Hujan deras mengguyur kota Jakarta sore itu, membasahi jalanan yang dipenuhi kendaraan. Gedung-gedung pencakar langit tampak buram oleh kabut dan rintik hujan, namun di salah satu lantai tertinggi, seorang pria berdiri menghadap jendela kaca besar. Dimas Pratama, CEO PT Pratama Jaya, adalah sosok yang mendominasi ruangannya dengan kehadiran dingin dan penuh wibawa.
Jas hitam yang ia kenakan terjahit rapi, menggambarkan sosok pria mapan yang telah lama terbiasa dengan dunia bisnis yang keras. Sorot matanya yang tajam mengamati keramaian kota tanpa benar-benar melihat, seolah pikirannya melayang jauh dari hiruk-pikuk dunia di bawah sana.
Hari itu seperti hari-hari lainnya bagi Dimas. Ia mengawali pagi dengan rapat bersama para eksekutif, diikuti panggilan dari klien besar, lalu menandatangani kontrak miliaran rupiah. Jadwalnya padat, tanpa jeda untuk memikirkan hal-hal yang bukan urusan pekerjaan. Sebagai salah satu pengusaha muda paling sukses di negeri ini, Dimas sudah terbiasa mengorbankan segalanya untuk ambisi dan tanggung jawabnya. Namun, di balik gemilangnya kesuksesan, hidup Dimas hanyalah rutinitas yang kaku dan sunyi.
Saat itu, pintu ruangannya diketuk, membuyarkan lamunannya. Terdengar suara berat sekretaris pribadinya, Pak Arman.
"Pak Dimas, rapat dengan tim pemasaran akan dimulai dalam lima menit."
"Baik, saya segera ke sana," jawab Dimas singkat tanpa menoleh.
Langkah Dimas mantap keluar dari ruangan, melewati koridor yang dirancang dengan interior modern. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat, namun tatapan mereka penuh dengan rasa segan. Dimas bukan tipe atasan yang hangat atau murah senyum. Semua orang tahu, Dimas Pratama hanya peduli pada nasi kerja keras mereka.
Di dalam ruang rapat, tim pemasaran telah menunggu.
"Selamat datang, pak Dimas."
"Terimakasih," sahut Dimas dan langsung duduk di kursinya.
Rapat dimulai dengan presentasi strategi baru untuk kampanye produk terbaru perusahaan. Dimas mendengarkan dengan serius, namun kritik pedas keluar tanpa ragu ketika ia merasa ada hal yang tidak sesuai.
"Kita tidak bisa menggunakan pendekatan klise seperti ini. Pasar sudah jenuh. Berikan sesuatu yang segar, yang berbeda, atau kita akan kalah dari pesaing," ujarnya tegas.
Semua orang menegang mendengar kritikan pedas yang terlontar dari bibir Dimas.
Rapat berakhir dengan suasana tegang, seperti biasa. Namun bagi Dimas, itu hanyalah bagian dari pekerjaannya. Ia telah membangun perusahaannya dari nol setelah melepaskan diri dari bayang-bayang ayahnya yang dulu juga seorang pengusaha besar. Baginya, kesuksesan adalah segalanya, tanpa kompromi.
Namun, di balik semua pencapaiannya, ada kekosongan yang tak bisa ia isi.
****
Sore itu, setelah jam kerja telah berakhir, Dimas tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih duduk di sudut ruangannya yang sunyi, memandangi foto seorang anak laki-laki berusia delapan tahun di atas meja kerjanya. Arya. Satu-satunya anaknya, sekaligus satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya.
Hubungannya dengan Arya, sayangnya, jauh dari kata dekat. Setelah bercerai dari Melisa tiga tahun lalu, Dimas merasa dirinya semakin terpisah dari putrinya itu. Bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan kasih sayang. Waktu yang ia habiskan bersama Arya sering terasa canggung, seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka.
Ponselnya berbunyi, memunculkan nama Bu Wina, pengasuh Arya.
"Pak Dimas, Arya tadi tidak mau makan siang lagi," lapor Bu Wina, pengasuh Arya dengan nada khawatir.
Dimas menarik napas panjang. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar kabar seperti itu.
"Coba bujuk dia. Kalau dia tetap tidak mau makan, biarkan saja. Nanti saya pulang," jawabnya singkat sebelum menutup telepon.
Hati kecilnya terasa berat setiap kali menerima kabar tentang Arya, tetapi ia tak tahu harus berbuat apa. Hidupnya sudah terlalu rumit untuk ditambah dengan masalah emosional yang tak ia pahami.
****
Malam itu, Dimas pulang ke rumah yang megah di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah itu luas, dengan taman yang indah dan kolam renang di belakang, tetapi selalu terasa kosong. Arya sedang duduk di ruang keluarga dengan tablet di tangannya, tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Sudah makan?" tanya Dimas ketika ia melepas jasnya.
Arya hanya menggeleng tanpa menoleh pada ayahnya.
Dimas menghela napas. Ia mencoba mendekat dan duduk di sebelah putranya. "Kenapa tidak mau Ma kan, Arya? Nanti kamu sakit."
Arya tetap diam, matanya terpaku pada layar.
Dimas ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. Akhirnya, ia hanya mengusap kepala Arya dengan kaku sebelum berdiri. Ia tahu bahwa kehadirannya saja tidak cukup untuk mengisi kekosongan yang dirasakan putranya.
Dimas melangkah pergi menuju ke kamarnya.
Di dalm kamarnya, Dimas duduk di depan meja kerja kecil, memandangi foto lama keluarganya. Foto itu diambil saat Arya baru berusia lima tahun, sebelum rumah tangganya dengan Melisa berantakan. Saat itu, mereka tampak seperti keluarga bahagia. Namun, di balik senyuman di foto tersebut, ada retakan yang perlahan menghancurkan segalanya.
Perceraian dengan Melisa bukan keputusan yang mudah. Melisa adalah wanita yang ambisius, sama seperti Dimas, tetapi ambisinya sering kali berbenturan dengan prinsip mereka. Ketika konflik semakin memanas, Dimas memilih berpisah, meskipun itu berarti melukai hati Arya. Hingga kini, rasa bersalah itu terus menghantuinya, meskipun ia tak pernah mengakuinya pada siapa pun.
****
Keesokan harinya, Dimas kembali larut dalam pekerjaannya. Agenda hari itu penuh dengan pertemuan penting, termasuk wawancara untuk mencari sekretaris baru. Pak Arman yang selama ini menjadi tangan kanan Dimas telah meminta pensiun dini, dan Dimas membutuhkan seseorang yang dapat diandalkan untuk menggantikan posisinya.
Sesi wawancara dimulai dengan belasan kandidat, tetapi tidak ada yang benar-benar menarik perhatian Dimas. Hingga akhirnya, seorang wanita muda masuk ke ruang wawancara. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan blazer hitam, rambutnya diikat rapi. Senyum ramahnya langsung mencuri perhatian tim wawancara, meski Dimas tetap bersikap netral.
"Perkenalkan, nama saya Sinta Rahayu. Saya lulusan administrasi bisnis dan memiliki pengalaman sebagai sekretaris di perusahaan sebelumnya," ujar wanita itu dengan nada percaya diri namun sopan.
Dimas mengamati Sinta dengan mata tajamnya. Ia mengajukan beberapa pertanyaan sulit, mencoba menguji kemampuan Sinta di bawah tekanan. Namun, jawaban Sinta selalu lugas dan tepat, menunjukkan bahwa ia tidak hanya cakap, tetapi juga tangguh.
Setelah wawancara selesai, tim merekomendasikan Sinta sebagai kandidat terbaik. Meskipun Dimas tidak menunjukkan antusiasme, ia setuju untuk memberinya kesempatan. Baginya, profesionalisme adalah segalanya.
"Selamat, mulai besok Anda resmi menjadi bagian dari tim saya," ucap Dimas tanpa ekspresi.
"Terima kasih, Pak. Saya akan bekerja sebaik mungkin," jawab Sinta dengan senyum tulus.
Dimas hanya mengangguk sebelum meninggalkan Ruangan tersebut, kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak menyadari bahwa kehadiran Sinta akan membawa perubahan besar dalam hidupnya dan Arya.
****
Malam itu, hujan kembali mengguyur kita Jakarta. Dimas berdiri di balkon rumahnya, memandangi taman yang gelap. Ia merenungkan kehidupannya yang terasa hampa meski ia memiliki segalanya.
Di dalam rumah, Arya tertidur di kamarnya, memeluk boneka lama yang sudah lusuh. Dimas tahu bahwa ia harus menemukan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan putranya, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Hidup Dimas adalah seperti hujan di luar sana, dingin, deras, tetapi selalu mengalir tanpa henti. Ia hanya berharap suatu hari nanti, badai itu akan reda, dan ia bisa merasakan hangatnya sinar matahari sekali lagi.
Dimas terbangun lebih awal dari biasanya. Jam di dinding menunjukkan pukul lima pagi, tetapi matanya sudah terbuka sejak beberapa menit yang lalu. Ia duduk di ranjang, memandang dinding kosong di depannya. Pikiran tentang masa lalu selalu datang tanpa diundang, terutama di saat-saat seperti ini, di antara lelap dan kesadaran.
Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, Dimas merasa berat untuk memulai hari. Bukan karena ia malas, tetapi karena ada beban yang selalu ia bawa dalam pikirannya. Beban itu bernama Melisa, wanita yang pernah ia cintai dan kini menjadi bayangan yang sulit ia hapus.
Flash back.
Melisa, Awal yang Indah, Akhir yang Pahit
Dimas pertama kali bertemu dengan Melisa di sebuah seminar bisnis sepuluh tahun lalu. Saat itu, Dimas baru memulai perusahaannya, sementara Melisa sudah dikenal sebagai salah satu pengusaha muda yang berbakat. Keduanya memiliki ambisi yang sama besar, dan percakapan pertama mereka berlangsung panjang, penuh semangat.
Melisa adalah tipe wanita yang memukau dengan kepercayaan dirinya. Rambut panjangnya selalu tersisir rapi, dan senyumnya memancarkan energi yang sulit diabaikan. Dimas tertarik sejak awal, tidak hanya pada kecantikannya, tetapi juga pada kecerdasannya.
Hubungan mereka berkembang dengan cepat. Dalam beberapa bulan, mereka menjadi pasangan yang dikenal sebagai "power couple" di dunia bisnis. Saat mereka menikah, semua orang menganggap mereka adalah pasangan sempurna, selain tampan dan cantik, mereka kaya, sukses, dan serasi.
Namun, di balik semua pujian itu, ada sesuatu yang mulai retak.
Melisa adalah wanita yang ambisius, bahkan mungkin lebih ambisius daripada Dimas. Ia tidak pernah puas dengan apa yang telah ia miliki, selalu ingin lebih. Awalnya, Dimas mengagumi semangat itu, tetapi seiring waktu, ambisi Melisa berubah menjadi obsesi.
Setelah Arya lahir, kehidupan rumah tangga mereka semakin sulit. Melisa merasa kariernya terhambat karena perannya sebagai ibu, sementara Dimas merasa bahwa Melisa tidak cukup memberikan perhatian pada keluarga mereka. Mereka sering bertengkar, dan Arya yang masih kecil menjadi saksi bisu dari semua itu.
"Dimas, aku tidak bisa terus seperti ini!" bentak Melisa suatu malam ketika Arya sudah tidur.
"Seperti apa? Apa yang kurang darimu, Melisa? Kita punya segalanya!" balas Dimas dengan nada frustrasi.
"Kau tidak mengerti. Aku merasa terkurung di rumah ini. Aku ingin melanjutkan karierku, bukan hanya menjadi istri dan ibu."
"Lalu bagaimana dengan Arya? Dia membutuhkanmu, Melisa."
"Kita bisa mencari baby sitter terbaik untuk Arya."
"Itu bukan solusi yang bagus untuk pertumbuhan Arya. Akan lebih baik jika Arya di asuh sendiri oleh ibunya, karena Arya masih kecil." Dimas tidak suka dengan ide Melisa.
Percakapan itu selalu berakhir sama, tanpa solusi. Melisa akhirnya kembali bekerja, tetapi kehadirannya di rumah semakin berkurang. Dimas mencoba mengambil peran lebih besar dalam membesarkan Arya, tetapi ia sendiri terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Lambat laun, hubungan mereka semakin renggang.
Perceraian yang menghancurkan.
Tiga tahun lalu, Dimas dan Melisa memutuskan untuk bercerai. Keputusan itu bukan sesuatu yang diambil dengan mudah, tetapi setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik, mereka merasa tidak ada jalan lain.
Arya, yang saat itu baru berusia lima tahun, tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Ia hanya tahu bahwa ibunya pergi dari rumah dan tidak pernah kembali untuk tinggal bersama mereka. Dimas mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana, tetapi ia tahu bahwa Arya tidak benar-benar mengerti.
"Papa dan Mama sudah tidak tinggal bersama lagi, Arya. Tapi Papa dan Mama tetap sayang sama kamu," ujar Dimas pada Malam itu.
Arya hanya mengangguk, tetapi matanya basah. Ia memeluk boneka beruang yang diberikan Melisa saat ulang tahunnya, dan itu membuat hati Dimas hancur.
Proses perceraian itu sendiri penuh dengan drama. Melisa menuntut hak asuh atas Arya, tetapi setelah pertempuran panjang di pengadilan, Dimas berhasil mempertahankan hak asuh tersebut. Melisa akhirnya menyerah, meski ia tetap diberikan hak untuk mengunjungi Arya kapan saja.
Namun, setelah perceraian selesai, Melisa lebih sibuk dengan kehidupannya sendiri. Ia jarang mengunjungi Arya, dan itu membuat anak laki-laki kecil itu semakin merasa ditinggalkan.
Perceraian itu tidak hanya menghancurkan Arya, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada Dimas. Meskipun ia tidak pernah menunjukkan emosinya kepada orang lain, di dalam hatinya, ia merasa gagal sebagai suami dan ayah.
Sejak saat itu, Dimas menutup dirinya. Ia membangun dinding tebal di sekeliling hatinya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pekerjaan untuk menghindari rasa sakit. Hubungannya dengan Arya menjadi semakin canggung, dan meskipun ia berusaha menjadi ayah yang baik, ia tahu bahwa ia sering gagal.
Arya tumbuh menjadi anak yang pendiam. Ia jarang berbicara, bahkan kepada Dimas. Ketika mereka berada di rumah bersama, suasananya sering sunyi. Arya lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain game atau menonton kartun, sementara Dimas sibuk dengan laptopnya.
Dimas ingin lebih dekat dengan Arya, tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Setiap kali ia mencoba mengajak Arya berbicara, anak itu hanya menjawab dengan anggukan atau kata-kata pendek.
***
Malam itu, setelah hari yang panjang di kantor, Dimas pulang ke rumah. Ia menemukan Arya duduk di ruang keluarga, menonton kartun dengan volume kecil.
"Sudah makan?" tanya Dimas seperti biasa.
Arya mengangguk tanpa menoleh.
Dimas berjalan ke dapur, membuka kulkas, dan mengeluarkan sebotol air mineral. Ia meminumnya perlahan, memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka. Setelah beberapa saat, ia kembali ke ruang keluarga dan duduk di sofa sebelah Arya.
"Kamu suka kartun ini?" tanyanya mencoba memulai percakapan.
Arya mengangguk lagi.
Dimas terdiam, merasa frustasi. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan selanjutnya. Setelah beberapa menit, ia akhirnya berdiri dan pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar, ia membuka laptop dan mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, tetapi pikirannya tetap kembali pada Arya. Ia merasa seperti seorang asing dalam kehidupan anaknya sendiri.
Dimas tidak pernah berbicara dengan Melisa setelah perceraian mereka. Sesekali Melisa mengirim pesan tentang Arya, tetapi komunikasi mereka terbatas pada hal-hal formal. Dimas tahu bahwa Melisa telah melanjutkan hidupnya, mungkin dengan seseorang yang baru.
Namun, meskipun Melisa sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidupnya, bayangannya tetap ada. Setiap kali ia melihat Arya, ia melihat wajah Melisa, senyum yang sama, mata yang sama. Itu membuatnya merasa bersalah, seolah-olah ia telah mengambil sesuatu yang penting dari Arya dengan memisahkannya dari ibunya.
Dimas tahu bahwa ia tidak bisa terus hidup seperti ini. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Arya, tetapi ia merasa tidak memiliki alat atau kemampuan untuk melakukannya. Ia hanya berharap bahwa suatu hari, ia bisa menemukan cara untuk menjadi ayah yang dibutuhkan Arya.
Malam semakin larut, dan hujan mulai turun. Dimas berdiri di dekat jendela kamarnya, memandangi tetesan air yang mengalir di kaca. Ia merenungkan keputusannya di masa lalu, pilihan yang ia buat dengan harapan membawa kebahagiaan, tetapi ternyata meninggalkan luka yang dalam.
Dalam hati, Dimas berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menemukan cara untuk memperbaiki segalanya, tidak peduli seberapa sulitnya. Karena meskipun ia merasa gagal sebagai suami, ia tidak ingin gagal sebagai seorang Ayah untuk putranya.
Pagi itu, suasana kantor PT Pratama Jaya terasa berbeda. Para karyawan yang biasanya sibuk dengan rutinitas masing-masing tampak berbisik-bisik di lorong. Sebagian besar dari mereka membicarakan hal yang sama, kehadiran sekretaris baru direktur utama, Dimas Pratama.
"Eh, itu ya sekretaris baru Pak Dimas yang lolos kemarin?" tanya salah satu staf yang bekerja di kantor tersebut.
"Saya dengar dia orangnya ceria banget," bisik salah satu staf kepada rekan kerjanya.
"Iya, katanya sih pintar dan ramah. Tapi, kasihan juga, harus kerja sama Pak Dimas. Beliau kan... ya, kamu tahu sendiri," balas yang lain dengan nada pelan.
Dimas memang terkenal sebagai pemimpin yang profesional, tetapi juga dingin. Ia jarang terlibat dalam percakapan santai dengan karyawannya dan selalu menuntut kesempurnaan. Banyak yang menduga bahwa bekerja langsung di bawah Dimas pasti terasa seperti berjalan di atas tali tipis.
Namun, Sinta Rahayu, sekretaris baru itu, tampaknya tidak terpengaruh oleh reputasi Dimas. Wanita muda dengan senyum lebar dan mata cerah itu memasuki kantor pagi itu dengan langkah penuh percaya diri. Rambutnya tergerai rapi di bahu, dan ia mengenakan blazer biru muda yang memberi kesan segar namun tetap profesional.
"Selamat pagi!" sapa Sinta ceria kepada resepsionis di depan.
"Selamat pagi, Mbak Sinta," jawab resepsionis itu, terkejut sekaligus terpesona oleh keramahan Sinta.
Sinta baru kemarin bekerja, tetapi kepribadiannya yang hangat sudah membuat banyak orang terkesan. Ia mudah bergaul, dan tidak ada kesan angkuh meskipun ia sekarang memegang posisi penting di perusahaan. Namun, meskipun ia tersenyum kepada semua orang, Sinta tahu bahwa ada satu orang di kantor ini yang jauh lebih sulit ia dekati, yaitu bosnya sendiri, Dimas Pratama.
****
Tok! Tok! Tok!
Sinta berdiri di depan pintu ruang kerja Dimas seraya mengetuk pintu.
"Masuk," terdengar suara Dimas dari balik pintu setelah Sinta mengetuk pelan.
Saat Sinta membuka pintu, ia melihat Dimas sudah duduk di kursinya, sibuk dengan beberapa dokumen di meja. Jas hitamnya menggantung rapi di belakang kursi, dan kemeja putihnya terlihat tanpa cela.
"Selamat pagi, Pak Dimas," sapa Sinta sambil berjalan masuk.
"Pagi," jawab Dimas singkat tanpa mengangkat pandangannya dari dokumen.
Sinta menaruh map berisi jadwal hari itu di meja Dimas. Ia tetap berdiri, menunggu arahan lebih lanjut. Namun, Dimas tidak langsung berbicara. Ia membaca dokumen dengan seksama, kemudian mencoret sesuatu dengan pulpen di tangannya.
"Sinta," akhirnya Dimas membuka suara.
"Ya, Pak?" sahut Sinta.
"Pastikan rapat dengan klien pukul dua belas dimulai tepat waktu. Tidak ada penundaan."
"Siap, Pak. Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal," jawab Sinta sambil mencatat di buku agendanya.
Sikap profesional dan serius Dimas tidak mengejutkan Sinta. Ia sudah mendengar banyak cerita tentang pria itu sebelum mulai bekerja. Namun, ia tidak membiarkan sikap dingin Dimas mengintimidasinya. Ia justru menganggap ini sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa ia adalah sekretaris yang kompeten.
"Kalau tidak ada lagi, saya kembali ke meja saya, Pak."
"Baik," jawab Dimas tanpa melihatnya.
Sinta keluar dari ruangan itu dengan senyum kecil di wajahnya. Bagi sebagian orang, interaksi seperti itu mungkin terasa kaku dan menegangkan, tetapi Sinta melihatnya sebagai bagian dari pekerjaannya. Ia yakin bahwa di balik sikap dingin Dimas, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum ia pahami.
Sinta segera kembali ke mejanya yang terletak tidak jauh dari ruangan Dimas. Ia mulai mengatur jadwal rapat, mengecek ulang dokumen yang perlu dipersiapkan, dan memastikan semua keperluan Dimas sudah tertangani. Meski pekerjaannya cukup berat, ia melakukannya dengan semangat.
"Wah, Mbak Sinta kelihatan sibuk sekali," komentar Yuli, salah satu staf administrasi yang kebetulan lewat.
"Memang begitu, Mbak Yuli. Tapi saya menikmatinya," jawab Sinta sambil tersenyum.
"Kalau begitu, saya duluan ya mbak Sinta."
Sinta tersenyum dan menjawab, "Silakan mbak."
Sikap ceria Sinta menarik perhatian banyak orang. Dalam waktu singkat, ia berhasil membangun hubungan baik dengan hampir semua staf di kantor. Beberapa bahkan mulai mengagumi dedikasinya dan cara kerjanya yang cepat.
Namun, tidak semua orang langsung menyukainya. Ada juga yang merasa bahwa Sinta terlalu berlebihan dalam mencoba menyesuaikan diri. Salah satu dari mereka adalah Rina, staf senior yang sebelumnya sering berinteraksi dengan Pak Dimas.
"Kita lihat saja berapa lama dia bertahan," gumam Rina pelan saat ia melewati meja Sinta.
Sinta tidak terlalu mempedulikan komentar seperti itu. Ia tahu bahwa setiap pekerjaan memiliki tantangannya masing-masing, termasuk menghadapi rekan kerja yang mungkin kurang bersahabat.
****
Saat jam makan siang tiba, Sinta memilih untuk tetap berada di mejanya. Ia menggunakan waktu itu untuk menyusun laporan yang diminta Dimas. Beberapa staf yang lewat menawarkan untuk makan bersama, tetapi Sinta menolak dengan sopan.
"Mbak Sinta, kok masih sibuk, ayo makan siang bareng kita di kantin." ajak salah satu staf wanita menghampiri Sinta.
"Saya masih harus menyelesaikan ini. Tapi terima kasih sudah mengajak," katanya.
"Ya udah kalau gitu, kita duluan ya."
Sinta tersenyum dan mengangguk pelan dengan sopan.
Ketika Dimas keluar dari ruangannya untuk pergi makan siang, ia melihat Sinta yang masih sibuk bekerja di mejanya. Sesaat, ia merasa terkejut. Kebanyakan sekretaris sebelumnya selalu memanfaatkan waktu makan siang untuk beristirahat atau bersosialisasi, tetapi Sinta tampaknya berbeda.
"Kamu tidak makan?" tanya Dimas singkat.
Sinta mendongak dan tersenyum. "Nanti, Pak. Saya ingin menyelesaikan laporan ini dulu."
Dimas hanya mengangguk kecil sebelum pergi.
Di dalam hati, Dimas mulai mengakui bahwa Sinta mungkin memiliki potensi besar. Ia belum lama bekerja, tetapi sudah menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Namun, seperti biasa, Dimas tidak membiarkan pikirannya terlihat di wajahnya.
****
Menjelang sore, kantor semakin sibuk. Rapat dengan klien besar akan dimulai dalam waktu kurang dari satu jam, dan Sinta memastikan semua persiapan sudah beres. Ia mengecek ruang rapat, mengatur ulang posisi dokumen di meja, dan memastikan proyektor berfungsi dengan baik.
Ketika rapat dimulai, Sinta duduk di sudut ruangan, siap mencatat poin-poin penting yang mungkin dibutuhkan Dimas nanti. Ia memperhatikan cara Dimas memimpin rapat, tenang, tegas, dan fokus. Tidak ada satu pun detail yang terlewat dari pengamatannya.
Saat rapat berakhir, Dimas memberi isyarat kepada Sinta untuk mengikutinya kembali ke ruangan.
"Bagaimana menurutmu rapat tadi?" tanya Dimas tiba-tiba.
Sinta terkejut sesaat, tetapi segera menjawab, "Saya rasa itu berjalan lancar, Pak. Klien tampak puas dengan presentasi kita."
"Benar. Tapi ada beberapa hal yang harus kita perbaiki," ujar Dimas sambil menyerahkan catatannya kepada Sinta.
Sinta menerima catatan itu dengan serius. Ia tahu bahwa Dimas adalah orang yang selalu mengejar kesempurnaan, dan itu membuatnya semakin bertekad untuk memenuhi harapannya.
****
Ketika jam kerja hampir selesai, Sinta mengemasi barang-barangnya dengan hati-hati. Hari keduanya sebagai sekretaris Dimas mungkin melelahkan, tetapi ia merasa puas dengan apa yang telah ia capai.
"Kerja bagus hari ini," kata Dimas singkat saat ia melewati meja Sinta.
Sinta menoleh dengan mata berbinar. "Terima kasih, Pak. Saya akan terus berusaha."
Dimas tidak menjawab, tetapi ada sedikit senyuman samar di wajahnya, sesuatu yang jarang terlihat.
Saat Sinta meninggalkan kantor malam itu, ia merasa yakin bahwa ia telah membuat kesan pertama yang baik. Ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang, tetapi ia siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Di sisi lain, Dimas kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk. Kehadiran Sinta, meskipun baru sekejap, telah memberikan sedikit warna pada rutinitasnya yang dingin dan monoton. Namun, ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Baginya, semua ini hanyalah bagian dari pekerjaan.