Chai menyesap air mineral gelas di tangannya dengan nikmat. Matahari masih terasa cukup terik pada jam 3 sore seperti ini, membuatnya dilanda dehidrasi. Ingin rasanya menenggak minuman isotonik rasa kelapa atau rasa buah lainnya, seperti yang lazim dilakukan orang-orang dalam iklan di TV. Atau memesan segelas es dawet, es teh, atau boba. Atau paling tidak, menenggak air mineral botol ukuran 600 ml agar rasa hausnya benar-benar terobati.
Sayangnya kantong Chai kempes, kosong melompong seperti biasa. Ia hanya punya air mineral gelas 200ml di tangannya. Air mineral gelas ini saja ia dapat dari ruang tunggu poli rumah sakit. Chai hanya mengambil 2, malu mengambil barang gratisan banyak-banyak. Dan Chai masih merasa bahwa ia beruntung, jika tidak ada air mineral gelas itu, Chai sudah berniat untuk meminum air keran saja saking haus dan kerenya.
Bapaknya sudah ia minta untuk pulang sejak tadi, ditemani oleh adik laki-lakinya yang kebetulan lewat di depan RS setelah jam sekolah usai. Chai tidak tega melihat sang bapak kelelahan menunggu resep di apotek, belum lagi pasien rawat jalan yang ikut menunggu resep membludak. Chai sudah menunggu resep sejak pukul 1 siang dan baru mendapatkan obat pada pukul setengah 3 lewat. Chai yang sehat saja lelah, apalagi bapaknya yang belum sembuh betul.
Chai masih setia bengong menatapi lalu-lalang kendaraan, berteduh di bawah sebatang pohon besar yang sangat rindang di tepi jalan. Tak terasa sudah hampir 20 menit ia berteduh di sini, berdiri seperti orang bodoh. Tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang sedari tadi lalu-lalang melewatinya. Tatapan Chai berkelana ke mana-mana, mulai dari pelataran parkir rumah sakit yang penuh dengan kendaraan—selain juga penuh dengan kenangan ketika ia membawa sang ayah untuk dirawat di tempat ini.
Kemudian beralih ke toserba alias minimarket di sebelah rumah sakit tersebut yang selalu menimbulkan rasa sedih di hati Chai karena ia kerap kali kepingin melihat makanan yang dijual di sana namun ia tidak dapat membelinya. Paling banter ia hanya dapat membeli roti kemasan harga seribu rupiah, itu juga kadang-kadang Chai lebih memilih untuk mengurungkan niatnya dikarenakan mengingat adik-adiknya belum tentu bisa menikmati roti seperti ini.
Berlanjut ke trotoar lurus yang di tepinya dinaungi oleh pohon-pohon besar penghasil oksigen, peneduh kota serta penambah nilai estetika. Chai tidak punya tujuan khusus dengan kegiatannya ini, hanya ingin melepas lelah dengan caranya sendiri.
Hingga akhirnya kedua netra coklat gelap milik Chai tertambat pada sebuah kafe di seberang jalan dekat perempatan, sekitar 50 meter jaraknya dari posisi Chai saat ini. Kafe itu terlihat agak lengang. Di pelataran parkirnya hanya ada satu mobil SUV berwarna silver, serta 3 motor yang berjejer rapi.
Chai tahu kafe itu, kafe yang sering didatangi oleh anak-anak remaja menengah ke atas di kota. Kafe itu juga sering disambangi oleh orang-orang dewasa untuk sekadar ngopi dan mengobrol dengan sesamanya. Desain kafe itu artistik, elegan, dengan tampilan depannya berupa kaca jendela tinggi yang memungkinkan pelanggan kafe untuk menatap lalu-lalang pejalan kaki maupun suasana di luar kafe. Pun dengan orang-orang yang lewat juga dapat melihat suasana di dalam kafe yang cozy dan estetik.
Chai juga pernah masuk ke kafe itu. Kenangan ketika dia memasuki kafe itu untuk pertama kali dalam hidupnyalah, yang kini membuat ia lama termangu lama menatap bangunan kafe tersebut. Tulisan Serein Cafe dalam kaligrafi yang indah berwarna hitam dengan tepian putih. Simpel namun elegan. Tepian berwarna putih itu sesungguhnya adalah dekorasi lampu yang akan menyala ketika malam tiba. Tulisan Serein Cafe yang pada siang hari berwarna hitam, akan berubah menjadi putih di malam hari.
Bagaimana Chai bisa tahu?
Bagaimana tidak? Karena ia pernah mendatangi kafe tersebut di malam hari. Bersama seseorang yang hingga saat ini memenuhi pikirannya, seseorang yang entah bagaimana caranya, Chai harap bisa ia temui kembali. Ya, bertemu dengan pria asing malam itu. Chai, entah kenapa merasa yakin bahwa ia dapat menemukan petunjuk mengenai sang dermawan misterius dari pria itu.
Chai masih setia termangu, tatapannya seperti sedang melamun, namun terus menatap tanpa lelah ke arah pintu kafe. Tepatnya pada jendela kaca tinggi yang membuatnya dapat melihat wajah pelanggan kafe di dalam sana. Ada dua orang gadis remaja yang tengah bercengkerama di meja tengah, tak jauh dari counter tempat mengambil pesanan.
Kemudian sepasang kekasih yang memilih untuk duduk di sudut, terlihat saling tersenyum satu sama lain. Auranya penuh bunga-bunga. Lalu, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak SD yang memilih tempat di sisi dekat dinding tembok. Sepertinya sengaja menghindari dinding kaca depan kafe agar quality time mereka lebih terasa dekat dan tidak terdistraksi oleh lalu-lalang pejalan kaki dan kendaraan yang melintas.
Persis di belakang jendela kaca itu, ditaruh furnitur berupa kursi-kursi dengan punggung pendek, serta sebuah meja panjang yang menghadap ke jendela. Pengaturan yang dimaksudkan agar pelanggan yang ingin duduk di sana dapat menikmati pemandangan dengan lebih leluasa. Biasanya tempat itu diisi oleh beberapa orang, namun sore ini hanya ada satu orang yang mengisi tempat itu.
Seorang pria yang mengenakan kemeja hitam dan celana bahan berwarna senada tengah duduk di sana. Bertopang dagu, pose yang jika dilakukan oleh orang biasa akan terlihat sangat buruk jika bukan terlihat seperti sedang merenungi hidup yang terlalu banyak masalah. Anehnya, pose itu justru membuat pria itu terlihat semakin elegan.
Rambutnya tersisir rapi dalam potongan gaya pompadour, rapi dan klimis. Helai-helai pendek tersebut di highlight cokelat muda, dengan warna dasar rambut cokelat tua. Sangat modis. Sosok pria itu semakin terlihat berkilauan akibat ditimpa cahaya matahari pukul 3 sore. Pemandangan yang sungguh memanjakan mata para wanita yang kebetulan lewat di depan kafe dan tak sengaja melirik padanya.
Chai ingat, dulu ia duduk persis di tempat di mana pria itu kini tengah duduk. Sembari pikirannya berkelana ke masa ketika ia pertama kali memasuki kafe tersebut, mata Chai tidak lepas-lepasnya memandangi sosok pria klimis tersebut.
Hanya untuk menyadari bahwa pria itu juga tengah menatap dirinya—entah sejak kapan. Hanya untuk menyadari pada detik selanjutnya bahwa pria itu bukanlah hasil de ja vu kosongnya semata. Pria itu ... bukankah pria itu adalah pria yang sama dengan yang tengah ia cari selama ini?
Chai terperanjat, terbatuk-batuk, tersedak oleh air mineral gelasnya sendiri. Apa? Ia tidak sedang bermimpi, bukan? Gadis berambut sebahu itu mengucek matanya dua kali demi memastikan penglihatannya. Sampai ia merasakan perih di mata bekas kucekan yang terlalu keras, barulah Chai yakin bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Doanya sedang dikabulkan oleh Tuhan! Dan kesempatan ini akan berlalu begitu saja jika Chai tidak cepat-cepat memanfaatkan momen! Maka dengan pikiran seperti itu, Chai buru-buru melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan.
TIIIN!!
Hampir saja gadis itu terserempet oleh sebuah sepeda motor yang sedang melaju kencang dari arah kanannya. Untungnya bunyi klakson dari sang pemotor yang lumayan kencang itu cukup untuk membuat refleks tubuh Chai membawanya mundur, hingga terhindar dari celaka.
Chai menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang menggila setelah hampir diserempet motor. Gadis itu sekalian menjernihkan kepalanya untuk berpikir rasional dan mementingkan keselamatan diri, alih-alih terburu-buru mengejar sang pria yang ternyata masih setia di tempatnya.
Tanpa Chai sadari, pria yang sejak tadi ia amati ikut berjengit kaget melihat peristiwa yang dialami Chai barusan. Namun Chai tidak akan pernah mengetahui hal itu, karena ketika Chai melirik kembali padanya, pria tersebut cepat mengendalikan ekspresi wajahnya ke semula : tenang, kalem, santai.
Berhasil menghindar dari bahaya, Chai merasa dirinya seperti seekor kucing yang baru saja kehilangan satu nyawa. ‘Tenang, aku masih punya 8 nyawa yang tersisa,’ batin Chai mencoba bercanda dengan dirinya sendiri. Sebuah usaha kecil untuk menenangkan diri dan tremor yang melanda akibat kejadian barusan. Mata gadis itu masih setia melirik, lantas menghela napas panjang. Bersyukur bahwa sosok itu masih setia berada di sana. Bahkan kini pria itu terang-terangan tengah menatap ke arahnya, mengikuti setiap gerak langkahnya.
“Kamu orangnya kan? Benar, kan?”
Tanpa tedeng aling-aling, Chai yang sudah melupakan rasa minder atas penampilannya itu tahu-tahu sudah masuk ke dalam kafe, bahkan menudingkan telunjuk tidak sopan pada pria itu.
Pria itu tidak kehilangan ketenangannya. Ia bahkan mengangkat tangan sembari melemparkan senyum pada pramusaji yang datang karena cemas dengan situasi canggung penuh drama yang diciptakan Chai. Pramusaji itu membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum berlalu pergi.
Chai sendiri sebenarnya tidak begitu yakin dengan pemikirannya sendiri. Ia hanya mengikuti instingnya setelah mengenali wajah pria ini dari kejauhan. Bagaimanapun juga, Chai tidak punya petunjuk sama sekali mengenai sosok dermawan yang telah membiayai tunggakan rumah sakit bapaknya. Hanya pria di hadapannya inilah, satu-satunya petunjuk yang ia punya untuk mencari tahu mengenai sang dermawan misterius.
Lalu apa hubungannya sang dermawan misterius itu dengan pria klimis beraura kaya di depannya ini? Selain sebagai benang penghubung misteri? Begini, saat ini, Chai sedang mengikuti insting detektifnya. Bagaimanapun juga, kejadian lunasnya tunggakan rumah sakit sang bapak terjadi tepat setelah Chai mencurahkan beban pikirannya pada orang di hadapannya ini. Bukankah ini mencurigakan? Terlalu indah sekaligus tidak masuk akal untuk disebut sebagai kebetulan semata?
Sejujurnya, Chai juga punya firasat, bisa saja pria di hadapannya ini adalah sosok sejati sang dermawan misterius yang selama ini Chai cari-cari.
Pria itu tersenyum teduh, tak terpengaruh sama sekali baik oleh tudingan telunjuk Chai yang tidak sopan, maupun oleh tatapan seluruh pengunjung kafe. Dengan tenang, pria itu menggerakkan tangannya dan menggenggam jari telunjuk Chai, beralih pada seluruh kepalan tangan Chai dalam cengkeraman lembutnya, lalu menurunkannya ke sisi tubuh sebelah kanan Chai.
Perlakuan yang sanggup membuat Chai dilanda rasa malu tak terkira. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan Chai untuk bersikap tidak sopan, hanya saja dia sering kelepasan menuding orang jika sedang dilanda kaget. Itu murni refleks, bukan hasil didikan buruk dari orang tuanya.
"Pertama-tama, duduklah terlebih dahulu. Saya akan menjawab apa pun pertanyaan yang hendak kamu ajukan setelahnya."
Aneh. Nada lembut itu seperti memiliki sihir, menghipnotis siapa pun untuk menurutinya. Siapa pun, tidak terkecuali Chai yang awalnya datang dengan begitu berapi-api, sekarang berubah kalem seperti kucing yang mengamuk karena menolak dimandikan lalu diberi mainan bebek karet. Diam, tenang, terkendali.
Pria itu lantas memanggil pramusaji lain, lalu membisikkan sesuatu padanya. Pramusaji wanita cepat tanggap dan mengangguk mengerti, lantas undur diri menyiapkan pesanan.
Tak ada lagi tatapan aneh yang terlontar dari sekeliling mereka. Semua pengunjung kafe kembali pada kesibukan masing-masing seperti sebelum Chai datang menginvasi. Chai duduk dengan canggung, sangat berbeda sekali dengan malam beberapa minggu yang lalu ketika ia juga duduk di tempat yang sama, namun dengan emosi yang berbeda. Chai mengutuk dirinya sendiri, menggulung ujung kaos belelnya dengan telunjuk, canggung. Dia pasti sudah gila, menerobos begitu saja tanpa memikirkan konsekuensi sesudahnya.
Chai malu.
"Silakan diminum dulu,"
Suara pria di sebelahnya membuyarkan lamunan Chai. Gadis berambut sepunggung itu melirik kepada gelas tinggi berbahan kaca yang berembun di hadapannya. Milkshake cokelat dingin. Sangat sesuai dengan cuaca yang masih terik, walaupun di dalam kafe terasa sejuk oleh AC. Chai ingat, malam itu pria ini memberikannya segelas cokelat hangat.
Chai menyesap minuman di hadapannya dalam gerakan pelan. Menikmati rasa dingin yang menjalar dari dalam mulut, lidah, turun ke kerongkongan dan berakhir di dalam lambung. Chai diam-diam merasa bahagia. Akhirnya ia dapat menetralkan rasa haus yang menyerang sejak tadi siang.
"Jadi? Ada sesuatu yang bisa saya bantu?"
Chai menaruh kembali gelas milkshake-nya agak ke depan, lalu memutar kursinya agar menghadap ke arah sang pria asing berpenampilan eksekutif serta beraura kaya ini.
"Jika Anda masih ingat, beberapa minggu yang lalu kita pernah bertemu di rumah sakit di seberang jalan sana," Chai menunjuk rumah sakit yang dimaksud dengan jari, yang diikuti oleh sang pria dengan gerakan bola matanya.
Pria itu mengembalikan fokusnya pada Chai, namun masih enggan menjawab. Hanya senyuman misterius yang masih setia bertengger di bibir penuhnya. Posturnya ketika duduk begitu santai, terbuka dengan sebelah lengan di atas meja dan tangan lainnya di dalam saku celana. Chai sempat salah fokus sesaat, sebelum mengalihkan tatapannya ke arah lain, pada cairan hitam dari kopi milik sang pria yang kini hanya mengisi setengah bagian cangkir.
"Lalu?" tanya pria itu setelah lama menunggu kelanjutan pertanyaan Chai. Chai mengangkat kepalanya sedikit apa maksud dari pertanyaan pria ini? Apakah dia sedang mengakui bahwa dia memanglah orang yang sama?
"Apakah Anda mengingatku?" Chai bertanya kembali, memastikan.
Pria itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Senyumannya semakin lebar tertarik hingga Chai merinding. Ia takut jika ujung bibir pria itu akan sobek, atau jangan-jangan malah akan mencapai telinganya. Cepat-cepat Chai mengembalikan fokusnya yang sempat ambyar oleh imajinasi tak penting.
"Ya. Saya ingat," sahut pria di hadapan Chai dengan nada mantap.
Chai sempat bingung harus bereaksi seperti apa. Awalnya Chai berpikir bahwa pria ini akan mati-matian menampik dengan seribu alasan. Yah, bukan tanpa alasan Chai bisa berpikiran seperti itu. Bayangkan saja jika kau adalah sang pria, kau didatangi tiba-tiba oleh seorang gadis random berpakaian belel yang menudingmu di keramaian kafe. Siapa yang tidak akan kesal? Bahkan Chai pribadi pun akan bersikap pura-pura tidak kenal jika ia menjadi sang pria.
"Lalu? Apa Anda hanya ingin memastikan hal itu?" tanya pria itu membuyarkan lamunan Chai.
"Ah, oh. Ya. Bukan," Chai mengutuki kegugupannya. Ia suka gagap dan hilang fokus jika dikagetkan tiba-tiba seperti barusan. Apalagi jika pikirannya sedang berkelana terhadap hal lain.
Pria itu menatapnya dengan sorot menanti, penuh kesabaran, bahkan jika Chai teliti gadis itu akan mendapati sorot geli-geli gemas di sana. Tatapan yang sering kali akan kau dapati ketika seseorang menatap kucing kesayangannya sedang bertingkah lucu.
Sayang sekali, Chai tidak menangkap hal itu. Gadis berambut sebahu itu sedang berusaha keras menenangkan diri, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh rasa rendah diri yang kerap kali menghampirinya setiap kali ia berhadapan dengan jenis manusia seperti pria di hadapannya. Yap, jenis manusia-manusia kaya.
"Jadi begini. Bapakku sudah boleh pulang," kalimat macam apa ini Chai?
"Selamat, kalau begitu," sahut pria itu hangat. Hangat, namun tidak terkesan sok dekat, apalagi terkesan palsu. Hanya saja tetap terasa seperti sedang menjaga jarak.
"Terima kasih. Tapi bukan itu yang ingin kuucapkan. Baiklah. Jadi, ketika aku hendak mengurus administrasi bapak sebelum pulang, staf kasir rumah sakit itu berkata bahwa tunggakan biaya rumah sakit Bapak sudah lunas. Bahkan biaya untuk kontrol rutin selanjutnya juga sudah dijamin. Ketika aku bertanya siapa yang membayar semua itu, mereka tidak mau memberitahuku."
"Benarkah? Kenapa begitu?"
"Entahlah. Mereka hanya berkeras bahwa sang dermawan tidak mau identitasnya disebutkan," kedua bola mata cokelat milik Chai tak henti-hentinya menatap wajah pria di hadapannya. Memerhatikan setiap jengkal perubahan ekspresi yang mungkin dapat ia tangkap. Nihil. Pria itu masih tetap sama kalemnya dengan sebelumnya. Namun Chai juga bukanlah sosok yang bisa menyerah dengan begitu gampangnya. Firasatnya sedang kuat-kuatnya sekarang.
"Lalu?"
"Dermawan itu adalah Anda, bukan?" Chai tak mau berbasa-basi lagi, langsung melontarkan pertanyaan yang memang sudah gatal ingin ia tanyakan sejak tadi. Pria itu kembali tersenyum lucu, kali ini kedua lengannya disilangkan di depan dada. Benar-benar postur sempurna yang takkan pernah gagal membuat wanita mana pun kehilangan fokus mereka. Lagaknya, auranya, benar-benar seperti seorang model profesional.
Atau penggoda profesional?
Jantung Chai kebat-kebit, cepat-cepat gadis berambut sepunggung itu menundukkan pandang. 'Astaghfirullah ughtea, jagalah pandanganmu!' begitu kata ustaz di corong toa masjid kampungnya, terngiang-ngiang di telinga Chai.
"Benar. Itu saya."
Chai sukses melongo. Pria di depannya tersenyum tampan, membuat suhu di dalam kafe yang sudah sejuk menjadi naik dengan tiba-tiba. Sepertinya senyuman pria ini mengandung kalor, meski Chai tidak tahu entah dari mana kalor tersebut tercipta.
“A ... oke. Maksudku, terima kasih?” Chai gagap, gugup. Belum merencanakan skenario cadangan atas reaksi-reaksi yang ditunjukkan pria ini sejak awal mereka berinteraksi.
“Boleh aku minta kontak Anda?”
Alis pria itu naik sebelah.