Dia memandangi uap kopi di depannya lalu melihat keluar jendela. Tidak ada salju yang turun, tapi, cuaca tetap dingin. Kebanyakan orang pasti memilih berada di rumah. Claire tersenyum miring. Dia tidak punya rumah di negara ini.
“Apa kau menunggu lama? Aku baru selesai shooting iklan smartphone yang akan diluncurkan bulan depan.” Terang pria yang mengambil tempat duduk di depannya. Claire memutuskan untuk tidak peduli apa pun yang pria itu lakukan beberapa waktu lalu.
“Kau tidak datang bersama Aiden?” matanya menyapu seluruh kafe, berharap menemukan bocah laki-laki, puteranya di salah satu sisi kafe.
“Aku menitipkannya di penitipan anak sebentar.”
“Kenapa kau tidak mengajak Aiden? Aku merindukannya,” ucapan itu membuat Claire tersenyum remeh. Dia merindukan Aiden sekarang? Di mana dia saat Aiden sakit dan terus memanggilnya?
“Apa kau ingin memesan sesuatu? Atau aku bisa bicara sekarang?” pria itu tertegun. Cara bicara Claire terasa dingin.
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Aku merasa cukup, Jayden.” Claire menatap pria yang mengajaknya ke Seoul keras.
“Aku kembali ke New York bersama Aiden hari ini.”
“Apa yang kau bicarakan?!” Jayden sudah menyelesaikan masalahnya dengan mantan kekasihnya. Dia pikir setelah masalah dengan mantannya selesai dia bisa menghabiskan waktu bersama Aiden dan Claire. Sekarang wanita itu mengatakan akan kembali ke New York?
“Aku tidak bisa menerima apa yang kau lakukan pada Aiden,” Jayden melihat Claire bingung. Apa yang sudah dia lakukan pada Aiden? Wajah clueless Jayden membuat Claire merasa muak.
“Kau membuat Aiden mengejarmu di cuaca dingin saat dia sedang sakit!” mata Claire memanas mengingat apa yang Aiden alami.
“Apa... aku tidak pernah—“
“Hari itu, saat skandal dengan pacarmu menjadi konsumsi publik lagi,” suaranya rendah. Claire membenci dirinya karena dia masih terpengaruh oleh hubungan Jayden.
“Aku bisa terima kau menyimpan banyak hal dariku, Jayden, tapi, Aiden, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Apalagi dirimu.” Claire tersenyum miris.
“Bagaimana kau bisa melakukan itu pada anakmu?”
“Aku meninggalkan Aiden saat dia tidur,” suaranya pelan.
“Anak itu sangat merindukanmu, dia terus memanggilmu saat tidur. Apa kau pikir dia tidak akan bangun ketika merasakan kau pergi?” Jayden menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu Aiden mengejarnya. Saat itu yang dia pikirkan hanya memberi pelajaran pada Hyunjoo.
“Dia jatuh saat mengejar mobilmu. Sakit, kedinginan, dia bahkan tidak memakai alas kaki! Aiden memanggilmu, tapi kau tidak berhenti,”
“Claire, aku tidak tahu.” Balasnya lemah, merasa buruk hanya dengan mendengar ucapan ibu anaknya.
“Jika tahu apa yang akan kau lakukan?” seharusnya dia tidak menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya. Jayden pernah meninggalkan anak mereka cukup lama hanya untuk menyelesaikan masalah dengan pacarnya.
“Apa kau tidak merasa semakin Aiden besar semakin sedikit waktu yang kau habiskan dengannya?” Claire menggelengkan kepala. Dia juga punya andil atas apa yang dialami Aiden.
“Aku meninggalkan semuanya bukan untuk memberikan rasa sakit pada anakku,” jika Jayden meminta Claire ikut ke Seoul dengan alasan kebahagiaan anak mereka, Claire memilih ikut ke Seoul untuk memenangkan hati Jayden.
“Aku bodoh mengikutimu kemari. Semua orang yang menyayangiku mengingatkan kau bukan pria yang baik untukku, tapi, aku tidak mendengarkan mereka. Aku pikir jika aku ikut denganmu kau akan menyadari perasaanku padamu. Bukan hanya suka, Jayden, aku mencintaimu,” Claire mengatakan kata yang selama ini takut dia ungkapkan pada Jayden. Pria itu akan menghindar jika mendengar kata cinta.
“Mereka benar. Hanya sebentar aku hidup bahagia denganmu lalu semuanya hancur,” Jayden dan Claire tinggal bersama tanpa status, walaupun begitu Claire merasa cukup puas karena dia bisa bersama Jayden dan anaknya.
“Kau memiliki hubungan putus nyambung dengan seorang wanita dan itu membuka mataku,” Claire tertawa kecil meremehkan dirinya.
“Peranku hanya sebagai ibu dari anakmu,” suaranya terdengar sangat jelas di telinga Claire.
“Kau tidak akan bisa membalas perasaanku karena kau sudah mencintai wanita lain,” selanjutnya itu akan menjadi pengingat Claire untuk melupakan perasaannya pada Jayden.
“Aku berusaha menerimanya, Jayden. Dan sikapmu padaku sangat membantu. Kau membuatnya jelas aku tidak perlu tahu tentang kehidupan pribadimu. Hanya Aiden yang membuatku bertahan tinggal di rumah itu,” pada akhirnya Claire menyadari rumah mewah yang dibeli Jayden untuk tempat tinggalnya tidak lebih seperti tempat singgah bagi pria itu.
“Kau Ayah yang baik untuk Aiden,” Claire tersenyum.
“Sayang itu tidak lama karena kau juga meninggalkannya.”
“Aku tidak tahu, Claire. Aku bersumpah.”
“Apa gunanya bersumpah sekarang? Aiden tidak menanyakanmu lagi setelah hari itu.”
Deg!
Ucapan terakhir Claire membuat jantung Jayden nyeri.
“Dia sudah tahu Ayahnya tidak bisa menemaninya karena kerja. Aiden sudah terbiasa dengan alasan pekerjaan,” Claire menatap pria yang menghancurkan hatinya lama. Jayden berusaha keras untuk tidak menjadi seperti ayahnya, tapi, apa yang pria itu lakukan?
“Pada akhirnya kau sama seperti ayahmu,” Claire tahu dia menjadi rendah karena mengucapkan itu. Dia tidak peduli, Claire ingin Jayden merasa terluka walau alasannya berbeda dengan luka yang dia rasakan.
“Ayahmu jarang ada di rumah karena pekerjaan juga,” Jayden mengepalkan tangannya. Dia tidak sama dengan ayahnya. Kesalahan yang dia buat masih bisa diperbaiki.
“Itu tidak akan terjadi lagi. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Hyunjoo,” mata Claire melebar. Mereka putus, tapi, Claire tidak merasa senang mendengarnya. Tidak lama lagi Jayden pasti kembali pada wanita itu.
“Aku akan tinggal di rumah bersama kalian mulai sekarang,” Jayden mengambil tangan kanan Claire dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
“Pulang ke rumah. Aku mohon,” tatapan dan suaranya memelas. Claire melihat Jayden sendu. Dia selalu luluh jika Jayden melakukannya. Namun, tidak kali ini. Claire menarik tangannya dari genggaman Jayden.
“Tidak, Jayden. Seharusnya aku tetap kukuh pada pendirianku untuk merawat Aiden sendiri. Dia tidak perlu mengemis perhatianmu jika aku tetap tinggal di New York.”
“Aku akan memperbaiki kesalahanku,” Claire menggelengkan kepalanya.
“Bukan hanya untuk kebaikan Aiden, ini juga untuk kebaikanku,” Intuisi Jayden berkata dia tidak akan menyukai apa yang Claire katakan selanjutnya.
“Kau selalu bilang kalau kau tidak bisa menjalin hubungan serius. Faktanya kau bisa, Jayden. Kau hanya tidak bisa melakukannya denganku," Claire tersenyum sedih.
"Aku sadar apa pun yang kulakukan tidak akan bisa membuatmu mencintaiku. Aku hancur jika terus menunggumu membalas perasaanku. Aku harus pergi.”
“Claire—“
“Gagal dalam hubungan hal yang biasa, semua orang pernah mengalaminya. Mungkin kau belum menemukan orang yang tepat,” Claire melihat tangannya. Dia masih saja menghibur Jayden saat dirinya terluka.
“Jangan berpikir kau akan menjadi pria buruk hanya karena kegagalan orang tuamu, Jayden. Banyak orang yang memiliki hubungan—pernikahan yang harmonis di luar sana. Cari tahu apa yang membuat hubungan mereka bertahan. Kau harus mencoba berkali-kali sampai berhasil. Jangan menutup kesempatan untuk memulai hubungan,” Claire bangkit dari duduknya.
“Selamat tinggal, Jayden.”
Dering ponsel memecah keheningan di ruangan itu. Pemiliknya belum terusik, dia nyenyak tidur. Suara ponselnya berhenti, tapi, tak lama kemudian kembali berdering. Si pemilik mengerang. Dia meraba tempat tidur sampai tangannya menyentuh benda itu.
“Halo,” jawabnya serak. Tenggorokannya terasa kering.
“Claire, kamu di mana, Nak?” tanya ibunya. Setelah makan malam merayakan kelulusan dengan keluarganya, Claire pergi bersama teman-temannya dan dia tidak pulang ke rumah. Claire bangun lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
“Aku di rumah teman, Ma.” Jawab Claire berbohong. Dia di kamar hotel. Ayahnya pasti marah jika dia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
“Kamu pulang ke rumah hari ini, ‘kan?”
“Iya, Ma. Nanti sore,” Claire melihat jam yang tertera di ponselnya. Jam sepuluh pagi. Dia melihat ke arah jendela kamar dan tidak bisa melihat apa pun karena jendela tertutup tirai berwarna gelap.
“Apa kamu ada kegiatan dengan temanmu? Mama ingin mengajakmu belanja.”
“Aku akan belanja dengan Evelyn nanti.”
“Baiklah. Pastikan kamu membeli dress yang cantik, Sayang.”
“Siap, Nyonya Park,” canda Claire, menyebut marga ibunya sebelum menikah dengan ayahnya.
“Sampai nanti, Ma.”
“Bye, Sayang.” Claire meletakkan ponselnya dan bangkit dari tempat tidur. Dia langsung menuju kamar mandi. Claire meringis begitu melihat pantulan dirinya di cermin. Eye make-up yang luntur membuatnya terlihat mengerikan. Dia segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Claire duduk di tempat tidur, mengambil ponselnya lalu memesan pakaian secara online. Dia juga memesan makanan dari kamarnya. Ponselnya berdering saat wanita itu hendak beranjak dari tempat tidur. Panggilan dari temannya, Evelyn.
“Hai, Eve!”
“Kau sudah sadar.”
“Aku tidak semabuk itu,” protes Claire.
“Terima kasih sudah mengantarku semalam,” jika saja Evelyn tidak tinggal bersama tunangannya, dia pasti menginap di apartemen temannya.
“Kau sudah mengatakan itu,” Claire berjalan menuju jendela, menyibak tirai dan melihat kesibukan kota New York.
“Jam berapa kau kemari?”
“Setelah aku sarapan dan pakaianku datang.”
“Baiklah. Sampai jumpa.” Saat itu bel kamarnya berbunyi. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya kecil.
“Room service, Miss.” Ucap waiter restoran hotel tempat dia menginap. Dia membuka pintu kamar lebih lebar, memberi ruang untuk waiter mendorong trolley ke dalam kamar lalu pergi ke ruang tidur untuk mengambil beberapa lembar uang.
“Ini untukmu,” Claire melihat name tag waiter yang sudah selesai meletakkan sarapan yang dia pesan ke meja.
“Robert.” Si waiter menerima tip dari Claire dan tersenyum.
“Thank you and have a nice day, Miss.”
“Kamu juga. Tolong tutup pintunya, Robert.”
“Baik, Miss Wilson.” Claire duduk di kursi makan dan menyantap American Breakfast yang ada di depannya. Sambil sarapan, Claire memikirkan apa yang dia lakukan selanjutnya. Dia akan melamar kerja di perusahaan tempat dia magang. Bel kamarnya menghentikan pikiran Claire. Wanita itu membuka pintu dan mendapati bellboy memegang paper bag dengan nama butik langganannya.
“Selamat pagi, Miss. Ini pesanan untuk Miss Claire Wilson,” Claire menerimanya. Dia juga memberi tip pada bellboy. Memberi tip saat berada di hotel adalah keharusan untuk Claire. Itu memberi kesenangan dan membuat pegawai hotel semangat melakukan pekerjaannya.
“Terima kasih sudah mengantar pesanan saya.” Bellboy itu tersenyum.
“Terima kasih kembali, Miss Wilson. Semoga hari anda menyenangkan.” Claire mengangguk lalu menutup pintu kamar hotel. Dia kembali ke meja makan dan menyelesaikan sarapannya.
Claire mengeluarkan pakaian dari paper bag, melepas price tag pakaian yang dia pesan lalu memakainya. Dia mengambil tas yang berada di nakas, dan pergi ke kamar mandi. Di sana dia menyisir rambut dan memakai lipstik. Setelah puas melihat dirinya di cermin, Claire memungut dress yang dia tinggalkan di lantai kamar mandi. Memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Claire keluar dari kamar dan berjalan menuju lift. Dia menekan panel tombol bawah dan menunggu. Tak lama lift berhenti di lantainya.
Pintu terbuka, hanya ada satu orang di dalamnya. Claire dan orang itu yang terlihat berdarah Asia sama-sama bergerak. Claire ke dalam dan orang itu keluar lift. Dia berbalik menghadap pintu dan mendapati orang itu melakukan hal sama. Pria itu menatap Claire. Senyumannya adalah hal terakhir yang dia lihat sebelum pintu lift tertutup. Claire menautkan alisnya. Apa tadi itu senyuman? Kenapa Claire merasa yang dia lihat adalah seringai? Apa ada yang salah dengan penampilannya? Claire mengecek dirinya yang terpantul di pintu lift, dia juga memutar tubuhnya untuk melihat bagian belakang. Tidak ada yang salah dengan penampilannya. Claire mengedikkan bahunya. Huh. Dasar aneh.
***
Claire kembali ke rumahnya pukul enam sore dengan empat paper bag di tangannya. Ibunya sudah menyambut begitu dia membuka pintu rumah.
“Akhirnya kamu pulang, Nak!” Nyonya Wilson langsung mengambil paper bag yang dipegang Claire dan melihat isi masing-masing.
“Cepat siap-siap,” Nyonya Wilson merasa puas dengan pilihan puterinya.
“Saran Mama pakai dress yang berwarna peach.”
“Kenapa?” Claire bertanya bingung.
“Apa kita akan menghadiri acara?” Ibunya menarik Claire menuju tangga.
“Sebentar lagi Ayah dan Kakakmu pulang. Dia mengundang rekan bisnisnya makan malam di rumah,” alis Claire bertaut. Seumur hidup, belum pernah ayahnya mengundang rekan bisnisnya makan malam di rumah. Jika ada makan malam bisnis, itu selalu dilakukan di restoran. Dan yang paling penting, dia tidak pernah ikut dengan ayahnya.
“Berdandan yang cantik, Sayang. Mama akan memanggilmu jika Ayah sudah sampai,” ujar Nyonya Wilson setelah mereka sampai di kamar Claire.
“Apa aku harus ikut? Aku ingin istirahat sebentar. Lagipula, aku masih kenyang, Ma.”
“Ini pertemuan yang penting.” Nyonya Wilson tersenyum kecil lalu pergi. Claire membuka pintu kamarnya sambil berpikir. Sepenting apa pertemuan itu? Apa ayahnya ingin membuat Claire bergabung di perusahaan keluarga mereka dengan cara melibatkannya dalam makan malam bisnis? Claire menggelengkan kepalanya. Dia sudah mengatakan berulang kali kalau dia tidak mau bekerja di perusahaan ayahnya, tidak dalam waktu dekat ini. Alasan Claire klise. Dia tidak mau mendapatkan jabatan karena dia anggota keluarga pemilik perusahaan itu. Dia ingin memperbanyak pengalamannya dengan bekerja di perusahaan lain.
Claire meletakkan paper bag-nya di meja lalu duduk di sofa. Dia mengambil ponselnya dari tas dan menelepon ayahnya.
“Halo, Princess,” Ayahnya menjawab dengan panggilan sayangnya untuk Claire sejak kecil.
“Aku tidak mau ikut makan malam bisnis,” balas Claire langsung pada intinya.
“Makan malam bisnis?” Ya ampun. Kenapa ayahnya harus pura-pura tidak tahu?
“Ayah mengundang rekan bisnis Ayah makan malam di rumah. Aku tidak mau ikut. Ini pasti cara Ayah agar aku bekerja di perusahaan.” James Wilson terkekeh.
“Wah, pikiranmu buruk sekali terhadap Ayah,”
“Bagaimana tidak? Ayah sendiri yang mengajarkan jika penampilan merupakan salah satu faktor penting untuk membuat rekan bisnis terkesan. Mama menyuruhku berdandan cantik malam ini,” ujar Claire sambil melepas sepatu haknya.
“Kamu lakukan itu, Nak. Tapi, Ayah janji, ini bukan rencana Ayah untuk mempekerjakan dirimu di perusahaan. Ayah hanya ingin kamu hadir,” Claire bernapas lega. Dia tidak mau berdebat karena topik yang sama dengan ayahnya.
“Baiklah. Sampai jumpa, Ayah.”
“Sampai jumpa, Princess.” Claire meletakkan ponselnya di meja lalu beranjak dari sofa. Dia harus siap-siap. Walaupun dia tidak menyukainya, dia akan berdandan untuk mengesankan siapa pun itu tamu ayahnya.
Claire mendengar suara dari ruang tamu saat dia menuruni tangga. Dia tidak mau menunggu panggilan ibunya karena dia sudah selesai. Semakin cepat makan malam ini dimulai, semakin cepat acara itu berakhir. Claire memasang senyum di wajahnya dan memasuki ruang tamu. Semua orang menoleh ke arahnya. Claire berhenti, senyumnya memudar. Tamu yang ada di ruang tamu mereka tidak seperti yang dia bayangkan.
“Mama baru akan memanggilmu, Nak,” Nyonya Wilson bangkit dan mengarahkan Claire untuk berdiri di hadapan tamu mereka. Claire melihat ke arah ayah dan kakaknya sebentar—keduanya tersenyum padanya—lalu menatap tamu yang ada di hadapannya. Dua orang yang terlihat berusia di akhir umur lima puluhan dan satu orang yang terlihat di akhir umur dua puluhan.
“Kenalkan, Nak,” ayahnya berdiri.
“Ini rekan bisnis Ayah. Edward Collins dan istrinya Mitchell Collins.” Mereka dan pria yang Claire pikir pasti anak mereka berdiri. Edward menjabat tangan Claire dengan tersenyum.
“Kau memiliki putri yang cantik, Irene,” ucap Nyonya Collins sambil tersenyum dan menjabat tangan. Claire juga menjabat tangan Mitchell dan tersenyum tipis walaupun perasaannya tidak enak.
“Dan ini putra mereka Andrew Collins,” Andrew mengulurkan tangannya, tapi, Claire tidak menjabat tangan pria itu. Pikirannya berkecamuk. Dia tidak mau berpikiran buruk, tapi, tidak bisa mencegahnya. Ini bukan tentang makan malam bisnis. Dia berpikir ayahnya ingin menjodohkan dirinya dengan Andrew. Pertemuan ini untuk mengenalkannya dengan Andrew.
“Andrew Collins.” Claire baru menjabat tangan pria itu saat ibunya menyentuh tubuh bagian belakangnya.
“Claire Wilson.” Balas Claire. Wajah Andrew tidak asing. Pria itu pernah menjadi cover beberapa majalah bisnis karena prestasinya dalam memberikan penghasilan yang besar pada perusahaannya. Collins Corp adalah salah satu perusahaan terbesar di Amerika, dan semenjak Andrew menjadi Direktur perusahaan itu, perusahaannya semakin terkenal.
“Puteriku lulus sebagai mahasiswa terbaik di fakultasnya.” Ucap Tuan Wilson bangga.
“Selamat, Claire. Kamu sudah siap bergabung dengan Ayah dan Kakakmu?” Claire hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Tuan Collins. Saat itu kepala asisten rumah tangga mereka menghampiri Nyonya Clinton, berbisik pada Nyonya rumahnya lalu mengundurkan diri.
“Sebaiknya kita melanjutkan pembicaraan ini setelah makan malam.” Semua orang setuju dan ibu Claire mengarahkan tamu mereka menuju ruang makan. Claire menarik kakaknya berjalan bersama di belakang.
“Apa kau tahu tujuan pertemuan ini?” bisik Claire pada Christian.
“Bisnis.” Jawab Christian singkat lalu meninggalkan adiknya di belakang sendiri. Claire membuang napasnya kasar. Perasaan buruknya tidak hilang.
Semua sudah mengambil tempat duduk, menyisakan kursi kosong yang berhadapan dengan Andrew. Claire menempatinya. Pandangannya langsung bertabrakan dengan Andrew begitu dia melihat ke depan. Pria itu tersenyum padanya. Claire mengalihkan pandangan ke steak yang ada di hadapannya. Dia ingin pertemuan ini segera berakhir. Dia hanya fokus menyantap steak-nya sampai semua orang selesai makan dan asisten rumah tangga membersihkan piring dari meja makan.
“Edward adalah orang yang sudah lama menjadi rekan bisnis Ayah, Claire,” Claire mengalihkan pandangannya dari wine yang dia pegang begitu namanya disebut. Dia melihat ayahnya yang duduk di kursi utama meja makan.
“Kami ingin melanjutkan hubungan ini lebih lanjut dengan menjadi keluarga,” para orang tua yang ada di ruangan itu terlihat senang dan menatapnya sambil tersenyum. Claire melihat ayah, ibu, dan terakhir pada kakaknya. Dia menatap Christian lama. Tidak mungkin Christian tidak tahu rencana ayahnya. Ibunya juga keterlaluan. Beliau tidak mengatakan apa pun. Claire merasa dikhianati. Dia ingin keluar dari sana, tapi, sopan santun menahan dirinya.
“Kami bermaksud menjodohkan kalian,”
“Tentu saja kalian mempunyai waktu untuk saling mengenal,” Tuan Collins menyambung ucapan ayahnya.
“Apa aku bisa bicara dengan Andrew sebentar?” Claire menatap Tuan Wilson keras. Dia marah dan kecewa karena beliau tidak memberitahunya.
“Tentu, Claire. Kami akan mengatur semuanya. Kalian bisa saling mengenal dari sekarang.” Tuan Collins yang menjawab pertanyaannya. Claire berdiri. Dia berjalan meninggalkan ruang makan. Mereka tidak menanyakan pendapatnya tentang perjodohan ini dan langsung berasumsi dia menerimanya. Claire berhenti karena merasa Andrew tidak mengikutinya. Wanita itu mendesah berat. Baru dia akan kembali ke ruang makan, Andrew muncul di hadapannya. Claire berusaha menahan diri agar rasa kesal yang dia rasakan tidak terlihat di wajahnya. Wanita itu melanjutkan langkahnya membawa Andrew menuju taman.
“Kau setuju dengan perjodohan ini?” tanya Claire begitu mereka sampai di taman.
“Aku tidak punya alasan untuk menolak,” Claire mengumpat dalam hati. Hanya dia yang tidak tahu tentang rencana besar kedua keluarga. Sepertinya perjodohan mereka sudah lama direncanakan.
“Aku tidak tahu tujuan pertemuan ini sebelumnya,”
“Kau sudah tahu sekarang,” wanita itu tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi. Apa-apaan jawaban pria itu? Dia seperti tidak memiliki emosi.
“Aku menolak perjodohan ini. Aku akan memberitahu orangtuaku.” Niat Claire untuk kembali ke dalam rumah terhenti karena ucapan Andrew.
“Kenapa? Perjodohan ini membawa keuntungan untuk kedua keluarga,” Claire menatap Andrew lama. Wajahnya yang tampan, manik matanya yang berwarna hijau, dan rambut blonde-nya tidak bisa meredakan kekesalan Claire.
“Kau akan menikah hanya untuk keuntungan keluarga?” Andrew menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu lebih baik kau cari wanita lain karena aku tidak mau melakukannya,” balasan tegas Claire tidak membuat Andrew mundur.
“Kenapa? Apa lagi yang dibutuhkan wanita sepertimu? Semua wanita pasti iri padamu jika kita menikah,” Andrew tidak dirugikan dengan perjodohan ini. Perusahaannya akan semakin besar dan dia memiliki istri yang cantik. Claire terlihat sempurna di sampingnya. Keberadaannya akan bagus untuk menghadiri pesta bisnis.
“Aku tidak mencintaimu. Aku tidak bisa menikah tanpa cinta,”
“Kau ingin cinta?” Andrew terkekeh. Dia tidak menduga wanita seperti Claire peduli dengan cinta. Cinta tidak diperlukan dalam pernikahan, itu tidak bisa melengkapi kebutuhan wanita dengan status sosial seperti Claire. Walaupun begitu, Andrew akan menghiburnya.
“Aku bisa memberimu cinta,” Andrew melihat Claire dari kepala sampai kaki dan dia sangat puas dengan apa yang dia lihat. Jika bukan karena etika, dia akan mengajak Claire ke penthouse-nya sekarang.
“Akan sangat mudah untuk memberimu cinta,” Claire mengepalkan tangannya. Dia menahan diri untuk tidak mengumpat di depan pria itu. Claire tidak menyangka ayahnya menjodohkan dia dengan laki-laki tidak berperasaan ini.
“Menurutmu, pernikahan itu apa?”
“Bisnis,” Andrew tidak perlu berpikir untuk menjawab Claire.
“Pernikahan bukan hanya tentang dua orang, Claire. Kau juga harus memikirkan apa yang terbaik untuk keluargamu. Apa gunanya menikah jika merugikan keluargamu? Kau tidak akan bahagia,” Claire menggelengkan kepalanya. Pandangan mereka sangat berbeda.
“Aku akan sangat menderita jika menikah denganmu. Lebih baik kau mencari wanita yang sepemikiran denganmu. Dengan begitu kau bisa menjalani pernikahanmu seperti kau menjalankan bisnismu.” Claire masuk ke dalam rumah. Tidak peduli Andrew mengikutinya atau tidak. Pria itu akan memperlakukannya seperti boneka jika mereka menikah. Memikirkannya saja sudah membuat Claire ngeri. Cara pria itu melihatnya juga membuat Claire muak. Dasar laki-laki. Hanya berpikir dengan alat kelaminnya.
Andrew hanya bisa melihat kepergian Claire. Ini pertama kalinya dia ditolak. Dia bahkan belum mengutarakan kemewahan apa saja yang bisa dia berikan pada Claire. Wanita lain pasti akan langsung melemparkan diri padanya, tapi, Claire bahkan terlihat tidak tertarik pada Andrew.
“Ini menyenangkan,” Andrew semakin ingin perjodohan ini terjadi. Dia ingin menunjukkan pada Claire bahwa dia bisa memberikan wanita itu cinta yang sangat dia inginkan. Cinta hanya bonus dalam pernikahan untuk orang-orang seperti mereka. Namun, untuk Claire, Andrew akan membuat cinta sebagai kewajiban yang harus dia berikan pada Claire. Andrew melangkahkan kakinya menuju rumah. Penolakan Claire membuatnya merasa tertantang. Dia tidak pernah gagal sebelumnya, dia juga tidak akan gagal mendapatkan Claire.
“I’m coming for you, Sweetheart.”