Bab 2

Udara di dalam Delizia malam itu terasa tebal dan berat, seolah setiap helaan napas Evelyn harus membayar iuran. Lampu neon di dapur berkedip-kedip, menerangi genangan minyak yang ia lap dengan gerakan mekanis. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Toko sudah tutup. Luigi, si juru masak, sudah pulang sejak dua jam lalu. Hanya Evelyn yang tersisa, bersama bayangan Riccardo yang menari-nari di sudut ruangan.

Dia memegang lap kotor itu erat-erat, buku jarinya memutih. Tangan Riccardo. Sentuhan itu masih terasa, cengkeraman baja di dagunya, mata gelap itu yang berjanji akan menghancurkan Nikolai Volkov. Ancaman itu bukanlah gertakan. Riccardo Valentini tidak pernah menggertak. Jika dia berjanji memusnahkan seseorang, dia akan menepatinya dengan presisi yang mengerikan.

Evelyn tahu dia hanya punya tiga bulan, maksimal. Utang itu? Persetan dengan sisa utang. Jika ia bisa lunas dalam satu tahun, itu berarti tersisa sekitar tiga ratus ribu euro lagi. Jumlah yang fantastis, tapi tidak sebanding dengan nyawanya atau, yang lebih penting, nyawa Nikolai. Riccardo sudah mengambil keputusan. Pertemuan siang tadi bukan hanya untuk memamerkan kekuasaannya, tapi untuk mempercepat jadwal. Dia sudah bosan menunggu.

Tiga bulan. Cukup waktu untuk mengumpulkan uang tunai yang tersembunyi, mencari dokumen palsu di pasar gelap Palermo, dan mengatur rute pelarian.

Rute pelarian pertamanya, empat tahun lalu, adalah sebuah kecelakaan yang dipicu oleh keputusasaan murni. Rute kali ini haruslah sebuah mahakarya perencanaan, sebuah manuver yang harus dieksekusi dengan kesempurnaan seorang maestro.

Dia berjalan perlahan menuju kamar kecil di belakang, tempat loker karyawannya berada. Di balik papan kayu lapis yang longgar di bagian belakang lokernya, ia menyimpan kotak timah kecil. Di dalamnya, ada paspor aslinya-yang sudah hangus dan tak bisa dipakai-beberapa keping euro emas tua yang ia tukarkan dari upahnya bertahun-tahun lalu, dan yang paling penting, sebuah kartu nama kusam.

Kartu nama itu bukan dari toko pizza, bukan dari bank, apalagi dari La Sanguina. Itu milik seorang kontak lama dari masa lalu yang ia harap masih bisa dipercaya untuk membuat identitas baru. Evelyn meraba huruf-huruf yang timbul di kartu itu. Ini risiko besar. Percaya pada pihak ketiga berarti memberikan nyawanya pada orang asing. Tapi ia tidak bisa melakukan ini sendirian.

Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada luka tipis yang memudar di pergelangan tangannya. Luka lama, bekas sayatan kaca, yang terjadi empat tahun lalu. Kenangan itu, seperti pisau tajam, langsung menariknya dari kegelapan Delizia kembali ke salju tebal dan dingin di Timur.

Empat Tahun di Bawah Salju

Itu adalah malam yang penuh badai salju. Evelyn berlari, hanya berbekal jaket tipis dan sepotong roti keras yang ia curi dari dapur Il Drago. Dia baru berumur dua puluh satu tahun, dan setelah tujuh tahun melayani keluarga Valentini sejak kematian kakek tirinya, dia akhirnya mencapai titik puncak. Keputusan Riccardo untuk memindahkannya dari toko di pinggir kota ke vila pribadinya sebagai 'asisten rumah tangga' adalah tanda yang jelas. Riccardo sudah menunggu cukup lama.

Dia melarikan diri, tanpa tujuan. Hanya berlari ke Utara, ke mana pun yang jauh dari Italia. Dia berhasil menumpang truk barang melintasi perbatasan ke Slovenia, lalu ke Hungaria. Dia bertahan hidup dari sisa uang recehnya, bekerja ilegal di dapur kotor dan pabrik tekstil.

Pelariannya berakhir di Beograd. Terluka, kelaparan, dan kedinginan, dia pingsan di lorong belakang sebuah diskotek yang remang-remang.

Ketika ia bangun, ia berada di ruangan yang hangat, dengan selimut tebal dan aroma antiseptik yang menusuk. Di sampingnya, duduk seorang pria dengan mata biru es dan struktur tulang wajah yang keras, seolah diukir dari granit Rusia.

Pria itu adalah Nikolai Volkov.

Saat itu, ia hanya dikenalkan sebagai Ivan, seorang pengusaha Rusia yang mengurus bisnis impor-ekspor. Baru belakangan Evelyn tahu bahwa 'bisnis' itu adalah cabang dari kartel Vory v Zakone Rusia. Nikolai Volkov, Capo dari cabang Balkan.

"Kau terlalu jauh dari Palma, devushka," kata Nikolai, suaranya dalam dan bergetar seperti cello. Dia berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih, dengan aksen Rusia yang kuat.

Evelyn saat itu terlalu lemah untuk takut. "Aku tahu siapa kau. Aku tahu siapa kau. Biarkan aku pergi. Aku tidak mau berada di bawah Mafia mana pun lagi."

Nikolai hanya menatapnya. Tatapannya berbeda dari Riccardo. Mata Riccardo menuntut, haus. Mata Nikolai... tampak letih, tapi memancarkan semacam kesedihan yang membuatnya tampak seperti beruang yang terluka.

"Aku tidak tertarik pada utang atau perang kekuasaan konyol pria Italia," jawab Nikolai. "Kau terluka. Aku melihat kau pingsan di luar. Tempatku memberi perlindungan. Selama kau tidak membawa masalah ke pintuku, kau bebas. Makanlah. Kau terlihat seperti hantu."

Dan begitulah, Evelyn tinggal. Awalnya, dia hanya pekerja rumah tangga, membantu di kediaman Nikolai yang mewah tapi terpencil. Dia tahu dia adalah pelarian, tapi entah kenapa, dia merasa lebih aman di sana daripada di Italia. Nikolai memberinya tempat berlindung, makanan, dan yang paling berharga: anonimitas.

Nikolai adalah kebalikan dari Riccardo. Riccardo suka tontonan, kekuasaan yang terbuka. Nikolai adalah bayangan, tenang, cerdas, dan mematikan dalam kesunyian. Dia tidak pernah menyentuh Evelyn. Dia tidak pernah menuntut apa pun. Dia menghormati ruang pribadinya, mungkin karena dia tahu betapa rapuhnya Evelyn dari kehidupan lamanya.

Namun, perlahan, dinding di antara mereka runtuh.

Evelyn menemukan bahwa Nikolai suka membaca puisi Rusia kuno di malam hari, dan bahwa di balik penampilan kerasnya, ia punya kepekaan artistik yang mengejutkan. Ia mendapati Evelyn suka melukis-hobi yang sudah lama ia tinggalkan-dan ia memberinya studio kecil di lantai atas.

Suatu malam, Evelyn sedang melukis, mencoba menuangkan trauma pelariannya ke kanvas, saat Nikolai masuk tanpa mengetuk. Dia berdiri di ambang pintu, melihat kanvas abstrak yang kacau itu.

"Itu kemarahan," kata Nikolai pelan.

"Bukan hanya kemarahan. Itu rasa takut," jawab Evelyn, tanpa berbalik.

Nikolai mendekat. Dia tidak menyentuh kanvas, hanya berdiri di belakang Evelyn. "Di sini, kau tidak perlu takut. Aku tahu apa itu Riccardo Valentini. Dia adalah serigala yang berteriak. Aku adalah beruang yang tidur. Beruang tidur, jika dibangunkan, akan menghancurkan hutan. Dia tidak akan mencari kau di sini."

"Dia akan mencari utangnya. Dia tidak akan melepaskanku."

"Utang? Dia tidak peduli pada uang. Dia peduli pada apa yang tidak bisa ia beli. Dia tidak bisa membeli kau. Dia tidak bisa membeli kebebasan. Dia tidak bisa membeli rasa hormat. Dan kau, kau adalah simbol semua itu." Nikolai meletakkan tangannya di bahu Evelyn. Itu sentuhan pertama. Berat, meyakinkan, bukan posesif. "Kau bebas, Evelyn. Kau hanya perlu memilih untuk menjadi bebas. Aku akan melindungi pilihan itu."

Malam itu, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perlindungan dimulai. Cinta yang tumbuh di bawah ancaman perang, di tengah salju dan keheningan. Nikolai bukan pria yang romantis, tetapi tindakannya sangat tulus. Dia tidak pernah menjanjikan masa depan yang normal, karena ia tahu kehidupan mereka tidak akan pernah normal. Dia hanya menjanjikan perlindungan, kesetiaan, dan cintanya.

Selama empat tahun, Evelyn hidup dalam perlindungan emas. Dia dan Nikolai tidak pernah menikah, tapi dia adalah wanitanya, dihormati oleh anak buahnya, dijaga di dalam benteng Vory v Zakone. Ia hampir melupakan bau pizza dan minyak zaitun. Ia mulai terbiasa dengan aroma vodka dingin dan asap tembakau Rusia.

Ia hampir percaya bahwa Riccardo Valentini adalah masa lalu.

Keyakinan itu hancur pada ulang tahunnya yang ke dua puluh lima. Mereka berada di Montenegro, di sebuah properti tepi laut milik Nikolai. Malam itu seharusnya menjadi perayaan kecil.

Nikolai memberinya kalung, sebuah liontin batu ametis ungu tua.

"Ini untuk keberanianmu, Lyubimaya," bisik Nikolai, menempelkan dahinya ke dahi Evelyn. Kekasihku.

Tiba-tiba, kaca jendela pecah. Suara tembakan otomatis membelah keheningan.

"Sialan!" teriak Nikolai, mendorong Evelyn ke bawah meja kayu berat.

"Riccardo!" jerit Evelyn, mengenal gaya serangan itu: cepat, bersih, dan mematikan.

Anak buah Nikolai langsung membalas tembakan. Pertempuran sengit meletus di rumah tepi laut yang tenang itu. Ini bukan hanya pembunuhan, ini adalah invasi. La Sanguina tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang untuk mengambil kembali.

Nikolai, dengan wajah sekeras batu, menarik Evelyn ke koridor belakang. "Ikuti aku! Ke bunker!"

Saat mereka berlari, tiga pria bertopeng berbadan besar muncul di ujung koridor. Mereka adalah tim khusus dari Riccardo. Mereka tidak menembak. Mereka bergerak untuk mencegat.

"Lari, Evelyn!" teriak Nikolai. Dia menarik pistol dari balik jasnya dan menembak dua pria itu. Pria ketiga berhasil mendekat. Nikolai terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang brutal, tubuhnya yang besar beradu dengan kekuatan musuh.

Evelyn melihatnya. Nikolai berjuang keras, darahnya mulai membasahi kemejanya. Dia tahu, orang-orang ini dikirim bukan untuk membunuh Nikolai, tapi untuk mengambilnya.

Saat perhatian Nikolai terpecah karena serangan dua orang anak buah Riccardo lainnya, pria pertama yang ditembak, yang hanya terluka, berhasil menahan lengan Nikolai dari belakang.

Dan saat itulah Evelyn ditangkap.

Cengkeraman di lengannya terasa menyakitkan, dan dia diseret ke luar. Dia menoleh ke belakang, melihat pemandangan yang akan menghantuinya selamanya: Nikolai, berlumuran darah, matanya yang biru es memancarkan keputusasaan murni, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lawannya, sambil berteriak dengan suara serak,

"Net! Jangan ambil dia! Evelyn!"

Nikolai tidak berteriak namanya dalam bahasa Italia, atau bahasa Inggris. Dia berteriak dalam bahasa Rusia. Itu adalah teriakan yang jujur, tidak terfilter, teriakan cinta yang kalah.

Itu adalah momen terakhir Evelyn melihat Nikolai Volkov sebagai pelindungnya.

Dia diseret ke mobil hitam yang menunggu, dan dalam beberapa jam, dia kembali ke Italia. Kembali ke tangan Riccardo Valentini.

Riccardo menyambutnya dengan tawa dingin. "Kau pikir kau bisa lari, tesoro? Kau menghabiskan empat tahun di tempat sampah itu. Sekarang kau kembali, tempat kau seharusnya berada. Dan karena petualanganmu, kau akan membayar utangmu lagi di tempat asalnya. Tapi kali ini, aku akan mengawasi kau dengan lebih dekat."

Dia tidak menyentuhnya malam itu. Dia hanya memenjarakannya lagi dalam siklus kerja di Delizia, memperpanjang masa pengabdiannya, menempatkannya tepat di jantung kerajaan kegelapannya, sambil sesekali mengirim utusan atau memanggilnya ke vila-seperti yang ia lakukan siang tadi.

Evelyn tersentak kembali ke kenyataan. Lokernya. Delizia. Bau adonan pizza.

Ia menarik napas dalam-dalam, menekan luka lama di pergelangan tangannya. Luka itu adalah pengingat akan kebebasan yang hilang dan cinta yang terpaksa ditinggalkan.

Satu hal yang tidak pernah Riccardo ketahui, adalah kalung itu. Liontin ametis dari Nikolai. Evelyn tidak pernah memakainya. Dia menyembunyikannya di dalam sepatu bot kulit lamanya, barang yang ia tinggalkan di vila Riccardo sebelum dibawa kembali ke Delizia. Dia berhasil menyelundupkannya kembali ke tokonya.

Dia membuka kotak timah kecil di loker lagi. Bukan untuk paspor atau uang emas. Tapi untuk liontin itu.

Ametis. Batu keberanian.

Nikolai harus tahu. Dia harus tahu bahwa Riccardo tidak hanya akan mengejar utang atau Evelyn. Dia akan mengejar perang total.

Riccardo pasti sudah tahu Evelyn akan mencoba menghubunginya. Saluran telepon akan disadap, surat akan disaring, bahkan pesan yang diselipkan di balik remah-remah pizza akan diperiksa.

Evelyn melihat ke sekeliling ruangan dapur yang kosong. Ada satu cara. Satu cara gila yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang dari dunia Nikolai.

Di setiap pengiriman barang impor yang datang ke Delizia-botol minyak zaitun mahal, rempah-rempah langka, anggur khusus-selalu ada satu barang, satu kode. Evelyn ingat percakapannya dengan Nikolai saat ia pertama kali belajar tentang bisnis Mafia Rusia.

"Jika kau butuh aku, dan kau tahu Riccardo mengawasi, Lyubimaya. Kirimkan aku Sinyal Kosong. Barang yang dikirim ke tempatmu harus berisi sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Sesuatu yang gila, yang hanya akan menarik perhatianku. Sesuatu yang akan membuat orang Italia itu tertawa. Atau membuat ia berpikir itu adalah kesalahan konyol."

Sinyal Kosong. Sebuah paket yang tampaknya legal, tetapi isinya sangat aneh sehingga hanya Nikolai yang akan menganggapnya sebagai pesan darurat.

Evelyn melihat daftar pengiriman yang dijadwalkan besok pagi. Ada satu pengiriman penting: Kopi Arabika dari Kolombia-yang sebenarnya berisi kokain kualitas tinggi. Pengiriman ini akan datang ke Delizia untuk transit sebentar sebelum dijemput oleh orang La Sanguina di pelabuhan.

Ide gila muncul di benaknya. Evelyn tahu di mana Dante dan anak buahnya menyimpan kokain itu sementara menunggu penjemputan. Di dalam karung kopi yang disegel.

Jika ia menyelipkan sesuatu yang sangat aneh ke dalam salah satu karung itu-sesuatu yang akan dilihat oleh Nikolai, tapi akan diabaikan sebagai sampah oleh Riccardo.

Apa? Bunga? Terlalu romantis. Sebuah tulisan? Terlalu mudah dilacak.

Evelyn teringat akan sesuatu yang konyol yang ia pelajari dari Nikolai: dia benci boneka beruang. Dia fobia terhadap boneka beruang. Evelyn dan Nikolai sering bercanda tentang hal itu.

Tiba-tiba, ia teringat hadiah kecil yang diberikan Luigi padanya-boneka beruang kecil berwarna merah, kunci gantungan kunci murahan dari pasar malam yang ia ikat di tasnya.

Evelyn segera mengambilnya. Boneka beruang kecil, murah, konyol.

Dia harus mengambil risiko. Besok, saat Dante dan Rocco sibuk di ruang belakang, dia akan menyelipkan boneka beruang merah ini ke dalam salah satu karung kopi Kolombia.

Kokain itu akan dikirim ke gudang pusat. Dari sana, beberapa akan diekspor ke Balkan-ke jaringan distribusi Nikolai. Boneka beruang itu, barang yang tidak mungkin ada di dalam karung kopi Kolombia, akan menarik perhatian Nikolai segera setelah ia melihat laporan inventaris. Riccardo akan melihat daftar pengiriman, melihat 'kopi Kolombia', dan tidak akan menaruh curiga. Dante akan melihat 'gantungan kunci konyol' dan berpikir Evelyn ceroboh.

Tapi Nikolai akan tahu. Boneka Beruang Merah. Sinyal Kosong. Aku dalam bahaya. Tolong jangan datang. Ini jebakan.

Itulah pesan yang akan ia kirim. Dia tidak meminta Nikolai datang. Dia memohonnya untuk menjauh. Karena jika Nikolai datang lagi, seperti empat tahun lalu, kali ini Riccardo akan memastikan itu adalah kunjungan terakhirnya.

Evelyn Rossi, si pelayan toko pizza, menghapus air matanya. Dia melihat boneka beruang kecil itu, lalu liontin ametis di tangannya.

"Maafkan aku, Nikolai," bisiknya. "Aku harus lari. Dan aku harus memastikan kau tetap hidup."

Keputusan sudah dibuat. Rencana pelarian dimulai besok, dan langkah pertamanya adalah mengirimkan pesan yang mematikan kepada pria yang sangat ia cintai, memintanya untuk menjauh agar ia tetap aman dari cengkeraman pria yang sudah ia benci seumur hidupnya.

Dia mengunci kotak timah itu kembali. Tubuhnya terasa ringan, tetapi pikirannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan. Dia akan menjadi Evelyn yang tidak patuh lagi. Evelyn yang melarikan diri. Dan kali ini, ia akan berhasil, bahkan jika harus mengorbankan segalanya.

Dia mematikan lampu neon yang berkedip-kedip, meninggalkan Delizia dalam kegelapan. Malam itu, ia tidak tidur. Ia menghitung, merencanakan, dan menunggu fajar, menunggu kedatangan karung kopi Kolombia dan boneka beruang merah kecil.

Bab 3

Pagi itu, di Delizia, Evelyn tidak merasakan aroma adonan ragi, tapi aroma adrenalin. Dia tidak tidur semalam, matanya perih, namun pikirannya jernih dan setajam pisau lipat. Dia tahu, dia sedang bermain api, dan hari ini adalah hari di mana ia harus menyalakan korek apinya.

Pukul delapan pagi. Suasana toko masih sepi. Hanya ada Luigi di dapur, menyalakan panggangan batu. Luigi, pria tua dengan tangan kasar dan hati emas, hanya tahu bahwa Evelyn adalah karyawan yang cekatan. Dia tidak tahu bahwa Evelyn adalah bom waktu yang terikat pada Kartel paling menakutkan di Italia.

"Evelyn, pesanan kopi sudah datang. Ada sekitar dua puluh karung di gudang belakang," kata Luigi sambil mengelap tangannya dengan serbet. "Dante bilang, jangan sampai karung-karung itu disentuh. Sangat penting, katanya."

"Tentu, Luigi. Aku akan memastikan tidak ada tikus yang mendekat," jawab Evelyn, senyumnya terasa palsu di bibirnya.

Dante dan Rocco belum datang. Mereka biasanya tiba setelah jam sembilan, saat pengiriman kokain Kolombia itu siap untuk dipindahkan ke mobil kargo. Jendela waktu Evelyn hanya kurang dari satu jam, dan dia harus memanfaatkannya dengan sempurna.

Dia berjalan ke gudang belakang. Gudang itu gelap, berbau kapur barus dan rempah-rempah kering. Di sudut, tersusun rapi dua puluh karung goni besar, masing-masing dicap dengan logo kopi Arabika dari Medellín. Inilah 'kantor' tempat kokain itu disembunyikan.

Karung-karung itu dijahit rapat. La Sanguina tidak bodoh. Mereka tidak menyimpan kokain di tempat yang mudah dijangkau. Tapi Evelyn, sebagai 'pelayan' di sini, telah mengamati setiap detail. Dia tahu bahwa di bagian bawah karung kelima dari tumpukan, ada jahitan yang sedikit longgar. Itu adalah karung yang sering dibuka oleh Dante untuk 'memeriksa kualitas' atau mengambil sampel bagi Riccardo.

Evelyn mengeluarkan pisau kecil dari saku celemeknya-pisau kecil yang biasa ia gunakan untuk memotong mozzarella yang keras. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia memaksakan dirinya untuk fokus. Dia tidak boleh merusak segel karung itu terlalu jauh, hanya cukup untuk menyelipkan pesan.

Dia berlutut di depan tumpukan karung, menarik napas panjang. Dia harus cepat.

Dengan ujung pisau yang runcing, ia dengan hati-hati merobek satu benang di jahitan karung kelima. Benang itu putus dengan suara tik yang nyaris tak terdengar. Jantung Evelyn berdebar keras, suara itu terasa memekakkan telinga dalam kesunyian gudang.

Dia menarik benang itu dengan hati-hati, menciptakan celah kecil, sekitar satu inci panjangnya. Melalui celah itu, ia bisa melihat butiran kopi yang gelap dan berminyak. Dan di balik kopi itu, ia tahu, ada bungkusan plastik kecil berisi bubuk putih mematikan yang menjadi sumber kekayaan Kartel La Sanguina.

Evelyn merogoh saku celemeknya. Ia mengeluarkan kunci gantungan kunci-si Boneka Beruang Merah kecil, matanya terbuat dari kancing hitam. Boneka itu tampak konyol dan polos, sangat kontras dengan isi karung.

Dia mendorong boneka itu melalui celah yang baru ia buat. Dia harus memastikan boneka itu cukup masuk, tidak tersangkut di jahitan, tetapi juga tidak terlalu tenggelam di antara butiran kopi sehingga tidak terlihat saat pemeriksaan. Evelyn menggunakan ujung pisau untuk menyodok boneka itu lebih dalam, memastikan boneka itu terselip di balik biji kopi yang padat.

Misi selesai.

Sekarang, menutupnya kembali. Evelyn mengambil benang kasar dari laci di konter kasir-benang yang sama persis digunakan untuk menjahit karung goni. Dengan tangan yang sedikit berkeringat, ia menjahit celah itu kembali, mencoba meniru jahitan mesin yang presisi. Gerakannya harus sempurna, tidak boleh ada jejak tangan manusia.

Setelah selesai, dia menatap karung itu. Jahitannya tampak sedikit lebih longgar, tapi tidak akan terlihat kecuali seseorang mencarinya dengan teliti. Dante dan anak buahnya tidak akan memeriksa. Mereka hanya akan mengandalkan berat dan segel utama.

Evelyn segera membersihkan debu kopi di tangannya, menyimpan pisau, dan kembali ke dapur. Hanya butuh waktu lima menit. Lima menit yang terasa seperti peperangan.

Dia tahu, karung ini akan dibawa ke gudang pusat La Sanguina. Dari sana, beberapa akan dikirim ke berbagai jalur ekspor, termasuk rute Balkan yang dikuasai Nikolai Volkov. Boneka beruang itu, barang yang tidak masuk akal dalam kiriman kopi Kolombia, adalah sinyal rahasia. Sinyal yang hanya bisa dibaca oleh mata Nikolai.

Aku dalam bahaya. Ini sinyal kosong. Jangan datang.

Inilah yang Evelyn harap bisa disampaikan boneka konyol itu. Dia berdoa agar Nikolai memahaminya, dan yang terpenting, dia berdoa agar boneka itu lolos dari pemeriksaan pabean dan pemeriksaan internal La Sanguina.

Sore harinya, Dante dan Rocco tiba, wajah mereka tegang. Hari ini adalah hari besar, hari pengiriman. Mereka menghabiskan waktu di ruang tersembunyi, menghitung uang dan membuat panggilan telepon terenkripsi.

Evelyn melayani mereka kopi, selalu tersenyum, selalu profesional. Punggungnya dingin, seolah boneka beruang itu masih menempel di sana.

"Evelyn, hari ini kau tidak boleh meninggalkan toko. Sama sekali," perintah Dante sambil menyesap espresso-nya. "Ada masalah kecil dengan rute pelabuhan. Riccardo mengirimkan lebih banyak anak buah. Kau harus menjaga pintu depan."

"Baik, Dante. Aku akan mengurusnya," jawab Evelyn.

Masalah di rute pelabuhan. Ini bukan hal baru. Tapi ini adalah kesempatan baginya.

Evelyn ingat tugas yang lebih besar: menyiapkan pelarian. Untuk itu, ia butuh identitas baru. Ia harus menghubungi si pembuat dokumen palsu.

Dia kembali ke loker, mengambil kartu nama kusam itu. Marco di Fiume. Marco dari Sungai. Seorang pembuat dokumen di Palermo. Evelyn mengenalnya dari masa-masa awal utangnya. Dia adalah pria yang berbahaya, tapi sangat ahli dalam pekerjaannya.

Menggunakan telepon umum adalah bunuh diri. Menggunakan ponselnya sendiri (yang disadap) adalah bunuh diri massal. Evelyn harus keluar dari jaringan La Sanguina.

Dia melihat ke luar jendela. Hujan deras mulai turun, menghantam kaca jendela Delizia. Kesempatan.

"Dante, aku harus lari ke seberang jalan sebentar," kata Evelyn. "Aku kehabisan sirup vanilla untuk latte, dan kau tahu, pelanggan selalu marah kalau vanilla habis."

Dante memutar matanya, kesal karena diganggu. "Sirup vanilla? Sialan! Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Cepat pergi! Jangan sampai ada yang melihat kau keluar dari sini."

Evelyn tahu sirup vanilla bukanlah alasan. Tapi Dante adalah pecandu kopi yang rewel dan dia membenci pelanggan rewel. Itu adalah titik lemah yang bisa ia eksploitasi.

Evelyn mengambil payung dan tas belanja kanvas tua. Dia berjalan keluar, menuju toko grosir kecil di seberang jalan.

Begitu ia mencapai toko itu, jantungnya berdebar kencang. Dia membeli sirup vanilla, tapi matanya mencari-cari. Dia melihatnya: bilik telepon umum tua di sudut yang jarang digunakan, tertutup oleh semak-semak.

Dia tahu dia hanya punya waktu tiga menit.

Evelyn masuk ke bilik telepon, tangannya gemetar saat ia memasukkan koin. Dia menelepon nomor pada kartu nama Marco. Nada sambung yang panjang, menegangkan.

"Pronto?" Suara serak dan berhati-hati menjawab.

"Marco? Ini aku. Evelyn," Evelyn berbisik cepat.

Hening sejenak. "Evelyn Rossi? Kau? Setelah empat tahun? Kupikir kau sudah mati, atau menikah dengan Valentini itu."

"Aku butuh bantuan. Aku butuh identitas baru. Paspor. Izin tinggal. Akun bank rahasia. Semuanya. Aku butuh nama yang belum pernah dipakai. Aku butuh kau mengubahku menjadi hantu."

"Hantu itu mahal, Evelyn. Apalagi hantu yang lari dari Riccardo Valentini. Kau tahu itu bunuh diri, kan? Aku tidak mau terlibat dalam pertempuran antara La Sanguina dan mantan pelayannya."

"Aku akan membayarnya," Evelyn memotong, suaranya dipenuhi urgensi. "Aku punya emas. Emas dari utang kakek tiri. Nilainya lebih dari yang kau bayangkan. Dan uang tunai yang sudah kukumpulkan selama setahun ini. Aku akan memberimu setengah dari total utangku."

Marco terdiam lagi. Jumlah itu terlalu besar untuk ditolak. Setengah dari utang itu bisa membuatnya pensiun di luar negeri.

"Uang bukan masalahku. Masalahku adalah hidupku. Kau tidak boleh tahu kenapa aku lari, Marco. Kau hanya perlu tahu aku punya waktu tiga bulan. Tidak lebih. Kau bisa membuat paspor dengan nama 'Sofia Mancini'?"

"Sofia Mancini... Nama yang bagus. Klasik," Marco bergumam, menghitung waktu di kepalanya. "Tiga bulan? Ini gila. Aku butuh dua bulan penuh hanya untuk mencetak dokumen. Dan kita harus bertemu setidaknya dua kali. Kau harus keluar dari wilayah Palma. Terlalu berisiko."

"Aku tahu. Aku akan mencari cara. Kirimkan pesan terenkripsi ke email lama Luigi di toko grosir ini. Hanya dia yang tahu password-nya," kata Evelyn, berbohong. Dia tahu password email Luigi karena dia yang mengurus semua korespondensi pribadinya.

"Oke. Tapi kau yang ambil risikonya. Jika Riccardo mencium bauku, aku akan menyerahkanmu tanpa ragu, Evelyn. Jangan coba-coba menipu Marco di Fiume."

"Aku tidak akan. Aku hanya ingin bebas. Aku akan menghubungimu lagi dalam satu minggu untuk update. Selamat tinggal." Evelyn menutup telepon, lututnya lemas.

Dia berhasil. Langkah pertama telah diambil. Dia sudah menyalakan sumbu.

Evelyn keluar dari bilik telepon, payungnya menutupi wajahnya, dan berjalan kembali ke Delizia, membawa sirup vanilla. Dante menyambutnya dengan tatapan curiga.

"Lama sekali, Evelyn. Kau bertemu dengan siapapun di luar?"

"Hanya Nyonya Rossi dari blok sebelah, Dante," Evelyn berbohong dengan lancar. "Dia mengeluh tentang kualitas sosis pepperoni. Aku bilang padanya itu adalah resep Riccardo, jadi dia diam."

Dante tertawa, merasa puas. "Itu benar. Tidak ada yang berani mengeluh tentang resep Riccardo. Sekarang, kembali bekerja."

Dua minggu berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan. Karung kopi Kolombia itu sudah dikirim. Evelyn tidak tahu apakah Boneka Beruang Merah itu berhasil mencapai gudang Nikolai di Balkan, atau hanya berakhir di tempat sampah di Palma. Dia tidak tahu apakah Nikolai mengerti pesannya. Tapi ia harus bertindak seolah-olah Nikolai sudah menerima dan mengerti: Jauhkan diri. Jangan datang. Aku akan urus diriku sendiri.

Sementara itu, dia mulai melakukan hal yang paling ia takuti: sabotase.

Untuk lari, ia butuh uang tunai, banyak. Uang yang sudah ia kumpulkan di bank tidak bisa ia ambil tanpa menarik perhatian bank sentral dan tentu saja, Riccardo. Jadi ia mulai mencuri.

Bukan mencuri dari brankas, itu terlalu mencolok. Dia mencuri dalam skala kecil.

Di Delizia, Evelyn bertanggung jawab atas pembukuan harian. Dia mulai memanipulasi angka penjualan. Uang tunai yang masuk dari transaksi ilegal kecil-penjualan ganja lokal, uang perlindungan dari toko-toko kecil-semuanya dicatat oleh Evelyn.

Dia membuat spreadsheet bayangan. Dia mencatat transaksi yang sebenarnya, lalu memasukkan spreadsheet palsu ke sistem akuntansi La Sanguina. Dia memindahkan jumlah yang kecil-seribu euro per hari, dua ribu euro per hari-ke kantongnya. Totalnya, ia sudah mengumpulkan sekitar tiga puluh ribu euro tunai. Uang tunai yang ia sembunyikan di lokasi rahasia di luar Delizia-di peti mati kosong di pemakaman tua di luar kota. Tempat yang tidak akan pernah dicari oleh siapa pun.

Tindakan ini sangat berisiko. Setiap transaksi La Sanguina diawasi ketat. Tapi Evelyn tahu celahnya. Dia tahu bahwa Riccardo tidak memeriksa angka kecil; dia hanya melihat total bulanan dan persentase keuntungan. Selama Evelyn memastikan totalnya terlihat 'normal' sesuai dengan fluktuasi pasar, ia akan aman.

Namun, Dante mulai mencium bau busuk.

Suatu malam, saat Evelyn sedang menghitung uang di konter, Dante berdiri di belakangnya. Evelyn tidak mendengar kedatangannya.

"Penjualan minggu ini sangat bagus," kata Dante, suaranya seperti selalu, serak dan curiga.

Evelyn tersenyum, berbalik. "Tentu, Dante. Aku bekerja keras. Aku bahkan berhasil menjual tujuh pizza ekstra besar kepada kru konstruksi di pelabuhan."

"Ya. Tapi Rocco bilang, ia melihat setidaknya dua transaksi besar yang tidak tercatat di bukumu."

Jantung Evelyn berhenti berdetak. "Transaksi besar apa, Dante? Semua transaksi tunai harus kucatat. Jika ada yang menggunakan kartu, itu langsung masuk ke rekening bank pusat."

Dante mendekat. Tangannya yang besar memukul meja konter. "Jangan bohong padaku, Evelyn. Rocco melihat seorang pria dari Naples datang dan membayar tujuh ribu euro tunai untuk 'pengiriman khusus' anggur. Kau mencatatnya hanya sebagai dua ribu euro."

Evelyn menelan ludah. Dia ingat transaksi itu. Dia mengambil lima ribu euro dari transaksi itu.

Dia harus tenang. Dia harus defensif.

"Tujuh ribu? Dante, pria itu hanya membayar dua ribu tunai di konter. Sisa lima ribunya? Dia membayar langsung kepada Rocco di ruang belakang. Rocco yang mengambilnya."

Dante terdiam. Wajahnya menunjukkan konflik internal. Dia dan Rocco adalah rival abadi di hierarki rendah La Sanguina.

Evelyn melanjutkan, nadanya kini menjadi menuduh. "Rocco pasti lupa memberitahumu. Dia mengambilnya dari pintu belakang. Aku hanya mencatat yang melalui konter depan. Jika kau tidak percaya, tanyakan pada Rocco."

Dante memelototi Evelyn. "Aku akan menanyakan pada Rocco."

"Lakukan," tantang Evelyn, bahunya tegak. "Tapi jangan salahkan aku jika Rocco merasa kau tidak memercayai dia, padahal aku sudah bekerja keras di sini selama sepuluh tahun tanpa keluhan."

Ancaman itu bekerja. Dante tidak berani menimbulkan masalah internal antara dirinya dan Rocco, apalagi jika menyangkut uang yang sudah dipegang oleh Rocco. Dia adalah tipe yang akan mencari jalan paling mudah, yaitu menyalahkan Evelyn. Tapi Evelyn sudah membuat dinding pertahanan yang solid.

"Baiklah. Kali ini, aku percaya kau," kata Dante, menggerutu. "Tapi aku akan mengawasi kau. Jangan main-main dengan buku kami, carissima. Riccardo tidak akan bertanya-tanya. Dia hanya akan menghukum."

Evelyn mengangguk, hatinya berdebar tak karuan. Dia berhasil lolos. Tapi dia tahu, ini hanya penangguhan hukuman.

Tiga minggu berlalu. Marco di Fiume mengirimkan pesan terenkripsi ke email Luigi: "Sofia Mancini, lahir di Milano. Siap dikirim dalam dua bulan. Kirim emas ke loker stasiun kereta api Parma minggu depan."

Dua bulan. Evelyn punya waktu sebulan ekstra untuk bersiap. Emas itu ada di pemakaman, tersembunyi.

Minggu berikutnya, Evelyn memohon izin dari Dante untuk mengunjungi ibunya di luar Palma-alasan yang ia gunakan sekali setahun untuk melakukan perjalanan yang tak terhindarkan.

"Aku harus mengunjungi makam Ibu di Cremona, Dante. Sudah setahun penuh," katanya dengan nada menyedihkan yang terpaksa.

Dante mendengus. "Cremona? Jauh sekali. Cepat, ya. Hanya satu hari. Dan jangan coba-coba mematikan ponselmu."

"Aku tidak akan, Dante."

Perjalanan ke Cremona adalah penyamaran. Tujuannya adalah Parma. Evelyn harus membawa emas itu.

Dia menyewa mobil tua dari agen sewaan anonim. Dia mengambil kotak emas dari pemakaman tua di malam hari, merinding saat mengangkat peti kayu itu. Dia menyamarkan kotak itu di dalam tas ranselnya yang penuh pakaian kotor.

Perjalanan ke Parma terasa seperti melintasi zona perang. Setiap truk, setiap mobil polisi, setiap bayangan, terasa seperti antek Riccardo.

Di Parma, dia menemukan loker stasiun kereta api yang ditentukan. Dia memasukkan emas itu ke dalam loker, menutupnya, dan mengirimkan kuncinya melalui pos anonim ke alamat Marco di Palermo.

Evelyn kembali ke Palma keesokan harinya, lelah, tapi dengan rasa lega yang luar biasa. Bagian tersulit-menyerahkan uang jaminan-sudah dilakukan. Sekarang, ia hanya perlu bertahan.

Bulan kedua dimulai. Evelyn semakin berani dalam manipulasi pembukuan. Jumlah uang yang ia kumpulkan sudah cukup untuk paspor, tiket pesawat, dan dana darurat untuk setidaknya enam bulan di tempat yang jauh. Dia mulai belajar bahasa Portugis-tujuannya adalah Brasil. Terlalu jauh, terlalu ramai, terlalu sedikit pengaruh La Sanguina.

Tapi di tengah persiapan rahasianya, Riccardo membuat langkah balasan. Dia mungkin tidak tahu tentang Boneka Beruang Merah atau Marco di Fiume, tapi dia tahu Evelyn adalah properti yang berharga dan cerdas.

Suatu pagi, Dante datang dengan wajah lebih muram dari biasanya.

"Riccardo Valentini membuat perubahan," kata Dante, melemparkan kunci baru ke konter.

Evelyn mengangkat alis. "Perubahan apa, Dante?"

"Kau tidak lagi mengurus pembukuan tunai harian."

Jantung Evelyn mencelos. Itu adalah satu-satunya sumber uang tunai pribadinya.

"Kenapa? Aku sudah melakukan pekerjaan ini selama sepuluh tahun!"

"Riccardo bilang, kau terlalu lelah. Dan kau terlalu cantik untuk mengurus angka-angka kotor. Mulai hari ini, Rocco yang akan mengurus uang tunai. Kau hanya mengurus pelanggan. Dan yang paling penting: Riccardo akan menempatkanmu di kediaman pusat La Sanguina di luar kota."

Evelyn merasakan darahnya mengering.

"Kediaman pusat? Tapi Delizia..."

"Delizia akan dikelola oleh Luigi dan Rocco. Kau akan tinggal di sana," Dante menunjuk kunci baru itu. "Itu adalah kunci kamar barumu. Riccardo ingin kau berada di bawah pengawasannya setiap saat. Dia bilang, 'Aku ingin Evelyn menjadi Evelynku sebelum utang itu lunas, bukan setelahnya.' Kau harus pindah besok pagi. Jangan bawa banyak barang. Kau akan diberikan apa pun yang kau butuhkan di sana."

Riccardo Valentini sudah selesai bermain game. Dia tidak menunggu utang lunas. Dia memaksakan kepemilikan. Dia tidak hanya mengambil buku besar darinya; dia mengambil kebebasannya untuk bergerak.

Evelyn menatap kunci itu, sebuah kunci perak sederhana yang terasa berat seperti beban nasib. Pindah ke kediaman pusat berarti dia akan dikelilingi oleh puluhan pengawal, kamera, dan tidak ada bilik telepon umum. Tidak ada loker untuk menyembunyikan uang. Tidak ada kesempatan untuk bertemu Marco.

Waktunya habis.

Dia hanya punya waktu dua belas jam. Dia harus mengambil semua uang tunai yang dia sembunyikan di pemakaman, dan dia harus menghubungi Marco untuk meminta percepatan paspor-meskipun itu berarti paspor itu akan memiliki lebih banyak cacat dan lebih mudah dideteksi.

Dia melihat ke luar jendela, ke Palma yang damai dan tidak menyadari bahaya. Dia tahu, dia akan meninggalkan kota itu besok, entah sebagai wanita bebas atau sebagai tawanan Riccardo selamanya.

Malam itu, Evelyn kembali ke pemakaman, menggali peti mati tua. Uang tunai di tangannya terasa nyata, memberikan kekuatan yang ia butuhkan.

Dia kembali ke Delizia, mengambil ponselnya-dia tidak peduli jika itu disadap lagi. Dia tidak punya pilihan.

Dia mengetikkan pesan terakhir ke email Luigi.

Subjek: Vanilla Habis.

Isi: Vanilla habis. Bawa yang baru sekarang, atau aku akan mati. Aku butuh Paspor Mancini sekarang. Besok. Lupakan Cremona. Aku ada di Villa Sentrale sekarang. Ambil kunci loker Parma dan temui aku di Taman Tua di luar Villa sebelum tengah malam.

Dia mengirimkan pesan itu. Ini adalah taruhan terakhirnya. Jika Marco tidak merespons, jika ia terlalu takut, Evelyn Rossi akan menjadi Sofia Mancini, tawanan Riccardo, selamanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED