Awas! Jebakan konten-konten dewasa.
Suasana di penthouse The Magnífico View sangat mengintimidasi setelah pintu utama kembali tertutup dan semua orang meninggalkan Elle seorang diri bersama Ardan.
“Kemarilah, kita lihat dulu bekas suntikanmu,” ucap Ardan tenang sambil mengulurkan tangan ke arah Elle. Tanpa sempat Elle tolak, Ardan mengarahkannya untuk duduk di pangkuan pria adonis yang menggenggam tangannya dan sesekali memberikan remasan pengantar gelenyar asing pada tubuh Elle.
Elle terkesiap saat tangan besar dan hangat milik Ardan menelusuri bekas suntikan yang sudah tak membengkak, tapi masih terdapat memar samar di siku dalamnya. Ia diam saja bukan karena menurut, tapi karena ia berusaha mencerna apa saja yang sudah terjadi selama satu bulan ini. Semuanya, tanpa terkecuali. Termasuk cara pria ini menemukannya di London sebulan lalu dan bagaimana bisa Ardan berada di tempat ini sekarang.
Beberapa menit berlalu. Ardan terus mengunci pandangannya ke arah Elle sambil mempelajari bahasa tubuh gadisnya. Membuat Elle semakin salah tingkah dan merasa tegang hanya karena tatapan yang tak bisa ia prediksi apa artinya. Ardan sedikit mencondongkan tubuhnya, “Kenapa bisa memar? Mereka bilang ini juga sempat membengkak. Apa yang coba kau lakukan, hm?” lirih Ardan tepat di telinga Elle.
“A-aku tak melakukan apa pun. Bisa aku duduk sendiri sekarang?” Sial! Rasa terintimidasi ini tak kunjung hilang dari dirinya. Sebenarnya sejak tadi ia tak nyaman berada sedekat ini dengan Ardan, tapi ia tahu pria ini tak bisa ditolak karena dia sudah tertangkap basah menipunya mentah-mentah satu bulan yang lalu.
“Nanti dulu, Nona Lieben. Bukankah ada satu suntikan lagi? Kita juga harus memastikan tak ada bengkak atau memar, ‘kan? Tunjukkan di mana bekas suntikan yang satu lagi,” ucap Ardan dengan intonasi tak ingin dibantah.
Elle terkesiap, ia memandang ke arah Ardan dengan wajah pias. Bagaimana bisa ia menunjukkan bekas suntikannya yang kedua? Dia tak ingin sembarangan pria melihat bagian tubuhnya yang seharusnya tertutup dan tak boleh mudah dijamah orang lain. Terutama pria, terlebih lagi jika dia adalah pria asing. Ardan masih tak mengalihkan pandangan menuntutnya, membuat darah Elle surut dari wajahnya seketika.
“Bukannya aku tak mau bekerja sama, tapi aku yakin bekas suntikannya pasti tak akan berbekas seperti yang ada di tanganku,” elak Elle mencoba mencari alasan. Yang jelas ia tak akan mau dimanfaatkan siapa pun lagi mulai sekarang.
“Bagaimana kau bisa yakin? Apa kau mencoba membodohiku lagi?” tukas Ardan kembali menyudutkan Elle.
“Bukan, aku tak bisa menunjukkannya karena memang itu ada di bagian yang tak seharusnya dilihat sembarang orang. Lagi pula aku ingin bertanya satu hal padamu. Perjanjian kita sepenuhnya tentang NDA, ‘kan? Bukan tentang nikah kontrak seperti yang kau bilang sebelumnya, lalu untuk apa tuan Aloui dan dokter Wilson mengajukan banyak pertanyaan membingungkan padaku? Oke, aku bisa paham jika dia mengambil darahku untuk memastikan kesehatanku karena aku sekarang sudah resmi menjadi tawananmu, tapi suntikan aneh dan pertanyaan panjang tentang latar belakangku dan keyakinan yang kuanut itu ....” Keberanian Elle untuk bicara lagi-lagi padam saat ia menyadari tatapan tak suka dari Ardan, “Satu bulan lalu kau sudah bilang tak akan marah, dan menyuruhku mengatakan apa pun yang ingin kutanyakan. Kenapa sekarang kau menatapku seperti ini?” cicit Elle takut-takut.
Ardan memejamkan kedua matanya sambil mendengus kasar, “Dengar, satu bulan lalu aku sudah bilang padamu untuk membaca dokumennya dengan benar dari halaman pertama sampai akhir, tapi sepertinya kau tak peduli dan langsung menandatangani dokumen tebal itu. Aku selalu memberimu kesempatan, ‘kan? Lagi pula, saat kau menjawab pertanyaan dokter Wilson atau tuan Aloui apakah ada paksaan dan harus sesuai dengan keinginanku? Aku hanya memintamu mengganti gaunmu sebagai isyarat jika kau setuju dengan semuanya, dan tentu saja tidak akan ada pernikahan kontrak di antara kita karena itu bukan gayaku selain memang dilarang dalam keyakinanku. Well, sekarang itu juga sudah menjadi keyakinanmu. Kau punya banyak kesempatan untuk menolak bahkan lari dariku selama satu bulan ini, tapi kau memilih tetap mengikuti semua prosedurnya dan tinggal sampai detik ini. Malahan kau sampai menghampiriku ke sini, apa kau serindu itu padaku? Satu hal lagi, harus berapa kali aku bilang kalau kau bukan tawananku. Jadi, jangan membuatku marah, Elle!” bentak Ardan di akhir kalimat, membuat napas Elle menjadi pendek-pendek seketika. Sepertinya semua kalimat Ardan terdengar sangat ambigu. Pasti ada saja bagian yang tak ia pahami.
Sudah cukup! Habis sudah kesabaran Ardan. Saat ini dia seperti menghadapi Marseille Levanchois dan Mirele Lieben secara bersamaan, “Kau sudah tahu untuk apa fungsi suntikan yang diberikan dokter Wilson waktu itu, ‘kan?” Ardan memastikan sesuatu sebelum memutuskan nasib Elle malam ini.
Elle terkesiap, ragu. Satu bulan lalu otaknya dipaksa bekerja keras mencari jalan keluar sebelum masalah ini bertambah besar dan rumit sampai dia lupa bertanya untuk apa saja obat dan suntikan yang diberikan padanya. Dia tahu soal multivitamin yang selama satu bulan ini ia minum setelah sempat mendapat perawatan karena ditemukan dalam keadaan pingsan, tapi untuk suntikan yang terakhir itu? Ia benar-benar melewatkan kesempatan untuk bertanya pada dokter Altheda Wilson. Ia berdehem pelan, “Aku tak sempat bertanya, karena kau juga tahu aku baru saja siuman saat itu. Aku hanya paham tentang perjanjian tutup mulut yang kutanda tangani denganmu, dan tentu saja aku tak punya pikiran untuk lari karena lebih fokus mencari keberadaan adikku yagn masih menghilang sampai saat ini. Jadi, menurutku selama harus tinggal denganmu itu sama saja seperti menjadi tawananmu, ‘kan?” jawab Elle lagi.
Ardan mengeluarkan seringaian berbahaya dengan tatapan gelapnya, suaranya menjadi lebih berat, “Sadarkah kau karena kau selalu berhasil memancingku, Nona Lieben? Kau tetap bersikeras menggunakan istilah tawanan denganku, itu artinya aku berhak melakukan apa pun padamu sebagai TUANMU. Itu maksudmu, ‘kan?” ulang Ardan mengantisipasi jawaban Elle dengan aura mengintimidasi yang terlampau kuat.
Tentu saja Elle bergeming, ia jadi tak yakin dengan kesimpulannya sendiri saat ini. Sebenarnya apa yang sedang coba dikatakan Ardan? Dia menatap dalam pada iris cokelat milik Ardan yang semakin menggelap, benarkah? Kenapa bisa berubah warna sampai seperti ini?
“Kalau begitu akan kucari sendiri bekas suntikan keduamu, karena sekarang aku adalah TUANMU!” gertak Ardan, lalu beranjak setelah menyelusupkan kedua tangannya pada tubuh Elle.
Petir tiba-tiba menggelegar di kegelapan langit Britania, membuat Elle terperanjat karena dua hal, ancaman Ardan sekaligus efek suara gelegar yang kembali memekakan telinganya. Tanpa banyak kata Ardan membopongnya ke dalam kamar dengan langkah lebar.
“Tu-tunggu! Kita belum selesai bicara, please jangan menakutiku seperti ini, kumohon,” pinta Elle mulai menyadari jika dirinya berada dalam bahaya.
Sia-sia, Ardan malah menutup pintu kamar menggunakan kakinya hingga suara bantingan pintu kembali membuat Elle tersengal. Terlalu mencekam, terlalu berbahaya. Dia harus membuat Ardan mengurungkan apa pun niatnya saat ini sebelum semuanya terlambat!
Ketika dua orang yang sama-sama dipermainkan nasib akhirnya harus bertemu di persimpangan takdir bernama,
Enigma: Teka-teki
——DanElle——
Ardan mengosongkan kembali sisa proyektil dari senjatanya, lalu melepaskan pelindung telinga yang biasa disebut earmuff untuk meredam suara bising dari letusan senjatanya, juga kacamata dengan lensa jingga dari tactical ballistic sunglass yang baru saja melindungi matanya selama satu jam ini. Biasanya suasana hatinya akan segera membaik setelah ia memusatkan konsentrasinya pada sasaran tembak. Namun, anehnya emosinya tak kunjung mereda karena setiap kali ia menarik napas semua file dan foto yang sudah diperiksanya satu jam lalu kembali membayangi pelupuk matanya.
“Argh, sial!” teriak Ardan, segera berlalu dari ruangan menembak pribadi di mansion megahnya. Dengan langkah lebar ia masuk kembali ke ruangan kerjanya dan menyambar satu foto dari atas meja kerjanya. Meja kerja Ardan tak pernah seberantakan ini, ia sengaja tak merapikan meja kayu eboni hitamnya yang menampakkan kesan kuat, misterius, dan dingin. Ciri khas seorang Ardan Rasendriya Aryasatya ahli waris utama dari keluarga Aryasatya. Meja lebar itu dipenuhi lembaran file dan foto seorang gadis yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh detektif profesional sekaligus orang kepercayaannya, juga beberapa lembar foto yang diambil untuk keperluan dokumentasi secara legal. Sebuah notifikasi pesan tiba-tiba masuk ke dalam ponsel Ardan. Kedua matanya membola saat membaca surel yang dikirimkan Hwanhee, tertulis di sana jika gadis yang dia cari sedang dirawat di Unit Gawat Darurat East Medical Centre London setelah ditemukan dalam keadaan pingsan karena dehidrasi akut dan diperkirakan akan siuman dalam beberapa jam ke depan.
“Luke! Kabari Edmund, kita ke London sekarang,” titahnya sambil mengantongi ponsel canggih dan dompet khususnya ke dalam saku jaket kulit warna hitam favoritnya.
Luke muncul dengan sigap dari ruang keamanan sekaligus pusat kontrol dan bergegas menahan pintu mobil Tesla model 3 berwarna midnight silver metallic yang biasa Ardan gunakan sehari-hari tetap terbuka sampai tuan mudanya masuk. Ia sudah memakai sabuk pengamannya setelah duduk di balik kemudi saat Ardan berkata, “Pastikan Nona Levanchois diantar ke Magnífico saat kita mendarat.”
Secepat itu pula Luke mengantarkan tuan mudanya menuju tempat calon istrinya berada. Sepanjang perjalanan dari Seattle ke London, Ardan memikirkan jalan terbaik untuk menyelesaikan semua kekacauan tak terduga sebelum anggota keluarga Aryasatya atau Levanchois mengetahui kebenarannya. Jujur saja dia mulai tertarik dengan nona muda satu ini, tapi gadis itu sepertinya sama rumitnya dengan dirinya. Menantang dan membuat adrenalinnya selalu terlecut!
✧✧✧
Jet pribadi berlambang Aryasatya Entreprises Holdings mendarat jauh dari jalur kedatangan di bandara Heathrow. Sebuah sedan hybrid warna abu-abu metalik gelap sudah menunggu di dekat landasan pacu untuk segera membawa Ardan menuju griya tawang The Magnífico View yang masih berada satu area dengan Magnífico Boutique Hotel milik keluarga Valerian.
Ardan berjabatan tangan dengan kapten pilot yang selama ini selalu menemani perjalanan lintas negara ke mana pun dia harus pergi saat pekerjaannya memanggil, “Thanks, Edmund. Kau selalu bisa kuandalkan meskipun terkadang aku punya jadwal tak terduga seperti sekarang, penerbangan yang menyenangkan,” puji Ardan. Nada suara dan bahasa tubuh formal dari Ardan disambut baik oleh sang kapten senior.
“Sepertinya campur tangan Tuhan membuat cuaca menjadi cerah dan izin terbang kita menjadi mudah, Sir. Selalu menyenangkan bisa menemani perjalanan Anda, Mr. Aryasatya,” jawab Edmund diplomatis.
Langit senja Britania menyambut Ardan saat mobil edisi terbatas itu membelah jalanan kota London. Ia memejamkan mata untuk mengontrol emosinya, kepalanya sudah dipenuhi dengan rencana sempurna dan sangat matang, “Bagaimana persiapannya?” tanya Ardan pada asisten setianya yang duduk di kursi penumpang kabin depan.
“Sesuai dengan instruksi Anda, Mr. Aryasatya. Nona Levanchois sudah ada di Magnífico dan baru saja siuman sekarang. Sepertinya ada sesuatu yang perlu Anda periksa lebih dulu,” ucap Luke mengulurkan sebuah tablet tercanggih berukuran dua belas inci ke tangan Ardan.
Rahang Ardan mengeras seketika, ‘Gadis menarik yang tak pernah berhenti membuatku terkejut dan kagum. Kita lihat siapa yang akan menang banyak kali ini!’ tekat Ardan dalam hati. Ia segera menambahkan catatan sebagai instruksi pada tablet yang sama agar bisa segera dikerjakan Luke sebelum mobil beraroma kulit ini memasuki fasad mewah ciri khas Magnífico. Sebuah seringaian berbahaya menghiasi wajah tampan khas eurasia dengan iris berwarna cokelat muda yang kembali berkilat penuh ancaman.
Sementara itu seorang gadis yang mengenakan rok terusan di bawah lutut berwarna lilac berbahan sifon sutra tampak larut dengan pikirannya sendiri. Dia duduk termangu di ruang kerja sebuah griya tawang bernuansa mewah yang terlihat mutakhir. Kepalanya kembali pusing sebab tak berhenti memikirkan banyak kejadian tak terduga yang membutuhkan jalan keluar secepatnya dalam beberapa bulan terakhir ini, hingga membuatnya nekat mengambil keputusan yang menurutnya paling benar untuk dia lakukan. Pergi seorang diri ke sebuah negara asing hanya untuk melarikan diri bersama saudarinya. Sialnya tak ada satu pun yang berjalan lancar hingga sekarang ia sudah berada terlalu jauh dari rumah, mereka terpisah, dan kali ini dia benar-benar menghadapi seorang mogul yang misterius seorang diri.
Ia menyandarkan sikunya sambil mengelus tepi bibirnya dengan sisi jari telunjuk kanannya ketika ia menggigit bibir bawahnya. Pandangannya lurus, tapi kosong saat menatap tepi meja kayu kokoh yang tampak antik di depannya. Menunggu dengan perasaan campur aduk, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi dalam beberapa jam ke depan. Meskipun begitu, mundur atau menyerah bukanlah pilihan lagi baginya. Ia sepertinya terlalu larut dengan pikirannya sendiri sampai tak mendengar pintu ruang kerja yang berada tak jauh di depannya sudah terbuka dan suara langkah kaki sepatu kulit berwarna hitam mendekatinya.
Ardan menatap tajam ke arah seorang gadis cantik yang sedang duduk di sofa tunggal berlapis kulit dengan kaki disilangkan ke sisi kiri tubuhnya, sepasang kaki jenjang itu mulai bergerak gelisah. Ardan melangkah pelan sambil terus mengamati bahasa tubuh gadis berambut brunette ikal dengan panjang hampir menyentuh sikunya, tatapan Ardan sangat mengancam seperti predator yang sedang mengunci target buruannya sebelum menyerang dalam sekali sergapan. Mata hazel abu-abu muda milik si gadis mengerjap beberapa kali saat akhirnya tersadar ada sosok lain yang duduk berseberangan dengannya sedang memancarkan aura tak biasa. Sepasang iris cantik itu perlahan mengintipnya melalui bulu mata lentik yang tebal menggoda. Tatapan keduanya saling mengunci membuat suasana menjadi hening, dingin, mencekam untuk beberapa saat.
“Punya gambaran kenapa mereka membawamu ke sini, Nona Levanchois? Atau aku harus mulai memanggilmu dengan nama Nona Lieben?” tanya Ardan dengan suara berat dan rendahnya.
Tubuh gadis itu sontak menegang, pupilnya membesar saat mendengar rahasianya sudah terbongkar secepat ini. Tidak, tidak! Ini tidak benar! Rahasia mereka, rencananya, jalan keluar paling sempurna, keamanan orang-orang yang sedang dilindunginya tiba-tiba semua hal itu menggantung di tepi jurang di bawah seutas tali yang tampak rentan dalam sekedip mata saja.
“A-aku tak mengerti ....” Ia tergagap lalu terdiam seketika saat menyadari jika mengelak sepertinya akan terdengar sangat konyol dan sudah jelas sia-sia. Gadis itu kembali menunduk, ia menegakkan duduknya dengan kedua tangan mencengkeram kedua lututnya, jantungnya memompa darah lebih cepat. Sial! Selama ini dia belum pernah berada di posisi seperti ini, belum pernah ada yang bisa mengintimidasinya sampai sebegini rupa. ‘Pikirkan sesuatu, Elle! Ayolah, kau selalu punya jalan keluar untuk segala hal,’ teriak sosok dirinya yang terlihat dewasa berusaha membantunya mencari jalan keluar. Elle kembali mengintip dari balik bulu mata lentiknya, tapi ia kembali menurunkan pandangannya saat melihat wajah tegas dengan aura berbahaya di depannya, ‘Sudah berakhir! Akhirnya kau bertemu dengan lawan yang tak bisa kau kalahkan kali ini. Aku sudah bilang untuk lari secepatnya, ‘kan?’ teriak batinnya lagi. Kali ini bukan sosok dewasa yang muncul, melainkan sosok dirinya ketika muda, naif, yang selalu bertingkah jahil dan enerjik sambil meniupkan permen karet dari mulutnya.
“Sepertinya kau cepat mempelajari situasi atau memang ini adalah dirimu yang sesungguhnya? Kau bahkan tak mencoba membuatku kesal seperti biasanya. So, ini artinya aku sedang berhadapan dengan Nona Lieben yang asli?” Ardan kembali membaca bahasa tubuh Elle, memerhatikan ekspresi mikro yang coba disembunyikan oleh gadis cerdas nan jelita ini, menarik! Merasa targetnya benar-benar tersudut membuat Ardan tak sabar untuk membuat gadis di depannya menyerah secara sukarela, “Luke!” panggilnya dengan satu nada tegas.
Asisten sekaligus pengawal Ardan berjalan mendekat untuk meletakkan sebuah map di depan Elle, lalu ia segera keluar, menutup pintu ruang kerja di belakangnya untuk berjaga kembali.
“Sebelum kau membuatku lelah karena terlalu banyak bicara. Kusarankan kau baca dengan teliti dokumen itu sebelum memutuskan akan menandatanginya atau ...?” Ardan sengaja menggantung kalimatnya.
Elle menelan salivanya susah payah, ia tahu kalimat Ardan bukanlah pertanyaan apalagi penawaran. Dia segera menuruti Ardan, ia mulai membaca dokumen di atas pangkuannya. Semakin teliti ia membaca, semakin berkeringat pula dirinya, ‘Sial! Perjanjian apa ini?!’ gadis batinnya mengetukkan sepatu bot stiletto merah sambil menggeleng tak suka.
Elle mencengkeram tepi map beludru berisi lembaran kertas lumayan tebal, ia menatap marah pada Ardan, “Jadi, kau ingin aku menandatangani kontrak perjanjian konyol ini? Apa aku bisa menyimpulkan jika ini adalah sebuah pemerasan, Mister Aryasatya?!” tukas Elle melupakan tata krama.
Ardan menaikkan satu alisnya, “Apa kau masih berpikir aku akan tetap menyebutkan nama gadis lain saat pernikahan kita? Di depan anggota keluarga Aryasatya dan Levanchois, juga seluruh dunia? Sementara kau adalah Aubrey Mirele Lieben, bukan Marseille Levanchois. Bukankah pernikahan itu akan dianggap tidak sah nantinya? Lagi pula saat keluarga Levanchois mengetahui tentang ini, apa kau pikir mereka akan tinggal diam? Tidakkah kau tahu apa yang terjadi pada Nona Levanchois sebelum ia dibawa kembali ke kediaman utama Levanchois untuk diakui sebagai bagian dari keluarga terpandang itu? Lihatlah, jika ini sebuah bisnis siapa pihak yang paling dirugikan karena permainan konyol kalian berdua?” ujar Ardan datar, tapi kalimatnya sangat tepat sasaran.
Bahu Elle merosot. Bukankah semua jejak sudah dihapus? Seharusnya mereka berdua bisa pergi sesuai rencana. Pria ini sangat berbahaya! Ah, sial! Pria yang dihadapi adiknya juga sama berbahayanya. Tidak bisakah Tuhan membantu mereka sekali saja agar bisa terlepas dari jeratan mematikan yang sedang mereka hadapi?
“Aku tak punya banyak waktu! Kau bisa memilih untuk menyetujuinya atau kau ingin aku memulai diskusiku dengan Mr. Samuel Levanchois untuk membatalkan semuanya? Semua terserah padamu, Nona Lieben. Aku tak ingin memaksamu untuk tinggal.”
‘Kenapa jadi terserah aku? Bukankah sudah jelas isi kontrak ini semuanya terserah keputusannya, bukan aku?!’ Kedua gadis batinnya saling menatap dengan lutut bergetar. Elle menghirup napas tajam, lalu segera mengambil pena di atas meja.
“Kau yakin tak mau membaca sisanya? Ingatlah jika aku tak memaksamu untuk menandatanginya, kau masih punya kesempatan untuk menjelaskan sendiri pada keluarga Levanchois dan mencoba bernegosiasi sendiri dengan mereka. Pikirkan dulu baik-baik, meskipun perjanjian ini memang vice versa. Karena ketika kau menandatangani kontrak denganku, itu artinya aku akan melanjutkan kontrak kerja sama dengan Mr. Levanchois sekaligus menjamin rahasia kalian tetap aman dengan caraku,” kata Ardan memberi sedikit gambaran.
‘Astaga, pria ini! Bagaimana bisa dia berbicara seolah akulah yang memegang kendali di sini, padahal dia tak memberiku kesempatan untuk menolak. Sudah jelas dia akan menguras habis energiku!’ Kali ini kedua gadis batinnya sudah bersembunyi agar tak merasakan aura intimidasi lebih jauh lagi.
Tanpa membuang waktu lagi untuk membaca sisa klausul dalam perjanjian di atas pangkuannya, Elle segera membuka halaman paling akhir untuk menandatangani satu garis putus-putus di atas nama lengkapnya, nama aslinya. Lalu membuka setiap halaman dari belakang untuk menambahkan paraf pada setiap halaman perjanjian berhalaman tebal karena seperti selayaknya sebuah perjanjian legal, semuanya dibuat rangkap dua untuk kedua belah pihak. Apa pun yang diinginkan pria ini bukanlah hal yang bisa ia tawar. Elle sangat paham dengan hal itu.
“Aku sudah melakukan semua sesuai keinginanmu, Mr. Aryasatya,” ucap Elle tanpa menatap Ardan. Nyalinya sudah ciut saat ia terus disudutkan, dan secara sadar ia menyerahkan diri.
“Ck! Bagaimana bisa kau seceroboh ini? Kau bahkan tak membaca apa saja berkas yang kau tanda tangani, Nona Lieben.”
“Apa pentingnya membaca sampai akhir? Bukankah sudah jelas kau membuatku tak punya pilihan lain selain menyerahkan diri? Entah itu secara suka rela atau dengan paksaan. Saat ini aku dalam posisi tak bisa mengajukan penawaran apa pun lagi padamu, ‘kan?” sarkas Elle dengan nada datar ciri khasnya.
Ardan mengangguk dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, “Penyerahan diri? Aku suka pilihan kalimatmu. Jadi, apa ini jawabanmu?” tanya Ardan dengan tatapan menyelidik.
Wajah Elle menjadi pias seketika, ‘Sebenarnya ke mana arah pembicaraan ini?!’ kedua gadis batinnya berteriak frustasi saat sadar mereka sudah kalah telak. Dia tetap mengangguk meskipun jutaan pertanyaan berseliweran di dalam kepalanya.
“Luke!” panggil Ardan. Dengan sekali komando ia memerintahkan semuanya segera disiapkan dalam waktu satu jam.
Elle belum bisa memahami segala luapan fakta yang baru saja terjadi, tak juga sanggup mencerna apa pun saat ia dengan penuh kesadaran mengizinkan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai penata gaya membantunya bersiap di dalam kamar tamu setelah ia menyetujui tawaran untuk mengganti bajunya, sebab Ardan bilang mereka akan bertemu seseorang yang penting jika Elle menyetujui kesepakatan di antara mereka. Sebuah gaun french lace berwarna putih yang memancarkan aura elegan sekaligus membuat siluet tubuhnya tampak memesona dan dewasa, serta tambahan make-up natural yang membuat wajahnya tampak jauh lebih segar, juga rambut yang disanggul dalam bentuk twisted bun updo dengan tambahan dua buah jepit rambut yang tampak manis nan elegan mampu membuatnya terpesona pada bayangannya sendiri saat menatap ke arah cermin. Setelahnya, seorang dokter wanita mengambil darahnya, menanyakan perihal periode menstruasinya, tentang riwayat kesehatannya, lalu menyuntikkan sesuatu. Tak berselang lama dia menjawab beberapa pertanyaan dari seorang pria paruh baya tentang kesiapannya memeluk keyakinan yang sama dengan Ardan, keluarga yang bisa menjadi wali bagi dirinya, dan kesediaannya untuk tetap menikah dengan Ardan tanpa paksaan. Hingga secepat kilat ia tiba-tiba sudah memeluk keyakinan yang sama seperti Ardan, dia memang tak memeluk keyakinan apa pun sebelumnya sebab di tempatnya berasal ini tak lagi menjadi hal yang diprioritaskan. Meskipun sebenarnya ia sangat penasaran dan ingin mempelajari semua keyakinan yang ada di dunia.
Tak berselang lama Ardan keluar dari ruang kerjanya bersama pria paruh baya yang tadi sempat berbincang dengannya. Ardan mengenakan setelan jas yang tampak serasi dengan gaun yang membalut tubuh indahnya. Lalu menjamunya untuk makan malam, hanya berdua dengan suasana yang cukup romantis menurutnya. Elle sempat berpikir apakah kesepakatan di antara mereka sangat istimewa, tapi di mana letak keistimewaannya? Hanya dengan memikirkan satu lagi pertanyaan yang membingungkan sanggup membuat kepalanya kembali pening seketika. Pada akhirnya dia memilih menikmati apa yang Ardan tawarkan selama itu tak menyakiti raga lelahnya.
Jam tangan khusus milik Elle yang dia dapatkan dari salah satu sepupunya menampilkan sebuah sinyal rahasia. Wilayahnya berbeda, tetapi berada di satu negara yang sama seperti satu bulan lalu. Kali ini adalah kesempatan terakhirnya untuk melarikan diri agar bisa membawa kembali adiknya. Menurut informasi yang ia terima, adik tersayangnya yang malang masih berada di London maka dengan secepat kilat dia kembali ke kamarnya untuk mengaktifkan portal khusus miliknya, “Ini adalah kesempatan kami yang terakhir. Aku sudah mengumpulkan semua informasi yang kubutuhkan sampai bekas suntikan di tanganku membengkak dan memar. Tak apa, karena jalan kami untuk pulang sudah di depan mata,” gumam Elle, ia berulang kali menyugar rambut panjangnya karena gelisah dan karena itu pula ia jadi mulai berkeringat.
“Nona Lieben, apakah kau ada di dalam?” tanya seorang pelayan wanita di depan kamar Elle.
Ketukan dari luar kamarnya membuat jantung Elle berdetak semakin cepat, “Ayo, sedikit lagi. Tuhan, tolonglah,” bisik Elle merapalkan doa, berusaha tak menimbulkan suara yang bisa membuat curiga. Ia berulang kali mengibaskan tangannya yang bergetar saat harus memasukkan titik koordinat dengan cermat. Dia menggigiti bibir bawahnya, semakin gelisah saat menunggu tanda jika portal yang akan membawanya untuk mengubah hidupnya sekaligus menyelamatkan adiknya bisa segera digunakan. Tak boleh ada kesalahan apa pun kali ini, hanya tersisa satu kesempatan saja lalu mereka bisa pulang ke rumah paling aman dan nyaman di tengah keluarganya.
“Apa Nona Lieben sedang keluar mansion? Aku harus segera melaporkan ini pada pak Luke,” gumam pelayan wanita itu lalu bergegas pergi menuruni tangga setengah melingkar.
Saat mendapat laporan dari pelayan wanita yang ditugaskan Luke, Ardan memintanya segera menyiapkan mobil karena ia bermaksud memastikannya sendiri ke kamar Elle. Instingnya mengatakan ada yang mencurigakan di sini. Ardan membuka pintu kamar Elle, sunyi seperti tak ada tanda kehidupan sebelumnya. Ia bermaksud untuk menutup kembali pintu kamar Elle, tapi sepertinya pintu itu tersangkut sesuatu. Ada yang mengganjal dan menahan pintu yang masih setengah terbuka. Benar saja, gelang yang tak pernah terlepas dari tangan Elle semenjak pertama kali ia melihat foto gadis itu ternyata tersangkut di celah pintu. Dia mengambil gelang itu, lalu mengeluarkan ponsel keluaran terbarunya untuk menghubungi seseorang, “Apa sekarang sudah saatnya untuk kita beraksi?”
“Tentu saja, kemarilah secepatnya sebelum gadismu mencoba melarikan diri seperti gadis kami,” jawab sebuah suara di sisi lain sambungan telepon.
Ardan menyimpan kembali ponsel dalam saku celananya, memasukkan gelang milik Elle dalam dompet khusus di saku celana chinos hitamnya, lalu beranjak keluar dengan wajah yang tampak tak sabar untuk merasakan sensasi adrenalin yang mulai bekerja, “Luke!” panggil Ardan saat ia menuruni anak tangga dengan langkah cepat, “Kita ke L mansion sekarang. Bawa mobil secepat yang kau bisa!” titah Ardan setelah memasang sabuk pengaman tesla model 3 miliknya.
“Elle, Elle, Aubrey Mirele Leiben. Apa yang harus aku lakukan padamu, Kucing Manis? Kau terus saja menantangku untuk meminta sebuah hukuman rupanya? Baiklah, akan kupastikan kau mendapatkan hukuman yang teramat manis dan membuatmu tak akan pernah melupakannya.” Seringaian berbahaya tampak menghiasi wajah adonis dengan cambang tipis saat Ardan menatap jalanan kota Seattle yang tak pernah tertidur.
✧✧✧
Di mansion L.,
“Apa yang harus kupersiapkan?” tanya Ardan pada pria yang tampak seumuran dengannya.
“Siapkan saja kesabaranmu. Bukankah mereka berdua paling ahli memancing emosi kita?” jawab pria di depan Ardan.
“Apa kau tahu alasannya?”
“Oh, dia lari ke sana karena sinyal dari jam tangan yang tak pernah dia lepaskan.”
“Apa gadismu juga pergi ke sana? Bukankah mereka pergi untuk tujuan yang masih sama, melarikan diri?” ujar Ardan sambil berdecih kesal.
“Kaulah yang akan dia temui di sana, karena gadis kami masih ada di sini. Kami menangkapnya tepat waktu, lagi. Sepertinya sekarang sudah saatnya kita memberikan mereka sedikit hukuman sebelum mereka menjadi semakin nakal di luar sana. Jadi, kupikir kami akan membiarkan sinyal itu tetap menyala hanya untuk mengulur waktu sampai kita mempersiapkan semuanya dan kau tiba di sana untuk menangkapnya. Apa ada tempat khusus yang ingin kau tuju?”
“Wow, kau benar-benar akan mengirimnya langsung padaku? Aku tak perlu berburu hari ini?” tanya Ardan takjub.
“Tidakkah menurutmu kita sudah cukup sabar dengan memberikan mereka waktu untuk bermain-main? Well, Sepertinya aku juga membutuhkan gelang pelindung yang ada di dompetmu itu. Wah! Tak kusangka Sang Pencipta sebaik ini pada kita.”
Ardan terkejut, tapi seketika tersadar dengan siapa dia sedang berbicara sekarang. Ardan mengeluarkan gelang milik Elle dan mengulurkannya pada pria misterius di depannya, ‘Jadi, ini gelang pelindung?’ batin Ardan.
“Ya, gelang pelindung yang tadinya melindunginya, tapi sekarang akan kubuat gelang ini melindungimu juga.”
Pria misterius pemilik mansion L membawa gelang milik Elle lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak antik agar bisa menambahkan cairan beraneka warna yang tak Ardan pahami, “Apa kau tertarik untuk memilih kotakmu sendiri? Ada di etalase sebelah situ. Saranku pilihlah sesuai kata hatimu, Mr. Aryasatya.”
Ardan menuju tempat yang dimaksud, berdiri selama beberapa menit untuk mengamati kotak antik mana yang memikat mata dan hatinya. Sampai netra cokelat mudanya tertuju pada satu kotak yang tak biasa, ini seperti kotak miliknya saat ia kecil dulu. Hadiah istimewa dari kakek buyutnya yang didapat dengan ketulusan dan kesetiaan sebuah persahabatan. Begitulah cerita kakek buyutnya saat menyerahkan kotak yang terlihat indah kala itu, “Inilah kotak yang aku inginkan,” kata Ardan menunjuk kotak yang terletak di deretan tengah.
“Kalau begitu bawa kemari dan ambil gelang milik gadismu. Segera setelah kau membuka kotak yang ada di atas meja kerjaku, kau harus memasukkannya sendiri ke kotak yang ada di tanganmu, lalu di waktu yang tepat kau bisa memasangkannya lagi ke pergelangan tangan gadismu tanpa dia sadari. Hanya dari tanganmu dan langsung ke pergelangan tangannya, begitulah cara kerja pelindung ini. Aku percaya kau akan menemukan kesempatan dan cara yang tepat. Oh, pastinya istimewa juga,” jelas pemilik mansion L sambil berjalan ke arah pintu yang mengarah ke jajaran anak tangga berbahan kaca di dalam ruang kerjanya.
“Bukankah kau tadi mau mengirimku pergi ke tempat gadisku, bagaimana caranya aku bisa pergi ke sana? Aku bahkan belum memberitahumu tempat tujuanku,” protes Ardan yang merasa diacuhkan.
“Jangan lupa siapa aku. Kau tinggal memakai cincin yang sepasang dengan gelang gadismu di dalam kotak itu, lalu fokuskan pikiranmu ke tempat yang ingin kau tuju. Bagi orang awam kedua benda itu akan tampak biasa saja, tapi jelas tak begitu bagi orang yang tahu. Karena itu adalah hadiah pernikahan khusus dari kami, sebuah pelindung yang dibuat sepasang dan hanya ada satu sealam semesta. Selamat atas pernikahan kalian. Aku harus pergi karena gadis kami sudah bangun. Kusarankan untuk segera pergi juga karena gadismu pasti sedang kebingungan sendirian di sana. Oh satu hal lagi, mulai sekarang kau bisa memanggilku Yu Long seperti anggota kerabatku yang lain karena kita sudah menjadi saudara ipar, bukan begitu Kakak Ipar Ardan?”
Ardan terkekeh mendengar kalimat yang membuatnya semakin tak sabar untuk menemui gadisnya, “Baiklah, terima kasih untuk kado pernikahan istimewa ini Adik Ipar Yu Long dan sampaikan terima kasihku pada Adik Ipar Yu Wen. Oh, aku hampir lupa. Bisakah aku merepotkanmu sekali lagi? Tolong kirimkan Luke ke London karena aku pasti akan membutuhkan bantuannya di sana secepatnya. Sepertinya aku dan Kakak Iparmu akan langsung pergi berbulan madu,” pamit Ardan membuat tawa kedua pria penuh misteri ini membahana di ruang kerja mansion L.