Bab 1

“Saya memiliki sebuah penawaran untuk kamu. Itupun jika kamu tidak keberatan.” Chai memfokuskan pandangannya kepada pria di hadapannya untuk menyimak kalimat selanjutnya. Penawaran apa yang dimaksud? Perasaan Chai mulai tidak nyaman.

“Begini. Singkatnya, pekerjaan ini normalnya disebut sebagai sugar baby.”

Mata Chai membola. Apa dia tidak salah dengar? Miskin-miskin begini, kolot-kolot begini, Chai juga tahu mengenai istilah-istilah mesum itu. Chai tidak mengerti. Apa yang ada di benak pria di hadapannya, menawarinya pekerjaan yang jelas-jelas ia tahu sangat tidak cocok untuknya?

Chai sadar, ia tidak punya fisik yang semulus itu untuk bisa menjadi seorang sugar baby. Di atas itu semua, Chai masih waras dan tidak akan menggadaikan dirinya hanya untuk melunasi hutang budi tunggakan rumah sakit bapaknya.

“Jadi di sini itu ....”

Kalimat pria itu terpotong oleh dengusan napas Chai yang keras seperti banteng yang tengah mengamuk. Ya, Chai memang marah dan tidak berusaha untuk menyembunyikannya.

“Mungkin saya miskin, dan memang benar begitu. Tapi jangan berpikir jika saya akan menjual diri hanya karena tidak punya uang dan pekerjaan. Saya bukan perempuan seperti itu. Permisi.”

Dan begitulah pertemuan mereka berakhir. Chai berderap meninggalkan tempat itu sembari menahan air matanya yang hendak tumpah ruah. Tidak mengacuhkan seruan pria itu di belakangnya, hanya sibuk menahan kekesalan serta rasa terhina yang melukai batinnya. Ia tidak akan pernah terbiasa, tak peduli berapa kali merasakannya.

Chai menyesal, benar-benar menyesali takdirnya bertemu dengan pria itu. Pria tidak dikenal yang sudah banyak memberi bantuan finansial, namun ironisnya justru melecehkannya seperti ini. Kalau bisa, Chai tidak ingin kenal dengan pria itu sekalian!

Ini semua bermula dari beberapa minggu lalu, pada pertemuan pertama mereka yang dramatis, sekaligus agak tragis.

•••

Sore itu, Chai merasa tidak ingin pulang ke rumahnya sendiri. Gadis itu sudah pamit pada sang ibu, dari siang sebelum berangkat menjaga sang bapak di rumah sakit. Chai bilang pada jika dia akan menjaga sang bapak sampai pagi, tidak usah digantikan oleh adik-adiknya. Chai kasihan pada si kembar yang kebetulan memang tengah memasuki masa-masa UAS. Gadis 21 tahun itu tidak ingin mengganggu waktu belajar adik-adiknya.

Malam hari selepas sang bapak tertidur, Chai memutuskan untuk duduk sendirian di spot favoritnya. Pikirannya kacau akibat sebuah surat administrasi rumah sakit bertuliskan jumlah yang harus segera dibayar sementara Chai benar-benar sudah kehabisan akal. Depresi yang telah ia alami semenjak jaman sekolah, malam itu terasa semakin menjadi-jadi. Orang bilang, setan akan lebih mudah menggoda manusia untuk melakukan hal-hal gila saat manusia tersebut sedang berada dalam titik terendahnya.

Chai berjalan gontai tanpa arah, mulai dikuasai oleh kesedihan dan keputusasaan. Mungkin kalimat bijak tersebut benar adanya. Ketika Chai melihat sebuah pisau cutter serta sampah-sampah bekas buah yang ditinggalkan di atas sebuah meja gazebo, tak jauh dari spot favorit Chai menyendiri. Gadis itu merasa terpanggil oleh kilatan tajam lempeng pisau murahan yang semakin terlihat tajam ditimpa sinar lampu bangunan rumah sakit.

Chai hanya bergerak mengikuti nalurinya. Berjalan gontai, matanya yang kosong terlihat kontras dengan derap langkah yang lurus dan pasti menuju tempat di mana pisau tersebut berada. Orang bilang, bahasa lain dari jodoh adalah pertemuan. Chai berpikir, mungkin sudah jodohnya untuk menemukan pisau bekas memotong buah yang masih terlihat baru itu di meja gazebo rumah sakit. Mungkin pisau itu adalah jodohnya untuk kemudian berjodoh lagi dengan kematian.

Chai merampas pisau tersebut, memperkirakan posisi dan kedalaman luka yang tepat agar kematian benar-benar mendatanginya malam ini. Tangan kasar dan berwarna kecokelatan akibat sering terpanggang sinar matahari di ladang itu sudah bergerak hendak memutus nadinya sampai putus, memutuskan pula tekanan di hidupnya yang tak kunjung usai.

Tanpa Chai sadari, tindakan anehnya telah diperhatikan sejak awal oleh seorang pria yang berdiri di balik keremangan ekor koridor rumah sakit. Posisinya cukup tersembunyi hingga Chai yang sebelumnya sudah menengok kiri-kanan sebelum mengambil cutter pun tidak menyadari kehadirannya.

Tepat ketika Chai sudah hendak mengiris pergelangan tangannya, pria itu menghambur keluar dari persembunyiannya. Secepat kilat, menahan pergelangan tangan Chai dan membuang cutter jauh-jauh.

Pria misterius itu tidak melepaskan tangan Chai yang menatapnya dengan sorot heran, terkejut dan takut. Sebaliknya malah menarik tangan gadis itu keluar dari pelataran rumah sakit menuju sebuah kafe tak jauh dari sana. Pria aneh itu membelikan Chai segelas cokelat hangat dan membujuk Chai untuk berbicara.

Pria aneh itu menguarkan aura yang menenangkan. Chai tidak tahu apakah hal itu atau bebannya yang sudah sedemikian menumpuklah yang kemudian mendorongnya untuk mulai menuturkan masalah hidup.

Menuturkan tentang kesulitan keuangannya, tentang tekanan yang dialaminya, mengenai keterbatasan ekonomi dan cobaan bertubi-tubi. Mengenai keresahan diri karena sebagai anak sulung, ia tak dapat berbuat banyak untuk membantu ekonomi keluarga. Sementara tagihan rumah sakit tak mau menunggu. Lucunya negeri ini, keluarga Chai yang jelas-jelas masuk dalam kategori tidak mampu, justru malah tidak mendapatkan bantuan berupa BPJS Kesehatan khusus untuk masyarakat kurang mampu.

Beban dan tekanan yang telah ia tahan selama berhari-hari—bahkan berminggu-minggu semenjak sang bapak mulai sakit— laksana bendungan yang ambrol. Kala Chai selesai meluapkan semua isi hatinya, gadis itu tak kuasa membendung air mata. Gadis itu menangis tersedu-sedu di depan orang asing. Hal yang baru pertama kalinya terjadi.

Hanya sampai di sana, Chai bersyukur ia cepat sadar dan mengerem mulutnya. Hampir saja ia terlena dan menceritakan lebih banyak lagi pada pria asing berwajah teduh di hadapannya ini. Pria itu tak pernah memotong ucapannya sama sekali, bahkan memberikan beberapa helai tisu yang tersedia di meja mereka untuk Chai menghapus air mata dan ingusnya.

Pertemuan aneh mereka malam itu ternyata berujung pada perubahan nasib bagi Chai sendiri. Keesokan harinya ketika Chai berniat hendak meminta keringanan pada pihak rumah sakit, jawaban staf kasir berambut disanggul tersebut membuat Chai serasa bermimpi.

“Maaf, Mbak. Tapi tagihan rumah sakit atas nama Bapak Rismawan, sudah dilunasi seluruhnya tadi pagi.”

Chai melongo. Apa?

“Bahkan Mbak juga tidak perlu khawatir mengenai biaya kontrol Bapak Rismawan selanjutnya. Semua sudah dijamin, jadi Bapak Rismawan bisa terus datang secara rutin ke rumah sakit untuk kontrol hingga dinyatakan sembuh oleh dokter ya, Mbak,” tambah sang staf semakin membuat mata Chai terbelalak lebar.

“Ka-kalau boleh tahu, siapa yang sudah membayarnya, Mbak?” Chai tergagap, masih dikuasai kejutan. Staf tersebut tersenyum sebelum mengecek komputernya, lalu kembali menatap Chai dengan ekspresi meminta maaf.

“Maaf, Mbak. Tapi saya tidak punya wewenang untuk memberikan informasi pribadi terkait dermawan tersebut ....”

“Namanya, aja, Mbak?” desak Chai dengan tatapan memohon paling mumpuni. Sayangnya hal itu tidak mempan untuk meluluhkan sang staf.

“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, Mbak ....” tandas sang staf sopan, namun final. Chai menghela napas kecewa, berlalu dari sana setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Pikiran Chai masih dipenuhi rasa penasaran mengenai dermawan misterius, bahkan ia tidak begitu fokus ketika siangnya, ia menemani bapaknya pulang dari rumah sakit.

Sang Ibu menyambut kedatangan mereka dengan sukacita, adik lelakinya membantu Chai memapah bapak mereka yang masih lemah untuk masuk ke dalam rumah. Adik perempuannya sigap menyiapkan minum dan menghamparkan selimut di atas tubuh sang kepala keluarga. Bapak Chai tersenyum lemah, mengucapkan terima kasih dan membelai kepala kedua anak kembar berbeda jenis kelamin itu.

“Bagaimana bisa kamu berhasil meyakinkan rumah sakit hingga Bapak sudah dibolehkan pulang seperti ini?” Ibu Chai menarik putri sulungnya ke dapur, bertanya dengan jejak kekhawatiran yang nyata terpatri di wajahnya. Kekhawatiran yang sejak tadi ia sembunyikan di hadapan sang suami dan si kembar.

Begitulah seorang Ibu, selalu pintar menyembunyikan segala resah dari wajahnya, dari orang-orang tercinta. Setidaknya itulah yang Chai pelajari dari ibunya. Gadis berambut sepunggung itu menghembuskan napas pelan, semakin menambah kerutan di kening sang ibu.

“Chai nggak tahu, Bu. Ketika Chai baru aja mau minta keringanan ke staf rumah sakitnya, Chai tiba-tiba diberitahu kalau semuanya sudah dilunasi.”

Terdengar kesiap napas sang ibu, terkejut. Kedua tangannya menutup mulut. Chai mengangguk, melanjutkan penjelasannya seperti yang dituturkan staf rumah sakit tadi siang.

“Siapa dermawan itu sebenarnya?” tanya ibu Chai dengan tatapan menerawang. Chai menggeleng lelah, itu juga merupakan pertanyaannya.

Bab 2

Chai menyesap air mineral gelas di tangannya dengan nikmat. Matahari masih terasa cukup terik pada jam 3 sore seperti ini, membuatnya dilanda dehidrasi. Ingin rasanya menenggak minuman isotonik rasa kelapa atau rasa buah lainnya, seperti yang lazim dilakukan orang-orang dalam iklan di TV. Atau memesan segelas es dawet, es teh, atau boba. Atau paling tidak, menenggak air mineral botol ukuran 600 ml agar rasa hausnya benar-benar terobati.

Sayangnya kantong Chai kempes, kosong melompong seperti biasa. Ia hanya punya air mineral gelas 200ml di tangannya. Air mineral gelas ini saja ia dapat dari ruang tunggu poli rumah sakit. Chai hanya mengambil 2, malu mengambil barang gratisan banyak-banyak. Dan Chai masih merasa bahwa ia beruntung, jika tidak ada air mineral gelas itu, Chai sudah berniat untuk meminum air keran saja saking haus dan kerenya.

Bapaknya sudah ia minta untuk pulang sejak tadi, ditemani oleh adik laki-lakinya yang kebetulan lewat di depan RS setelah jam sekolah usai. Chai tidak tega melihat sang bapak kelelahan menunggu resep di apotek, belum lagi pasien rawat jalan yang ikut menunggu resep membludak. Chai sudah menunggu resep sejak pukul 1 siang dan baru mendapatkan obat pada pukul setengah 3 lewat. Chai yang sehat saja lelah, apalagi bapaknya yang belum sembuh betul.

Chai masih setia bengong menatapi lalu-lalang kendaraan, berteduh di bawah sebatang pohon besar yang sangat rindang di tepi jalan. Tak terasa sudah hampir 20 menit ia berteduh di sini, berdiri seperti orang bodoh. Tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang sedari tadi lalu-lalang melewatinya. Tatapan Chai berkelana ke mana-mana, mulai dari pelataran parkir rumah sakit yang penuh dengan kendaraan—selain juga penuh dengan kenangan ketika ia membawa sang ayah untuk dirawat di tempat ini.

Kemudian beralih ke toserba alias minimarket di sebelah rumah sakit tersebut yang selalu menimbulkan rasa sedih di hati Chai karena ia kerap kali kepingin melihat makanan yang dijual di sana namun ia tidak dapat membelinya. Paling banter ia hanya dapat membeli roti kemasan harga seribu rupiah, itu juga kadang-kadang Chai lebih memilih untuk mengurungkan niatnya dikarenakan mengingat adik-adiknya belum tentu bisa menikmati roti seperti ini.

Berlanjut ke trotoar lurus yang di tepinya dinaungi oleh pohon-pohon besar penghasil oksigen, peneduh kota serta penambah nilai estetika. Chai tidak punya tujuan khusus dengan kegiatannya ini, hanya ingin melepas lelah dengan caranya sendiri.

Hingga akhirnya kedua netra coklat gelap milik Chai tertambat pada sebuah kafe di seberang jalan dekat perempatan, sekitar 50 meter jaraknya dari posisi Chai saat ini. Kafe itu terlihat agak lengang. Di pelataran parkirnya hanya ada satu mobil SUV berwarna silver, serta 3 motor yang berjejer rapi.

Chai tahu kafe itu, kafe yang sering didatangi oleh anak-anak remaja menengah ke atas di kota. Kafe itu juga sering disambangi oleh orang-orang dewasa untuk sekadar ngopi dan mengobrol dengan sesamanya. Desain kafe itu artistik, elegan, dengan tampilan depannya berupa kaca jendela tinggi yang memungkinkan pelanggan kafe untuk menatap lalu-lalang pejalan kaki maupun suasana di luar kafe. Pun dengan orang-orang yang lewat juga dapat melihat suasana di dalam kafe yang cozy dan estetik.

Chai juga pernah masuk ke kafe itu. Kenangan ketika dia memasuki kafe itu untuk pertama kali dalam hidupnyalah, yang kini membuat ia lama termangu lama menatap bangunan kafe tersebut. Tulisan Serein Cafe dalam kaligrafi yang indah berwarna hitam dengan tepian putih. Simpel namun elegan. Tepian berwarna putih itu sesungguhnya adalah dekorasi lampu yang akan menyala ketika malam tiba. Tulisan Serein Cafe yang pada siang hari berwarna hitam, akan berubah menjadi putih di malam hari.

Bagaimana Chai bisa tahu?

Bagaimana tidak? Karena ia pernah mendatangi kafe tersebut di malam hari. Bersama seseorang yang hingga saat ini memenuhi pikirannya, seseorang yang entah bagaimana caranya, Chai harap bisa ia temui kembali. Ya, bertemu dengan pria asing malam itu. Chai, entah kenapa merasa yakin bahwa ia dapat menemukan petunjuk mengenai sang dermawan misterius dari pria itu.

Chai masih setia termangu, tatapannya seperti sedang melamun, namun terus menatap tanpa lelah ke arah pintu kafe. Tepatnya pada jendela kaca tinggi yang membuatnya dapat melihat wajah pelanggan kafe di dalam sana. Ada dua orang gadis remaja yang tengah bercengkerama di meja tengah, tak jauh dari counter tempat mengambil pesanan.

Kemudian sepasang kekasih yang memilih untuk duduk di sudut, terlihat saling tersenyum satu sama lain. Auranya penuh bunga-bunga. Lalu, sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak SD yang memilih tempat di sisi dekat dinding tembok. Sepertinya sengaja menghindari dinding kaca depan kafe agar quality time mereka lebih terasa dekat dan tidak terdistraksi oleh lalu-lalang pejalan kaki dan kendaraan yang melintas.

Persis di belakang jendela kaca itu, ditaruh furnitur berupa kursi-kursi dengan punggung pendek, serta sebuah meja panjang yang menghadap ke jendela. Pengaturan yang dimaksudkan agar pelanggan yang ingin duduk di sana dapat menikmati pemandangan dengan lebih leluasa. Biasanya tempat itu diisi oleh beberapa orang, namun sore ini hanya ada satu orang yang mengisi tempat itu.

Seorang pria yang mengenakan kemeja hitam dan celana bahan berwarna senada tengah duduk di sana. Bertopang dagu, pose yang jika dilakukan oleh orang biasa akan terlihat sangat buruk jika bukan terlihat seperti sedang merenungi hidup yang terlalu banyak masalah. Anehnya, pose itu justru membuat pria itu terlihat semakin elegan.

Rambutnya tersisir rapi dalam potongan gaya pompadour, rapi dan klimis. Helai-helai pendek tersebut di highlight cokelat muda, dengan warna dasar rambut cokelat tua. Sangat modis. Sosok pria itu semakin terlihat berkilauan akibat ditimpa cahaya matahari pukul 3 sore. Pemandangan yang sungguh memanjakan mata para wanita yang kebetulan lewat di depan kafe dan tak sengaja melirik padanya.

Chai ingat, dulu ia duduk persis di tempat di mana pria itu kini tengah duduk. Sembari pikirannya berkelana ke masa ketika ia pertama kali memasuki kafe tersebut, mata Chai tidak lepas-lepasnya memandangi sosok pria klimis tersebut.

Hanya untuk menyadari bahwa pria itu juga tengah menatap dirinya—entah sejak kapan. Hanya untuk menyadari pada detik selanjutnya bahwa pria itu bukanlah hasil de ja vu kosongnya semata. Pria itu ... bukankah pria itu adalah pria yang sama dengan yang tengah ia cari selama ini?

Chai terperanjat, terbatuk-batuk, tersedak oleh air mineral gelasnya sendiri. Apa? Ia tidak sedang bermimpi, bukan? Gadis berambut sebahu itu mengucek matanya dua kali demi memastikan penglihatannya. Sampai ia merasakan perih di mata bekas kucekan yang terlalu keras, barulah Chai yakin bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Doanya sedang dikabulkan oleh Tuhan! Dan kesempatan ini akan berlalu begitu saja jika Chai tidak cepat-cepat memanfaatkan momen! Maka dengan pikiran seperti itu, Chai buru-buru melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan.

TIIIN!!

Hampir saja gadis itu terserempet oleh sebuah sepeda motor yang sedang melaju kencang dari arah kanannya. Untungnya bunyi klakson dari sang pemotor yang lumayan kencang itu cukup untuk membuat refleks tubuh Chai membawanya mundur, hingga terhindar dari celaka.

Chai menghela napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang menggila setelah hampir diserempet motor. Gadis itu sekalian menjernihkan kepalanya untuk berpikir rasional dan mementingkan keselamatan diri, alih-alih terburu-buru mengejar sang pria yang ternyata masih setia di tempatnya.

Tanpa Chai sadari, pria yang sejak tadi ia amati ikut berjengit kaget melihat peristiwa yang dialami Chai barusan. Namun Chai tidak akan pernah mengetahui hal itu, karena ketika Chai melirik kembali padanya, pria tersebut cepat mengendalikan ekspresi wajahnya ke semula : tenang, kalem, santai.

Berhasil menghindar dari bahaya, Chai merasa dirinya seperti seekor kucing yang baru saja kehilangan satu nyawa. ‘Tenang, aku masih punya 8 nyawa yang tersisa,’ batin Chai mencoba bercanda dengan dirinya sendiri. Sebuah usaha kecil untuk menenangkan diri dan tremor yang melanda akibat kejadian barusan. Mata gadis itu masih setia melirik, lantas menghela napas panjang. Bersyukur bahwa sosok itu masih setia berada di sana. Bahkan kini pria itu terang-terangan tengah menatap ke arahnya, mengikuti setiap gerak langkahnya.

Bab 3

“Kamu orangnya kan? Benar, kan?”

Tanpa tedeng aling-aling, Chai yang sudah melupakan rasa minder atas penampilannya itu tahu-tahu sudah masuk ke dalam kafe, bahkan menudingkan telunjuk tidak sopan pada pria itu.

Pria itu tidak kehilangan ketenangannya. Ia bahkan mengangkat tangan sembari melemparkan senyum pada pramusaji yang datang karena cemas dengan situasi canggung penuh drama yang diciptakan Chai. Pramusaji itu membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum berlalu pergi.

Chai sendiri sebenarnya tidak begitu yakin dengan pemikirannya sendiri. Ia hanya mengikuti instingnya setelah mengenali wajah pria ini dari kejauhan. Bagaimanapun juga, Chai tidak punya petunjuk sama sekali mengenai sosok dermawan yang telah membiayai tunggakan rumah sakit bapaknya. Hanya pria di hadapannya inilah, satu-satunya petunjuk yang ia punya untuk mencari tahu mengenai sang dermawan misterius.

Lalu apa hubungannya sang dermawan misterius itu dengan pria klimis beraura kaya di depannya ini? Selain sebagai benang penghubung misteri? Begini, saat ini, Chai sedang mengikuti insting detektifnya. Bagaimanapun juga, kejadian lunasnya tunggakan rumah sakit sang bapak terjadi tepat setelah Chai mencurahkan beban pikirannya pada orang di hadapannya ini. Bukankah ini mencurigakan? Terlalu indah sekaligus tidak masuk akal untuk disebut sebagai kebetulan semata?

Sejujurnya, Chai juga punya firasat, bisa saja pria di hadapannya ini adalah sosok sejati sang dermawan misterius yang selama ini Chai cari-cari.

Pria itu tersenyum teduh, tak terpengaruh sama sekali baik oleh tudingan telunjuk Chai yang tidak sopan, maupun oleh tatapan seluruh pengunjung kafe. Dengan tenang, pria itu menggerakkan tangannya dan menggenggam jari telunjuk Chai, beralih pada seluruh kepalan tangan Chai dalam cengkeraman lembutnya, lalu menurunkannya ke sisi tubuh sebelah kanan Chai.

Perlakuan yang sanggup membuat Chai dilanda rasa malu tak terkira. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan Chai untuk bersikap tidak sopan, hanya saja dia sering kelepasan menuding orang jika sedang dilanda kaget. Itu murni refleks, bukan hasil didikan buruk dari orang tuanya.

"Pertama-tama, duduklah terlebih dahulu. Saya akan menjawab apa pun pertanyaan yang hendak kamu ajukan setelahnya."

Aneh. Nada lembut itu seperti memiliki sihir, menghipnotis siapa pun untuk menurutinya. Siapa pun, tidak terkecuali Chai yang awalnya datang dengan begitu berapi-api, sekarang berubah kalem seperti kucing yang mengamuk karena menolak dimandikan lalu diberi mainan bebek karet. Diam, tenang, terkendali.

Pria itu lantas memanggil pramusaji lain, lalu membisikkan sesuatu padanya. Pramusaji wanita cepat tanggap dan mengangguk mengerti, lantas undur diri menyiapkan pesanan.

Tak ada lagi tatapan aneh yang terlontar dari sekeliling mereka. Semua pengunjung kafe kembali pada kesibukan masing-masing seperti sebelum Chai datang menginvasi. Chai duduk dengan canggung, sangat berbeda sekali dengan malam beberapa minggu yang lalu ketika ia juga duduk di tempat yang sama, namun dengan emosi yang berbeda. Chai mengutuk dirinya sendiri, menggulung ujung kaos belelnya dengan telunjuk, canggung. Dia pasti sudah gila, menerobos begitu saja tanpa memikirkan konsekuensi sesudahnya.

Chai malu.

"Silakan diminum dulu,"

Suara pria di sebelahnya membuyarkan lamunan Chai. Gadis berambut sepunggung itu melirik kepada gelas tinggi berbahan kaca yang berembun di hadapannya. Milkshake cokelat dingin. Sangat sesuai dengan cuaca yang masih terik, walaupun di dalam kafe terasa sejuk oleh AC. Chai ingat, malam itu pria ini memberikannya segelas cokelat hangat.

Chai menyesap minuman di hadapannya dalam gerakan pelan. Menikmati rasa dingin yang menjalar dari dalam mulut, lidah, turun ke kerongkongan dan berakhir di dalam lambung. Chai diam-diam merasa bahagia. Akhirnya ia dapat menetralkan rasa haus yang menyerang sejak tadi siang.

"Jadi? Ada sesuatu yang bisa saya bantu?"

Chai menaruh kembali gelas milkshake-nya agak ke depan, lalu memutar kursinya agar menghadap ke arah sang pria asing berpenampilan eksekutif serta beraura kaya ini.

"Jika Anda masih ingat, beberapa minggu yang lalu kita pernah bertemu di rumah sakit di seberang jalan sana," Chai menunjuk rumah sakit yang dimaksud dengan jari, yang diikuti oleh sang pria dengan gerakan bola matanya.

Pria itu mengembalikan fokusnya pada Chai, namun masih enggan menjawab. Hanya senyuman misterius yang masih setia bertengger di bibir penuhnya. Posturnya ketika duduk begitu santai, terbuka dengan sebelah lengan di atas meja dan tangan lainnya di dalam saku celana. Chai sempat salah fokus sesaat, sebelum mengalihkan tatapannya ke arah lain, pada cairan hitam dari kopi milik sang pria yang kini hanya mengisi setengah bagian cangkir.

"Lalu?" tanya pria itu setelah lama menunggu kelanjutan pertanyaan Chai. Chai mengangkat kepalanya sedikit apa maksud dari pertanyaan pria ini? Apakah dia sedang mengakui bahwa dia memanglah orang yang sama?

"Apakah Anda mengingatku?" Chai bertanya kembali, memastikan.

Pria itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Senyumannya semakin lebar tertarik hingga Chai merinding. Ia takut jika ujung bibir pria itu akan sobek, atau jangan-jangan malah akan mencapai telinganya. Cepat-cepat Chai mengembalikan fokusnya yang sempat ambyar oleh imajinasi tak penting.

"Ya. Saya ingat," sahut pria di hadapan Chai dengan nada mantap.

Chai sempat bingung harus bereaksi seperti apa. Awalnya Chai berpikir bahwa pria ini akan mati-matian menampik dengan seribu alasan. Yah, bukan tanpa alasan Chai bisa berpikiran seperti itu. Bayangkan saja jika kau adalah sang pria, kau didatangi tiba-tiba oleh seorang gadis random berpakaian belel yang menudingmu di keramaian kafe. Siapa yang tidak akan kesal? Bahkan Chai pribadi pun akan bersikap pura-pura tidak kenal jika ia menjadi sang pria.

"Lalu? Apa Anda hanya ingin memastikan hal itu?" tanya pria itu membuyarkan lamunan Chai.

"Ah, oh. Ya. Bukan," Chai mengutuki kegugupannya. Ia suka gagap dan hilang fokus jika dikagetkan tiba-tiba seperti barusan. Apalagi jika pikirannya sedang berkelana terhadap hal lain.

Pria itu menatapnya dengan sorot menanti, penuh kesabaran, bahkan jika Chai teliti gadis itu akan mendapati sorot geli-geli gemas di sana. Tatapan yang sering kali akan kau dapati ketika seseorang menatap kucing kesayangannya sedang bertingkah lucu.

Sayang sekali, Chai tidak menangkap hal itu. Gadis berambut sebahu itu sedang berusaha keras menenangkan diri, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh rasa rendah diri yang kerap kali menghampirinya setiap kali ia berhadapan dengan jenis manusia seperti pria di hadapannya. Yap, jenis manusia-manusia kaya.

"Jadi begini. Bapakku sudah boleh pulang," kalimat macam apa ini Chai?

"Selamat, kalau begitu," sahut pria itu hangat. Hangat, namun tidak terkesan sok dekat, apalagi terkesan palsu. Hanya saja tetap terasa seperti sedang menjaga jarak.

"Terima kasih. Tapi bukan itu yang ingin kuucapkan. Baiklah. Jadi, ketika aku hendak mengurus administrasi bapak sebelum pulang, staf kasir rumah sakit itu berkata bahwa tunggakan biaya rumah sakit Bapak sudah lunas. Bahkan biaya untuk kontrol rutin selanjutnya juga sudah dijamin. Ketika aku bertanya siapa yang membayar semua itu, mereka tidak mau memberitahuku."

"Benarkah? Kenapa begitu?"

"Entahlah. Mereka hanya berkeras bahwa sang dermawan tidak mau identitasnya disebutkan," kedua bola mata cokelat milik Chai tak henti-hentinya menatap wajah pria di hadapannya. Memerhatikan setiap jengkal perubahan ekspresi yang mungkin dapat ia tangkap. Nihil. Pria itu masih tetap sama kalemnya dengan sebelumnya. Namun Chai juga bukanlah sosok yang bisa menyerah dengan begitu gampangnya. Firasatnya sedang kuat-kuatnya sekarang.

"Lalu?"

"Dermawan itu adalah Anda, bukan?" Chai tak mau berbasa-basi lagi, langsung melontarkan pertanyaan yang memang sudah gatal ingin ia tanyakan sejak tadi. Pria itu kembali tersenyum lucu, kali ini kedua lengannya disilangkan di depan dada. Benar-benar postur sempurna yang takkan pernah gagal membuat wanita mana pun kehilangan fokus mereka. Lagaknya, auranya, benar-benar seperti seorang model profesional.

Atau penggoda profesional?

Jantung Chai kebat-kebit, cepat-cepat gadis berambut sepunggung itu menundukkan pandang. 'Astaghfirullah ughtea, jagalah pandanganmu!' begitu kata ustaz di corong toa masjid kampungnya, terngiang-ngiang di telinga Chai.

"Benar. Itu saya."

Chai sukses melongo. Pria di depannya tersenyum tampan, membuat suhu di dalam kafe yang sudah sejuk menjadi naik dengan tiba-tiba. Sepertinya senyuman pria ini mengandung kalor, meski Chai tidak tahu entah dari mana kalor tersebut tercipta.

“A ... oke. Maksudku, terima kasih?” Chai gagap, gugup. Belum merencanakan skenario cadangan atas reaksi-reaksi yang ditunjukkan pria ini sejak awal mereka berinteraksi.

“Boleh aku minta kontak Anda?”

Alis pria itu naik sebelah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED