu keputusan Luna, untuk melupakan kedekatan mereka dan cukup menjadi adiknya. Maka Reno akan mengikuti alur yang diciptakan gadis itu.

Akhirnya percakapan kembali mengalir santai, mereka membicarakan perihal pernikahan yang akan diadakan sesederhana mungkin karena Diana dan Lucas sama-sama tidak menyukai pesta, kemudian mereka juga berbicara soal Diana dan Luna yang akan tinggal dirumah Lucas setelah pernikahan nanti.

"Aku sepertinya akan lebih sering tinggal di apartemen, toh setelah pernikahan, Ayah sudah tidak sendirian lagi. Tinggal di apartemen juga lebih efisien, lebih dekat ke kantor." Ya, Reno tidak mau membuat semuanya lebih sulit jika harus tinggal seatap dengan Luna. Jika ini keputusan gadis itu, maka dia hanya bisa menjauh.

Mendengar itu Luna merasa dadanya semakin sesak. Sungguh sebenarnya ia tidak bisa akting berpura-pura baik-baik saja, meski nyatanya dia sakit didalam.

"Emm... aku permisi ke toilet sebentar." Luna rasa ia tidak bisa menahannya lagi.

Reno menatap ketika Luna berdiri dan berjalan ke arah toilet. Tak lama kemudian ponsel di sakunya berdering, Reno mengangkat sebelah alisnya ketika melihat nama pemanggil di layar ponsel. "Aku harus mengangkat ini." Kemudian pria itu menjauh menuju arah yang sama dengan Luna.

Luna keluar dari toilet dan bertemu Reno yang menunggunya di luar, pria itu lalu menarik tangan Luna dan membawa gadis itu keluar ke arah pintu samping restoran. Mereka perlu bicara.

"Apa yang sekarang kau inginkan, Luna? Aku pikir setelah kau bersikap seolah-olah kita baru bertemu dan menyetujui pernikahan orang tua kita, kau sudah tidak ingin berhubungan denganku. Kenapa kau menelponku?"

Runtuh sudah pertahanan Luna sejak tadi. Dia memukul dada Reno dan terisak di sana. "Aku mencintaimu, Reno..."

"Ya, aku rasa kita sudah tahu perasaan masing-masing. Aku tertarik padamu sejak pertemuan pertama kita. Aku dan kau saling mecintai. Tapi, Luna... kau baru saja mengacaukan pertemuan keluarga ini. kau menyetujui pernikahan mereka!" sentak Reno seraya menahan dan menekan kedua lengan Luna untuk menyadarkan gadis itu.

Luna semakin terisak mendengar ucapan Reno. Mata sayu yang berlinangan air itu terus menatap mata tajam pria di hadapannya. Luna tak pernah menyangka jatuh cinta akan sesakit ini.

Reno menghela napas, mencoba menahan emosinya. "Jangan menangis, please..." mohonnya lembut kemudian menghapus air mata dipipi Luna.

"Apa yang harus aku lakukan? Meski usiamu lebih tua dariku, aku tidak ingin kau menjadi kakakku, aku tidak ingin memanggilmu kakak."

"Lalu apa yang kau mau? Tadi aku akan mengatakan yang sejujurnya pada mereka, tapi kau memotong ucapanku dan kau menyetujui pernikahan mereka!"

Luna menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Reno. Apakah kita berhak menolak? Mereka lebih dulu saling bertemu dan jatuh cinta sementara kita?"

Reno terdiam. Dalam hatinya menyetujui ucapan Luna. Tapi, bagaimana dengan perasaan yang telah hadir diantara mereka dalam waktu satu bulan?

"Aku... untuk pertama kalinya... melihat wajah bahagia Ibuku setelah 15 tahun. Bagaimana aku bisa menghancurkan itu?" lirih Luna.

Ibu jari Reno mengusap lembut rahang kemudian bibir merah muda Luna, sementara mata tajamnya kemudian menatap mata hazel gadisnya yang terlihat penuh luka dan Reno tahu ia pun sama terlukanya.

"Hanya Ibu yang kupunya, Reno," lanjut Luna dengan air mata yang kembali jatuh dipipinya.

"Oh Tuhan, tidak. Tolong jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis. Aku mengerti, jadi tolong jangan menangis lagi." Reno memohon, ingin sekali ia menarik Luna ke pelukannya atau mengecup bibir Luna agar gadis itu berhenti terisak. Namun, dia tidak berani melakukannya. Reno takut jika dia melakukan apa yang ia inginkan sejak tadi perasaannya pada Luna akan semakin dalam dan itu adalah hal yang tidak ingin Reno alami.

Reno sungguh tak menyangka setelah ia merasakan benar-benar jatuh cinta dan menemukan orang yang tepat untuk membangun masa depan, mengapa takdir sekejam ini mempermainkan perasaannya? Gadis yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta dalam waktu singkat justru akan menjadi adiknya. Adiknya!

Sangat gila.

"Jadi... semuanya sudah jelas. Kita saling mencintai, tapi semuanya cukup dan kita berhenti disini. Aku akan menjadi kakakmu dan kau akan menjadi adikku." Reno memperjelas semuanya yang membuat Luna semakin menitikkan air mata.

Pada akhirnya, Reno tak kuasa menahan diri untuk menarik Luna ke pelukannya. Pelukan pertama dan mungkin terakhir? Dan untuk pertama kalinya Luna merasa tenang dan nyaman dalam sebuah pelukan selain pelukan ibunya.

"Hatiku sakit sekali, ini sangat sulit."

Reno mengangguk. Ia pun sulit menerima garisan takdir jika sosok yang berada dalam dekapannya dua minggu lagi akan menjadi adiknya.

Setelah merasa Luna cukup tenang, Reno menyuruh Luna untuk masuk lebih dulu ke dalam setelah gadis itu memastikan wajahnya cukup baik dengan membenahi sedikit riasannya. Mereka tidak mau orang tua mereka curiga karena anak mereka tak kunjung kembali. Reno pun menyusul setelah beberapa menit.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED