Bab 1

Septin Adena, gadis cantik dan pemberani yang berusia dua puluh dua tahun yang sekarang terdaftar sebagai salah satu mahasiswi semester akhir di sebuah kampus ternama di Jakarta, saat ini sedang berdiri tegak di ruang tamu sebuah rumah yang elegan. Ruangan besar itu dipenuhi dengan lukisan-lukisan mahal dan perabotan yang mewah menakjubkan. Septin datang untuk melamar pekerjaan sebagai pengasuh Tuan Muda Gideon Mosha, anak tunggal dari keluarga yang dikenal sebagai keluarga elit ini."Aku harus memberikan yang terbaik dalam wawancara ini." ucap Septin dalam hatinya.Pintu pun terbuka, dan Nyonya Kemala, ibu dari Tuan Muda Gideon, masuk dengan langkah anggun. Dia adalah seorang wanita yang berpenampilan eksklusif dengan gaun mewah dan berlian layaknya wanita sosialita kelas atas.Nyonya Kemala yang ramah segera menyapa gadis itu."Selamat datang, Septin. Saya sangat senang kamu datang untuk wawancara pekerjaan. Harap duduk." "Terima kasih, Nyonya Kemala." sahut Septin.Mereka berdua lalu duduk di kursi berlapis kulit yang nyaman. Nyonya Kemala menyandarkan dirinya ke kursi dengan menajamkan pandangannya ke arah Septin."Saya to the point saja ya, Septin. Saya sedang mencari pengasuh yang sangat berkualitas untuk Gideon, anak saya. Ini adalah pekerjaan yang sangat penting." tutur Nyonya Kemala.

"Saya sangat mengerti, Nyonya Kemala. Saya memiliki banyak pengalaman yang cukup dalam merawat anak-anak." serunya. "Ceritakan tentang pengalamanmu dalam merawat anak-anak, Septin." Lanjut sang Nyonya.Septin pun menjelaskan riwayat pekerjaannya kepada Nyonya Kemala,"Saya telah bekerja sebagai pengasuh selama lima tahun. Saya merawat anak-anak dari berbagai usia, dari bayi hingga remaja. Saya selalu berusaha menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kasih, serta memastikan semua keperluan mereka terpenuhi," tutur Septin menjelaskan semuanya."Sangat baik. Bagaimana Anda mengatasi situasi sulit, seperti ketika seorang anak rewel atau sulit diajak bekerja sama?" tanya sang nyonya. Nyonya Kemala tahu persis tabiat putranya, Gideon yang sangat keras kepala dan semaunya."Saya percaya pada komunikasi yang baik. Saya selalu mendengarkan anak-anak dan mencoba memahami perasaan mereka. Ketika anak sulit diajak bekerja sama, saya mencoba menggunakan pendekatan yang berbeda, seperti permainan atau cerita, untuk membuat mereka lebih kooperatif." sahutnya mantap."Bagaimana pandangan Anda tentang disiplin anak?" Nyonya Kemala lagi-lagi menanyakan hal yang spesifik kepada Septin.Sang nyonya besar sepertinya mulai menyukai septin yang terlihat sangat cerdas dalam menjawab setiap pertanyaan yang dirinya ajukan kepada gadis itu."Saya percaya bahwa disiplin harus bersifat positif dan konstruktif. Saya akan selalu menjelaskan konsekuensi dari perilaku yang tidak diinginkan, akan tetapi juga memberikan pujian dan penghargaan ketika anak melakukan hal yang baik." "Baik. Gideon adalah anak yang cerdas, dan kami ingin dia tumbuh menjadi pribadi yang baik. Bagaimana Anda akan membantu dalam mendukung pendidikannya?" tanya sang nyonya lagi.

"Saya akan membantu Gideon dalam belajar dengan memberikan bimbingan saat dia melakukan pekerjaan rumahnya dari sekolah. Saya juga akan membaca buku bersamanya dan mengajaknya berpartisipasi dalam kegiatan yang mendukung perkembangan intelektualnya." Septin semakin lugas menjawab."Baiklah, terakhir ... Kenapa Anda ingin bekerja untuk keluarga kami?""Saya ingin memberikan kontribusi positif dalam perkembangan Tuan Muda Gideon dan membantu keluarga Anda dengan kebutuhan pengasuhannya. Saya juga terkesan dengan nilai-nilai keluarga Anda yang kuat.""Terima kasih, Septin. Saya akan mempertimbangkan semua yang telah Anda katakan. Kami akan memberi tahu Anda keputusan kami secepatnya."Setelah beberapa saat berbicara, Septin meninggalkan ruangan tersebut dengan harapan yang besar. Dia tahu bahwa posisi pengasuh Tuan Muda Gideon adalah peluang yang sangat berharga, dan dia berharap bisa menjadi bagian dari keluarga yang tersebut sebagai seorang pekerja.Di sebuah sudut gelap kamarnya yang remang-remang, seorang pemuda  duduk dengan mata terpaku pada layar CCTV yang memperlihatkan seorang gadis bernama Septin. Di layar itu, Septin duduk di ruang tamu, dengan ibunya, Nyonya Kemala, yang duduk di depannya. Mereka sedang dalam proses wawancara untuk posisi pengasuh untuknya.Wajah pemuda itu dipenuhi dengan ketegangan, hatinya berdebar kencang. Setiap kata yang terucap dalam wawancara itu seperti kilat yang meluncur begitu cepat. Dia melihat Septin dengan teliti, mencoba membaca ekspresi dan gerakan tubuhnya. Gadis itu duduk dengan sikap yang sopan dan ramah, menjawab pertanyaan dengan percaya diri.Pemuda itu merasa cemburu melihat Septin begitu dekat dengan ibunya, Nyonya Kemala. Tidak seperti Gideon yang merasa memiliki sekat diantara dirinya dan sang ibu.Gideon sangat yakin jika gadis itu pasti akan diterima bekerja sebagai pengasuhnya."Sial! Ini tidak bisa dibiarkan! Bagaimana seorang gadis yang hampir sebaya denganku. Malah menjadi pengasuh ku? Enak saja!" kesal Gideon dalam hatinya.Pemuda itu semakin kesal ketika Septin menjawab pertanyaan tentang pengalaman sebelumnya sebagai pengasuh, pemuda itu bisa melihat kerja keras dan dedikasi dalam matanya. Gadis itu terlihat sangat kompeten. Namun, sesaat sebelum wawancara berakhir, pemuda itu menyadari bahwa dia harus bertindak secepatnya untuk menggagalkan misi ibunya kali ini. Septin keluarga dari rumah megah itu dengan melajukan sepeda motor listrik miliknya menuju ke sebuah pasar tradisional di daerah Jakarta Selatan.Angin panas kota Jakarta mulai menerpa area wajahnya yang putih bersih. Di atas motor yang sedang dirinya kendarai Septin terlihat sedang bersenandung ria mengikuti irama lagu yang berasal dari headset yang tersambung dengan ponselnya.Tak berapa lama setelah itu, sang gadis akhirnya sampai di pasar. Dia pun segera memarkirkan motor listriknya. Lalu melangkah menuju warung sembako milik orang tuanya."Bunda, Ayah! Aku kembali!" sapanya kepada kedua orang tuanya. Sambil meneguk segelas air putih untuk melepaskan dahaganya."Septin, kamu dari mana saja? Kok baru pulang sekarang?" tanya Bunda Wita kepada anak satu-satunya."Maaf, Bunda. Tadi aku mampir untuk wawancara menjadi pengasuh seorang anak balita," seru Septin."Lho ... apakah itu tidak menganggu perkuliahan mu nantinya, Septin? Ayah tidak mau waktu belajar mu menjadi terganggu." Ayah Yoga ikut mengingatkan anak gadisnya. "Nggak kok, Ayah. Pekerjaanku ini ini juga part time," sahut Septin sambil mulai membantu Bunda Wita merapikan warung mereka.Dulu Septin dan keluarganya pernah hidup bergelimang harta. Namun Ayah Yoga mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh rekan bisnisnya. Sejak saat itulah mereka mulai hidup pas-pasan. Namun keluarga itu tetap bersyukur dan tak mengeluh sedikitpun.Kembali di kediaman Mosha,Tuan Muda Gideon terlihat sedang mengamuk kepada semua pekerja di rumahnya. Semua barang-barang di dapur berjatuhan akibat dilempar oleh Gideon di bawah lantai. Sang tuan muda mengamuk karena perkara telur mata sapi yang dibuat olehnya tidak sempurna. Para ART tersebut malah menjadi sasarannya."Sialan kalian semua! Nggak guna sama sekali! Aku akan telepon Mommy! Biar kalian dipecat semuanya!"

Bab 2

Maid Lilis sebagai kepala pelayan di rumah Keluarga Mosha, segera menghubungi Nonya Kemala atas mengamuknya Gideon kepada para asisten rumah tangga lainnya."Gideon! Kamu bikin ulah apa lagi?" geram sang ibu yang baru saja mendapatkan telepon dari Lilis. "Pak, putar balik! Kita kembali ke rumah," perintah Nyonya Kemala kepada sopirnya.Padahal tadinya, Nyonya Kemala ingin mengikuti meeting penting dengan kliennya. Namun karena putra tunggalnya sedang mengamuk. Dia pun segera mengundurkan jadwal meeting tersebut.Nyonya Kemala akhirnya tiba di rumahnya yang besar itu. Dia pun mulai mendengarkan suara piring berjatuhan dari arah dapur. Sang ibu pun sangat yakin jika putranya memang sedang mengamuk saat ini."Gideon ... Sayang! Kamu kenapa marah-marah begini?" ucap sang ibu lalu segera menghampiri anaknya dengan berjalan secara hati-hati karena begitu banyak pecahan gelas dan piring berjatuhan di bawah lantai dapur.Nyonya Kemala segera memeluk putranya dalam dekapannya. "Gideon, putra Mami. Sudah ya ... kamu tenang sekarang.""Iya, Mami." sahut Gideon.Lalu dengan lembut, sambil masih memeluk putranya Nyonya Kemala segera membawa Gideon menjauh dari dapur yang seperti kapal pecah itu. Seraya berkata kepada Maid Lilis,"Maid, tolong segera bereskan kekacauan ini.""Siap, Nyonya." jawab Maid Lilis lalu segera memerintahkan maid lainnya untuk membersihkan dapur.Di dalam kamar, Gideon dan ibunya sedang duduk di sofa. Sang putra terlihat sibuk memesan makanan favoritnya di aplikasi pengantar makanan secara online.Sementara sang ibu terlihat sibuk menelepon para klien nya. Selalu begini setiap Gideon mengamuk dan memecahkan semua barang-barang mewah di rumahnya, tapi pria itu akan tenang setelah melihat ibunya datang menghampirinya.Sifatnya sangat kekanakan diusianya yang hampir dua puluh dua tahun. Sejak kecil, Gideon banyak menghabiskan waktu di rumah megah ini. Tidak pernah sekalipun dia ke luar rumah. Bahkan untuk menempuh pendidikannya sejak dulu kedua orang tuanya menerapkan kegiatan belajar mengajar secara home schooling. Nyonya Kemala membeli sebuah kurikulum internasional dan menyewa guru privat pribadi untuk mengajari anaknya. Hidup Gideon sangat dikekang oleh kedua orang tuanya sejak dirinya kecil. Hal itu dilakukan oleh kedua orang tuanya karena dulu saat Gideon menginjak usia balita, sang putra telah mengalami beberapa kali penculikan oleh orang tak dikenal. Hal tersebutlah yang membuat Gideon sampai sekarang tidak diizinkan keluar rumah. Tentu saja kedua orang tuanya tidak mau terjadi sesuatu kepada satu-satunya pewaris dari tahtah kerajaan bisnis Mosha Corp, perusahaan yang sangat terkenal itu.Untuk membuat sang putra nyaman di rumah. Tuan Deris pun menyediakan berbagai fasilitas mewah yang dapat dinikmati oleh Gideon.Rumah mewah ini adalah sebuah perwujudan kekayaan dan kemewahan yang luar biasa. Dengan desain arsitektur yang menakjubkan, properti rumah sangat menonjol sebagai simbol status high class dan gaya hidup eksklusif. Ketika memasuki gerbangnya yang megah, tamu akan disambut oleh taman indah yang dipenuhi dengan bunga-bunga eksotis dan patung-patung seni yang mempesona. Setapak batu bermotif artistik membawa menuju pintu masuk yang elegan.Di dalam rumah ini, terdapat sebuah bioskop pribadi yang menghadirkan pengalaman menonton film sekelas hollywood dengan layar lebar dan kursi-kursi yang sangat nyaman. Ruang ini dilengkapi dengan teknologi audio dan visual terbaru untuk memanjakan penghuninya.Orang tua Gideon juga sangat memperhatikan kesehatan dan kebugaran pribadi, putranya. Sehingga rumah ini memiliki ruang gym yang lengkap dengan peralatan olahraga terkini. Tidak hanya itu, ada juga ring tinju pribadi di mana Gideon bisa melatih kemampuan tinjunya tanpa harus pergi ke gym umum.Namun, puncak kemewahan dari rumah ini adalah kolam renang luar ruangan yang menghadap ke pemandangan alam yang menakjubkan. Dikelilingi oleh taman tropis yang dirancang dengan indah, kolam renang ini adalah tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati sinar matahari bagi Tuan Muda Gideon.Orang tua Gideon sangat menghargai privasi, dan itulah mengapa rumah ini memiliki perpustakaan pribadi khusus untuk putra nya. Tempat ini sangat ideal untuk merenung, membaca, atau sekadar bersantai.Selain itu, ada arena permainan yang dilengkapi dengan permainan klasik seperti biliar, tenis meja, dan ruang khusus untuk koleksi permainan papan skate board yang langka. Semua ruang di rumah ini dirancang dengan teliti untuk memberikan kenyamanan dan hiburan tanpa batas bagi Gideon, sang tuan muda.Dengan desain interior yang dipenuhi dengan furnitur mewah, bahan-bahan berkualitas, dan seni yang menakjubkan, rumah mewah Gideon adalah perwujudan cita-cita kemewahan. Dari bioskop pribadi hingga kolam renang luar ruangan yang menakjubkan. Rumah megah ini adalah tempat yang sempurna untuk hidup dalam kemewahan dan kenyamanan yang tiada tara bagi Gideon seorang.Akan tetapi walaupun rumahnya sangat mewah dan elit, Gideon sering sekali melakukan berbagai macam kekacauan di rumahnya untuk menarik perhatian kedua orangtuanya, terutama perhatian dari sang ibu, yang terus saja sibuk mengurus perusahaan."Mami ... aku sangat banyak memesan makanannya." serunya kepada sang ibu lalu menyodorkan ponselnya kepada sang ibu.Bahkan untuk memegang ponsel pribadinya pun, Gideon diberi jadwal ketat oleh kedua orang tuanya. Semuanya telah diatur oleh Nyonya Kemala. Sang ibu lalu menatap ponsel itu. Sembari berkata,"Lho, Gideon. Makanannya kok banyak banget?" tanya Mami Kemala bingung."Aku ingin membagi-bagikannya dengan para Maid, Mami." sahut Gideon."Good job, Gideon! Putra Mami memang yang terbaik! Lain kali kamu jangan sering-sering berbuat seperti tadi. Kamu menakuti semua orang. Bahkan tadi Maid Lilis menghubungi Mami dengan suara bergetar," jelas sang ibu panjang lebar."Tapi aku sangat merindukan Mami. Mami malah selalu saja sibuk di luar rumah!" ketus Gideon. "Iya, Sayang. Kamu tahu Mami dan Papi sangat sibuk di perusahaan. Jadi kami mohon pengertian darimu." Satu kecupan dari sang ibu di kening putranya."Selalu saja begitu, deh!" gerutu Gideon tak dapat berbuat apa-apa.Gideon terus bercengkerama dengan ibunya. Semua dibahas olehnya. Namun pria itu sangat bingung. Karena sang ibu tidak menyinggung apapun tentang pengasuh baru untuknya. "Kenapa Mami tidak memberitahukan kepadaku tentang pengasuh baru itu? Kenapa Mami sepertinya menyembunyikan semuanya dari ku? Ada apa ini sebenarnya?" Otak cerdas Gideon mulai bekerja. Apalagi yang ingin direncanakan oleh sang ibu kepadanya.Padahal yang Gideon tidak tahu, jika sang ibu sengaja tidak menceritakan tentang Septin. Karena Nyonya Kemala tahu betul tabiat anaknya yang tidak pernah mau memiliki seorang pengasuh pribadi. Sebelumnya telah banyak para pengasuh yang mengundurkan diri secara tiba-tiba karena dijahili oleh sang tuan muda. Sepertinya kali ini Gideon akan kembali menjahili pengasuh barunya agar tidak betah bekerja."Aku harus merencanakan sesuatu hal besar kali ini! Agar perempuan itu tidak betah!" gumam Gideon dalam hati. Seringai licik mulai terlihat di sudut bibirnya saat ini.

Bab 3

Setelah berhasil menenangkan putranya. Nyonya Kemala pun kembali meninggalkan rumah megahnya untuk menuju ke kantor.

Di dalam perjalanan, Nyonya Kemala segera mengirimkan pesan kepada Septin, gadis yang baru saja beberapa saat yang lalu dirinya wawancarai untuk menjadi pengasuh putranya, Gideon.

Sepertinya Nyonya Kemala ingin berbicara serius dengan gadis itu. Setelah meeting penting yang akan dirinya harus hadiri.

Septin yang masih berada di pasar, tepatnya di kios sembako milik keduanya orang tuanya, sungguh sangat kaget dengan pesan yang dirinya terima dari Nyonya Kemala. Jika wanita karier itu ingin menemuinya di perusahaan Mosha Corp, yang sangat terkenal itu.

Bahkan Septin bercita-cita jika lulus kuliah nanti, dia ingin melamar pekerjaan di perusahaan besar itu.

"Apa? Nyonya Kemala ingin menemuiku di sana?" kaget Septin.

Gadis itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan ingin segera pulang ke kostnya untuk mempersiapkan dirinya menemui Nyonya Kemala. Septin ingin berpakaian lebih formil nantinya.

"Septin, kamu kok terlihat terburu-buru begitu?" tanya sang ibu heran melihat anaknya.

"Iya, Bunda. Bos baruku baru saja mengirimkan pesan kepada ku. Jika dia ingin bertemu dengan ku sekarang. Jadi aku harus segera ke sana," sahut Septin.

"Menjadi pengasuh Balita yang kamu bicarakan tadi?" tanya sang ibu lagi.

"Iya, Bunda."

"Ya sudah, kamu pergi saja. Biar sisanya Bunda yang membereskannya."

Mendengar perkataan ibunya. Septin segera menghentikan pekerjaannya lalu mulai bersiap-siap untuk pergi.

Ayah Yoga juga angkat bicara,

"Septin, kamu juga hati-hati saat berkendara. Jangan ngebut."

"Beres, Ayah."

"Ya sudah, aku pergi dulu Ayah, Bunda." pamitnya sambil menyalami tangan kedua orangtuanya.

"Jangan lupa telepon Ayah dan Bunda nanti."

"Siap, Bunda!"

Setelah berpamitan Septin pun mulai melajukan motor listriknya ke tempat kost. Gadis itu terpaksa tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya karena jarak rumah mereka dengan kampusnya sangatlah jauh. Untuk itu Septin memilih untuk tinggal di kost sederhana di dekat tempat kuliahnya.

Setelah sampai di kostnya, Septin segera mandi dan mulai menyiapkan dirinya untuk menemui Nyonya Kemala di kantor Mosha Corp.

Setelah menempuh beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya Septin sampai juga di sebuah gedung perkantoran yang sangat tinggi bertingkat. Gadis itu segera menunjukkan ponselnya kepada salah satu sekuriti jika dirinya adalah tamu dari Nyonya Kemala, pemilik perusahaan besar itu.

"Nona Septin mari ikut saya. Motor Anda biar rekan saya yang mengurusnya," sahut sekuriti tersebut.

"Baik, Pak."

Septin pun mengikuti sekuriti itu menuju ke dalam gedung.

Setelah masuk ke dalam gedung, Septin dapat merasakan aura elegan di sana.

Septin lalu diserahkan kepada seorang resepsionis yang akan menuntunnya ke lantai paling atas gedung ini untuk menemui Nyonya Kemala.

Di sebuah ruangan pribadi milik CEO, Mosha Corp.

"Septin, Anda sudah datang? Ayo silakan duduk," ucap Nyonya Kemala kepadanya.

"Iya, Nyonya. Saya baru saja sampai. Maaf jika saya agak telat, jalanan macet."

"Ya, tak masalah. Saya mau menyampaikan jika Anda diterima sebagai pengasuh putra saya, Gideon." ucap sang nyonya lagi.

"Apa? Jadi saya diterima, Nyonya?" tanyanya tak percaya.

"Ya, Anda diterima."

Dengan ekspresi wajah senang, Septin berkata,

"Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada saya untuk mengasuh Tuan Muda Gideon yang masih balita, Nyonya. Saya akan bekerja dengan baik tanpa menimbulkan kesalahan sedikitpun," serunya penuh semangat.

Di sudut ruangan megah itu, tepatnya di belakang sebuah meja kebesarannya, Tuan Deris Mosha dari tadi menatap tak berkedip ke arah Septin. Wajah gadis itu mengingatkannya dengan seorang perempuan dari masa lalunya.

Bahkan wajah wanita itu masih terngiang jelas di pelupuk mata Tuan Deris. Namun sang CEO hanya bisa diam dan tidak mengatakan apapun saat ini. Dia takut istrinya mengetahui semuanya.

"Kenapa wajah gadis ini sangat mirip dengan Wita?" tuturnya tak berdaya.

Ternyata Tuan Deris Mosha masih sangat merindukan Wita, wanita kesayangannya saat dahulu kala.

Lalu tiba-tiba Nyonya Kemala berkata lagi,

"Septin, saya sangat menghargai kesediaan Anda untuk merawat putra saya Gideon," Nyonya Kemala memulai dengan nada khawatir. Karena dia sedikit ragu jika Septin akan menolak mengasuh Gideon yang hampir sebaya dengan umurnya.

"Tapi Anda perlu tahu, Gideon bukanlah seorang anak kecil. Dia adalah seorang pria berusia dua puluh dua tahun."

Septin seketika terperangah, matanya membesar, dan mulutnya terbuka lebar.

"Pria berusia dua puluh dua tahun tahun? Bagaimana mungkin? Saya pikir saya akan merawat seorang anak."

Nyonya Kemala mengangguk, lalu melanjutkan perkataannya dengan nada sedih,

"Gideon adalah pria dewasa. Putra saya sedikit memiliki kondisi kesehatan yang sangat langka. Dia kadang-kadang bertingkah seperti seorang anak kecil. Itulah sebabnya pengawasan ketat sangat penting. Gideon juga pernah diculik beberapa kali saat dia masih kecil. Yang membuat dirinya memiliki trauma yang mendalam."

Septin mencoba memahami situasinya.

"Bagaimana Tuan Muda bisa diculik? Bagaimana dia menghadapinya?"

Nyonya Kemala menjelaskan,

"Saat penculikan itu terjadi, Gideon masih sangat kecil dia masih belum bisa berkomunikasi dengan baik dan tidak dapat membela diri sendiri dengan efektif. Itulah sebabnya saya mengambil langkah-langkah ekstra untuk menjaga keamanannya. Sampai sekarang, ada tim keamanan yang selalu mengawasinya, dan kami mengantisipasi setiap kemungkinan situasi berbahaya. Apalagi Gideon adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis ayahnya."

"Tapi, Nyonya. Saya hanya memiliki pengalaman mengasuh balita selama ini. Saya tidak pernah mengasuh orang dewasa sebelumnya," ujar Septin sedikit khawatir.

"Bagi saya itu tak masalah Septin, saya sangat yakin Anda bisa merawat putra saya dengan baik. Anda bisa mulai bekerja besok pagi. Jadi hari ini Anda mulai tinggal di kediaman Mosha. Di sana ada Maid Lilis yang akan mengajari Anda tentang semuanya."

Tapi ... Nyonya," sergahnya ragu-ragu.

Namun sebelum Septin melanjutkan kalimatnya. Nyonya Kemala memberikan sebuah cek di hadapan gadis itu dengan jumlah fantastis.

"Ini gaji mu, selama enam bulan. Saya bayar di muka," ucapnya santai.

Mata Septin seakan hendak keluar dari tempatnya saat melihat nominal uang yang berikan oleh Nyonya Kemala kepadanya yang berjumlah ratusan juta rupiah.

"Apa? Tapi Nyonya jumlah ini sangat banyak."

"Ini belum seberapa, Septin. Jika kamu bertahan lebih dari enam bulan. Gajimu akan saya naikkan dua kali lipat dari ini diluar bonus yang akan kamu dapatkan nantinya," ucap Nyonya Kemala lagi.

"Apa?" Lagi-lagi Septin terperangah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya Kemala barusan.

Gadis itu bagaikan sedang ketiban durian runtuh saat ini.

"Saya tidak menerima penolakan darimu, Septin." ujarnya lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED