Palma. Kota ini selalu punya dua aroma: aroma garam laut yang getir dan aroma basil segar yang merayap dari lorong-lorong tua. Evelyn Rossi sudah terlalu lama akrab dengan keduanya, tapi belakangan, hanya satu aroma yang paling menempel di pakaiannya, di rambutnya, bahkan di pori-pori kulitnya: adonan ragi, keju mozzarella yang meleleh, dan saus tomat pekat. Aroma dari kedai kecil yang ironisnya bernama Delizia-Kenikmatan.
Tapi bagi Evelyn, tidak ada kenikmatan di sana.
Jendela kayu tua di balik konter kasir sudah hampir berembun oleh uap panggangan. Pukul tujuh pagi. Evelyn sudah di sana sejak subuh, tangannya sudah licin oleh minyak zaitun. Dia menarik napas panjang, bau bawang putih panggang ini menusuk hidungnya seperti jarum. Satu tahun. Hanya tinggal satu tahun lagi.
Tepat 365 hari. Atau mungkin 366 kalau tahun depan adalah tahun kabisat. Angka-angka itu adalah satu-satunya selimut hangat di tengah hidupnya yang beku. Angka-angka itu adalah mercusuar harapan di tengah badai yang diciptakan oleh kakek tiri sialannya sepuluh tahun lalu. Sepuluh tahun membayar harga atas kebodohan dan keserakahan pria yang bahkan tak pantas ia sebut keluarga.
Setiap lembar uang yang ia dapatkan-dari melayani pelanggan, dari mengaduk adonan, dari membersihkan remah-remah di lantai marmer kusam-semua hanya mengalir ke satu tempat: rekening bank pribadi milik Riccardo Valentini, pemimpin Kartel La Sanguina. Mafia yang memegang lehernya, yang mengikatnya dengan benang utang yang terbuat dari baja.
Evelyn menatap cermin buram di belakang etalase. Matanya yang cokelat tampak lebih gelap, seperti kopi tanpa gula. Rambutnya, yang seharusnya ia biarkan tergerai bebas, selalu diikat ketat agar tidak mengganggu pekerjaannya. Dia terlihat seperti pelayan toko pizza biasa di pinggir Palma.
Dan itulah intinya. Penyamaran.
Delizia bukanlah toko pizza biasa. Di balik rak-rak berisi botol minyak zaitun dan toples acar, ada ruangan kecil dengan pintu baja tersembunyi. Di situlah transaksi, pembukuan, dan terkadang, hukuman, dilakukan. Delizia adalah pos terdepan La Sanguina. Dan Evelyn, si pelayan cantik yang selalu tersenyum ramah pada setiap pelanggan, adalah mata uang berjalan yang tidak boleh rusak.
Pintu depan berderit, memutus lamunannya.
"Buon Giorno, bella," sapa Dante, pria bertubuh besar dengan tato kalajengking di lehernya. Dante adalah salah satu kaki tangan Riccardo yang paling setia-dan paling menjengkelkan. Ia datang bukan untuk sarapan, tapi untuk memastikan Evelyn ada di tempatnya.
"Selamat pagi, Dante," jawab Evelyn, senyum profesionalnya langsung terpasang, tanpa satu pun emosi yang nyata. "Mau kopi atau espresso?"
"Kau tahu aku tidak suka kafein. Aku datang untuk melihat si cantik ini. Ada pesanan khusus hari ini?" Dante menyandarkan tubuhnya di konter, pandangannya terlalu lama tertuju pada pergelangan tangan Evelyn yang ramping.
"Panggangan baru akan menyala. Belum ada pesanan khusus selain yang biasa kau tahu," balas Evelyn dingin. Maksud 'pesanan khusus' Dante selalu sama: laporan tentang siapa yang datang ke bagian belakang toko kemarin malam, berapa banyak uang yang ditransfer, dan siapa yang tampak mencurigakan. Evelyn hafal betul perannya. Dia adalah telinga dan mata mereka, tapi dia bersumpah, dia tidak akan pernah melibatkan hatinya.
Dante tertawa kecil, suara seraknya terdengar seperti amplas. "Santai saja, tesoro. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Riccardo... Bos kita... ia tidak suka barang miliknya mendapat masalah."
Hati Evelyn mencelos. Barang miliknya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di tempat ini, ia tahu statusnya. Bukan karyawan. Bukan pelayan utang. Tapi properti. Kata-kata itu, "Barang miliknya," selalu berhasil mengoyak dinding pertahanannya, bahkan setelah sepuluh tahun.
"Aku tahu, Dante. Aku tahu betul," kata Evelyn sambil mengelap konter dengan gerakan cepat, mencoba menjauhkan Dante darinya tanpa terlihat kasar. "Aku tidak akan lari. Bukan sekarang. Utangku hampir lunas. Aku tidak sebodoh itu untuk merusak sepuluh tahun kerja keras."
Dante tersenyum sinis, memperlihatkan gigi depannya yang sedikit renggang. "Itu gadis baik. Tapi... bahkan setelah lunas, apa kau pikir Bos akan membiarkanmu pergi semudah itu?"
Pertanyaan itu menampar Evelyn lebih keras daripada tamparan fisik manapun.
Ia membeku. Tangan yang memegang lap berhenti bergerak. Pertanyaan itu adalah hantu yang selalu menghantuinya setiap malam. Selama ini, dia berpegang teguh pada perjanjian: Sepuluh tahun, setelah itu dia bebas. Tapi ini adalah dunia Mafia. Perjanjian tertulis di atas kertas. Obsesi Riccardo Valentini tertulis di udara yang ia hirup. Dan di dunia ini, udara jauh lebih nyata daripada kertas.
Evelyn mengangkat dagunya, memaksakan keberanian kembali. "Perjanjian adalah perjanjian. Riccardo adalah pria bisnis. Dia tahu itu."
"Riccardo adalah pria yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, carissima." Dante menegakkan badan, mengakhiri percakapan kecilnya, tapi meninggalkan racun keraguan yang menyebar cepat dalam darah Evelyn. "Lanjutkan pekerjaanmu. Aku harus pergi menemui Rocco."
Setelah Dante menghilang ke lorong, Evelyn bersandar di dinding belakang, napasnya memburu. Pintu baja di ruang tersembunyi berdentang pelan, tanda Dante sudah masuk ke 'kantor' sebenarnya. Jantungnya berdetak liar. Ia harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Fokus. Satu tahun. Hanya satu tahun lagi.
Ia ingat Riccardo, meskipun ia sudah lama tidak bertatap muka langsung dengannya-hampir tiga tahun. Tapi kenangan itu, atau lebih tepatnya teror dari kenangan itu, masih segar.
Riccardo Valentini. Pria yang membuat setan pun tampak seperti malaikat. Wajahnya-sangat tampan, struktur rahangnya tajam seperti pahatan marmer, mata gelapnya selalu memancarkan kombinasi kejenuhan dan bahaya yang mematikan. Pria itu berjalan dengan aura kekuasaan yang membuat semua orang ingin berlutut, termasuk para Capo dari kartel lain.
Riccardo telah melihat Evelyn tumbuh dari seorang remaja yang ketakutan menjadi wanita muda yang lelah namun bersemangat. Ia menyaksikan setiap perjuangan Evelyn dari balik bayangan. Dan di mata gelapnya, Evelyn selalu melihatnya: bukan sekadar keinginan, tapi klaim kepemilikan. Klaim yang lebih menakutkan daripada utang seratus juta euro.
Aku menginginkan kau, Evelyn. Kau adalah bunga yang tumbuh di sarangku. Dan bunga itu, tentu saja, hanya akan mekar untukku.
Suara Riccardo berbisik di benaknya, mengulangi kata-kata yang pernah ia ucapkan empat tahun lalu, tepat sebelum Evelyn melarikan diri untuk pertama kalinya. Pelarian yang gagal, yang berakhir dengan perang kartel kecil-kecilan dan Evelyn kembali di bawah perlindungan Mafia Rusia, Ivanovic Romanov. Dan setelah empat tahun bersembunyi di pelukan pria lain, ia tetap ditemukan. Diculik. Dan diklaim kembali.
Kini, ia kembali ke Delizia, tempat awal ia membayar dosa. Bedanya, kali ini ia tidak bersembunyi di sini. Ia diposisikan. Riccardo tahu, Evelyn akan mencoba lari lagi. Dan menempatkannya di Delizia, di jantung wilayahnya, hanya menunjukkan betapa yakinnya Riccardo bahwa Evelyn tidak akan ke mana-mana.
Pukul sepuluh pagi. Toko mulai ramai. Pria-pria bersetelan mahal dan sepatu kulit mengilap berdatangan, bukan untuk pizza, tapi untuk meeting di ruang belakang. Evelyn menyajikan kopi dengan tangkas, otaknya sibuk menghitung sisa waktu.
Aku tidak boleh menunggunya sampai utang ini lunas. Begitu lunas, ia tidak punya alasan hukum untuk menahanku, tapi ia akan punya alasan lain: obsesi.
Satu-satunya cara untuk menang adalah menghilang sebelum hari terakhir utang itu jatuh tempo. Mungkin tiga bulan sebelumnya. Empat bulan. Cukup waktu bagi Riccardo untuk tidak menduganya.
Pikiran itu membuatnya ngeri, tapi juga memberi dorongan adrenalin yang sangat ia butuhkan. Lari berarti kehilangan sisa utang yang sudah ia bayar, tapi itu berarti membeli kebebasan. Nyawa dan kebebasan jauh lebih berharga daripada beberapa ratus ribu euro sisa pembayaran.
Siang itu, sekitar pukul satu, telepon di konter berdering. Telepon khusus, yang hanya berdering jika itu adalah jalur komunikasi langsung dari kantor pusat La Sanguina. Evelyn meneguk ludah, jantungnya kembali berdebar tak karuan.
"Delizia," jawab Evelyn, suaranya berusaha keras terdengar normal.
"Evelyn? Ini Marco." Suara Marco, tangan kanan Riccardo. Ia selalu formal, selalu efisien, jauh lebih menakutkan daripada Dante. "Riccardo membutuhkanmu. Sekarang."
"Aku... aku tidak bisa meninggalkan toko, Marco. Aku sedang membersihkan dapur untuk panggangan shift kedua."
"Bersihkan nanti. Ini bukan permintaan. Ini perintah." Suara Marco tidak mengandung negosiasi. "Riccardo ada di vila. Dia meminta kau datang ke sana, membawa sesuatu. Kau tahu jalannya."
Evelyn memejamkan mata. Vila Riccardo. Tempat ia tidak pernah ingin kunjungi lagi. Tempat yang menjadi simbol dari malam-malam tanpa tidur dan mimpi buruk. Ini bukan hanya tentang membawa sesuatu. Ini adalah undangan. Umpan.
"Apa yang harus kubawa?" tanya Evelyn.
"Sebotol anggur merah vintage 1982. Anggur yang kau sembunyikan di ruang bawah tanah. Dan... bawa dirimu, Evelyn. Bos ingin memastikan kau masih sedap dipandang."
Sialan. Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Riccardo tidak akan sabar. Setidaknya, ini bukan hari terakhirnya lari. Ini hanya hari di mana ia harus berakting.
Evelyn segera mencari Luigi, koki paruh waktu yang bertugas mengurus pizza di sore hari. Ia memberikan instruksi singkat, mengenakan jaketnya-jaket denim lusuh yang tidak mencolok-dan berjalan menuju gudang anggur di ruang bawah tanah.
Gudang itu dingin, sunyi, dan beraroma tanah lembap. Evelyn menemukan botol Bordeaux vintage yang dicari Riccardo. Anggur itu terasa berat di tangannya, seberat nasibnya sendiri. Ia menyembunyikannya di dalam kantong kain hitam.
Dia mengambil kunci mobil dinas toko-Fiat Panda tua yang bobrok-dan melaju keluar dari Palma menuju pinggiran kota, tempat Vila Valentini berada. Jalanan berliku, diapit oleh pohon-pohon cypress yang tinggi, terasa semakin mencekik seiring ia mendekati tujuannya.
Vila Riccardo, Il Drago, terletak di atas bukit, menghadap Laut Tengah. Bangunan itu adalah mahakarya arsitektur klasik, dihiasi dengan pilar-pilar batu alam dan patung-patung marmer. Itu adalah keindahan yang menipu, karena di balik dinding-dindingnya yang elegan, mengalir darah dan kekejaman.
Evelyn melewati gerbang besi tempa besar, yang dibuka otomatis oleh penjaga bersenjata yang bersembunyi di balik semak-semak. Ia memarkir mobilnya di halaman batu kerikil, di antara dua mobil sport Ferrari yang mengkilap.
Seorang pelayan yang rapi menyambutnya di pintu utama dan mengantarnya ke teras belakang.
Dan di sanalah dia. Riccardo Valentini.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di tepi teras marmer putih, menatap laut biru tak bertepi. Angin laut menerpa jas linen hitamnya yang mahal. Postur tubuhnya sempurna, kekar di balik kain, memancarkan aura berbahaya. Ia seperti patung dewa Yunani yang baru saja turun ke bumi-seorang dewa yang memegang trisula kekuasaan.
Evelyn meremas kantong kain di tangannya. Ini adalah momen yang paling ia takuti: bertemu dengan pria yang memiliki utangnya, dan yang sekarang ingin memiliki jiwanya.
Riccardo berbalik. Gerakannya lambat, elegan, dan penuh perhitungan. Ketika mata gelapnya menangkap sosok Evelyn, seringai tipis, hampir tidak terlihat, muncul di sudut bibirnya. Itu bukan senyum kegembiraan, tapi senyum predator yang telah melacak mangsanya.
"Evelyn. Kau datang," katanya. Suaranya rendah, serak, dan memiliki aksen Italia yang kental. Bahkan setelah bertahun-tahun, suara itu masih membuat lutut Evelyn lemas.
"Aku menerima perintah Marco," jawab Evelyn, menjaga suaranya tetap datar. Ia mendekat perlahan, berjalan di atas karpet Persia mahal.
"Tentu saja. Kau selalu patuh, itulah salah satu hal yang kusukai darimu," ejek Riccardo. Dia berjalan ke meja kecil dan menuangkan segelas grappa untuk dirinya sendiri. "Anggur itu. Berikan padaku."
Evelyn meletakkan kantong itu di meja. Riccardo membukanya, melihat botol itu sekilas, lalu mengangguk puas. Dia tidak tertarik pada anggur itu. Dia hanya ingin Evelyn datang.
"Kau terlihat lelah," komentar Riccardo, nadanya tiba-tiba berubah menjadi lembut, perhatian palsu yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman. Dia mendekatinya, langkahnya tanpa suara di atas marmer.
"Aku bekerja, Riccardo. Delizia ramai. Seperti yang kau minta."
"Ah, ya. Delizia. Tempat yang bagus. Menjaga kau tetap sibuk. Menjaga kau tetap di bawah mataku." Tangannya terangkat, dan Evelyn menegang, bersiap untuk sentuhan yang tidak ia inginkan. Tapi Riccardo hanya menyentuh sehelai rambut yang lepas dari ikatan ketatnya. Dia menyisipkannya ke belakang telinga Evelyn, sentuhan itu begitu ringan, begitu hati-hati, tapi terasa seperti rantai yang mengikat lehernya.
"Kau tahu, Evelyn," bisiknya, suaranya kini bergetar dengan intensitas yang lebih dalam. "Hanya tinggal satu tahun. Tapi waktu itu terlalu lama bagiku. Kau berada di bawah perlindungan Mafia Rusia itu selama empat tahun. Empat tahun! Aku harus membuat penyesalan itu berharga, kan?"
Evelyn menelan ludah. "Aku tidak tahu apa maksudmu, Riccardo."
Dia tertawa, sebuah tawa kering yang tanpa humor. "Jangan jadi bodoh. Kau tahu. Kau tahu bahwa utang itu hanyalah alasan bagiku untuk menahan kau. Utang itu bisa kubayar sepuluh kali lipat. Tapi aku ingin kau membayar dengan caramu sendiri."
Dia memiringkan kepalanya, mata gelapnya menelanjangi Evelyn, menembus lapisan pelayan toko yang ia kenakan.
"Kau adalah wanita yang kuat. Kau bukan lagi gadis kecil yang menangis di hadapanku sepuluh tahun lalu. Kau melarikan diri dariku. Kau bersembunyi di pelukan Ivanovic Romanov. Itu menyakitiku, Evelyn."
"Itu adalah keputusan yang harus kuambil untuk menyelamatkan diriku," Evelyn berbisik.
"Menyelamatkan diri?" Riccardo tersenyum lebar kali ini, memperlihatkan gigi putihnya yang sempurna. "Kau pikir Ivanovic itu penyelamat? Dia hanya pria lain yang menginginkan kau, sama sepertiku. Bedanya, aku punya hak legal, Evelyn. Aku punya perjanjian yang mengikat kau."
Dia menarik tubuhnya lebih dekat, jarak di antara mereka sekarang hanya beberapa inci. Evelyn bisa mencium aroma kayu cendana, asap tembakau mahal, dan kekuasaan yang tajam dari tubuhnya.
"Satu tahun," katanya, suaranya turun menjadi gemuruh. "Satu tahun lagi, utang itu akan lunas. Tapi aku tidak bisa menunggu selama itu, mia cara."
Riccardo mengangkat tangan dan menyentuh pipi Evelyn, ibu jarinya membelai tulang pipinya. Sentuhan itu panas dan menuntut. "Aku sudah menahan diri selama bertahun-tahun, Evelyn. Sejak pertama kali aku melihat kau di Palma, ketakutan tapi berjuang. Aku melihat api di matamu. Dan api itu, aku ingin menggunakannya untuk menghangatkan ranjangku. Aku ingin kau. Malam ini. Bukan sebagai pembayaran utang. Tapi sebagai hadiah darimu untukku."
Rasa mual menyeruak di perut Evelyn. Ini dia. Momen yang ia duga. Momen di mana ia harus membuat keputusan. Menjadi budak obsesi pria ini, atau lari dan menghadapi seluruh kartel La Sanguina.
Evelyn memaksa dirinya untuk tidak bergetar. Dia menatap langsung ke mata Riccardo, sebuah tindakan keberanian yang hampir gila.
"Aku tidak datang ke sini untuk menawar, Riccardo. Aku hanya membawa anggur yang kau minta," kata Evelyn. "Dan aku akan pergi."
Wajah Riccardo menjadi kaku. Sentuhan lembutnya tadi menghilang, digantikan oleh cengkeraman baja di dagu Evelyn. Ia memaksanya untuk menatapnya.
"Kau menolakku?"
"Aku menghormati perjanjian. Aku melayani di Delizia. Aku bekerja. Aku membayar utang. Itu saja. Tidak ada lagi yang termasuk dalam kesepakatan itu," jawab Evelyn, setiap kata terasa seperti api yang membakar lidahnya. Ia tahu ia mempertaruhkan segalanya.
Riccardo mengamatinya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Mata gelapnya menjelajahi matanya, mencoba mencari celah, kebohongan, atau rasa takut yang bisa ia eksploitasi. Tapi yang ia temukan hanyalah kelelahan dan tekad.
"Keberanianmu ini... itu yang membuat kau begitu menarik, Evelyn," katanya pelan. Cengkeramannya mengendur, lalu dia melepaskannya. Evelyn mundur selangkah.
"Pergi," perintah Riccardo. Dia berbalik lagi, menghadap Laut Tengah. Bahunya terlihat tegang. "Kau sudah memenuhi perintah. Jangan kembali sampai aku memanggil kau lagi. Dan Evelyn... jangan pernah berpikir untuk lari lagi. Kau tahu apa yang terjadi terakhir kali. Kali ini, aku tidak akan memanggil kau kembali. Aku hanya akan mengurus Romanov sialan itu."
Ancaman itu jelas. Ancaman itu dingin. Dia tidak mengancam Evelyn. Dia mengancam Nikolai Volkov. Pria yang telah melindunginya selama empat tahun, pria yang mencintainya.
Evelyn tidak menunggu sedetik pun lagi. Dia berbalik dan berlari. Dia tidak peduli dengan penampilannya, dia tidak peduli dengan para pelayan. Dia berlari melalui lorong-lorong vila yang mewah, udara terasa berat, mencekiknya.
Ketika ia mencapai Fiat Panda tuanya dan menyalakannya, tangannya gemetar. Riccardo tidak marah. Itu lebih buruk. Dia hanya mengingatkannya bahwa permainan telah berubah. Utang hanyalah MacGuffin. Permasalahannya adalah obsesi.
Evelyn melaju kencang menjauhi Il Drago, air matanya bercampur dengan keringat dingin di pipinya.
"Aku tidak bisa menunggu satu tahun," Evelyn bergumam pada dirinya sendiri, tinjunya memukul kemudi mobil. "Aku tidak bisa menunggu sampai utang ini lunas. Begitu lunas, aku tidak punya alasan untuk lari. Aku harus lari sekarang. Aku harus menghilang. Sebelum dia membuat langkah berikutnya."
Dia tahu, keputusan ini berarti ia harus mengkhianati perjanjian. Dia harus melarikan diri, menyisakan sisa utangnya. Itu berarti Riccardo akan marah besar, jauh lebih besar daripada kemarahan sebelumnya. Ini berarti perang, bukan hanya antara Kartel, tetapi perang pribadi antara Evelyn dan pria paling berbahaya di Italia.
Tapi dia tidak punya pilihan. Menyerah berarti kehilangan jiwanya, menjadi milik Riccardo secara fisik dan mental. Dan itu adalah neraka yang tidak bisa ia bayar.
Saat matahari mulai condong ke barat, Evelyn Rossi, si pelayan toko pizza yang terkunci dalam utang, akhirnya membuat keputusan. Rencana harus disusun. Dalam tiga bulan ke depan, ia harus mengumpulkan cukup uang gelap (uang tunai, bukan transfer bank yang bisa dilacak Riccardo), mendapatkan paspor palsu, dan menghilang dari Palma tanpa jejak.
Dan dia harus mencari cara untuk meninggalkan pesan pada Nikolai Volkov-untuk memberi tahu pria Rusia itu agar tidak datang mencarinya. Karena jika Nikolai datang, itu bukan hanya tentang menyelamatkan Evelyn. Itu akan menjadi pemusnahan total, perang kartel yang akan menenggelamkan seluruh Italia dalam darah.
Tekadnya kini sudah bulat. Ia harus lari. Sendiri. Dan hidup, atau mati, sebagai wanita bebas.
Malam itu di Delizia, Evelyn tidak lagi melihat panggangan dan adonan. Yang ia lihat hanyalah peta, rute pelarian, dan bayangan Riccardo yang menatap tajam dari kejauhan. Hitung mundurnya tidak lagi menuju kebebasan yang sah. Hitung mundurnya telah berubah: menjadi hitungan mundur menuju pelarian yang putus asa.
Udara di dalam Delizia malam itu terasa tebal dan berat, seolah setiap helaan napas Evelyn harus membayar iuran. Lampu neon di dapur berkedip-kedip, menerangi genangan minyak yang ia lap dengan gerakan mekanis. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Toko sudah tutup. Luigi, si juru masak, sudah pulang sejak dua jam lalu. Hanya Evelyn yang tersisa, bersama bayangan Riccardo yang menari-nari di sudut ruangan.
Dia memegang lap kotor itu erat-erat, buku jarinya memutih. Tangan Riccardo. Sentuhan itu masih terasa, cengkeraman baja di dagunya, mata gelap itu yang berjanji akan menghancurkan Nikolai Volkov. Ancaman itu bukanlah gertakan. Riccardo Valentini tidak pernah menggertak. Jika dia berjanji memusnahkan seseorang, dia akan menepatinya dengan presisi yang mengerikan.
Evelyn tahu dia hanya punya tiga bulan, maksimal. Utang itu? Persetan dengan sisa utang. Jika ia bisa lunas dalam satu tahun, itu berarti tersisa sekitar tiga ratus ribu euro lagi. Jumlah yang fantastis, tapi tidak sebanding dengan nyawanya atau, yang lebih penting, nyawa Nikolai. Riccardo sudah mengambil keputusan. Pertemuan siang tadi bukan hanya untuk memamerkan kekuasaannya, tapi untuk mempercepat jadwal. Dia sudah bosan menunggu.
Tiga bulan. Cukup waktu untuk mengumpulkan uang tunai yang tersembunyi, mencari dokumen palsu di pasar gelap Palermo, dan mengatur rute pelarian.
Rute pelarian pertamanya, empat tahun lalu, adalah sebuah kecelakaan yang dipicu oleh keputusasaan murni. Rute kali ini haruslah sebuah mahakarya perencanaan, sebuah manuver yang harus dieksekusi dengan kesempurnaan seorang maestro.
Dia berjalan perlahan menuju kamar kecil di belakang, tempat loker karyawannya berada. Di balik papan kayu lapis yang longgar di bagian belakang lokernya, ia menyimpan kotak timah kecil. Di dalamnya, ada paspor aslinya-yang sudah hangus dan tak bisa dipakai-beberapa keping euro emas tua yang ia tukarkan dari upahnya bertahun-tahun lalu, dan yang paling penting, sebuah kartu nama kusam.
Kartu nama itu bukan dari toko pizza, bukan dari bank, apalagi dari La Sanguina. Itu milik seorang kontak lama dari masa lalu yang ia harap masih bisa dipercaya untuk membuat identitas baru. Evelyn meraba huruf-huruf yang timbul di kartu itu. Ini risiko besar. Percaya pada pihak ketiga berarti memberikan nyawanya pada orang asing. Tapi ia tidak bisa melakukan ini sendirian.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada luka tipis yang memudar di pergelangan tangannya. Luka lama, bekas sayatan kaca, yang terjadi empat tahun lalu. Kenangan itu, seperti pisau tajam, langsung menariknya dari kegelapan Delizia kembali ke salju tebal dan dingin di Timur.
Empat Tahun di Bawah Salju
Itu adalah malam yang penuh badai salju. Evelyn berlari, hanya berbekal jaket tipis dan sepotong roti keras yang ia curi dari dapur Il Drago. Dia baru berumur dua puluh satu tahun, dan setelah tujuh tahun melayani keluarga Valentini sejak kematian kakek tirinya, dia akhirnya mencapai titik puncak. Keputusan Riccardo untuk memindahkannya dari toko di pinggir kota ke vila pribadinya sebagai 'asisten rumah tangga' adalah tanda yang jelas. Riccardo sudah menunggu cukup lama.
Dia melarikan diri, tanpa tujuan. Hanya berlari ke Utara, ke mana pun yang jauh dari Italia. Dia berhasil menumpang truk barang melintasi perbatasan ke Slovenia, lalu ke Hungaria. Dia bertahan hidup dari sisa uang recehnya, bekerja ilegal di dapur kotor dan pabrik tekstil.
Pelariannya berakhir di Beograd. Terluka, kelaparan, dan kedinginan, dia pingsan di lorong belakang sebuah diskotek yang remang-remang.
Ketika ia bangun, ia berada di ruangan yang hangat, dengan selimut tebal dan aroma antiseptik yang menusuk. Di sampingnya, duduk seorang pria dengan mata biru es dan struktur tulang wajah yang keras, seolah diukir dari granit Rusia.
Pria itu adalah Nikolai Volkov.
Saat itu, ia hanya dikenalkan sebagai Ivan, seorang pengusaha Rusia yang mengurus bisnis impor-ekspor. Baru belakangan Evelyn tahu bahwa 'bisnis' itu adalah cabang dari kartel Vory v Zakone Rusia. Nikolai Volkov, Capo dari cabang Balkan.
"Kau terlalu jauh dari Palma, devushka," kata Nikolai, suaranya dalam dan bergetar seperti cello. Dia berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih, dengan aksen Rusia yang kuat.
Evelyn saat itu terlalu lemah untuk takut. "Aku tahu siapa kau. Aku tahu siapa kau. Biarkan aku pergi. Aku tidak mau berada di bawah Mafia mana pun lagi."
Nikolai hanya menatapnya. Tatapannya berbeda dari Riccardo. Mata Riccardo menuntut, haus. Mata Nikolai... tampak letih, tapi memancarkan semacam kesedihan yang membuatnya tampak seperti beruang yang terluka.
"Aku tidak tertarik pada utang atau perang kekuasaan konyol pria Italia," jawab Nikolai. "Kau terluka. Aku melihat kau pingsan di luar. Tempatku memberi perlindungan. Selama kau tidak membawa masalah ke pintuku, kau bebas. Makanlah. Kau terlihat seperti hantu."
Dan begitulah, Evelyn tinggal. Awalnya, dia hanya pekerja rumah tangga, membantu di kediaman Nikolai yang mewah tapi terpencil. Dia tahu dia adalah pelarian, tapi entah kenapa, dia merasa lebih aman di sana daripada di Italia. Nikolai memberinya tempat berlindung, makanan, dan yang paling berharga: anonimitas.
Nikolai adalah kebalikan dari Riccardo. Riccardo suka tontonan, kekuasaan yang terbuka. Nikolai adalah bayangan, tenang, cerdas, dan mematikan dalam kesunyian. Dia tidak pernah menyentuh Evelyn. Dia tidak pernah menuntut apa pun. Dia menghormati ruang pribadinya, mungkin karena dia tahu betapa rapuhnya Evelyn dari kehidupan lamanya.
Namun, perlahan, dinding di antara mereka runtuh.
Evelyn menemukan bahwa Nikolai suka membaca puisi Rusia kuno di malam hari, dan bahwa di balik penampilan kerasnya, ia punya kepekaan artistik yang mengejutkan. Ia mendapati Evelyn suka melukis-hobi yang sudah lama ia tinggalkan-dan ia memberinya studio kecil di lantai atas.
Suatu malam, Evelyn sedang melukis, mencoba menuangkan trauma pelariannya ke kanvas, saat Nikolai masuk tanpa mengetuk. Dia berdiri di ambang pintu, melihat kanvas abstrak yang kacau itu.
"Itu kemarahan," kata Nikolai pelan.
"Bukan hanya kemarahan. Itu rasa takut," jawab Evelyn, tanpa berbalik.
Nikolai mendekat. Dia tidak menyentuh kanvas, hanya berdiri di belakang Evelyn. "Di sini, kau tidak perlu takut. Aku tahu apa itu Riccardo Valentini. Dia adalah serigala yang berteriak. Aku adalah beruang yang tidur. Beruang tidur, jika dibangunkan, akan menghancurkan hutan. Dia tidak akan mencari kau di sini."
"Dia akan mencari utangnya. Dia tidak akan melepaskanku."
"Utang? Dia tidak peduli pada uang. Dia peduli pada apa yang tidak bisa ia beli. Dia tidak bisa membeli kau. Dia tidak bisa membeli kebebasan. Dia tidak bisa membeli rasa hormat. Dan kau, kau adalah simbol semua itu." Nikolai meletakkan tangannya di bahu Evelyn. Itu sentuhan pertama. Berat, meyakinkan, bukan posesif. "Kau bebas, Evelyn. Kau hanya perlu memilih untuk menjadi bebas. Aku akan melindungi pilihan itu."
Malam itu, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perlindungan dimulai. Cinta yang tumbuh di bawah ancaman perang, di tengah salju dan keheningan. Nikolai bukan pria yang romantis, tetapi tindakannya sangat tulus. Dia tidak pernah menjanjikan masa depan yang normal, karena ia tahu kehidupan mereka tidak akan pernah normal. Dia hanya menjanjikan perlindungan, kesetiaan, dan cintanya.
Selama empat tahun, Evelyn hidup dalam perlindungan emas. Dia dan Nikolai tidak pernah menikah, tapi dia adalah wanitanya, dihormati oleh anak buahnya, dijaga di dalam benteng Vory v Zakone. Ia hampir melupakan bau pizza dan minyak zaitun. Ia mulai terbiasa dengan aroma vodka dingin dan asap tembakau Rusia.
Ia hampir percaya bahwa Riccardo Valentini adalah masa lalu.
Keyakinan itu hancur pada ulang tahunnya yang ke dua puluh lima. Mereka berada di Montenegro, di sebuah properti tepi laut milik Nikolai. Malam itu seharusnya menjadi perayaan kecil.
Nikolai memberinya kalung, sebuah liontin batu ametis ungu tua.
"Ini untuk keberanianmu, Lyubimaya," bisik Nikolai, menempelkan dahinya ke dahi Evelyn. Kekasihku.
Tiba-tiba, kaca jendela pecah. Suara tembakan otomatis membelah keheningan.
"Sialan!" teriak Nikolai, mendorong Evelyn ke bawah meja kayu berat.
"Riccardo!" jerit Evelyn, mengenal gaya serangan itu: cepat, bersih, dan mematikan.
Anak buah Nikolai langsung membalas tembakan. Pertempuran sengit meletus di rumah tepi laut yang tenang itu. Ini bukan hanya pembunuhan, ini adalah invasi. La Sanguina tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang untuk mengambil kembali.
Nikolai, dengan wajah sekeras batu, menarik Evelyn ke koridor belakang. "Ikuti aku! Ke bunker!"
Saat mereka berlari, tiga pria bertopeng berbadan besar muncul di ujung koridor. Mereka adalah tim khusus dari Riccardo. Mereka tidak menembak. Mereka bergerak untuk mencegat.
"Lari, Evelyn!" teriak Nikolai. Dia menarik pistol dari balik jasnya dan menembak dua pria itu. Pria ketiga berhasil mendekat. Nikolai terlibat dalam pertarungan tangan kosong yang brutal, tubuhnya yang besar beradu dengan kekuatan musuh.
Evelyn melihatnya. Nikolai berjuang keras, darahnya mulai membasahi kemejanya. Dia tahu, orang-orang ini dikirim bukan untuk membunuh Nikolai, tapi untuk mengambilnya.
Saat perhatian Nikolai terpecah karena serangan dua orang anak buah Riccardo lainnya, pria pertama yang ditembak, yang hanya terluka, berhasil menahan lengan Nikolai dari belakang.
Dan saat itulah Evelyn ditangkap.
Cengkeraman di lengannya terasa menyakitkan, dan dia diseret ke luar. Dia menoleh ke belakang, melihat pemandangan yang akan menghantuinya selamanya: Nikolai, berlumuran darah, matanya yang biru es memancarkan keputusasaan murni, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lawannya, sambil berteriak dengan suara serak,
"Net! Jangan ambil dia! Evelyn!"
Nikolai tidak berteriak namanya dalam bahasa Italia, atau bahasa Inggris. Dia berteriak dalam bahasa Rusia. Itu adalah teriakan yang jujur, tidak terfilter, teriakan cinta yang kalah.
Itu adalah momen terakhir Evelyn melihat Nikolai Volkov sebagai pelindungnya.
Dia diseret ke mobil hitam yang menunggu, dan dalam beberapa jam, dia kembali ke Italia. Kembali ke tangan Riccardo Valentini.
Riccardo menyambutnya dengan tawa dingin. "Kau pikir kau bisa lari, tesoro? Kau menghabiskan empat tahun di tempat sampah itu. Sekarang kau kembali, tempat kau seharusnya berada. Dan karena petualanganmu, kau akan membayar utangmu lagi di tempat asalnya. Tapi kali ini, aku akan mengawasi kau dengan lebih dekat."
Dia tidak menyentuhnya malam itu. Dia hanya memenjarakannya lagi dalam siklus kerja di Delizia, memperpanjang masa pengabdiannya, menempatkannya tepat di jantung kerajaan kegelapannya, sambil sesekali mengirim utusan atau memanggilnya ke vila-seperti yang ia lakukan siang tadi.
Evelyn tersentak kembali ke kenyataan. Lokernya. Delizia. Bau adonan pizza.
Ia menarik napas dalam-dalam, menekan luka lama di pergelangan tangannya. Luka itu adalah pengingat akan kebebasan yang hilang dan cinta yang terpaksa ditinggalkan.
Satu hal yang tidak pernah Riccardo ketahui, adalah kalung itu. Liontin ametis dari Nikolai. Evelyn tidak pernah memakainya. Dia menyembunyikannya di dalam sepatu bot kulit lamanya, barang yang ia tinggalkan di vila Riccardo sebelum dibawa kembali ke Delizia. Dia berhasil menyelundupkannya kembali ke tokonya.
Dia membuka kotak timah kecil di loker lagi. Bukan untuk paspor atau uang emas. Tapi untuk liontin itu.
Ametis. Batu keberanian.
Nikolai harus tahu. Dia harus tahu bahwa Riccardo tidak hanya akan mengejar utang atau Evelyn. Dia akan mengejar perang total.
Riccardo pasti sudah tahu Evelyn akan mencoba menghubunginya. Saluran telepon akan disadap, surat akan disaring, bahkan pesan yang diselipkan di balik remah-remah pizza akan diperiksa.
Evelyn melihat ke sekeliling ruangan dapur yang kosong. Ada satu cara. Satu cara gila yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang dari dunia Nikolai.
Di setiap pengiriman barang impor yang datang ke Delizia-botol minyak zaitun mahal, rempah-rempah langka, anggur khusus-selalu ada satu barang, satu kode. Evelyn ingat percakapannya dengan Nikolai saat ia pertama kali belajar tentang bisnis Mafia Rusia.
"Jika kau butuh aku, dan kau tahu Riccardo mengawasi, Lyubimaya. Kirimkan aku Sinyal Kosong. Barang yang dikirim ke tempatmu harus berisi sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Sesuatu yang gila, yang hanya akan menarik perhatianku. Sesuatu yang akan membuat orang Italia itu tertawa. Atau membuat ia berpikir itu adalah kesalahan konyol."
Sinyal Kosong. Sebuah paket yang tampaknya legal, tetapi isinya sangat aneh sehingga hanya Nikolai yang akan menganggapnya sebagai pesan darurat.
Evelyn melihat daftar pengiriman yang dijadwalkan besok pagi. Ada satu pengiriman penting: Kopi Arabika dari Kolombia-yang sebenarnya berisi kokain kualitas tinggi. Pengiriman ini akan datang ke Delizia untuk transit sebentar sebelum dijemput oleh orang La Sanguina di pelabuhan.
Ide gila muncul di benaknya. Evelyn tahu di mana Dante dan anak buahnya menyimpan kokain itu sementara menunggu penjemputan. Di dalam karung kopi yang disegel.
Jika ia menyelipkan sesuatu yang sangat aneh ke dalam salah satu karung itu-sesuatu yang akan dilihat oleh Nikolai, tapi akan diabaikan sebagai sampah oleh Riccardo.
Apa? Bunga? Terlalu romantis. Sebuah tulisan? Terlalu mudah dilacak.
Evelyn teringat akan sesuatu yang konyol yang ia pelajari dari Nikolai: dia benci boneka beruang. Dia fobia terhadap boneka beruang. Evelyn dan Nikolai sering bercanda tentang hal itu.
Tiba-tiba, ia teringat hadiah kecil yang diberikan Luigi padanya-boneka beruang kecil berwarna merah, kunci gantungan kunci murahan dari pasar malam yang ia ikat di tasnya.
Evelyn segera mengambilnya. Boneka beruang kecil, murah, konyol.
Dia harus mengambil risiko. Besok, saat Dante dan Rocco sibuk di ruang belakang, dia akan menyelipkan boneka beruang merah ini ke dalam salah satu karung kopi Kolombia.
Kokain itu akan dikirim ke gudang pusat. Dari sana, beberapa akan diekspor ke Balkan-ke jaringan distribusi Nikolai. Boneka beruang itu, barang yang tidak mungkin ada di dalam karung kopi Kolombia, akan menarik perhatian Nikolai segera setelah ia melihat laporan inventaris. Riccardo akan melihat daftar pengiriman, melihat 'kopi Kolombia', dan tidak akan menaruh curiga. Dante akan melihat 'gantungan kunci konyol' dan berpikir Evelyn ceroboh.
Tapi Nikolai akan tahu. Boneka Beruang Merah. Sinyal Kosong. Aku dalam bahaya. Tolong jangan datang. Ini jebakan.
Itulah pesan yang akan ia kirim. Dia tidak meminta Nikolai datang. Dia memohonnya untuk menjauh. Karena jika Nikolai datang lagi, seperti empat tahun lalu, kali ini Riccardo akan memastikan itu adalah kunjungan terakhirnya.
Evelyn Rossi, si pelayan toko pizza, menghapus air matanya. Dia melihat boneka beruang kecil itu, lalu liontin ametis di tangannya.
"Maafkan aku, Nikolai," bisiknya. "Aku harus lari. Dan aku harus memastikan kau tetap hidup."
Keputusan sudah dibuat. Rencana pelarian dimulai besok, dan langkah pertamanya adalah mengirimkan pesan yang mematikan kepada pria yang sangat ia cintai, memintanya untuk menjauh agar ia tetap aman dari cengkeraman pria yang sudah ia benci seumur hidupnya.
Dia mengunci kotak timah itu kembali. Tubuhnya terasa ringan, tetapi pikirannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan. Dia akan menjadi Evelyn yang tidak patuh lagi. Evelyn yang melarikan diri. Dan kali ini, ia akan berhasil, bahkan jika harus mengorbankan segalanya.
Dia mematikan lampu neon yang berkedip-kedip, meninggalkan Delizia dalam kegelapan. Malam itu, ia tidak tidur. Ia menghitung, merencanakan, dan menunggu fajar, menunggu kedatangan karung kopi Kolombia dan boneka beruang merah kecil.
Pagi itu, di Delizia, Evelyn tidak merasakan aroma adonan ragi, tapi aroma adrenalin. Dia tidak tidur semalam, matanya perih, namun pikirannya jernih dan setajam pisau lipat. Dia tahu, dia sedang bermain api, dan hari ini adalah hari di mana ia harus menyalakan korek apinya.
Pukul delapan pagi. Suasana toko masih sepi. Hanya ada Luigi di dapur, menyalakan panggangan batu. Luigi, pria tua dengan tangan kasar dan hati emas, hanya tahu bahwa Evelyn adalah karyawan yang cekatan. Dia tidak tahu bahwa Evelyn adalah bom waktu yang terikat pada Kartel paling menakutkan di Italia.
"Evelyn, pesanan kopi sudah datang. Ada sekitar dua puluh karung di gudang belakang," kata Luigi sambil mengelap tangannya dengan serbet. "Dante bilang, jangan sampai karung-karung itu disentuh. Sangat penting, katanya."
"Tentu, Luigi. Aku akan memastikan tidak ada tikus yang mendekat," jawab Evelyn, senyumnya terasa palsu di bibirnya.
Dante dan Rocco belum datang. Mereka biasanya tiba setelah jam sembilan, saat pengiriman kokain Kolombia itu siap untuk dipindahkan ke mobil kargo. Jendela waktu Evelyn hanya kurang dari satu jam, dan dia harus memanfaatkannya dengan sempurna.
Dia berjalan ke gudang belakang. Gudang itu gelap, berbau kapur barus dan rempah-rempah kering. Di sudut, tersusun rapi dua puluh karung goni besar, masing-masing dicap dengan logo kopi Arabika dari Medellín. Inilah 'kantor' tempat kokain itu disembunyikan.
Karung-karung itu dijahit rapat. La Sanguina tidak bodoh. Mereka tidak menyimpan kokain di tempat yang mudah dijangkau. Tapi Evelyn, sebagai 'pelayan' di sini, telah mengamati setiap detail. Dia tahu bahwa di bagian bawah karung kelima dari tumpukan, ada jahitan yang sedikit longgar. Itu adalah karung yang sering dibuka oleh Dante untuk 'memeriksa kualitas' atau mengambil sampel bagi Riccardo.
Evelyn mengeluarkan pisau kecil dari saku celemeknya-pisau kecil yang biasa ia gunakan untuk memotong mozzarella yang keras. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia memaksakan dirinya untuk fokus. Dia tidak boleh merusak segel karung itu terlalu jauh, hanya cukup untuk menyelipkan pesan.
Dia berlutut di depan tumpukan karung, menarik napas panjang. Dia harus cepat.
Dengan ujung pisau yang runcing, ia dengan hati-hati merobek satu benang di jahitan karung kelima. Benang itu putus dengan suara tik yang nyaris tak terdengar. Jantung Evelyn berdebar keras, suara itu terasa memekakkan telinga dalam kesunyian gudang.
Dia menarik benang itu dengan hati-hati, menciptakan celah kecil, sekitar satu inci panjangnya. Melalui celah itu, ia bisa melihat butiran kopi yang gelap dan berminyak. Dan di balik kopi itu, ia tahu, ada bungkusan plastik kecil berisi bubuk putih mematikan yang menjadi sumber kekayaan Kartel La Sanguina.
Evelyn merogoh saku celemeknya. Ia mengeluarkan kunci gantungan kunci-si Boneka Beruang Merah kecil, matanya terbuat dari kancing hitam. Boneka itu tampak konyol dan polos, sangat kontras dengan isi karung.
Dia mendorong boneka itu melalui celah yang baru ia buat. Dia harus memastikan boneka itu cukup masuk, tidak tersangkut di jahitan, tetapi juga tidak terlalu tenggelam di antara butiran kopi sehingga tidak terlihat saat pemeriksaan. Evelyn menggunakan ujung pisau untuk menyodok boneka itu lebih dalam, memastikan boneka itu terselip di balik biji kopi yang padat.
Misi selesai.
Sekarang, menutupnya kembali. Evelyn mengambil benang kasar dari laci di konter kasir-benang yang sama persis digunakan untuk menjahit karung goni. Dengan tangan yang sedikit berkeringat, ia menjahit celah itu kembali, mencoba meniru jahitan mesin yang presisi. Gerakannya harus sempurna, tidak boleh ada jejak tangan manusia.
Setelah selesai, dia menatap karung itu. Jahitannya tampak sedikit lebih longgar, tapi tidak akan terlihat kecuali seseorang mencarinya dengan teliti. Dante dan anak buahnya tidak akan memeriksa. Mereka hanya akan mengandalkan berat dan segel utama.
Evelyn segera membersihkan debu kopi di tangannya, menyimpan pisau, dan kembali ke dapur. Hanya butuh waktu lima menit. Lima menit yang terasa seperti peperangan.
Dia tahu, karung ini akan dibawa ke gudang pusat La Sanguina. Dari sana, beberapa akan dikirim ke berbagai jalur ekspor, termasuk rute Balkan yang dikuasai Nikolai Volkov. Boneka beruang itu, barang yang tidak masuk akal dalam kiriman kopi Kolombia, adalah sinyal rahasia. Sinyal yang hanya bisa dibaca oleh mata Nikolai.
Aku dalam bahaya. Ini sinyal kosong. Jangan datang.
Inilah yang Evelyn harap bisa disampaikan boneka konyol itu. Dia berdoa agar Nikolai memahaminya, dan yang terpenting, dia berdoa agar boneka itu lolos dari pemeriksaan pabean dan pemeriksaan internal La Sanguina.
Sore harinya, Dante dan Rocco tiba, wajah mereka tegang. Hari ini adalah hari besar, hari pengiriman. Mereka menghabiskan waktu di ruang tersembunyi, menghitung uang dan membuat panggilan telepon terenkripsi.
Evelyn melayani mereka kopi, selalu tersenyum, selalu profesional. Punggungnya dingin, seolah boneka beruang itu masih menempel di sana.
"Evelyn, hari ini kau tidak boleh meninggalkan toko. Sama sekali," perintah Dante sambil menyesap espresso-nya. "Ada masalah kecil dengan rute pelabuhan. Riccardo mengirimkan lebih banyak anak buah. Kau harus menjaga pintu depan."
"Baik, Dante. Aku akan mengurusnya," jawab Evelyn.
Masalah di rute pelabuhan. Ini bukan hal baru. Tapi ini adalah kesempatan baginya.
Evelyn ingat tugas yang lebih besar: menyiapkan pelarian. Untuk itu, ia butuh identitas baru. Ia harus menghubungi si pembuat dokumen palsu.
Dia kembali ke loker, mengambil kartu nama kusam itu. Marco di Fiume. Marco dari Sungai. Seorang pembuat dokumen di Palermo. Evelyn mengenalnya dari masa-masa awal utangnya. Dia adalah pria yang berbahaya, tapi sangat ahli dalam pekerjaannya.
Menggunakan telepon umum adalah bunuh diri. Menggunakan ponselnya sendiri (yang disadap) adalah bunuh diri massal. Evelyn harus keluar dari jaringan La Sanguina.
Dia melihat ke luar jendela. Hujan deras mulai turun, menghantam kaca jendela Delizia. Kesempatan.
"Dante, aku harus lari ke seberang jalan sebentar," kata Evelyn. "Aku kehabisan sirup vanilla untuk latte, dan kau tahu, pelanggan selalu marah kalau vanilla habis."
Dante memutar matanya, kesal karena diganggu. "Sirup vanilla? Sialan! Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Cepat pergi! Jangan sampai ada yang melihat kau keluar dari sini."
Evelyn tahu sirup vanilla bukanlah alasan. Tapi Dante adalah pecandu kopi yang rewel dan dia membenci pelanggan rewel. Itu adalah titik lemah yang bisa ia eksploitasi.
Evelyn mengambil payung dan tas belanja kanvas tua. Dia berjalan keluar, menuju toko grosir kecil di seberang jalan.
Begitu ia mencapai toko itu, jantungnya berdebar kencang. Dia membeli sirup vanilla, tapi matanya mencari-cari. Dia melihatnya: bilik telepon umum tua di sudut yang jarang digunakan, tertutup oleh semak-semak.
Dia tahu dia hanya punya waktu tiga menit.
Evelyn masuk ke bilik telepon, tangannya gemetar saat ia memasukkan koin. Dia menelepon nomor pada kartu nama Marco. Nada sambung yang panjang, menegangkan.
"Pronto?" Suara serak dan berhati-hati menjawab.
"Marco? Ini aku. Evelyn," Evelyn berbisik cepat.
Hening sejenak. "Evelyn Rossi? Kau? Setelah empat tahun? Kupikir kau sudah mati, atau menikah dengan Valentini itu."
"Aku butuh bantuan. Aku butuh identitas baru. Paspor. Izin tinggal. Akun bank rahasia. Semuanya. Aku butuh nama yang belum pernah dipakai. Aku butuh kau mengubahku menjadi hantu."
"Hantu itu mahal, Evelyn. Apalagi hantu yang lari dari Riccardo Valentini. Kau tahu itu bunuh diri, kan? Aku tidak mau terlibat dalam pertempuran antara La Sanguina dan mantan pelayannya."
"Aku akan membayarnya," Evelyn memotong, suaranya dipenuhi urgensi. "Aku punya emas. Emas dari utang kakek tiri. Nilainya lebih dari yang kau bayangkan. Dan uang tunai yang sudah kukumpulkan selama setahun ini. Aku akan memberimu setengah dari total utangku."
Marco terdiam lagi. Jumlah itu terlalu besar untuk ditolak. Setengah dari utang itu bisa membuatnya pensiun di luar negeri.
"Uang bukan masalahku. Masalahku adalah hidupku. Kau tidak boleh tahu kenapa aku lari, Marco. Kau hanya perlu tahu aku punya waktu tiga bulan. Tidak lebih. Kau bisa membuat paspor dengan nama 'Sofia Mancini'?"
"Sofia Mancini... Nama yang bagus. Klasik," Marco bergumam, menghitung waktu di kepalanya. "Tiga bulan? Ini gila. Aku butuh dua bulan penuh hanya untuk mencetak dokumen. Dan kita harus bertemu setidaknya dua kali. Kau harus keluar dari wilayah Palma. Terlalu berisiko."
"Aku tahu. Aku akan mencari cara. Kirimkan pesan terenkripsi ke email lama Luigi di toko grosir ini. Hanya dia yang tahu password-nya," kata Evelyn, berbohong. Dia tahu password email Luigi karena dia yang mengurus semua korespondensi pribadinya.
"Oke. Tapi kau yang ambil risikonya. Jika Riccardo mencium bauku, aku akan menyerahkanmu tanpa ragu, Evelyn. Jangan coba-coba menipu Marco di Fiume."
"Aku tidak akan. Aku hanya ingin bebas. Aku akan menghubungimu lagi dalam satu minggu untuk update. Selamat tinggal." Evelyn menutup telepon, lututnya lemas.
Dia berhasil. Langkah pertama telah diambil. Dia sudah menyalakan sumbu.
Evelyn keluar dari bilik telepon, payungnya menutupi wajahnya, dan berjalan kembali ke Delizia, membawa sirup vanilla. Dante menyambutnya dengan tatapan curiga.
"Lama sekali, Evelyn. Kau bertemu dengan siapapun di luar?"
"Hanya Nyonya Rossi dari blok sebelah, Dante," Evelyn berbohong dengan lancar. "Dia mengeluh tentang kualitas sosis pepperoni. Aku bilang padanya itu adalah resep Riccardo, jadi dia diam."
Dante tertawa, merasa puas. "Itu benar. Tidak ada yang berani mengeluh tentang resep Riccardo. Sekarang, kembali bekerja."
Dua minggu berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan. Karung kopi Kolombia itu sudah dikirim. Evelyn tidak tahu apakah Boneka Beruang Merah itu berhasil mencapai gudang Nikolai di Balkan, atau hanya berakhir di tempat sampah di Palma. Dia tidak tahu apakah Nikolai mengerti pesannya. Tapi ia harus bertindak seolah-olah Nikolai sudah menerima dan mengerti: Jauhkan diri. Jangan datang. Aku akan urus diriku sendiri.
Sementara itu, dia mulai melakukan hal yang paling ia takuti: sabotase.
Untuk lari, ia butuh uang tunai, banyak. Uang yang sudah ia kumpulkan di bank tidak bisa ia ambil tanpa menarik perhatian bank sentral dan tentu saja, Riccardo. Jadi ia mulai mencuri.
Bukan mencuri dari brankas, itu terlalu mencolok. Dia mencuri dalam skala kecil.
Di Delizia, Evelyn bertanggung jawab atas pembukuan harian. Dia mulai memanipulasi angka penjualan. Uang tunai yang masuk dari transaksi ilegal kecil-penjualan ganja lokal, uang perlindungan dari toko-toko kecil-semuanya dicatat oleh Evelyn.
Dia membuat spreadsheet bayangan. Dia mencatat transaksi yang sebenarnya, lalu memasukkan spreadsheet palsu ke sistem akuntansi La Sanguina. Dia memindahkan jumlah yang kecil-seribu euro per hari, dua ribu euro per hari-ke kantongnya. Totalnya, ia sudah mengumpulkan sekitar tiga puluh ribu euro tunai. Uang tunai yang ia sembunyikan di lokasi rahasia di luar Delizia-di peti mati kosong di pemakaman tua di luar kota. Tempat yang tidak akan pernah dicari oleh siapa pun.
Tindakan ini sangat berisiko. Setiap transaksi La Sanguina diawasi ketat. Tapi Evelyn tahu celahnya. Dia tahu bahwa Riccardo tidak memeriksa angka kecil; dia hanya melihat total bulanan dan persentase keuntungan. Selama Evelyn memastikan totalnya terlihat 'normal' sesuai dengan fluktuasi pasar, ia akan aman.
Namun, Dante mulai mencium bau busuk.
Suatu malam, saat Evelyn sedang menghitung uang di konter, Dante berdiri di belakangnya. Evelyn tidak mendengar kedatangannya.
"Penjualan minggu ini sangat bagus," kata Dante, suaranya seperti selalu, serak dan curiga.
Evelyn tersenyum, berbalik. "Tentu, Dante. Aku bekerja keras. Aku bahkan berhasil menjual tujuh pizza ekstra besar kepada kru konstruksi di pelabuhan."
"Ya. Tapi Rocco bilang, ia melihat setidaknya dua transaksi besar yang tidak tercatat di bukumu."
Jantung Evelyn berhenti berdetak. "Transaksi besar apa, Dante? Semua transaksi tunai harus kucatat. Jika ada yang menggunakan kartu, itu langsung masuk ke rekening bank pusat."
Dante mendekat. Tangannya yang besar memukul meja konter. "Jangan bohong padaku, Evelyn. Rocco melihat seorang pria dari Naples datang dan membayar tujuh ribu euro tunai untuk 'pengiriman khusus' anggur. Kau mencatatnya hanya sebagai dua ribu euro."
Evelyn menelan ludah. Dia ingat transaksi itu. Dia mengambil lima ribu euro dari transaksi itu.
Dia harus tenang. Dia harus defensif.
"Tujuh ribu? Dante, pria itu hanya membayar dua ribu tunai di konter. Sisa lima ribunya? Dia membayar langsung kepada Rocco di ruang belakang. Rocco yang mengambilnya."
Dante terdiam. Wajahnya menunjukkan konflik internal. Dia dan Rocco adalah rival abadi di hierarki rendah La Sanguina.
Evelyn melanjutkan, nadanya kini menjadi menuduh. "Rocco pasti lupa memberitahumu. Dia mengambilnya dari pintu belakang. Aku hanya mencatat yang melalui konter depan. Jika kau tidak percaya, tanyakan pada Rocco."
Dante memelototi Evelyn. "Aku akan menanyakan pada Rocco."
"Lakukan," tantang Evelyn, bahunya tegak. "Tapi jangan salahkan aku jika Rocco merasa kau tidak memercayai dia, padahal aku sudah bekerja keras di sini selama sepuluh tahun tanpa keluhan."
Ancaman itu bekerja. Dante tidak berani menimbulkan masalah internal antara dirinya dan Rocco, apalagi jika menyangkut uang yang sudah dipegang oleh Rocco. Dia adalah tipe yang akan mencari jalan paling mudah, yaitu menyalahkan Evelyn. Tapi Evelyn sudah membuat dinding pertahanan yang solid.
"Baiklah. Kali ini, aku percaya kau," kata Dante, menggerutu. "Tapi aku akan mengawasi kau. Jangan main-main dengan buku kami, carissima. Riccardo tidak akan bertanya-tanya. Dia hanya akan menghukum."
Evelyn mengangguk, hatinya berdebar tak karuan. Dia berhasil lolos. Tapi dia tahu, ini hanya penangguhan hukuman.
Tiga minggu berlalu. Marco di Fiume mengirimkan pesan terenkripsi ke email Luigi: "Sofia Mancini, lahir di Milano. Siap dikirim dalam dua bulan. Kirim emas ke loker stasiun kereta api Parma minggu depan."
Dua bulan. Evelyn punya waktu sebulan ekstra untuk bersiap. Emas itu ada di pemakaman, tersembunyi.
Minggu berikutnya, Evelyn memohon izin dari Dante untuk mengunjungi ibunya di luar Palma-alasan yang ia gunakan sekali setahun untuk melakukan perjalanan yang tak terhindarkan.
"Aku harus mengunjungi makam Ibu di Cremona, Dante. Sudah setahun penuh," katanya dengan nada menyedihkan yang terpaksa.
Dante mendengus. "Cremona? Jauh sekali. Cepat, ya. Hanya satu hari. Dan jangan coba-coba mematikan ponselmu."
"Aku tidak akan, Dante."
Perjalanan ke Cremona adalah penyamaran. Tujuannya adalah Parma. Evelyn harus membawa emas itu.
Dia menyewa mobil tua dari agen sewaan anonim. Dia mengambil kotak emas dari pemakaman tua di malam hari, merinding saat mengangkat peti kayu itu. Dia menyamarkan kotak itu di dalam tas ranselnya yang penuh pakaian kotor.
Perjalanan ke Parma terasa seperti melintasi zona perang. Setiap truk, setiap mobil polisi, setiap bayangan, terasa seperti antek Riccardo.
Di Parma, dia menemukan loker stasiun kereta api yang ditentukan. Dia memasukkan emas itu ke dalam loker, menutupnya, dan mengirimkan kuncinya melalui pos anonim ke alamat Marco di Palermo.
Evelyn kembali ke Palma keesokan harinya, lelah, tapi dengan rasa lega yang luar biasa. Bagian tersulit-menyerahkan uang jaminan-sudah dilakukan. Sekarang, ia hanya perlu bertahan.
Bulan kedua dimulai. Evelyn semakin berani dalam manipulasi pembukuan. Jumlah uang yang ia kumpulkan sudah cukup untuk paspor, tiket pesawat, dan dana darurat untuk setidaknya enam bulan di tempat yang jauh. Dia mulai belajar bahasa Portugis-tujuannya adalah Brasil. Terlalu jauh, terlalu ramai, terlalu sedikit pengaruh La Sanguina.
Tapi di tengah persiapan rahasianya, Riccardo membuat langkah balasan. Dia mungkin tidak tahu tentang Boneka Beruang Merah atau Marco di Fiume, tapi dia tahu Evelyn adalah properti yang berharga dan cerdas.
Suatu pagi, Dante datang dengan wajah lebih muram dari biasanya.
"Riccardo Valentini membuat perubahan," kata Dante, melemparkan kunci baru ke konter.
Evelyn mengangkat alis. "Perubahan apa, Dante?"
"Kau tidak lagi mengurus pembukuan tunai harian."
Jantung Evelyn mencelos. Itu adalah satu-satunya sumber uang tunai pribadinya.
"Kenapa? Aku sudah melakukan pekerjaan ini selama sepuluh tahun!"
"Riccardo bilang, kau terlalu lelah. Dan kau terlalu cantik untuk mengurus angka-angka kotor. Mulai hari ini, Rocco yang akan mengurus uang tunai. Kau hanya mengurus pelanggan. Dan yang paling penting: Riccardo akan menempatkanmu di kediaman pusat La Sanguina di luar kota."
Evelyn merasakan darahnya mengering.
"Kediaman pusat? Tapi Delizia..."
"Delizia akan dikelola oleh Luigi dan Rocco. Kau akan tinggal di sana," Dante menunjuk kunci baru itu. "Itu adalah kunci kamar barumu. Riccardo ingin kau berada di bawah pengawasannya setiap saat. Dia bilang, 'Aku ingin Evelyn menjadi Evelynku sebelum utang itu lunas, bukan setelahnya.' Kau harus pindah besok pagi. Jangan bawa banyak barang. Kau akan diberikan apa pun yang kau butuhkan di sana."
Riccardo Valentini sudah selesai bermain game. Dia tidak menunggu utang lunas. Dia memaksakan kepemilikan. Dia tidak hanya mengambil buku besar darinya; dia mengambil kebebasannya untuk bergerak.
Evelyn menatap kunci itu, sebuah kunci perak sederhana yang terasa berat seperti beban nasib. Pindah ke kediaman pusat berarti dia akan dikelilingi oleh puluhan pengawal, kamera, dan tidak ada bilik telepon umum. Tidak ada loker untuk menyembunyikan uang. Tidak ada kesempatan untuk bertemu Marco.
Waktunya habis.
Dia hanya punya waktu dua belas jam. Dia harus mengambil semua uang tunai yang dia sembunyikan di pemakaman, dan dia harus menghubungi Marco untuk meminta percepatan paspor-meskipun itu berarti paspor itu akan memiliki lebih banyak cacat dan lebih mudah dideteksi.
Dia melihat ke luar jendela, ke Palma yang damai dan tidak menyadari bahaya. Dia tahu, dia akan meninggalkan kota itu besok, entah sebagai wanita bebas atau sebagai tawanan Riccardo selamanya.
Malam itu, Evelyn kembali ke pemakaman, menggali peti mati tua. Uang tunai di tangannya terasa nyata, memberikan kekuatan yang ia butuhkan.
Dia kembali ke Delizia, mengambil ponselnya-dia tidak peduli jika itu disadap lagi. Dia tidak punya pilihan.
Dia mengetikkan pesan terakhir ke email Luigi.
Subjek: Vanilla Habis.
Isi: Vanilla habis. Bawa yang baru sekarang, atau aku akan mati. Aku butuh Paspor Mancini sekarang. Besok. Lupakan Cremona. Aku ada di Villa Sentrale sekarang. Ambil kunci loker Parma dan temui aku di Taman Tua di luar Villa sebelum tengah malam.
Dia mengirimkan pesan itu. Ini adalah taruhan terakhirnya. Jika Marco tidak merespons, jika ia terlalu takut, Evelyn Rossi akan menjadi Sofia Mancini, tawanan Riccardo, selamanya.