Bunyi musik klasik menyambut langkah Aileen, ketika wanita itu memasuki ruangan outdoor ballroom hotel. Suasana romantis yang didominasi warna putih bercampur hijau terlihat begitu menyenangkan sejauh mata memandang. Meskipun begitu, wajah Aileen tampak suram, apalagi dengan gaunnya yang serba hitam.
Mata wanita itu mengedar ke segala arah, mencari sosok pengantin yang telah berhasil membuat kacau dunianya. Begitu dia menemukan mereka, dia langsung berjalan mendekat dan menyeruak dalam kerumunan.
"Selamat atas pernikahan kalian."
Tentu saja kedatangannya membuat orang-orang yang ada di dekat pengantin merasa terkejut. Mereka bahkan langsung menatap Aileen sinis, ada yang juga yang menatap penuh rasa kasihan. Sebagian dari mereka yang tak ingin ikut campur memilih pergi dari sana.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku tidak mengundangmu!" Pengantin wanita yang bernama Tyas itu tampak geram saat menatap Aileen. Dia bahkan langsung memeluk lengan suaminya erat dengan begitu posesif.
"Aileen." Sedangkan pengantin lelaki yang bernama Daniel tampak tercengang. Wajahnya menegang dengan sikap gugup yang tak bisa ditutupi.
"Apa kau berniat merusak pesta pernikahanku? Pergi, dasar jalang!" teriak Tyas kembali menggeram, yang membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya.
Aileen sendiri tampak tersenyum begitu manis, meskipun tak dapat dipungkiri jika sorot matanya terlihat begitu sendu saat ini. Dia menarik tangannya kembali yang tak menerima sambutan dari pasangan pengantin di depannya.
"Aku hanya memberikan selamat pada kalian. Kalian memang terlihat sangat cocok. Penghianat memang pantas jika disandingkan dengan penggoda. Semoga pernikahan kalian langgeng, dan selalu diberikan masalah di dalamnya," ucap Aileen disertai senyum kepuasannya. Dia tak peduli pada tatapan simpati yang dilayangkan orang-orang padanya.
"Kau!" Tyas tampak menggeram, tangannya baru saja terangkat untuk melayangkan sebuah tamparan pada Aileen ketika tiba-tiba ditahan oleh Daniel. Suaminya itu bahkan menatapnya tajam, seolah memperingatkan dirinya.
Hal ini membuat Aileen merasa senang. Sebelum dia berbalik pergi, dia sempat melambai pada pasangan pengantin tersebut dengan senyum sinis yang begitu mengejek. Wanita itu berjalan melenggang, meninggalkan pesta pernikahan yang terasa memuakkan baginya.
Tak ada yang tahu, apa yang sedang dirasakannya saat ini. Tepat ketika dia sampai di parkiran dan masuk ke dalam mobil, tangisnya menjadi pecah. Aileen mengeluarkan semua kesedihannya dengan tangisan yang begitu menyayat hati. Dia benar-benar terlihat rapuh, tidak seperti tadi yang penuh percaya diri seolah harga dirinya tak bisa diinjak-injak.
"Kau memang sialan, Daniel. Kalian memang sialan!" raung Aileen sambil memukul-mukul setir mobilnya meluapkan amarah.
Entah sudah berapa lama dia melampiaskan semuanya dalam tangisan, dia baru sadar jika hari mulai beranjak malam ketika dia mulai merasa tenang. Berkali-kali Aileen mengatur napasnya, agar dadanya tak merasa sesak. Dan setelah dia berhasil, dia mulai melajukan mobilnya pergi dari hotel bintang tiga yang menjadi saksi bisu pernikahan kekasih hatinya.
Bukannya pulang ke rumah, Aileen memutuskan melajukan mobilnya menuju Klub terkenal di kotanya. Wanita yang begitu frustasi karena sakit hati itu, ingin melampiaskan semuanya dengan alkohol. Dia berharap, dengan mabuk, semua masalahnya bisa teratasi.
Lampu berkerlap-kerlip menyambutnya ketika dia masuk ke dalam. Aileen harus sedikit menyerngit, ketika suara musik yang keras membuat telinganya menjadi sakit. Meskipun begitu, Aileen berusaha membaur. Dia mulai terlihat beradaptasi dan memilih tempat duduk di dekat bartender.
"Aku ingin wine," pinta Aileen sedikit berteriak saat berbicara pada salah seorang pelayan di sana.
Tak lama kemudian, pesanannya siap. Aileen dengan kesendiriannya menikmati minuman yang berwarna merah tersebut. Meskipun rasanya sedikit pahit dan panas di tenggorokan, Aileen tak peduli lagi. Yang dia inginkan hanya mabuk saat ini.
"Hai, apa kau sendirian?"
Namun siapa sangka, seorang lelaki tiba-tiba datang mendekatinya dan ingin berkenalan dengannya. Aileen yang merasa suntuk, akhirnya menanggapi lelaki tersebut.
"Ya," jawabnya singkat mencoba tersenyum untuk bersikap sopan.
"Boleh aku duduk di sini menemanimu?" tanya lelaki itu lagi.
"Tentu." Lagi-lagi, Aileen menjawabnya dengan singkat. Dia yang tak terbiasa berkenalan dengan orang baru membuat suasana sedikit canggung.
"Siapa namamu?"
Untung saja, lelaki itu mempunyai topik pembicaraan yang membuat Aileen merasa nyaman. Dia mulai tersenyum saat berkata, "Aku Aileen, kau sendiri, siapa namamu?"
"Panggil saja aku Thom," jawab lelaki yang baru saja berkenalan dengan Aileen tersebut.
Mereka tampak berbincang akrab, meskipun baru saja mengenal. Thom orang yang banyak bicara, yang membuat Aileen tak merasa canggung. Di sela-sela pembicaraan mereka, Aileen tetap meminum alkoholnya dan tetap memutuskan untuk ingin mabuk malam ini.
Namun, siapa sangka jika orang yang baru saja dikenalnya tersebut mempunyai niat jahat padanya?
Tanpa sepengetahuan Aileen, Thom memasukkan sebuah obat perangsang pada minuman Aileen.
Hal ini membuat Aileen merasakan aneh dalam tubuhnya. Entah kenapa dirinya merasa begitu gerah, dan ingin sekali membuka bajunya. Sikapnya juga terlihat aneh, seperti menginginkan sebuah sentuhan.
"Sepertinya kau mabuk, aku akan membawamu keluar dari sini," ucap Thom menatap Aileen rumit, dan mencoba menarik wanita itu ke dalam pelukan.
Merasa ada yang tidak beres, Aileen berusaha untuk tetap sadar. Dia berusaha menolak ketika Thom mulai merangkulnya dan membawanya paksa pergi dari bar Klub tersebut.
"Aku baik-baik saja, Thom." Aileen berusaha menolak, ketika Thom terus membawanya menuju ke tempat sepi. Instingnya yang masih berfungsi meneriakkan alarm bahaya dalam kepalanya dan menginginkannya untuk lari.
Tapi tubuh Aileen yang terasa lemas membuatnya seperti tak mempunyai tenaga. Wanita itu samar-samar masih bisa melihat keadaan di sekitarnya, dan telinganya masih jelas ketika mendengar jika Thom memesan sebuah kamar.
Otak Aileen yang menyadari hal gawat akan terjadi, memaksa dirinya untuk kembali sadar. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Aileen berusaha menolak ketika Thom mulai menyeretnya masuk ke sebuah penginapan.
"Lepaskan aku, sialan!" umpat Aileen dengan suaranya yang melemah.
Thom terlihat terkekeh, tatapannya begitu mengejek saat melihat Aileen. "Jangan menolak, Aileen. Aku akan memberikanmu kenikmatan dunia yang tiada tara."
Kepala Aileen menggeleng beberapa kali, dia berusaha untuk tetap waras agar bisa kabur dari cengkraman Thom. Wanita itu mencoba mengelabui Thom, dengan berpura-pura tak berdaya ketika lelaki itu membawanya menuju pintu lift.
Tepat ketika mereka sampai di depan lift tersebut, Aileen mengeluarkan sisa tenaganya untuk mengantukkan kepalanya ke dahi Thom. Dia juga tak segan menginjak kaki Thom dengan high-heelsnya yang membuat pelukan lelaki itu terlepas.
Tak ingin membuang-buang waktu, Aileen dengan cepat memasuki lift tersebut. samar-samar terdengar suara Thom mengumpat sebelum pintu tersebut tertutup.
Mengandalkan kesadaran yang tersisa, Aileen mencoba berjalan sambil memegangi dinding begitu lift tersebut sampai ke lantai yang ditujunya. Dia terlihat merutuk, ketika menyadari tak ada pintu keluar di sekitarnya. Aileen hanya melihat pintu berderet yang dia yakini jika itu adalah tempat penginapan.
Suara lift berdenting membuat Aileen sadar, jika Thom sedang mengejar dirinya. Dia yang tak ingin tertangkap dan menjadi santapan liar dari orang yang tak dikenalnya, membuatnya berusaha mencari tempat persembunyian.
Tapi ternyata semua pintu yang dihampirinya terkunci. Dia juga tak mendengar sautan seseorang meskipun dia mengetuk pintunya berkali-kali.
Hal ini membuat Aileen benar-benar merasa frustasi, apalagi saat melihat angka di lift sebentar lagi sampai pada lantai yang dipijak. Dalam hatinya dia berdoa, semoga dirinya masih diberikan keselamatan dari orang jahat yang berusaha mengejarnya.
Usaha Aileen membuahkan hasil, di ruangan paling ujung, dia menemukan pintunya tidak terkunci. Wanita itu bernapas lega, tubuhnya bahkan ambruk di lantai, saat dirinya berhasil masuk dan mengunci pintu tersebut.
"Siapa kau?"
Namun betapa terkejutnya Aileen, ketika menyadari jika tempat ini tidak kosong. Dalam samar-samar remangnya ruangan tersebut, dia bisa melihat sosok lelaki yang berwajah dingin sedang menatapnya dengan tangan bertolak pinggang. Dilihat dari penampilannya, lelaki itu seperti baru saja mandi. Terlihat jelas dari handuk yang masih melilit bagian pinggang.
"Apa kau tuli? Siapa kau?" tanya lelaki itu kedua kali, yang membuatkan lamunan Aileen.
Wanita itu menggelengkan kepalanya cepat, seolah berusaha untuk tetap waras padahal jantungnya berpacu cepat saat ini. Apalagi saat melihat betapa seksinya lelaki di depannya yang membuat pikirannya menjadi liar.
"Sssttt ... jangan berisik! Kau harus menolongku," ucap Aileen dengan suara yang sudah tercekat. Dia menatap lelaki di depannya lekat dengan jari yang menempel pada bibirnya.
"Apa kau maling?" tanya lelaki itu dengan mata yang memicing.
Belum sempat Aileen menjawab, dia mendengar pintu diketuk dengan keras. Hal ini membuatnya menjadi panik, yang membuatnya semakin meringkuk di balik pintu.
Seolah menyadari ada yang tidak beres, lelaki yang menjadi penghuni ruangan itu menatap Aileen dengan lekat. Dahinya berkerut saat melihat Aileen yang memejamkan mata dengan gelengan kepala pelan.
"Tolong aku." Suara Aileen yang bercicit pelan akhirnya membuat lelaki itu merasa bersimpati. Dia akhirnya bersedia menolong wanita yang baru saja memasuki ruangannya tiba-tiba tersebut.
"Bukankah sudah kubilang untuk memberikan waktu privasi padaku, kenapa kau menggangguku?" keluh lelaki itu ketika dia membuka pintu. Dia menatap lelaki pelayan di depannya dengan sangat kesal.
"Maafkan saya, Tuan Kendrick, saya hanya ingin memastikan sesuatu. Apakah ... apakah ada seorang wanita di ruangan Anda?" tanya pelayan tersebut dengan nada yang begitu gugup. Dia terlihat panik saat harus berhadapan dengan pemilik Klub dan Hostel Permata ini.
"Tidak ada!" jawab Kendrick tegas, masih dengan sikap yang kesal. Wajahnya bahkan terlihat dingin saat menatap salah satu karyawannya tersebut.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu, Tuan," ucap pelayan tersebut dengan menundukkan kepala.
Kendrick tak menjawab, meskipun begitu dia tetap mengangguk dan menatap pelayan tersebut sampai menghilang di balik lift. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, masalah apa yang terjadi pada wanita di sebelahnya yang membuat seseorang mencarinya?
Tak ingin merasa penasaran, Kendrick langsung menutup pintunya kembali dan tak lupa menguncinya. Dia berniat bertanya langsung pada wanita itu, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi betapa terkejutnya Kendrick, ketika mendapati wanita yang baru saja masuk ke ruangannya itu tiba-tiba melepas pakaiannya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau gila?" Kendrick bahkan sampai membentak, karena saking terkejutnya dia.
"Tolong aku!" pinta wanita tersebut.
Namun, Kendrick seperti merasa ada sesuatu yang salah. Ketika dia mendekati wanita itu, dia melihat jika wajah wanita itu memerah. Bahkan napas wanita itu terlihat menderu dengan tubuh yang tak bisa diam.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kendrick yang akhirnya memberanikan diri menyentuh dahi wanita itu.
Namun siapa yang sangka, karena hal ini, wanita itu menjadi agresif. Kendrick dibuat mematung ketika dirinya tiba-tiba dicium dengan rakus. Awalnya, Kendrick berusaha menolak. Tapi sentuhan-sentuhan yang diberikan wanita itu membuatnya terbuai sehingga hilang akal dan malah menyambut permainan tersebut.
Malam mendung dengan sedikit cahaya bulan itu menjadi saksi, bagaimana dua insan yang tak saling mengenal saling beradu dalam desahan dan kenikmatan. Saling menjerit mencurahkan kepuasan duniawi, hingga raga melayang bagai di angan-angan.
"Sial, sial, sial! Apa yang telah kau lakukan, Aileen?"
Sejak tadi, wanita itu terus-terusan mengumpat. Dia terlihat begitu frustasi ketika mengingat apa yang telah terjadi semalam. Wanita itu merasa dirinya benar-benar bodoh, karena telah rela melepaskan harta berharganya dengan cuma-cuma pada orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Namun entah kenapa, Aileen tak bisa menangis. Seratus persen dia sadar, jika kesalahan itu murni atas tindakannya sendiri.
"Semua ini gara-gara kau, Daniel! Andai saja kau tak menyakiti hatiku, aku tak mungkin bertindak bodoh dengan datang ke Klub malam." Wanita itu malah menyalahkan Daniel, akan nasib sial yang telah dialaminya. Dia yang merasa dendam pada mantan kekasihnya itu, sampai memukul-mukul foto lelaki tersebut.
Akhirnya, setelah lama terdiam untuk berpikir, Aileen memantapkan hatinya untuk memilih pergi dari sini. Wanita itu bertekad pergi dari kota Bandung, untuk melupakan segala kesialan dan kesakitan hatinya saat ini. Dia bahkan membawa semua barang-barangnya dan tak menyisakan jejak sedikit pun, seolah kehadirannya di sini hanya angin lalu saja.
***
Angin berhembus melewati jendela yang tidak terkunci. Menerbangkan gorden putih yang menjadi media penutup kaca. Tapi sinar matahari masih bisa menembusnya, membuat seorang lelaki yang sedang tertidur itu terusik akan silaunya.
Kendrick melenguh, lalu menggerakkan tubuhnya untuk meregangkan otot yang terasa kaku. Sesaat dia hanya terdiam dengan pandangan sayup. Tubuhnya terasa sangat lelah, membuatnya ingin bermalas-malasan lagi di atas ranjang.
Tangannya meraba bagian ranjang di sampingnya. Tak menemukan apa yang dia cari, dia segera membuka matanya lebar-lebar. Kendrick segera terduduk, karena terkejut tak mendapati wanita yang semalam telah bercinta dengannya.
"Di mana dia?" gumam Kendrick segera bangun dari ranjang. Dia membiarkan tubuh polosnya begitu saja, lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Kendrick terlihat berdecak kesal, saat tak menemukan siapapun di ruangannya. Berkali-kali dia bahkan terdengar mengumpat dengan lirih.
Lelaki itu segera membersihkan diri dengan cepat, lalu menelpon anak buahnya untuk datang ke kamarnya.
"Apa kalian tahu siapa wanita yang semalam bersamaku?" tanya Kendrick pada tiga orang di depannya. Tangan lelaki itu bertolak pinggang, menatap satu-persatu anak buahnya dengan tajam. Dia baru saja mandi dan belum berpakaian. Hanya membungkus handuk pada bagian pinggangnya.
Sedangkan para anak buah Kendrick terlihat saling pandang, mereka terlihat bingung dan mencoba memahami ucapan sang bos.
"Anda menyuruh kami untuk tidak membuka layanan kamar kemarin, Tuan," ungkap Luke. Manajer yang bertanggung jawab di Permata Klub dan Hostel.
"Benarkah? Lalu kenapa ada wanita datang di kamarku?" tanya Kendrick lagi dengan dahi yang berkerut dalam.
"Sepertinya kami kecolongan, saya akan memeriksa CCTV kalau begitu," kata Luke tampak merasa bersalah.
"Aku ikut!"
Kendrick sungguh penasaran dengan wanita yang telah mempermainkannya. Baru kali ini, dia didatangi oleh wanita yang tidak dikenal. Memberikan surga dunia padanya, lalu meninggalkannya tanpa jejak.
Lelaki itu bersiap berpakaian. Dia bahkan tak malu bertelanjang di hadapan anak buahnya. Kendrick mengambil kemeja dan celana kain yang berwarna senada lalu dengan cepat memakainya.
Setelah siap, Kendrick segera keluar diikuti Luke dan yang lainnya. Mereka kini berjalan menuju ruang CCTV. Kendrick segera menyuruh petugas yang berjaga untuk mengecek lantai kamar yang ditinggalinya.
Dari sana, Kendrick bisa melihat wanita yang berlari dengan kesusahan. Wanita itu mencoba kabur dari kejaran dua orang. Dan setelah diperhatikan, salah satu orang yang mengejar memakai seragam pelayan Permata Klub.
"Cari lelaki itu, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi!" perintah Kendrick pada Luke.
Kendrick masih duduk di sana. Dia mulai mengeluarkan rokok dari sakunya dan menyalakannya. Dia masih mengawasi tampilan layar di depannya. Menatap gerak-gerik wanita yang semalam bersamanya dari lantai bawah sampai ke kamarnya.
Beberapa saat, datanglah Luke bersama seorang lelaki di belakangnya. Bisa Kendrick lihat, jika lelaki itu adalah orang yang ada di rekaman CCTV tadi.
"Tuan memanggil saya?" Lelaki itu terlihat gugup di depan Kendrick, tangannya saling bertautan dengan erat dengan kepala yang menunduk.
"Bisa kau jelaskan ini?!" perintah Kendrick mengintimidasi, sambil menunjuk layar rekaman CCTV.
"Seseorang semalam memaksa ingin menyewa kamar. Dia menyeret wanita dalam keadaan mabuk. Saya sudah bilang jika pelayanan kamar telah ditutup, tapi lelaki itu memaksa saya. Saat kami sedang berdebat, wanita itu berhasil kabur. Akhirnya kami mengejarnya." Lelaki pelayan tersebut menjelaskan dengan sedikit terbata-bata.
"Kau tahu apa yang dia lakukan padaku?" tanya Kendrick dengan suara yang menggeram menahan marah.
Lelaki pelayan itu hanya menggeleng lemah. Dia menunduk, tidak berani menatap sang bos besar.
"Dia mempermainkanku!" teriak Kendrick sambil menggebrak meja. Lelaki itu berdiri dan menatap semua orang di depannya dengan tajam.
"Aku tidak mau tahu, cari wanita itu sekarang juga. Kalian harus menyeret wanita itu ke hadapanku!" perintah Kendrick sambil berteriak marah.
Lelaki itu tidak suka dipermainkan. Baginya, yang boleh mempermainkan hanyalah dirinya. Dia telah tersinggung dengan apa yang dilakukan wanita yang semalam. Memberikan kepuasan lalu pergi? Ah ... Kendrick merasa dirinya menjadi seperti gigolo sekarang.
Setelah merasa tenang, Kendrick membuang napas dengan kasar. Dia lalu keluar dari ruangan tersebut, berjalan tegas dengan wajah yang dingin.
Seminggu telah berlalu, tapi Kendrick tak mendapatkan laporan apapun tentang wanita itu. Dia sudah menyebar anak buahnya untuk mencari ke pelosok kota, tapi hasilnya tetap saja nihil.
Hal ini membuat Kendrick merasa sedikit frustasi. Apalagi pekerjaan di perusahaan utama sudah menumpuk dan harus segera diselesaikan. Dia terpaksa kembali ke kota asalnya, dengan seluruh rasa kecewa yang didapatnya.
Tapi Kendrick sama sekali tak putus asa, dia bahkan tak menghentikan pencarian. Lelaki itu benar-benar terobsesi pada wanita yang telah memberikan cinta satu malam padanya tersebut.
Sejak kejadian tersebut, Kendrick menjadi sering uring-uringan. Dia sering marah tanpa sebab pada sekretarisnya, menjadikan hal kecil sebagai masalah besar.
"Apa kau tidak bisa bekerja? Kenapa laporan minggu lalu ada di mejaku?" bentak Kendrick dengan kesal. Lelaki itu terlihat memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya.
"Anda sendiri yang meminta laporan ini direvisi, Tuan, dan ini hasilnya." Cakra--sang sekretaris, menjawab dengan tenang. Lelaki berkacamata tersebut terlihat sabar saat menghadapi sikap menjengkelkan dari bosnya akhir-akhir ini.
"Cih, sekarang kau menyalahkanku?" desis Kendrick bertambah geram.
Lelaki itu mulai berdiri, mengambil bir di lemari pendingin yang ada di pojok ruangan. Dia menenggaknya sekali sampai tersisa setengah. Sesaat dia terdiam, kembali mengingat wanita yang telah mengusik pikiran dan hari-harinya.
"Di mana sebenarnya kau bersembunyi?" gumam Kendrick bertanya-tanya.
Ternyata ucapan Kendrick terdengar oleh Cakra. Lelaki itu menghampiri bosnya lalu bertanya, "Siapa yang Anda maksud?"
Kendrick menoleh dan menatap sinis ke arah Cakra. Dia mengabaikan sekretarisnya lalu duduk di sofa. Kendrick menyandarkan tubuhnya dengan kasar, lalu kembali memejamkan matanya.
"Keluarlah, aku tidak ingin diganggu!" perintah Kendrick terdengar lesu.
Tak berapa lama, Cakra benar-benar keluar dari ruangannya. Tempat itu kembali hening, sampai beberapa saat suara teriakan wanita membuat wajah Kendrick berkerut.
"Sayang...."
Sesosok wanita berpakaian seksi dengan rambut pirang sebahu menghampiri dirinya. Kendrick membuang napas kasar saat melihat kedatangan Nadia ke sini.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kendrick dengan malas.
"Kenapa tidak ada kabar? Kau bahkan menolak teleponku. Apa kau tidak tahu jika aku sangat merindukanmu?" ungkap Nadia berwajah cemberut dengan sikap yang manja.
"Aku masih sangat sibuk, banyak pekerjaan yang belum terselesaikan," tutur Kendrick.
"Oh, Sayang. Tapi aku menginginkanmu hari ini. Temani aku, ya?" Nadia menaik-turunkan alisnya menggoda Kendrick. Lalu dengan sensualnya, dia berbisik lirih di telinga lelaki itu. "Aku sudah menyiapkan kejutan untuk menservismu nanti malam."
Mendengar ini Kendrick berdecak, dia menatap Nadia dengan kesal selama beberapa saat. Tapi akhirnya lelaki itu luluh juga, dia mengecup singkat bibir Nadia dan memegang dagu wanita tersebut.
"Awas saja jika kau mengecewakanku, akan kubuat kau tidak bisa berjalan selama seminggu," ancam Kendrick.
Nadia yang mendengar hal itu hanya terkekeh, wanita itu mulai berdiri dan menarik tangan Kendrick. Kini mereka berdua mulai keluar dari ruangan kerja tersebut. Sepanjang jalan, Nadia selalu menggandeng tangan Kendrick dengan mesra.
Sudah jadi rahasia umum, jika CEO perusahaan Permata Group adalah seorang Casanova. Tak jarang para pegawai kantor wanita berpose untuk menggoda bos mereka. Mereka berharap sang bos melirik mereka untuk dijadikan wanita simpanan. Tapi sayang, penilaian Kendrick sangatlah tinggi. Sehingga hanya seorang yang benar-benar cantik yang bisa memikatnya.
Banyak orang menunduk hormat ketika berpapasan dengan mereka. Inilah hal yang sangat disukai Nadia. Menjadi penguasa, agar para manusia rendahan bisa memujanya. Hal ini juga yang membuat Nadia terlalu ambisius untuk menjadi Nyonya Adelard.
Berbeda dengan pemikiran Nadia, Kendrick hanya menganggap wanita itu sebagai mainannya. Dia tidak suka berkomitmen. Lagipula dia masih ingin menjelajahi wanita untuk memuaskan dahaganya.
Tepat saat mereka berjalan keluar menuju basement, perhatian Kendrick teralihkan pada sosok yang baru saja masuk ke dalam kantornya. Dia sampai menghentikan langkah untuk memperhatikan wanita itu dengan lekat.
Seulas senyum puas langsung terpatri ketika Kendrick mengenali wanita tersebut. Hatinya menggebu-gebu, merasakan perasaan antusias yang selama ini ditunggu-tunggu.
"Akhirnya aku menemukanmu!" gumam Kendrick lirih dengan senyum puasnya.
Kendrick lalu melepaskan tangan Nadia. Lelaki itu tiba-tiba berlari masuk, mengejar wanita yang telah membuatnya uring-uringan selama seminggu ini.
Seminggu telah berlalu, sedikit dan perlahan, Aileen mulai melupakan kejadian yang terjadi padanya. Dia menyibukkan diri dengan bekerja sehingga dia tidak terlalu terpuruk. Untung saja setelah dia pindah di kota Jakarta, dia segera mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris CFO perusahaan Permata Group.
(CFO merupakan singkatan dari Chief Financial Officer. Biasanya membantu dalam segala urusan keuangan perusahaan.)
Aileen baru saja istirahat makan siang di kedai makanan depan perusahaan ketika mendapatkan panggilan dari Han, bosnya. Han memintanya untuk kembali ke kantor sekarang juga. Hal ini membuat Aileen terpaksa menyelesaikan makannya, meskipun dia masih terlihat lapar.
Beberapa kali dia tersenyum pada orang yang berpapasan dengannya. Aileen benar-benar sangat ramah terhadap semua orang, tak terkecuali seorang satpam sekali pun.
Dirinya berdiri di depan pintu lift. Kakinya menghentak kecil sesuai irama denting jam. Sesekali dia memeriksa jam, memastikan jika dirinya tidak telat.
"I catch you."
Baru saja Aileen hendak masuk ke dalam pintu lift yang terbuka, tangannya ditarik ke belakang dengan keras. Dirinya yang kaget sampai tersentak hampir terjatuh.
Untung saja ada tangan kokoh yang menariknya dengan cepat. Namun hal ini membuat kepalanya membentur pada dada bidang orang di depannya tersebut.
"Aw ...," keluh Aileen meringis kesakitan. Dia segera mendongak untuk menatap kesal orang yang telah menarik dirinya. "Apa-apaan ini?"
"Akhirnya, aku mendapatkanmu. Kau harus ikut denganku sekarang juga!"
Lelaki itu menarik tangan Aileen dengan erat. Aileen yang masih kebingungan mencoba berontak, tangannya meraih pilar di dekatnya sebagai pegangan.
"Apa yang kau lakukan, siapa kau?" tanya Aileen berteriak dengan panik.
Mendengar ini Kendrick merasa terkejut. Dia menoleh, lalu menatap Aileen dengan alis berkerut. "Kau tidak mengenalku?"
Dengan polosnya, Aileen menggeleng lemah. Wanita itu menatap Kendrick lekat, mencoba mengenali siapa lelaki di depannya. Tapi seberapa keras dia mencoba, dia benar-benar tak mengingat lelaki itu.
Senyum sarkas mulai muncul di bibir Kendrick. Lelaki itu menatap Aileen dengan lekat, lalu perlahan mencondongkan kepalanya mendekati wajah Aileen.
"Mungkin jika di ranjang, kau akan mengingatnya," bisik Kendrick dengan nada yang begitu menggoda.
Aileen benar-benar merasa terkejut dengan ucapan tersebut, dengan sekali hentakan dia melepaskan tangan lelaki di depannya.
"Dasar kurang ajar, memangnya kau siapa?" Dia berteriak marah, wajahnya terlihat begitu malu saat ini.
Pertengkaran ini membuat orang-orang di sekitar memperhatikan mereka. Banyak yang keheranan dengan sosok Aileen yang begitu berani dengan pemilik perusahaan ini. Tapi banyak juga yang mendukung, bagi mereka yang tidak suka dengan sikap playboy CEO mereka.
Baru saja Kendrick ingin membalas Aileen, Nadia tiba-tiba kembali datang menghampirinya. Wanita itu berdiri di tengah-tengah Kendrick dan juga Aileen.
"Apa yang kau lakukan, kenapa meninggalkanku?" protes Nadia terlihat kesal saat menatap Kendrick.
Hal ini membuat Kendrick mendesah kasar, dia tidak ingin buruannya lepas hari ini. Maka dari itu, dia berkata pada Nadia. "Pulanglah, aku akan menemuimu besok. Aku ada urusan penting sekarang."
"No, kau sudah berjanji hari ini, Sayang," tampik Nadia menolak.
"Jangan membuatku marah, Nadia." Kendrick yang sudah merasa kesal menatap Nadia dengan tajam. Lelaki itu bahkan menurunkan suaranya, seperti seseorang yang sedang menggeram.
Perlakuan Kendrick membuat Nadia menjadi takut, wanita itu mulai mundur perlahan. Tapi tatapannya tak beralih sedikitpun dari lelaki Casanova tersebut. Hatinya bergemuruh, apalagi melihat Kendrick menggandeng seorang wanita di depannya.
Merasa malu karena tatapan cemoohan para karyawan, Nadia memutuskan untuk pergi dari sana. Sepanjang jalan, wajahnya terlihat tertekuk murung. Kakinya menghentak kasar, dengan mulut yang tak berhenti bergumam.
Sedangkan di tempat Aileen, wanita itu masih mencoba berontak dari genggaman lelaki di depannya. Tapi semakin dia berusaha lepas, pergelangan tangannya semakin terasa sakit.
"Apa-apaan kau ini, lepaskan aku!" Meskipun begitu, Aileen tak ingin menyerah. Dia berniat membuat malu seseorang yang telah bertindak kasar padanya. Berharap akan ada orang yang menolong dirinya.
Tapi sampai di lantai atas sekali pun, tidak ada orang yang menolongnya. Semua orang yang dilewatinya hanya menatap dirinya dengan iba.
Setelah mereka memasuki sebuah ruangan, tubuh Aileen terhempas begitu saja. Wanita itu tidak sempat berlari, ketika lelaki yang menyeretnya tadi mengungkung dirinya dengan kedua tangan menghadap dinding.
"Apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam atau aku akan melaporkanmu ke polisi," ancam Aileen yang entah kenapa merasa takut dengan sikap lelaki di depannya.
Tapi Kendrick malah terkekeh, lelaki itu terlihat tertarik dengan sikap berani yang ditunjukkan oleh Aileen.
"Seharusnya aku yang melaporkanmu. Kau datang ke kamarku, lalu mempermainkanku begitu saja. Kau bahkan hilang tanpa pertanggungjawaban." Meskipun diucapkan dengan nada yang begitu santai, tatapan Kendrick sangat tajam saat menatap Aileen.
Aileen sendiri tampak tercengang dengan apa yang dia dengar. Apa artinya lelaki itu adalah lelaki yang pernah mendapatkan dirinya cuma-cuma?
Hati Aileen bergemuruh, wanita itu balas menatap tajam Kendrick. "Kau!" Dia mendesis marah, sikapnya benar-benar terlihat berani tanpa adanya ketakutan sedikitpun.
"Oh, kau sudah ingat sekarang?" sindir Kendrick dengan senyum sinisnya.
"Lepaskan aku sialan, kenapa kau menangkapku? Kau bahkan tak rugi apapun dengan kejadian tersebut."
Aileen kembali berontak, dia mengeluarkan semua tenaganya. Kakinya yang terbebas berniat menendang paha lelaki tersebut.
Tapi gerakan Aileen sepertinya sudah terbaca oleh Kendrick. Dengan kejamnya, lelaki itu semakin memepet tubuh Flora. Dia bahkan menekan kaki wanita itu agar tak bisa bergerak lagi.
"Rupanya kau suka bermain-main, ya," ungkap Kendrick dengan kepala mengangguk-angguk. Bibirnya memancarkan senyum aneh, yang membuat Aileen merasa bergidik.
"Kalau begitu, aku ingin memainkannya lagi denganmu. Aku ingin kau merasakan dipermainkan!" hardik Kendrick tiba-tiba menjadi geram.
Lelaki itu mulai mencium bibir Aileen dengan kasar, tangannya yang satu mengunci kedua tangan Aileen. Sedangkan tangan yang satu mulai bergerilya di tubuh wanita itu.
Teriakan Aileen teredam oleh ciuman tersebut. Wanita itu memejamkan mata rapat, berusaha menolak sentuhan yang diberikan lelaki tersebut. Tubuh Aileen tak berhenti melawan, yang akhirnya malah membuatnya lemas sendiri karena kehilangan banyak tenaga.
Tapi belum sempat Kendrick melakukan yang dia mau, suara ketukan di pintu membuatnya terganggu. Seseorang yang masuk ke dalam membuatnya mengumpat kasar. Lelaki itu terlihat marah, apalagi melihat buruannya berhasil melepaskan diri darinya. Wanita itu bahkan langsung berlari keluar ketika mendapatkan celah.
"Wow, aku tidak tahu jika kau sedang bersenang-senang," sindir Haris–sahabat Kendrick yang tiba-tiba masuk tersebut.
"Kau mengacaukan semuanya," geram Kendrick menatap Haris dengan tajam.
"Sorry, kau bisa melanjutkannya nanti. Aku datang sebagai klien hari ini," kata Haris dengan bahu terangkat acuh.
"Cih." Kendrick berdecak, dia mengabaikan Haris. Tatapannya beralih pada Cakra yang berdiri di dekat pintu.
"Kau, kemarilah!" perintah Kendrick sambil menggerakkan dagunya.
Cakra dengan sigap berjalan mendekati Kendrick. Lelaki berkacamata tersebut menatap Kendrick lekat, seolah siap untuk menerima perintah yang akan datang.
"Kau tahu siapa wanita tadi?" tanya Kendrick tiba-tiba.
Alis Cakra berkerut, tapi hanya sesaat sebelum dia mengingat wanita yang berpapasan dengannya di depan pintu tadi. Maka dari itu, dia mengangguk.
"Namanya Aileen, dia sekretaris baru tuan Han. Kepala pemimpin bagian CFO," ungkap Cakra menjawab.
Kendrick mengangguk. Dengan senyum yang puas, tiba-tiba saja dia berkata, "Aku ingin wanita itu menjadi asistenku saat ini juga."
"Apa?" Tentu saja hal ini membuat Cakra terkejut. Apa dia tidak salah dengar dengan permintaan bosnya? Memang siapa wanita itu sampai bosnya itu menginginkan?