Emma Karina, seorang anak yang tinggal bersama sang ayah di kabupaten Gianyar, Bali dan hanya ayahnya yang dia punya di dunia ini. Emma baru menempuh pendidikan sebagai mahasiswa semester dua di Universitas Jaya Sakti. Emma seorang perempuan yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa pun yang dia temui. Emma mempunyai sahabat bernama Sintia. Mereka berdua bersahabat semenjak di bangku sekolah menengah atas. Emma dan Sintia selalu terbuka satu sama lain mengenai apa pun.
Emma tinggal di sebuah rumah sederhana dengan sang ayah yang suka mabuk-mabukan tanpa ada keinginan untuk bekerja. Setiap hari, Emma yang berusaha untuk bekerja paruh waktu demi untuk membiayai kesehariannya sendiri. Emma berkuliah dengan beasiswa yang dia dapatkan karena kepintarannya. Ayah Emma, Marshel, selalu saja meminta uang kepada Emma untuk membeli minuman keras. Terkadang, Emma juga mendapatkan pukulan jika sang ayah sedang marah atau karena tidak diberi uang oleh Emma.
"Mana minuman buat Papa?" tanya Marshel ketika Emma baru saja pulang dari tempat kerjanya.
"Tidak ada, Pa," jawab Emma sambil menunduk.
Satu tamparan melayang di pipi Emma. Dengan menahan perih, Emma memegangi pipinya yang memerah. Emma beranjak menuju kamarnya dan mengunci pintunya. Tubuh Emma langsung luruh jatuh ke lantai. Dia meratapi nasibnya yang terus diperlakukan tidak adil oleh ayahnya sendiri.
Emma merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang nyaman. Dia mencoba menutup matanya, supaya bisa istirahat dan menunggu pagi datang untuk menjalani aktivitasnya lagi. Setiap hari hanya seperti itu kehidupan seorang Emma.
*****
"Emma!" teriak Marshel saat dia tidak menemukan sarapan di atas meja makannya. Emma pergi pagi-pagi sekali untuk menghindari ayahnya yang setiap hari kerjaannya hanya mabuk-mabukan saja.
Emma menuju ke kampusnya dengan berjalan kaki karena dia tidak ingin membuang waktu dan uangnya untuk naik bus. Emma selalu dihadapkan dengan permasalahan keuangan karena dia harus menghidupi dirinya sendiri. Emma berpapasan dengan Ardian saat baru saja masuk gerbang kampusnya.
"Em, kamu jalan kaki?" tanya Ardian, kating kampus Emma di Universitas Jaya Sakti.
"Iya, Kak. Udah biasa juga," jawab Emma sambil tersenyum ramah.
"Nih, undangan buat kamu. Jangan lupa datang ke acara ulang tahun aku nanti malam. Sintia juga udah aku kasih undangannya." Ardian memberikan sebuah kertas undangan pada Emma.
"Sepertinya aku tidak bisa datang, Kak. Aku harus bekerja nanti malam." Emma merasa tidak enak hati karena tidak bisa memenuhi undangan dari Ardian.
"Ijin satu hari, aku akan membayar dendanya untuk itu. Bagaimana?" Ardian berusaha untuk membujuk Emma supaya datang ke acara pestanya.
"Baiklah, yang penting aku masih ada pemasukan." Emma tersenyum manis saat dirinya merasa senang karena sesuatu. Ardian terpana melihat senyuman Emma.
Ardian melajukan motornya ke tempat parkir kampus, sedangkan Emma masuk ke kelasnya dan mencari keberadaan Sintia, sahabatnya. Emma masih belum melihat Sintia di dalam kelas. Dia menempati tempat duduk di tengah kelas karena dia tidak ingin terlalu mencolok di depan dosen.
"Em, apa kamu mau datang ke pesta Kak Ardian?" Sintia yang baru saja datang, langsung menanyakan tentang undangan dari Ardian.
"Sepertinya aku nggak bisa, Sin. Aku harus bekerja nanti malam." Emma mencoba membohongi Sintia.
"Ayolah, Em. Satu hari aja berhenti bekerja. Aku akan membelikan kamu makan siang hari ini." Sintia memang sangat mengetahui keadaan keuangan Emma. Satu hari saja Emma tidak bekerja, dia tidak bisa makan keesokan harinya.
"Makan siang selama satu minggu?" tanya Emma sambil tersenyum lebar.
"Satu minggu, satu bulan juga boleh. Pokoknya kamu harus ikut ke pesta Ardian." Sintia sedikit memaksa Emma.
"Oke, setuju. Satu bulan makan siang gratis dari Sintia!" seru Emma sambil terkekeh geli.
"Nanti pulang dari kampus, kamu ikut aku ke salon." Sintia tersenyum penuh arti memikirkan akan menyulap Emma yang biasa menjadi luar biasa.
"Terserah kamu aja, Sin." Emma pasrah dengan apa yang akan dilakukan Sintia pada dirinya.
***
Emma telah selesai kuliah hari ini pada pukul 14.00 WITA. Sintia mengajak Emma makan siang terlebih dahulu di kafe depan kampus. Sintia memang berasal dari keluarga yang berada. Dia tidak pernah menjelekkan Emma yang hanya mempunyai seorang ayah yang tidak berguna. Sintia juga selalu mendukung Emma dalam hal apa pun.
"Setelah makan, kita ke butik dulu cari gaun terus ke salon. Aku mau kamu dandan yang cantik, Em. Kak Ardian pasti punya banyak teman untuk kita lirik." Sintia menyarankan suatu hal yang membuat Emma menggelengkan kepalanya.
"Itu kamu, Sintia. Aku nggak ada waktu untuk hal seperti itu." Emma tersenyum kecut.
"Emma sayang, kamu itu masih muda. Jangan terlalu sibuk dengan semua masalah hidup. Satu kali aja lepaskan semuanya dan menikmati masa-masa indah kita." Sintia memeluk Emma dari samping.
"Baiklah, hari ini aku akan mengikuti apa pun yang kamu mau." Emma akhirnya memutuskan akan mengikuti apa yang dikatakan Sintia. Dia memang sangat membutuhkan hiburan untuk semua masalah yang dihadapinya dalam hidup.
***
"Bos, sudah waktunya pergi ke pesta," ucap seorang asisten pribadi pada bosnya.
"Jam berapa pesta Ardian, Raka? Bukannya jam delapan? Ini masih jam tujuh." Ethan, sang bos yang masih sibuk dengan pekerjaannya, menatap tajam ke arah asisten pribadinya, Raka.
"Aku harus beli kado dulu, Bos. Aku lupa karena kerjaan yang kamu kasih buat aku." Raka menggerutu langsung di hadapan Ethan.
"Apa kamu mau aku potong gajinya?" Ethan berbicara dengan nada rendah.
"Maaf, Bos. Ampuni aku," ucap Raka sambil terkekeh. Raka tahu bahwa ucapan Ethan terkadang tidak bisa diganggu gugat.
"Telepon saja Pricillia untuk menyiapkan kadonya." Ethan kembali fokus pada layar di depannya. Raka keluar ruangan Ethan dan menghubungi Pricillia, sekretaris Ethan.
Ethan Mavirno, seorang CEO muda yang terkenal dingin dan sangat tegas dengan segala bentuk kecurangan. Ethan tidak pernah memaafkan orang-orang yang bersalah padanya. Dia terkenal begitu kejam. Ethan akan pergi ke pesta Ardian, adik dari Raka.
Emma dan Sintia telah sampai di tempat acara pesta Ardian yaitu hotel bintang lima di kabupaten Gianyar. Emma sedikit gugup karena Sintia telah merubahnya menjadi seperti orang lain. Emma sendiri sampai tidak percaya saat berkaca. Dia sangat berbeda dari biasanya. Sintia tersenyum bangga telah membuat Emma terlihat sempurna.
"Akhirnya kamu datang juga, Em. Aku pikir kamu tidak jadi datang." Ardian memeluk Emma untuk berterima kasih.
"Aku udah janji, Kak. Pasti aku akan tepati itu." Emma tersenyum. "Selamat ulang tahun, Kak."
"Makasih, Em. Silakan menikmati pestanya." Ardian tersenyum kagum saat melihat penampilan Emma. Sintia tahu bahwa Ardian sedikit menyukai sahabatnya.
Emma dan Sintia membaur dengan tamu yang lain meskipun mereka berdua masih belum bertemu dengan banyak teman kampusnya. Tamu yang datang kebanyakan kating kampus Emma dan tidak banyak yang Emma tahu. Sintia memberikan segelas minuman untuk Emma dan tidak menyadari bahwa minuman itu mengandung sedikit alkohol.
Acara berlangsung setelah tamu undangan telah banyak yang hadir meskipun belum semuanya. Emma mencoba menikmati pesta tersebut tanpa memikirkan hal lain. Selesai acara puncak, Emma meminta izin pada Sintia untuk pergi ke toilet. Emma merasa kepalanya sedikit pusing dan ingin mencuci wajahnya supaya segar.
Emma menabrak seseorang saat berjalan menuju toilet. Tas tangannya sampai terjatuh dan dia sampai terhuyung saat ingin mengambilnya. Orang tersebut membantu Emma untuk mengambil tasnya dan memberikannya.
"Terima kasih, maaf atas kecerobohan saya." Emma tersenyum dan menunduk sekilas untuk meminta maaf.
"Apa kamu mabuk?" Suara berat seorang laki-laki membuat Emma melihat ke arah orang di depannya. Seketika, Emma terpesona karena ketampanan wajah laki-laki di hadapannya. Meskipun terlihat garang, tetapi garis wajahnya yang tegas membuat Emma melihatnya tanpa berkedip.
"Emma, ayo." Sintia datang dan langsung menarik tangan Emma sebelum dia sempat berbicara dengan laki-laki yang ditabraknya. Emma menoleh untuk terakhir kalinya sebelum menghilang ke tengah acara pesta.
"Ada apa?" Raka menepuk bahu Ethan, saat melihatnya terpaku.
"Cari tahu informasi tentang gadis bernama Emma." Ethan memberikan perintah pada Raka.
"Emma siapa?" tanya Raka bingung.
"Emma yang baru saja menabrak aku. Cari semua informasinya sampai yang tak terlihat." Ethan berjalan masuk ke ruangan pesta, meninggalkan Raka yang kebingungan.
"Aku pasti akan mendapatkan kamu, Emma," ucap Ethan bermonolog sambil menatap Emma dari kejauhan.
***
Ethan telah mendapatkan informasi tentang Emma sampai yang terdalam dan tak terlihat. Raka mengerahkan semua kemampuannya untuk menggali informasi itu. Raka memberikan hasilnya pada Ethan beserta beberapa foto Emma dari mulai kecil sampai yang terbaru. Raka yang awalnya tidak begitu jelas dengan perintah Ethan, akhirnya tahu siapa Emma yang dimaksud oleh bosnya itu.
"Bagaimana, Bos? Apa ada yang kurang?" tanya Raka dengan tersenyum bangga karena bisa menyelesaikan perintah sang bos besar.
"Bagaimana mungkin perempuan secantik dia mendapat kehidupan seperti ini?" Ethan tidak mendengarkan pertanyaan Raka. Dia sedang larut membaca informasi tentang Emma.
"Begitulah hidup, Bos. Terkadang tidak adil bagi sebagian orang," ucap Raka berkata sok bijak.
"Apa yang harus aku lakukan untuk kamu, Cantik?" Ethan berbicara sendiri lagi sambil memandangi foto Emma yang sedang tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Nikahin aja, Bos. Biar hidupnya jadi berubah jika bersama Bos." Raka memberikan saran yang kemudian disesalinya. Ethan bukan termasuk pria yang menyukai ikatan karena selama ini tidak ada wanita di samping Ethan yang bertahan lama.
"Ayo kita ke rumah Emma," ajak Ethan dan langsung beranjak dari kursi kebesarannya.
"Kita ada rapat satu jam lagi, Bos," ucap Raka yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada bosnya.
"Kita akan kembali tepat waktu," ucap Ethan sambil keluar menenteng jasnya dan berpamitan pada Pricillia, sekretarisnya.
"Saya akan keluar sebentar dengan Raka. Tolong atur rapat nanti dan tunggu sampai saya tiba di kantor." Ethan segera menuju lift dan meninggalkan Pricillia yang menatapnya dengan intens.
"Jangan lupa materi rapat nanti," ucap Raka dengan suara lirih dan mengikuti Ethan di belakangnya.
Ethan dan Raka menuju alamat rumah yang tertera di file informasi tentang Emma. Ethan mengernyitkan alisnya saat melihat daerah tempat tinggal Emma yang jauh dari kemewahan. Tidak ada rumah yang besar seperti di lingkungan tempat tinggal Ethan. Raka menepikan mobil mewahnya di tepi jalan menuju ke rumah Emma.
"Dari sini kita jalan sebentar ke dalam gang itu, Bos." Raka menunjukkan jalan sempit untuk pejalan kaki yang hanya muat untuk satu orang. Rumah Emma melewati jalan seperti itu.
Ethan dan Raka sampai di rumah sederhana milik Emma. Raka mengetuk pintu yang terbuat dari kayu yang sudah sedikit rapuh itu. Seseorang membuka pintu dan terlihat seperti orang baru bangun tidur. Marshel, ayah Emma yang kerjaannya hanya menganggur di rumah dan mabuk-mabukkan. Marshel menatap Ethan dan Raka dengan penuh tanya.
"Siapa kalian? Mau apa datang ke sini? Kalau mau menagih hutang, tunggu Emma pulang nanti malam." Marshel hendak menutup lagi pintu rumahnya, tetapi ditahan oleh Raka.
"Bos saya ingin bicara dengan Anda, Tuan." Raka menarik pintu dengan sedikit keras agar terbuka lebar. Ethan masuk ke rumah yang ditinggali Emma dan melihat ke sekeliling isi rumah.
"Apa kamu bosnya, Emma? Kalau iya, tolong beri aku uang dan kamu bisa memotongnya dari gaji Emma." Marshel terdengar sangat tidak sopan dan membuat Ethan sedikit geram.
"Bagaimana bisa gadis secantik itu mempunyai ayah seperti kamu?" Ethan menatap tajam ke arah Marshel lalu menampar wajahnya dengan sedikit keras.
"Sialan kamu. Apa maksud kamu? Langsung saja ke intinya. Aku tidak punya banyak waktu." Marshel terpancing emosi karena mendapatkan tamparan di pipinya dan mendengar kata-kata Ethan.
"Biarkan Emma menjadi milikku dan aku akan memberikan apa pun yang kamu minta. Kamu hanya harus merahasiakan kedatanganku ke sini dan perjanjian yang akan kamu tanda tangani." Ethan berbicara langsung seperti apa yang ingin diutarakannya.
"Perjanjian apa maksud kamu?" Marshel masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakan Ethan.
Raka memberikan selembar kertas yang berisi perjanjian tentang apa yang harus dikerjakan oleh Marshel dan larangan untuk Marshel bertemu atau pun menghubungi Emma lagi. Ethan ingin Marshel memutuskan hubungan keluarganya dengan Emma. Ethan akan membayar berapa pun yang Marshel minta, jika Marshel setuju dengan perjanjian yang dibuat oleh Ethan.
"Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk memutuskan hubungan ayah dan anak dengan Emma? Hanya Emma yang aku punya di dunia ini." Marshel masih mempertahankan Emma di sisinya.
"Emma tidak pantas menjadi anak kamu. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya, apalagi mendapatkan uang dari ayahnya sendiri. Emma bekerja keras menghidupi dirinya sendiri, sedangkan kamu hanya bisa mabuk-mabukan di rumah. Kamu juga suka memukuli Emma jika sedang dalam keadaan mabuk atau marah. Apa itu yang disebut sebagai ayah? Apa kamu mau aku jebloskan ke penjara saja?" Ethan sudah sangat geram mengetahui fakta pahit tentang gadis yang disukainya.
"Jangan … jangan jebloskan aku ke penjara. Aku akan menandatangani ini dan berikan aku uang 1M. Aku akan membuat Emma pergi dari rumah ini dan kamu bisa mengambilnya." Marshel segera mengambil pulpen yang berada di tangan Raka dan menandatangani surat perjanjian itu.
"Jangan sampai Emma tahu tentang semua ini. Kalau sampai dia tahu, kamu akan tahu akibatnya." Ethan mengancam Marshel dengan tegas dan menamparnya sekali lagi. "Jalankan rencana ini malam ini juga. Aku akan menunggu Emma di depan jalan."
Raka menyimpan surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Marshel dan memberikan selembar cek senilai 1M untuk Marshel. Ethan tersenyum sinis saat melihat wajah senang Marshel karena telah mendapatkan uang sebanyak itu. Ethan dan Raka segera keluar dari rumah Emma, lalu kembali ke kantor.
Ethan mengikuti rapat di kantornya dengan tidak fokus. Dia terus memikirkan Emma dan tempat tinggalnya yang begitu jauh dari kata mewah. Ethan juga menyayangkan atas sikap ayah Emma yang begitu kejam pada anak satu-satunya. Apalagi Emma adalah seorang perempuan.
"Bos, bagaimana ini? Rapatnya udah selesai," bisik Raka di telinga Ethan.
"Semua laporan segera dilaporkan ke Raka atau Pricillia. Rapat selesai." Ethan segera keluar dari ruang rapat dan meninggalkan semua peserta rapat dalam keadaan bingung. Biasanya Ethan akan memberikan banyak pertanyaan dan keluhan untuk para petinggi di perusahaannya, tetapi kali ini dia hanya pergi begitu saja.
"Ada apa sama si Bos?" tanya Pricillia, sekretaris Ethan.
"Aku juga nggak tahu," jawab Raka sedikit cuek. Raka bisa menebak jika bos sekaligus sahabatnya itu sedang memikirkan Emma. Raka baru melihat Ethan menyukai perempuan sampai seperti itu.
Malam hari setelah Ethan selesai bekerja, dia dan Raka menunggu di depan jalan masuk rumah Emma. Ethan tidak tahu apakah Emma sudah diusir pergi oleh sang ayah atau belum. Ethan meminta Raka untuk melihat ke sekitar rumah Emma. Ethan menunggu dengan gelisah.
Ethan keluar dari mobilnya dan masuk ke jalan sempit ke rumah Emma. Ethan melihat Emma sedang didorong keluar dengan paksa oleh sang ayah. Ethan tidak mengharapkan hal itu terjadi. Dia hanya ingin Marshel mengusirnya tanpa ada kekerasan. Emma terlihat menangis dan memohon pada ayahnya untuk tidak mengusirnya dari rumah.
"Pergilah, kamu bisa cari rumah tinggal sendiri. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Aku juga tidak bisa menampung kamu lagi di sini." Marshel mengatakan hal itu dengan begitu kejam.
"Pa, maafin Emma. Kalau memang Emma bersalah, Emma akan memperbaiki itu. Emma akan mencari uang untuk Papa juga. Jangan usir Emma, Pa." Suara tangisan Emma membuat hati Ethan merasa sesak.
"Sialan, pria itu sangat brengsek. Dia tidak pantas jadi seorang ayah," gumam Ethan dan beranjak menghampiri Emma, tetapi dicegat oleh Raka.
"Tunggu, Bos. Biarkan mereka selesaikan dulu urusan mereka." Raka menahan Ethan untuk ikut campur.
"Aku tidak meminta dia untuk berbuat seperti itu pada anaknya sendiri." Ethan menepis tangan Raka dan menghampiri Emma.
Marshel menciut melihat kedatangan Ethan. Marshel langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Emma memanggil ayahnya dan terus menangis. Ethan berjongkok di samping Emma yang terjatuh saat didorong keluar oleh sang ayah.
"Ayo ikut aku," ajak Ethan pada Emma yang masih bingung dengan apa yang dilakukan ayahnya.
"Siapa kamu?" tanya Emma mengusap air matanya dengan kasar. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Apalagi orang itu tidak dikenalnya.
"Hai, Emma. Saya Raka kakaknya Ardian. Ini Ethan, bos saya." Raka memperkenalkan dirinya serta Ethan tanpa diminta.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Emma lagi dengan waspada.
"Aku ke sini mau jemput kamu. Ikut aku atau kamu akan jadi gelandangan." Ethan berbicara dengan nada dingin dan langsung ke intinya.
"Untuk apa aku ikut kamu? Aku tidak kenal dengan kamu." Emma beranjak dan membawa satu koper barang-barangnya, lalu berjalan menjauhi rumahnya dan meninggalkan Ethan.
"Mau ke mana kamu malam-malam begini?" teriak Ethan dan seketika Emma berhenti melangkah. Dia memang tidak punya tempat tujuan dan uangnya tidak akan cukup untuk menyewa hotel atau penginapan.
"Apa urusan kamu?" tanya Emma dengan sedikit berharap, orang di depannya ini bisa membantunya.
"Ikut aku dan kamu akan mendapatkan tempat tinggal yang layak." Ethan mengatakannya dengan lebih lembut.
Emma berpikir sejenak untuk memutuskan apakah dia akan mengikuti orang yang baru dikenalnya atau dia memilih menolak bantuan dari Ethan dan menjadi gelandangan di jalan. Emma melihat ke arah Ethan dan Raka bergantian. Emma tahu jika Ardian memiliki seorang kakak, tetapi Emma baru melihatnya sekarang. Ethan menunggu keputusan Emma dengan gelisah.
"Aku janji tidak akan merugikan kamu," ucap Ethan dengan wajah serius.
"Baiklah, aku akan ikut dengan kamu. Aku harap keputusanku tidak salah." Emma akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ethan.
Emma mengikuti Ethan ke kompleks gedung apartemen yang terdapat di Gianyar. Ethan telah mempersiapkan tempat tinggal untuk Emma, sebuah apartemen sederhana yang bersih dan nyaman. Ethan tidak akan memberikan hal yang berlebihan karena Emma belum menjadi miliknya. Suatu saat, jika Emma sudah menjadi miliknya, Ethan akan memberikan apa pun untuk Emma.
"Maaf kalau apartemennya seperti ini," ucap Ethan berpura-pura merasa tidak enak hati.
"Tidak apa, Tuan. Terima kasih sudah membantu saya," ucap Emma pada Ethan.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku segera. Ini kartu namaku." Ethan memberikan kartu namanya pada Emma.
"Kalau boleh, aku minta nomor telepon Kak Raka aja. Aku kenal sama Kak Ardian," ujar Emma sambil berharap.
"Tidak, kamu langsung hubungi aku aja. Raka, kamu keluar." Ethan memerintahkan Raka untuk keluar apartemen Emma terlebih dahulu. Dia tidak ingin Emma lebih memilih Raka daripada dirinya.
"Baiklah, aku akan menghubungi kamu karena kamu yang telah membantu aku." Emma akhirnya menuruti permintaan Ethan.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Istirahatlah." Ethan mengusap lembut kepala Emma. Ethan sebenarnya masih ingin berada di apartemen Emma, tetapi dia tidak ingin membuat Emma merasa tidak nyaman.
"Terima kasih sekali lagi, Tuan," ucap Emma sambil menunduk dalam.
"Namaku Ethan. Panggil saja aku Ethan atau ditambah Kak seperti Raka." Ethan memprotes panggilan Emma padanya. Dia merasa iri dengan Raka dan Ardian yang dipanggil Emma dengan sebutan "kak".
Emma mengangguk tanda mengerti dan mengantar kepergian Ethan di depan pintu apartemennya. Ethan pergi meninggalkan kompleks apartemen milik Emma menuju ke kantornya lagi. Ethan tersenyum tipis karena dia telah berhasil dengan langkah awalnya mendekati Emma. Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah bosnya sekaligus sahabatnya.
"Apa kamu sesenang itu?" tanya Raka sambil melirik ke arah Ethan yang sedang tersenyum tipis. Ethan hanya menatap tajam pada Raka.
"Siapkan surat kontrak untuk Emma. Aku mau dia menjadi milikku seutuhnya," ujar Ethan sambil terus tersenyum.
"Mungkin dia tidak akan mau menandatangani itu." Raka menjawab dengan santai dan dipukul langsung oleh Ethan. Raka mengaduh sambil memegang bahu yang dipukul Ethan.
"Kerjakan saja, soal mau atau tidak, itu urusan aku." Ethan sudah memikirkan semuanya. Dia akan mulai mendekati Emma dengan caranya sendiri.