Pernahkah kau membayangkan menjadi pemeran utama di sebuah dongeng Disney? Dari seorang gadis biasa, bertemu pangeran tampan berkuda putih, pesta pernikahan yang megah ala fairy tale, gaun mewah dengan pernak-pernik yang berkilau, dan tinggal di istana yang megah?
Ketika kecil, Eleanor Caldwell berpikir betapa indah jika ia memiliki takdir seperti para putri di dongeng Disney dengan ending-yang katanya-happy ever after. Namun seiring dewasa, seiring kehidupan membawanya pada banyak jurang yang membuatnya jatuh, terbentur, tersungkur, bahkan tenggelam, Eleanor menyadari bahwa kehidupan seperti dongeng Disney tidak pernah ada.
Eleanor dan jutaan orang di luar sana telah didoktrin oleh kisah-kisah manis seperti Cinderella dan dongeng lainnya ketika mereka kecil, sehingga orang berpikir bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa didapatkan oleh semua makhluk, tak terkecuali. Tak apa kau miskin, kelak kau akan bertemu dengan pangeran yang kaya raya. Tak apa kau jelek, kelak kau akan bertemu pangeran tampan yang menerimamu apa adanya. Tak apa kau menderita, kelak kau akan bertemu dengan pangeran yang akan membahagiakanmu, selama-lamanya. Cih, semua itu hanya omong kosong!
Minggu lalu Eleanor mendapat kabar bahwa dia akan menikah dengan Jonathan Abbe Turner, pria yang akan mewarisi perusahaan Turnerhail-perusahaan yang memproduksi wiski dan wine dengan kualitas nomor satu di Amerika Serikat. Seharusnya, Eleanor merasa bangga dan menyetujui pernikahan tersebut segera. Tidak semua orang bisa menjadi menantu keluarga Turner yang terhormat. Tapi tidak, Eleanor tidak merasakan kebanggaan apa pun, dia justru merasa ... terhina?
Ketika kecil dia pernah bermimpi menjadi putri yang menikah dengan pangeran tampan berkuda putih. Hidup bahagia di dalam istana megah dan dilayani oleh ratusan pelayan. Namun sejak beranjak dewasa, Eleanor menyadari bahwa angan-angannya hanyalah sebuah ilusi yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Kebahagiaan adalah hal yang abstrak. Sesuatu yang mungkin dan tidak mungkin didapatkan orang. Lalu sekarang, dia semakin meyakini pikirannya, saat ayah dan ibunya datang untuk berbicara padanya, lagi.
"Kau bersedia 'kan, Ele?"
Dientak oleh pertanyaan pahit di depannya, Eleanor menghela napas dalam. "Jawabanku tetap tidak," jawab Eleanor tegas.
"Ele, tidak bisakah kau membantu ayahmu sekali ini saja?" pinta Gemma, ibunya, dengan nada mengiba. "Kau hanya perlu menikah dengan Tuan Muda Jonathan dan memberikan keturunan untuknya. Bukankah itu tugas yang mudah? Kesempatan ini tidak akan datang dua kali."
"Lalu bagaimana jika aku juga tidak bisa memberikan keturunan untuknya?" Eleanor bertanya dengan nada skeptis. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu menatap kedua orang tuanya yang sudah berusia senja, tegas.
Gemma dan Chad Caldwell terdiam. "Setidaknya, untuk sementara waktu, seluruh ladang kita aman, gaji para pekerja ada, dan kita tidak akan kekurangan pasokan pupuk," pungkas Gemma Kembali.
Eleanor terkekeh getir. "Dengan kata lain, kalian menjualku demi mempertahankan aset keluarga Caldwell?"
"Bukan seperti itu, Ele ...."
"Kenapa aku harus bertanggung jawab atas kerusakan yang Ayah lakukan? Bukankah Ayah yang salah karena dengan mudahnya tertipu oleh orang kepercayaan Ayah sendiri? Kenapa justru aku yang kini dijadikan tumbal?" Ele mengeluarkan isi pikirannya yang sudah berhari-hari ini terus bergelut di kepala. Hal yang dia yakini akan membuat orang tuanya marah, tetapi Eleanor tetap ingin mengatakannya.
"ELEANOR!" sentak Gemma marah, seperti yang dia duga.
"Hentikan, Gemma!" Chad menarik mundur istrinya yang tampak begitu marah mendengar ucapan Eleanor. Dengan lemah, pria itu menatap istrinya, memintanya untuk berhenti memaksa anak semata wayang mereka. "Apa yang dikatakan Eleanor ada benarnya. Aku adalah orang yang melakukan kesalahan di sini, tidak seharusnya aku menumbalkan Eleanor. Lagipula, dia putri kita. Bagaimana kita bisa memberikan putri tercinta kita pada keluarga Turner untuk dijadikan istri kedua?"
"Lantas bagaimana kita akan melunasi utang-utangmu yang menggunung pada keluarga Caldwell?" tanya Gemma, menatap suaminya lurus. "Jika kau berpikir lagi untuk menjual seluruh ladang gandum kita, bagaimana kita akan hidup ke depannya?"
"Kita tidak akan menjual habis semuanya, Gemma."
"Bertahun-tahun kita berusaha sampai di titik ini, Chad! Kau tahu, banyak hal yang kita korbankan-"
"Tapi aku tidak bisa mengorbankan putriku, Gemma," sela Chad. Sejenak, lelaki baya tersebut menatap Eleanor. Tatapannya intens, layu, syarat akan rasa bersalah, sekaligus rasa sayang. Kemudian kembali memusatkan atensi pada Gemma. "Dia lebih berarti dari ladang atau harta apa pun yang ada di dunia ini. Aku bisa hidup miskin dan memulai semuanya dari awal lagi. Tapi aku tidak bisa melihat putriku menjalani hidup yang bukan pilihannya."
"Chad-" Gemma tampak akan mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba terhenti karena suatu alasan. Hingga, wanita berusia awal enam puluhan itu tiba-tiba memegang dadanya dengan kaku, membuat Chad mau pun Eleanor seketika menatapnya khawatir.
"Gemma, ada apa?"
Belum sempat keduanya mencerna apa yang baru saja terjadi pada Gemma, wanita itu tiba-tiba saja tak sadarkan diri. Chad panik. Eleanor histeris.
***
"Ibu sangat keterlaluan. Bagaimana bisa kau berpura-pura pingsan hanya agar aku merasa simpati dan menyetujui semua rencana perjodohan itu?"
Eleanor menatap ibunya tak habis pikir. Setengah jam setelah kejadian di rumah, ambulans berhasil datang dan akan membawa Gemma ke rumah sakit. Tapi hal yang tak terduga disampaikan tim yang bertugas setelah memeriksa keadaan Gemma, bahwa rupanya Gemma sama sekali tidak pingsan. Detak jantung dan nadinya normal. Seluruh alat vitalnya berfungsi baik. Jadi dia hanya berpura-pura.
Astaga, Eleanor malu sekali dibuatnya. Tapi bagaimana bisa ibunya bersikap biasa saja setelah semuanya? Jika Eleanor adalah dirinya, sudah dipastikan dia akan lekas melarikan diri untuk menghindari rasa malu yang begitu besar. Petugas yang datang tidak memberikan komentar apa pun, tetapi Eleanor tahu mereka menertawakan Gemma di jalan, atau bahkan menggerutu kesal karena wanita itu mengganggu pekerjaan mereka. Padahal, mungkin saja, di luar sana, banyak 'pasien' yang menunggu untuk mereka jemput.
"Aku akan melakukan apa pun supaya kau setuju, Ele. Aku tidak punya pilihan lain selain mengorbankanmu. Ladang gandum ayahmu bukan hanya sekadar ladang. Ia adalah saksi bisu perjuangan kami. Dari sejak kami berpacaran dan tidak mendapatkan restu dari ibuku. Dari sejak kami memutuskan kawin lari dan merintis semua usaha dari nol. Saat kami akhirnya memilikimu, lalu pontang-panting ke sana kemari untuk menjual hasil ladang, agar kau bisa hidup berkecukupan."
Gemma tidak melanjutkan ucapannya karena Chad memintanya berhenti. Namun kalimat demi kalimat yang Gemma sampaikan sebelumnya berhasil membuat Eleanor terdiam.
"Kau hidup dengan baik, salah satunya adalah karena hasil dari ladang gandum ayahmu."
"Berhenti, Gemma."
Chad menghentikan Gemma saat lagi-lagi Gemma berbicara, melanjutkan ceritanya.
"Masuklah, Sayang." Chad menatap Eleanor dengan seulas senyum tipis. Mengedikkan dagu kea rah pintu kamar Eleanor yang tak jauh dari ruang tengah tempat mereka kini berbincang. "Ayah akan bicara lagi dengan ibumu. Jangan khawatir, Ayah akan mencari jalan keluar lain dari masalah ini."
Eleanor masih terdiam geming. Tidak tahu, tetapi tiba-tiba saja tubuhnya membeku. Lidahnya kelu. Eleanor tidak bisa mengatakan atau melakukan apa pun. Kepalanya mendadak penuh. Bahkan sampai akhirnya Chad menuntunnya masuk ke dalam kamar, Eleanor tidak mengatakan sepatah kata pun.
***
Ladang gandum dengan luas yang tidak bisa Eleanor taksir, membentang di sepanjang jarak yang bisa Eleanor lihat dari balik jendela. Ladang yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Ladang tempatnya menghabiskan waktu, tempatnya mencari Sang Ayah jika lelaki itu tidak ada di rumah, tempatnya bersembunyi saat Gemma mengomel menyuruhnya mengerjakan tugas sekolah, tempatnya mengajak Chico bermain seharian. Ladang tersebut memiliki makna yang sangat dalam bagi Eleanor. Ladang tersebut adalah kenangan, adalah sebuah harta yang menyimpan banyak tangis dan tawa ia di dalamnya.
Namun mungkin, bagi Chad dan Gemma, arti ladang gandum tersebut jauh lebih dalam daripada itu. Sebelum ada dirinya, Chad dan Gemma sudah menciptakan banyak sejarah di sana. Lebih banyak daripada yang bisa Eleanor ingat. Lantas, mengapa Eleanor tidak bisa memahami itu?
Eleanor mengerang pelan. Menggeser kaca jendela hingga angin seketika berembus mengenai wajahnya. Dalam-dalam, gadis itu menarik napas. Langit yang kini berwarna jingga membuat perasaan Eleanor semakin sendu.
"Aku punya banyak mimpi untuk masa depan. Tapi ladang bukan hanya masa depan bagi keluarga Cadwell, melainkan juga sejarah. Melepaskannya artinya merelakan masa depan dan meninggalkan masa lalu," gumam Eleanor pada dirinya sendiri. Dadanya dipenuhi oleh berbagai perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.
Menoleh ke samping kanan, Eleanor dapati puluhan foto polaroid yang dia susun dengan cantik. Foto-foto yang ketika dia lihat, malah membuatnya semakin sakit. "Maaf, Pete. Aku harus segera mengambil keputusan."
Eleanor berjalan ke luar kamar dengan langkah tergesa. Lantas berhenti di depan ayahnya yang sedang duduk di kursi meja makan. Tengah memijit pangkal hidungnya berkali-kali. Masalah yang dia hadapi pasti membuatnya kesulitan.
"Ayah," panggil Eleanor. Berhasil membuat ayahnya nyaris terkejut saat dia datang dan memanggilnya secara tiba-tiba. "Aku akan menikah dengan Jonathan Turner. Tapi, aku harus bertemu dengannya hari ini juga, sebelum aku berubah pikiran."
Chad seketika menegakkan duduknya. Mungkin tidak menduga bahwa Eleanor bisa berubah pikiran dengan begitu cepat. Namun beberapa detik berikutnya, lelaki baya tersebut menetralkan ekspresi wajahnya. Berdiri di hadapan Eleanor dengan tatapan lembut.
"Tidak, Sayang. Ayah akan mencari cara lain. Kau tidak perlu berkorban untuk keluarga ini," tandas Chad, mengusap pundak Eleanor.
"Cara apa yang akan Ayah tempuh selain ini?" tanya Eleanor, tatapannya lurus pada sepasang mata Chad yang tampak lelah. "Jika kau akan memberikan ladang kita ke keluarga Turner begitu saja, atau kau berpikir akan mengajukan pinjaman pada tuan kaya raya yang botak dan menyebalkan di perbatasan kota Montana, aku tidak akan mengizinkan Ayah."
"Ele ...."
"Menikah dengan Jonathan Turner tidak akan semengerikan jika kita berurusan dengan rentenir yang suka membunuh dan membuat kita membayar dengan segala cara, kan?" Eleanor meyakinkan.
Chad kelu. Ditatapnya mata anak semata wayang yang dia miliki. Gadis yang sangat dia cintai, yang selalu dia puja-puja, yang selalu dia banggakan. Eleanor bisa membaca bahwa keputusan ini juga begitu sulit bagi ayahnya.
"Aku bukan gadis sembarangan, Ayah ingat? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bahkan bisa survive ketika tersesat di hutan saat umurku sepuluh tahun. Menjadi menantu keluarga Turner tidak aka nada apa-apanya."
"Kau yakin, Nak?" Chad menatap Eleanor ragu-ragu. Ada ketidakrelaan yang terpancar dari sepasang mata tuanya. Ada rasa sesal yang tampak begitu pekat, yang berhasil membuat mata Eelanor memanas. "Menikah dengan orang yang belum kau kenal bukan perkara yang mudah."
Eleanor menangkup tangan kanan Chad. Tersenyum lebar meski matanya mulai berembun. "Ayah bisa mempercayaiku," gumamnya. Dan Chad, akhirnya tidak bisa membalas lagi, selain menyetujui apa yang anaknya katakan.
"Maafkan Ayah."
***
Sepatu kets, celana jeans, dan mantel coffee yang membalut tubuh ramping Eleanor adalah ciri khas yang dimilikinya. Gadis bermata abu-abu kehijauan dari pinggiran kota Helena, begitu kebanyakan orang memanggil Eleanor. Kecantikan yang murni, karakter yang periang dan tegas, serta pekerja keras. Penduduk di sekitar Prickly Pear Valley mengenal gadis itu dengan baik. Apalagi karena sebagian besar ladang gandum di sekitaran sana adalah milik keluarga Caldwell dan Eleanor adalah anak semata wayangnya. Tentunya membuat gadis itu terkenal di desa kecil tersebut. Itu sebabnya, untuk menyampaikan penawarannya pada keluarga Turner, jauh-jauh Eleanor pergi ke tempat di mana sedikit kemungkinan orang akan mengenalnya. Dia tahu, gossip akan cepat menyebar jika orang di desa mengetahui dia berbicara dengan perwakilan keluarga Turner.
"Eleanor Caldwell?"
Suara bariton yang didengar Eleanor membuat gadis berambut brown gold tersebut menoleh. Sepasang matanya seketika menatap tajam pada pria berperawakan tinggi besar yang berdiri tepat di sisi kanannya duduk. Dengan seulas senyum tipis, Eleanor berdiri sambil menyodorkan tangan padanya. "Ya. Jonathan Abbe Turner?" Eleanor balik bertanya. Merasa tidak mungkin pria dengan wajah setampan itu adalah Jonathan. Umur pria itu jauh di atasnya. Kemungkinan pria itu sudah memiliki kerutan di antara matanya. Sementara pria di depannya masih sangat segar dan ... amat tampan.
Lelaki itu membalas uluran tangan Eleanor. Raut wajahnya masih datar. "Ya. Saya segera datang ke sini, membatalkan beberapa jadwal karena Chad Caldwell bilang kau mendesak ingin bertemu."
Eleanor terkekeh pelan. Kembali duduk di kursi kayu tinggi di depan sebuah bar. Sesekali mencuri pandang pada pria itu. Terkejut dengan kenyataan bahwa Jonathan Abbe Turner ternyata masih tampak begitu muda dan memiliki rupa yang menawan dibanding pria seusianya. Ah, tidak. Bukankah lelaki matang selalu memiliki pesona tersendiri?
"Benar, ada hal penting yang harus aku sampaikan secara langsung padamu," ucap Eleanor kemudian. Sebelah alis tebal Jonathan terangkat. Mendelik ke arah Eleanor dengan penasaran. "Aku tidak menyukai idemu dan Ayah untuk melangsungkan pernikahan kita demi mendapatkan keturunan untuk keluarga Turner," kata Eleanor, membuka suara. Jonathan mengangguk, tetapi tidak mengeluarkan suara apa pun, seolah memberikan kesempatan pada Eleanor untuk menjelaskan situasinya lebih lanjut. "Namun aku akui, keluargaku tidak punya pilihan lain. Kami terpojok."
Eleanor menjeda ucapannya. Menghirup udara, mengisi paru-parunya hingga penuh, kemudian mengembuskannya perlahan. "Jadi aku putuskan menerima pernikahan ini," pungkas Eleanor mantap. Sorot matanya yang tegas meyakinkan Jonathan bahwa dia amat bertekad. "Tapi aku ingin meminta beberapa hal."
Jonathan meluruskan punggung. "Apa itu?" dia tanya.
"Pertama, aku ingin kau mendapatkan Franklyn Adam," Eleanor berujar serius.
"Bukankah ayahmu sudah melaporkan Franklyn ke kepolisian?"
"Apa yang kau harapkan dari aparat kepolisian kita, Tuan? Mereka lamban dan Franklyn tidak akan mendapatkan hukuman yang setimpal," tandas Eleanor logis. "Aku tahu, keluarga Turner bisa melakukan hal yang lebih baik."
Jonathan menatap Eleanor lurus selama beberapa sekon. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu. Namun tidak butuh waktu lama, pria itu mengangguk. Menyetujui syarat pertama Eleanor tanpa berpikir panjang. "Baiklah. Ada hal lain?"
"Aku ingin tinggal di tempat yang berbeda dari istri pertamamu," ucap Eleanor. Gadis itu menghela napas. "Yah, kau tahu, saat istri pertama dan kedua tinggal di tempat yang sama, pasti akan terjadi banyak huru-hara. Aku tidak suka keributan."
"Lizzy bukan orang yang suka meributkan hal tidak penting," Jonathan segera menyanggah. Eleanor tersenyum tipis, mengerti jika Jonathan merasa sedikit tersinggung. "Dia wanita yang lembut dan murah hati. Dia akan memperlakukanmu dengan baik."
Eleanor mengedikkan bahu. Dicondongkan tubuhnya ke depan meja. "Sebaik apa pun wanita, tidak akan pernah ada yang benar-benar rela dimadu. Seharusnya kau tahu betul akan hal itu."
"Kau tahu, aku hanya menikahimu untuk mendapatkan keturunan."
Berdecak pelan, Eleanor menyunggingkan senyum seraya menatap Jonathan dengan tatapan tak habis pikir. "Kau benar-benar tidak mengerti wanita," tandasnya. Kemudian mengangkat kedua tangan di depan wajah, menyerah. "Baiklah. Bukan salahku jika suatu saat hubunganmu dengan istri pertamamu berubah, okay?"
Jonathan tidak mengatakan apa pun lagi. Eleanor juga tidak berniat membahas lebih lanjut. Gadis itu berlanjut pada poin selanjutnya. "Berapa lama kita akan menikah?" tanyanya to the point. "Maksudku, yah, kita sama-sama tahu bahwa pernikahan ini terjadi karena kau membutuhkan keturunan. Aku tidak perlu tahu mengapa kau sangat harus memiliki keturunan di saat kau bisa menghabiskan waktu berdua dengan istrimu tanpa direpotkan seorang anak. Jadi pastinya pernikahan kita tidak akan berlangsung selamanya, bukan?"
"Aku membutuhkan dua atau tiga orang anak darimu. Tapi aku tahu harga sebuah nyawa sangatlah besar. Bahkan harga seluruh ladang gandum milik keluargamu pun tidak sebanding dengan bayi yang akan kau berikan," ucap Jonathan. Dia memberi jeda sejenak. "Jadi, untuk setiap anak selanjutnya, aku akan memberikan kompensasi lain."
Eleanor tertegun sejenak. Jantungnya tiba-tiba saja berdenyut nyeri. Entah mengapa pembicaraan ini seperti bisnis jual beli, dan yang mereka bicarakan adalah seorang anak! Anak yang akan dia lahirkan dari rahimnya. Eleanor sedikit bergidik. Dia tidak yakin mengapa dirinya merasa seperti seorang penjahat sekarang.
"Bagaimana jika terjadi masalah di tengah pernikahan kita?" Eleanor bertanya logis. "Atau jika entah aku atau kau tidak berniat melanjutkan pernikahan karena satu atau lain hal? Atau aku tidak ingin memiliki anak lagi?"
Jonathan menyimak pertanyaan demi pertanyaan Eleanor. Lalu setelahnya terkekeh pelan. "Itu terlalu jauh, Ele," pungkas Jonathan. Ketika lelaki itu menyebut namanya, Eleanor merasakan sensasi aneh yang entah mengapa tiba-tiba muncul begitu saja. "Untuk sekarang, yang paling penting adalah kita menikah dan memiliki seorang anak. Tidak masalah jika ke depannya kau tidak ingin melanjutkan pernikahan dan tidak ingin memiliki anak lagi dariku. Satu pewaris saja cukup untukku. Meski, memiliki banyak anak sebenarnya impianku sejak dulu."
"Lantas, kenapa kita harus menikah? Bukankah kita bisa membuat anak tanpa harus memiliki ikatan? Bukankah itu lebih mudah? Kita tidak perlu repot menyiapkan berkas-berkas untuk perkawinan. Kita tidak perlu mengundang pendeta. Tidak perlu mengadakan pesta perkawinan-jika kau berniat melakukannya."
Jonathan diam sesaat. Ditatapnya wajah Eleanor dengan intens, sampai Eleanor merasa agak tidak nyaman, seolah tengah ditelanjangi oleh tatapan tajam pria itu. "Meski Turnerhail memiliki imej yang 'agak buruk'," Jonathan menekankan kalimatnya, "tapi aku cukup religious, terlebih ayahku, asal kau tahu. Tentunya aku tidak mau memiliki keturunan dari hasil hubungan di luar pernikahan. Ayahku tidak akan menganggapnya keturunan yang sah."
Eleanor merenungi ucapan Jonathan. Lalu beberapa detik setelahnya, gadis itu mengangguk. "Baiklah. Aku memahami alasanmu. Lantas, kapan kita mulai menikah?"
Ah, shit! Elanor agak getir membicarakan pernikahan semudah ini. Dulu dia berpikir, dia akan menikah dengan layak. Meski bukan laki-laki sekaya Jonathan Abbe Turner, tapi setidaknya dia mencintai lelaki itu dan lelaki itu juga mencintainya. Pernikahan akan menjadi hal mendebarkan, gugup, sekaligus membuat mereka antusias. Namun kenyataannya sekarang, dia membicarakan pernikahan seperti membicarakan persoalan bisnis.
"Secepatnya. Mungkin minggu ini?"
Jawaban Jonathan cukup mengejutkan. Pasalnya, manusia mana yang menyiapkan pernikahan sesingkat itu? Tapi dia kemudian ingat sedang berurusan dengan siapa. Jangankan minggu ini, Eleanor bahkan percaya pernikahan bisa dilangsungkan esok atau sekarang, karena Jonathan adalah bagian dari keluarga Turner. Dan juga, pernikahan ini mungkin bukan hal yang sangat penting sehingga mereka harus menyiapkannya dengan matang. Pernikahan yang akan mereka lakukan sekarang hanya demi mendapatkan keturunan untuk keluarga Turner. Tidak lebih.
"Baik. Aku akan menyampaikannya pada ayahku," jawab Eleanor. Seolah tidak ada gunanya melakukan penawaran lagi. Mungkin memang, semakin cepat semakin baik. Eleanor sendiri tidak yakin akan masih kukuh dengan keputusannya sekarang jika terlalu lama menunggu.
***