Pagi itu, suasana di rumah Dinda terasa tenang. Burung-burung berkicau riang di halaman, dan matahari mengintip malu-malu dari balik awan tipis. Leo berdiri di depan pintu rumah calon istrinya, merasa sedikit gugup. Hari itu adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu dengan keluarga Dinda sebelum pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
Setelah beberapa saat, pintu terbuka, dan Bu Mela menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Oh, Leo. Silakan masuk. Dinda masih di kamar mandi, tapi sebentar lagi selesai," ujar Bu Mela sambil mempersilakan Leo duduk di ruang tamu.
Leo merasa sedikit canggung, tapi dia berusaha menjaga sikapnya. Setelah beberapa menit, mereka mulai berbicara ringan, membahas persiapan pernikahan yang semakin dekat. Leo merasa lega karena semuanya tampak berjalan lancar.
Namun, suasana berubah saat Bu Mela tiba-tiba berhenti berbicara dan menatap Leo dengan sorot mata yang tajam.
"Leo," ucap bu Mela dengan suara yang lebih serius.
"Ada satu hal yang ingin Ibu bicarakan denganmu sebelum kalian menikah," tambahnya.
Leo merasa ada sesuatu yang ganjil, tapi dia mengangguk, menunggu Bu Mela melanjutkan.
"Sebenarnya, Ibu ingin meminta sesuatu darimu," ujar Bu Mela, suaranya sedikit bergetar, namun tetap tegas.
"Ibu tahu ini mungkin akan mengejutkanmu, tapi Ibu butuh kasih sayang, Leo. Ibu ini kan seorang janda, dan setelah ibu bercerai, Ibu merasa sangat kesepian," imbuhnya, sorot matanya penuh harap.
Leo menelan ludah, tidak yakin dengan arah pembicaraan ini.
Bu Mela melanjutkan,"Ibu ingin kamu berbagi jatah malam nanti setelah pernikahan kalian. Ibu butuh kepuasan yang hanya bisa diberikan oleh seorang lelaki. Kalau kamu menolak, Ibu tidak akan merestui pernikahanmu dengan Dinda sampai kapanpun!"
Kalimat itu menghantam Leo seperti petir di siang bolong. Dia terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya berputar-putar mencari cara untuk mengatasi situasi ini. Bagaimana mungkin Bu Mela, ibu dari calon istrinya, bisa meminta hal seperti itu?
Leo memandang Bu Mela, mencoba membaca ekspresi wajahnya. Tapi yang dia lihat hanyalah keseriusan yang tidak bisa dia abaikan. Dia tahu bahwa menolak berarti membahayakan pernikahannya dengan Dinda, tetapi menyetujui permintaan itu terasa seperti sebuah pengkhianatan besar.
Setelah beberapa saat, Leo akhirnya mengangguk perlahan, meskipun hatinya dipenuhi keraguan.
"Tapi, Bu. Bagaimana mungkin aku harus melakukan itu?" Leo menatap dengan raut wajah kebingungan.
"Iya itu syarat jika kamu benar-benar ingin menikah dengan Dinda. Jika tidak, maka jangan harap kamu bisa menikahinya!" Bu Mela sedikit tegas.
Leo terdiam sejenak memikirkan.
"Baik lah, Bu," ucap Leo pelan dengan suara yang bergetar.
"Aku akan menyetujui itu," imbuhnya, meski hatinya berkata lain.
Bu Mela tersenyum, tampak puas dengan jawaban Leo.
"Bagus, Leo. Ibu tahu ini tidak mudah, tapi Ibu percaya kamu adalah lelaki yang bertanggung jawab," ujar Bu Mela, sorot matanya berbinar-binar.
Leo hanya bisa tersenyum kaku, hatinya berteriak menentang keputusannya sendiri. Tapi dia tahu, demi Dinda, dia harus menjalani apa yang telah dia setujui, meskipun dengan hati yang penuh kebingungan dan ketidakpastian.
Leo duduk dengan perasaan campur aduk setelah percakapan yang baru saja terjadi. Dia merasa berat dengan apa yang baru saja disepakatinya, namun di sisi lain, bayangan tentang Bu Mela, yang meski usianya sudah mencapai 40 tahunan, masih terlihat cantik dan memiliki tubuh yang montok, terus menghantui pikirannya. Bu Mela memang merawat dirinya dengan baik, dan Leo tidak bisa menyangkal bahwa ada daya tarik fisik yang kuat pada wanita itu. Namun, meskipun begitu, gagasan untuk melakukan hal seperti itu dengan ibu dari calon istrinya terasa sangat salah.
Pikirannya terus berkecamuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini tanpa merusak rencana pernikahannya dengan Dinda. Namun, sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Dinda turun dengan senyum manis di wajahnya, mengenakan pakaian sederhana yang membuatnya tampak semakin cantik di mata Leo.
"Dinda, sayang, kamu sudah selesai?" Bu Mela menyapa putrinya dengan senyuman yang tampak sama sekali tidak mencerminkan percakapan mereka sebelumnya.
"Iya, Mah" jawab Dinda sambil melirik Leo.
"Sayang, sudah lama nunggu, ya?" Dinda kemudian berjalan mendekat dan duduk di samping Leo.
Leo segera menanggapi dengan senyum yang dipaksakan agar tampak senatural mungkin.
"Nggak, kok. Baru aja kok, sayang," jawab Leo dengan nada ceria yang berusaha menutupi kegelisahannya. Dia mencoba menghindari tatapan Bu Mela yang seakan-akan masih bisa merasuki pikirannya.
Leo tahu dia harus segera keluar dari situasi ini sebelum pikirannya terjerat lebih jauh dalam kekacauan yang baru saja terjadi.
"Sayang, gimana kalau kita jalan-jalan sekarang? Ada tempat yang pengen aku tunjukin ke kamu," ucap Leo berharap bisa mengalihkan perhatian Dinda dari rumah dan dari ibunya.
Dinda terlihat sedikit terkejut tapi senang,"Boleh. Kemana kita?"
"Aku akan bawa kamu ke tempat yang spesial, tapi biar jadi kejutan aja ya," jawab Leo sambil bangkit berdiri, menggandeng tangan Dinda dengan lembut.
"Kami keluar dulu yah, Bu," pamit Leo dengan senyum penuh arti yang dia tujukan pada Bu Mela, berharap ini akan cukup untuk menenangkan pikiran Bu Mela, setidaknya untuk sementara.
"Selamat jalan-jalan, kalian berdua," balas Bu Mela dengan senyum yang terlihat ramah, tetapi tatapan matanya membuat Leo merasa semakin tertekan. Dia tahu bahwa ini baru awal dari masalah yang harus dihadapinya.
Mereka berdua keluar dari rumah, dan Leo mencoba menghirup udara segar untuk menenangkan hatinya. Di sampingnya, Dinda berjalan dengan gembira, tidak menyadari pergolakan batin yang sedang dialami oleh calon suaminya. Leo menggenggam tangan Dinda lebih erat, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah jalan yang harus dia lalui, demi cinta mereka.
Di dalam hati, Leo tahu dia harus menemukan cara untuk keluar dari situasi ini tanpa merusak hubungan dengan Dinda, tetapi untuk saat ini, dia hanya bisa fokus pada momen bersama Dinda, berusaha untuk melupakan sejenak bayangan mengerikan tentang apa yang harus dia lakukan setelah mereka menikah.
Di dalam mobil yang melaju pelan melewati jalanan yang rindang, Leo dan Dinda menikmati waktu bersama. Udara pagi yang sejuk dan sinar matahari yang hangat menambah suasana romantis di antara mereka. Leo mencoba fokus pada saat ini, berusaha melupakan percakapan yang mengganggunya sebelumnya.
"Sayang, nanti setelah kita menikah, kamu pengen tinggal di mana?" Dinda membuka pembicaraan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.
Leo melirik Dinda dengan senyum,"Aku pikir kita bisa tinggal di rumah yang sudah kita rencanakan, yang di dekat taman itu. Aku suka tempatnya, dekat dengan pusat kota tapi tetap tenang"
Dinda mengangguk setuju.
"Iya, aku juga suka. Tempatnya nyaman dan nggak terlalu jauh dari tempat kerja kita. Dan kalau nanti kita punya anak-anak, mereka bisa main di taman itu," balas Dinda dengan mata berbinar-binar.
Leo tertawa kecil mendengar perkataan Dinda.
"Kamu ngomongnya kayak kita bakal punya banyak anak aja, Sayang," ledek Leo sambil menggelengkan kepala, meski dalam hati dia merasa hangat membayangkan masa depan yang Dinda sebutkan.
"Memang, aku pengen punya banyak anak!" ucap Dinda dengan nada serius yang bercampur canda.
"Mungkin lima atau enam? Aku suka anak-anak, apalagi kalau mereka kayak kamu, Sayang," imbuhnya diakhiri senyuman genit.
Leo tertawa lebih keras kali ini, senyumnya lebar, tetapi ada sedikit rasa takut yang menyelinap di hatinya.
"Lima atau enam? Wah, kita bakal sibuk terus tuh." Leo meledek kembali sambil mencubit pelan pipi Dinda.
"Tapi iya sih, aku juga pengen punya anak banyak. Aku pengen rumah kita rame sama tawa dan canda anak-anak kita," imbuhnya.
Dinda tersenyum mendengar jawaban Leo.
"Aku seneng denger itu, Mas. Berarti kita satu visi. Nanti kamu harus bantu aku ya, jagain anak-anak kita kalau aku lagi sibuk. Jangan cuma kerja aja," ujar Dinda sambil menyandarkan kepalanya di bahu Leo.
"Tentu, sayang," jawab Leo sambil menggenggam tangan Dinda yang terletak di pangkuannya.
"Aku bakal jadi suami yang baik dan ayah yang bertanggung jawab. Aku janji." Leo menambahkan.
Mereka terdiam sejenak, menikmati momen kebersamaan itu. Leo merasa ada perasaan damai yang melingkupi hatinya saat bersama Dinda. Semua ketakutan dan kegelisahan yang dia rasakan tadi pagi perlahan memudar ketika dia memikirkan masa depan yang akan dia bangun bersama wanita yang dia cintai ini.
Leo mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia akan menemukan jalan keluar dari situasi rumit yang melibatkan Bu Mela. Untuk saat ini, dia ingin fokus pada kebahagiaan mereka berdua dan rencana indah yang telah mereka buat. Dia tahu bahwa jika mereka kuat dan saling mendukung, tidak ada rintangan yang terlalu besar untuk dihadapi bersama.
"Sayang," panggil Leo dengan suara lembut.
"Aku seneng banget bisa jalani ini semua sama kamu. Kamu adalah alasan kenapa aku selalu bersemangat setiap hari," imbuhnya tersenyum.
Dinda menatap Leo dengan tatapan penuh cinta,"Aku juga, Mas. Aku bersyukur punya kamu dalam hidupku. Aku nggak sabar buat menjalani semua ini bersamamu"
Leo menatap Dinda dengan penuh kasih, lalu tanpa ragu dia mengecup kening Dinda dengan lembut,"Aku sangat mencintaimu, Sayangku"
Dinda tersenyum, merasa begitu dicintai,"Aku juga begitu, Mas"
Leo tersenyum bahagia, meski dalam hatinya masih teringat dengan kesepakatannya bersama Bu Mela yang meminta jatah kenikmatan.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Dinda mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Leo yang kebingungan.
Seketika Leo kaget.
*****
"Owh, enggak. Aku hanya membayangkan bagaimana acara pernikahan kita nanti, kayaknya bakal seru." Leo berupaya membuat Dinda tidak curiga.
"Iya pasti dong, Mas. Pasti kamu membayangkan malam pertama yah," ledek Dinda, tertawa kecil.
"Hehe, tau aja kamu," balas Leo yang juga tertawa.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang hangat, bercanda tentang masa depan mereka yang penuh kebahagiaan. Meski di balik senyuman itu, Leo masih menyimpan kekhawatiran, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan apa pun demi memastikan pernikahan mereka berjalan lancar dan bahagia. Bagi Leo, cinta mereka adalah segalanya, dan dia tidak akan membiarkan apa pun merusak itu.
Ketika mobil yang dikendarai Leo berhenti di depan sebuah kafe yang nyaman dan terpencil, Dinda tersenyum senang. Tempat ini memang menjadi favorit mereka berdua, sebuah kafe kecil yang terletak di tepi danau dengan pemandangan indah dan suasana yang tenang. Mereka sering datang ke sini untuk berbagi cerita dan merencanakan masa depan.
"Tempat ini selalu bikin aku merasa tenang,as. Di sini adem," ucap Dinda saat mereka berjalan berdua menuju teras kafe.
"Aku juga suka tempat ini, Sayang," jawab Leo sambil menggandeng tangan Dinda lebih erat.
"Rasanya damai, kayak dunia ini cuma milik kita berdua," imbuhnya.
Mereka memilih meja di dekat jendela besar yang menghadap ke danau, di mana sinar matahari pagi memantulkan kilau emas di permukaan air. Setelah memesan minuman favorit mereka, Leo dan Dinda kembali larut dalam obrolan yang hangat dan penuh cinta.
"Gak kerasa yah, Mas. Kurang dari seminggu lagi kita menikah." Dinda memulai, matanya berbinar saat dia menatap Leo.
"Akhirnya kita akan melangsungkan pernikahan, Mas. Rasanya aku nggak percaya. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan," tambahnya, matanya berbinar.
Leo menatap Dinda dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Sayang. Aku juga nggak sabar. Setiap kali aku bayangin kita menikah, rasanya aku semakin jatuh cinta sama kamu," ujar Leo dengan tulus.
"Kamu nggak cuma cantik, tapi juga pintar, baik hati, dan... sempurna buatku," imbuhnya, melempar senyuman.
Pujian itu membuat pipi Dinda merona, senyumnya merekah,"Kamu terlalu baik, Mas. Aku juga merasa beruntung bisa ketemu dan akhirnya mau menikah sama kamu. Kita akan jadi pasangan yang hebat"
"Tentu saja," jawab Leo sambil mengulurkan tangannya, menyentuh tangan Dinda di atas meja.
"Aku akan selalu ada buat kamu, apa pun yang terjadi." Leo menggenggam erat tangan kekasihnya.
Dinda meremas tangan Leo lembut, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka.
"Aku juga akan selalu mendukung kamu, Mas. Nanti kalau kita sudah menikah, kita bisa mewujudkan semua impian kita, termasuk punya anak banyak," dengan nada bercanda dengan nada bercanda namun serius.
Leo tertawa kecil, tapi di balik tawa itu, dia merasakan gelombang keinginan yang semakin kuat untuk segera menjadi suami Dinda. Dia membayangkan masa depan mereka yang penuh dengan kebahagiaan, tawa anak-anak, dan cinta yang terus tumbuh. Ada rasa rindu yang mendalam dalam dirinya, rindu untuk bisa memeluk Dinda dengan penuh gairah sebagai seorang suami, memberikan seluruh cintanya kepada wanita yang telah membuatnya merasa hidup.
"Kamu benar-benar serius soal punya anak banyak ya?" tanya Leo sambil menatap Dinda dengan tatapan yang intens.
Dinda mengangguk sambil tersenyum lembut,"Iya, Mas. Aku pengen rumah kita penuh dengan anak-anak yang sehat dan ceria. Aku pengen kita jadi keluarga yang bahagia"
Leo menelan ludah, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aku juga nggak sabar, Sayang. Aku pengen kita segera menikah, dan... aku pengen menumpahkan semua perasaan ini sama kamu," ucap Leo dengan suara yang lebih pelan, namun penuh makna.
Dinda merasakan desiran di hatinya mendengar kata-kata Leo. Ada rasa hangat dan rindu yang tumbuh di dalam dirinya.
"Aku juga sama, Mas. Aku pengen kita segera jadi suami istri, berbagi segalanya... termasuk kasih sayang yang kita punya," balas Dinda tersenyum.
Obrolan mereka berlanjut dengan semakin banyak rencana tentang masa depan, tentang bagaimana mereka akan menghabiskan hidup bersama, dan tentang impian-impian yang akan mereka wujudkan. Di dalam hati mereka, ada perasaan yang semakin membara, sebuah keinginan kuat untuk segera memulai kehidupan baru sebagai suami istri, di mana mereka bisa saling mencintai sepenuhnya tanpa batasan.
Leo dan Dinda tenggelam dalam momen itu, menikmati kebersamaan mereka dengan penuh cinta dan harapan. Meski ada bayangan gelap yang menghantui pikiran Leo, untuk saat ini, dia memilih untuk fokus pada cinta yang mereka miliki, berharap bahwa apa pun yang akan terjadi, mereka akan bisa menghadapinya bersama.
Dalam suasana malam yang sepi dan hanya ditemani suara hujan gerimis, Leo merasa semakin sulit untuk menahan desakan hasrat yang kian membara di dalam dirinya. Semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin besar dorongan itu muncul, membelenggu pikirannya hingga membuatnya tidak mampu berpikir jernih. Di sampingnya, Dinda duduk diam, wajahnya masih terlihat tenang meski ada sedikit kebingungan yang tampak di matanya.
Setelah beberapa menit berusaha menenangkan diri, Leo akhirnya tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia menepi di pinggir jalan lagi, kali ini dengan lebih mendesak. Dengan suara yang terdengar sedikit putus asa berupaya mengungkapkan.
"Sayang... Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar nggak bisa menahannya lagi. Aku butuh bantuanmu, Sayang," ucap Leo lirih.
Dinda menoleh dengan tatapan cemas.
"Mas, kamu ngomong apaan sih? Aku nggak yakin kita harus melakukannya. Kita sudah dekat dengan hari pernikahan kita, dan--"
"Aku ngerti, Sayang. Aku ngerti itu!" potong Leo, suaranya terdengar serak.
"Tapi aku benar-benar nggak kuat lagi. Aku... aku cuma minta kamu bantuin aja, nggak lebih," tambahnya seraya menahan hawa nafsu yang membara.
Dinda melihat ke dalam mata Leo, melihat betapa gelisah dan tersiksanya tunangannya itu. Meskipun hatinya merasa bimbang, ada bagian dari dirinya yang tidak tega melihat Leo dalam kondisi seperti ini. Dia mencintai Leo dan tahu bahwa dia juga manusia dengan segala kelemahan.
Setelah menghela napas panjang, Dinda berkata dengan suara pelan.
" Hmmm, ya udah. Aku akan bantu aja. Tapi hanya kali ini saja, ya?" Dinda menatap dalam-dalam calon suaminya.
Leo mengangguk, merasa sedikit lega meski rasa bersalah masih mengganjal di hatinya
"Iya, Sayang. Aku janji ini nggak akan sering-sering," jawab Leo tersenyum senang.
Dengan tangan gemetar, Dinda mendekati Leo dan mulai membantu seperti yang diminta. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi, hanya terdengar napas mereka yang semakin berat. Meski ini bukan sesuatu yang Dinda harapkan akan mereka lakukan sebelum pernikahan, dia melakukannya dengan perasaan campur aduk antara cinta, kasih sayang, dan ketidakpastian.
"Kocok yang kenceng, Sayang," pinta Leo, suaranya memburu.
"Iya, Mas. Aku gak nyangka punyamu besar banget sih," ucap Dinda, merasa ketakutan melihat batang kejantanan Leo yang besar dan panjang.
Leo merasakan kelegaan yang luar biasa saat Dinda membantunya. Dia berusaha menahan suara dan mengendalikan perasaannya, tetapi dorongan itu begitu kuat. Meski Dinda melakukannya dengan penuh hati-hati, Leo merasakan bahwa ini adalah cara mereka untuk meredakan ketegangan yang telah menumpuk sepanjang hari.
"Lebih cepat lagi, Sayang. Ini mau keluar." Leo meringis merasakan aliran darahnya memuncak.
"Cepet keluarin, Mas," sahut Dinda yang juga sebenarnya merasa terangsang.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Leo akhirnya mencapai puncaknya. Dia terengah-engah, merasa campuran antara kelegaan dan rasa bersalah. Dinda menarik tangannya kembali, wajahnya sedikit memerah, dan dia menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan pikirannya.
"Arrgghh." Leo mengerang kenikmatan ketika batang kejantanannya menyemburkan lahar hangat.
Dinda kaget melihat itu, tangannya pun terkena cairan putih nan kental.
"Ihh, Sayang... Banyak banget sih," lirih Dinda yang langsung mengambil beberapa lembar tisu.
*****
"Mas kita harus berhenti melakukan ini sebelum pernikahan," ucap Dinda dengan suara yang sedikit gemetar.
"Aku nggak mau kita melanggar lebih jauh. Kita harus sama-sama kuat dan menumpahkannya nanti setelah kita menikah," tambahnya.
Leo menunduk, merasa bersalah dan malu.
"Kamu benar, Sayang. Aku minta maaf, aku seharusnya nggak minta itu sama kamu. Ini salahku," balas Leo pelan.
Dinda mengangguk,“Yang penting kita sudah sama-sama mengerti. Aku hanya ingin kita menikah dengan hati yang bersih, tanpa ada rasa penyesalan"
Leo menyalakan kembali mobil dan melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang meski ada beban yang masih tersisa. Malam itu, meskipun mereka telah melakukan sesuatu yang tak mereka rencanakan, ada perasaan saling memahami yang mendalam di antara mereka. Keduanya berjanji dalam hati untuk menjaga hubungan ini sebaik mungkin hingga tiba saatnya mereka resmi menjadi suami istri.
Setelah beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Dinda. Hujan gerimis masih terus turun, membuat suasana malam terasa semakin dingin. Leo dan Dinda bergegas masuk ke dalam rumah, menggigil sedikit karena dinginnya udara di luar.
Begitu masuk ke dalam rumah, Dinda langsung menunjukkan perhatiannya kepada Leo.
"Kak, kamu kelihatan lelah banget. Aku buatin teh panas, ya?" tawarnya dengan senyum lembut.
Leo hanya mengangguk sambil tersenyum, berusaha menyingkirkan pikiran tentang apa yang terjadi di dalam mobil tadi. Meskipun hatinya masih sedikit berat, melihat perhatian Dinda membuatnya merasa lebih tenang. Mereka duduk di ruang tamu, menikmati kehangatan rumah yang kontras dengan dinginnya udara di luar.
Sementara Dinda sibuk di dapur, Bu Mela muncul dari ruang dalam, tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Kalian kelihatan cocok sekali," ucap Bu Mela sambil mendekati Leo.
Leo tersenyum kikuk, merasa sedikit canggung di depan Bu Mela setelah apa yang ia alami tadi di mobil bersama Dinda. Namun, ia berusaha tetap tenang dan sopan.
Setelah beberapa saat, Dinda kembali dengan dua cangkir teh panas dan duduk di sebelah Leo.
"Ini, Sayang. Biar kamu hangat," ujar Dinda sambil menyerahkan cangkir itu.
Leo menerima teh itu dengan senyum hangat,"Terima kasih, Sayang"
Bu Mela memperhatikan mereka sejenak sebelum berkata,"Leo, di luar hujan, sudah malam juga, terus kamu kelihatan sangat lelah. Kenapa nggak menginap saja di sini malam ini? Lebih aman daripada kamu harus pulang dalam keadaan seperti ini"
Leo ragu sejenak, merasa tidak enak hati.
"Aduh, aku merasa nggak enak, Bu... Takut merepotkan," ujar Leo.
Namun, Bu Mela segera menenangkannya.
"Nggak usah khawatir. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Lagipula, Dinda juga setuju, kan, Sayang?" Bu Mela menoleh ke arah putrinya.
Dinda mengangguk setuju, menunjukkan rasa peduli yang tulus kepada tunangannya,"Iya, Mas. Menginap aja di sini. Aku nggak pengen kamu sakit karena kelelahan. Ingat pernikahan kita hanya menghitung hari"
Leo merasa hatinya sedikit lega mendengar itu, meski masih ada rasa canggung.
"Baiklah, kalau begitu saya terima tawarannya, Bu. Tapi maaf jika aku merepotkan ibu sama Dinda," ucap Leo sambil melirik Dinda yang tersenyum malu.
Bu Mela tertawa kecil,"Tentu saja tidak, Leo. Kamu kan sudah ibu anggap anak ibu juga"
Leo mengangguk, merasa sedikit lebih tenang meski hatinya masih dipenuhi berbagai perasaan. Dalam hatinya, dia senang bisa lebih dekat dengan Dinda, meski tetap berusaha menjaga jarak sesuai dengan komitmen mereka.
Malam itu, Leo merasa nyaman meskipun hatinya masih terguncang oleh kejadian sebelumnya. Dinda memastikan bahwa dia mendapat tempat tidur yang nyaman di kamar tamu, dan setelah semuanya beres, mereka berdua mengucapkan selamat malam.
Leo berbaring di tempat tidur, matanya memandang langit-langit kamar sambil merenungkan kejadian hari ini. Perasaan campur aduk memenuhi pikirannya, antara rasa cinta yang mendalam untuk Dinda, rasa bersalah atas kejadian di mobil, dan perasaan aneh yang ia rasakan saat berada dekat dengan Bu Mela.
Malam itu, meski tubuhnya lelah, pikirannya tetap terjaga, dipenuhi dengan harapan untuk masa depan yang akan segera datang, namun juga dengan keraguan dan kebimbangan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Leo terbangun dari tidurnya saat mendengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya samar dari lampu koridor. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat sosok Bu Mela, calon mertuanya, melangkah masuk dengan perlahan. Pakaian daster yang dikenakan Bu Mela begitu tipis dan menggoda, menampilkan siluet tubuhnya yang montok dengan sangat jelas.
Leo menelan ludah, merasa campuran antara kaget dan kebingungan.
"Bu... Ada apa ini?" tanya Leo dengan suara serak, mencoba tetap tenang meski pikirannya kacau balau.
Bu Mela hanya tersenyum tipis, senyum yang membawa aura misterius sekaligus menggoda. Dia duduk di tepi ranjang, sangat dekat dengan Leo, membuat udara di sekitarnya terasa semakin panas.
"Leo, aku nggak bisa tidur. Rasanya dingin sekali malam ini," bisiknya, matanya menatap Leo dengan pandangan yang sulit diartikan.
Leo merasakan tubuhnya kaku, pikirannya berputar-putar mencari alasan untuk memahami situasi ini.
"Tapi, Bu. ini nggak benar," jawab Leo dengan suara terbata-bata, matanya menatap Bu Mela dengan cemas.
Namun, Bu Mela mengangkat tangan, menaruhnya di bibir Leo, membuat Leo terdiam seketika.
"Ssstt... Jangan khawatir, Leo. Ini hanya antara kita berdua," ucap Bu Mela dengan nada lembut namun tegas.
"Aku hanya butuh sedikit kehangatan. Kamu bisa membantuku, kan?" imbuhnya dengan suara menggoda.
Leo merasa semakin bingung dan terjebak. Di satu sisi, dia tahu betapa salahnya situasi itu, dia mencintai Dinda dan tidak ingin mengkhianatinya. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa mengabaikan desakan Bu Mela, terutama dengan ancaman yang sudah disampaikan sebelumnya. Jantungnya berdebar kencang, dan dia merasa terjebak di antara kewajibannya kepada Dinda dan tekanan dari Bu Mela.
"Bu... Aku... Aku nggak bisa..." Leo berusaha keras menolak, tapi suaranya terdengar lemah bahkan bagi dirinya sendiri.
Bu Mela mendekat, wajahnya semakin dekat dengan wajah Leo.
"Jangan bilang nggak bisa, Leo. Aku tahu kamu bisa. Kamu hanya perlu... membantu aku sebentar saja." Bu Mela menatap dalam-dalam
Leo menutup matanya, merasa benar-benar terjebak dan tidak tahu harus berbuat apa. Bu Mela kini berada sangat dekat dengannya, napasnya terasa hangat di kulit Leo. Tangan Bu Mela mulai bergerak ke arah dada Leo, memberikan sentuhan lembut yang membuat Leo semakin bingung dan takut.
Namun, di tengah semua itu, pikiran Leo terbayang wajah Dinda, wanita yang dia cintai dan yang ingin dia habiskan hidupnya bersama. Itu memberinya kekuatan untuk berbicara meski suaranya masih bergetar.
"Bu, aku mohon, kita berhenti sampai di sini. Aku... aku nggak bisa mengkhianati Dinda," ucap Leo penuh harap.
Bu Mela menatap Leo dengan pandangan yang sulit ditebak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu, setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia perlahan menarik diri, meski masih tersenyum tipis.
"Kamu benar-benar mencintai Dinda, ya?" tanyanya dengan nada lembut namun penuh makna.
Leo mengangguk perlahan, berusaha menenangkan diri,"Iya, Bu. Aku benar-benar mencintainya. Dan aku ingin menjaga hubungan ini tetap suci sampai kami menikah"
Bu Mela memandang Leo dengan tatapan yang tajam sebelum akhirnya berdiri dari ranjang.
"Baiklah, Leo. Aku menghargai kejujuran dan keteguhan hatimu," ucap Bu Mela dengan nada yang lebih dingin.
"Tapi ingatlah... apapun yang terjadi malam ini, aku tetap memegang kendali atas masa depan pernikahan kalian. Jika kamu tidak memberikan jatah malam untukku, semuanya akan aku batalkan!" tambahnya merasa sedikit kecewa.
Leo hanya bisa mengangguk tanpa berkata apa-apa, masih dalam keadaan syok. Bu Mela kemudian keluar dari kamar dengan langkah perlahan, meninggalkan Leo yang masih terguncang dengan apa yang baru saja terjadi.
Setelah pintu tertutup, Leo terbaring di tempat tidur dengan perasaan campur aduk, lega karena tidak menyerah pada godaan, tapi juga takut akan konsekuensi yang mungkin terjadi setelah ini. Dia tahu, mulai saat ini, hubungannya dengan Bu Mela akan berubah, dan dia harus lebih berhati-hati dalam mengambil setiap langkah ke depannya.
"Aku memang menyukai tubuhnya yang molek, tapi aku takut Dinda mengetahui apa yang aku lakukan dengan ibunya," gumam Leo kebingungan, di satu sisi dia juga merasakan hasratnya bangkit ketika membayangkan tubuh bu Mela yang tadi hanya memakai daster tipis dan benar-benar sangat menggoda.
*****