Bab 1

"Lepaskan tanganmu!" Pria gemuk itu menyeringai dengan mata kabur. Bau alkohol yang kuat tercium setiap kali dia bernafas. "Jangan ganggu aku, brengsek! Temukan wanitamu sendiri! Gadis ini milikku!"

Pria itu dengan cabul meremas dada dan pusat tubuh gadis yang berada dalam pelukannya. Ia mengerang frustasi ketika gadis itu memberontak karena kesakitan dan mencoba mendorongnya menjauh.

Alex mengangkat alisnya dan tersenyum jengkel. Ia mengambil langkah ke depan dan dengan kakinya yang panjang, ia sekarang hanya berjarak setengah meter dari pria mabuk itu. Alex mengulurkan tangan, mencoba melepaskan tangan pria mabuk yang masih meremas bagian pusat tubuh gadis itu.

"Tuan, tolong mundurlah, biar kami tangani," kata Chand, salah satu dari dua asisten Alez. Ia melangkah mendekat.

Alex mengangkat tangannya dan tersenyum. "Tidak perlu. Jaga saja pintunya."

Chand ragu sejenak, tetapi kemudian menurut dan mundur kembali ke posisi semula di dekat pintu, bergabung dengan Drake.

Alex mengulurkan tangan, menarik kerah kemeja pria mabuk di depannya yang kini mulai menjalankan aksi lain meraba-raba wajah dan leher gadis di pelukannya yang terlihat seperti boneka kain yang basah dan lunglai karena lelah memberontak.

Salah satu tangan Alex menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan tangan lainnya meninju wajah pria mabuk itu.

Alex menendang salah satu pintu toilet terdekat dan mendudukkan gadis di pelukannya itu di atas toilet yang tertutup.

Pria mabuk yang dipukul Alex menggeram dan dengan tinju terentang menyerang Alex. Tinjunya mengenai dagu Alex yang tidak waspada. Tinju pria mabuk itu cukup kuat.

Alex mengusap-usap dagunya dengan tetap tersenyum. Ia meraih kerah kemeja pria itu dan dengan satu pukulan kuat, pria itu ambruk seperti kain basah ke lantai kamar mandi.

Alex menunjuk pria itu selagi menoleh kepada Chand. "Singkirkan dia. Buang saja dia melalui jalan belakang, jangan sampai pengunjung lain melihatnya dan menjadi panik."

Chand membungkuk dan menyeret pria tak sadarkan diri itu keluar dari kamar mandi.

Alex memanggil Drake yang masih berdiri di dekat pintu. "Drake, siapkan mobilnya dan suruh Garry membuka penthouse."

Alex menatap gadis mungil yang sedang menyandarkan kepalanya di atas tempat air penyiram toilet. Ia mengambil tubuh seringan bulu gadis itu dan membawanya dalam gaya pengantin ke mobil, menyusuri jalan khusus di samping toilet yang hanya bisa dilewati Alex dan anak buahnya.

Gadis itu mengulurkan tangannya dan melingkarkan lengannya di leher Alex. Ia mendongak dan tersenyum dengan mata setengah tertutup. "Hei tampan, siapa kamu? Kamu bukan pria bau tembakau yang buruk itu. Kamu sangat harum, hmmhh...."

Gadis itu menyelipkan wajahnya ke ceruk leher Alex dan mengendus dengan hidungnya. Alex merasa geli saat bibir basah gadis itu menyentuh lehernya.

Drake membuka pintu belakang dan Alex masuk dengan gadis di pelukannya. Gadis itu menempel erat di dada Alex dan napasnya yang hangat berhembus di leher Alex. Dia sepertinya sudah tertidur.

Garry-manajer hotel bintang lima Blue Diamond, menyapa Alex dan membuka pintu penthouse saat Alex keluar dari lift khusus.

"Selamat datang, Tuan. Saya sudah menyiapkan semua yang Anda butuhkan di kamar Anda."

"Terima kasih, Garry."

Alex berbalik dan berbicara kepada Drake. "Kamu dan Chand, istirahatlah. Aku akan meneleponmu nanti."

Alex meletakkan gadis itu di lengannya di tempat tidur besar di kamar pribadinya.

Gadis itu menghela nafas dengan nyaman dan meringkuk seperti bola di dalam selimut. Rambutnya yang berwarna karamel tersebar di atas bantal dengan penutup putih.

Alex berdiri di tepi tempat tidur, menatap gadis yang sedang tidur dengan tatapan bertanya-tanya.

Gadis itu duduk sendirian di bar dan terus meminta bartender untuk menuangkan minuman untuknya, ketika Alex melihatnya.

Alex sedang membahas masalah sabotase pengiriman minuman dari Korea, ketika perhatiannya teralihkan oleh keributan di bar.

Gadis itu mendorong seorang pria yang mencoba memeluknya. Ia berjalan melewati pria itu dengan langkah terhuyung-huyung menggumamkan sesuatu dan melewati meja tempat Alex, Chand, Drake dan manajer klub--Vergieno, sedang berbicara.

Alis Alex berkerut saat melihat pria mabuk yang mengganggu gadis itu mengikutinya. Tanpa pikir panjang Alex berdiri dan mengikuti keduanya.

Benar saja. Pria kekar itu menyudutkan gadis yang diikutinya ke sudut kamar mandi wanita. Alex memasuki kamar mandi dan sekarang di sinilah gadis mabuk itu, di tempat tidurnya.

Alex duduk di tepi tempat tidur dan mengambil tas kecil gadis itu yang dilepaskan dan diletakkan di nakas setelah dia meletakkan tubuh mungil itu di tempat tidur.

Alex mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kartu identitas. "Louisa Amara Lee," gumam Alex, membaca identitas gadis yang berbaring di sampingnya.

Ia mengambil telepon milik gadis bernama Louisa dan mengirimkan nomor itu ke nomor teleponnya sendiri dan kemudian menghapus riwayat panggilan.

"Apa yang kamu lakukan, minum-minum sampai mabuk di malam seperti ini, Louisa," gumam Alex.

Dia mengulurkan tangan dan menyisir helaian rambut yang jatuh di dahi Louisa. Gadis itu bergerak dan tangannya menangkap tangan Alex.

Mata Louisa terbuka dan ia tersenyum pada Alex. "Kau masih di sini," kata Louisa dengan suara yang jelas.

Ia bangkit dan mengangkat dirinya ke dalam pelukan Alex dan meringkuk dengan nyaman di sana.

Alex sangat terkejut sehingga dia tidak bisa bergerak untuk sesaat. Ketika dia menyadari situasinya, lengan Alex bergerak dan dengan ringan menyentuh bahu Louisa. "Hei, kamu--"

Louisa mendongak dan wajahnya berkerut dengan anehnya.

"Aku... merasa mual," gumam Louisa.

Alex tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan tanpa membuang waktu ia membawa Louisa ke kamar mandi dan mendudukkan gadis itu di depan toilet.

Louisa memuntahkan semua isi perutnya segera setelah tutup toilet dibuka. Ia merosot lemas ke lantai kamar mandi setelah muntah sangat banyak. Pakaiannya basah dan kotor.

Alex mengertakkan gigi saat mengisi bak mandi dengan air hangat dan mencampur minyak aromaterapi ke dalam air.

Louisa memaksa dirinya untuk bangun dan berdiri. Dia menanggalkan semua pakaiannya dan melangkah melewati Alex, langsung ke bak mandi dan berbaring di dalamnya.

Alex tertegun, menatap tubuh telanjang Louisa di bak mandi. Airnya yang jernih menunjukkan lekuk tubuh Louisa dengan jelas. Louisa meregangkan tubuh secara erotis dan meraih tangan Alex.

Alex yang terkejut tidak sempat menghindar. Tarikan Louisa membuatnya berlutut di sisi bak mandi. Louisa menangkup wajah Alex dengan kedua tangannya dan dan tersenyum di bibirnya.

"Hai tampan. Namaku Louisa dan malam ini aku akan memberimu hadiah karena menemaniku melewati masa-masa terberatku. Keanu bajingan itu tidak tahu apa yang telah dia lewatkan dan sebagai imbalannya, kamu mendapat kehormatan untuk mendapatkan hadiah istimewa dariku."

Alex menatap bibir Louisa, yang basah dan merah seperti buah ceri. "Hadiah apa?"

Louisa tersenyum. "Keperawananku," bisiknya sensual, sebelum bibirnya menyentuh bibir Alex.

***

Bab 2

Alex menatap Louisa dengan tatapan tak terbaca. Ia menyentuh dada kirinya sendiri, di mana jantungnya berada. Itu berdetak lebih cepat dari biasanya sekarang, karena menatap sosok yang telah bergulat dengannya sejak tadi malam.

"Keperawananku," bisik Louisa tadi malam. Bibirnya menyentuh bibir Alex dan bergerak dengan cepat membelai dengan kecupan ringan yang kemudian menjadi lumatan dan dia mengisap keras.

Alex tertegun sejenak, lalu tubuhnya bereaksi lebih cepat dari otaknya. Alex mengangkat tubuh telanjang Louisa dari bak mandi dan membungkusnya dengan handuk. Louisa terkikik dan suaranya terdengar seperti lonceng angin.

Alex mengambil langkah besar keluar dari kamar mandi. Louisa menekan erat dada Alex dan bibirnya bergerak di sepanjang leher Alex seperti penyedot debu, membuat cupang di mana-mana.

Alex membaringkan tubuh telanjang Louisa di tengah ranjang. Dia menopang tubuhnya dengan satu tangan di atas tubuh telanjang Louisa. Gadis itu seperti campuran lintah dan kucing. Dia menempel erat pada Alex dan dengan agresif menjilati wajah dan leher Alex. Tampaknya pengaruh alkohol sangat kuat pada sarafnya dan entah bagaimana insting Alex memberitahunya bahwa bukan hanya alkohol yang membuat Louisa seperti ini.

Alex mencatat pada dirinya sendiri bahwa dia akan meminta Chand menyelidiki minuman apa yang diberikan kepada Louisa oleh bartender.

"Tampan, cepat buka bajumu," dengus Louisa sambil menarik-narik kemeja Alex. "Ooh, kenapa panas sekali di sini. Tubuhku terasa seperti terbakar."

Alex melepas kemejanya dan Louisa menjadi gila, meraba-raba dan menggigit dada lebar dan lengan kuat Alex. Dia menarik ikat pinggang Alex dengan tidak sabar.

"Ssh...Louisa, hei," Alex kewalahan oleh gerakan Louisa yang tak terkendali. "Kamu bilang kamu masih perawan?"

"Ya, ya, tentu saja. Aku tidak pernah berhubungan s*ks dengan siapa pun, bahkan dengan pacarku sendiri. Rupanya bajingan itu sangat horny dan memilih untuk meniduri temanku dan dia benar-benar tertangkap basah saat itu."

"Kau bilang kau akan memberikan keperawananmu padaku sebagai hadiah?" Alex bertanya sambil menciumi leher Louisa.

"Ya. Ya. Kau menyelamatkanku dari pria gendut dan bau di bar itu dan membuatku merasa nyaman. Kau pantas mendapatkan hadiah."

"Hanya karena itu?"

Louisa terkikik lagi dan tangannya meremas bagian tengah tubuh Alex yang mengeras, meski terhalang oleh lapisan celana. "Tentu saja tidak. Kau tampan. Sangat tampan dan kau memiliki tubuh yang bagus dan wangi. Kau jauh lebih baik daripada bajingan kurang ajar itu."

"Siapa yang kau sebut bajingan? Pacarmu atau pria di toilet itu? Kau tidak akan menyesalinya?"

Louisa tiba-tiba mulai menangis. Dia menyembunyikan wajahnya di balik tangannya dan terisak. "Mereka semua bajingan. Jahat! Aku benci para pria itu!"

Alex menyentuh tangan Louisa dan menariknya dengan lembut. Dia mencium dahi, ujung hidung, dan kedua pipi Louisa yang basah, lalu mencium bibirnya.

Rasanya manis, meski bau alkohol masih kuat. Louisa berhenti menangis dan mulai mengerang, saat ciuman Alex semakin intens.

Tangan Louisa naik ke perut Alex dan jari-jarinya membuat pola melingkari pusar pria itu.

Alex menyentuh p*y*dara bundar Louisa dan meremasnya dengan lembut, sampai Louisa mengeluarkan erangan erotis dari mulutnya. Alex tidak berhenti di situ. Dia menurunkan bibirnya ke setiap inci kulit Louisa yang terbuka, merasakan manisnya dan kehangatan kulitnya yang berwarna mutiara.

Louisa meringkuk seperti trenggiling ketika Alex mencium bagian dalam pahanya yang kencang dan tiba-tiba Alex tersentak. Sengatan rasa sakit membuatnya berhenti bergerak. Ia melihat lengannya, sumber rasa sakit yang dia rasakan dan tertegun.

Louisa mengeluarkan erangan panjang dan berguling di tepi tempat tidur dan mendesah pelan sebelum menutup matanya.

Alex menarik napas dalam-dalam dan melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Ini hampir jam empat pagi.

Alex membetulkan selimut di atas tubuh Louisa dan berjalan keluar ruangan. Ia menutup pintu kamar dengan hati-hati agar orang yang tidur di dalam tidak terganggu.

Alex berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa. Diam sambil menatap kosong ke televisi besar yang menampilkan warna hitam. Bayangan tubuh telanjang Louisa yang bergerak di bawah tubuhnya, aroma vanilla lembut yang dia cium dari kulit lembut Louisa, dan erangan erotis yang keluar dari bibir manis Louisa, membuat Alex hampir kehilangan kendali.

Untungnya, apa yang dilakukan Louisa membuatnya sadar sebelum terlambat. Jika Louisa benar-benar perawan dan seperti yang dia katakan bahwa dia tidak pernah berhubungan s*ks dengan siapa pun bahkan pacarnya, Alex tidak ingin menjadi orang yang mengambil keperawanan Louisa terlebih dahulu, tetapi dalam keadaan mabuk.

Alex menarik napas dalam-dalam dan menyentuh bagian tengah tubuhnya sendiri, merasakan bagian tengahnya mengeras.

Alex mengambil telepon dan menelepon Chand. Para asisten dan pengawal biasanya beristirahat di kamar khusus yang disediakan untuk mereka, yang terletak satu lantai di bawah penthouse ini.

"Chand, siapkan mobilnya. Kita akan kembali dalam beberapa menit. Jemput aku dalam sepuluh menit dan kirim Garry ke sini. Aku perlu bicara dengannya."

Chand mengikuti perintah Alex dan sepuluh menit kemudian, ada ketukan di pintu penthouse. Chand berdiri di pintu bersama Garry.

"Tuan, Anda akan kembali sepagi ini?" tanya Garry dengan heran. Dia melirik ke dalam penthouse. "Bagaimana dengan gadis itu?"

"Biarkan saja dia tidur dan jangan membangunkannya sampai dia bangun sendiri. Jam delapan pagi, bawakan sarapan dan obat penghilang rasa sakit untuknya. Dia mengalami malam yang berat dan badannya pasti sakit-sakit semua saat dia bangun nanti."

"Ya, Tuan," jawab Garry patuh. "Apakah saya perlu menyediakan mobil untuk membawanya pulang?"

"Tidak perlu. Dia pasti akan menolak. Biarkan saja dia keluar dan pergi. Ingat, aku tidak pernah di sini. Kau mengerti aturannya."

"Saya mengerti, Tuan."

Alex menepuk bahu Garry dengan ringan dan berjalan menjauh dari penthouse ke lift khusus langsung ke tempat parkir.

Chand dan dua pengawal mengikuti di belakangnya. Drake sedang menunggu di samping mobil dengan dua pengawal lainnya. Dia akan mengemudi.

8 "Chand, periksa CCTV di klub tadi malam. Lihat minuman apa yang diberikan bartender kepada gadis itu dan berapa banyak yang dia minum," kata Alex setelah masuk ke dalam mobil.

"Ya, Tuan," kata Chand cepat. "Dan selidiki gadis itu juga. Aku akan mengirimkan datanya padamu."

Alex mengirim foto kartu identitas Louisa yang dia bawa ke ponsel Chand.

"Jam berapa pertemuan dengan perwakilan Tuan Wang?" tanya Alex, menatap layar ponselnya, pada foto gadis yang masih tertidur lelap di ranjang besar di penthouse yang baru saja ditinggalkannya.

"Mereka akan tiba di sini jam 9, Tuan," kata Drake, terus mengemudi. "Setelah itu, jam 11 akan ada pertemuan dengan detektif Ryan Gosman, tentang sabotase pengiriman minuman."

"Pastikan kau memiliki semua dokumen yang mungkin diminta detektif. Jangan lupa uangnya. Dia suka mentraktir anak buahnya."

"Ya, Tuan."

Alex menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil dan memejamkan mata. "Aku mengantuk. Biarkan aku tidur sebentar selama perjalanan. Tadi malam benar-benar melelahkan."

Perjalanan kembali ke mansionnya di pagi hari hanya memakan waktu dua puluh menit dan Alex terbangun tepat saat mobil Drake masuk ke gerbang. Chand membuka sabuk pengamannya dan berbalik menghadap Alex yang bersiap-siap untuk turun.

"Tuan, tentang gadis ini. Dia adalah ...."

***

Bab 3

Louisa menatap langit-langit yang tinggi di atasnya, menyadari bahwa itu bukan langit-langit kamarnya. Ia mengedipkan mata untuk memfokuskan penglihatan, tetapi matanya yang berat membuat ia merasa sakit kepala yang menyiksa.

Louisa mengerang keras dan menggeliat seperti kucing dan otot-ototnya langsung menjerit karena kekakuan yang menyakitkan. Ia juga merasakan rasa ngilu dan pegal pada bagian-bagian tertentu tubuhnya.

Pada saat itu ia menyadari bahwa di bawah selimut tebal yang lembut ia sama sekali tidak mengenakan apa-apa.

Louisa panik. Ia bangkit dengan cepat dan mengerang, memegangi kepalanya yang berat. Apa yang terjadi? Kenapa ia ada di tempat asing? Di mana pakaiannya?

Louisa melepas selimut dan berdiri berpegangan pada sisi tempat tidur. Ia menarik selimut dengannya dan menggunakannya sebagai penutup untuk tubuhnya. Ia melihat sekeliling dan mencoba mendengar apakah ada suara asing di ruangan itu.

Sepertinya ia sendirian, di penthouse yang mewah dan elegan dan siapa pun yang menyewa penthouse ini pasti sangat kaya karena kemewahan tempat ini tidak main-main.

Louisa melihat setumpuk pakaian terlipat rapi di nakas, bahkan tasnya ada di atas bajunya dan sepatu ketsnya diletakkan di bawah nakas.

Louisa melihat pintu kaca di dinding barat dan mengira itu adalah pintu menuju kamar mandi. Dia mengambil pakaiannya dan pergi ke kamar mandi, masih menutupi tubuhnya dengan selimut.

Bahkan kamar mandinya sangat luas dan indah. Dinding dan segala perlengkapan di dalamnya didominasi warna hitam dan emas, kontras dengan warna kamar tidur yang didominasi warna gading dan perak.

Louisa melihat pantulan tubuhnya yang terpantul di kaca. Bercak merah tua dari cupang segar membuat kulitnya berpola seperti macan tutul. Ia mengamati leher dan bahunya, lalu turun ke dada dan perutnya.

"Aargghhh... ada apa ini," teriak Louisa lemah. Paha bagian dalam juga memiliki tanda dan ia merasa ngilu pada pusat tubuh dan dadanya.

Louisa malu melihat bayangan dirinya sendiri dan cepat-cepat memakai baju lalu hampir berlari keluar kamar mandi, saat matanya melihat setumpuk kain putih di dekat pintu.

Ia melewati tumpukan kain itu ketika  masuk ke kamar mandi ini dengan terburu-buru. Jantung Louisa berdetak dua kali lebih cepat saat ia menyentuh kain itu.

Rupanya itu adalah sprei yang sudah digunakan. Kain itu diletakkan di sana agar petugas kebersihan bisa mengambilnya nanti. Perasaan tidak enak membuat Louisa bergerak untuk merentangkan seprai dan dia jatuh lemas di lantai kamar mandi, ketika melihat bercak darah kering di kain berwarna gading.

Louisa dengan cepat menggulung kain itu, beberapa saat setelah kekuatan dan kesadaran akan sekelilingnya pulih. Ia keluar dari kamar mandi, membawa kain sprei bekas pakai di tangannya dan mengambil telepon di meja nakas.

Suara wanita yang ramah menyapa Louisa saat panggilan tersambung ke resepsionis. "Halo, selamat siang, saya Ailee, resepsionis hotel Blue Diamond yang bertugas hari ini. Ada yang bisa saya bantu?"

"Err... Miss Ailee, ini... err... di mana saya sekarang?" Louisa bertanya dengan bingung dan merasa bodoh dengan pertanyaan yang dia ajukan.

"Anda berada di penthouse Blue Diamond Hotel, Nona. Apakah Anda membutuhkan sesuatu? Kami akan segera membawanya untuk Anda."

“A-Aku ... Umm... Apa kau tahu siapa yang membawaku ke sini? Tadi malam?”

"Tunggu sebentar. Ah, Anda mendaftarkan pemesanan penthouse atas nama Louisa Amara Lee."

Louisa terkesiap. Bagaimana dia bisa memesan penthouse mewah ini atas namanya sendiri? Tabungan di rekeningnya saja tidak akan cukup untuk membayar tempat ini selama dua jam. Pasti ada yang salah.

Louisa begitu saja menutup telepon dan mengambil teleponnya sendiri, untuk menelepon seseorang. Ia memakai sepatunya sambil menunggu panggilannya dijawab.

Oh, sialan! Linda tidak mengangkat telepon. Dia mungkin sedang tidur atau mungkin sedang keluar dan tidak membawa ponsel.

Louisa keluar dari kamar tidur dan melihat ruang tamu luas yang terbuka langsung ke ruang makan dan dapur yang bersih. Ada sesuatu yang harum di ruangan ini dan secara naluriah perutnya berbunyi keroncongan.

Louisa berjalan ke meja makan besar dengan enam kursi elegan di sekeliling meja dan melihat piring saji tertutup di atasnya. Ia mengulurkan tangan, membuka salah satu penutup dan tertegun.

Hidangan lobster yang menggoda disajikan di piring. Louisa tergoda untuk membuka penutup lain, tetapi ketakutan mengalahkan keinginan untuk memeriksa dan rasa laparnya. Dia melihat sebotol air mineral dan strip obat penghilang rasa sakit di dekat piring dan mengambil keduanya saat dia berlari ke pintu.

Louisa berdiri bingung di pintu penthouse. Iaa melihat pintu lift khusus dan berpikir untuk tidak menggunakan fasilitas itu. Ia takut, siapa pun yang menyewa penthouse itu memakai namanya, orang itu bisa kembali kapan saja.

Louisa berlari ke ujung koridor dan melihat pintu darurat. Ia membuka pintu dan berlari menuruni tangga. Sekilas saat dia berlari, dia melihat nomor lantai tempat dia berada. Ya Tuhan, lantai 15.

Perasaan takut membuat adrenalin dalam darah Louisa berpacu. Seluruh tubuhnya sakit, kepalanya sangat pusing, dan ia harus berlari menuruni tangga dari lantai 15.

Di lantai 6 Louisa berhenti dan dengan cepat memakan dua butir obat penghilang rasa sakit yang dia bawa sebelumnya dan minum banyak-banyak.

Ia hampir pingsan ketika akhirnya menginjakkan kaki di lantai dasar yang ternyata mengarah ke tempat parkir. Mata Louisa seperti buta, ketika ia akhirnya keluar ke jalan, setelah melewati tempat parkir yang remang-remang.

Ia mencegat taksi, masuk ke dalam, dan mengatakan alamat kepada pengemudi dengan terengah-engah. Louisa mencoba menelepon Linda lagi dan dia hampir berteriak ketika mendengar suara Linda di seberang.

"Lou! Kemana saja kau?" teriak Linda marah. "Aku mendengar apa yang terjadi padamu dan aku panik ketika kau menghilang. Ponselmu tidak dapat dihubungi dan kau tidak meninggalkan pesan sama sekali. Aku akan pergi ke polisi jika belum mendengar kabar darimu sore ini!"

Mendengar suara Linda yang memarahinya, Louisa menangis. "Linda, aku kehilangannya."

"Apa? Apa yang hilang?" Linda bertanya dengan panik. "Kau dimana sekarang? Katakan tempatnya dan aku akan menjemputmu. Aku ada di sekitar kampus."

"Aku di dalam taksi, menuju rumah. Aku ... baik-baik saja, hanya sakit kepala." "

"Ya Tuhan, Lou, apa yang terjadi? Apakah kau dirampok? Di mana kau sepanjang malam?"

Louisa menyeka air matanya ketika melihat taksi yang membawanya telah memasuki area apartemen tempat tinggalnya bersama Linda. "Tunggu, tunggu, jangan tutup dulu," kata Louisa, mengetuk ringan di jendela, memberi isyarat kepada sopir taksi untuk berhenti. "Aku akan membayar taksi dulu."

"15 dolar," kata sopir taksi setengah baya itu. "Beri saya uang tunai karena mesin gesek saya mengalami masalah."

Louisa menjepit telepon di antara telinga dan bahunya, lalu mengambil dompet dari tas tangan. Saat dompetnya keluar, sebuah amplop biru jatuh dari tas ke lantai taksi.

Louisa dengan cepat membayar ongkos taksi, mengambil amplop biru di lantai taksi dan keluar.

"Lou, apakah kau masih di sana? Apakah kau sudah di rumah?" Linda bertanya.

"Ya, ya, aku baru saja turun dari taksi. Tunggu sebentar, ada amplop jatuh dari tasku ketika mengambil dompet. Amplop itu bukan milikku."

"Amplop apa?" Linda bertanya dengan rasa ingin tahu. "Aku juga akan pulang sekarang. Kau tunggu di rumah,aku akan membawakan makanan."

Louisa membuka amplop tebal dan berat itu, tertegun sejenak, lalu berteriak. "YA TUHAN!"

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED