Bab 2

Seperti biasa jika libur semester Kamila akan pulang ke Sumedang. Dan pagi ini ia terbangun karena bau harum yang berasal dari dapur. Kamila pun langsung turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar.

      Gadis berwajah cantik itupun langsung menuju ke dapur dan ternyata sang ibu sedang menggoreng ikan gurame kesukaannya, tak lupa tempe,tahu ,sayur asem dan sambal terasi favoritnya.

“Duh,aku jadi laper,Bu,” kata Kamila sambil memeluk ibunya dari belakang.

“Eh,anak perawan baru bangun. Nggak baik ,neng bangun siang begini,” kata Nining sang ibu. 

“Sekali-sekali atuh,Ibu. Kan mumpung libur. Abah ke mana,Bu?’

“Kamu kaya nggak hapal si Abah. Dari subuh juga udah ke sawah, nanti jam teh Euis yang anter makanan ke sawah,” jawab Nining.

     Kamila menghela napas panjang. “Padahal kan Abah nggak perlu ke sawah,Bu. Untuk apa ada anak buah atuh. Petani- petani Abah juga kan banyak,Bu.”

“Neng, kamu kan tau sifat abah kamu. Abah itu orangnya nggak mau diem. Meski sawahnya banyak yang ngerjain ya tetep aja kepengen turun sendiri. Udah, kamu mandi sana, abis itu baru makan. Ibu sengaja masak makanan kesukaan kamu. Ini ikannya dari balong(kolam) punya kita yang di wetan (timur). Tadi Ibu sengaja suruh Mang Ujang ambil buat kamu. Sana,mandi dulu,” kata Nining pada anak bungsunya itu.

     Kamila pun mematuhi perintah ibunya .Gadis itu segera mandi dan berpakaian rapi. Setelah selesai ia pun langsung menuju ruang makan untu makan bersama ibunya. Jangan kaget jika di daerah Jawa Barat menemukan menu sarapan pagi yang lengkap, nasi lauk pauk dan sayuran. Ada kalimat yang berbunyi jika belum makan nasi itu belum makan. Jadi roti atau mie itu hanya makanan selingan.

      Saat mereka sedang makan,tiba-tiba Euis masuk Bersama seorang wanita separuh baya yang tak lain adalah NIngrum kakak kandung NIning. 

“Eh, Neng Mila. LIbur,geulis?”

“Iya,Wak, libur semester lumayan bisa pulang dulu. Udah makan,Wak?”

“Uwak baru aja makan. Tadi Teh Nur masak ulukutek leunca sama tumis oncom peda.”

      Kamila hanya tersenyum menanggapi perkataan Uwaknya.  

“Ning,ceuceu ada perlu sebentar,” Ningrum mencolek tangan Nining. Nining pun langsung berdiri dan mengikuti langkah kakaknya ke ruang tengah yang hanya di batasi pintu kaca. Kamila bisa melihat dengan jelas Ningrum tampak bicara serius kepada ibunya. Dan tak lama ibunya langsung masuk ke kamarnya. Dan saat keluar ia memberikan sejumlah uang pada Ningrum. Sudah bias ajika Ningrum meminjam uang kepada ibunya. Uwaknya itu janda, dan hidupnya hanya mengandalkan dari uang pensiun almarhum suaminya. 

“Neng, mau ikut Uwak nggak? Mumpung libur,jangan di rumah terus,” kata NIngrum pada keponakannya itu.

“Emang mau ke mana,Wak?’ tanya Kamila.

“Udah,hayu ikut aja sambil jalan-jalan. Uwak mau ke gunung Lingga.”

“Ih,si Uwak mah ngajak ke gunung,atuh.”

       Nining hanya tertawa kecil melihat Kamila mencibirkan bibirnya.

“Wak Ningrum mau berobat,Neng. Teteh kamu itu kayanya ada yang guna-guna. Makanya,Wak Ningrum mau ke gunung Lingga. Di sana ada yang bisa nyembuhin dari guna-guna,ilmu pelet,teluh,gitu,Neng. Kalau kamu penasaran mau ikut nggak apa-apa.Sekalian temenin Teh Nur sama Uwak kamu. Kamu kan bisa bawa mobil, kasian Uwak kamu nggak ada yang antar,” kata Nining.

     Sebenarnya Kamila malas,karena perjalanan dari Situraja ke gunung Lingga itu lumayan jauh,memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam. Tapi,mendengar kata pelet Kamila mendadak ingat pada Abimanyu.

“Ya sudah, Mila antar,ya Wak.”

“Nah,gitu atuh neng, pahala bantu orang tua,” kata Nining.

     Kamila hanya tersenyum, ia pun segera mengambil kunci mobil dan langsung mengajak uwaknya untuk segera berangkat.

     “Wak,emangnya ilmu pelet itu ada?” tanya Kamila penasaran. Ningrum menoleh sambil terkikik geli.

“Yaa da atuh,Neng. Sebenarnya ilmu Ghoib begitu ada kok. Neng Mila mau sekalian minta ajian ilmu pelet? “ tanya Ningrum.

“Ih,si Uwak mah ada-ada aja,” kata Kamila berpura-pura.

“Ada neng kalo Neng Mila mau, namanya ajian jaran goyang,Neng. Syaratnya memang berat,tapi kalo Neng Mila kuat,dijamin lelaki yang Neng Mila taksir bakalan bertekuk lutut sama Neng Mila.”

“Ah,serius sih Wak,”kata Kamila.

“Iya Neng, nanti kalau Neng mau kita sekalian tanya ya.”

      Kamila mengulum senyum, pucuk di cinta ulam tiba. Memang ini yang ia cari,kebetulan sekali Uwaknya sendiri yang tau. Minimal, jika terpaksa membayar pun tidak akan tertipu.

Bab 3

Tiba di gunung lingga mobil yang dikendarai oleh Kamila berhenti di sebuah warung,karena perjalanan menuju ke rumah Nyai winarsih hanya dapat di tempuh dengan berjalan kaki. 

“Mobil saya titip di sini aman,kan?” tanya Kamila pada pemilik warung.

“Aman kok,Neng asal Neng kunci aja,” kata ibu pemilik warung.

    Kamila, Nur dan Ningrum meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pondok kecil. Pondok itu terbuat dari anyaman bambu. Kamila tidak dapat membayangkan jika malam tiba pasti akan sangat dingin jika tidur di dalam pondok seperti itu.

    Belum sempat mereka mengetuk pintu, pintu pondok itu sudah terbuka. Dan seorang wanita cantik keluar. Kamila mengerutkan dahinya. Wanita itu tampaknya seperti baru berusia 25 tahun. Apa benar wanita semuda ini bisa mengobati orang.

     “Saya tidak memaksa kamu untuk percaya pada saya,Neng. Kalian kemari mau mengobati teteh yang berbaju kuning ini ,kan? Dan kamu ingin tau apakah saya bisa memberikan kamu ilmu untuk membuat pria yang kamu cintai berbalik mencintaimu,kan?”

    Kamila terkejut setengah mati. Bagaimana wanita di hadapannya ini bisa tau.

“Masuklah…” kata wanita itu lagi.

Mereka bertiga pun masuk ke dalam. Pondok itu sangat sederhana. Hanya ada selembar tikar di lantai. Di dalam pondok hanya ada ruangan kecil dan satu kamar.

    Mereka pun duduk di lantai. Nyai Winarsih melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dan saat keluar dia membawa selembar kertas dan tiga lembar daun kelor. 

“Ini untukmu, kau cukup melakukan puasa mutih selama 7 hari 7 malam di mulai dari malam jumat kliwon. Hanya boleh makan sekepal nasi putih setiap maghrib. Setiap tengah malam kau baca matra yang ada dalam kertas itu. Dan di malam terakhir kau sebutkan nama pria yang kau cintai. Dia akan mencarimu bahkan dalam pikirannya hanya ada dirimu.”

     Kamila hanya mengangguk, “Te-terima kasih,Nyai.”

“Lalu bagaimana nasib anak saya,Nyai?” tanya NIngrum.

Nyai Winarsih meraih daun kelor yang ada di tangan Ningrum lalu ia menempelkan ke dahi dan perut Nur. Kamila terbelalak saat melihat ada sinar berwarna biru keluar dari telapak tangan Winarsih.

     Dan tiba-tiba saja, Nur terbatuk -batuk dan tiba-tiba saja ia muntah darah. Bukan hanya darah,tapi juga keluar binatang seperti belatung dan juga lintah. Kamila tersentak melihat itu semua. 

     Nyai Winarsih mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Nur.

“Minumlah. Nah,ini ada garam, kau campurkan dengan garam yang ada di rumahmu. Taburkan setiap sore mengelilingi rumahmu. Sekarang kalian bisa pulang.”

     Ningrum langsung memberikan amplop berisi uang kepada Nyai Winarsih. Namun wanita itu menggelengkan kepalanya.

“Bawa saja uang kalian. Kelak aku akan datang untuk meminta hal yang lain pada kalian sebagai bayaran.”

    Kamila hanya bisa terheran-heran. Tapi, mereka tidak berani untuk bertanya lagi. Mereka bertiga pun segera pulang. 

    Sampai di warung tempat mereka menitipkan mobil, ibu penjaga warung itu tersenyum menyambut mereka.

“Wah,saya kira kalian hanya sebentar, ternyata sampai sehari semalam. Kalian habis berziarah ke makam prabu Tajimalela,ya?” tanyanya ramah. Namun membuat ketiganya keheranan.

“Tapi, kami rasanya hanya sekitar dua atau tiga jam kok,Bu. Bagaimana bisa sehari semalam?” tanya Kamila keheranan.

“Kalian ini mimpi atau bagaimana? Kalian datang itu kemarin sekitar jam 11. Semalam saya pulang,untung saja semalam banyak orang yang berziarah ke makam. Jadinya warung ini buka 24 jam.”

    Kamila dan Ningrum hanya bisa merasa heran dan bulu kuduk mereka merinding seketika.

“Terima kasih, Bu. Kami permisi dulu kalau begitu,manga Bu.”

“Mangga,Neng.”

     Kamila dan Ningrum saling berpandangan.

“Perasaan kita tadi hanya sebentar,kan. Tapi,kenapa Ibu warung tadi bilang kita seharian. Kok aneh sekali,” kata Kamila.

“Uwak juga bingung.”

“Uwak sebelumnya sudah pernah ke tempat tadi?” tanya Kamila.

“Uwak juga diberitahu oleh kawan uwak. Katanya sih memang jago dan paten, tapi teman uwak nggak bilang kalau aneh begitu.”

     Kamila tidak menjawab perkataan uwaknya lagi. Ia hanya bisaa menyimpan seribu pertanyaan dalam hatinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED