Melinda duduk diam di kursi mobil mewah milik Reyhan, tangan menggenggam tas tangan dengan erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa menahan dirinya dari ambruk. Setiap kata yang keluar dari mulut Reyhan masih terngiang di telinganya: "Aku ingin kamu menjadi tunanganku." Kalimat itu begitu asing, begitu tak masuk akal, dan pada saat yang sama, begitu nyata. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang, setiap detak terasa semakin menekan dadanya.
Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, namun dalam pikirannya, dunia seperti berjalan lebih lambat. Seolah ia terjebak dalam sebuah labirin yang tidak tahu arah keluarnya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Reyhan yang baru saja ia kenal, yang bahkan hanya membantunya karena kecelakaan di toilet, kini meminta hal sebesar itu? Mungkin Reyhan menganggapnya lemah, mudah dimanipulasi. Mungkin, pria itu hanya bermain-main dengannya-tapi mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi?
"Kenapa?" kata Melinda akhirnya, dengan suara hampir berbisik, tapi cukup jelas untuk memecah keheningan yang menekan di antara mereka. "Kenapa aku? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Reyhan tidak segera menjawab. Ia tetap fokus pada jalan di depan, matanya yang tajam melihat ke depan seakan bisa menembus segala halangan. Hening yang menyelimuti mobil itu terasa sangat berat, bagaikan sebuah beban yang tidak bisa diterima begitu saja.
"Karena kamu berbeda," jawab Reyhan akhirnya, suara rendah dan penuh makna. "Aku bisa melihatnya. Kamu bukan wanita yang mudah digoyahkan, bukan wanita yang akan dengan mudah tunduk pada tekanan. Kamu punya kekuatan dalam dirimu, Melinda. Itu yang aku butuhkan."
Melinda terdiam mendengar jawabannya. Sesuatu yang ia anggap sebagai kelemahan, sesuatu yang membuatnya merasa hancur beberapa waktu lalu, kini disebut sebagai kekuatan. Dia tidak tahu harus merasa terhina atau merasa terhormat.
"Dan kalau aku menolak?" tanya Melinda, mencoba untuk tidak menunjukkan betapa kacau hatinya. "Apa yang akan kamu lakukan padaku?"
Reyhan menoleh sejenak, dan ada tatapan aneh di matanya-sebuah tatapan yang sulit untuk dijelaskan. "Aku tidak akan melakukan apa pun padamu, Melinda. Aku hanya akan memberi waktu. Waktu untuk berpikir. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."
Melinda merasa ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya. Sakit. Dia merasa seperti dikepung oleh dinding yang semakin menyempit, tidak ada jalan keluar, tidak ada pilihan yang tersisa.
"Apa yang kamu inginkan dariku, Reyhan?" kali ini suara Melinda hampir pecah, menahan rasa amarah yang berkecamuk di dadanya. "Aku bukan mainanmu! Aku bukan sesuatu yang bisa kau tarik atau lepaskan sesuka hati!"
Reyhan menatapnya dengan penuh perhatian, seakan mencoba memahami emosi yang meluap dalam diri Melinda. Namun, ia tidak menarik kata-katanya. "Aku tahu kamu marah. Aku tahu ini tidak mudah untukmu. Tapi ingat, ini bukan hanya tentang kamu dan aku. Ini tentang apa yang terjadi setelah kamu menolak, apa yang akan terjadi pada hidupmu setelah ini."
Melinda merasa seolah dia terjepit di antara dua pilihan yang tidak bisa ia pilih. Di satu sisi, ia ingin menolak semuanya, ingin melupakan pria ini dan kembali ke hidup yang ia kenal sebelum semua kekacauan ini datang. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang tiba-tiba muncul, ketakutan akan konsekuensi dari penolakan itu, ketakutan bahwa Reyhan yang begitu kuat dan berpengaruh bisa membuat hidupnya semakin sulit.
"Apa yang akan terjadi pada hidupku?" tanya Melinda, matanya tajam menatap Reyhan. "Apa yang kamu lakukan? Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"
Reyhan menghela napas panjang, seolah menarik sesuatu yang lebih dalam dari dalam dirinya sebelum berbicara. "Aku tidak akan membuat hidupmu lebih sulit, Melinda, tapi aku ingin kamu mengerti. Ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Jika kamu menolak, kamu akan kehilangan lebih banyak daripada yang bisa kamu bayangkan. Ada banyak orang yang menginginkan kamu dalam posisi ini. Posisi yang akan mengubah segalanya."
Melinda merasa sebuah kekhawatiran yang tak terlukiskan merayapi hatinya. Apakah Reyhan benar? Apakah ia akan terjerat dalam masalah yang lebih besar jika menolak? Sudah cukup ia terjatuh dalam pengkhianatan Raka dan Nadia. Kini, ia harus memilih-terima tawaran yang aneh ini atau melawan segala ketakutan yang ada dalam dirinya?
Namun, sesaat kemudian, Melinda tersadar. *Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku harus memikirkan ini?* pikirnya dalam hati. Ia tidak ingin menjadi wanita yang hanya menyerah pada situasi, apalagi pada seseorang seperti Reyhan. Tidak! Ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam jerat yang tidak ia inginkan.
"Tidak," kata Melinda, suara tegas meskipun hatinya bergejolak. "Aku tidak akan menjadi tunanganmu, Reyhan. Aku tidak akan terlibat dalam permainanmu ini."
Reyhan menatapnya dengan wajah datar, tidak terkejut, namun juga tidak terlihat marah. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan jawaban itu. Namun, ada sedikit kerutan di dahi dan matanya yang tajam menatap Melinda dengan cara yang sangat intens.
"Kalau itu yang kamu pilih, Melinda, maka kamu harus siap menghadapi segala akibatnya," kata Reyhan, suaranya semakin rendah dan penuh tekanan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja tanpa memperhitungkan apa yang terjadi setelah ini. Keputusanmu akan membawamu ke arah yang tak terduga."
Melinda merasa tubuhnya semakin dingin. Kata-kata Reyhan tidak pernah terasa begitu berat, begitu menekan. Setiap kata itu seperti belati yang menancap dalam-dalam ke dalam hatinya. Namun, ia tahu bahwa apapun yang terjadi, ia tidak bisa mundur. Ia harus bertahan. Ia harus berjuang.
Reyhan kembali menoleh ke jalan, mengalihkan pandangannya dari Melinda yang terdiam, menatap ke luar jendela. Mobil terus melaju dalam keheningan yang penuh ketegangan. Namun, dalam benak Melinda, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Apakah ia benar-benar siap menghadapi apa yang akan datang? Apa yang akan terjadi jika ia menolak tawaran Reyhan? Apa yang akan terjadi jika ia menerima?
Dan saat itu juga, Melinda tahu, hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi.
Pagi itu, Melinda terbangun dengan perasaan yang lebih kacau daripada sebelumnya. Setiap detik terasa seperti berat yang menekan tubuhnya, dan pikiran tentang Reyhan Azrael-pria yang baru saja dia kenal, tapi seolah sudah menguasai setiap sudut hidupnya-terus mengganggunya tanpa henti. Matahari yang menyinari kamarnya tidak membawa kehangatan sama sekali. Bahkan cahayanya terasa dingin, menyusup masuk melalui tirai kamar, membuatnya semakin merasa terperangkap dalam dunia yang asing.
Melinda mengangkat tubuhnya dari ranjang dengan langkah yang lemah, mencoba menghilangkan rasa pusing yang masih membayangi. Ia merasa seperti ada sesuatu yang tak terlihat membelenggunya, menahannya di tempat yang tak bisa ia pilih. Dalam pikirannya, hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar tanpa henti: *Apa yang harus aku lakukan?*
Ia berjalan menuju meja rias, menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lelah, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya-sebuah keputusasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah semua yang terjadi, setelah pengkhianatan yang ia terima, kini ia terjebak dalam dilema yang bahkan lebih sulit. Reyhan... seorang pria yang bahkan ia tidak kenal, kini memegang kendali atas jalan hidupnya.
Malam itu, setelah pertemuannya dengan Reyhan, pikirannya seperti dipenuhi oleh kata-kata yang dipilih pria itu dengan sangat hati-hati. *"Kalau itu yang kamu pilih, Melinda, maka kamu harus siap menghadapi segala akibatnya."* Kalimat itu terngiang begitu kuat, seolah-olah setiap kata adalah janji yang tak bisa dibatalkan, sebuah ancaman yang mengintai di baliknya. Apa yang akan terjadi jika ia menolak? Apa yang Reyhan mampu lakukan padanya?
"Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menghindar," gumam Melinda pada dirinya sendiri, menatap cermin dengan mata penuh keraguan. "Apakah ini yang disebut pilihan?"
Selama beberapa menit, ia terdiam, mencoba untuk tidak terjebak dalam kekalutan yang ada. Namun, suara ponselnya yang berdering tiba-tiba memecah kesunyian. Melinda mengerutkan kening saat melihat nama yang tertera di layar. Itu adalah pesan dari Reyhan.
*"Kamu punya waktu 24 jam untuk memutuskan. Aku akan menunggumu di kantor besok pagi. Jangan buat keputusan yang salah."*
Melinda menatap pesan itu dengan hati yang berdegup cepat. Ada perasaan kesal yang menggelora di dalam dirinya, namun juga ada ketakutan yang menggerogoti jiwa. Waktu. Itu kata yang paling menakutkan bagi Melinda. Reyhan memberi batas waktu. Sebuah ultimatum yang terasa seperti sebuah hukuman tanpa pengampunan.
Ia melemparkan ponselnya ke tempat tidur, berjalan mondar-mandir di ruang tamunya. Tubuhnya terasa kaku, setiap langkahnya terasa semakin berat, seperti terjerat dalam jaring yang semakin mengikat. Hatinya ingin melawan-ingin mengatakan tidak pada Reyhan, tetapi rasa takut itu begitu menguasai dirinya. Apa yang akan terjadi jika ia menolak? Apa yang akan terjadi pada hidupnya jika ia tidak mengikuti keinginan pria itu?
Reyhan adalah CEO dari salah satu perusahaan terbesar di Jakarta. Kekuasaannya tidak bisa dianggap sepele. Jika dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan mendapatkannya. Dan Melinda... melawan pria sekuat itu sama sekali bukan pilihan yang mudah. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan untuk bertahan, untuk tidak menyerah begitu saja.
"Aku tidak akan menjadi bagian dari permainan ini," bisiknya dengan suara gemetar, meski ia tahu kata-katanya mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, ia tidak bisa berhenti. Ia tidak bisa menyerah begitu saja.
Namun, dalam malam yang sunyi itu, perasaan yang sangat aneh merayap dalam dirinya. Apakah itu takut? Atau... harapan? Melinda tahu bahwa dalam hatinya ada sesuatu yang memberontak, sesuatu yang mengatakan bahwa dia tidak bisa memilih Reyhan hanya karena ancaman yang disampaikan dengan begitu dingin. Tapi ada juga bagian dari dirinya yang ingin tahu apa yang akan terjadi jika ia menerima tawaran itu. Bukankah itu satu-satunya cara untuk melindungi dirinya dari segala bahaya yang bisa datang?
Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. Saat itu, teleponnya berdering lagi. Melinda menatap layar ponselnya dengan berat hati. Sekali lagi, itu adalah pesan dari Reyhan.
*"Aku tidak suka menunggu terlalu lama. Jangan membuatku datang ke sana sendiri."*
Pesan itu membuat dadanya terasa sesak. Melinda merasa seperti terpojok. Ia ingin menjauh dari semua ini, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa ini bukan hanya tentang Reyhan. Ini tentang dirinya sendiri. Tentang harga diri yang sudah hancur, tentang pengkhianatan yang masih membekas, dan tentang bagaimana ia ingin kembali mengendalikan hidupnya-meski itu berarti mengambil keputusan yang sulit.
Pagi harinya, Melinda memutuskan untuk pergi ke kantor Reyhan. Langkahnya terasa berat, dan setiap detik yang berlalu membuatnya semakin cemas. Setiap orang di sekitar kantor itu tampak sibuk, tapi semuanya terasa kabur di matanya. Ia hanya ingin melihat Reyhan, berbicara dengannya, dan mendengar apa yang dia inginkan-benar-benar ingin tahu alasan di balik semua ini. Kenapa dia? Kenapa sekarang?
Saat Melinda memasuki ruang rapat tempat Reyhan menunggunya, pria itu tidak terlihat terkejut. Seakan-akan ia sudah tahu bahwa Melinda akhirnya akan datang. Tatapannya yang dingin, namun penuh rasa ingin tahu, mengarah pada Melinda yang berdiri di ambang pintu.
"Melinda," ucap Reyhan pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Kamu akhirnya datang. Aku sudah menunggu."
Melinda tidak bisa menghindari tatapan tajamnya. Ia merasa seperti segerombolan badai melanda hatinya. "Aku datang untuk mendengar alasanmu, Reyhan," jawab Melinda, suaranya bergetar namun berusaha keras untuk tetap tegar. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Reyhan mengamati Melinda dalam diam, matanya tajam dan penuh arti. "Apa yang aku inginkan, Melinda, sudah aku katakan sebelumnya. Aku menginginkanmu sebagai tunanganku. Tapi ini lebih dari sekadar kesepakatan. Ini tentang siapa kamu dan apa yang kamu inginkan dari hidupmu. Kamu punya pilihan. Tapi aku harap kamu tahu, pilihan itu tidak semudah yang kamu kira."
Melinda merasa seolah setiap kata Reyhan seperti menghujam dalam-dalam. Ia tahu, kali ini, ia harus memilih dengan bijak. Namun, bagaimana bisa memilih antara kebebasan dan keinginan untuk tetap hidup dalam kenyamanan yang penuh dengan ancaman?
"Aku tak tahu apa yang harus aku pilih," ucap Melinda, suaranya hampir tak terdengar. "Tapi aku tahu, aku tidak bisa hidup terus-menerus dalam ketakutan."
Reyhan mendekat, matanya penuh makna. "Jika itu yang kamu pilih, Melinda, maka kamu tahu, semuanya akan berubah. Semua akan ada konsekuensinya."
Kali ini, Melinda tahu satu hal pasti: apa pun yang ia pilih, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.