Bab 1

"Ughh!"

Suara lenguhan itu seketika membuat seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya. Dengan kepala yang terasa pening, Kara berupaya bangkit. Ia mengerjap beberapa saat melihat sekitar yang terasa asing, hingga sedetik kemudian kedua netranya membulat sempurna ketika merasakan sebuah tangan kekar yang memeluk pinggangnya dengan begitu posesif.

Deghh!

"Astaga! Apa yang telah terjadi? Siapa dia? Kenapa dia bisa tertidur di sini bersamaku? Apa yang sudah .... "

Drrrtt!

"Bapak?" gumam gadis tersebut semakin tak berdaya.

Belum selesai dengan keterkejutannya, tiba-tiba saja Kara dikejutkan dengan hal lain. Sang ayah menelepon, sehingga dirinya semakin bingung hendak melakukan apa.

Sesak sudah napas Kara saat ini, dirinya tak sanggup membayangkan bagaimana ekspresi ayahnya nanti ketika mengetahui dirinya yang sedang berada di pelukan lelaki asing dengan pakaian yang entah tercecer ke mana.

"Maafkan Kara, Pak! Maaf, karena Kara sudah mengecewakan Bapak!" lirihnya pelan hampir tak bersuara.

Dengan meremas kencang ponselnya, tangis Kara akhirnya pecah. Kedua netranya kian memanas, seiring dengan semakin nyatanya mimpi buruk yang ada di hadapannya. Ia sama sekali tak menyangka, bahwa kesucian yang selama ini sangat dijaganya tiba-tiba terenggut begitu saja dalam satu malam.

"Kau yakin tidak akan menyesalinya? Kalau memang maumu seperti itu, dengan senang hati aku akan mengabulkannya!" ujar suara bariton yang seketika terdengar sangat mengalun di benaknya.

Setelahnya, Kara bisa kembali merasakan sebuah kecupan dan sentuhan yang sangat melenakannya. Bayangan itu, entah kenapa masih terasa sangat nyata. Kara benar-benar masih bisa merasakannya, hingga semakin lama tetes air matanya kian deras tak tertahankan.

Andai saja ia tak gegabah menerima ajakan berpesta teman-temannya, semua kejadian ini pasti tidak akan pernah terjadi di kehidupannya.

"No, Kara! Kamu harus segera keluar dari tempat ini! Dia bukan lelaki baik, karena telah memanfaatkan keadaanmu semalam!" desis gadis itu pelan memperingati diri sendiri.

Dengan mencengkram erat selimut yang telah menjadi saksi percintaannya, Kara akhirnya berusaha bangkit. Cepat-cepat ia menyeka bulir air matanya, dan beranjak. Namun sayang, pergerakan yang dibuatnya itu malah membuat seseorang yang tak diharapkan bangun. Kedua netra lelaki tersebut seketika memicing ke arahnya, hingga sedetik kemudian tangan kekarnya kembali menarik tubuhnya dan mengungkungnya tanpa celah.

"Mau ke mana kau, Sayang? Setelah semalam kau mendapatkan kepuasan dariku, lalu sekarang kau mau pergi begitu saja? Heumm?" tanya pria itu dengan salah satu alis tebalnya yang mengangkat ke atas.

Walau baru saja terbangun, aura intimidasi lelaki tersebut terasa kuat. Tatapan matanya yang tajam dan sedikit sayu, cukup membuat Kara mengatupkan bibirnya ketakutan. Hingga perlahan, degup jantungnya semakin bergerak cepat dengan peluh keringat yang mulai membasahi sekujur tubuhnya.

"Aku mohon! Tolong lepaskan aku! Ini sebuah kesalahan! Tidak seharusnya aku di sini!" lirihnya terpejam dengan tetes air mata yang kembali turun.

Kara mengigit kuat-kuat bibirnya, sambil terus mencengkram selimut yang ada di sampingnya. Ia mencoba menahan isak tangis, dan menghindar dari lelaki yang ada di atasnya. Namun sayang, semua usahanya itu nampak sia-sia saja. Tenaganya jauh lebih lemah dari lelaki tersebut, hingga membuatnya semakin tak berjarak.

"Kau pikir, kau bisa lepas begitu saja dariku?" bisik suara bariton itu setelahnya.

"Aku mohon, lepaskan ak...."

Belum sempat Kara menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja lelaki itu telah bergerak maju dan meraup bibir merahnya lebih dulu. Lelaki tersebut terus menyesapnya tanpa jeda, seolah sedang kecanduan permen manis. Dan terus membungkamnya, hingga hampir membuatnya kehabisan napas.

"Kau tentu tidak akan bisa pergi begitu saja dariku, Sayang! Kau sudah masuk ke dalam kehidupan seorang Barra Piterson! Dan kau tidak akan bisa keluar begitu saja, tanpa aku biarkan!" tekan lelaki itu sekali lagi, hingga membuat sekujur tubuh Kara kembali terasa merinding.

Deghh!

Barra Piterson? Rasanya Kara pernah mendengar nama itu. Entah di mana persisnya, akan tetapi yang jelas nama tersebut sepertinya pernah berseliweran di beberapa portal berita.

Tanpa memberikan jeda untuk Kara berpikir, lelaki yang bernama Barra itu seketika kembali bergerak menyesap lembut bibir menggoda yang ada di hadapannya. Ia benar-benar terus melakukannya dengan sangat bersemangat, seolah tak mau melewati satu bagian apa pun yang ada di dalam sana.

Barra, memanglah bukan lelaki biasa. Rupa wajah dan bentuk tubuhnya bagai pahatan sempurna yang menggambarkan tokoh para dewa, akan tetapi sayang sikap dan sifatnya bagai iblis yang tak kenal kata ampun.

"Balas kecupanku seperti semalam! Aku lebih suka dirimu yang liar dibandingkan yang cengeng seperti ini!" titah Barra semakin memaksa, seraya sedikit menghentakkan tubuh mulus di bawahnya.

"Barra! Tolong! Aku harus pulang! Bapakku sedang sak...."

Kara tak sanggup melanjutkan kata-katanya, karena lagi-lagi Barra telah lebih dulu melakukan semua yang diinginkannya. Segala pemberontakannya bagai angin belaka. Lelaki itu semakin tanpa ampun membuatnya tak berdaya, hingga sekujur tubuhnya kian bergetar ketakutan.

"Cukup sudah sandiwaramu! Kau pikir, aku akan tertipu begitu saja dengan aktingmu? Heumm?" geram lelaki itu sekali lagi, hingga membuat Kara semakin menggeleng takut.

"Semalam kau sendiri yang datang dan menggodaku, akan tetapi sekarang? Kenapa tiba-tiba saja sikapmu berubah, seolah aku yang sudah memaksamu lebih dulu? Mimpi apa yang telah merubahmu seperti ini?" lanjut Barra kian tertahan dengan semakin mencengkram erat tangan Kara yang memberontak.

Dengan deru napas yang semakin menggebu, Barra kian menatap tajam kedua netra hitam Kara secara bergantian. Ia seketika merasa aneh, hingga setelahnya salah satu tangan kekarnya langsung mencengkram erat wajah cantik itu dengan kasar.

"Apa kau adalah salah satu orang suruhan musuhku untuk merusak nama baikku? Siapa namamu? Dan siapa juga nama orang yang telah mengirimkanmu ke sin—"

Bughh!

"Sia! Kau!"

Barra kehilangan kata-kata, tepat setelah Kara membenturkan kening di ujung hidung mancungnya. Darahnya mendidih, hingga membuat rahang tegasnya mengeras. Namun ketika hendak mencengkram kembali, sosok yang telah menghangatkan ranjangnya itu malah lebih dulu bergerak lincah meloloskan diri.

Dengan segera Kara merebut paksa sebuah selimut untuk menutupi dirinya, hingga lantas bergerak cepat meraih beberapa pakaiannya yang tercecer di atas lantai. Ia langsung membawanya berlari masuk ke dalam sebuah ruangan yang diyakininya sebagai toilet, sampai akhirnya ....

Brakkk!

Gadis itu terpeleset, ketika merasakan sensasi perih di area pangkal pahanya. Kara meringis kesakitan, hingga sedetik kemudian dirinya merasa melayang ke udara dengan tangan kekar yang berada di salah satu bahu dan juga lipatan kakinya.

"Sudah aku bilang bukan? Kau tidak akan bisa pergi begitu saja! Kau lupa telah berbuat apa saja semalam? Kau sudah berhasil membangunkan singa buas yang sudah lama tertidur! Jadi sekarang, jelaskan padaku siapa kau sebenarnya?"

Bab 2

"Tidak! Ini tidak mungkin!"

Kara Isabelle, gadis berwajah cantik itu tengah membeku menatap dua garis merah yang terpampang jelas di hadapannya.

Seharusnya hari ini Kara berada di kampus. Melaksanakan tugas barunya sebagai asisten dosen, dan menyelesaikan beberapa mata kuliahnya dengan baik agar status beasiswa penuhnya bisa segera disetujui. Namun sayang pada kenyataannya, ia malah terjebak di dalam kamar mandinya sendiri dengan sebuah hasil testpack yang amat mengejutkan.

"Ya Tuhan, harus apa aku sekarang?" lirihnya frustasi sambil memijat pelipis.

Tak pernah Kara sangka, malam panas yang sudah mati-matian ia lupakan sebulan yang lalu malah membuahkan hasil.

Sungguh, Kara belum siap menghadapi kenyataan ini. Ia menganggap semuanya telah usai, selepas dirinya berhasil kabur dari jeratan Barra. Bahkan dirinya tak pernah berusaha mencari tahu identitas jelas lelaki yang telah merenggut kesuciannya itu, karena menurutnya malam tersebut hanyalah malam pertama dan juga terakhir dirinya bertemu dengan sosok itu.

Dunia Kara yang telah hancur, kini semakin tak terbentuk lagi! Perlahan air matanya pun mulai luruh, seiiring dengan tak sanggupnya ia menahan derita.

Tokkk! Tokk! Tokk!

"Kara! Cepat buka pintunya!"

Deghh!

Tangis Kara seketika terhenti, ketika terdengarnya suara sang ibu angkat. Dengan degup jantung yang semakin tak beraturan, Kara menoleh panik ke arah pintu yang semakin berguncang. Sebisa mungkin dirinya langsung menyembunyikan hasil bukti kehamilannya lebih dulu, menyeka air matanya, dan bergerak membuka pintu.

Plakkk!

"Apa-apaan ini, Kara?! Cepat jelaskan semuanya pada Ibu!" hentak Helena—sang ibu angkat dengan satu tangan yang memegang struk belanja berlogokan apotek.

"Bu ...."

Tatapan mata Helena yang nyalang, membuat napas Kara semakin tercekat. Bibir pucatnya tak sanggup lagi melanjutkan kata-kata, karena semua hal yang telah ditutupinya telah terbongkar berkat kecerobohan yang sama sekali tak pernah ia duga.

"Untuk apa kau membeli benda itu?!" tanya Helena singkat, tanpa sudi menatap sang anak angkat yang telah bersimpuh di hadapannya.

Sesak, takut, khawatir, berbagai perasaan itulah yang kini tengah berkecamuk di dalam diri Kara. Semuanya benar-benar muncul secara bersamaan, seolah tak mau memberikannya jeda untuk berpikir barang sedetik pun.

"Cepat jelaskan semuanya, Kara! Apa itu untukmu? Apa hasilnya?!" desis Helena dengan urat-urat yang tercetak jelas di leher.

Dengan satu tarikan saja, wanita itu berhasil membuat Kara merintih kesakitan. Ia semakin menjambak kencang rambut sang anak angkat tanpa ampun, hingga lantas segera meraih dagu mungil yang sedari tadi hanya menunduk tersebut.

"Bu, maafkan aku! Aku memang membeli benda itu untukku, tapi tolong! Tolong jangan beri tahu ini ke Bapak! Aku—"

Plakkk!

"Dasar anak tidak tahu diri! Memalukan!" ujar Helena menggebu dengan tatapan yang kian membara.

"Bu, aku mohon! Aku tidak mau membuat kondisi Bapak semakin memburuk!"

Tak peduli dengan dirinya yang terus dikasari, Kara hanya berharap agar kabar ini tak sampai ke telinga ayahnya. Ia tidak mau membuat sosok itu semakin sakit, sehingga tanpa pikir panjang dirinya pun langsung bergerak bersujud tepat di hadapan sang ibu angkat.

"Aku akui kesalahanku, Bu! Aku sudah melakukan sesuatu yang sangat memalukan, sehingga sekarang aku mengandung! Akan tetapi tolong, tolong rahasiakan ini ke Bap—"

Brakkk!

"Dasar bodoh!" maki Helena kian emosi.

Masa bodoh dengan kondisi anak angkatnya yang tengah berbadan dua, ia tak mau mendengarkan lagi. Dengan tega wanita itu menendang tubuh lemas Kara sampai terjungkal ke belakang, sampai terdengar rintihan yang amat memilukan.

"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu, disaat aku sedang bersusah-payah menjaga bapakmu yang penyakitan?!" teriak Helena semakin tak terkontrol. "Siapa ayah dari janin yang ada dikandunganmu itu? Pacarmu? Temanmu? Atau pria lain di luar sana? Cepat katakan, agar dia bisa segera bertanggung jawab!"

"Maaf, Bu. Itu ... Itu tidak bisa!" jawab Kara pasrah, dengan derai air mata yang kian menderas.

Gadis itu semakin meringkuk ketakutan, seiring dengan langkah Helena yang semakin mendekat. Kara takut dengan ibu angkatnya, akan tetapi juga tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Ia tentu tak mau menemui Barra lagi, karena lelaki yang telah menanamkan benih di rahimnya ini sangatlah kejam dan tak mempunyai hati.

Bughh!

"Bodoh! Kalau bukan dia yang bertanggung jawab, lalu siapa lagi?! Kau pikir aku mau? Hah!" pekik Helena yang kini tak segan lagi membenturkan kepala sang anak angkat.

Setetes darah segar, mulai mengalir membasahi dahi Kara. Ia memang merasakan sakit, akan tetapi sayang seluruh derita yang dirasakan fisiknya saat ini tak sebanding dengan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.

"Gugurkan anak itu!"

"Tapi, Bu—"

"Aku bilang gugurkan secepatnya!"

Brakkk!

"Bapak!"

Kara tersentak, tepat setelah melihat kehadiran sang ayah yang terjatuh dari kursi roda. Dengan segera ia bangkit, berusaha sebisa mungkin mengangkat sosok yang telah membesarkannya itu ke atas tempat tidur, dan membaringkannya dengan penuh hati-hati di sana dengan wajah sembab yang penuh dengan jejak air mata.

"Ra? Ka–kamu ... Ha—"

"Maaf! Maafkan Kara, Pak! Maaf, karena Kara telah melakukan kesalahan yang sangat fatal!" sambar Kara tak kuasa mendengar kenyataannya lagi.

Dengan cepat ia langsung memeluk tubuh ringkih ayahnya. Tak peduli dengan dahinya yang semakin berdarah, Kara semakin menempelkan punggung tangan sang ayah di sana. Ia memohon ampun pada sosok yang telah sangat menyayanginya itu, sampai tak begitu menyadari bahwa sosok tersebut semakin terengah dan mengembuskan napas untuk yang terakhir kalinya.

Deghh!

"Pak! Bapak! Bangun, Pak!"

Napas Kara tersendat, tak kuasa melanjutkan ucapannya lagi. Semua sudah diceknya, mulai dari deru napas, detak jantung, hingga denyut nadi. Ingin ia bertanya pada sang ibu angkat, guna menyakinkan bahwa yang telah dilihatnya saat ini hanyalah sekelebat dari bayangan buruk. Namun sayang, rasanya itu tidak mungkin.

"Enggak! Bapak pasti hanya pingsan saja 'kan?" gumam gadis itu akhirnya, dengan bibir yang semakin bergetar.

Sebisa mungkin Kara menampik kenyataan yang amat mengiris hatinya. Ia masih belum menerima kepergian sang ayah yang sangat tiba-tiba. Hingga perlahan, tangan lemasnya pun bergerak mengusap wajah yang sudah tak berekspresi itu.

"Sekarang kamu lihat 'kan? Ini akibat dari perbuatan memalukanmu itu!" desis Helena dengan menatap nanar ke arah tubuh tak bernyawa sang suami.

"Bu, maaf! Tapi Bapak masih bisa bangun lagi kok! Bapak cuma—"

"Sudah cukup, Kara! Sudahi omong kosongmu itu dan segera pergi dari rumah ini! Percuma saja kau menangis meratapi kematian bapakmu, karena kau sendirilah yang sudah membuat bapakmu seperti ini! Kau sudah membunuhnya! Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi melihatmu lagi! Kau hanya jadi beban keluarga, yang mempermalukan keluargamu sendiri!"

Bab 3

"Bunda! Ayo, Bunda! Bangun!"

Seutas senyum sumringah seketika tercipta di wajah cantik Kara, berkat sosok mungil yang telah membangunkannya pagi ini. Tak sabar ia langsung memeluk dan membubuhi beberapa kecupan singkat pada sosok kecil yang amat menggemaskan itu, hingga membuat sosok berambut ikal tersebut bergerak memundurkan diri dan memanyunkan bibirnya dengan lucu.

"Bunda belum mandi! Bunda enggak boleh cium cium Arka!" protes anak kecil itu dengan pipi tembamnya yang semakin menggembung.

"Kalau bunda belum mandi, memangnya Arka sudah mandi?"

"Ya belum dong, Bunda. Arka 'kan mandinya nanti, tunggu dimandiin sama Bunda. Kata Bunda, Arka masih kecil. Nanti kalau Arka mandi sendiri, airnya berubah jadi sabun!"

Kara kembali tertawa gemas melihat tingkah malaikat kecil yang sempat tak diharapkannya. Tak pernah ia sangka sosok yang sempat tiga tahun lalu dibencinya, kini malah memberikannya sebuah kebahagiaan sederhana yang sanggup membuatnya bertahan sampai saat ini.

"Bunda! Ih, kok Bunda melamun sih? Ayo, Bunda! Kita harus siap-siap! Kita 'kan mau ke pasar, Bunda!"

***

Dengan langkah terburu-buru Kara menyusuri pasar dengan Arka yang berada di gendongannya. Walau masih berusia 23 tahun, akan tetapi kecekatannya dalam berbelanja sekaligus mengurus anak memang patut diacungi jempol. Ia cukup handal mengurus semuanya sendiri karena memang inilah salah satu kegiatan rutinnya selain membuat dan menjual roti, setelah terpaksa tak meneruskan kuliahnya dan menghindar dari semua orang-orang yang pernah dikenalnya.

"Eh, ada Arka! Sama bundanya aja ke sini? Ayahnya ke mana?" tanya seorang penjual yang memang sudah kenal dengan anak semata wayang Kara.

"Ayah Arka lagi kerja, Bibi. Bunda bilang, ayah lagi cari uang yang banyak untuk Arka sekolah nanti!" jawab anak kecil tersebut dengan polos, hingga membuat Kara tersenyum singkat sebelum kembali melanjutkan aktivitas belanjanya.

"Memangnya ayahnya Arka kerja apa? Kok, kayaknya bibi enggak pernah lihat? Ayahnya Arka pelaut ya?"

Kedua netra bulat Arka mengerjap setelahnya. Ia menatap bingung ke arah sang ibunda. "Bunda, pelaut itu apa? Ayah pelaut buk—"

"Bu, ini semua totalnya berapa ya?"

"Oh, cuma 55 ribu saja kok. Kebetulan saya masih pakai stok yang lama," jawab sang pedagang yang langsung dengan cekatan mengambil plastik lain.

Kara terpaksa mengabaikan pertanyaan Arka dengan terus fokus berjalan keluar dari area pasar. Ia tentu tak ingin menciptakan kebohongan yang baru, karena hal tersebut hanyalah akan semakin menambah rasa sakit yang belum pernah sembuh di hatinya.

"Arka mau permen? Atau es krim?" tawar Kara untuk menutupi rasa bersalahnya.

"Enggak, Bunda. Arka cuma mau tau kapan Ayah bisa pulang? Memangnya kerjaan Ayah enggak pernah selesai ya, sampai Ayah enggak pernah bareng-bareng sama kita di sini?"

Deghh!

Sungguh demi apa pun, Kara pikir ia bisa terhindar dari pertanyaan semacam ini. Namun sayang, semakin lama Arka semakin beranjak besar dan pintar. Sehingga anak lelakinya itu semakin kritis dan terus berusaha mencari jawaban yang jelas, sampai semua rasa ingin tahunya terselesaikan.

"Arka, Sayang. Coba Arka ingat kata-kata bunda waktu itu, bunda pernah bilang 'kan kalau tempat kerja ayah jauh?" tutur Kara seraya menunduk dan berusaha menahan getaran di bibirnya.

"Iya, Bunda. Tapi memangnya Ayah enggak bisa pulang sebentar aja ya untuk ketemu kita? Arka cuma mau lihat Ayah, Bunda! Arka enggak pernah lihat Ayah, sementara anak-anak yang lain sering main sama ayahnya." Sosok mungil itu kini menatap aspal jalanan yang tengah dipijaknya, dengan kedua netra yang sudah mendung dan beberapa bulir air mata yang terjatuh.

Tidak pernah Kara sangka sebelumnya, semua kata-kata itu bisa lolos dengan mudah dari bibir mungil anaknya. Entah sejak kapan semua hal tersebut telah dipendam oleh Arka akan tetapi yang jelas saat ini dirinya bisa melihat dengan jelas raut kekecewaan dan kesedihan yang terpancar dari sana.

"Arka, Sayang. Peluk bunda, yuk? Maaf, karena bunda enggak bisa jawab semua pertanyaan Arka," kata Kara yang akhirnya juga tak bisa menahan tangisnya lagi.

Walau masih dengan wajah murungnya, akan tetapi sosok mungil itu tetap mendekat dan memeluk tubuh sang ibunda. Kara dan Arka pun akhirnya saling memeluk satu sama lain, dengan emosi yang berkecamuk di dalam hati. Tak dapat dipungkiri, keduanya memang selalu mudah rapuh jika telah membahas permasalahan ini.

"Kalau memang Ayah masih sibuk kerja, enggak apa-apa Bunda. Bunda enggak usah nangis lagi ya? Arka selalu ada di sini kok sama Bunda! Arka masih mau nemenin dan bantuin Bunda setiap hari, sampai nanti Ayah pulang dan gantian jagain Bunda!"

Tangis anak kecil itu seketika saja surut dengan mudahnya. Entah apa yang sudah dipikirkannya saat ini, akan tetapi yang jelas hal tersebut malah semakin membuat hati Kara perih. Tak pernah terkira olehnya, sosok mungil yang masih berusia tiga tahun itu bisa bersikap layaknya orang dewasa seperti ini.

"Maaf ya, Nak? Maaf, karena ayah belum bisa menemuimu," lirih Kara dengan pelan sambil menatap manik coklat sang buah hati.

Kara mengigit kuat-kuat bibirnya. Ia kembali mengeratkan pelukan, agar segala pilu yang tengah dirasakannya tak dapat disaksikan oleh sang anak. Dirinya tentu tak akan tega memberi tahu Arka, jika sebenarnya sosok yang selama ini disebutnya sebagai ayah itu tidak pernah mengetahui keberadaannya sebagai seorang anak.

"Iya, Bunda. Maafin Arka juga ya? Maaf karena pertanyaan Arka tadi buat Bunda sedih!"

Dengan beberapa jari mungilnya, Arka bergerak menghapus beberapa tetes air mata yang sudah membasahi wajah sang ibunda. Bahkan dirinya sampai rela berjinjit, demi bisa mensejajarkan kepalanya dengan sosok yang telah melahirkannya tersebut.

"Tidak apa-apa, Sayang," sahut Kara tersenyum sambil kembali memeluk tubuh mungil itu.

Tak dapat Kara pungkiri, dekapan Arka memang ampuh membuat hatinya kembali kuat. Walau sekeras apa pun kejadian yang telah membuat dirinya hancur, Arka selalu saja bisa membuatnya tenang dan bersemangat untuk menjalani hidup.

"Love you, Bunda!"

"Love you too, Sweetheart!"

Sekali lagi Kara mendekap erat tubuh mungil Arka. Ia harap anak lelakinya itu bisa kuat dalam menjalani semua kenyataan yang cukup berat ini. Hingga tiba-tiba saja telepon genggamnya berdering, dan langsung membuatnya mundur menciptakan jarak ketika melihat nama sang pemilik kontrakan di layar ponselnya.

"Baik, Bu. Saya mohon kelonggaran waktunya. Iya, Bu. Pasti saya akan usahakan secepat mungkin!"

Dengan susah payah Kara membasahi tenggorokannya. Ia berusaha tenang, sebelum kembali menjumpai Arka. Berkali-kali dirinya menarik napas, agar pikiran kalutnya segera usai. Sampai akhirnya tiba-tiba saja detak jantung seolah terhenti, ketika sama sekali tak menemukan keberadaan sang buah hati di sekelilingnya.

"Arka! Arka! Kamu di mana, Sayang?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED