Angin bertiup semilir malam itu. Dingin menggigit tulang. Dewi Karunyan tidak bisa memejamkan matanya. Dia hampir gila.
Semua kejadian itu berjalan sangat cepat. Amat sangat cepat, dan hampir tidak bisa dipahaminya. Dia tidak bisa mencerna semua yang lewat di depan matanya.
Pagi itu dia bangun seperti biasa. Dia mandi pada pagi buta, berganti baju dengan baju yang sudah disediakan mbok Jum. Dia menyisir rambut panjangnya dan mengepangnya, ketika mendengar seruan-seruan marah itu. Dia segera berlari ke arah jendela dan melihat keributan itu.
"Kita cari Ammar! Kita harus membunuhnya!"
Dada Dewi bagaikan dipalu mendengar seruan-seruan marah senada. Berarti tadi malam ada yang melihat mereka berdua. Dewi terduduk lemas. Tapi aneh kalau tidak ada yang melihat mereka berdua. Mereka berdua pastilah sangat mencolok. Amamr yang bertampang kuli, dan Dewi yang sangat priyayi, pastilah mereka dilihat orang dengan jelas.
Pasti orang-orang itu telah melihat mereka. Pasti salah satu mbok emban atau jongos bapaknya yang melaporkannya, atau mungkin warga yang ingin dapat imbalan uang.
Air mata mengalir di pipi Dewi ketika melihat beberapa mobil boks berangkat mengangkut pekerja bapaknya menuju ke Parak. Mereka memakai baju hitam dan membawa berbagai senjata yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Dewi ada di dunia ini.
Kenapa butuh orang sebanyak itu untuk membunuh Ammar saja?
Hati Dewi berontak. Dia bangkit dan hendak berlari keluar kamar. Tapi pintu kamarnya terkunci dari luar. Dia berusaha mendobrak pintu itu, dia berteriak-teriak meminta bantuan. Tapi tetap saja sunyi yang menyambutnya.
Dia terlalu akrab dengan kesunyian. Dia terlalu dekat dengan kesendirian. Dewi terduduk di lantai dengan lemas. Dia menangis sejadi-jadinya, hatinya bagai diremas.
Setitik harapan kebahagiaan yang muncul di hatinya terhapus oleh badai besar. Bahkan titik itu belum lagi mewujud, belum lagi merebak menjadi bunga harapan.
Dia segera berlari ke jendela kamarnya, ingin melihat atau mendengar sisa setitik harapan itu, dan kemudian dia sadar. Jendela itu bisa dibuka dengan mudah. Dewi berseru gembira, dia segera membuka jendela itu dan melompatinya seperti tadi malam.
Dan Dewi berlari menembus dinginnya fajar.
****
Sebenarnya lari bukanlah pilihan, tapi Dewi tidak bisa menahan kesabarannya melihat apa yang akan dilakukan bapaknya pada Ammar, yang sekarang ditahbiskannya sebagai kekasih hatinya. Sehingga jadilah Dewi yang tidak pernah berjalan jauh, kini berlari. Tidak mempedulikan rambut dan bajunya yang tak menentu lagi.
Jarak rumahnya dengan dusun Parak agak sedikit jauh, dan belum lagi Dewi sampai di dusun itu, Dewi sudah bisa melihat bubungan api di cakrawala. Dari jarak sejauh itu dia bisa mendengar teriakan-teriakan warga dusun Parak.
Hatinya mencelos.
Kenapa semua warga berteriak-teriak? Pertanyaan itu tidak perlu jawaban. Sebentar saja orang-orang berlarian ke arahnya. Dewi segera bersembunyi dan dia mendengar teriakan-teriakan itu.
"Ndara Kamawijaya ngamuk! Ndara Kamawijaya ngamuk! Ayo lapor polisi!"
"Tapi rumah kita bagaimana?"
Orang-orang itu berdiri melingkar, kebingungan.
"Tapi kita tidak bisa melawan ndara Kamawijaya sendiri!"
"Kalau kita lapor polisi apa polisi akan berani menangkap ndara Kamawijaya? Bukankah selama ini dia selalu mengkorupsi dana desa tapi tidak ada yang berani bertindak?"
"Tapi ini, kan, bukan korupsi! Ini pembunuhan!"
"Ya, ini pembantaian! Kita harus lapor polisi!"
Mereka berteriak setuju.
"Bapak! Bapak!" Seorang anak kecil berlari mendekati lingkaran lelaki risau itu. Anak itu menangis dalam diam dan langsung memeluk salah seorang lelaki yang ada di dalam lingkaran itu.
"Ibuk, Pak! Ibuk dibunuh, Pak!" Tangisnya sambil menunjuk ke arah dusun Parak.
Lelaki itu luruh. Dia langsung menggendong anaknya dan berlari kembali ke dusun Parak.
Sunyi.
Butuh beberapa waktu untuk menyadari semua itu, sekumpulan lelaki itu langsung berlari kembali ke dusun Parak, mereka melupakan semua kekhawatiran tentang perdebatan mereka tentang akankah mereka akan lapor polisi atau tidak. Mereka bergegas mencari keluarga mereka masing-masing, yang tadi mereka tinggalkan dalam keadaan baik-baik saja. Mereka takut keluarga mereka menjadi korban kemarahan ndara Kamawijaya
Dewi melihat dan mendengar semua adegan itu dengan lelehan air mata dan seruan tertahan. Jadi bapaknya memang sudah kelewatan. Sudah sangat kelewatan.
Dewi menangis terisak.
Dia menjerit dalam luka hati yang terkoyak. Dusun Parak sepertinya sekarang sudah hancur, sudah lebur. Bukan hanya secara fisik, bukan hanya dari luar, tapi dari dalam, dari dalam hati warganya.
Dewi tahu dia tidak perlu melihat semua itu. Dia pasti akan sendiri lagi. Dengan atau tanpa tindakan brutal bapaknya ini, dia pasti akan sendiri. Dia tahu kalau dia diciptakan untuk sendiri, untuk digunjing, untuk nelangsa, untuk berduka.
Akhirnya Dewi memutuskan untuk berjalan pulang ke rumahnya. Dia berjalan dengan tertatih, kakinya sakit, bahkan berdarah, dia baru menyadari dia tidak memakai alas kaki. Tapi Dewi tidak peduli.
Dia menangis, rambutnya yang acak-acakan dijambakinya sepanjang jalan sambil berteriak menahan lara.
Dia tahu sejak dulu orang-orang berbisik-bisik di belakangnya, menggunjingkan wajahnya yang berbeda. Dia ingat semua kata gunjingan mereka, tapi dia diam dalam lara.
"Dia, kan anak gundik ndara Kamawijaya!"
"Hush! Dia itu anak selingkuhan ndara Kamawijaya dengan Cik Lam!"
"Cik Lam yang jualan roti di pasar?
"Iya! Cik Lam sudah diusir keluarganya karena berselingkuh dengan ndara Kamawijaya, tapi ndara Kamawijaya menolak cik Lam di rumahnya! Ndara hanya ingin anaknya!"
Benarkah demikian?
Sampai sekarang Dewi tidak pernah menanyakan hal itu pada bapaknya.
****
Dewi memasuki rumahnya dengan hati hampa. Semuanya berjalan dengan sangat cepat, bagai kilatan gambar tak beraturan. Dia termangu di depan kamarnya yang terkunci dari luar.
Di lupa tadi dia keluar lewat jendela. Tapi Dewi tidak peduli. Dia duduk di kursi ruang tamu hingga malam tiba.
Dewi tidak mempedulikan keributan yang terjadi ketika bapaknya pulang. Dia menurut ketika Dewi diseret ke kamarnya dan sekali lagi dikunci di dalam kamar itu. Dewi membaringkan badannya dengan hati yang kebas dan mati.
****
Ammar terbangun dari tidurnya yang resah. Dia merasakan tubuhnya diseret melewati jalan tanah yang tak rata. Sakit. Sakit. Sakit. Perih dan lara. Hanya itu yang bisa dirasakannya.
Ammar tersadar sepenuhnya. Dia berusaha membuka matanya. Tapi tidak bisa sempurna. Hanya sedikit cahaya yang bisa dilihatnya. Ammar tidak tahu dia mau dibawa ke mana. Dia hanya merasa letih dan remuk. Hatinya remuk mengingat mbakyunya dan simboknya.
Mbakyunya yang pertama akan menikah lagi, dan mbakyunya yang kedua juga akan menikah. Ah, di mana mereka sekarang, ya? Di mana simboknya yang akan diantarkannya ke sawah dengan sepedanya.
Mengingat sepeda hati Ammar mencelos.
Bukankah tadi malam dia memboncengkan Dewi dengan sepeda itu. Tiba-tiba dia sangat membenci Dewi, kenapa Dewi mesti tersenyum padanya kemarin. Kenapa Dewi harus menggodanya? Kenapa Ammar harus tergoda? Kenapa Ammar mau mengantarkan Dewi?
Air mata duka meleleh di pipi Ammar. Sakit sekali. Perih.
****
"Dia menangis!"
"Kasihan dia! Yang satu ini jangan dikorbankan saja!"
"Kenapa? Jarang ada orang mati sebanyak ini? Pancasona pasti senang!"
"Aku merasa ada sesuatu pada dirinya, Nyai! Dia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam dirinya!"
"Kekuatan yang lebih besar dari pada kekuatan kita?"
"Ya! Jauh lebih besar daripada kekuatan kita bertiga digabungkan!"
"Jangan ngawur kamu! Dia tidak memiliki kekuatan ilmu hitam! Tapi aku bisa merasakannya kekuatan itu!"
"Kekuatan apa itu, Nyai?"
"Kekuatan dendam dan kebencian!"
Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Ammar yang timbul tenggelam dalam kesadarannya. Dia hanya merasa janggal. Berarti dia tidak diseret oleh ndara Kamawijaya. Dia diseret oleh orang lain. Entah siapa. Dia tidak tahu.
****
Ammar terbangun dalam sebuah gua besar. Hal pertama yang dilihatnya adalah tumpukan tulang di tengah gua. Tulang-tulang itu sangat banyak sehingga menutup pandangan Ammar sepenuhnya.
Ammar merasakan letih dan sakit mendera tubuhnya. Dia berusaha bangkit. Tapi gagal. Tubuhnya lemah. Kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Ammar waspada, tapi juga pasrah, dia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.
Seorang wanita muda mendekatinya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya wanita itu lirih.
Ammar mengangguk.
"Nyai! Agus! Pemuda itu sudah bangun!" Teriak sang wanita.
Dia membantu Ammar duduk di dipan yang ditidurinya. Seorang wanita dan laki-laki mendekatinya.
"Oh! Untunglah! Kukira dia tidak akan pernah bangun lagi!"
"Apakah kamu baik-baik saja, Nak?"
Ammar mengangguk.
"Kamu pasti lapar, kan? Haus?"
Ammar mengangguk. Mereka bertiga dengan cekatan membantu Ammar dan melayaninya dalam diam. Hingga Ammar akhirnya tertidur lagi. Kelelahan.
****
Dewi tidak pernah menolak apapun yang diberikan oleh mbok Jum padanya. Dia tidak pernah menolak perintah bapaknya. Dia selalu menurut dan tidak pernah satu kalipun menyangkal bapaknya.
Dewi menarik dari dari dunia kenyataan. Dia menyendiri dalam kepompong kesendirian. Dia bukan lagi Dewi yang dulu. Dia adalah Dewi yang baru, Dewi yang sudah tidak menganggap dirinya ada.
Setiap hari dia berdiri mematung di depan jendela kamarnya. Dia akan berdiam di sana sampai malam tiba. Dia tidak pernah bicara, jarang sekali berpindah dari posisinya.
Sampai hari itu tiba.
Beberapa petugas polisi mendatangi rumah ndara Kamawijaya. Mereka membawa mobil besar. Mereka hendak menangkap bapaknya. Dewi hanya memandang tak berdaya ketika melihat perdebatan itu. Dia memandang kosong.
"Mbak! Mbak Dewi!" Sebuah suara lembut mengalun di telinga Dewi.
Dewi menolehkan kepalanya.
"Mbak Dewi ingat kejadian malam itu?" Tanya seorang wanita yang berada di sebelah Dewi. Dewi mengangguk dan kemudian dia menjawab lirih.
"Ammar berjanji padaku malam itu. Dia berjanji akan mengajakku menonton wayang pada malam Sabtu. Hanya kami berdua. Tidak ada larangan bapak lagi! Bapak tidak akan pernah marah lagi!" Bisik Dewi lirih, matanya masih kosong.
Sang penanya terkejut. Dia melonjak kaget.
"Ndara putri memang selalu bilang seperti itu sejak kejadian malam itu, Bu," kata mbok Jum, "Dia tidak pernah mengucapkan kata lain, selain Ammar berjanji, Ammar berjanji..." isak mbok Jum.
"Ammar itu siapa, Mbok?" Tanya sang polisi wanita itu dengan sabar.
"Ammar adalah pemuda dari Parak, Bu. Dia sering jadi buruh musiman di sini saat panen. Kalau sehari-hari dia jadi kuli panggul di pasar besar."
"Ceritanya bagaimana, Mbok?" Tanya polisi itu lagi.
Dengan deraian air mata mbok Jum menceritakan kejadian malam dan pagi hari itu. Dengan mata kepalanya sendiri, mbok Jum melihat bagaimana Dewi melompati jendela, membonceng Ammar dan pergi ke sawah bersama Ammar.
"Saya seharusnya melarang ndara putri waktu itu, ya, Bu. Tapi saya diam saja. Saya membiarkan ndara putri ikut dengan Ammar," isak mbok Jum, "Dan sekarang semua malah jadi korbannya! Satu dusun jadi korbannya!" Seru mbok Jum histeris.
Polisi wanita itu memeluk mbok Jum dengan lembut. Dia ikut merasakan kegetiran yang dirasakan oleh mbok Jum. Dia sendiri ngeri mendengar kabar bahwa ada seorang kepala desa yang mengamuk dan membakar dusun di kawasan desanya. Dia membunuh banyak orang dan meratakan dusun itu dengan tanah. Dan setelah mendengar cerita itu sendiri, polisi itu tambah merinding dan bergidik.
Tadi dia sudah mengunjungi dusun tersebut bersama dengan teman-temannya dan atasannya. Dusun itu jadi begitu menyeramkan. Sisa-sisa rumah yang masih berantakan, belum selesai dibersihkan, banyak benda-benda yang terbengkalai dan tidak ada orang satu pun di sana. Sepi. Menegangkan dan menakutkan. Begitu tintrim.
Atasannya mengatakan bahwa seharusnya dusun itu diubah namanya menjadi Tintrim saja.
****
Ammar sudah sehat sekarang.
Setahun sejak kejadian mengerikan pada saat fajar itu. Dan Ammar berubah menjadi orang yang kuat luar dalam. Dia menjadi seorang yang tabah, sabar, tapi sayang tidak pernah tersenyum.
Dia tinggal di dalam gua di bukit kapur dekat sungai bersama dengan tiga orang sahabat yang cukup ganjil. Seorang wanita berumur empat puluhan, tubuhnya tinggi kurus bernama Lasmi, wajahyha nampak galak dan menantang. Wanita kedua bertubuh kecil pendek, berambut panjang dan cantik, bernama Lasiyem, dialah yang disebut nyai oleh kedua sahabatnya itu, sementara yang satu lagi adalah seorang pria tinggu besar dan rupawan, bernama Agus.
Ammar mengagumi mereka bertiga. Dia dirawat dan diberi makan mereka bertiga. Setelah dia sembuh sepenuhnya, mereka bertiga mengajari Ammar ilmu kanuragan dan ilmu hitam. Dan, inilah bagian yang paling disukai Ammar. Dengan belajar ilmu itu, perlahan Ammar melupakan semua kejadian yang dialaminya setahun yang lalu.
"Kamu tidak ingin pulang, Mar?" Tanya Agus pada suatu malam.
Ammar tersenyum tipis.
"Saya malah ingin pergi dari sini saja," jawab Ammar pendek. Dia tidak mau membayangkan pulang ke rumahnya, ke dusunnya, yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Dia menyunggingkan senyum.
"Tapi sebelum pergi saya ingin minta tolong pada Pak Agus dan nyai berdua," kata Ammar.
Mereka bertiga berpandangan.
"Minta tolong apa, Mar?"
Lasiyem yang bisa membaca pikiran menyunggingkan senyum. Dia tahu maksud Ammar.
"Saya akan menepati janji saya pada Dewi," bisik Ammar pelan.
Tiba-tiba Lasiyem menjengit. Dia menatap Ammar tak percaya.
"Apa yang kamu pikirkan itu sangat berbahaya, Mar!" Seru Lasiyem.
Ammar tertawa.
"Dari semua ritual mengumpulkan mayat orang Parak, membakarnya, meminum darah mereka dan memanggil Pancasona, saya rasa permintaan saya tidak seberapa ngerinya, Nyai," jawab Ammar tenang.
"Apa maksudnya, Nyai?" Tanya Lasmi dan Agus hampir bersamaan kepada Lasiyem.
"Ammar minta tolong kita melakukan pujon!" Desis Lasiyem.
Lasmi terlonjak. Dia belum pernah melakukan pujon sebelumnya. Agus tersenyum lebar.
"Aku suka caramu balas dendam! Aku mau membantumu!" Jawab agus mantap dan penuh percaya diri. Agus pernah melakukan pujon.
Ammar pun tersenyum. Dia tahu pasti mereka tidak bisa melawan godaan melakukan pujon. Dia tahu mereka pasti akan menolongnya.
"Tolong carikan saya bayi dari dukun yang paling sakti! Agar bayi itu kelak bisa membalaskan dendam saya pada Kamawijaya dan Dewi!" Bisik Ammar miris.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia masih mengharap dia dan Dewi bisa bersatu, walaupun mereka sudah dilerai oleh takdir yang begitu kejam, tetap saja Ammar masih memiliki secercah harapan.
Agus, Lasmi dan Lasiyem menyanggupinya, mereka butuh waktu satu bulan untuk melakukan semua prosesi pujon itu.
****
Malam itu udara dingin. Sekarang menjelang musim kemarau. Udaranya dingin menggigit tulang.
Dewi menutup jendelanya. Dan terduduk di tempat tidurnya. Dia sekarang tidak sendiri lagi. Bapaknya sudah dikeluarkan dari penjara, bapaknya hanya dipenjara selama tiga bulan, tidak lebih tidak kurang. Dari semua kebengisan yang dilakukan bapaknya dia hanya dihukum tiga bulan penjara.
Dan sekarang bapaknya, Ndara Kamawijaya, sudah melakukan semua aktivitas biasa. Dewi Karunyan menangis. Dia sedih dan menyesal kenapa dia masih hidup dan tidak menyusul Ammar mati saja. Dia tidak ingin hidup.
Dewi membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya yang empuk. Dewi merasakan belaian angin diperutnya. Aneh! Angin itu terasa agak hangat, tidak dingin seperti seharusnya.
Dewi resah. Hembusan angin hangat itu membuatnya tidak bisa tidur. Dan Dewi mulai merasakan perubahan pada perutnya.
****
Keesokan harinya terdengar teriakan keras dari rumah ndara Kamawijaya. Dewi Karunyan melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Yang menjadi buah bibir warga sekitarnya. Menjadi bahan pergunjingan warga Parak, yang sekarang sudah diubah namanya menjadi Tintrim karena sepi dan seramnya.
Mereka menggunjingkan bahwa Dewi Karunyan selama ini berpura-pura gila dan sering tidur dengan banyak pria. Ada juga yang mengatakan bahwa Dewi Karunyan dikirimi bayi secara gaib, karena selama ini memang tidak pernah terlihat hamil. Berita simpang siur itu begitu heboh, tapi Dewi Karunyan tidak peduli. Bayi itu malah membuatnya kembali sadar akan dirinya sendiri, membuatnya kembali kepada Dewi Karunyan yang dulu.
Dewi Karunyan merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang dan memberinya nama Harjo Kusumo.
****
Ajaib memang.
Jarak antara gua tempat Ammar menetap selama ini dengan rumah Dewi hanya beberapa ratus meter, bahkan dari sudut tertentu di sungai Ammar bisa melihat pagar rumah Dewi. Tapi Ammar tidak punya keberanian untuk melihat rumah itu. Dia tak punya hati.
Tapi pagi itu Ammar berdiri di sudut sungai terjauh. Di mana dia bisa melihat rumah Dewi dengan jelas. Dia bahkan bisa melihat Dewi yang sedang berjemur di depan rumahnya dengan mbok Jum dan bayi yang digendongnya.
Hati Ammar perih. Betapa dia ingin berada di sisi Dewi saat ini. Air matanya mengalir perlahan.
"Kuasai dulu ilmu alih rupa, baru datangi dia!" Bisik Agus.
Ammar menghela nafas panjang.
"Apa bisa, Pak?"
"Aku sering melakukannya," bisik Agus, "Jangan pergi dulu! Tetaplah di sini, belajar denganku!" Kata Agus lagi.
Ammar memejamkan matanya.
"Kamu bisa menepati janjimu pada Dewi," bisik Agus lagi.
Ammar diam. Tidak bisa menjawab perkataan Agus barusan, dia sebenarnya ingin, sangat ingin melakukan hal itu. Tapi...
"Kamu harus kuat! Perjuangkan cintamu! Jangan sampai kamu menyesal!"
Air mata itu menetes juga. Buliran demi buliran menetes terus tanpa henti. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Saya tidak bisa, Pak!" Bisik Ammar, "Saya tidak bisa!"
"Karena keluargamu?"
Ammar mengangguk.
"Saya mengkhianati ibu saya dan kakak saya kalau menemui Dewi!" Bisik Ammar.
"Kau tidak ingin membalaskan dendammu?"
Ammar memejamkan matanya. Berat hatinya ingin mengatakan kepada Agus bahwa dia tidak peduli lagi dengan dendamnya, dia hanya ingin melihat Dewi bahagia, itu saja.
Agùs melihat ketidakpastian di mata Ammar. Dia meninggalkan Ammar sendirian. Dia membiarkan Ammar berpikir dan meresapi apa yang dihadapinya sekarang. Agus tahu, Ammar sedang dilema.
****
Dewi Karunyan menimang anaknya yang lucu dan sehat. Mbok Jum prihatin melihat ndara putrinya yang berwajah begitu bergembira, begitu sumringah, begitu bahagia. Wajahnya begitu bercahaya. Tak terkira rasa di wajah itu. Mbok Jum belum pernah melihat wajah ndara putrinya begitu cerah.
"Ndara, pun panas, nggo mlebet riyin! (Ndara, sudah panas, ayo, kita masuk dulu!)" Kata mbok Jum.
Dewi mengangguk, mbok Jum segera menggendong bayi mungil itu. Dia juga gemas melihat bayi tiban itu. Dia juga jatuh cinta dengan bayi laki-laki itu.
"Dia lucu, kan, Mbok?"
Mbok Jum mengangguk.
"Lucu sekali! Gemes, aku! Pengen tak cubit! Pengen tak uyel-uyel!" Kata mbok Jum gemas.
Mereka berdua tertawa bahagia. Kedatangan bayi itu membuat rumah itu begitu berbeda, begitu bersemangat.
"Namanya Harjo Kusumo, kan, Ndara? Kalau saya panggil den Arjo apa Aryo, boleh, kan, Ndara?"
"Boleh, Mbok!" Jawab Dewi kegirangan. Dia juga gemas melihat anak kecil yang terkantuk-kantuk itu. Dia merasa bayi mungil itu adalah kiriman dari Ammar, dia sangat ingin tahu tentang hal itu.
"Mbok Jum, boleh saya minta tolong?" Tanya Dewi.
"Nggih, Ndara?"
"Mbok Jum bisa mencarikan saya orang pintar tidak, Mbok? Saya ingin tahu Arjo ini dari siapa," kata Dewi lirih.
Mbok Jum terkejut. Dia heran kenapa Ndaranya itu malah ingin mencari masalah baru.
"Buat apa, Ndara? Ini, kan mencari masalah baru!" Protes mbok Jum.
Dewi membuang mukanya. Dia menitikkan air mata.
"Apa benar bayi ini dari Ammar, mbok?"
Mbok Jum melengak mendengar pertanyaan Dewi.
"Darimana ndara Dewi bisa berpikir seperti itu?" Seru mbok Jum.
Dewi terisak.
"Karena itu aku ingin tahu siapa yang mengirim bayi ini, Mbok!" Jawab Dewi dengan sedih.
Mbok Jum memejamkan matanya. Dia hampir mengatakan bahwa Dewi tidak perlu lagi mencari tahu siapa yang mengirim bayi itu, karena mungkin dia nanti akan kecewa.
"Bisakah, Mbok?" Tanya Dewi lagi.
Mbok Jum menghela nafas panjang. Dia mengangguk juga. Dia memang tidak bisa menolak perintah ndaranya.
****
"Kurasa kita terlalu lama di sini," kata Lasmi kepada Lasiyem dan Agus, "Kita harus berpindah tempat," kata Lasmi lagi.
"Benar juga! Kurasa kita harus mencari tempat baru dan ilmu baru!" Kata Lasiyem.
Agus diam saja. Dia masih punya satu misi yang harus diselesaikannya.
"Aku akan di sini dulu sementara waktu," jawab Agus pendek.
Lasmi dan Lasiyem memandangnya tak percaya.
"Mau apa? Apa karena Ammar?" Tanya Lasmi.
Agus mengangguk.
"Kenapa?"
"Aku kasihan melihatnya dilema dengan kehidupan cintanya."
Lasmi memejamkan matanya tak percaya.
"Kamu perlahan berubah jadi orang yang baik, Gus! Lihat saja! Pertama Ammar! Kamu kasihan padanya yang selalu berdiri di tepi sungai sambil melihat rumah gadis itu. Besok lagi, kau akan menolong orang lain, orang lain, orang lainnya lagi dan tiba-tiba saja kamu berubah jadi Agus yang baik hati dan berhati lurus! Kamu lupa tujuan kita berkelana selama ini!" Kata Lasmi.
"Sudah kuduga sejak awal itu yang akan kamu lakukan!" Desis Lasmi menahan marah.
"Kamu juga pernah melakukan hal itu, kan?" Kata Agus tak mau kalah, "Kamu malah pernah jadi gundik seorang lelaki hidung belang! Dan bilang tidak akan ikut lagi berkelana! Tapi lihat sekarang! Kamu malah yang paling bawel mengingatkan perjalanan kita!" Kata Agus marah.
Lasmi sudah siap hendak menyemprot Agus, ketika Ammar berdiri di depan mereka.
"Saya akan pergi ke rumah Dewi besok. Terima kasih sekali sudah mengajari saya banyak hal selama ini," kata Ammar lirih, dia takut mengganggu percakapan ketiga sahabat itu.
Mereka bertiga berpandangan kebingungan.
"Mau apa kamu ke sana, Mar? Kamu belum menguasai ilmu beralih rupa, kan?" Tanya Agus panik.
Ammar menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak butuh itu. Saya hanya ingin melihat Dewi dari dekat, setelah itu saya akan pergi jauh," jawab Ammar.
Mereka semua terdiam.
"Duduklah, Mar! Sabar sebentar, ambil nafas dulu," kata Agus membujuk Ammar agar lebih tenang.
Ammar menurut dia duduk di samping Agus.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Agus.
Ammar tersenyum.
"Saya dengan kabar di pasar bahwa ndara Kamawijaya mencari orang pintar. Saya akan mencoba berpura-pura menjadi orang pintar dan akan ke rumah ndara Kamawijaya," jawab Ammar pendek.
Lasiyem tersenyum lebar.
"Aku percaya padamu, Mar! Kamu bisa dibilang sudah ahli dalam ilmu hitam dalam waktu singkat, aku sangat terkesan!" Kata Lasiyem lagi.
"Kamu yakin kamu tidak perlu ajian alih rupa?" Tanya Agus memastikan.
Ammar menggelengkan kepalanya.
"Setiap hari saya ke pasar, dan sepertinya tidak ada seorang pun yang mengenali saya," kata Ammar.
"Tapi kalau Dewi apa tidak mengenalimu, Mar?" Tanya Agus.
Ammar tersenyum.
"Kalau dia memang mengenali saya, dia pasti mau menyimpan semua rahasia itu," bisik Ammar sambil berwajah cerah.
Agus menghela nafas panjang. Seperti Ammar memang sudah memahami apa yang akan dihadapinya kini. Agus menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! Pergilah, Mar! Aku percaya kamu pasti bisa menaklukkan hati Dewi," kata Agus.
Ammar mengangguk penuh rasa syukur, dia sangat senang mendapay restu dari guru-gurunya.
****
Malam beranjak larut.
Lasmi, Lasiyem dan Agus masih mengitari perapian. Mereka diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Apa kamu yakin Ammar akan selamat?"
"Ammar memiliki kekuatan yang tidak kita punya!"
"Sepertinya dia terlalu lembut untuk balas dendam, kan?"
Agus tersenyum.
"Kamu benar sekali, Mi! Dia tidak ingin balas dendam. Dia hanya ingin bertemu dengan Dewi."
Mereka diam lagi.
"Jadi kekuatan apa yang ada pada diri Ammar?"
Agus menoleh ke arah Lasiyem dan Lasmi.
"Kekuatan itu bernama cinta!"
****
Agus melihat dari kejauhan bagaimana Ammar mengetuk pintu rumah ndara Kamawijaya. Dia melihat Ammar masuk ke rumah itu dengan mudah. Dia merasa Ammar akan baik-baik saja.
Agus menoleh ke arah Lasiyem dan Lasmi.
"Kurasa kalau kalian ingin melanjutkan perjalanan inilah saat yang paling tepat," kata Agus.
Dua sahabatnya menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu masih mau menunggui pemuda itu?" Tanya Lasmi.
"Melihat pemuda itu seperti melihatku dalam cermin. Dulu aku tidak berani mengejar cintaku. Dan sekarang aku menyesalinya. Aku tidak ingin Ammar menyesali pilihan hidupnya," kata Agus pelan.
Lasiyem menghembuskan nafas panjang.
"Kamu ingin melindungi pemuda itu, kan, Gus?"
Agus menoleh, dan mengangguk.
"Sejak pertama aku melihat luka-luka di tubuhnya, aku teringat pada diriku sendiri," bisik Agus, "Ketika melihat dia bisa bertahan aku tahu, Ammar bisa bertahan menghadapi apapun di dunia ini!"
Lasmi dan Lasiyem termenung. Mengingat bagaimana mereka dulu bertemu. Situasinya hampir sama ketika mereka bertemu dengan Agus, seorang pemuda yang hampir tewas dikeroyok warga karena mencuri. Mereka membantu Agus, merawat Agus atas dasar kasih sayang dan mengajari berbagai macam ilmu hitam, hingga mereka menjadi sahabat sampai sekarang. Entah sudah berapa puluh tahun mereka berkelana bersama.
Lasmi merasa sedih.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Gus! Aku akan menemanimu di sini!" Kata Lasmi. Lasiyem mengangguk setuju.
"Ya! Kurasa tempat ini cukup seram! Aku akan menggunakan tempat untuk mencari makan!" Kata Lasiyem sambil tertawa.
Tawa itu menular. Mereka bertiga tertawa. Dan merasa bahwa persahabatan mereka memang tidak bisa tergoyahkan oleh apapun.
****
Desa Parak Ageng memiliki tiga buah dusun. Ada dusun Parak, Parak Wetan dan Parak Kulon.
Sejak peristiwa pembakaran dusun Parak oleh kepala desa mereka sendiri, sebagian besar warga dusun Parak meninggal menjadi korban, dan sisanya yang masih hidup, memilih untuk pergi sejauh-jauhnya, menghilangkan luka dan trauma. Sementara warga dusun lain pun melarikan diri ketakutan. Mereka takut kepala desa mereka akan membakar dusun mereka juga.
Akhirnya desa Parak Ageng menjadi desa yang begitu sepi dan seram. Rumah-rumah banyak yang kosong dan ditinggalkan begitu saja. Pasar pun menjadi sepi, sawah terbengkalai, balai desa pun ditinggal begitu saja, berbagai fasilitas di desa itu menjadi mangkrak, berdebu, berlumut dan mulai rusak, menciptakan keseraman baru. Hal itu membuat warga desa yang masih bertahan lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah ketika senja mulai datang. Mereka tidak ingin dihantui oleh warga desa Parak yang sudah meninggal karena kebakaran setahun yang lalu.
Berita hantu gentayangan itu membuat warga desa semakin ketakutan. Mungkin berita itu memang benar adanya, atau hanya berita bohong belaka, tapi Agus menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Agus menyamar menjadi seorang yang baik-baik dan melamar menjadi seorang carik, yang langsung diterima dengan baik oleh pak Kades yang saat itu sedang kebingungan, karena hanya sedikit orang yang mau menjadi pamong desa.
Lasmi lebih memilih pergi ke pasar dan melihat-lihat keadaan pasar besar dan bekas kejayaan pasar itu. Lasmi memutuskan untuk menjadi pedagang saja. Dia membeli sebuah rumah dan tak lama kemudian menikah dengan seorang juragan sapi bernama Sastro Raharjo. Lasmi diam-diam masih terus belajar ilmu hitam dengan sahabat-sahabatnya.
Lasiyem memilih tetap menjadi dukun. Dia tidak peduli dengan dengan pandangan sinis orang-orang di sekitarnya. Dia tetap menjadi dukun. Sebuah obsesi yang dimilikinya sejak dulu.
Dan itulah jalan kehidupan tiga sahabat pencari ilmu hitam. Desa Parak Ageng yang berubah nama menjadi Tintrim pun menjadi pengikat baru persahabatan mereka.
****
Ammar berhasil memasuki keluarga Kamawijaya dengan mudah. Tidak ada seorang pun yang menyangka dia adalah Ammar. Atau memang ndara Kamawijaya tidak benar-benar tahu seperti apa wajah Ammar. Mereka hanya meminta bantuan kepada Ammar untuk melindungi rumah mereka dari ilmu hitam dan meminta perlindungan diri mereka dari ilmu hitam.
Tapi kemudian pagi itu Dewi melihat senyum samar Ammar ketika melihatnya bermain dengan Arjo yang sudah mulai belajar berjalan. Dewi tahu dia adalah Ammar.
Dewi mendekati Ammar yang saat itu baru memasang sesaji di kamar bapaknya.
"Mas Ammar, apakah Arjo adalah kiriman dari mas Ammar?"
Ammar mendelik kaget. Dia hampir terlonjak. Dewi tersenyum geli melihat Ammar.
"Sudah kuduga!" Bisik Dewi lirih, "Aku tahu kamu adalah Ammar. Terima kasih sudah mau datang ke sini, Mas," bisik Dewi lagi.
Ammar akhirnya sadar, orang yang akan mengenalinya, pastilah Dewi. Ammar tersenyum dan mengangguk.
"Kamu bisa mengenaliku, Wi," bisik Ammar pelan.
Dewi mengangguk.
"Menikahlah denganku, Mas," bisik Dewi dengan lelehan air mata, "Aku akan membantumu membalaskan dendammu pada bapakku."
Ammar menghela nafas panjang. Menikah? Pasti Agus akan tertawa mendengarnya. Tapi biarlah, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan balas dendam ini. Dia kemudian menyanggupi keinginan Dewi.
Tapi tentu saja dengan syarat. Dan syarat itu langsung dipenuhi oleh Dewi tanpa banyak bertanya. Salah satu syaratnya adalah menjadikan ndara Kamawijaya sebagai tumbal mereka yang pertama.
****
Agus hampir tak percaya mendengar kabar ndara Kamawijaya akan mantu. Apalagi ketika calon menantunya itu adalah Ammar. Dia tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja.
Tapi Agus mafhum, sepertinya Ammar memiliki rencana lain. Agus tahu Ammar pasti akan balas dendam.
****
Sepuluh tahun berlalu. Ndara Kamawijaya sudah lama meninggal, tapi rumahnya masih seperti dulu. Tertutup rapat dari luar, karena itu adalah salah satu syarat yang diajukan oleh Ammar kepada Dewi Karunyan sebelum mereka menikah. Rumah mereka harus tertutup rapat dan tidak boleh dimasuki oleh orang asing, karena rumah mereka akan dijadikan tempat belajar ilmu hitam oleh semua anggota keluarganya, termasuk Harjo Kusumo dan para pembantu mereka.
Setiap orang yang hendak menjadi pembantu mereka pasti disumpah untuk bersedia belajar ilmu hitam. Dan tidak ada satu pun orang yang keberatan. Mereka semua hidup bahagia dengan ilmu hitam mereka, dengan pilihan hidup mereka.
Ammar yang sudah mengubah namanya menjadi Wardoyo Kusumo ternyata sangat pintar berbisnis, sekali lagi keluarga kuno itu menjadi salah satu keluarga terkaya di Tintrim, selain itu kepandaiannya dalam meramu ilmu hitam membuatnya terkenal hingga ke berbagai daerah, dan membuatnya sering pergi ke berbagai tempat untuk menjadi dukun.
Dewi Karunyan pun tak beda jauh. Dia berguru langsung pada suaminya dan menjadi seorang wanita penggila ilmu hitam. Dia sangat menyukai berbagai macam ajian dari laut selatan. Dewi menjadi semacam kolektor jimat dari laut selatan.
Anak mereka Harjo Kusumo atau yang kemudian sering dipanggil dengan Aryo Kusumo pun demikian. Dia sangat suka belajar ilmu hitam walaupun masih kecil, dia kadang ikut bapaknya hingga ke tempat yang jauh untuk bertirakat dan mendapat ilmu baru.
Tapi Aryo Kusumo bertumbuh menjadi anak yang pendiam dan tidak suka bicara. Dia lebih suka melihat, mengamati dan kemudian mengambil sikap. Dia tumbuh nyaris sama seperti Ammar, bapak yang mengirimkannya ke rahim Dewi Karunyan. Dia sangat mengidolakan bapaknya.
****
Wardoyo Kusumo atau Ammar menghela nafas panjang. Dia memandang wanita muda di depannya.
"Kamu tidak bohong, kan?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu hanya berhubungan dengan aku?" Tanya Wardoyo Kusumo lagi.
Wanita itu menitikkan air matanya. Wajah cantiknya terlihat sendu.
"Njih, Ndara. Saya tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain," jawab sang wanita itu pilu.
Wardoyo Kusumo menggigit bibirnya kuat-kuat. Inilah pertama kalinya dia tidak berhati-hati ketika bermain dengan wanita, sehingga wanita itu hamil. Dia menghela nafas berat.
"Baiklah, aku akan menanggung semua biaya dan kebutuhan hidupmu dan anak yang akan kamu lahirkan! Tapi kalau kamu ketahuan bohong, aku akan membunuh kalian berdua!" Kata Wardoyo Kusumo dengan bengis.
Wanita itu mengangguk takut. Dia takut ketahuan kalau dia sebenarnya bukan wanita baik-baik.
****
Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu, ibunya meninggalkan bayi itu di puskesmas Tintrim sendirian, dan kemudian bayi itu diangkat oleh seorang janda bernama Sumirah yang bekerja di rumah Wardoyo Kusumo atau Ndara Kusumo.
Tapi sebenarnya semua memang sudah diatur. Ibu sang bayi sudah dibun*h, dan kemudian bayi itu diangkat oleh pembantu ndara Kusumo agar semua mudah diatur dan ndara Kusumo bisa juga mewariskan ilmu hitamnya pada anak laki-lakinya yang diberi nama Sapto Aji.
****