Bab 1

Stiletto merah muda dari perempuan cantik itu menggema di koridor lantai lima. Ia terus berlari setelah keluar lift untuk menghadiri rapat yang secara mendadak jadwalnya terbentuk.

Kening Agnes sudah bercucuran peluh dengan jantung yang bergemuruh cepat saat kehadirannya sangat terlambat, lebih dari dua puluh lima menit.

Jadwal rapat masuk di grup pukul lima pagi, sedangkan ia masih berada di hotel yang tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.

Keputusan Agnes menghabiskan akhir pekan ke Jakarta tidaklah tepat. Kali ini, ia harus berurusan dengan masalah besar, terkait etos kerja dan kredibilitas yang dirinya bangun enam bulan lalu sejak bekerja di sini.

“Maaf, Pak. Saya datang terlambat.”

Agnes menunduk.

Napas perempuan itu tersengal setelah sampai di ambang pintu. Tapi ia tidak bisa menampik, jika dirinya tengah mengumpat karena rasa malu mendapatkan atensi penuh tertuju pada dirinya.

Agnes sempat kaget dengan jumlah karyawan lebih dari sepuluh, berbeda dari apa yang dibayangkan Agnes. Kesialannya berkali lipat dan pasti akan dicap buruk oleh beberapa kepala divisi. Banyak pasang mata menatap Agnes beragam, tapi tidak sedikit yang memperlihatkan tatapan sinis.

Begitupula tatapan dingin dari pria blasteran Jepang – Indonesia, telah menunggu presentasi Agnes dimulai sejak awal.

“Anda tahu pukul berapa rapat ini dimulai, Ibu Agnes Zefanya?”

Suara dingin itu menggetarkan tubuh Agnes. Gemuruh jantung perempuan yang pagi ini mengurai rambut panjangnya tertegun, tidak sanggup mendongak dan menatap sorot penuh intimidasi pria yang duduk di kursi kebesarannya.

“Ma-af, P-pak,” cicit Agnes memberanikan diri menatap perlahan manik hitam di seberang sana.

Keadaan ruangan menjadi tegang, tapi berbeda dengan sang direktur utama yang masih duduk dengan menaruh kedua tangan di atas meja. Ia menautkan jemari tangan, menujukan sorot mata pada Agnes yang masih gugup di pintu ruang rapat.

“Saya ... saya hanya menggunakan waktu akhir pekan untuk berangkat ke Jakarta.”

“Sedang membela diri?” Agnes menggeleng cepat tanpa menatap sang dirut.

Perempuan itu bersiap untuk memberikan penjelasan, kejujuran yang siapa tahu akan menyelamatkan Agnes.

Namun, ucapan telak bernada dingin itu menjadi pukulan kuat yang berakhir perih pada relung hati Agnes.

“Ibu Fiani, sudah saya katakan untuk tidak memberi peluang pada seorang wanita yang memiliki anak, kan? Apalagi dia seorang janda yang bercerai dengan suaminya.”

“Jadi, ini bisa menjadi alasan dia sesuka hati meninggalkan resort. Seharusnya dia bisa berkomitmen untuk tinggal sementara waktu di sini, lalu bisa pergi ke mana pun dia mau dengan waktu libur yang panjang.”

“Maaf, Pak Gerald,” balas Fiani, menunduk minta maaf dengan penuh sesal.

Perempuan berstatus sebagai HRD itu tidak berani melihat sorot tajam dan penuh kebencian mengenai rapat yang gagal pagi ini. “Saya akan bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukan Ibu Agnes.”

“Suruh dia datang ke ruangan saya sekarang juga,” sahut pria tinggi bertubuh atletis itu, beranjak meninggalkan ruangan tanpa mengakhiri rapat.

Kedua lutut Agnes lemas saat Gerald hanya melewati dirinya tanpa menatap dirinya. Ia menahan bulir air mata yang menggenang di pelupuk, terasa begitu sakit ucapan dari Direktur Utama tersebut.

“Bu, Anda dipanggil Pak Gerald ke ruangannya sekarang.”

Fiani menyadarkan rasa sakit yang dirasakan Agnes. Perempuan itu menatap kepala HRD yang masih bisa menghargainya. Setidaknya, meskipun ia bekerja sebagai General Manager di sini. Tidak ada kalimat baik yang Agnes terima, kecuali cacian dan bisik kecil mengenai rapat yang hancur hari ini.

**

Agnes menghapus sudut matanya sebelum membuka ruang kerja Gerald.

Ucapan Gerald terus saja terngiang di pikiran Agnes, menghancurkan harga diri juga memberikan tatapan lebih buruk untuk kali pertama ia berada di resort.

Ruangan dirut mencekam ketika tidak ada suara yang menginterupis ataupun sambutan dari tatapan hangat Gerald.

Perempuan itu duduk, lalu meminta maaf dan mengesampingkan perih hatinya. Kalimat itu benar-benar menghancurkan Agnes. “Setahu saya tidak ada jadwal rapat hari ini, Pak,” ungkapnya mengawali pembicaraan saat pria yang masih memiliki darah Jepang itu hanya diam.

“Itu sebabnya saya pulang ke Jakarta, lalu menginap sementara waktu di hotel dekat bandara setelah tiba di Bali. Karena pesawat saya baru landing jam sebelas malam. Saya juga belum bisa pergi saat itu agar sampai ke mari.”

Ini alasan lain karena jarak resort Gerald cukup strategis bagi wisatawan lokal maupun mancanegara dengan segala aspek yang mereka pikirkan sangat layak menjadi tempat singgah. Bahkan, resort ini terletak di pesisir pantai indah dan memiliki view cantik.

Tapi bagi mereka yang ingin singgah. Membutuhkan waktu lebih dari satu setengah jam dari pusat kota, dan hanya selisih tipis dari jarak antar bandara untuk tiba di sini.

“Apa penjelasan kamu bisa saya terima?”

Agnes menelan saliva susah payah.

Pria berparas tampan dengan sorot tajam itu menatap lurus Agnes. Merasa ditatap penuh intimidasi, Agnes kembali tertunduk, menautkan kedua jemari tangan di atas pangkuan.

“Hari ini kamu berurusan dengan saya dua kali.”

Brak!

Satu berkas ditaruh kuat di atas meja kerja tersebut. Perempuan itu tertegun saat kedua telapak tangan pria itu menumpu di sisi berkas dan menatap Agnes tegas dari balik manik hitam. Kepala Gerald sedikit dimiringkan lalu berucap sinis, “Bisa kamu pahami mengenai judul berkas ini?”

Jemari itu terketuk di atas berkas.

Tiba-tiba, jantung Agnes berdegup kuat, melihat dan membolak balik lembar pekerjaannya berakhir tidak benar.

Ia menggeleng samar. “Ta-pi, Pak ... saya yakin, penyelenggaraan pesta tersebut sudah sesuai, termasuk satu hari sebelumnya saya check langsung ke lapangan,” balasnya.

“Satu hari sebelum penyelenggaraan pesta meriah, lalu kamu menjadi penanggung jawab yang tidak kompeten.”

“Apa bukti di dalam ini belum cukup? Kamu meninggalkan acara tanpa bertanggungjawab sampai pesta itu selesai! Anak buah yang kamu andalkan dan beberapa kesalahan teknis lain, membuat nama baik resort ini tercoreng!”

Agnes menunduk dalam.

Kedua tangannya gemetar memegang ujung berkas.

“Jika belum siap bekerja di sini, lebih baik kamu resign. Saya masih berharap ada yang bisa menggantikan posisi kamu sebagai GM, berstatus lajang dan sangat patuh dengan tanggung jawabnya.”

“Tidak seperti kamu yang langsung mengambil kesempatan kembali ke Jakarta, lalu meninggalkan pesta dan berakhir datang terlambat pagi ini.”

Gerald tersenyum miring, menatap Agnes dengan tatapan tajam. “Seharusnya saya tahu, jika rumah tangga kamu hancur. Sudah dipastikan untuk urusan pekerjaan pun tidak becus kamu selesaikan.”

Sayatan perih kembali dirasakan Agnes berkali lipat. Ia terkesiap, merasakan air mata luruh tanpa bisa ditahan. Perempuan itu dengan cepat menghapusnya, tapi tidak bisa menyembuhkan sakit hati oleh ucapan Gerald yang semakin keterlaluan.

“Mungkin rumah tangga yang hancur dan pekerjaan yang berantakan. Sebuah Sebab akibat yang kamu lakukan pada saya di masa lalu.”

“Perselingkuhan yang membawa keburukan untuk kamu di masa depan.”

Perempuan itu membeku. Dadanya bergemuruh cepat ketika Gerald mengucapkan hal tersebut.

Agnes mendongak, menatap tidak percaya dengan perasaan terluka. “Kamu sedang mengungkit masa lalu? Mengaitkan permasalahan kita dengan pekerjaan?”

“Apa kamu begitu benci sama aku, Ge? Sampai urusan pekerjaan kamu campuradukkan dengan masalah kita dulu?”

Gerald tersenyum miring melihat langsung satu bulir air mata itu jatuh tepat di hadapannya. Ia sadar, sebuah tangis kesedihan yang dibuat sebaik mungkin dari Agnes.

Agnes menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan berdiri di depan Gerald. Pria itu menegakkan tubuh dan memberikan tatapan menantang.

Jemari tangan itu menghapus kasar air matanya. “Tadinya aku masih berusaha diam, membiarkan kamu mempermalukanku depan jajaran di ruang rapat.”

“Statusku sebagai GM, tapi aku nggak pernah dihargai kamu sedikitpun. Bahkan, setelah pertemuan kita minggu lalu untuk kali pertama ... kamu benar-benar melukai perasaanku.”

“Karena aku nggak suka kamu berada di sini,” desis Gerald menatap tajam Agnes.

Agnes mendengkus mengejek. Ia membuang pandangan sesaat ketika sorot itu penuh kebencian.

Tidak ada lagi tatapan memuja dan penuh cinta yang selalu diberikan Gerald padanya. “Dan kamu telah merusak reputasi resort ini.”

Perempuan itu mengangguk pelan, lalu meraih berkas dan memperlihatkan tepat di depan wajah Gerald. “Kamu mempermasalahkan berkas ini juga, kan? Baik. Aku selesaikan dalam tiga hari kedepan untuk evaluasi lebih lanjut dan aku jamin ... kesalahan bukan ada di timku.”

“Silakan.”

“Tapi sampai semua kesalahan benar ada di tim kamu. Kamu harus kembali berurusan denganku.”

Sorot manik perempuan itu membalas tegas tatapan dingin Gerald. Ia mengangguk tegas, berusaha untuk memanfaatkan kesempatan sekali lagi.

Ia yang merupakan bawahan, harus menahan seluruh rasa egois agar tidak balas meledakkan emosi pada Gerald. Agnes memilih mengalah. Tiga hari,” tekannya dan berlalu, bergegas menuju pintu ruang kerja Gerald.

“Ya. Tiga hari adalah kesempatan yang harus kamu manfaatkan.”

“Jika gagal. Kamu harus memuaskanku semalam penuh.”

**

Bab 2

Deg!

Kenop pintu itu tidak jadi digerakkan Agnes.

Tubuh Agnes membeku bersama permintaan yang lugas, terdengar jelas di telinga perempuan itu.

Kepalanya menoleh perlahan dengan sorot nanar dan dibalas senyum merendahkan Gerald. “Bukan hal sulit dibandingkan harus resign, kan?”

“Dari dulu kamu sudah mempersilakan banyak pria menikmati tubuh kamu.”

Dentuman keras menohok dalam dada Agnes bersama luka menganga, kian tergores semakin dalam. Gerald menarik luka masa lalu di antara keduanya.

“Jadi, aku juga ingin mendapatkan keuntungan yang sama. Karena aku sudah lama nggak mencicipi tubuh kamu lagi,” tekannya tersenyum puas.

Tangan Agnes bergetar, membuka terburu kenop pintu dan meninggalkan ruang kerja Gerald dengan bulir air mata yang semakin deras turun membasahi kedua pipi Agnes.

Perempuan itu menulikan indera pendengaran saat kalimat Gerald terngiang, menghentak dan meremukkan perasaan Agnes.

Ia memilih menjauh dari siapa pun, kembali ke unit di mana para karyawan memiliki kamar masing-masing di resort.

Hari ini Agnes hancur dan dipermalukan tanpa bisa diberi kesempatan untuk dihargai. Jabatan yang sudah diterima dan dinikmati Agnes tiap harinya, dilalui semakin sulit. Posisi Agnes berada di bawah satu tingkat Gerald, tapi ia layaknya seorang bawahan rendah yang tidak bisa diberikan perlakuan baik. 

**

“Saya tidak sengaja melakukannya, Bu ....”

Agnes bersandar lemah di kursi kerjanya. Kepala perempuan itu berdenyut, meskipun isak tangis salah seorang perempuan yang duduk di hadapannya terus saja terdengar jelas.

“Tapi keadaan kemarin memang sangat kacau dan pihak mereka tidak mentolerir kesalahan tersebut.”

Karyawan dari Divisi Food & Production itu menunduk sambil menjelaskan kesalahan fatalnya. Agnes memijat pelipis, mendapati kesalahan ada pada stok daging dan peralatan elektronik resort.

Dua orang bersangkutan dari divisi tersebut mengakui kelalaian mereka tidak melakukan observasi kembali, termasuk beberapa jam sebelum pesta dimulai.

“Ini rekaman CCTV yang memperlihatkan pihak pesta marah di ruang peralatan kami, Bu,” cetus pria yang lima tahun lebih tua dari Agnes menyodorkan iPad-nya.

Ia bertanggung jawab sebagai engineering.

Agnes menyugar kasar rambutnya dan merasa gelisah ketika menatap dua orang di hadapannya. “Kenapa kalian tidak ada satupun yang mengabari saya tentang permasalahan ini sejak kemarin? Kenapa harus saya yang mencari tahu lebih dulu?”

Perempuan itu mendesah frustrasi.

“Maaf, Bu. Tapi tepat hari minggu pesta akan dimulai. Ponsel Bu Agnes tidak aktif.”

“Ya Tuhan ....”

Agnes menyangga kepalanya dengan satu tangan di atas meja. Ia merutuki kebodohannya, lupa mengenai ponselnya sendiri dan waktu acara yang berlangsung.

Ia mematikan total ponsel saat berada di Jakarta. Perempuan itu berniat menghabiskan banyak waktu dengan putra kecilnya, menikmati kebersamaan yang sudah dua minggu lebih tidak ia temui.

Sebelum kembali ke Jakarta, Agnes sudah memastikan observasi di lapangan telah rampung dan ia yakin semua acara akan berlangsung lancar tanpa kehadirannya. Namun, kali ini ia salah besar dan tidak memikirkan risiko selanjutnya.

Perempuan itu memutuskan untuk sendiri, memikirkan hal apa yang masih bisa ia lakukan. Ruang kerja Agnes hening, membiarkan dirinya kembali menyesali dan mencoba mengingat semua hal teknis dan persediaan daging tidak ada yang buruk.

“Lo emang nggak pantas ada di jabatan ini, Agnes.”

Suara mengejek itu membuat Agnes mendongak.

Titania tersernyum miring sambil berjalan masuk ke arah meja kerja Agnes. “Gimana? Udah puas selama enam bulan lo di posisi ini, merasa selalu aman?”

“Lihat, kan? Sekali tersandung masalah, lo ngerasa paling frustrasi?”

Rahang Agnes mengetat melihat perempuan seusianya—menganggap ia sebagai rival—mengejek kinerja Agnes bersama tim.

Sorot angkuh dengan melipat kedua tangan di dada, membuat Agnes muak berhadapan dengan Titania. “Mereka sudah melakukan yang terbaik. Kesalahan pertama yang dilakukan beberapa orang selama mereka dalam naungan gue hampir enam bulan ini,” cetusnya mengabaikan Titania.

Perempuan dengan tinggi 169 senti itu mendengkus, menatap sinis Agnes yang mengabaikannya. “Lo emang nggak pantas berada di jabatan ini. Seharusnya gue yang berada di sini dan lo lebih baik pergi dan mengurusi anak yang lo tinggal di Jakarta.”

“Bisa berhenti bawa anak gue dalam permasalahan ini?” tanya Agnes tajam.

Posisi Titania sebagai Assistant General Manager tidak pernah menguntungkan Agnes.

Kali pertama setelah resort dipimpin Gerald satu minggu lalu. Titania mulai menunjukkan topeng aslinya, membenci Agnes habis-habisan. Posisi yang diinginkan Titania, dirasakan perempuan itu sudah direbut Agnes. Karena Titania jauh lebih dulu bekerja di salah satu aset penting keluarga Ogawa, tiga tahun lalu.

Titania membiarkan Agnes berdiri dan menatapnya datar. “Lo nggak pernah berpikir, kalau gue tersandung masalah, artinya lo juga kena? Kita masih ada hubungan pekerjaan dan selayaknya lo membantu gue.”

“Buat apa? Gue nggak peduli, tuh,” balasnya menyeringai puas mendapati wajah kulit putih Agnes memerah.

Ia bahagia kehadiran bos baru pengganti Liam Ogawa semakin memudahkan Titania menghancurkan Agnes.

Titania tertawa renyah. “Well, gue berharap lo hengkang dari jabatan dan juga tempat ini. Biar gue ada kesempatan menduduki posisi lo.”

“Gue nggak akan pergi dari sini,” desis Agnes dan membuat Titania membeku, mendapati sorot tajam Agnes tanpa diduga Titania.

“Karena mencari pekerjaan iini nggak mudah gue dapatkan dan terlebih ... posisi ini sangat menguntungkan gue, menguntungkan kehidupan gue yang nggak sendirian di Jakarta.”

“Banyak pengeluaran yang harus gue tutupi sebagai single parent, termasuk membayar babysitter. Lo terlalu mudah berpikir karena berstatus lajang. Jadi, jangan menyuruh gue pergi dari sini untuk hal yang nggak lo pikirkan sebelumnya.”

“Tanggung jawab gue lebih besar dibandingkan lo ... anak manja,” desis Agnes berlalu dari ruangan dan menutup kasar pintu.

Titania tertegun dan beralih dengan senyum tidak sempurna. Ia merasa diinjak harga diri, dipermalukan oleh Agnes setelah sebelumnya Titania puas melihat Agnes di ruang rapat.

“Sial!” umpat Titania menyugar kasar rambutnya.

“Berani-beraninya dia menghina gue,” ucap Titania mengetukkan heels, merasa darah perempuan itu mendidih dan emosi yang tidak stabil.

Titania akan membuat perhitungan pada Agnes di lain waktu. “Gue nggak pernah mau berada di bawah tekanan lo, Agnes. Tunggu ... gue pastikan lo akan keluar dari resort ini,” lanjutnya berlalu cepat, meninggalkan ruangan memuakkan bagi Titania.

**

Gerald melihat santai rekaman yang menunjukkan seorang perempuan berjalan menuju ruang kerjanya, tergesa.

Hari ini ia datang tidak dengan kepala tertunduk sambil mengusap bulir air mata. Tepat di hari kedua, perempuan itu datang membawa berkas dan beberapa data pendukung mengenai kesalahan event minggu lalu.

“Stok daging dari pabrik baru datang tiga hari lalu dari supplier, Pak. Artinya, daging tersebut masih sangat layak dikonsumsi dan sudah diolah dengan sangat baik.”

“Mengenai pemeliharaan bagian alat di lapangan, semua sudah di service berkala,” sambung Agnes menunjukkan beberapa lembaran pada Gerald.

“Tidak sepenuhnya kesalahan berada di tim saya dan mereka sudah melakukan sebaik mungkin.”

“Apa kamu tidak membaca lengkap kelayakan makanan di resort ini?”

Agnes tertegun.

Ia melihat Gerald menunjukkan berkas lain di sisi tangan kanan pria itu, menyodorkan tepat di hadapan Agnes. “Silakan dibaca saksama.”

Di sana, seluruh peraturan dan kesalahan teknis tidak bisa ditolerir. Termasuk stok daging yang masuk haruslah maksimal dua hari setelah tiba di gudang produksi dan dimasak tidak lebih dari dua hari juga.

Bahkan, Agnes menerima dan membaca konsekuensi dari tiap pelanggaran—kesalahan ringan, sedang dan berat—tergantung dari pemilik resort yang baru. “Ini ... bukan aturan yang saya baca hampir enam bulan lalu.”

Gerald menaikkan sebelah alisnya. “Apa maksud kamu?”

“Sekarang kamu dan karyawan dari divisi lain berada di bawah naungan saya, bukan Bapak Liam Ogawa, selaku Ayah saya.”

“Jadi, peraturan ini sudah direvisi lama, dua minggu sebelum jabatan ini saya ambil alih,” tekannya dan membuat Agnes membeku.

“Kamu memang nggak pernah layak berada di resort ini, Agnes Zefanya.”

“Janda anak satu yang merepotkanku dan merusak reputasi dari salah satu aset terpenting keluargaku. Kamu pikir, aku mau menampung perempuan bodoh seperti kamu?”

Dada Agnes terasa sesak.

Pelupuk matanya kembali berair.

Ucapan Gerald terlalu sakit dirasakan Agnes dalam satu minggu terakhir, termasuk ketika hari ini usahanya tidak dihargai. Perubahan secara mendadak tanpa Agnes ketahui sama sekali, dilakukan Gerald sesuka hati.

“Mau kamu apa, Ge?” suara Agnes tampak bergetar.

“Mauku? Kamu keluar dari sini.” Ia menekan tajam untuk bagian yang selalu diharapkan Gerald.

Agnes menggeleng tegas.

Ia sudah berusaha sebaik mungkin sejak satu hari lalu, mengumpulkan beberapa bukti dan keyakinan akan diberikan kesempatan sekali lagi. Karena Agnes meyakini kinerjanya tidaklah buruk setelah akan genap enam bulan di sini.

“Kamu egois dan kamu semena-mena dengan jabatan barumu. Apa kamu pikir, aku karyawan baru dalam hitungan hari? Selama enam bulan aku berada di sini dan baru minggu lalu ... aku mengetahui kamu anak dari pemilik resort ini, lalu berakhir dengan masalahku selalu dipandang cacat sama kamu,”

“Seharusnya bagus, kan? Kamu bisa sadar kalau kamu nggak perlu ada di sini, satu ruang rapat dan beberapa hal lain yang memungkinkan aku sama kamu dalam keadaan yang sama? Karena dari awal aku membenci kehadiran kamu.”

“Aku masih membiarkan kamu pergi dari resort ini tanpa mengganti uang ganti rugi.”

“Nggak. Aku masih memiliki anak yang harus kupertahankan kehidupannya. Kesempatanku masih ada untuk berada di sini, dilihat dari track record.”

“Aku bakal bertanggungjawab untuk kesalahanku, tapi kasih aku kesempatan sekali lagi.”

Ucapan tegas Agnes menghadirkan tarikan senyum Gerald di sudut bibirnya. “Ini artinya, kamu harus tidur denganku.”

Agnes membeku, merasa ucapan Gerald dua hari lalu hanyalah bualan dan ia merasa pria itu tidak akan pernah melakukannya sama sekali.

“Kamu ....”

“Kenapa? Lupa? Kamu udah nggak terikat sama pria mana pun. Kenapa harus kelihatan kaget dan takut? Siapa yang akan marah?”

“Bukannya kamu juga udah nggak ada harga diri lagi?” tanya dirut itu sekali lagi.

Tubuh Agnes gemetar.

Dadanya bergemuruh kuat kembali diberi luka oleh Gerald. “Apa di mata kamu, aku memang nggak ada harga dirinya lagi, Ge, meskipun kita pernah bersama di masa lalu?”

Pertanyaan tersebut memantik kebencian Gerald.

Rahang pria itu mengetat dan wajah Gerald berubah menggelap. Kedua tangan pria itu mengepal di atas meja bersama deru napas melihat sorot terluka yang dilayangkan Agnes.

“Satu luka yang aku goreskan ke kamu. Tapi lebih dari satu luka yang kamu kasih ke aku? Seburuk itu aku di mata kamu, Ge?”

“Sangat tepat. Karena aku ingin menghancurkan tubuh dan perasaan kamu mulai detik ini, Agnes.”

“Hanya ada dua pilihan.”

“Pergi dari jabatan yang sudah kamu ambil selama hampir enam bulan ini. Atau tidur denganku semalam.”

“Karena perempuan murahan, selayaknya diperlakukan serupa.”

Gerald menilik Agnes dengan tatapan merendahkan.

“Pengkhiatan kamu aku balas dengan kenikmatan. Aku rasa itu nggak buruk dan justru ... menjadi keuntungan tersendiri buat kamu yang nggak pernah disentuh pria manapun lagi.”

**

Agnes menangis di pinggir pantai. Deburan ombak tidak akan membuat tangisnya sampai terdengar orang lain.

Ia sendiri.

Memeluk kedua lutut dan membiarkan angin malam menusuk kulit tubuhnya yang hanya memakai dress selutut.

Kedua bahu Agnes berguncang. Perempuan itu menenggelamkan wajah di antara lutut, merasa kalimat perih itu menggema di telinganya.

Pria yang berstatus Atasannya begitu kuat ini menghancurkan diri Agnes. Gerald seolah ingin membuka masa lalu di antara keduanya dan di saat itu ... menjadi titik rendah kehidupan percintaan Agnes.

Luka delapan tahun lalu, ternyata tidak mengering sempurna.

**

Bab 3

“Aku nggak pernah ingin menyakiti perasaan kamu, Ge,” lirih Agnes terisak.

Sorot nanar itu menatap kejauhan pantai malam hari.

Keadaan di sekitarnya jauh dari hiruk pikuk keramaian. Mereka semua berada di sisi kiri Agnes, lebih dari seratus meter dengan lampu dan suasana meriah. Beberapa fasilitas yang memang kerap diisi turis semakin ramai menjelang malam.

Agnes tidak pernah menduga, jika resort mewah dengan segala fasilitas terbaik ini masih bagian dari milik keluarga Gerald. Ia berpikir, hanya hotel di dekat pusat strategis pertama adalah milik seorang Liam Ogawa. Ternyata resort yang sudah terbangun lebih dari sepuluh tahun ini juga milik mereka.

Perempuan bernasib malang itu memukul pelan dadanya. Ia berharap rasa sesak itu hilang. Nyatanya, Agnes semakin sulit sekadar bernapas normal. “Terlalu sakit saat kamu mengatakan keinginan kamu di depanku, Ge. Apa kamu nggak pernah berpikir, kalau kalimat itu juga sebuah pelecehan? Kamu udah merendahkan harga diri anak buahmu sendiri.”

“Termasuk sampai sekarang, aku terus dilabeli sebagai perempuan murahan di mata kamu.”

Agnes menghapus kasar air matanya yang sudah luruh banyak, membasahi kedua pipi. Tapi tetap saja, rasa perih dan sakit itu tidak hentinya mengeringkan air mata Agnes.

Tangis Agnes semakin pecah.

Dipermalukan selama satu minggu dengan kesalahan yang terus saja menimpanya. Ia pikir, kesalahan pertama dan kedua termasuk ringan dan bisa Agnes selesaikan. Bahkan, tidak ada campur tangan Gerald saat itu.

Sayangnya, Gerald memang sedang mencari celah bagi Agnes untuk keluar dari tempat ini. Ia mengembalikan ingatan sejak Gerald mengambil alih resort. Sudah beberapa kali Agnes tersandung masalah ringan yang disebabkan hal teknis ataupun karyawan yang kerap ia andalkan.

Entah sebuah kesialan atau memang ia tidak becus bekerja, semua terjadi tidak sesuai perkiraan Agnes. Padahal, sebelum Gerald datang, Agnes merasa pekerjaannya sangat menyenangkan dan semua sistem berjalan sempurna bagi dirinya.

Agnes meremat kedua sisi rambut kepalanya. Ia mencengkeram kuat, terlalu sakit denyutan kepalanya, memikirkan tekanan Gerald dan dipermalukan di depan banyak orang pagi hari itu.

Sahutan kebencian silih berganti, masuk dalam memori Agnes. Bentakan Gerald kali pertama dalam hubungan mereka, membuat tubuh Agnes remuk.

Bahkan, beberapa tahun mencoba kuat, menata hati dan kembali hidup damai. Semua seolah dirasakan Agnes semakin hancur.

Agnes dicaci maki orangtua kandung, lalu pergi dan membesarkan putranya sendirian.

Perempuan itu diusir dari rumah, meninggalkan segala fasilitas dan merasa menjadi sosok sebatang kara tanpa siapa pun.

Di lain sisi, ruang kamar Gerald diisi lenguhan seorang perempuan di bawah tubuh Gerald.

Pria itu bergerak cepat, menuntaskan hasratnya dalam balutan amarah. Ucapan tegas sarat tantangan balik itu terus terngiang di telinga Gerald dan membuat napas Gerald tidak pernah stabil sejak siang tadi.

“Aku akan tunjukkan seberapa murahannya tubuhku untuk kamu nikmati, Gerald. Asalkan posisiku tetap aman di aset keluargamu ini.”

“Lagipula, aku lebih dari cukup berpengalaman untuk memuaskan seorang pria seperti kamu.”

“Berengsek!”

Gerald menarik tubuh bersama miliknya yang sebentar lagi akan mendapati gelombang kenikmatan bagi ia dan perempuan seksi di bawahnya.

Namun, telinganya berdengung dan membuat perasaannya menjadi tidak keruan. Agnes menghancurkan pikiran dan suasana hati Gerald.

“GERALD?!”

“Apa yang kamu lakukan, Sayang?!”

Gerald tidak menggubris ucapan tersebut.

Ia menarik kasar helaian bawahnya yang teronggok di bawah ranjang, membawa cepat barang tersebut ke kamar mandi.

Umpatan kasar dari perempuan cantik yang juga sudah menanggalkan pakaiannya mengisi keheningan ruangan.

Tidak sampai lima menit Gerald sudah keluar dengan tatapan dingin, membalas datar sorot kesal perempuan yang hanya memakai underware hitam itu. “Kita ingin bercinta, kan?”

“Aku datang jauh-jauh dari Amerika, khusus menemui tunanganku dan malam ini ... kamu seolah membuangku seperti jalang?”

“Pekerjaanku membuat suasana hatiku memburuk.”

“Tolong pahami keadaanku, Jiera.”

Tatapan kesal Jiera—perempuan seksi—berstatus tunangan Gerald berubah bingung. Ia menatap pria-nya yang memang memperlihatkan rasa lelah, mengambil duduk di sofa tidak jauh dari sisi ranjang.

Dada bidang itu menjadi bagian panas yang selalu ingin dipuja Jiera ketika bercinta bersama Gerald. Tapi ia harus mengesampingkan ego, memilih turun dari ranjang dan berada di pangkuan tunangannya. “Apa yang terjadi sama kamu hari ini, Sayang?”

Kedua telapak tangan lembut itu menangkup paras tampan Gerald. Ia tersenyum manis saat Gerald masih meliriknya sekilas, sebelum membuang pandangan.

“Masalah pekerjaan,” balasnya memberitahu lagi.

“Ck! Sampai kamu mengabaikan percintaan kita? Seharusnya hal ini menjadi pelepas penat kamu, Sayang. Aku bisa membuat kamu melupakan stres dan besok masalah kamu akan segera selesai.”

“Papi bilang, pekerjaan kamu sangat bagus dan beliau sangat yakin aset ini layak kamu pegang.”

Senyum manis Jiera perlihatkan. Perempuan berdarah Indonesia yang bekerja di Amerika itu baru mengetahui tunangannya mengambil salah satu aset keluarga Ogawa. Karena Gerald sudah memiliki kekayaannya sendiri atas usaha pria itu sejak muda dan di bangku kuliah.

Tapi tetap saja, Gerald sebagai anak dan memiliki status dan posisi sebagai anak tunggal akan tetap mewarisi seluruh kekayaan orangtuanya.

“Aku nggak bisa menikmati percintaan kita seperti biasanya.”

Embusan napas lelah itu dikeluarkan Jiera.

Ia tahu ini tidaklah tepat. Bahkan, ia sudah mengenal Gerald lebih dari delapan tahun lalu. Sekali pria itu mengatakan tidak, maka ucapan itu tidak akan pria itu ubah sama sekali.

“Baiklah,” balas Jiera mengecup sudut bibir Gerald.

Gerald melihat punggung Jiera menjauh, membungkuk dan mengambil dress yang berserakan.

Pria itu mengganti pakaian, memilih keluar unit meninggalkan Jiera yang masih berada di kamar mandi.

Langkahnya menuntun Gerald keluar area resort, menginginkan sepi untuk dirinya sendiri, meskipun di sisi kirinya dentuman kuat terus saja dinikmati banyak orang.

Resort ini sangat strategis dengan keindahan alam, termasuk kapal yang selalu berlayar dan memiliki spot menarik untuk wisatawan pagi sampai sore hari.

Bahkan, di pulau seberang, masih menjadi aset keluarga Gerald; penginapan dan tempat menarik lainnya di sana dalam bentuk villa yang akan mendekatkan atmosfer dengan alam.

Gerald memicingkan mata sambil memelankan langkah kaki saat ia berpapasan dengan Agnes. Ia melihat ada sorot rapuh, sebelum akhirnya perempuan itu berdiri di hadapan Gerald, menyorot tajam.

Mata perempuan itu sedikit sembab. Gerald mengabaikannya dengan tatapan datar. “Aku selalu membenci pertemuan kita.”

Ia terlalu malas menikmati angin pantai saat mendapati Agnes juga berada di luar. Bukankah perempuan itu yang mengacaukan suasan hati Gerald? Ia ingin merasakan hangatnya milik Jiera, tapi semua hancur dengan kalimat yang terngiang begitu memuakkan Gerald.

Agnes tersenyum miring, menyembunyikan perih yang menyayat terus menerus. “Kamu nggak perlu khawatir, Ge.”

“Setelah aku berpikir runut dan lebih jauh. Aku sadar, kalau sampai kapan pun, pekerjaanku akan dicari celah kesalahan sama kamu.”

Tawa kecil itu membuat kedua tangan Gerald terkepal. Agnes tersenyum kecil dengan anggukan pelan. “Posisiku nggak bakal diambil alih siapa pun, kan? Asalkan tubuhku bisa kamu cicipi semalam?”

“Secepatnya aku bakal menuntaskan keinginan kamu.”

Manik keduanya bersitatap lekat.

Agnes telanjur dibenci, dihina untuk selalu dipandang rendah Gerald. Jadi, ia memutuskan jika dirinya akan menuruti permintaan mantan kekasihnya.

“Kamu hanya perlu bersabar sedikit. Akhir pekan nanti, keinginan kamu akan aku penuhi,” lanjut Agnes tajam dan meninggalkan Gerald sendirian bersama debur ombak.

"Karena saat hari itu tiba, dia hanya akan terlihat sebagai seorang jalang. Bukan karyawan dengan posisi satu tingkat di bawah seorang Bapak Gerald Ogawa. Dia akan mendapatkan pengalaman terbaik dari mantan kekasihnya saat di SMA."

Perempuan itu membiarkan Gerald terpaku dengan ucapan Agnes yang langsung berlalu.

**

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED