[Terima kasih untuk yang semalam. Aku senang sekali kamu mau meluangkan waktu untukku.]
Barisan kata yang tersusun rapi di layar ponsel, Dika baca cepat di dalam hati. Merasa tak perlu membalas, jari-jarinya menghapus pesan dari nomor tanpa nama, yang sebenarnya ia kenal betul siapa orangnya.
Laki-laki itu kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Tak ia pedulikan sama sekali matahari yang terus merangkak naik di luar sana.
Seandinya bisa, hari ini ia hanya ingin menghabiskan waktunya di atas tempat tidur. Tanpa perlu di sibukkan dengan pekerjaan, tekanan, ataupun tuntutan dari orang-orang di sekitarnya. Ia hanya ingin mengistirahatkan raga dan jiwanya yang tengah kelelahan.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Dika terlonjak kaget. Lamunannya buyar karena suara lembut dari wanita yang sekarang tengah berjalan ke arahnya.
Dia Nindi, wanita yang selama empat tahun ini membersamai Dika dalam biduk rumah tangga.
"Kenapa belum mandi? Ini sudah siang, lho," ujarnya lembut.
Aroma lembut lavender memenuhi indra penciuman Dika begitu Nindi mendudukkan diri di sebelah laki-laki itu. Wanita itu bahkan telah tampil cantik dengan make-up tipis dan baju terusan selutut yang seks. Sangat berbanding terbalik dengan Dika yang hanya memakai celana pendek dan masih bau liur.
"Dingin," rengek Dika, menjawab pertanyaan istrinya tadi.
Masih dengan posisi berbaring, tangan Dika bergerak melingkari pinggang istrinya. Kepalanya ia benamkan di perut wanita itu dan ia hirup dalam-dalam aroma tubuh Nindi yang selalu memanjakan indra penciumannya.
"Mau aku siapkan air hangat?" tawar Nindi. Telapak tangannya merapikan rambut tebal Dika yang berantakan karena baru bangun tidur.
Dika menggeleng, menolak tawaran istrinya. "Biarkan aku seperti ini sebentar saja," ucapnya dengan mata terpejam.
"Kamu pasti kelelahan, ya?" tanya Nindi khawatir.
Tadi malam, Dika sampai di rumah hampir jam dua belas, lebih lambat tiga jam dari waktu biasanya, dikarenakan harus lembur. Sudah pasti suaminya ini kelelahan.
"Iya." Dika menjawab seadanya. Ia memang kelelahan, baik fisik maupun batinnya.
"Ya sudah nanti kamu berangkat agak siangan saja. Kak Bimo pasti mengerti kalau kamu kelelahan karena lembur semalam."
"Hm."
Nindi tak lagi bersuara. Wanita itu tahu yang Dika butuhkah saat ini hanyalah ketenangan. Ia memilih mengusap-usap rambut Dika yang selalu menjadi favoritnya.
Sementara di dalam hati, Dika tengah merapalkan kata maaf berkali-kali untuk istrinya. Ia sungguh mencintai Nindi, tapi ia juga tak kusa menghindarkan istrinya dari hal yang mungkin nantinya akan menyakiti wanita itu.
Cukup lama mereka terdiam dan membiarkan waktu berlalu dalam keheningan yang menentramkan. Hingga beberapa menit berlalu, Dika memutuskan beranjak dari posisinya dan duduk dengan punggung bersandar pada kepala ranjang.
"Sudah lebih baik?" Nindi bertanya dengan senyum menghias bibir.
"Belum," jawab Dika datar.
Laki-laki itu menatap mata istrinya dalam. Rambut depan Nindi yang menjuntai ia raih dan diselipkannya ke belakang telinga. Sebuah kecupan manis laki-laki itu hadiahkan di dahi istrinya.
"Kamu cantik," puji Dika tulus. Telapak tanggangnya yang lebar membelai pipi sang istri yang tengah tersipu karena pujiannya. "Aku janji tidak akan menyakitimu," lanjutnya dengan nada sendu yang tak Nindi sadari.
Wajah Nindi memancarkan rona bahagia mendengar ucapan Dika.
"Iya, aku percaya," ujar Nindi. Wanita itu kemudian berdiri di sisi ranjang. "Ayo bangun, Sayang. Kamu harus mandi kalau tidak mau semakin terlambat."
Bukannya langsung berdiri, Dika justru mengulurkan tangannya malas-malasan ke arah Nindi, membuat dengusan halus keluar dari hidung wanita itu.
"Dasar manja," ejek Nindi yang hanya dibalas senyum tanpa dosa suaminya.
Meski begitu, Nindi tetap meraih tangan Dika dan membantu suaminya itu berdiri. Sebenarnya, ia tak pernah keberatan dengan sikap manja laki-laki itu. Nindi justru senang bisa menyaksikan sifat lain Dika yang tak pernah ditunjukkannya pada orang lain.
Sepasang suami istri itu keluar kamar, menuju kamar mandi, dengan Dika yang merangkul mesra bahu Nindi. Kamar mandi di rumah mereka memang hanya ada satu, bersebelahan dengan dapur. Sesekali candaan keluar dari mulut Dika dan ditanggapi Nindi dengan tawa pelannya.
"Sayang!" panggil Dika ketika telah sampai di ambang pintu kamar mandi.
Ruang makan yang juga merangkap sebagai dapur terletak bersebelahan dengan kamar mandi, membuat Nindi yang tengah menyiapkan sarapan dapat mendengar panggilan Dika dengan jelas.
Wanita itu menoleh dengan raut tanya.
"I love you!" Dika meneriakkan kata-katanya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi serta menutup pintunya dengan meninggalkan suara debam yang keras.
Warna merah seketika merambati wajah Nindi. Ia terkejut sekaligus malu. Meski sudah empat tahun bersama, ia masih belum terbiasa dengan sikap manis suaminya.
Nindi menunduk salah tingkah. "I love you too," balas Nindi lirih, yang jelas tak mungkin didengar Dika. Ia tak mungkin berteriak seperti Dika dan berakhir menjadi tertawaan tetangga.
Dengan wajah berbinar, Nindi kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terjeda.
Berlebihankah jika Nindi mengatakan ia jatuh cinta pada Dika setiap hari?
***
Setelah melepas kepergian Dika hingga depan pintu dan memastikan mobil laki-laki itu tak lagi terlihat, Nindi bergegas masuk ke rumah.
Baju terusan seksi yang tadi melekat di tubuh, ia ganti dengan kaos longgar berlengan pendek serta celana kain yang hanya mampu menutupi setengah pahanya.
Jujur saja, Nindi lebih nyaman mengenakan baju longgar dengan bentuk yang sederhana. Jika bukan karena Dika yang selalu menyuruhnya tampil feminin dan seksi, mana mau ia mengenakan semua pakaian yang mencetak bentuk tubuh dengan jelas itu.
Baginya baju-baju seksi itu hanya bentuk baktinya pada Dika. Ia hanya ingin suaminya senang karena kepuasan batinnya terpenuhi. Baju-baju longgarnya bisa ia kenakan ketika sendiri atau saat berhadapan dengan orang lain.
Selesai urusan baju, Nindi mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Ini akan memudahkannya dalam beraktivitas.
Pekerjaan rumah wanita itu pun dimulai.
Tidak banyak sebenarnya yang perlu Nindi kerjakan. Ia dan Dika sama-sama menyukai kebersihan dan kerapian.
Baju kotor yang telah menumpuk di dalam keranjang, Nindi masukan ke dalam mesin cuci. Ia kemudian membersihkan sisa sarapan tadi dan mencuci piring sembari menunggu mesin cuci berputar.
Empat tahun mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang diri membuat Nindi terbiasa mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Selain bisa menghemat waktu, ia juga bisa bersantai lebih cepat.
Setelah ini ia masih harus menjemur pakaian, menyiram tanaman, membersihkan lantai, dan menyetrika baju. Semua pekerjaan rumahnya harus selesai ketika Dika tak di rumah. Karena saat laki-laki itu pulang, waktunya hanya ada untuk memanjakan dan memperhatikan suaminya itu.
Baru saja Nindi mengangkat baju dari mesin cuci, suara bel rumahnya berbunyi nyaring.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" monolog Nindi heran.
Belum juga Nindi melangkah meninggalkan cuciannya, bel rumahnya kembali berbunyi berkali-kali dengan jarak yang rapat, seolah tamu di sana tak sabar untuk segera dibukakan pintu.
"Iya, tunggu sebentar!" teriak Nindi berharap orang di luar sana mau menunggu.
Dengan tergesa Nindi berjalan ke arah pintu depan.
Ketika pintu depan terbuka, sesosok perempuan yang tak asing bagi Nindi berdiri di depannya dengan penampilan yang berantakan. Di gendongannya ada seorang bayi berusia sekitar lima bulan yang tertidur dengan nyenyak.
Dahi Nindi mengernyit melihat pemandangan itu. Ada apa dengan perempuan di depannya ini?
Bersambung..
Ketika pintu depan terbuka, sesosok perempuan yang tak asing bagi Nindi berdiri di depannya dengan penampilan yang berantakan. Di gendongannya ada seorang bayi berusia sekitar lima bulan yang tertidur dengan nyenyak.
Dahi Nindi mengernyit melihat pemandangan itu. Ada apa dengan perempuan di depannya ini?
"Erin, kamu kenapa?" Nindi menatap heran pada wanita di hadapannya.
Nindi baru kali ini melihat wanita yang menjadi tetangganya itu begitu memprihatinkan. Wajah dan rambut yang biasanya enak dipandang, sekarang begitu kusut dan kacau. Ada sisa air mata yang meninggalkan jejak di pipi wanita itu.
"Nindi, boleh aku masuk?" tanya Erin serak.
Meskipun bingung, Nindi mengangguk dan mempersilahkan tamunya itu untuk memasuki rumah.
Setelah menidurkan anak Erin di kamar tamu, kedua wanita itu duduk bersisian di sofa ruang tengah.
"Minum dulu, Rin!" Nindi menawarkan minuman yang tadi dibawanya dari dapur.
Erin hanya bungkam, membuat Nindi bingung harus melakukan apa.
Keadaan Erin jelas sedang tidak baik-baik saja, tapi bertanya soal kenapa wanita itu bisa sekacau ini jelas bukan pilihan yang bijak. Jadi, Nindi memilih meletakan tangannya di bahu Erin dan mengusapnya pelan, berharap wanita itu bisa lebih nyaman karena sentuhan kecilnya.
Namun, siapa sangka, tanggapan Erin justru membuat Nindi terkejut. Wanita dengan rambut sebahu itu menangis sesenggukan dengan kedua tangan menangkup wajah.
"Nindi, aku harus bagaimana?" Erin meracau di tengah-tengah tangisnya.
Nindi yang tidak terbiasa menghadapi orang menangis hanya bisa terdiam dan mengusap-usap punggung wanita di sebelahnya agar tenang.
Ada banyak tanya yang sebenarnya ingin Nindi ajukan. Namun, melihat Erin yang kacau seperti ini, rasanya percuma jika ia ajak bicara. Jadi Nindi menyimpan semua rasa penasarannya dan membiarkan Erin menangis sepuasnya terlebih dulu.
"Sudah lebih baik?" Nindi memberikan tisu yang diambilnya dari meja, ketika Erin membuka wajahnya dan tangisnya telah berhenti.
Erin mengangguk dan menerima uluran tisu yang Nindi berikan untuk menghapus air matanya. Wanita itu memukul dadanya pelan, berharap dengan begitu sesak yang ia rasa bisa berkurang.
"Mau cerita?" Nindi bertanya hati-hati. Ia tak ingin membuat Erin tak nyaman dan menganggapnya terlalu penasaran.
"Ifan selingkuh."
Suara lirih Erin terdengar bagai guntur di telinga Nindi.
Suami Erin selingkuh? Bagaimana mungkin? Setahu Nindi rumah tangga Erin dan Irfan baik-baik saja. Bahkan akhir-akhir ini Erin kerap kali menceritakan perhatian Ifan yang bertambah setelah dirinya melahirkan.
"Siapa yang bilang? Bisa saja itu sekedar rumor, 'kan?"
"Aku melihatnya sendiri, Nin." Air mata Erin kembali jatuh saat mengingat kejadian yang ia lalui beberapa jam ke belakang. "Tadi malam aku tidak sengaja melihat chat mesra di ponsel Ifan. Awalnya aku kira itu hanya candaan karena nomor itu diberi nama laki-laki," lanjut Erin terbata-bata. Terlihat betul wanita itu tengah menahan tangisnya.
Sementara Nindi hanya diam seraya mengusap-usap lengan Erin. Ia hanya menunggu wanita di sampingnya melanjutkan cerita.
"Aku sebenarnya tidak mau menaruh curiga pada suami sendiri. Namun, chat itu benar-benar membuatku tidak tenang. Akhirnya, tadi pagi aku nekat mengikuti Ifan. Siapa sangka, bukannya ke studio, Ifan justru ke restoran. Dia menemui perempuan cantik seusiaku di sana," cerita Erin sedih. Matanya buram karena air yang mulai menggenang.
"Kamu sudah memastikan perempuan itu siapa? Bisa saja perempuan itu model yang sedang ditangani Ifan, 'kan?" Nindi mencoba berpikir positif.
Irfan adalah seorang fotografer yang sering memotret model-model papan atas. Jadi, tak menutup kemungkinan jika perempuan yang Ifan temui adalah model yang tengah laki-laki itu tangani, 'kan?
"Aku juga akan berpikir seperti itu jika tidak melihat mereka berpelukan dan suap-suapan."
Nindi kehilangan kata. Ia hanya bisa memberikan pandangan simpati pada Erin.
"Aku benar-benar kecewa pada Ifan. Dia bahkan membela perempuan itu ketika aku melabrak mereka."
"Kamu melabrak mereka?" pekik Nindi dengan raut terkejut yang tak dapat ditutupi.
Erin mengangguk lemah. "Aku emosi. Aku hanya ingin Ifan tahu kalau perbuatannya sangat menyakiti aku. Tapi bukannya menenangkan, dia justru membentaknya. Dia bilang aku membuatnya malu. Padahal aku hanya sedang mengungkapkan kekecewaanku. Apa aku salah?"
Nindi menghela nafas atas ucapan Erin. Dia tak bisa menyalahkan perempuan itu karena memang kebanyakan orang tak dapat berpikir jernih ketika marah. Namun ia juga agak menyayangkan tindakan gegabah Erin yang melabrak Ifan dan selingkuhannya.
"Jika kamu bertanya apa kamu salah atau tidak karena melabrak mereka, maka aku akan menjawab salah. Kamu salah, Erin," ujar Nindi dengan tatapan lurus pada lawan bicaranya.
"Dengar!" potong Nindi ketika melihat Erin hendak protes. "Laki-laki adalah makhluk egois. Itu sudah jadi rahasia umum. Mereka akan mencari alibi, bahkan bisa memutar balikan fakta ketika tertangkap basah melakukan kesalahan," ujar Nindi seraya menatap Erin " Mereka juga manusia dengan harga diri tinggi. Perbuatanmu yang melabrak mereka jelas melukai harga diri Ifan sebagai lelaki. Bukannya mendapat simpati seperti yang kamu harapkan, Ifan justru akan semakin terpancing amarahnya. Dia akan menganggapmu tidak bisa menjaga martabatnya sebagai suami dan semakin yakin bahwa kamu memang pantas untuk diselingkuhi."
Erin ingin menyanggah, tapi akhirnya hanya diam karena yang diucapkan Nindi memang benar.
Sikap Ifan tadi padi menjelaskan betapa benarnya hipotesis Nindi. Laki-laki itu, meski telah tertangkap basah tengah selingkuh, tetap tidak mau disalahkan. Ifan justru menyuruh Erin berkaca kenapa dirinya bisa selingkuh. Dia juga mengatakan bahwa Erin membuatnya malu dan menurut Ifan, perempuan tidak punya adab sepertinya pantas untuk diselingkuhi.
"Kamu sudah tanya kenapa Ifan selingkuh?" Nindi bertanya ketika Erin terus diam.
Erin menatap Nindi tidak mengerti. "Apa itu penting?"
Bagi Erin sudah jelas, orang yang selingkuh adalah orang yang tidak bisa setia, titik. Tidak ada alasan lain. Jika mereka menjabarkan semua kekurangan pasangannya, itu hanya alasan untuk menutupi kecurangan mereka.
"Semua akibat pasti ada karena sebab, 'kan?"
Erin menghela nafas lelah. Dijatuhkan punggungnya pada sandaran sofa di belakangnya.
"Aku tidak tahu," jawab Erin dengan pandangan menerawang. " Beberapa bulan ini sikap Ifan memang berubah. Bukan ke arah negatif, dia justru berubah menjadi lebih manis. Dia yang biasanya cuek, berubah menjadi sangat perhatian. Dia bahkan dengan suka rela membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Bodohnya aku menganggap itu salah satu bentuk terima kasihnya karena aku telah melahirkan Rafif. Siapa sangka itu hanya trik untuk menutupi perselingkuhannya."
"Dia pernah mengeluhkan sesuatu tentang dirimu atau pelayananmu sebagai seorang istri?" tanya Nindi lagi.
Erin tampak berpikir, sebelum menjawab, "Em ... sepertinya pernah. Ia pernah mengeluh kalau aku kurang perhatian padanya. Aku terlalu sibuk mengurus Rafif sampai lupa kalau ada suami yang juga harus aku urus."
"Dan tuduhan Ifan benar?" selidik Nindi.
"Ya, memang sekarang aku lebih sibuk dengan Rafif. Apa dia tidak bisa mengerti keadaan? Aku sudah lelah mengurus rumah, Rafif, dan bisnis online-ku. Jangankan untuk memperhatikan Ifan, memperhatikan diri sendiri saja aku tidak punya waktu!" Erin berucap emosi. Ia merasa Nindi juga tengah menyudutkannya dengan bertanya seperti tadi.
Nindi tak tersinggung sama sekali melihat Erin marah padanya. Dia sungguh paham betapa kacaunya perempuan di hadapannya sekarang.
"Lalu sekarang kau mau bagaimana?" tanya Nindi setelah Erin tenang. "Mau melanjutkan pernikahan kalian atau menyerah sampai di sini?"
Erin menunduk, dadanya bergemuruh karena ucapan Nindi. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang saat ini tengah berputar-putar di kepalanya.
"Aku tidak tahu," lirih Erin putus asa. "Jujur, aku masih sangat mencintai Ifan, tapi aku juga tidak bisa menahan rasa sakit atas pengkhianatan yang dia lakukan. Aku harus bagaimana, Nin?" isaknya dengan kepala masih tertunduk.
"Mau dengar pendapatku?" tawar Nindi sehalus mungkin. Ia tak ingin Erin tidak nyaman karena menganggapnya terlalu menggurui.
Erin mendongak ke arah Nindi.
"Jangan cerai," ucap Nindi mantap. "Kamu ingat ada Rafif di antara kalian, 'kan?"
Erin mengangguk lemah.
"Jika kalian bercerai, maka Rafif akan menjadi yang paling dirugikan. Lukamu mungkin bisa hilang seiring berjalannya waktu. Kamu dan Ifan juga suatu saat bisa menikah lagi. Sedangkan Rafif? Sudah pasti dia akan kehilangan kesempatan untuk merasakan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Jadi, aku harap kamu lebih memikirkan nasib Rafif ke depannya dari pada hanya mengedepankan emosi."
"Aku pasti bisa mengasuh Rafif sendiri. Banyak anak yang sukses meski hidup dengan orang tua tunggal."
"Benar," jawab Nindi mantap. "Kamu bisa memberinya limpahan materi, bisa memberikannya pendidikan yang terbaik, kemudian menuntunnya menuju kesuksesan. Tapi apa kamu pernah bertanya bagaimana perasaan seorang anak yang orang tuanya bercerai? Bahkan setelah dewasa pun, seorang anak menginginkan orang tuanya tetap utuh."
Erin menatap Nindi lekat, hingga ia teringat satu hal. Ia pernah mendengar jika orang tua Nindi bercerai ketika perempuan itu masih kecil. Nindi dan ibunya harus hidup berdua dengan keadaan serba kekurangan, sementara ayahnya pergi dengan membawa kakak laki-laki Nindi. Hingga ketika Nindi masuk SMA dan kedua orang tuanya meninggal, Nindi kembali bertemu dengan kakaknya dan mereka hidup berdua.
Jadi, nasihat yang Nindi berikan adalah pengalaman hidup wanita itu sendiri? Dia pasti tidak ingin Rafif hidup sepertinya.
"Apa hidup dengan orang tua yang bercerai sangat buruk?" tanya Erin hati-hati. Jujur, ia takut pertanyaannya akan membuat Nindi tersinggung.
"Lebih buruk dari ketika kita kehilangan satu kaki," jawab Nindi dan tersenyum masam. Wanita itu meminum jus di depannya, kemudian kembali menatap Erin.
"Semua keputusan ada di tanganmu dan Ifan. Aku harap apa pun keputusan kalian nantinya adalah yang terbaik untuk kamu, Ifan, dan Rafif."
Erin kembali menangis, kali ini suaranya semakin keras. Nindi yang tak tega merengkuh perempuan itu dalam pelukan.
"Aku harus bagaimana, Nin? Aku bingung. Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" Erin terus meracau frustrasi.
Nindi mengusap-usap punggung Erin, terus memberinya dukungan.
Nindi tahu sekali rasanya dikhianati. Dulu, ia pernah dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percayai. Rasanya benar-benar sakit dan semakin sakit karena ia tak punya satu orang pun yang mendukungnya untuk melewati masa-masa itu. Maka dari itu ia ingin menjadi orang yang memberikan dukungan pada Erin dan mendengarkan segala keluh kesah perempuan itu.
"Kamu harus kuat, Rin. Kamu harus kuat!"
Erin semakin mengencangkan tangisnya di pelukan Nindi, tak peduli sama sekali dengan baju Nindi yang basah karena air matanya. Baru setelah tangisnya reda, Erin merenggangkan pelukan mereka.
"Apa yang harus aku lakukan agar pernikahanku dan Ifan tidak hancur, Nin?" Erin bersuara serak.
"Saran aku, kamu harus minta maaf pada Ifan."
Erin hendak menyela. Ia jelas tidak terima. Kenapa dia yang harus meminta maaf, padahal jelas-jelas Ifan yang berkhianat? Namun, melihat Nindi yang meletakan jari di depan bibir, Erin mengurungkan niat.
"Tundukkan egomu, Rin. Minta maaf pada Ifan karena sekarang kamu kurang memperhatikannya. Tanya apa maunya dan kamu katakan juga apa keluhanmu, beri pengertian pada Ifan kenapa sekarang kamu tidak bisa memperhatikannya lagi, kemudian kalian cari solusi sama-sama."
"Bagaimana kalau Ifan masih berhubungan dengan perempuan itu?"
"Soal perempuan itu, tidak usah kamu pikirkan apalagi sampai kamu mendatanginya untuk membalas dendam. Cukup kamu dan Ifan mau berubah, aku yakin pernikahan kalian tidak akan hancur. Terdengar tidak adil sekali, ya? Tapi memang begitu sih menurutku solusi terbaiknya."
Erin terdiam mendengar ucapan Nindi. Apa iya saran Nindi akan berhasil?
"Jangan lemah kalau kamu mau mempertahankan Ifan," ujar Nindi. "Perempuan cantik dan baik sepertimu tentu banyak yang menyukai, termasuk suamimu sendiri. Tentang perselingkuhan Ifan, kamu sudah tahu sendiri alasannya. Sekarang tinggal bagaimana kalian saja. Yang paling penting, jangan sampai kalian melupakan Rafif."
Erin menatap Nindi dengan haru. Ia beruntung sekali memiliki tetangga sekaligus teman yang pengertian seperti perempuan ini.
"Nindi!" panggil Erin, membuat Nindi menatapnya. "Terima kasih. Katakan, harus dengan apa aku membalas kebaikanmu?"
Nindi tampak berpikir, kemudian melirik baju bagian bahunya yang basah "Kamu bisa membelikanku baju baru."
Erin tertawa mendengar candaan Nindi.
"Nanti aku belikan tiga."
"Aku tunggu," jawab Nindi dengan senyum di bibir. Ia senang bisa melihat Erin tertawa lagi.
"Kamu dan Dika memang pasangan serasi ya. Baik, ramah, dan pengertian. Kalian serasi."
Nindi terdiam mendengar pujian Erin. Apa selama ini Erin memperhatikan Dika? Kenapa Erin bisa tahu seperti apa kepribadian Dika? Padahal setahu Nindi, Dika tak pernah mengobrol dengan Erin, apalagi akrab.
"Kamu lapar? Mau aku siapkan makanan?" Nindi segera mengalihkan pembicaraan. Ia tidak suka wanita lain memuji-muji suaminya, meskipun itu teman dekatnya sekalipun.
"Kalau boleh, aku mau menumpang tidur di sini sebentar saja."
"Boleh. Asal kamu sudah harus bangun sebelum suamiku pulang."
"Tentu."
***
Setelah Erin menyusul anaknya tidur, Nindi termenung di ruang tengah. Televisi di hadapannya menyala, tapi pikirannya berkelana entah ke mana.
Niatnya setelah sesi curhat Erin selesai, Nindi ingin melanjutkan pekerjaan rumahnya yang sempat tertunda. Namun, pengakuan Erin tentang perselingkuhan Ifan sungguh mengganggu pikirannya. Wanita itu menjadi takut kalau Dika tertarik dengan perempuan lain di luar sana.
Tak ingin terus-terusan dihinggapi pikiran buruk, wanita itu bergegas mencari ponselnya dan menelepon Gany, kakak kandungnya yang tinggal di Pulau Kalimantan. Ia akan meminta saran pada kakak laki-lakinya itu.
'Halo, Dek. Ada apa?' Suara di seberang sana terdengar, begitu panggilan Nindi diangkat.
"Bang Gany, ada tetanggaku yang main ke rumah."
'Hm, lalu?'
"Dia bilang suaminya selingkuh," cerita Nindi. “Aku jadi takut Dika melakukan hal yang sama. Menurut Bang Gany aku harus bagaimana?"
Terdengar helaan nafas sebelum laki-laki di ujung telepon sana menjawab, 'Jangan banyak berprasangka buruk, Dek. Dari pada kamu berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kamu berikan suamimu perhatian yang banyak. Abang yakin, semua laki-laki suka diperhatikan, apalagi oleh istrinya sendiri.'
"Begitu ya, Bang? Ya sudah, aku mau menghubungi Dika dulu."
‘Oke.'
Panggilan itu Nindi putus.
Tanpa berpikir lama, Nindi mengirim pesan pada Dika.
[Sayang, sudah makan siang?] Nindi mengawalinya dengan basa-basi ringan.
[Jangan makan dekat perempuan lain ya, Sayang.] Nindi membaca ulang pesan keduanya sebelum ia kirim. Apa ia terkesan terlalu cemburuan dan protektif?
Buru-buru Nindi hapus pesan itu dan mengetik kembali.
[Jangan lupa makan siang ya, Sayang. Aku tidak mau kamu sakit karena terlambat makan.] Nindi akhirnya mengirim pesan itu.
Benar kata Gany, ia harus memberikan limpahan perhatian pada Dika. Ia juga tak perlu membuat Dika risi dengan pikiran-pikiran buruknya yang tak berdasar.
Nindi hanya berharap Dika dapat menjaga hati di luar sana.
***
Ruangan besar dengan banyak alat masak yang berjejer rapi itu lengang. Tinggal Dika yang masih berkutat dengan beberapa jenis bahan makanan dan segala tetek bengek alat masaknya.
"Belum pulang, Dik?"
Dika menoleh dan mendapati Bimo—kakak ipar sekaligus pemilik restoran tempatnya bekerja—berdiri di ambang pintu dapur
"Sebentar lagi pulang, Kak," jawabnya. "Ini baru selesai mencoba resep baru."
"Oh ya?" Bimo berjalan ke arah Dika. "Sudah selesai? Boleh aku coba?"
Dika mengangguk dan Bimo mencomot potongan kecil daging bebek yang Dika masak.
"Sebenarnya ini masih butuh saran Nindi. Dia punya selera bagus dalam menilai makanan. Rencananya besok pagi baru mau aku serahkan pada Kak Bimo untuk uji kelayakan."
"Ini sudah enak," kata Bimo memberi komentar. "Tapi kalau kau masih perlu saran Nindi, tidak masalah. Aku justru senang kau selalu melibatkan istrimu dalam pekerjaan."
Dika tersenyum tipis mendengar komentar Bimo.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Chef Dika." Bimo tersenyum jahil, menggoda adik iparnya.
Dika mengangguk seraya terkekeh pelan. "Hati-hati, Kak."
Setelah meletakan makanan uji cobanya ke dalam kotak makan, Dika segera mengganti bajunya di ruang ganti.
Ini sudah jam sembilan lebih. Restoran sudah tutup sejak setengah jam lalu. Hampir semua pegawai telah pulang ke rumah masing-masing. Tinggal ia, OB, dan satpam yang berjaga di luar yang tersisa.
Dika memasuki mobilnya dan meletakan punggung di sandaran kursi. Hari ini restoran begitu ramai, membuat ia dan rekan-rekannya harus bekerja ekstra untuk melayani pelanggan. Bahkan mereka yang biasanya memiliki waktu istirahat panjang, harus rela makan siang dengan tergesa agar dapat segera kembali bekerja.
Dika baru ingat, seharian ini ia tak memegang ponsel. Padahal biasanya ia selalu makan siang di temani chat dari istrinya.
Dirogohnya ponsel pada saku jaket dan langsung membuka aplikasi WhatsApp.
Senyum laki-laki itu terbit ketika membaca pesan Nindi tadi siang. Istrinya itu memang selalu perhatian, membuat rasa cinta pada wanita itu kian bertambah setiap harinya.
[Aku akan segera pulang.] Dika mengirim chat pada Nindi.
Seolah tengah menunggu pesan Dika, balasan Nindi datang dengan cepat.
[Hati-hati di jalan.]
[Siap, Sayang. Mau aku bawakan sesuatu?]
[Kamu membawa badan dalam keadaan sehat pun aku sudah senang]
Dika tak dapat menahan senyumnya membaca pesan Nindi. Meskipun wanita itu memiliki sifat pemalu, tapi jika sudah berbalas pesan kata-katanya tak kalah manis dari pujangga.
[Badan yang sehat ditambah hati yang selalu memujamu, bagaimana? Apa aku bisa dapat hadiah?]
Dika tersenyum sendiri membaca tulisannya. Dia selalu merasa menjadi remaja kasmaran ketika dihadapkan dengan Nindi.
[Hadiah bisa diambil ketika kamu sampai rumah. Makanya cepat pulang. Hadiahnya hangus kalau kamu terlambat.]
Dika membalas pesan Nindi untuk yang terakhir. [Siap Ratuku, aku akan segera pulang.]
Dika mengembalikan ponselnya ke saku jaket dan hampir memutar kunci mobil sebelum ponselnya berdering.
Dahinya mengernyit melihat nomor tanpa nama membuat panggilan. Nomor itu adalah nomor yang tadi pagi mengiriminya pesan berisi ucapan terima kasih. Untuk apa perempuan itu menelepon?
"Ada apa?" tanya Dika tanpa basa-basi setelah mengangkat panggilan
'Dika, kamu di mana? Kamu lupa ada janji bertemu denganku?'
Astaga! Dika baru ingat jika kemarin mamanya menyuruh ia menemui wanita yang tengah bicara padanya ini.
"Kamu di mana?" tanya Dika.
'Mona Resto and Caffe, meja nomor 34.'
"Tunggu di sana. Aku segera datang." Dika langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu tanggapan lawan bicaranya.
Dika menyalakan mobil dan melajukan benda itu dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera sampai di sana, membahas yang perlu dibahas, kemudian pulang ke rumah dan bertemu Nindi. Ia tak ingin Nindi curiga dan berpikir macam-macam karena ia terlambat sampai di rumah.
***
"Astaga Sayang, kenapa kamu baru sampai? Aku benar-benar khawatir. Kenapa teleponku juga tidak diangkat?"
Dika tersenyum mendapat sambutan dari wanita yang baru saja membukakannya pintu rumah.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi, 'kan?" cecar Nindi, memeriksa setiap jengkal badan suaminya.
"Ada," jawab Dika, pura-pura sedih.
"Benarkah? Apa yang terjadi?" Nindi bertanya khawatir.
"Aku merindukanmu."
Nindi memukul dada suaminya dengan geram. Padahal ia sudah sangat khawatir, tapi jawaban Dika justru begitu menyebalkan. Terlebih, ketika melihat wajah laki-laki itu yang seperti menahan tawa, rasa jengkel Nindi semakin menjadi-jadi.
Nindi berbalik badan, hendak meninggalkan Dika. Namun, tangan Dika terlebih dahulu melingkari perut Nindi dari belakang.
"Apa merindukanmu bukan masalah? Padahal aku sangat tersiksa," bisik Dika di sela leher Nindi.
Nindi mencubit lengan Dika, membuat suaminya itu meringis kesakitan, tapi enggan melepaskan pelukannya.
"Sayang, tanganku sakit," rengek Dika, seolah tengah mengadu.
Nindi melepaskan pelukan mereka dan berbalik menatap Dika.
"Kenapa baru pulang?" tanya Nindi ketus.
"Tadi aku bertemu teman lama. Kami mengobrol banyak hal sampai lupa kalau waktu banyak terlewat. Maaf ya, Sayang, aku membuatmu khawatir."
"Teman lama? Siapa? Perempuan?" Nindi mencecar Dika dengan banyak tanya.
Mata Dika memicing dengan senyum menggoda.
"Kamu cemburu?" godanya dengan nada jahil.
"Apa? Tidak, aku tidak cemburu," sangkal Nindi dengan salah tingkah. Wajahnya bahkan memerah karena malu.
"Kamu lucu sekali sih, Sayang. Aku jadi ingin menggigit pipimu." Dika mencubit pipi istrinya yang tembam dengan gemas.
Nindi berusaha keras menyingkirkan jari-jari Dika dari pipinya.
"Aku tidak cemburu!" tegas Nindi setelah berhasil menghempas tangan suaminya. "Dasar menyebalkan! Aku tidak mau membuatkanmu teh hangat, tidak mau menyiapkan keperluan mandimu, apalagi menemanimu makan malam. Siapkan saja semuanya sendiri!" rajuk Nindi dan meninggalkan suaminya dengan langkah yang dientakkan.
Dika tersenyum geli melihat tingkah istrinya. Wanita itu memang tipe yang selalu serius. Ia bisa marah seperti itu ketika dirinya bercanda di waktu yang tidak tepat.
Setelah menutup pintu utama di belakangnya, Dika bergas menyusul Nindi.
"Sayang, kenapa kamu marah? Aku suka kok kalau kamu cemburu. Lucu."
"Andika Mahendra, diam! Aku mau tidur!” jerit Nindi jengkel.
"Jangan tidur dulu, Sayang. Aku lapar. Memangnya kamu tega membiarkan suamimu ini kelaparan? Nanti kalau kadar ketampananku berkurang karena jadi kurus, kamu sendiri yang rugi. Aku juga membawakanmu resep baru. Kau coba ya, setelah itu berikan pendapatmu." Dika mencecar istrinya seraya mengekori langkah panjang wanita itu.
Nindi menghentikan langkahnya dan mendelik ke arah Dika. "Aku tidak mau menjadi tikus percobaanmu lagi!” sentaknya dan kembali meninggalkan Dika.
Dika tersenyum atas apa yang ia lalui detik ini. Dalam hati berharap kebahagiaannya ini akan berlangsung lama. Tak akan goyah meski masa lalu dan orang-orang sekitar menyuruhnya menyerah.
"Sayang, tunggu aku!" Dika mengejar langkah Nindi. Ia yakin, meski tengah jengkel, Nindi tak akan tega membiarkannya menyiapkan keperluannya seorang diri.
Bersambung..
Pagi ini kabut tebal menyelimuti langit Jakarta. Dika yang baru saja Nindi bangunkan enggan beranjak dari ranjang karena udara dingin yang menusuk kulit. Laki-laki yang hanya mengenakan celana pendek itu justru menarik tubuh istrinya agar ikut berbaring dan mengurung tubuh mereka di bawah selimut tebal.
"Sayang, ini sudah siang. Kamu tidak takut terlambat?" ucap Nindi pelan.
Dika tak menggubris ucapan Nindi. Ia sedang sibuk mendekap tubuh istrinya dan menghirup aroma segar dari tengkuk wanita itu.
"Ihh sayang, geli." Nindi berusaha berkelit dari bibir Dika yang berada di lehernya. "Ayo cepat mandi, Bapak Andika Mahendra! Anda bau."
"Jangan berisik, Sayang. Ini masih dingin. Biarkan aku panas dulu, baru setelah itu kita mandi sama-sama." Dika menurunkan baju yang menutupi bahu istrinya dan membuat tanda kemerahan di sana.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini jadi pemalas seperti ini, sih, Sayang? Kasihan Kak Bimo kalau restorannya rugi gara-gara salah satu chef-nya malas seperti kamu."
Dika mendongak dan memandang Nindi sengit. "Berisik!" katanya tajam "Kalau kamu tidak mau diam nanti aku cium sampai napasmu habis. Mau?"
Nindi mendelik dan tanpa aba-aba ia melayangkan sebuah cubitan di perut Dika yang tak tertutup sehelai benang pun.
"Aduh Sayang, lepas. Sakit! Sakit!" Dika melepaskan cubitan istrinya dan memandang wanita itu dengan tatapan memelas. "Kamu kenapa jadi sadis seperti ini, sih, Sayang? Kamu tidak tahu kalau melakukan kekerasan itu ada hukum pidananya? Kamu mau masuk penjara?"
"Biar saja. Aku kesal denganmu. Kenapa, sih, otakmu mesum sekali?"
"Mesum-mesum begini juga suamimu."
"Terpaksa," balas Nindi ketus.
"Jangan bilang terpaksa, Sayang. Nanti kalau aku diambil perempuan lain baru kamu menangis meraung-raung."
Nindi tersentak mendengar ucapan Dika. Matanya yang bulat memandang laki-laki itu tajam, membuat Dika yang menyadari perubahan raut wajah Nindi menjadi khawatir.
"Sayang, kenapa menatapku begitu? Horor." Dika tersenyum kikuk.
"Jaga ucapanmu!" ujar Nindi tajam. Dengan kasar dilepaskannya pelukan Dika dan ia bergegas berdiri.
Dika tak tinggal diam. Ia menarik Nindi hingga perempuan itu terduduk di ranjang dengan tangan yang ia genggam erat.
"Kamu marah, Sayang? Aku hanya bercanda," ujar Dika yang merasa cemas melihat perubahan ekspresi wajah istrinya.
Nindi tersenyum sinis. "Apa arti bercanda sudah berubah? Bukankah tujuan bercanda adalah untuk membuat orang lain tertawa? Lalu menurut kamu, apa ucapanmu tadi bisa membuat tertawa?"
Dika menatap istrinya yang tengah diliputi amarah dengan pandangan bersalah. Ia tak menyangka ucapan spontannya dapat menyulut emosi Nindi.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku mohon maafkan aku, ya."
Nindi menghela nafas kasar. "Sudah, lupakan saja. Lebih baik kamu cepat mandi, setelah itu kita sarapan. Jangan sampai kamu terlambat masuk kerja."
Dika mendekap tubuh Nindi sebelum wanita itu berdiri lagi. "Maafkan aku dulu, baru aku akan melakukan seperti yang kamu bilang."
Nindi berusaha melepaskan pelukan Dika, tetapi karena tenaga laki-laki itu lebih besar darinya membuat posisis mereka tak berubah.
"Tidak akan aku lepas sebelum kamu memaafkanku," ujar Dika.
Nindi tak kehilangan akal. Ia mencubit perut Dika dengan keras hingga laki-laki itu memekik kesakitan dan melepaskan pelukannya.
Kesempatan itu dimanfaatkan Nindi untuk kabur. Namun, sebelum tubuhnya mencapai pintu, Dika sudah berhasil mendekapnya dari belakang. Laki-laki itu juga menahan kedua tangan Nindi di perut wanita itu. Ia tak ingin Nindi menyarangnya lagi dengan cubitan yang menyakitkan. Benar kata orang, kecemburuan seorang perempuan bisa meluluh lantahkan dunia. Ia bahkan yakin perutnya akan memiliki jejak keunguan yang tak akan hilang dalam waktu dekat.
"Kalau kamu seperti ini terus, aku tidak akan segan-segan berbuat kasar hingga kamu menjerit kesakitan,"
"Dika!" Nindi membentak suaminya dan mendelik ke arah laki-laki yang sering bicara semaunya sendiri.
Dika menyambar bibir Nindi kilat, mengundang delikan tajam dari wanita itu.
"Jangan panggil namaku tanpa embel-embel sayang di belakangnya."
"Lepas, Andika Mahendra! Lepas!" Nindi meronta, tapi Dika sama sekali tak peduli. Laki-laki itu justru menciumi tengkuk Nindi halus.
"Jadi kamu tatap mau marah denganku? Baik, kalau ini maumu, Sayang. Jangan menangis kalau sakit." Dika menarik Nindi menuju ranjang. Tubuh mungil wanita itu dihempaskannya pelan dan ia kungkung di bawah tubuh tingginya.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Nindi memandang suaminya ngeri.
Kejadian ini persis seperti dua tahun yang lalu. Saat itu mereka tengah makan malam di luar. Tanpa diundang, seorang perempuan ikut duduk di meja mereka. Dika bilang itu rekan sesama chefnya dan mereka terlibat obrolan seru. Iya, mereka, Dika dan perempuan itu. Nindi yang merasa keberadaannya diabaikan jelas marah. Ia mendiamkan Dika selama dua hari. Akibatnya, seperti hari ini, Dika menggaulinya dengan kasar.
Nindi masih ingat dengan jelas semua rasa sakit dari perbuatan kasar Dika. Ia bahkan menangis sepanjang malam itu dan tidak bisa bangun keesokan harinya.
'Rasanya sakit sekali melihatmu mengacuhkanku seperti itu. Jadi jangan salahkan aku kalau aku membagi rasa sakit ini padamu.' ujar Dika kala itu.
Setelah hari itu, Nindi tak pernah lagi marah berkepanjangan dengan Dika. Mereka selalu menyelesaikan semua masalah dengan cepat tanpa harus saling mendiamkan dalam waktu lama.
"Menurutmu apa yang mau aku lakukan?" Dika menyeringai, membuat Nindi bergidik ngeri. Tanpa aba-aba laki-laki itu menyelusupkan kepalanya ke leher Nindi.
"Aaaa! Sayang, lepas! Sakit, Sayang, sakit." Nindi menitikkan air mata begitu merasakan gigi Dika melukai lehernya. Ia mencoba berkelit, tetapi cengkeraman Dika di tangannya begitu erat.
Dika sendiri sama sekali tak peduli dengan Nindi yang meronta. Jika wanita itu bisa meninggalkan jejak keunguan di perutnya, ia juga bisa melakukan hal yang sama di leher Nindi dengan jumlah yang lebih banyak.
"Sudah, Sayang. Aku menyerah. Aku mau memaafkanmu."
Dika mengangkat kepalanya dan mendapati wajah Nindi yang meringis kesakitan. Dika melepaskan cengkeramannya pada tangan Nindi, lantas mengusap air mata wanita dengan lembut. Tak lupa sebuah kecupan ia daratkan di kening wanita kesayangannya.
"Apa seperti ini cara meminta maaf? Aku yakin hanya kamu manusia di dunia ini yang meminta maaf dengan cara menyakiti," keluh Nindi kesal.
"Oh, jadi kamu tidak benar-benar memaafkanku?"
Nindi yang melihat pergerakan Dika segera menutup mulut laki-laki itu. Tak akan ia biarkan gigi-gigi Dika menancap lagi di lehernya. Secepat kilat wanita itu memberikan ciuman di pipi suaminya.
"Andika Mahendra-ku Sayang, aku sudah memaafkanmu. Sudah ya, kamu harus siap-siap berangkat kerja. Jangan sampai kamu terlambat dan Kak Bimo memotong gajimu. Kasihan istrimu ini kalau jatah beli bedaknya dikurangi."
Dika terkekeh dalam bekapan tangan Nindi. Istrinya itu memang sering kali mengeluarkan kata-kata ajaib yang dapat mengubah suasana hatinya yang buruk menjadi lebih baik.
Disingkirkannya tangan Nindi dari mulutnya dan satu kecupan singkat mendarat di bibir perempuan itu.
"Aku lebih suka ciuman di situ." Dika menggulingkan tubuhnya hingga berbaring di samping Nindi.
"Maaf ya, Sayang, tadi aku membuatmu marah," ujar Dika ketika melihat Nindi sudah duduk dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
Nindi mengangguk dan tersenyum ke arah Dika. "Asal jangan diulangi. Aku benci kalau kamu memiliki perempuan lain meski dia hanya ada dalam candaan."
Dika bangkit, duduk di sebelah Nindi dan menggenggam tangan perempuan itu penuh perasaan.
"Kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai. Kalaupun ada perempuan lain, itu hanya mama dan Kak Gita. Kamu juga tahu mereka punya tempat yang berbeda dari kamu di hatiku," ujar Dika meyakinkan.
Mata Nindi berkaca-kaca mendengar ucapan Dika. "Iya, aku percaya," katanya. "Maaf tadi aku terbawa emosi. Aku benar-benar cinta padamu, Sayang. Karena rasa cinta itu juga, aku jadi sangat takut kehilangan kamu. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik dan akhirnya kamu berpaling pada perempuan lain."
"Siapa bilang kamu bukan istri yang baik?" Dika berkata tidak terima. "Aku pernah berada di posisi yang paling rendah dan kamu tetap setia di sisiku. Kamu yang paling bisa menghiburku, perempuan yang paling penurut dan pengertian, kamu juga selalu melayaniku dengan baik. Jadi, dengan semua kelebihanmu itu, siapa yang berani bilang kamu bukan istri yang baik?" tutur Dika tulus.
Nindi memandang Dika dengan haru, bahkan air matanya sampai berjatuhan saking bahagianya. Ia selalu merasa menjadi perempuan paling hebat ketika Dika memujinya.
"Hey Sayang, jangan menangis. Nanti bedakmu luntur." Dika terkekeh dan menghapus air mata Nindi dengan ibu jarinya.
Nindi membalas perlakuan Dika dengan pelukan erat di tubuh laki-laki itu.
"Aku cinta kamu, Sayang. Jangan pernah tinggalkan aku." Tangis Nindi semakin keras.
Entah kenapa akhir-akhir ini perasaan Nindi sering tak tenang. Ia merasa berat ketika melepas Dika pergi bekerja. Apalagi dengan laki-laki itu yang akhir-akhir ini sering pulang terlambat, membuatnya sering berpikir buruk.
"Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu, Sayang," Dika berkata sungguh-sungguh.
Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Nindi yang tengah menyeka air mata.
"Sudah selesai menangisnya?"
Nindi mengangguk. Ia tersenyum manis pada Dika. "Sekarang kamu mandi ya, Sayang. Sudah panas, 'kan?" Nindi terkekeh di akhir kalimat. Tentu saja hati Dika panas setelah tadi mereka mengeluarkan amarah.
Dika mendengus. Padahal bukan panas seperti itu yang ia harapkan. "Aku mau mandi kalau kamu temani," rajuk Dika manja.
"Tapi aku sudah mandi, Sayang."
"Tidak masalah. Tambah cantik nanti kalau kamu mandi lagi."
Nindi mencebik. Ia hendak protes, tetapi sebelum bibirnya terbuka, Dika sudah terlebih dulu mengangkatnya dalam gendongan.
"Sayang, apa-apaan, sih. Nanti aku jatuh." Nindi yang terkejut memukul dada Dika pelan.
"Kamu tidak akan jatuh kalau diam. Tapi kalau kamu mau mesra-mesraan dengan lantai, ya, tidak masalah. Dengan senang hati aku akan melepaskanmu."
Nindi memajukan bibir mendengar ucapan Dika. Suaminya memang kadang semenyebalkan ini. Jadi, dari pada ia benar-benar mencium lantai, lebih baik ia pasrah dengan apa yang Dika lakukan. Dikalungkan tangannya pada leher belakang Dika dan mencari posisi nyaman dengan bersandar pada dada bidang laki-laki itu.
Dika tersenyum atas perbuatan istrinya. "Anak pintar," pujinya.
***
Setelah acara mandi yang cukup memakan waktu, pasangan suami istri itu duduk di meja makan panjang dengan kursi tinggi yang ditata sejajar, hingga tampak seperti mini bar.
Mereka sarapan dengan khidmat, hingga beberapa saat kemudian suara Dika terdengar.
"Oh, ya, Sayang, hari ini aku gajian," katanya, menoleh ke arah Nindi. "Sesuai jadwal kencan kita, hari Jumat nanti kamu mau ke mana?" tanyanya.
Seperti restoran kebanyakan, tempat kerja Dika tidak memilik hari libur, kecuali di hari-hari besar. Namun, khusus di hari Jumat, jam kerja karyawan lebih pendek. Mereka yang biasanya pulang jam sembilan malam, bisa pulang jam tiga sore ketika hari Jumat. Maka dari itu, Nindi dan Dika selalu menetapkan hari itu sebagai hari kencan mereka. Entah sekedar jalan-jalan, menginap di hotel, atau makan di luar, yang penting mereka bisa menghabiskan waktu berdua tanpa terbebani dengan pekerjaan dan tugas rumah.
Nindi tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Dika. "Mau ke mana, ya? Aku bingung. Kita sudah sering menginap di hotel. Kita juga sudah sering mencoba makanan di sana-sini. Bosan kalau hanya begitu-begitu terus."
"Kalau menonton di bioskop bagaimana?" Dika memberi saran.
"Dari pada di bioskop lebih baik menonton di rumah saja. Lebih murah, lebih nyaman, dan pastinya lebih bebas kalau mau melakukan apa saja."
Sebelah alis Dika terangkat mendengar ucapan Nindi. "Memang kalau di bioskop kamu tidak bebas melakukan apa?" tanyanya. "Oh, aku tahu. Di bioskop kamu pasti tidak bebas kalau mau melakukan hal yang tidak-tidak denganku, 'kan?" Dika menaik turunkan alisnya, menggoda.
Nindi mendengus. Tahu sekali maksud dari kata 'tidak-tidak' itu.
"Aku bukan kamu yang punya otak mesum."
Dika tertawa melihat wajah jengkel Nindi.
"Ya sudah," ujar Dika setelah menghentikan tawanya. "Bagaimana kalau kita dinner romantis? Teman SMA-ku baru saja membuka restoran Jepang. Katanya makanan di sana enak-enak. Kita coba, ya?"
"Kamu kan tahu, Sayang, aku tidak terlalu suka makan di restoran. Porsinya sedikit. Sudah mahal, tidak membuat kenyang pula," katanya.
"Lalu kita mau ke mana? Tidak mau kencan?"
"Nanti aku pikirkan lagi. Masih empat hari lagi, 'kan?" ujar Nindi. "Oh ya, Sayang, sebenarnya aku sudah memikirkan ini dari lama. Bagaimana kalau gajian bulan ini kita membeli hadiah untuk mama?"
"Hadiah?"
"Iya. Mama, kan, sering tersinggung kalau kita memberi uang. Bagaimana kalau kita membelikan mama sesuatu? Siapa tahu mama suka."
Dika menghela napas. Disuapkan nasi ke dalam mulutnya tanpa memandang Nindi. "Mama itu sudah kaya, Sayang. Apalagi yang mau kita berikan? Pasti mama sudah punya semua."
"Tapi mama belum punya barang yang diberi oleh anak laki-laki tampannya ini." Nindi mengusap pipi Dika dan tersenyum manis.
"Apa bedanya?"
"Jelas beda, Sayang. Aku saja lebih suka memakai barang yang kamu belikan dari pada barang yang aku beli sendiri. Padahal yang kamu beli belum tentu lebih bagus dan mahal. Tapi, setiap memakai pemberianmu, aku selalu merasa istimewa. Aku merasa kamu begitu menghargaiku dan seolah tengah berterima kasih atas apa yang sudah aku lakukan untukmu. Aku yakin mama akan merasakan itu juga saat kamu memberinya sesuatu."
Dika memandang wajah Nindi yang berseri-seri. Ia turut membenarkan apa yang istrinya ucapkan.
Dulu, ketika kehidupan ekonomi mereka masih susah, Dika pernah menghadiahkan Nindi sebuah gaun tidur berwarna merah. Tidak mahal, tapi Nindi sangat senang saat menerimanya. Perempuan itu bahkan sering sekali memakai baju itu padahal bajunya yang lain juga banyak yang lebih bagus. Nindi bilang ia senang memakai pemberian Dika. Sejak saat itu, Dika sering sekali membelikan barang-barang untuk Nindi agar perempuan itu senang.
"Ya sudah nanti kita belikan baju atau tas untuk mama. Tapi kamu yang pilih, ya?"
Nindi mengangguk antusias. "Asal kamu yang mengantar ke rumah mama."
Dika mengangguk, paham sekali maksud Nindi. Istrinya itu enggan ke rumah mamanya. Bukan karena tidak suka pada wanita yang telah melahirkannya itu, justru sebaliknya, mamanya tidak pernah suka dengan Nindi. Perbedaan status sosial mereka yang menjadi alasannya.
"Terima kasih, ya, Sayang." Dika berujar tulus. "Padahal mama sering berlaku buruk padamu, tapi kamu justru membalas mama dengan kebaikan. Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu."
"Kamu tahu kenapa aku memperlakukan mama begitu?" tanya Nindi dan mendapat gelengan dari Dika. "Jelas karena Bu Dewi sudah melahirkan Bapak Andika Mahendra yang penyayang dan perhatian ini. Anggap saja ini bentuk terima kasihku pada Bu Dewi karena anaknya selalu memanjakanku."
Dika terkekeh mendengar penuturan Nindi.
"Coba saja kedua orang tuamu masih hidup, pasti aku akan memperlakukan mereka dengan baik," ujar Dika.
"Kamu bisa melakukannya pada Bang Gany." Nindi memberi saran.
"Bang Gany?" Dika tampak keberatan. "Aku rasa sulit kalau melakukannya ke Bang Gany. Kamu tahu, 'kan, Sayang, Bang Gany tidak pernah suka padaku," katanya.
Dika masih ingat betul bagaimana pertemuan pertamanya dengan saudara laki-laki Nindi itu. Empat tahun yang lalu, saat ia menikahi Nindi dan Gany datang sebagai wali adiknya, laki-laki itu terus menunjukkan wajah garangnya pada Dika. Jika kebanyakan orang tua atau wali akan memberikan nasihat pada mempelai, Gany justru memberi Dika ancaman. Laki-laki itu terang-terangan mengatakan akan melakukan hal yang buruk apabila Dika berani menyakiti Nindi.
"Bang Gany bukannya tidak suka padamu, Sayang. Sikap ketus Bang Gany padamu itu hanya karena dia terlalu sayang padaku. Jadi maklum saja kalau dia sedikit protektif. Bang Gany hanya belum terima jika adiknya ini sudah jadi istri orang."
Dika tak begitu percaya pada ucapan Nindi. Ia rasa sikap dingin Gany terjadi karena laki-laki itu tidak percaya jika ia mampu membahagiakan Nindi.
"Kalau kamu memperlakukan Bang Gany dengan baik, lama-lama Bang Gany pasti luluh. Aslinya Bang Gany itu baik dan penyayang."
Dika mengangkat bahu, tak menjawab lagi ucapan istrinya. Ia sudah kehabisan ide untuk meluluhkan hati abang iparnya. Dari pada ia bersusah payah mengambil hati Gany yang ketus dan dingin, lebih baik ia mengambil hati adiknya saja. Jika Gany melihat Nindi bahagia bersamanya, lambat laun Gany pasti akan mengakui bahwa ia memang pantas untuk Nindi.
"Bicara tentang gaji, Kak Bimo tidak memotong gajimu, 'kan, Sayang?" Nindi bertanya ketika mereka selesai sarapan. Dengan cekatan wanita itu membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel.
Alis Dika terangkat mendengar pertanyaan Nindi. "Kenapa harus dipotong? Memangnya aku melakukan kesalahan apa?"
Nindi berbalik, tubuhnya ia sandarkan pada pinggiran wastafel. Ia menatap Dika dengan pandangan serius.
"Kamu sering terlambat akhir-akhir ini, Sayang. Jangan-jangan Kak Bimo sudah memotong gajimu tanpa kamu tahu," ujar Nindi. "Memangnya Kak Bimo tidak pernah menegur? Atau gara-gara adik ipar sendiri, jadi Kak Bimo sungkan kalau mau menegur, ya?"
Dika mendengus. Ia kira kesalahan apa yang Nindi maksud.
"Kak Bimo itu profesional, Sayang, makanya restorannya bisa sesukses sekarang. Kalau gajiku tidak dipotong meski sering terlambat, berarti kesalahanku tidak fatal, dan yang terpenting kinerjaku tetap memuaskan, bukan karena aku ada hubungan keluarga dengannya." Dika membela diri. "Lagi pula aku sering terlambat juga gara-gara kamu," lanjutnya, membuat dahi Nindi mengernyit.
"Gara-gara aku? Tidak salah?" Nindi berkata keberatan. "Aku bahkan sudah membangunkanmu pagi-pagi sekali, sudah tepat waktu menyiapkan keperluanmu. Kamu saja yang malas. Kenapa justru menjadikan aku kambing hitam?"
"Memang gara-gara kamu, Sayang. Kamu tidak sadar? Kamu membangunkanku dengan penampilan cantik dan badan harum seperti itu, siapa yang tahan? Ya, jadi salah kamu kalau aku maunya mesra-mesraan denganmu di kamar sampai aku terlambat."
Nindi benar-benar tak habis pikir dengan jawaban Dika. Karena kesal, ia memercikkan air dari wastafel ke arah laki-laki itu.
"Hey!" Dika berseru tidak terima. "Jangan cari gara-gara, ya, Ibu Nindia Putri. Kalau sampai aku terlambat lagi, kamu yang akan menanggung akibatnya."
Nindi tersenyum dan kembali memercikkan air ke arah Dika. "Biar saja kamu terlambat. Aku mau tahu bagaimana Kak Bimo memarahimu."
"Oke kalau maumu begitu." Dika berdiri dari kursi dan mencekal tubuh Nindi untuk ia gelitiki pinggangnya.
"Hahahaha Sayang, ampun, geli haha." Nindi meronta, tapi Dika masih tetap pada aksinya. Bahkan hingga Nindi jatuh terduduk, Dika tak juga berhenti.
"Sayang, sudah, itu ada tamu." Nindi berujar lemas di sela gelitikan suaminya.
Dika yang juga mendengar suara bel, akhirnya melepaskan Nindi.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini? Mengganggu kesenangan orang saja," gerutu Dika.
"Biar aku lihat." Nindi merapikan bajunya yang kusut karena ulah Dika dan segera bergegas ke ruang depan.
"Erin?"
Nindi mendapati sosok tetangganya ketika ia membuka pintu. Wanita itu tersenyum, terlihat lebih segar dari kemarin yang kuyu dan wajah dipenuhi air mata. Ah, jangan lupakan perempuan muda di sampingnya yang tengah menggendong Rafif.
Siapa perempuan di samping Erin itu?
Bersambung..