Bab 1

Melinda Arum menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdetak tak terkendali. Wajahnya yang dulu sering cerah dan penuh semangat kini tampak lelah dan hampa. Seminggu terakhir bagai mimpi buruk yang terus menghantui, sebuah kenyataan pahit yang tak pernah ia bayangkan akan menimpanya. Dulu, hidupnya terasa sempurna: ia memiliki seorang kekasih yang dicintainya dan sahabat yang selalu ada di sisinya. Namun, dunia yang tampak indah itu runtuh seketika setelah ia mengetahui bahwa pria yang ia cintai, Raka, ternyata selingkuh dengan sahabat baiknya sendiri, Nadia.

Itu adalah pukulan telak yang membuatnya merasa hancur, tak tahu harus berbuat apa. Melinda merasa seperti terjatuh dari tempat yang tinggi, dengan luka yang sangat dalam di hatinya. Ia menghabiskan berhari-hari untuk membalas dendam pada Raka dan Nadia, berusaha untuk mengembalikan sedikit harga dirinya yang terluka. Ia ingin mereka merasakan apa yang ia rasakan-rasa sakit yang begitu perih, pengkhianatan yang sulit dihapus dari ingatannya.

Namun, dalam kesedihannya, pertemuan dengan seorang pria tak terduga di sebuah mall membuat segala hal berubah. Kejadian itu terjadi pada malam yang gelap, saat Melinda sedang melangkah keluar dari kafe setelah bertemu dengan teman-temannya. Ia merasa sedikit lebih baik setelah beberapa gelas anggur, namun hati dan pikirannya masih berat.

Melinda bergegas menuju toilet, tak peduli dengan keramaian di sekitarnya. Namun, dalam keadaan setengah mabuk, ia tanpa sengaja memasuki toilet pria yang ada di ujung lorong. Ia langsung terkejut dan hampir ingin berbalik ketika sebuah suara dalam yang dingin terdengar dari balik pintu toilet.

"Tidak ada di sini," suara pria itu berkata dengan nada yang sangat tenang, namun terasa memerintah.

Melinda menatap pria yang baru saja muncul dari balik pintu, matanya tampak lelah namun tajam. Dalam sekejap, ia langsung menyadari bahwa ia berada di tempat yang salah. Pria itu tampak sangat tegap, mengenakan jas rapi yang menunjukkan statusnya yang tinggi. Namun, yang paling mencolok adalah tatapannya-sebuah tatapan yang penuh keyakinan dan kontrol. Melinda merasa kaget, wajahnya merah seketika karena malu.

"Maaf, saya tidak sengaja masuk," kata Melinda buru-buru, berusaha untuk mundur dengan cepat.

Namun, pria itu tidak langsung menghindar. Justru dia berdiri tegak, menatap Melinda dengan sebuah senyuman yang sangat tipis, seolah sedang mengamati setiap gerak-geriknya. "Tidak masalah," katanya dengan suara yang dalam, seolah sedang mengukur sesuatu.

Melinda mencoba menghindari tatapannya yang terlalu intens, namun pria itu tetap berdiri di sana, seolah menunggu sesuatu. Melinda merasa tak nyaman, apalagi dengan keadaan tubuhnya yang setengah terhuyung. Ia hendak pergi, tapi langkahnya terhenti sejenak ketika pria itu berkata lagi.

"Jika kamu merasa ada yang salah, aku bisa membantumu keluar dari masalah," katanya. Nada suaranya dingin dan penuh pertimbangan.

Melinda mengerutkan kening. "Maksudmu apa?" tanyanya, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud pria itu.

"Keluar dari masalah yang sedang kamu hadapi," jawab pria itu, sedikit lebih mendalam. "Tapi kamu harus mendengarkan aku."

Melinda merasa bingung, namun dalam keadaan terdesak dan hampir tak tahu harus berbuat apa, ia akhirnya mengikuti pria itu keluar dari toilet. Mereka berjalan di lorong yang sepi, sementara pria itu menjelaskan bahwa dia adalah Reyhan Azrael, CEO dari salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tentu saja, nama itu tidak asing bagi Melinda, meskipun ia tidak tahu persis siapa Reyhan dalam kesehariannya. Yang ia tahu, Reyhan adalah seorang pria yang tidak hanya kaya raya, tetapi juga dikenal karena kekuatan dan pengaruhnya yang besar.

"Kenapa kamu membantu saya?" Melinda bertanya, masih merasa ragu dan cemas.

Reyhan berhenti sejenak, memandang Melinda dengan tatapan tajam yang bisa membuat siapa saja merasa seperti tengah diperiksa. "Karena aku tahu apa yang kamu rasakan," jawabnya singkat, lalu melanjutkan langkahnya.

Melinda tidak dapat menjelaskan perasaannya. Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya-sebuah ketertarikan yang tak bisa ia pungkiri, namun juga sebuah rasa takut yang tak bisa ia singkirkan begitu saja. Sesuatu dalam diri Reyhan membuatnya merasa cemas, sekaligus terpesona.

Mereka tiba di tempat parkir yang jauh dari keramaian. Reyhan membuka pintu mobil mewahnya dengan gesit dan mengarahkan Melinda untuk masuk. "Percayalah padaku. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu malam ini," kata Reyhan, suaranya penuh ketegasan.

Melinda yang terhuyung-huyung karena kesedihan dan kebingungannya akhirnya menuruti. "Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Melinda, suara lebih lemah dari yang ia inginkan.

Reyhan menoleh ke arahnya, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang lebih lembut dalam sorot matanya. "Aku hanya ingin menolongmu, Melinda," jawabnya pelan. "Namun, ada satu hal yang harus kamu ingat. Aku tidak memberikan bantuan tanpa imbalan."

Melinda menatapnya, merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. "Imbalan?" tanyanya, merasa cemas sekaligus penasaran.

"Ya, kamu harus membantuku," jawab Reyhan tegas, menatapnya dengan penuh arti.

Melinda terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata itu. "Apa maksudmu?" tanya Melinda dengan hati yang mulai berdebar-debar.

"Aku ingin kamu menjadi tunanganku," kata Reyhan tanpa ragu, matanya tetap tak lepas dari wajah Melinda. "Atas dasar aku sudah membantumu, jadi kamu harus membantuku."

Melinda merasa tubuhnya seperti diserang oleh ribuan pertanyaan sekaligus. "Tunanganku? Kamu gila!" ia hampir berteriak, merasa marah dan bingung.

Reyhan hanya tersenyum tipis, seakan segala hal yang terjadi malam ini adalah bagian dari sebuah rencana yang tak bisa ia hindari. "Bukan soal gila, Melinda. Ini soal kesepakatan. Dan kamu tidak akan bisa menghindarinya."

Di saat itu, Melinda tahu hidupnya akan berubah selamanya. Tapi apakah ia siap untuk menerima konsekuensinya?

Bab 2

Melinda duduk diam di kursi mobil mewah milik Reyhan, tangan menggenggam tas tangan dengan erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa menahan dirinya dari ambruk. Setiap kata yang keluar dari mulut Reyhan masih terngiang di telinganya: "Aku ingin kamu menjadi tunanganku." Kalimat itu begitu asing, begitu tak masuk akal, dan pada saat yang sama, begitu nyata. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang, setiap detak terasa semakin menekan dadanya.

Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, namun dalam pikirannya, dunia seperti berjalan lebih lambat. Seolah ia terjebak dalam sebuah labirin yang tidak tahu arah keluarnya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Reyhan yang baru saja ia kenal, yang bahkan hanya membantunya karena kecelakaan di toilet, kini meminta hal sebesar itu? Mungkin Reyhan menganggapnya lemah, mudah dimanipulasi. Mungkin, pria itu hanya bermain-main dengannya-tapi mengapa ia merasa seperti ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi?

"Kenapa?" kata Melinda akhirnya, dengan suara hampir berbisik, tapi cukup jelas untuk memecah keheningan yang menekan di antara mereka. "Kenapa aku? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"

Reyhan tidak segera menjawab. Ia tetap fokus pada jalan di depan, matanya yang tajam melihat ke depan seakan bisa menembus segala halangan. Hening yang menyelimuti mobil itu terasa sangat berat, bagaikan sebuah beban yang tidak bisa diterima begitu saja.

"Karena kamu berbeda," jawab Reyhan akhirnya, suara rendah dan penuh makna. "Aku bisa melihatnya. Kamu bukan wanita yang mudah digoyahkan, bukan wanita yang akan dengan mudah tunduk pada tekanan. Kamu punya kekuatan dalam dirimu, Melinda. Itu yang aku butuhkan."

Melinda terdiam mendengar jawabannya. Sesuatu yang ia anggap sebagai kelemahan, sesuatu yang membuatnya merasa hancur beberapa waktu lalu, kini disebut sebagai kekuatan. Dia tidak tahu harus merasa terhina atau merasa terhormat.

"Dan kalau aku menolak?" tanya Melinda, mencoba untuk tidak menunjukkan betapa kacau hatinya. "Apa yang akan kamu lakukan padaku?"

Reyhan menoleh sejenak, dan ada tatapan aneh di matanya-sebuah tatapan yang sulit untuk dijelaskan. "Aku tidak akan melakukan apa pun padamu, Melinda. Aku hanya akan memberi waktu. Waktu untuk berpikir. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."

Melinda merasa ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya. Sakit. Dia merasa seperti dikepung oleh dinding yang semakin menyempit, tidak ada jalan keluar, tidak ada pilihan yang tersisa.

"Apa yang kamu inginkan dariku, Reyhan?" kali ini suara Melinda hampir pecah, menahan rasa amarah yang berkecamuk di dadanya. "Aku bukan mainanmu! Aku bukan sesuatu yang bisa kau tarik atau lepaskan sesuka hati!"

Reyhan menatapnya dengan penuh perhatian, seakan mencoba memahami emosi yang meluap dalam diri Melinda. Namun, ia tidak menarik kata-katanya. "Aku tahu kamu marah. Aku tahu ini tidak mudah untukmu. Tapi ingat, ini bukan hanya tentang kamu dan aku. Ini tentang apa yang terjadi setelah kamu menolak, apa yang akan terjadi pada hidupmu setelah ini."

Melinda merasa seolah dia terjepit di antara dua pilihan yang tidak bisa ia pilih. Di satu sisi, ia ingin menolak semuanya, ingin melupakan pria ini dan kembali ke hidup yang ia kenal sebelum semua kekacauan ini datang. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang tiba-tiba muncul, ketakutan akan konsekuensi dari penolakan itu, ketakutan bahwa Reyhan yang begitu kuat dan berpengaruh bisa membuat hidupnya semakin sulit.

"Apa yang akan terjadi pada hidupku?" tanya Melinda, matanya tajam menatap Reyhan. "Apa yang kamu lakukan? Apa yang bisa kamu lakukan padaku?"

Reyhan menghela napas panjang, seolah menarik sesuatu yang lebih dalam dari dalam dirinya sebelum berbicara. "Aku tidak akan membuat hidupmu lebih sulit, Melinda, tapi aku ingin kamu mengerti. Ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Jika kamu menolak, kamu akan kehilangan lebih banyak daripada yang bisa kamu bayangkan. Ada banyak orang yang menginginkan kamu dalam posisi ini. Posisi yang akan mengubah segalanya."

Melinda merasa sebuah kekhawatiran yang tak terlukiskan merayapi hatinya. Apakah Reyhan benar? Apakah ia akan terjerat dalam masalah yang lebih besar jika menolak? Sudah cukup ia terjatuh dalam pengkhianatan Raka dan Nadia. Kini, ia harus memilih-terima tawaran yang aneh ini atau melawan segala ketakutan yang ada dalam dirinya?

Namun, sesaat kemudian, Melinda tersadar. *Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku harus memikirkan ini?* pikirnya dalam hati. Ia tidak ingin menjadi wanita yang hanya menyerah pada situasi, apalagi pada seseorang seperti Reyhan. Tidak! Ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam jerat yang tidak ia inginkan.

"Tidak," kata Melinda, suara tegas meskipun hatinya bergejolak. "Aku tidak akan menjadi tunanganmu, Reyhan. Aku tidak akan terlibat dalam permainanmu ini."

Reyhan menatapnya dengan wajah datar, tidak terkejut, namun juga tidak terlihat marah. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan jawaban itu. Namun, ada sedikit kerutan di dahi dan matanya yang tajam menatap Melinda dengan cara yang sangat intens.

"Kalau itu yang kamu pilih, Melinda, maka kamu harus siap menghadapi segala akibatnya," kata Reyhan, suaranya semakin rendah dan penuh tekanan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja tanpa memperhitungkan apa yang terjadi setelah ini. Keputusanmu akan membawamu ke arah yang tak terduga."

Melinda merasa tubuhnya semakin dingin. Kata-kata Reyhan tidak pernah terasa begitu berat, begitu menekan. Setiap kata itu seperti belati yang menancap dalam-dalam ke dalam hatinya. Namun, ia tahu bahwa apapun yang terjadi, ia tidak bisa mundur. Ia harus bertahan. Ia harus berjuang.

Reyhan kembali menoleh ke jalan, mengalihkan pandangannya dari Melinda yang terdiam, menatap ke luar jendela. Mobil terus melaju dalam keheningan yang penuh ketegangan. Namun, dalam benak Melinda, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Apakah ia benar-benar siap menghadapi apa yang akan datang? Apa yang akan terjadi jika ia menolak tawaran Reyhan? Apa yang akan terjadi jika ia menerima?

Dan saat itu juga, Melinda tahu, hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi.

Bab 3

Pagi itu, Melinda terbangun dengan perasaan yang lebih kacau daripada sebelumnya. Setiap detik terasa seperti berat yang menekan tubuhnya, dan pikiran tentang Reyhan Azrael-pria yang baru saja dia kenal, tapi seolah sudah menguasai setiap sudut hidupnya-terus mengganggunya tanpa henti. Matahari yang menyinari kamarnya tidak membawa kehangatan sama sekali. Bahkan cahayanya terasa dingin, menyusup masuk melalui tirai kamar, membuatnya semakin merasa terperangkap dalam dunia yang asing.

Melinda mengangkat tubuhnya dari ranjang dengan langkah yang lemah, mencoba menghilangkan rasa pusing yang masih membayangi. Ia merasa seperti ada sesuatu yang tak terlihat membelenggunya, menahannya di tempat yang tak bisa ia pilih. Dalam pikirannya, hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar tanpa henti: *Apa yang harus aku lakukan?*

Ia berjalan menuju meja rias, menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lelah, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya-sebuah keputusasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah semua yang terjadi, setelah pengkhianatan yang ia terima, kini ia terjebak dalam dilema yang bahkan lebih sulit. Reyhan... seorang pria yang bahkan ia tidak kenal, kini memegang kendali atas jalan hidupnya.

Malam itu, setelah pertemuannya dengan Reyhan, pikirannya seperti dipenuhi oleh kata-kata yang dipilih pria itu dengan sangat hati-hati. *"Kalau itu yang kamu pilih, Melinda, maka kamu harus siap menghadapi segala akibatnya."* Kalimat itu terngiang begitu kuat, seolah-olah setiap kata adalah janji yang tak bisa dibatalkan, sebuah ancaman yang mengintai di baliknya. Apa yang akan terjadi jika ia menolak? Apa yang Reyhan mampu lakukan padanya?

"Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menghindar," gumam Melinda pada dirinya sendiri, menatap cermin dengan mata penuh keraguan. "Apakah ini yang disebut pilihan?"

Selama beberapa menit, ia terdiam, mencoba untuk tidak terjebak dalam kekalutan yang ada. Namun, suara ponselnya yang berdering tiba-tiba memecah kesunyian. Melinda mengerutkan kening saat melihat nama yang tertera di layar. Itu adalah pesan dari Reyhan.

*"Kamu punya waktu 24 jam untuk memutuskan. Aku akan menunggumu di kantor besok pagi. Jangan buat keputusan yang salah."*

Melinda menatap pesan itu dengan hati yang berdegup cepat. Ada perasaan kesal yang menggelora di dalam dirinya, namun juga ada ketakutan yang menggerogoti jiwa. Waktu. Itu kata yang paling menakutkan bagi Melinda. Reyhan memberi batas waktu. Sebuah ultimatum yang terasa seperti sebuah hukuman tanpa pengampunan.

Ia melemparkan ponselnya ke tempat tidur, berjalan mondar-mandir di ruang tamunya. Tubuhnya terasa kaku, setiap langkahnya terasa semakin berat, seperti terjerat dalam jaring yang semakin mengikat. Hatinya ingin melawan-ingin mengatakan tidak pada Reyhan, tetapi rasa takut itu begitu menguasai dirinya. Apa yang akan terjadi jika ia menolak? Apa yang akan terjadi pada hidupnya jika ia tidak mengikuti keinginan pria itu?

Reyhan adalah CEO dari salah satu perusahaan terbesar di Jakarta. Kekuasaannya tidak bisa dianggap sepele. Jika dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan mendapatkannya. Dan Melinda... melawan pria sekuat itu sama sekali bukan pilihan yang mudah. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan untuk bertahan, untuk tidak menyerah begitu saja.

"Aku tidak akan menjadi bagian dari permainan ini," bisiknya dengan suara gemetar, meski ia tahu kata-katanya mungkin tidak berarti apa-apa. Namun, ia tidak bisa berhenti. Ia tidak bisa menyerah begitu saja.

Namun, dalam malam yang sunyi itu, perasaan yang sangat aneh merayap dalam dirinya. Apakah itu takut? Atau... harapan? Melinda tahu bahwa dalam hatinya ada sesuatu yang memberontak, sesuatu yang mengatakan bahwa dia tidak bisa memilih Reyhan hanya karena ancaman yang disampaikan dengan begitu dingin. Tapi ada juga bagian dari dirinya yang ingin tahu apa yang akan terjadi jika ia menerima tawaran itu. Bukankah itu satu-satunya cara untuk melindungi dirinya dari segala bahaya yang bisa datang?

Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. Saat itu, teleponnya berdering lagi. Melinda menatap layar ponselnya dengan berat hati. Sekali lagi, itu adalah pesan dari Reyhan.

*"Aku tidak suka menunggu terlalu lama. Jangan membuatku datang ke sana sendiri."*

Pesan itu membuat dadanya terasa sesak. Melinda merasa seperti terpojok. Ia ingin menjauh dari semua ini, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa ini bukan hanya tentang Reyhan. Ini tentang dirinya sendiri. Tentang harga diri yang sudah hancur, tentang pengkhianatan yang masih membekas, dan tentang bagaimana ia ingin kembali mengendalikan hidupnya-meski itu berarti mengambil keputusan yang sulit.

Pagi harinya, Melinda memutuskan untuk pergi ke kantor Reyhan. Langkahnya terasa berat, dan setiap detik yang berlalu membuatnya semakin cemas. Setiap orang di sekitar kantor itu tampak sibuk, tapi semuanya terasa kabur di matanya. Ia hanya ingin melihat Reyhan, berbicara dengannya, dan mendengar apa yang dia inginkan-benar-benar ingin tahu alasan di balik semua ini. Kenapa dia? Kenapa sekarang?

Saat Melinda memasuki ruang rapat tempat Reyhan menunggunya, pria itu tidak terlihat terkejut. Seakan-akan ia sudah tahu bahwa Melinda akhirnya akan datang. Tatapannya yang dingin, namun penuh rasa ingin tahu, mengarah pada Melinda yang berdiri di ambang pintu.

"Melinda," ucap Reyhan pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Kamu akhirnya datang. Aku sudah menunggu."

Melinda tidak bisa menghindari tatapan tajamnya. Ia merasa seperti segerombolan badai melanda hatinya. "Aku datang untuk mendengar alasanmu, Reyhan," jawab Melinda, suaranya bergetar namun berusaha keras untuk tetap tegar. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"

Reyhan mengamati Melinda dalam diam, matanya tajam dan penuh arti. "Apa yang aku inginkan, Melinda, sudah aku katakan sebelumnya. Aku menginginkanmu sebagai tunanganku. Tapi ini lebih dari sekadar kesepakatan. Ini tentang siapa kamu dan apa yang kamu inginkan dari hidupmu. Kamu punya pilihan. Tapi aku harap kamu tahu, pilihan itu tidak semudah yang kamu kira."

Melinda merasa seolah setiap kata Reyhan seperti menghujam dalam-dalam. Ia tahu, kali ini, ia harus memilih dengan bijak. Namun, bagaimana bisa memilih antara kebebasan dan keinginan untuk tetap hidup dalam kenyamanan yang penuh dengan ancaman?

"Aku tak tahu apa yang harus aku pilih," ucap Melinda, suaranya hampir tak terdengar. "Tapi aku tahu, aku tidak bisa hidup terus-menerus dalam ketakutan."

Reyhan mendekat, matanya penuh makna. "Jika itu yang kamu pilih, Melinda, maka kamu tahu, semuanya akan berubah. Semua akan ada konsekuensinya."

Kali ini, Melinda tahu satu hal pasti: apa pun yang ia pilih, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED