Bab 2

"Siapa wanita itu, Mas?" desakku lagi. Mataku menyorot tajam ke arah Pras yang berusaha untuk tersenyum, walau aku tahu senyumannya begitu kaku.

"Perkenalkan, saya Ratih," sergah wanita itu, berjalan dengan anggun ke arahku. Kini kami saling berhadapan. Rambutnya panjang seperti rambutku, tinggi kami juga sama. Hanya saja wanita yang bernama Ratih ini jauh lebih muda dariku.

Mataku menyipit, memperhatikan penampilan Ratih yang formal.

"Iya, dia Ratih," ucap Pras dari balik punggungku. "Dia–"

"Saya salah satu klien di perusahaan ini. Kebetulan saya bekerja sebagai AE dari salah satu PH yang akan bekerja sama dengan jaringan TV langganan ini," Ratih menjulurkan tangannya.

Terpaksa aku menyambut uluran tangannya.

"Benar, Ndin. Dia salah satu calon klien penting perusahaan," ucap Pras lagi, melempar senyum ke arah Ratih.

Aku manggut-manggut. "Saking pentingnya, sampai mengunci pintu ruangan segala?"

"Yah, begitulah. Kami harus membahas beberapa dokumen confidential, Ndin," terang Pras. Lantas, Ratih membereskan beberapa kertas yang berantakan di atas meja kerja Pras.

"Saya rasa cukup sekian pembahasannya, Pak," Ratih menukas sambil menenteng sejumlah dokumen. "Saya pamit dulu."

"Ah, ya. Makasih ya, Tih," tukas Pras.

Lalu, Ratih berhenti di depanku dan menyunggingkan senyum yang manis. Tapi entah kenapa aku merasa kalau senyum itu palsu.

"Oh ya, selamat ya, Bu Andini, atas perayaan pernikahan kalian yang kesepuluh. Pak Pras banyak bercerita soal keluarganya yang bahagia dan tentu saja istrinya yang cantik."

Aku tahu bola mata Ratih memperhatikan penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Trims," balasku singkat.

"Semoga pernikahan kalian langgeng," lanjut Ratih lagi. Saat wanita itu berjalan keluar, dia meninggalkan wanginya yang khas, semacam wangi mawar yang membuat kepalaku pusing.

*

"Sepertinya dia wanita yang ambisius," ucapku setelah menata makan siang di atas meja di ruangan Pras.

Pras duduk di sofa di seberangku. "Siapa?"

"Ratih."

"Yah, begitulah. Dia wanita muda yang pintar," Pras menyeruput kopi dari tumbler yang kubawa.

"Dia bukan selingkuhanmu kan?"

"Uhuk!" Tiba-tiba saja Pras tersedak kopinya. "Astaga, Sayang! Kenapa kamu bisa berpikiran begitu sih? Lagian tumben-tumbenan kamu cemburu."

"Sayang?" ulangku. "Kamu hanya memanggilku Sayang kalau kita sedang bercinta, Mas."

Tawa Pras berderai kencang. "Masa sih?"

Aku mendengus pelan. "Hitam atau abu-abu metalik. Kamu bahkan enggak tahu warna kesukaanku."

Kedua ujung alis Pras menyatu. "Apa maksudmu?"

"Aku tahu kamu membelikanku sebuah mobil kan? Sales-nya menelepon ke rumah," terangku.

"A-apa?" Pras membenarkan posisi duduknya.

"Kenapa kamu enggak bilang sih, Mas? Maksudku, aku belum butuh mobil baru. Lagian, mobil yang kupakai ini kan belum ada lima tahun. Terus, besok mobil itu bakalan datang ke rumah. Yah, bukannya aku enggak bersyukur. Aku senang sih. Tapi mobil itu mau ditaruh di mana, Mas? Garasi kita hanya cukup dua mobil. "

"Soal itu..." Pras mengusap tengkuknya berkali-kali.

Mataku menyipit curiga. "Itu mobil untukku kan?"

"Astaga! Tentu saja, Sayang! Maksudku, Andini, Sayangku. Aku hanya sedikit kesal saja. Bisa-bisanya sales itu menelepon ke rumah. Padahal aku mau memberimu kejutan. Tapi ya sudahlah." Pras menepiskan tangannya. "Sebenarnya, mobilmu mau kujual. Ada salah satu temanku yang ingin membelinya."

"Kenapa kamu enggak bilang, Mas? Aku suka mobil itu soalnya warnanya merah, warna kesukaanku."

Pras menggaruk-garuk pelipisnya. "Tadinya, aku mau cari yang warna merah tapi enggak ada. Cuma ada warna hitam dan abu metalik. Tapi kamu tahu kan kalau mobil itu keluaran terbaru dan lebih mahal?"

"Aku tahu kok."

"Sistem keamanannya juga lengkap. Ada dua airbag di belakang dan di depan. Pokoknya aku merasa aman kalau kamu nyetir pakai mobil baru itu."

"Makasih ya, Mas. Aku enggak nyangka kamu bakal memberiku hadiah mobil," ucapku.

Pras tertawa. "Kamu satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini, Ndin. Ingat kan, betapa besar perjuanganku untuk mendapatkanmu? Sampai akhirnya, kamu menerima cintaku, menikah denganku, dan memberiku dua anak yang lucu. Jadi, kurasa mobil baru itu memang layak untukmu."

Lantas, Pras mulai menyantap makan siangnya bersamaku. Namun seperti biasa, kami hanya makan dalam diam karena aku dan suamiku memang jarang ngobrol.

*

Aku menghela napas pelan saat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sepertinya aku tidak akan keburu mengejar kelas baking.

Jadi, aku berjalan santai saja melewati lobi. Namun, aku langkahku terhenti begitu melihat Ratih yang duduk di lobi gedung. Maksudku, dia masih berada di sini? Padahal sudah satu jam selepas dia pamit dari ruangan Pras.

"Ratih?" Tukasku yang kini berdiri menjulang di depannya.

Kepala wanita itu mendongak dan matanya langsung membulat. "Lho, Bu Andini?"

"Seharusnya aku yang kaget. Kenapa kamu masih ada di sini? Apa masih ada keperluan dengan suamiku? Apa aku sudah mengganggu waktu kalian?" cerocosku.

"Ah, enggak kok, Bu. Saya...sebenarnya sedari tadi saya sedang menunggu taksi online, tapi di-cancel terus. Mungkin karena daerah sekitaran sini memang macet kalau jam makan siang," terang Ratih.

Lalu aku menghempas diri di sampingnya. Dari gelagatnya aku tahu dia risih akan keberadaanku.

"Hm, bukannya kalau AE itu biasanya dapat fasilitas mobil kantor ya?" tanyaku.

"Iya, tapi mobilnya lagi di bengkel. Lagi pula, saya juga belum punya mobil pribadi."

"Ah, atau jangan-jangan kamu ya temannya Mas Pras yang mau membeli mobilku?" Tebakku asal.

"Eh?"

Aku menepiskan tangan. "Itu hanya asumsiku saja kok. Soalnya Mas Pras baru saja memberiku hadiah mobil baru. Dan mobil lamaku mau dibeli oleh temannya Mas Pras. Bisa saja kan itu dirimu? Tapi sepertinya bukan sih."

"Oh, begitu ya. Bukan saya kok yang mau membeli mobil Bu Andini," dia tersenyum kecut. "Sepertinya Pak Pras memang benar-benar mencintai Bu Andini ya, sampai dibelikan mobil baru segala. Menyenangkan sekali."

Aku hanya mengedikkan bahu. Dia tidak tahu kenyataan sebenarnya. "Yah, begitulah. Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?"

"Pacar?" Mata bulat Ratih mengerjap-ngerjap.

"Kurasa perempuan secantik kamu enggak mungkin jomlo kan?"

Ratih tertawa kecil sambil mengibaskan rambut panjangnya. "Well, aku bahkan sudah menikah."

"Oh ya?" Kini giliran mataku yang membelalak lebar.

Rambut Ratih bergoyang saat mengangguk pelan. "Aku sangat mencintai suamiku dan aku bahkan rela melakukan apa saja demi bersamanya."

Yah, seharusnya aku tidak berpikiran macam-macam tadi. Ternyata Ratih sudah menikah. Namun, dahiku mengerut melihat jari manisnya.

"Tapi, kenapa enggak ada cincin yang melingkar di jarimu?"

"Bu Andini juga enggak pakai cincin kawin kan?" Tembaknya.

"Ah, iya sih. Itu karena pernikahanku sudah berjalan sepuluh tahun dan kami saling percaya satu sama lain. Lagi pula cincin kawinku juga sudah enggak muat."

"Sama denganku. Aku dan suamiku juga saling percaya. Jadi, cincin itu enggak perlu."

Aku kembali mengecek pergelangan tanganku. "Mau kuantar? Aku masih punya banyak waktu sebelum menjemput kedua anakku."

"Terima kasih, Bu Andini. Tapi saya enggak mau merepotkan."

Aku lantas bangkit. "Yah, senang berkenalan denganmu, Ratih."

Ratih menyunggingkan senyum simpul dan aku pun segera menghilang dari pandangannya.

*

Saat kembali ke rumah, aku mendapati dapur yang masih berantakan. Aku berdecak kesal karena biasanya Miyem selalu membereskan dapur setelah memasak.

"Miyem!" panggilku sambil mengarah ke balik pintu yang menghubungkan dapur bersih dengan dapur kotor. Namun, ART-ku itu tidak kunjung menyahut.

"Miyem?!" panggilku lagi. Kali ini dengan nada yang sedikit jengkel. Aku berdecak heran. Kuputuskan untuk mengecek keberadaannya. Ternyata dia tidak ada di dapur kotor.

Aku lalu mendapati kantung belanjaannya dari pasar yang masih tergeletak di lantai.

"Astaga..." desisku sambil geleng-geleng kepala. Sayuran-sayuran ini kalau tidak langsung dicuci dan dimasukkan ke kulkas pasti akan layu. Heran, tidak biasanya Miyem lalai seperti ini.

Aku berkacak pinggang dan memperhatikan keadaan sekitar.

Lalu, mataku tertuju ke arah kamar Miyem. Jangan-jangan dia sakit? Aku pun jadi cemas.

Namun saat aku hendak melangkah ke kamar Miyem, aku mendengar suara aneh dari arah gudang.

"Ah, Om..."

Dahiku mengerut dalam sambil melangkah perlahan ke gudang.

"Om, enak banget. Terus Om..."

Napasku tercekat. Aku yakin benar itu suara Miyem. Tapi kenapa dia mendesah seperti itu, di gudang pula?

Langkahku semakin dekat dan melalui celah pintu gudang yang sedikit terbuka, aku menyaksikan tubuh Miyem yang tanpa busana bergoyang-goyang seirama.

Jantungku berdegup-degup tidak karuan. Astaga, Miyem!

Sambil menahan napas, aku menyipitkan mata, berusaha menangkap sosok pria yang menghentak ART-ku dari belakang.

Dan kini jantungku terasa mau copot begitu tahu siapa pria yang bermain gila dengan Miyem.

Bab 3

Kepalaku mendadak pusing sementara desahan Miyem semakin menggila dari dalam sana. 

"Ssst! Jangan, keras-keras. Nanti ada yang denger. Gawat kan kalau sampai ketahuan." Pria itu menghentikan gerakan pinggulnya. Rautnya nampak cemas.

Miyem lantas mengerang kesal. "Tenang, Om. Jam segini Nyonya belum pulang. Ayo, Om, lanjut."

"Beneran? Baiklah, kalau gitu."

Pria itu menampar bokong Miyem dan lenguhan mereka kembali bersahutan.

Aku bergidik jijik menyaksikan semua ini. Miyem, ART-ku yang baru berumur dua puluh tahun, bercinta dengan Rudi, tetangga depan rumahku yang notabene adalah pria setengah baya berkepala lima!

Yang aku tahu, Risa–istrinya Rudi–beberapa bulan lalu memang terkena serangan jantung ringan. Dan sejak saat itu kondisi kesehatannya menurun.

Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan bagi Rudi untuk berselingkuh, apalagi dengan Miyem, ART-ku!

Kedua tanganku mengepal erat dan napasku pun memburu. Rasanya kepalaku mengepul panas karena dipenuhi amarah. Aku punya trauma tersendiri dengan yang namanya perselingkuhan.

Perlahan, aku mengambil ponsel yang ada di saku celana.

Aku harus memberi pelajaran pada mereka berdua! Dari celah pintu, aku mulai membidik adegan perselingkuhan ini dengan ponselku.

"Om, Miyem mau sampe..." desahnya.

"Aku juga. Kita bareng ya, Om?"

Dengan napas berat, Rudi mempercepat goyangan pinggulnya.

Aku menelan ludah dalam-dalam. Entah kenapa bulu-bulu di tengkukku terasa meremang sementara jantungku jadi berdegup cepat menyaksikan semua ini.

Mata Miyem mulai terpejam. Sepertinya dia akan mencapai puncaknya.

Tiba-tiba aku merasa iri. Miyem bisa merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan bersama suamiku sendiri.

Tanganku gemetar menyaksikan mereka akan mencapai puncak. Lalu tanpa kuduga ponselku berdering kencang. Muncul nomor yang tidak dikenal di layar.

Sontak aku memekik dan ponselku meluncur ke lantai.

Sial! Aku kepergok mengintip mereka! Tapi tunggu, kenapa aku mesti panik? Seharusnya mereka berdualah yang panik!

Maka, secepat kilat aku mengayun kaki kananku dan mendobrak pintu gudang agar membuka lebar. Kami bertiga pun saling berteriak kencang.

Miyem dan Rudi panik akan kehadiranku sementara aku panik karena melihat milik Rudi yang menggantung.

*

Akhirnya, terjadi perang dunia ketiga di rumahku. Aku memberi tahu Risa, wanita malang itu, soal perselingkuhan suaminya saat itu juga. Risa datang ke rumahku dan melabrak habis-habisan suaminya serta Miyem.

Terus terang, aku merasa bersalah karena bagaimana pun juga Miyem adalah tanggung jawabku. Aku minta maaf pada Risa dan memulangkan Miyem di hari itu ke kampung halaman dengan bis–tentu saja aku memberinya uang pesangon.

Malamnya, aku memberi tahu Pras soal kehebohan yang terjadi tadi siang, sampai-sampai aku telat menjemput kedua putraku.

"Gila kan? Siapa yang sangka Rudi bermain api dengan ART kita, Mas?!" Aku melempar kedua tangan ke atas dengan geram.

"Yah, namanya juga lelaki, Ndin," jawab Pras sambil memperhatikan ponselnya.

"Maksud Mas, kalau laki-laki wajar selingkuh?" tanyaku sewot dari depan meja rias.

"Laki-laki itu kan butuh menyalurkan nafsunya dan kalau enggak salah istrinya itu sedang sakit kan?"

"Astaga, Mas! Tapi bukan berarti si Rudi itu harus selingkuh!"

"Ya, ya, aku tahu tindakan Rudi itu salah. Tapi sudahlah, toh itu bukan urusan kita."

Aku naik ke atas ranjang. "Iya, tapi Miyem bekas ART kita, Mas."

"Miyem sudah kamu pecat. Beres." Lantas, Pras tiba-tiba memiringkan posisi badannya, menatapku. "Ndin, apa yang bakal kamu lakukan kalau aku selingkuh?"

"Cerai," jawabku cepat. "Dan apa yang akan Mas lakukan kalau aku selingkuh?" tanyaku penasaran.

Pras mengetuk-ngetukkan ujung ponselnya di dagu sambil berpikir. "Hm, kurasa aku akan membunuhmu."

"A-apa?"

Seketika tawa Pras pecah. "Astaga, kamu nampak ketakutan, Ndin! Aku hanya bercanda."

Aku mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirku. "Bercandaanmu itu enggak lucu, Mas!"

Pras kemudian berbaring dan menatap langit-langit. "Yah, yang pasti aku enggak akan membiarkanmu mengkhianatiku. Aku enggak akan melepasmu, Ndin. Kamu akan jadi milikku selamanya. Apapun yang terjadi."

Pram menoleh dan menyeringai dalam cahaya kamar yang remang. Oh, aku tidak suka senyumannya itu. Maka aku segera menarik selimut dan tidur memunggunginya.

*

Sekarang sudah tiga minggu sejak kejadian menggemparkan itu berlalu dan rumah depan itu masih kosong.

Plang yang bertuliskan 'rumah dijual' masih menggantung di gerbang rumah.

Risa menjual rumah miliknya. Ya, selama ini Rudi memang menumpang hidup dengan Risa. Pria brengsek itu mendapatkan jabatan sebagai direktur di perusahaan tekstil juga karena perusahaan itu milik keluarganya Risa.

Pernikahan dua puluh lima tahun mereka pun kandas dan Risa memilih pergi ke Amerika menyusul kedua anak mereka.

Kupikir kehidupan Risa dan Rudi sempurna, tapi nyatanya tidak. Sama seperti hidupku. Kita memang tidak bisa melihat segala sesuatu dari sampulnya saja.

Aku menghela napas pelan setelah memandangi rumah itu dan tragedinya. Lalu aku menutup pagar rumahku dan bersiap untuk melanjutkan aktivitas setelah mengantar kedua putraku ke sekolah.

*

Hap! Aku mengangkat keranjang kotor pakaian anggota rumah ini dan membawanya ke mesin cuci.

Sampai saat ini aku memang belum memiliki ART lagi. Pras sudah mendesakku untuk mencari pengganti Miyem. Dia tidak ingin aku kecapekan. Tapi aku masih trauma dengan kejadian itu.

Kali ini aku mau lebih selektif mencari ART baru. Tapi ya itu, sampai sekarang aku belum menemukan ART yang terpercaya.

Namun, tidak jadi masalah sih. Sebenarnya dari dulu aku terbiasa mandiri, mengerjakan tugas rumah sendiri. Jadi, menyapu, mengepel dan lain sebagainya bukan masalah besar bagiku. Tanganku juga tidak anti dengan deterjen. Tapi sejak menikah dengan Pras, dia memang tidak membiarkanku melakukannya.

Aku malah senang tidak ada ART karena aku bisa menenggelamkan diri dengan berbagai pekerjaan rumah tangga. Kadang capek sih, tapi kunikmati saja. Toh, nanti juga aku akan dapat pengganti Miyem.

Air di mesin cuci itu berputar, menggiling pakaian hingga bersih. Lantas, aku kembali ke dapur. Setelah menggelung rambutku yang panjang, aku menenteng kantong plastik hitam berisi sampah.

Udara di luar yang cukup terik membuatku menjatuhkan pilihan pada kaos coklat muda yang tipis yang melekat ketat di tubuhku, serta celana pendek hitam yang memamerkan kakiku yang jenjang.

Toh, tidak ada yang melihatku berpakaian minim seperti ini. Area komplek perumahanku memang sepi kalau siang-siang begini.

Aku menutup kembali bak sampah dan saat memutar tubuh, aku menyadari ada mobil SUV hitam yang terparkir di depan rumah kosong itu.

Hm, apa ada calon pembeli yang datang melihat?

Saat aku sedang berpikir, gerbang pintu rumah itu bergeser. Seorang yang berpakaian formal keluar sambil membawa semacam map, diikuti oleh seorang pria jangkung yang menawan.

Entah bagaimana, pandangan kami beradu–aku dan pria menawan itu–yang seketika menyebabkan degup jantungku jadi bertalu cepat.

Oh, sial! Mana pakaianku minim seperti ini lagi?!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED