Cinta itu adalah anugrah terindah dari Tuhan yang dapat dirasakan oleh semua makhluk ciptaan-Nya.
Cinta adalah Kuasa Tuhan yang paling mulia dan indah namun sekaligus juga bisa membawa luka dan kekecewaan.
Karena cinta manusia bisa berubah menjadi monster yang menakutkan.
Karena cinta manusia bisa menghalalkan segala cara untuk dapat meraihnya.
Karena cinta juga manusia bisa menyakiti dan saling membenci
Namun cinta yang sejati adalah cinta yang rela memberi tanpa berharap akan diberi.
Cinta yang sejati akan dapat menerima jika yang dicintai bahagia meski bersama yang lain.
Cinta yang sejati akan rela tersenyum meski hati terasa sakit karea cinta yang sejati pasti akan rela berkorban tanpa pamrih.
_BANDUNG 1990_
Kamila bergerak dengan lincah ke mengikuti irama gendang. Ia dan beberapa orang rekannya tampil dengan cukup bagus dalam acara pagelaran tari tradisional yang diadakan di sebuah Gedung kesenian di kota Bandung.
Namun, Kamila harus cukup merasa puas menjadi yang kedua karena pusat perhatian semua orang adalah Sabrina. Gadis itu selalu menjadi saingannya dalam segala hal. Ia selalu menjadi pusat perhatian semua orang saat sedang menari termasuk mencuri perhatian dari Abimanyu Krisna. Lelaki pujaan hati yang selalu menghiasi mimpi-mimpi Kamila.
Abimanyu bukanlah sembarang lelaki. Dia anak seorang pengusaha yang kaya raya,dia baru saja lulus menjadi mahasiswa hukum di Jakarta. Soal tampan, jangan ditanya. Rasanya Kamila belum pernah melihat ada yang setampan Abimanyu. Tampan mungkin banyak, tapi di mata Kamila Abimanyu itu sempurna.
“Mila,kamu ikut pulang bersamaku dan Mas Abi,ya!” seru Sabrina dengan ceria. Sabrina sama dengan Kamila, sama-sama masih kuliah di STSI Bandung,sama-sama mengambil jurusan seni tari. Kedua orangtua Sabrina bekerja di instansi pemerintahan. Sementara kedua orangtua Kamila mempunyai lahan pertanian di kota Sumedang. Lahan sebesar 20 hektar itu dikelola oleh petani-petani setempat. Keluarga Kamila bisa dibilang adalah orang terkaya di kampung Situraja Sumedang.
Kamila kost tidak jauh dari kampusnya di daerah buah batu. Tapi,tentu saja bukan kost-kost an yang murah. Kamar kost Kamila termasuk mahal namun tentu saja fasilitasnya lengkap. Ada Ac, ranjang springbed, lemari, meja belajar, kamar mandi di dalam ,televisi dan juga laundry.
Itulah sebabnya Kamila terkadang merasa iri dengan Sabrina yang ‘biasa-biasa’ saja itu. ‘Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan aku yang anak orang kaya,’ batin Kamila.
“Hei, kok malah melamun, ikut pulang denganku dan Mas Abi,yuk. Lumayan jauh loh dari sini kalau kamu harus naik taksi. Sayang ongkosnya,sekalian Mas Abi ajak kita makan,” kata Sabrina.
Kedua gadis itu memang berteman dekat. Kamila tadinya sangat menyukai Sabrina. Tapi,sejak ada Abimanyu di antara mereka, hati Kamila mulai membenci Sabrina.
“Nanti aku ganggu yang lagi kasmaran,” jawab Kamila basa-basi.
“Apaan sih,kamu ini. Sudahlah,hari sudah malam, nggak baik kalau kamu pulang sendiri.”
Kamila melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya, Sabrina benar, hari sudah malam, hampir jam Sembilan.
“Baiklah, aku numpang ya,” kata Kamila.
Sabrina pun langsung menggandeng tangan Kamila dengan gembira dan mereka pun langsung naik ke dalam mobil Abimanyu.
“Hai,Mas. Maaf ya, kalau aku ikut numpang, nggak ganggu kan?” sapa Kamila pada Abimanyu basa -basi. Pemuda tampan itu menoleh dan tersenyum pada Kamila.
“Nggak apa-apa kok, Kamila. Sahabatnya Sabrina berarti sahabat saya juga,kan.”
Kamila hanya meringis,sesungguhnya saat ini dia sedang dilanda api cemburu.
“Tarian kalian bagus sekali,loh,” kata Abimanyu.
“Kamila itu yang jago,Mas. Dia selalu mendapat nilai yang baik di kampus.”
“Oya? Tapi, buat aku,kamu yang paling cantik dan menarik,sayang,” gombal Abimanyu membuat Kamila mencibir, untung saja Abimanyu dan Sabrina sedang asik tidak sempat memperhatikan ekspesi wajah Kamila.
Sebelum pulang Abimanyu mengajak kedua gadis itu untuk makan. Tapi,lagi-lagi Kamila merasa seperti menjadi obat nyamuk yang berputar-putar di sekeliling mereka. Hanya sebagai pelengkap.
Setelah makan, mereka pun pulang. Abimanyu mengantarkan Sabrina terlebih dahulu, karena jika dia mengantarkan Kamila lebih dulu dia akan berputar-putar jalan.
“Pindah ke depan aja ,Mil. Kasian kalau Mas abi jadi supir,” kata Sabrina. Kamila pun hanya mengiyakan.
“Kamu nggak punya saudara di Bandung?” tanya Abimanyu memecah keheningan di antara mereka.
“Nggak ada ,Mas. Aku anak satu-satunya,setelah melahirkan aku dulu Ibu sempat hamil lagi tapi kemudian keguguran. Jadinya aku tidak memiliki saudara lain. Sebenarnya Abah itu orang Cirebon, tapi kakek buyut Abah pindah ke Sumedang sejak jaman dulu, kemudian membeli sawah di Sumedang dan sampai sekarang kami semua tinggal di Sumedang.”
“Kenapa pilih seni tari?” tanya Abimanyu lagi.
“Karena aku suka menari sejak kecil. Entahlah, sejak aku kecil aku sering bermimpi didatangi oleh wanita cantik dan wanita itu mengajarkan aku menari Jaipong seperti itu,ya jadinya sampai sekarang aku suka menari jaipong.”
“Aku juga punya keluarga di Cirebon,loh. Papaku itu orang Cirebon juga.Tapi , mama orang Bandung asli,” kata Abimanyu. Kamila merasa senang Abimanyu mau bercerita soal keluarganya.
Sepi kembali. Kamila hanya memandangi wajah Abimanyu yang tampan. Ingin bertanya tapi lidahnya terasa kelu. Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah kos Kamila. Kamila pun segera turun dan mengucapkan terima kasih.
“Seandainya saja ada ilmu yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku sehingga membuatmu melupakan Sabrina seberat apapun pasti akan aku lakukan,Mas,” gumam Kamila sambil melangkah masuk dan langsung ke kamarnya yang terletak di lantai dua.
Seperti biasa jika libur semester Kamila akan pulang ke Sumedang. Dan pagi ini ia terbangun karena bau harum yang berasal dari dapur. Kamila pun langsung turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar.
Gadis berwajah cantik itupun langsung menuju ke dapur dan ternyata sang ibu sedang menggoreng ikan gurame kesukaannya, tak lupa tempe,tahu ,sayur asem dan sambal terasi favoritnya.
“Duh,aku jadi laper,Bu,” kata Kamila sambil memeluk ibunya dari belakang.
“Eh,anak perawan baru bangun. Nggak baik ,neng bangun siang begini,” kata Nining sang ibu.
“Sekali-sekali atuh,Ibu. Kan mumpung libur. Abah ke mana,Bu?’
“Kamu kaya nggak hapal si Abah. Dari subuh juga udah ke sawah, nanti jam teh Euis yang anter makanan ke sawah,” jawab Nining.
Kamila menghela napas panjang. “Padahal kan Abah nggak perlu ke sawah,Bu. Untuk apa ada anak buah atuh. Petani- petani Abah juga kan banyak,Bu.”
“Neng, kamu kan tau sifat abah kamu. Abah itu orangnya nggak mau diem. Meski sawahnya banyak yang ngerjain ya tetep aja kepengen turun sendiri. Udah, kamu mandi sana, abis itu baru makan. Ibu sengaja masak makanan kesukaan kamu. Ini ikannya dari balong(kolam) punya kita yang di wetan (timur). Tadi Ibu sengaja suruh Mang Ujang ambil buat kamu. Sana,mandi dulu,” kata Nining pada anak bungsunya itu.
Kamila pun mematuhi perintah ibunya .Gadis itu segera mandi dan berpakaian rapi. Setelah selesai ia pun langsung menuju ruang makan untu makan bersama ibunya. Jangan kaget jika di daerah Jawa Barat menemukan menu sarapan pagi yang lengkap, nasi lauk pauk dan sayuran. Ada kalimat yang berbunyi jika belum makan nasi itu belum makan. Jadi roti atau mie itu hanya makanan selingan.
Saat mereka sedang makan,tiba-tiba Euis masuk Bersama seorang wanita separuh baya yang tak lain adalah NIngrum kakak kandung NIning.
“Eh, Neng Mila. LIbur,geulis?”
“Iya,Wak, libur semester lumayan bisa pulang dulu. Udah makan,Wak?”
“Uwak baru aja makan. Tadi Teh Nur masak ulukutek leunca sama tumis oncom peda.”
Kamila hanya tersenyum menanggapi perkataan Uwaknya.
“Ning,ceuceu ada perlu sebentar,” Ningrum mencolek tangan Nining. Nining pun langsung berdiri dan mengikuti langkah kakaknya ke ruang tengah yang hanya di batasi pintu kaca. Kamila bisa melihat dengan jelas Ningrum tampak bicara serius kepada ibunya. Dan tak lama ibunya langsung masuk ke kamarnya. Dan saat keluar ia memberikan sejumlah uang pada Ningrum. Sudah bias ajika Ningrum meminjam uang kepada ibunya. Uwaknya itu janda, dan hidupnya hanya mengandalkan dari uang pensiun almarhum suaminya.
“Neng, mau ikut Uwak nggak? Mumpung libur,jangan di rumah terus,” kata NIngrum pada keponakannya itu.
“Emang mau ke mana,Wak?’ tanya Kamila.
“Udah,hayu ikut aja sambil jalan-jalan. Uwak mau ke gunung Lingga.”
“Ih,si Uwak mah ngajak ke gunung,atuh.”
Nining hanya tertawa kecil melihat Kamila mencibirkan bibirnya.
“Wak Ningrum mau berobat,Neng. Teteh kamu itu kayanya ada yang guna-guna. Makanya,Wak Ningrum mau ke gunung Lingga. Di sana ada yang bisa nyembuhin dari guna-guna,ilmu pelet,teluh,gitu,Neng. Kalau kamu penasaran mau ikut nggak apa-apa.Sekalian temenin Teh Nur sama Uwak kamu. Kamu kan bisa bawa mobil, kasian Uwak kamu nggak ada yang antar,” kata Nining.
Sebenarnya Kamila malas,karena perjalanan dari Situraja ke gunung Lingga itu lumayan jauh,memakan waktu sekitar kurang lebih satu jam. Tapi,mendengar kata pelet Kamila mendadak ingat pada Abimanyu.
“Ya sudah, Mila antar,ya Wak.”
“Nah,gitu atuh neng, pahala bantu orang tua,” kata Nining.
Kamila hanya tersenyum, ia pun segera mengambil kunci mobil dan langsung mengajak uwaknya untuk segera berangkat.
“Wak,emangnya ilmu pelet itu ada?” tanya Kamila penasaran. Ningrum menoleh sambil terkikik geli.
“Yaa da atuh,Neng. Sebenarnya ilmu Ghoib begitu ada kok. Neng Mila mau sekalian minta ajian ilmu pelet? “ tanya Ningrum.
“Ih,si Uwak mah ada-ada aja,” kata Kamila berpura-pura.
“Ada neng kalo Neng Mila mau, namanya ajian jaran goyang,Neng. Syaratnya memang berat,tapi kalo Neng Mila kuat,dijamin lelaki yang Neng Mila taksir bakalan bertekuk lutut sama Neng Mila.”
“Ah,serius sih Wak,”kata Kamila.
“Iya Neng, nanti kalau Neng mau kita sekalian tanya ya.”
Kamila mengulum senyum, pucuk di cinta ulam tiba. Memang ini yang ia cari,kebetulan sekali Uwaknya sendiri yang tau. Minimal, jika terpaksa membayar pun tidak akan tertipu.
Tiba di gunung lingga mobil yang dikendarai oleh Kamila berhenti di sebuah warung,karena perjalanan menuju ke rumah Nyai winarsih hanya dapat di tempuh dengan berjalan kaki.
“Mobil saya titip di sini aman,kan?” tanya Kamila pada pemilik warung.
“Aman kok,Neng asal Neng kunci aja,” kata ibu pemilik warung.
Kamila, Nur dan Ningrum meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pondok kecil. Pondok itu terbuat dari anyaman bambu. Kamila tidak dapat membayangkan jika malam tiba pasti akan sangat dingin jika tidur di dalam pondok seperti itu.
Belum sempat mereka mengetuk pintu, pintu pondok itu sudah terbuka. Dan seorang wanita cantik keluar. Kamila mengerutkan dahinya. Wanita itu tampaknya seperti baru berusia 25 tahun. Apa benar wanita semuda ini bisa mengobati orang.
“Saya tidak memaksa kamu untuk percaya pada saya,Neng. Kalian kemari mau mengobati teteh yang berbaju kuning ini ,kan? Dan kamu ingin tau apakah saya bisa memberikan kamu ilmu untuk membuat pria yang kamu cintai berbalik mencintaimu,kan?”
Kamila terkejut setengah mati. Bagaimana wanita di hadapannya ini bisa tau.
“Masuklah…” kata wanita itu lagi.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam. Pondok itu sangat sederhana. Hanya ada selembar tikar di lantai. Di dalam pondok hanya ada ruangan kecil dan satu kamar.
Mereka pun duduk di lantai. Nyai Winarsih melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dan saat keluar dia membawa selembar kertas dan tiga lembar daun kelor.
“Ini untukmu, kau cukup melakukan puasa mutih selama 7 hari 7 malam di mulai dari malam jumat kliwon. Hanya boleh makan sekepal nasi putih setiap maghrib. Setiap tengah malam kau baca matra yang ada dalam kertas itu. Dan di malam terakhir kau sebutkan nama pria yang kau cintai. Dia akan mencarimu bahkan dalam pikirannya hanya ada dirimu.”
Kamila hanya mengangguk, “Te-terima kasih,Nyai.”
“Lalu bagaimana nasib anak saya,Nyai?” tanya NIngrum.
Nyai Winarsih meraih daun kelor yang ada di tangan Ningrum lalu ia menempelkan ke dahi dan perut Nur. Kamila terbelalak saat melihat ada sinar berwarna biru keluar dari telapak tangan Winarsih.
Dan tiba-tiba saja, Nur terbatuk -batuk dan tiba-tiba saja ia muntah darah. Bukan hanya darah,tapi juga keluar binatang seperti belatung dan juga lintah. Kamila tersentak melihat itu semua.
Nyai Winarsih mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Nur.
“Minumlah. Nah,ini ada garam, kau campurkan dengan garam yang ada di rumahmu. Taburkan setiap sore mengelilingi rumahmu. Sekarang kalian bisa pulang.”
Ningrum langsung memberikan amplop berisi uang kepada Nyai Winarsih. Namun wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Bawa saja uang kalian. Kelak aku akan datang untuk meminta hal yang lain pada kalian sebagai bayaran.”
Kamila hanya bisa terheran-heran. Tapi, mereka tidak berani untuk bertanya lagi. Mereka bertiga pun segera pulang.
Sampai di warung tempat mereka menitipkan mobil, ibu penjaga warung itu tersenyum menyambut mereka.
“Wah,saya kira kalian hanya sebentar, ternyata sampai sehari semalam. Kalian habis berziarah ke makam prabu Tajimalela,ya?” tanyanya ramah. Namun membuat ketiganya keheranan.
“Tapi, kami rasanya hanya sekitar dua atau tiga jam kok,Bu. Bagaimana bisa sehari semalam?” tanya Kamila keheranan.
“Kalian ini mimpi atau bagaimana? Kalian datang itu kemarin sekitar jam 11. Semalam saya pulang,untung saja semalam banyak orang yang berziarah ke makam. Jadinya warung ini buka 24 jam.”
Kamila dan Ningrum hanya bisa merasa heran dan bulu kuduk mereka merinding seketika.
“Terima kasih, Bu. Kami permisi dulu kalau begitu,manga Bu.”
“Mangga,Neng.”
Kamila dan Ningrum saling berpandangan.
“Perasaan kita tadi hanya sebentar,kan. Tapi,kenapa Ibu warung tadi bilang kita seharian. Kok aneh sekali,” kata Kamila.
“Uwak juga bingung.”
“Uwak sebelumnya sudah pernah ke tempat tadi?” tanya Kamila.
“Uwak juga diberitahu oleh kawan uwak. Katanya sih memang jago dan paten, tapi teman uwak nggak bilang kalau aneh begitu.”
Kamila tidak menjawab perkataan uwaknya lagi. Ia hanya bisaa menyimpan seribu pertanyaan dalam hatinya.