Bab 1

Suasana desa sangat ramai ketika panen tiba. Hampir semua orang pergi ke sawah melihat proses panen padi di desa itu. Kecuali mungkin Dewi. Dewi hanya bisa melihat dari jendela bagaimana teman-temannya berlarian ke sawah dengan gembira. Tapi, dia masih belum boleh keluar juga oleh bapaknya, Ndara Kamawijaya, sang kepala desa, sekaligus satu-satunya bangsawan di desa itu.

Dewi sedih. Dia selalu merasa sendiri. Sekolah boleh, tapi dia selalu ditunggu di luar oleh mbok embannya, sehingga ketika pulang, dia langsung pulang tanpa pernah bisa bermain dengan teman-temannya.

Dewi memang tidak punya teman. Tidak ada yang berani bermain dengannya, karena takut dengan bapaknya, yang berkumis tebal, membawa tongkat ke mana-mana dan tak pernah ragu untuk memukul dengan tongkatnya itu ketika marah. Dewi sedih. Sangat sedih. Selalu sedih.

Dia tidak pernah benar-benar mengerti arti kehidupan. Ibunya sudah meninggal ketika dia masih kecil. Dia hanya hidup berdua dengan mbok embannya setiap hari. Bapaknya selalu keluar rumah dan pulang malam hari, Dewi tidak pernah tahu ke mana bapaknya pergi.

Tapi hari itu udara begitu cerah. Dewi sangat ingin bergabung dengan temannya berlarian menuju ke sawah, melihat orang-orang memanen padi dan kadang pada malam harinya ada api unggun di sawah itu hingga pagi. Dewi tahu dari cerita teman-temannya, dan Dewi sangat ingin melihatnya, merasakan sensasinya dan ingin berkumpul dengan teman-temannya.

Dewi menyusut air matanya.

****

Kehidupan di dusun Parak tidak pernah mudah. Parak daerah yang begitu kering, gersang dan berbatu kapur, membuat warganya terbiasa hidup sulit. Hampir semua warganya adalah orang yang serba kekurangan. Kebanyakan bekerja sebagai buruh tani di sawah milik ndara Kamawijaya, satu-satunya orang yang memiliki sawah di Parak.

Dan waktu panen adalah juga waktu panen uang bagi para buruh tani itu. Mereka akan membawa keluarga mereka untuk membantu panen, atau membantu emban ndara Kamawijaya menyiapkan berbagai macam perlengkapan di dapur.

Biasanya rumah ndara Kamawijaya akan begitu ramai dengan warga dusun Parak yang membantu memasak dan menyiapkan persiapan syukuran panen pada malam harinya. Kadang juga mereka menyiapkan berbagai macam makanan untuk acara tanggapan wayang tujuh hari tujuh malam di lapangan dusun Parak.

Walaupun rumah Dewi ramai, lapangan dusun ramai, jalan-jalan desa ramai, sawah ramai, sungai ramai tapi Dewi tetap sepi. Dia tidak diperbolehkan membantu, tidak diperbolehkan bermain, tidak diperbolehkan melakukan apa-apa, hanya boleh tinggal di kamarnya seperti biasa, seperti setiap harinya.

Dewi menggigit bibirnya kuat-kuat ketika mendengar riuh rendah suara anak-anak yang berjalan melewati rumahnya, atau suara ibu-ibu yang mengobrol asyik di dapur rumahnya. Bau makanan lezat sampai juga di kamar Dewi, membuat Dewi sadar kalau dia begitu lapar.

Dewi membuka pintu kamarnya, mengintip keluar sedikit.

"Mbok! Mbok Jum!" Panggil Dewi pelan karena takut dan malu. Tidak ada jawaban. Mungkin mbok Jum sedang sibuk di dapur dengan embannya yang lain.

Dewi merapikan bajunya dan membuka pintu kamarnya perlahan. Dia keluar kamar dengan hati-hati. Tidak ada orang di ruang tengah, sepertinya semua memang sedang sibuk di dapur.

Dewi berjalan berjingkat menuju ke dapur. Dia takut ketahuan mbok Juminem, embannya sejak bayi.

Semakin mendekati dapur, bau makanan lezat semakin membuat perutnya meronta. Dia lapar. Dewi bisa mencium bau wajik, bau daging empal dan nasi liwet yang sebentar lagi matang. Dewi menahan diri untuk tidak berteriak memanggil mbok Jum lagi.

"Eh! Ada ndara putri! Mau ke mana, Ndara?"

Dewi melonjak kaget. Dia menoleh ke belakang. Salah satu embannya berdiri di belakangnya, nampaknya emban itu dari luar rumah.

"Aku cari mbok Jum," jawab Dewi.

Emban itu mengangguk.

"Sebentar, njih, Ndara. Jum lagi ikut nganter makanan ke sawah, sebentar lagi dia pulang. Oh, iya! Ndara putri lapar, njih? Sekedap saya siapkan! Ndara putri duduk dulu di ruang makan, njih!" Kata emban itu terbata, karena menyadari ndaranya belum makan siang.

Dewi menurut. Dia duduk dengan tenang.

"Mbok! Ini diletakkan di mana?"

"Ning njero kono, Mar! Terus gawakke sing iki, ya! (Di dalam situ, Mar! Terus bawakan yang ibi, ya!)"

"Ya, mbok!"

Dewi menoleh.

Matanya bertemu pandang dengan mata paling teduh yang pernah dilihatnya. Dia tidak berkedip. Dia merasakan suatu rasa yang baru pertama kali dirasakan di hatinya.

****

"Mar! Ayo! Kok malah mandheg! (Mar! Ayo! Kok malah berhenti!)"

Teriakan itu mengagetkan Ammar yang diminta membantu mengangkatkan kardus berisi makanan kering ke dalam rumah ndara Kamawijaya. Ammar segera berjalan lagi sambil mengangguk pada seorang gadis yang duduk di meja makan dengan rapi. Rambut gadis itu panjang dikepang dua. Gadis memakai kemeja warna putih yang sangat halus dan rok panjang warna hitam. Wajah gadis itu mengingatkan Ammar pada amoy atau gadis China yang sering dilihatnya di pasar besar. Matanya agak sipit dan bibir tipis sekali.

Ammar segera menyelesaikan semua pekerjaannya dengan menunduk dalam-dalam. Jantungnya berdebar kencang tak terkira. Dia belum pernah melihat gadis bangsawan cantik sedekat ini.

****

Ammar mengusap keringat di dahinya. Dia diminta kembali ke pasar untuk membawa lebih banyak makanan ke rumah ndara Kamawijaya. Dia mengangkat berbagai macam pesanan ndara Kamawijaya ke dalam sebuah mobil boks warna hitam milik ndara Kamawijaya.

Ammar tak habis pikir, berapa banyak makanan dan barang yang dipesan ndara Kamawijaya untuk acara panen ini. Mungkin karena acara ini di adakan setahun sekali, sehingga ndara Kamawijaya mengadakan acara besar-besaran. Menurut Ammar acara ini bukannya untuk bersedekah atau membantu warga Parak, ndara Kamawijaya hanya ingin pamer kepada sesama bangsawan di daerah lain, yang akan diundang ndara Kamawijaya pada malam pagelaran wayang kulit seminggu lagi.

Ammar teringat gadis yang dilihatnya tadi. Cantik sekali. Seperti tidak nyata.

Tiba-tiba Ammar geli sendiri.

Dia pernah melihat gadis itu! Ya! Gadis itu hampir sama seperti gambar gadis China yang ada di wadah bedak mbakyunya.

****

Dewi termangu di kamarnya.

Siapa pemuda tadi? Rasanya Dewi sangat menyukai wajah dan mata teduh pemuda tadi. Dia adalah gambaran tokoh pria yang dibayangkan Dewi ketika membaca kisah-kisah romantis di novel yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah tanpa sepengetahuan bapaknya.

Wajah itulah yang diam-diam diidamkan Dewi dalam mimpinya, mimpi seorang gadis yang belum pernah melihat dunia.

Dewi tersipu sendiri. Dia ingin bertemu dengan pemuda itu lagi. Dia tahu pemuda itu akan datang ke rumahnya lagi hari ini, oleh karena itu Dewi bersiap di ruang makan lagi, dia pura-pura menulis di meja makan, agar tidak disuruh pergi oleh mbok Jum.

Benar dugaan Dewi, beberapa waktu kemudian pemuda itu datang lagi ke rumah Dewi. Dia memasukkan barang-barang lagi ke rumah Dewi. Kali ini Dewi sudah siap, dia menunggu pemuda rupawan itu dengan senyuman termanisnya.

****

Ammar sangat terkejut melihat gadis itu tersenyum manis padanya. Ammar membalas senyum itu dengan hati yang penuh harap. Ammar berharap bisa mengenal gadis itu, atau paling tidak tahu namanya.

Jantung Ammar berpacu kencang ketika pekerjaannya hampir selesai. Dia belum tentu bisa ke rumah ndara Kamawijaya lagi besok, dia harus memberanikan diri bertanya pada gadis cantik itu.

Akhirnya Ammar berani mendekati gadis itu. Sang gadis terkejut dan tak menyangka Ammar akan berdiri di depannya. Mereka berpandangan dalam diam. Jantung Ammar berdebar sangat kencang.

"Ndara mau melihat api unggun?"

Ammar menelan ludah. Dia menunduk dalam-dalam. Dia menyesal, kenapa dia menanyakan hal bodoh seperti itu. Ammar salah tingkah, dia ingin pergi saja dari ruang itu.

"Iya, aku mau."

Sunyi.

Butuh beberapa waktu untuk mencerna jawaban sang gadis cantik. Ammar mendongak menatap wajah sang gadis yang merona merah.

"Eh... kalau begitu nanti malam saya jemput jam tujuh," kata Ammar dengam cepat. Dia takut sang gadis berubah pikiran.

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum penuh semangat.

"Jangan sampai ketahuan bapak, ya!" Bisik gadis itu dengan bersemangat. Ammar mengangguk dia segera berlalu dari ruangan itu, karena takut ketahuan mbok emban ndara Kamawijaya.

****

Setelah sholat Magrib, Ammar begitu gelisah. Dia sudah siap sejak sore tadi. Dia memakai satu-satunya baju terbaik yang dimiliki Ammar. Simboknya melihat Ammar dengan heran.

"Arep nang endi, Mar? (Mau ke mana, Mar?)" Tanya simboknya penasaran.

"Nonton api unggun, Mbok!" Jawab Ammar tersenyum lebar.

"Wong ming nonton api unggun, kok, nggo klambi apik barang! Biasane lak ming sarungan, to, Mar? (Orang cuma mau nonton api unggun, kok pakai baju bagus! Biasanya kan, hanya pakai sarung, kan, Mar?)"

Ammar tertawa.

"Sapa ngerti ana sing gelem karo aku, Mbok! (Siapa tahu ada yang mau sama aku, Mbok!)" Jawab Ammar sekenanya.

Mbakyu dan ibunya tertawa terbahak-bahak, menahan geli. Ammar tak peduli.

Jam setengah tujuh Ammar sudah berangkat ke rumah ndara Kamawijaya untuk menjenout gadis cantik tadi. Jantungnya berdebar keras, nafasnya terengah, tapi dia sangat senang.

****

Rumah ndara Kamawijaya sangat ramai. Ada begitu banyak jong*s atau pembantu pria di depan rumahnya, mereka mengangkat berbagai macam barang yang akan dibawa ke sawah untuk acara api unggun malam ini.

Ammar bersembunyi di rerimbunan pohon tidak jauh dari rumah paling besar di dukuh Parak itu. Dia sering melihat kesibukan seperti ini. Sebentar lagi semua persiapan selesai, dan dia bisa menjemput gadis cantik itu.

Di tengah kesibukan itu Ammar melihat gadis cantik itu dari balik jendela kamarnya. Ammar tersenyum bahagia. Hatinya terasa begitu lega.

Ammar segera menghampiri jendela kamar sang gadis ketika keributan itu berlalu. Gadis itu telah siap. Malam ini dia memakai kemeja warna hitam dan kulot warna hitam, membuatnya semakin cantik memesona.

Mereka bergerak cepat dalam diam. Sang gadis langsung naik di boncengan sepeda Ammar dan Ammar langsung membawa sang gadis membelah kegelapan malam.

****

Jantung Dewi berdegup kencang. Inilah pertama kalinya dibonceng oleh pria selain jong*snya. Dia tersenyum bahagia. Dia hampir memeluk tubuh pria di depannya. Tapi dia menahan dirinya.

"Siapa namamu?" Tanya Dewi.

"Ammar, Ndara. Nama ndara putri siapa?" Tanya Ammar.

"Aku Dewi. Dewi Karunyan," jawab Dewi, "Kamu kerja untuk bapakku?" Tanya Dewi lagi.

"Iya, Ndara!"

Dewi termenung.

"Jangan panggil aku ndara, ya! Aku sebenarnya tidak suka dipanggil ndara," jawab Dewi.

Ammar diam saja. Dia takut tidak memanggil anak ndara Kamawijaya tanpa panggilan ndara.

"Apa boleh?" Tanya Ammar akhirnya, setelah dia berpikir beberapa saat.

"Boleh! Harus! Aku tidak suka dipanggil ndara!" Seru Dewi sengit.

Ammar tersenyum membayangkan wajah Dewi yang mencebik dan merona merah seperti tadi sore.

"Ya, baiklah! Aku akan mencobanya!" Jawab Ammar.

Di belakang Dewi tersenyum bahagia. Dia merasa begitu nyaman dengan pemuda bernama Ammar ini.

****

Dewi sama sekali tidak menolak ketika dia harus menonton api unggun agak jauh dari kerumunan orang banyak. Mereka bersembunyi di bawah pohon. Melihat keramaian dengan hati bahagia.

Dewi bahagia karena inilah pertama kalinya dia ke luar tanpa benar-benar merasa takut pada bapaknya. Dewi begitu bahagia bisa melihat orang lain menjalani hidup mereka yang berbeda dengan kehidupannya. Dan dia begitu bahagia bisa pergi bersama seorang pemuda gagah perkasa dan rupawan menurutnya. Dewi menoleh ke arah Ammar dan tersenyum padanya. Ammar membalas senyum itu.

"Umur kamu berapa, Wi?" Tanya Ammar. Dia agak kikuk harus memanggil Dewi tanpa ndara putri.

"Aku delapan belas tahun. Mas Ammar berapa?"

Ammar terkejut dipanggil mas oleh ndaranya. Dia menelan ludah menahan gugup sekaligus bahagia.

"Aku sudah dua puluh lima," jawab Ammar. Dewi tersipu. Ammar menelan ludah, melihat wajah merona Dewi yang semakin berkilau di gelapnya malam.

Entah kenapa Ammar menanyakan umur pada Dewi, mungkin karena Ammar berangan-angan ingin menikahi Dewi?

Ah! Pikiran macam apa itu! Batin Ammar sendiri, dia tidak pernah berharap setitik pun akan bisa meraih bintang setinggi Dewi Karunyan.

Malam itu mereka berdua sama sekali tidak mempedulikan acara api unggun yang diadakan di tengah sawah yang telah dipanen. Mereka saling berbincang tentang segala hal sampai lupa waktu. Mereka lupa bahaya yang bisa mereka hadapi apabila mereka ketahuan oleh ndara Kamawijaya.

****

Pagi itu Ammar bangun dengan senyum terlebar yang pernah dilakukannya. Dia teringat bagaimana tadi malam dia memboncengkan Dewi Karunyan, anak ndara Kamawijaya, bolak balik tanpa ketahuan sama sekali. Dia membayangkan bagaimana mereka berbincang, bagaimana mereka saling bercanda dan mengejek satu sama lain.

Ammar serasa menemukan dunia baru, dunia yang begitu indah di tengah sulitnya hidup di dusun Parak. Dia hampir percaya dia telah menemukan cinta sejatinya.

Ammar bangun dan bergegas ke kamar mandi. Dia akan melanjutkan memanen hari ini, dan membayangkan uang yang akan didapatnya seminggu lagi.

"Mana Ammar!"

"Ammar! Keluar, Mar!"

"Mana anak bejat itu?"

"Ammar!"

"Ammar!"

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan marah memanggil Ammar dari depan rumah Ammar.

Ammar yang baru saja sholat subuh bergegas keluar rumah. Dia belum sempat tahu siapa saja yang datang ke rumahnya, karena pukulan demi pukulan mengenai tubuhnya. Pukulan itu membuat Ammar limbung, pandangannya berkunang-kunang dan telinganya berdenging. Dia lamat-lamat mendengar teriakan mbakyunya dan simboknya. Tapi dia tidak yakin dengan apa yang didengarnya, karena sekarang dia hanya bisa mendengar suara pukulan mengenai tubuhnya.

Kemudian sunyi. Senyap. Ammar merasa aneh. Apakah dia bermimpi?

Ammar berusaha bangkit. Tapi dia hanya bisa memiringkan tubuhnya sedikit.

Ammar benar-benar terkejut ketika dia melihat api menyala-nyala di depan matanya.

Rumahnya!

Tidak! Itu bukan rumahnya! Api itu sangat besar membumbung tinggi di gelapnya fajar! Itu dusunnya! Dusunnya terlalap api!

Kemudian tiba-tiba saja Ammar mendengar suara jeritan dan teriakan panik di sekitarnya.

Dia menjerit kesakitan ketika tubuhnya diseret dengan cepat di atas tanah berbatu. Perih.

"Inikah hukuman bagi manusia bejat sepertimu!" Sebuah bisikan melewati telinganya.

"Inilah hukuman bagi penculik anak gadis orang! Sekarang lihat hukumanmu! Buka matamu!" Suara itu mendesis di telinganya. Ammar berusaha sekuat tenaga membuka matanya.

Dia lemas seketika ketika melihat dua mbakyunya, dan bahkan simboknya dirudapaksa di depan matanya. Ammar berusaha memberontak ingin menolong keluarganya. Tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya yang diikat dan lemas lunglai.

Air mata memeleh di pipinya. Dia hendak memejamkan matanya, mencoba menghilangkan gambaran mengerikan itu. Tapi tiba-tiba ada tangan perkasa yang memaksa membuka matanya, tidak memperbolehkan matanya tertutup.

Ammar berusaha memberontak, tapi dia sama sekali tak berdaya, bahkan dia tidak bisa menggerakkan jarinya.

Dia mengenali orang-orang yang berjalan hilir mudik sambil tertawa itu. Mereka adalah jong*s ndoro Kamawijaya, bahkan kemarin mereka bekerja bersama. Air mata itu mengalir lagi.

Ammar berusaha melihat sekeliling. Dia memastikan hanya rumahnya yang di bakar. Tapi dia keliru. Api itu menyala sangat besar, dan ributnya orang-orang yang berlarian panik ke sana ke mari membuat Ammar yakin, bahwa dusunnya benar-benar telah dibakar.

Seseorang mendekati Ammar. Dia tersenyum.

Ammar mengerjapkan mata beberapa kali untuk melihat siapa orang itu.

"Kamu kira apa yang kamu lakukan kemarin tidak ada yang melihat?" Bisik sosok itu.

Ammar langsung mengenali suara itu. Ndara Kamawijaya.

"Aku bahkan tahu sejak siang hari kamu sudah mendekati Dewi. Aku punya banyak mata!" Desisnya.

"Aku tahu kalian duduk di bawah pohon itu, kan? Aku tidak rela!" Teriak ndara Kamawijaya di telinga Ammar, membuat telinga Ammar berdenging hebat.

"Lihat hasil perbuatanmu semalam! Kamu telah menyentuhkan tangan kotormu itu pada Dewi! Dan kamu... kalian semua harus menanggung akibatnya!" Seru ndara Kamawijaya dan kemudian dia tertawa keras.

"Sekarang pilihan ada di tanganmu! Mbakyumu dan simbokmu sudah hancur, sudah rusak, sudah tidak ada harganya! Apakah kamu masih menginginkan mereka? Apakah mereka boleh dibunuh?" Seru ndara Kamawijaya geli.

Hati Ammar terbakar karena marah. Dia melihat kedua mbakyunya dan simboknya terbaring di jalan sambil menangis, bahkan pingsan. Melihat itu Ammar begitu mual. Dia membayangkan seperti apa kehidupan mereka setelah ini. Dia memejamkan mata dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Ha! Kita sudah dapat jawaban dari Ammar!" Teriak ndara Kamawijaya setelah melihat Ammar menundukkan kepalanya.

"BAKAR!" Teriak ndara Kamawijaya keras dan penuh semangat.

Ammar melotot tak percaya. Tubuhnya berontak liar. Tapi dia benar-benar tak berdaya, dan sekali lagi matanya dibuka paksa untuk melihat keluarga dibakar hidup-hidup oleh jong*s ndara Kamawijaya.

****

Dusun Parak begitu sepi sore itu. Yang ada hanya asap, kabut, debu dan abu bekas pembakaran rumah oleh ndara Kamawijaya dan jong*snya pagi tadi.

Dusun Parak yang seharusnya ramai karena nanti malam akan ada pagelaran wayang kulit kini begitu tintrim begitu sepi, tenang dalam artian yang menyeramkan dan menegangkan. Dusun Parak sudah mati luar dalam.

****

Bab 2

Angin bertiup semilir malam itu. Dingin menggigit tulang. Dewi Karunyan tidak bisa memejamkan matanya. Dia hampir gila.

Semua kejadian itu berjalan sangat cepat. Amat sangat cepat, dan hampir tidak bisa dipahaminya. Dia tidak bisa mencerna semua yang lewat di depan matanya.

Pagi itu dia bangun seperti biasa. Dia mandi pada pagi buta, berganti baju dengan baju yang sudah disediakan mbok Jum. Dia menyisir rambut panjangnya dan mengepangnya, ketika mendengar seruan-seruan marah itu. Dia segera berlari ke arah jendela dan melihat keributan itu.

"Kita cari Ammar! Kita harus membunuhnya!"

Dada Dewi bagaikan dipalu mendengar seruan-seruan marah senada. Berarti tadi malam ada yang melihat mereka berdua. Dewi terduduk lemas. Tapi aneh kalau tidak ada yang melihat mereka berdua. Mereka berdua pastilah sangat mencolok. Amamr yang bertampang kuli, dan Dewi yang sangat priyayi, pastilah mereka dilihat orang dengan jelas.

Pasti orang-orang itu telah melihat mereka. Pasti salah satu mbok emban atau jongos bapaknya yang melaporkannya, atau mungkin warga yang ingin dapat imbalan uang.

Air mata mengalir di pipi Dewi ketika melihat beberapa mobil boks berangkat mengangkut pekerja bapaknya menuju ke Parak. Mereka memakai baju hitam dan membawa berbagai senjata yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Dewi ada di dunia ini.

Kenapa butuh orang sebanyak itu untuk membunuh Ammar saja?

Hati Dewi berontak. Dia bangkit dan hendak berlari keluar kamar. Tapi pintu kamarnya terkunci dari luar. Dia berusaha mendobrak pintu itu, dia berteriak-teriak meminta bantuan. Tapi tetap saja sunyi yang menyambutnya.

Dia terlalu akrab dengan kesunyian. Dia terlalu dekat dengan kesendirian. Dewi terduduk di lantai dengan lemas. Dia menangis sejadi-jadinya, hatinya bagai diremas.

Setitik harapan kebahagiaan yang muncul di hatinya terhapus oleh badai besar. Bahkan titik itu belum lagi mewujud, belum lagi merebak menjadi bunga harapan.

Dia segera berlari ke jendela kamarnya, ingin melihat atau mendengar sisa setitik harapan itu, dan kemudian dia sadar. Jendela itu bisa dibuka dengan mudah. Dewi berseru gembira, dia segera membuka jendela itu dan melompatinya seperti tadi malam.

Dan Dewi berlari menembus dinginnya fajar.

****

Sebenarnya lari bukanlah pilihan, tapi Dewi tidak bisa menahan kesabarannya melihat apa yang akan dilakukan bapaknya pada Ammar, yang sekarang ditahbiskannya sebagai kekasih hatinya. Sehingga jadilah Dewi yang tidak pernah berjalan jauh, kini berlari. Tidak mempedulikan rambut dan bajunya yang tak menentu lagi.

Jarak rumahnya dengan dusun Parak agak sedikit jauh, dan belum lagi Dewi sampai di dusun itu, Dewi sudah bisa melihat bubungan api di cakrawala. Dari jarak sejauh itu dia bisa mendengar teriakan-teriakan warga dusun Parak.

Hatinya mencelos.

Kenapa semua warga berteriak-teriak? Pertanyaan itu tidak perlu jawaban. Sebentar saja orang-orang berlarian ke arahnya. Dewi segera bersembunyi dan dia mendengar teriakan-teriakan itu.

"Ndara Kamawijaya ngamuk! Ndara Kamawijaya ngamuk! Ayo lapor polisi!"

"Tapi rumah kita bagaimana?"

Orang-orang itu berdiri melingkar, kebingungan.

"Tapi kita tidak bisa melawan ndara Kamawijaya sendiri!"

"Kalau kita lapor polisi apa polisi akan berani menangkap ndara Kamawijaya? Bukankah selama ini dia selalu mengkorupsi dana desa tapi tidak ada yang berani bertindak?"

"Tapi ini, kan, bukan korupsi! Ini pembunuhan!"

"Ya, ini pembantaian! Kita harus lapor polisi!"

Mereka berteriak setuju.

"Bapak! Bapak!" Seorang anak kecil berlari mendekati lingkaran lelaki risau itu. Anak itu menangis dalam diam dan langsung memeluk salah seorang lelaki yang ada di dalam lingkaran itu.

"Ibuk, Pak! Ibuk dibunuh, Pak!" Tangisnya sambil menunjuk ke arah dusun Parak.

Lelaki itu luruh. Dia langsung menggendong anaknya dan berlari kembali ke dusun Parak.

Sunyi.

Butuh beberapa waktu untuk menyadari semua itu, sekumpulan lelaki itu langsung berlari kembali ke dusun Parak, mereka melupakan semua kekhawatiran tentang perdebatan mereka tentang akankah mereka akan lapor polisi atau tidak. Mereka bergegas mencari keluarga mereka masing-masing, yang tadi mereka tinggalkan dalam keadaan baik-baik saja. Mereka takut keluarga mereka menjadi korban kemarahan ndara Kamawijaya

Dewi melihat dan mendengar semua adegan itu dengan lelehan air mata dan seruan tertahan. Jadi bapaknya memang sudah kelewatan. Sudah sangat kelewatan.

Dewi menangis terisak.

Dia menjerit dalam luka hati yang terkoyak. Dusun Parak sepertinya sekarang sudah hancur, sudah lebur. Bukan hanya secara fisik, bukan hanya dari luar, tapi dari dalam, dari dalam hati warganya.

Dewi tahu dia tidak perlu melihat semua itu. Dia pasti akan sendiri lagi. Dengan atau tanpa tindakan brutal bapaknya ini, dia pasti akan sendiri. Dia tahu kalau dia diciptakan untuk sendiri, untuk digunjing, untuk nelangsa, untuk berduka.

Akhirnya Dewi memutuskan untuk berjalan pulang ke rumahnya. Dia berjalan dengan tertatih, kakinya sakit, bahkan berdarah, dia baru menyadari dia tidak memakai alas kaki. Tapi Dewi tidak peduli.

Dia menangis, rambutnya yang acak-acakan dijambakinya sepanjang jalan sambil berteriak menahan lara.

Dia tahu sejak dulu orang-orang berbisik-bisik di belakangnya, menggunjingkan wajahnya yang berbeda. Dia ingat semua kata gunjingan mereka, tapi dia diam dalam lara.

"Dia, kan anak gundik ndara Kamawijaya!"

"Hush! Dia itu anak selingkuhan ndara Kamawijaya dengan Cik Lam!"

"Cik Lam yang jualan roti di pasar?

"Iya! Cik Lam sudah diusir keluarganya karena berselingkuh dengan ndara Kamawijaya, tapi ndara Kamawijaya menolak cik Lam di rumahnya! Ndara hanya ingin anaknya!"

Benarkah demikian?

Sampai sekarang Dewi tidak pernah menanyakan hal itu pada bapaknya.

****

Dewi memasuki rumahnya dengan hati hampa. Semuanya berjalan dengan sangat cepat, bagai kilatan gambar tak beraturan. Dia termangu di depan kamarnya yang terkunci dari luar.

Di lupa tadi dia keluar lewat jendela. Tapi Dewi tidak peduli. Dia duduk di kursi ruang tamu hingga malam tiba.

Dewi tidak mempedulikan keributan yang terjadi ketika bapaknya pulang. Dia menurut ketika Dewi diseret ke kamarnya dan sekali lagi dikunci di dalam kamar itu. Dewi membaringkan badannya dengan hati yang kebas dan mati.

****

Ammar terbangun dari tidurnya yang resah. Dia merasakan tubuhnya diseret melewati jalan tanah yang tak rata. Sakit. Sakit. Sakit. Perih dan lara. Hanya itu yang bisa dirasakannya.

Ammar tersadar sepenuhnya. Dia berusaha membuka matanya. Tapi tidak bisa sempurna. Hanya sedikit cahaya yang bisa dilihatnya. Ammar tidak tahu dia mau dibawa ke mana. Dia hanya merasa letih dan remuk. Hatinya remuk mengingat mbakyunya dan simboknya.

Mbakyunya yang pertama akan menikah lagi, dan mbakyunya yang kedua juga akan menikah. Ah, di mana mereka sekarang, ya? Di mana simboknya yang akan diantarkannya ke sawah dengan sepedanya.

Mengingat sepeda hati Ammar mencelos.

Bukankah tadi malam dia memboncengkan Dewi dengan sepeda itu. Tiba-tiba dia sangat membenci Dewi, kenapa Dewi mesti tersenyum padanya kemarin. Kenapa Dewi harus menggodanya? Kenapa Ammar harus tergoda? Kenapa Ammar mau mengantarkan Dewi?

Air mata duka meleleh di pipi Ammar. Sakit sekali. Perih.

****

"Dia menangis!"

"Kasihan dia! Yang satu ini jangan dikorbankan saja!"

"Kenapa? Jarang ada orang mati sebanyak ini? Pancasona pasti senang!"

"Aku merasa ada sesuatu pada dirinya, Nyai! Dia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam dirinya!"

"Kekuatan yang lebih besar dari pada kekuatan kita?"

"Ya! Jauh lebih besar daripada kekuatan kita bertiga digabungkan!"

"Jangan ngawur kamu! Dia tidak memiliki kekuatan ilmu hitam! Tapi aku bisa merasakannya kekuatan itu!"

"Kekuatan apa itu, Nyai?"

"Kekuatan dendam dan kebencian!"

Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Ammar yang timbul tenggelam dalam kesadarannya. Dia hanya merasa janggal. Berarti dia tidak diseret oleh ndara Kamawijaya. Dia diseret oleh orang lain. Entah siapa. Dia tidak tahu.

****

Ammar terbangun dalam sebuah gua besar. Hal pertama yang dilihatnya adalah tumpukan tulang di tengah gua. Tulang-tulang itu sangat banyak sehingga menutup pandangan Ammar sepenuhnya.

Ammar merasakan letih dan sakit mendera tubuhnya. Dia berusaha bangkit. Tapi gagal. Tubuhnya lemah. Kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Ammar waspada, tapi juga pasrah, dia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.

Seorang wanita muda mendekatinya.

"Kamu sudah bangun?" Tanya wanita itu lirih.

Ammar mengangguk.

"Nyai! Agus! Pemuda itu sudah bangun!" Teriak sang wanita.

Dia membantu Ammar duduk di dipan yang ditidurinya. Seorang wanita dan laki-laki mendekatinya.

"Oh! Untunglah! Kukira dia tidak akan pernah bangun lagi!"

"Apakah kamu baik-baik saja, Nak?"

Ammar mengangguk.

"Kamu pasti lapar, kan? Haus?"

Ammar mengangguk. Mereka bertiga dengan cekatan membantu Ammar dan melayaninya dalam diam. Hingga Ammar akhirnya tertidur lagi. Kelelahan.

****

Dewi tidak pernah menolak apapun yang diberikan oleh mbok Jum padanya. Dia tidak pernah menolak perintah bapaknya. Dia selalu menurut dan tidak pernah satu kalipun menyangkal bapaknya.

Dewi menarik dari dari dunia kenyataan. Dia menyendiri dalam kepompong kesendirian. Dia bukan lagi Dewi yang dulu. Dia adalah Dewi yang baru, Dewi yang sudah tidak menganggap dirinya ada.

Setiap hari dia berdiri mematung di depan jendela kamarnya. Dia akan berdiam di sana sampai malam tiba. Dia tidak pernah bicara, jarang sekali berpindah dari posisinya.

Sampai hari itu tiba.

Beberapa petugas polisi mendatangi rumah ndara Kamawijaya. Mereka membawa mobil besar. Mereka hendak menangkap bapaknya. Dewi hanya memandang tak berdaya ketika melihat perdebatan itu. Dia memandang kosong.

"Mbak! Mbak Dewi!" Sebuah suara lembut mengalun di telinga Dewi.

Dewi menolehkan kepalanya.

"Mbak Dewi ingat kejadian malam itu?" Tanya seorang wanita yang berada di sebelah Dewi. Dewi mengangguk dan kemudian dia menjawab lirih.

"Ammar berjanji padaku malam itu. Dia berjanji akan mengajakku menonton wayang pada malam Sabtu. Hanya kami berdua. Tidak ada larangan bapak lagi! Bapak tidak akan pernah marah lagi!" Bisik Dewi lirih, matanya masih kosong.

Sang penanya terkejut. Dia melonjak kaget.

"Ndara putri memang selalu bilang seperti itu sejak kejadian malam itu, Bu," kata mbok Jum, "Dia tidak pernah mengucapkan kata lain, selain Ammar berjanji, Ammar berjanji..." isak mbok Jum.

"Ammar itu siapa, Mbok?" Tanya sang polisi wanita itu dengan sabar.

"Ammar adalah pemuda dari Parak, Bu. Dia sering jadi buruh musiman di sini saat panen. Kalau sehari-hari dia jadi kuli panggul di pasar besar."

"Ceritanya bagaimana, Mbok?" Tanya polisi itu lagi.

Dengan deraian air mata mbok Jum menceritakan kejadian malam dan pagi hari itu. Dengan mata kepalanya sendiri, mbok Jum melihat bagaimana Dewi melompati jendela, membonceng Ammar dan pergi ke sawah bersama Ammar.

"Saya seharusnya melarang ndara putri waktu itu, ya, Bu. Tapi saya diam saja. Saya membiarkan ndara putri ikut dengan Ammar," isak mbok Jum, "Dan sekarang semua malah jadi korbannya! Satu dusun jadi korbannya!" Seru mbok Jum histeris.

Polisi wanita itu memeluk mbok Jum dengan lembut. Dia ikut merasakan kegetiran yang dirasakan oleh mbok Jum. Dia sendiri ngeri mendengar kabar bahwa ada seorang kepala desa yang mengamuk dan membakar dusun di kawasan desanya. Dia membunuh banyak orang dan meratakan dusun itu dengan tanah. Dan setelah mendengar cerita itu sendiri, polisi itu tambah merinding dan bergidik.

Tadi dia sudah mengunjungi dusun tersebut bersama dengan teman-temannya dan atasannya. Dusun itu jadi begitu menyeramkan. Sisa-sisa rumah yang masih berantakan, belum selesai dibersihkan, banyak benda-benda yang terbengkalai dan tidak ada orang satu pun di sana. Sepi. Menegangkan dan menakutkan. Begitu tintrim.

Atasannya mengatakan bahwa seharusnya dusun itu diubah namanya menjadi Tintrim saja.

****

Ammar sudah sehat sekarang.

Setahun sejak kejadian mengerikan pada saat fajar itu. Dan Ammar berubah menjadi orang yang kuat luar dalam. Dia menjadi seorang yang tabah, sabar, tapi sayang tidak pernah tersenyum.

Dia tinggal di dalam gua di bukit kapur dekat sungai bersama dengan tiga orang sahabat yang cukup ganjil. Seorang wanita berumur empat puluhan, tubuhnya tinggi kurus bernama Lasmi, wajahyha nampak galak dan menantang. Wanita kedua bertubuh kecil pendek, berambut panjang dan cantik, bernama Lasiyem, dialah yang disebut nyai oleh kedua sahabatnya itu, sementara yang satu lagi adalah seorang pria tinggu besar dan rupawan, bernama Agus.

Ammar mengagumi mereka bertiga. Dia dirawat dan diberi makan mereka bertiga. Setelah dia sembuh sepenuhnya, mereka bertiga mengajari Ammar ilmu kanuragan dan ilmu hitam. Dan, inilah bagian yang paling disukai Ammar. Dengan belajar ilmu itu, perlahan Ammar melupakan semua kejadian yang dialaminya setahun yang lalu.

"Kamu tidak ingin pulang, Mar?" Tanya Agus pada suatu malam.

Ammar tersenyum tipis.

"Saya malah ingin pergi dari sini saja," jawab Ammar pendek. Dia tidak mau membayangkan pulang ke rumahnya, ke dusunnya, yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Dia menyunggingkan senyum.

"Tapi sebelum pergi saya ingin minta tolong pada Pak Agus dan nyai berdua," kata Ammar.

Mereka bertiga berpandangan.

"Minta tolong apa, Mar?"

Lasiyem yang bisa membaca pikiran menyunggingkan senyum. Dia tahu maksud Ammar.

"Saya akan menepati janji saya pada Dewi," bisik Ammar pelan.

Tiba-tiba Lasiyem menjengit. Dia menatap Ammar tak percaya.

"Apa yang kamu pikirkan itu sangat berbahaya, Mar!" Seru Lasiyem.

Ammar tertawa.

"Dari semua ritual mengumpulkan mayat orang Parak, membakarnya, meminum darah mereka dan memanggil Pancasona, saya rasa permintaan saya tidak seberapa ngerinya, Nyai," jawab Ammar tenang.

"Apa maksudnya, Nyai?" Tanya Lasmi dan Agus hampir bersamaan kepada Lasiyem.

"Ammar minta tolong kita melakukan pujon!" Desis Lasiyem.

Lasmi terlonjak. Dia belum pernah melakukan pujon sebelumnya. Agus tersenyum lebar.

"Aku suka caramu balas dendam! Aku mau membantumu!" Jawab agus mantap dan penuh percaya diri. Agus pernah melakukan pujon.

Ammar pun tersenyum. Dia tahu pasti mereka tidak bisa melawan godaan melakukan pujon. Dia tahu mereka pasti akan menolongnya.

"Tolong carikan saya bayi dari dukun yang paling sakti! Agar bayi itu kelak bisa membalaskan dendam saya pada Kamawijaya dan Dewi!" Bisik Ammar miris.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia masih mengharap dia dan Dewi bisa bersatu, walaupun mereka sudah dilerai oleh takdir yang begitu kejam, tetap saja Ammar masih memiliki secercah harapan.

Agus, Lasmi dan Lasiyem menyanggupinya, mereka butuh waktu satu bulan untuk melakukan semua prosesi pujon itu.

****

Malam itu udara dingin. Sekarang menjelang musim kemarau. Udaranya dingin menggigit tulang.

Dewi menutup jendelanya. Dan terduduk di tempat tidurnya. Dia sekarang tidak sendiri lagi. Bapaknya sudah dikeluarkan dari penjara, bapaknya hanya dipenjara selama tiga bulan, tidak lebih tidak kurang. Dari semua kebengisan yang dilakukan bapaknya dia hanya dihukum tiga bulan penjara.

Dan sekarang bapaknya, Ndara Kamawijaya, sudah melakukan semua aktivitas biasa. Dewi Karunyan menangis. Dia sedih dan menyesal kenapa dia masih hidup dan tidak menyusul Ammar mati saja. Dia tidak ingin hidup.

Dewi membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya yang empuk. Dewi merasakan belaian angin diperutnya. Aneh! Angin itu terasa agak hangat, tidak dingin seperti seharusnya.

Dewi resah. Hembusan angin hangat itu membuatnya tidak bisa tidur. Dan Dewi mulai merasakan perubahan pada perutnya.

****

Keesokan harinya terdengar teriakan keras dari rumah ndara Kamawijaya. Dewi Karunyan melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Yang menjadi buah bibir warga sekitarnya. Menjadi bahan pergunjingan warga Parak, yang sekarang sudah diubah namanya menjadi Tintrim karena sepi dan seramnya.

Mereka menggunjingkan bahwa Dewi Karunyan selama ini berpura-pura gila dan sering tidur dengan banyak pria. Ada juga yang mengatakan bahwa Dewi Karunyan dikirimi bayi secara gaib, karena selama ini memang tidak pernah terlihat hamil. Berita simpang siur itu begitu heboh, tapi Dewi Karunyan tidak peduli. Bayi itu malah membuatnya kembali sadar akan dirinya sendiri, membuatnya kembali kepada Dewi Karunyan yang dulu.

Dewi Karunyan merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang dan memberinya nama Harjo Kusumo.

****

Bab 3

Ajaib memang.

Jarak antara gua tempat Ammar menetap selama ini dengan rumah Dewi hanya beberapa ratus meter, bahkan dari sudut tertentu di sungai Ammar bisa melihat pagar rumah Dewi. Tapi Ammar tidak punya keberanian untuk melihat rumah itu. Dia tak punya hati.

Tapi pagi itu Ammar berdiri di sudut sungai terjauh. Di mana dia bisa melihat rumah Dewi dengan jelas. Dia bahkan bisa melihat Dewi yang sedang berjemur di depan rumahnya dengan mbok Jum dan bayi yang digendongnya.

Hati Ammar perih. Betapa dia ingin berada di sisi Dewi saat ini. Air matanya mengalir perlahan.

"Kuasai dulu ilmu alih rupa, baru datangi dia!" Bisik Agus.

Ammar menghela nafas panjang.

"Apa bisa, Pak?"

"Aku sering melakukannya," bisik Agus, "Jangan pergi dulu! Tetaplah di sini, belajar denganku!" Kata Agus lagi.

Ammar memejamkan matanya.

"Kamu bisa menepati janjimu pada Dewi," bisik Agus lagi.

Ammar diam. Tidak bisa menjawab perkataan Agus barusan, dia sebenarnya ingin, sangat ingin melakukan hal itu. Tapi...

"Kamu harus kuat! Perjuangkan cintamu! Jangan sampai kamu menyesal!"

Air mata itu menetes juga. Buliran demi buliran menetes terus tanpa henti. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Saya tidak bisa, Pak!" Bisik Ammar, "Saya tidak bisa!"

"Karena keluargamu?"

Ammar mengangguk.

"Saya mengkhianati ibu saya dan kakak saya kalau menemui Dewi!" Bisik Ammar.

"Kau tidak ingin membalaskan dendammu?"

Ammar memejamkan matanya. Berat hatinya ingin mengatakan kepada Agus bahwa dia tidak peduli lagi dengan dendamnya, dia hanya ingin melihat Dewi bahagia, itu saja.

Agùs melihat ketidakpastian di mata Ammar. Dia meninggalkan Ammar sendirian. Dia membiarkan Ammar berpikir dan meresapi apa yang dihadapinya sekarang. Agus tahu, Ammar sedang dilema.

****

Dewi Karunyan menimang anaknya yang lucu dan sehat. Mbok Jum prihatin melihat ndara putrinya yang berwajah begitu bergembira, begitu sumringah, begitu bahagia. Wajahnya begitu bercahaya. Tak terkira rasa di wajah itu. Mbok Jum belum pernah melihat wajah ndara putrinya begitu cerah.

"Ndara, pun panas, nggo mlebet riyin! (Ndara, sudah panas, ayo, kita masuk dulu!)" Kata mbok Jum.

Dewi mengangguk, mbok Jum segera menggendong bayi mungil itu. Dia juga gemas melihat bayi tiban itu. Dia juga jatuh cinta dengan bayi laki-laki itu.

"Dia lucu, kan, Mbok?"

Mbok Jum mengangguk.

"Lucu sekali! Gemes, aku! Pengen tak cubit! Pengen tak uyel-uyel!" Kata mbok Jum gemas.

Mereka berdua tertawa bahagia. Kedatangan bayi itu membuat rumah itu begitu berbeda, begitu bersemangat.

"Namanya Harjo Kusumo, kan, Ndara? Kalau saya panggil den Arjo apa Aryo, boleh, kan, Ndara?"

"Boleh, Mbok!" Jawab Dewi kegirangan. Dia juga gemas melihat anak kecil yang terkantuk-kantuk itu. Dia merasa bayi mungil itu adalah kiriman dari Ammar, dia sangat ingin tahu tentang hal itu.

"Mbok Jum, boleh saya minta tolong?" Tanya Dewi.

"Nggih, Ndara?"

"Mbok Jum bisa mencarikan saya orang pintar tidak, Mbok? Saya ingin tahu Arjo ini dari siapa," kata Dewi lirih.

Mbok Jum terkejut. Dia heran kenapa Ndaranya itu malah ingin mencari masalah baru.

"Buat apa, Ndara? Ini, kan mencari masalah baru!" Protes mbok Jum.

Dewi membuang mukanya. Dia menitikkan air mata.

"Apa benar bayi ini dari Ammar, mbok?"

Mbok Jum melengak mendengar pertanyaan Dewi.

"Darimana ndara Dewi bisa berpikir seperti itu?" Seru mbok Jum.

Dewi terisak.

"Karena itu aku ingin tahu siapa yang mengirim bayi ini, Mbok!" Jawab Dewi dengan sedih.

Mbok Jum memejamkan matanya. Dia hampir mengatakan bahwa Dewi tidak perlu lagi mencari tahu siapa yang mengirim bayi itu, karena mungkin dia nanti akan kecewa.

"Bisakah, Mbok?" Tanya Dewi lagi.

Mbok Jum menghela nafas panjang. Dia mengangguk juga. Dia memang tidak bisa menolak perintah ndaranya.

****

"Kurasa kita terlalu lama di sini," kata Lasmi kepada Lasiyem dan Agus, "Kita harus berpindah tempat," kata Lasmi lagi.

"Benar juga! Kurasa kita harus mencari tempat baru dan ilmu baru!" Kata Lasiyem.

Agus diam saja. Dia masih punya satu misi yang harus diselesaikannya.

"Aku akan di sini dulu sementara waktu," jawab Agus pendek.

Lasmi dan Lasiyem memandangnya tak percaya.

"Mau apa? Apa karena Ammar?" Tanya Lasmi.

Agus mengangguk.

"Kenapa?"

"Aku kasihan melihatnya dilema dengan kehidupan cintanya."

Lasmi memejamkan matanya tak percaya.

"Kamu perlahan berubah jadi orang yang baik, Gus! Lihat saja! Pertama Ammar! Kamu kasihan padanya yang selalu berdiri di tepi sungai sambil melihat rumah gadis itu. Besok lagi, kau akan menolong orang lain, orang lain, orang lainnya lagi dan tiba-tiba saja kamu berubah jadi Agus yang baik hati dan berhati lurus! Kamu lupa tujuan kita berkelana selama ini!" Kata Lasmi.

"Sudah kuduga sejak awal itu yang akan kamu lakukan!" Desis Lasmi menahan marah.

"Kamu juga pernah melakukan hal itu, kan?" Kata Agus tak mau kalah, "Kamu malah pernah jadi gundik seorang lelaki hidung belang! Dan bilang tidak akan ikut lagi berkelana! Tapi lihat sekarang! Kamu malah yang paling bawel mengingatkan perjalanan kita!" Kata Agus marah.

Lasmi sudah siap hendak menyemprot Agus, ketika Ammar berdiri di depan mereka.

"Saya akan pergi ke rumah Dewi besok. Terima kasih sekali sudah mengajari saya banyak hal selama ini," kata Ammar lirih, dia takut mengganggu percakapan ketiga sahabat itu.

Mereka bertiga berpandangan kebingungan.

"Mau apa kamu ke sana, Mar? Kamu belum menguasai ilmu beralih rupa, kan?" Tanya Agus panik.

Ammar menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak butuh itu. Saya hanya ingin melihat Dewi dari dekat, setelah itu saya akan pergi jauh," jawab Ammar.

Mereka semua terdiam.

"Duduklah, Mar! Sabar sebentar, ambil nafas dulu," kata Agus membujuk Ammar agar lebih tenang.

Ammar menurut dia duduk di samping Agus.

"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Agus.

Ammar tersenyum.

"Saya dengan kabar di pasar bahwa ndara Kamawijaya mencari orang pintar. Saya akan mencoba berpura-pura menjadi orang pintar dan akan ke rumah ndara Kamawijaya," jawab Ammar pendek.

Lasiyem tersenyum lebar.

"Aku percaya padamu, Mar! Kamu bisa dibilang sudah ahli dalam ilmu hitam dalam waktu singkat, aku sangat terkesan!" Kata Lasiyem lagi.

"Kamu yakin kamu tidak perlu ajian alih rupa?" Tanya Agus memastikan.

Ammar menggelengkan kepalanya.

"Setiap hari saya ke pasar, dan sepertinya tidak ada seorang pun yang mengenali saya," kata Ammar.

"Tapi kalau Dewi apa tidak mengenalimu, Mar?" Tanya Agus.

Ammar tersenyum.

"Kalau dia memang mengenali saya, dia pasti mau menyimpan semua rahasia itu," bisik Ammar sambil berwajah cerah.

Agus menghela nafas panjang. Seperti Ammar memang sudah memahami apa yang akan dihadapinya kini. Agus menganggukkan kepalanya.

"Baiklah! Pergilah, Mar! Aku percaya kamu pasti bisa menaklukkan hati Dewi," kata Agus.

Ammar mengangguk penuh rasa syukur, dia sangat senang mendapay restu dari guru-gurunya.

****

Malam beranjak larut.

Lasmi, Lasiyem dan Agus masih mengitari perapian. Mereka diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Apa kamu yakin Ammar akan selamat?"

"Ammar memiliki kekuatan yang tidak kita punya!"

"Sepertinya dia terlalu lembut untuk balas dendam, kan?"

Agus tersenyum.

"Kamu benar sekali, Mi! Dia tidak ingin balas dendam. Dia hanya ingin bertemu dengan Dewi."

Mereka diam lagi.

"Jadi kekuatan apa yang ada pada diri Ammar?"

Agus menoleh ke arah Lasiyem dan Lasmi.

"Kekuatan itu bernama cinta!"

****

Agus melihat dari kejauhan bagaimana Ammar mengetuk pintu rumah ndara Kamawijaya. Dia melihat Ammar masuk ke rumah itu dengan mudah. Dia merasa Ammar akan baik-baik saja.

Agus menoleh ke arah Lasiyem dan Lasmi.

"Kurasa kalau kalian ingin melanjutkan perjalanan inilah saat yang paling tepat," kata Agus.

Dua sahabatnya menghela nafas panjang.

"Kenapa kamu masih mau menunggui pemuda itu?" Tanya Lasmi.

"Melihat pemuda itu seperti melihatku dalam cermin. Dulu aku tidak berani mengejar cintaku. Dan sekarang aku menyesalinya. Aku tidak ingin Ammar menyesali pilihan hidupnya," kata Agus pelan.

Lasiyem menghembuskan nafas panjang.

"Kamu ingin melindungi pemuda itu, kan, Gus?"

Agus menoleh, dan mengangguk.

"Sejak pertama aku melihat luka-luka di tubuhnya, aku teringat pada diriku sendiri," bisik Agus, "Ketika melihat dia bisa bertahan aku tahu, Ammar bisa bertahan menghadapi apapun di dunia ini!"

Lasmi dan Lasiyem termenung. Mengingat bagaimana mereka dulu bertemu. Situasinya hampir sama ketika mereka bertemu dengan Agus, seorang pemuda yang hampir tewas dikeroyok warga karena mencuri. Mereka membantu Agus, merawat Agus atas dasar kasih sayang dan mengajari berbagai macam ilmu hitam, hingga mereka menjadi sahabat sampai sekarang. Entah sudah berapa puluh tahun mereka berkelana bersama.

Lasmi merasa sedih.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Gus! Aku akan menemanimu di sini!" Kata Lasmi. Lasiyem mengangguk setuju.

"Ya! Kurasa tempat ini cukup seram! Aku akan menggunakan tempat untuk mencari makan!" Kata Lasiyem sambil tertawa.

Tawa itu menular. Mereka bertiga tertawa. Dan merasa bahwa persahabatan mereka memang tidak bisa tergoyahkan oleh apapun.

****

Desa Parak Ageng memiliki tiga buah dusun. Ada dusun Parak, Parak Wetan dan Parak Kulon.

Sejak peristiwa pembakaran dusun Parak oleh kepala desa mereka sendiri, sebagian besar warga dusun Parak meninggal menjadi korban, dan sisanya yang masih hidup, memilih untuk pergi sejauh-jauhnya, menghilangkan luka dan trauma. Sementara warga dusun lain pun melarikan diri ketakutan. Mereka takut kepala desa mereka akan membakar dusun mereka juga.

Akhirnya desa Parak Ageng menjadi desa yang begitu sepi dan seram. Rumah-rumah banyak yang kosong dan ditinggalkan begitu saja. Pasar pun menjadi sepi, sawah terbengkalai, balai desa pun ditinggal begitu saja, berbagai fasilitas di desa itu menjadi mangkrak, berdebu, berlumut dan mulai rusak, menciptakan keseraman baru. Hal itu membuat warga desa yang masih bertahan lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah ketika senja mulai datang. Mereka tidak ingin dihantui oleh warga desa Parak yang sudah meninggal karena kebakaran setahun yang lalu.

Berita hantu gentayangan itu membuat warga desa semakin ketakutan. Mungkin berita itu memang benar adanya, atau hanya berita bohong belaka, tapi Agus menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Agus menyamar menjadi seorang yang baik-baik dan melamar menjadi seorang carik, yang langsung diterima dengan baik oleh pak Kades yang saat itu sedang kebingungan, karena hanya sedikit orang yang mau menjadi pamong desa.

Lasmi lebih memilih pergi ke pasar dan melihat-lihat keadaan pasar besar dan bekas kejayaan pasar itu. Lasmi memutuskan untuk menjadi pedagang saja. Dia membeli sebuah rumah dan tak lama kemudian menikah dengan seorang juragan sapi bernama Sastro Raharjo. Lasmi diam-diam masih terus belajar ilmu hitam dengan sahabat-sahabatnya.

Lasiyem memilih tetap menjadi dukun. Dia tidak peduli dengan dengan pandangan sinis orang-orang di sekitarnya. Dia tetap menjadi dukun. Sebuah obsesi yang dimilikinya sejak dulu.

Dan itulah jalan kehidupan tiga sahabat pencari ilmu hitam. Desa Parak Ageng yang berubah nama menjadi Tintrim pun menjadi pengikat baru persahabatan mereka.

****

Ammar berhasil memasuki keluarga Kamawijaya dengan mudah. Tidak ada seorang pun yang menyangka dia adalah Ammar. Atau memang ndara Kamawijaya tidak benar-benar tahu seperti apa wajah Ammar. Mereka hanya meminta bantuan kepada Ammar untuk melindungi rumah mereka dari ilmu hitam dan meminta perlindungan diri mereka dari ilmu hitam.

Tapi kemudian pagi itu Dewi melihat senyum samar Ammar ketika melihatnya bermain dengan Arjo yang sudah mulai belajar berjalan. Dewi tahu dia adalah Ammar.

Dewi mendekati Ammar yang saat itu baru memasang sesaji di kamar bapaknya.

"Mas Ammar, apakah Arjo adalah kiriman dari mas Ammar?"

Ammar mendelik kaget. Dia hampir terlonjak. Dewi tersenyum geli melihat Ammar.

"Sudah kuduga!" Bisik Dewi lirih, "Aku tahu kamu adalah Ammar. Terima kasih sudah mau datang ke sini, Mas," bisik Dewi lagi.

Ammar akhirnya sadar, orang yang akan mengenalinya, pastilah Dewi. Ammar tersenyum dan mengangguk.

"Kamu bisa mengenaliku, Wi," bisik Ammar pelan.

Dewi mengangguk.

"Menikahlah denganku, Mas," bisik Dewi dengan lelehan air mata, "Aku akan membantumu membalaskan dendammu pada bapakku."

Ammar menghela nafas panjang. Menikah? Pasti Agus akan tertawa mendengarnya. Tapi biarlah, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan balas dendam ini. Dia kemudian menyanggupi keinginan Dewi.

Tapi tentu saja dengan syarat. Dan syarat itu langsung dipenuhi oleh Dewi tanpa banyak bertanya. Salah satu syaratnya adalah menjadikan ndara Kamawijaya sebagai tumbal mereka yang pertama.

****

Agus hampir tak percaya mendengar kabar ndara Kamawijaya akan mantu. Apalagi ketika calon menantunya itu adalah Ammar. Dia tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja.

Tapi Agus mafhum, sepertinya Ammar memiliki rencana lain. Agus tahu Ammar pasti akan balas dendam.

****

Sepuluh tahun berlalu. Ndara Kamawijaya sudah lama meninggal, tapi rumahnya masih seperti dulu. Tertutup rapat dari luar, karena itu adalah salah satu syarat yang diajukan oleh Ammar kepada Dewi Karunyan sebelum mereka menikah. Rumah mereka harus tertutup rapat dan tidak boleh dimasuki oleh orang asing, karena rumah mereka akan dijadikan tempat belajar ilmu hitam oleh semua anggota keluarganya, termasuk Harjo Kusumo dan para pembantu mereka.

Setiap orang yang hendak menjadi pembantu mereka pasti disumpah untuk bersedia belajar ilmu hitam. Dan tidak ada satu pun orang yang keberatan. Mereka semua hidup bahagia dengan ilmu hitam mereka, dengan pilihan hidup mereka.

Ammar yang sudah mengubah namanya menjadi Wardoyo Kusumo ternyata sangat pintar berbisnis, sekali lagi keluarga kuno itu menjadi salah satu keluarga terkaya di Tintrim, selain itu kepandaiannya dalam meramu ilmu hitam membuatnya terkenal hingga ke berbagai daerah, dan membuatnya sering pergi ke berbagai tempat untuk menjadi dukun.

Dewi Karunyan pun tak beda jauh. Dia berguru langsung pada suaminya dan menjadi seorang wanita penggila ilmu hitam. Dia sangat menyukai berbagai macam ajian dari laut selatan. Dewi menjadi semacam kolektor jimat dari laut selatan.

Anak mereka Harjo Kusumo atau yang kemudian sering dipanggil dengan Aryo Kusumo pun demikian. Dia sangat suka belajar ilmu hitam walaupun masih kecil, dia kadang ikut bapaknya hingga ke tempat yang jauh untuk bertirakat dan mendapat ilmu baru.

Tapi Aryo Kusumo bertumbuh menjadi anak yang pendiam dan tidak suka bicara. Dia lebih suka melihat, mengamati dan kemudian mengambil sikap. Dia tumbuh nyaris sama seperti Ammar, bapak yang mengirimkannya ke rahim Dewi Karunyan. Dia sangat mengidolakan bapaknya.

****

Wardoyo Kusumo atau Ammar menghela nafas panjang. Dia memandang wanita muda di depannya.

"Kamu tidak bohong, kan?"

Wanita itu menggelengkan kepalanya.

"Apa kamu hanya berhubungan dengan aku?" Tanya Wardoyo Kusumo lagi.

Wanita itu menitikkan air matanya. Wajah cantiknya terlihat sendu.

"Njih, Ndara. Saya tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain," jawab sang wanita itu pilu.

Wardoyo Kusumo menggigit bibirnya kuat-kuat. Inilah pertama kalinya dia tidak berhati-hati ketika bermain dengan wanita, sehingga wanita itu hamil. Dia menghela nafas berat.

"Baiklah, aku akan menanggung semua biaya dan kebutuhan hidupmu dan anak yang akan kamu lahirkan! Tapi kalau kamu ketahuan bohong, aku akan membunuh kalian berdua!" Kata Wardoyo Kusumo dengan bengis.

Wanita itu mengangguk takut. Dia takut ketahuan kalau dia sebenarnya bukan wanita baik-baik.

****

Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu, ibunya meninggalkan bayi itu di puskesmas Tintrim sendirian, dan kemudian bayi itu diangkat oleh seorang janda bernama Sumirah yang bekerja di rumah Wardoyo Kusumo atau Ndara Kusumo.

Tapi sebenarnya semua memang sudah diatur. Ibu sang bayi sudah dibun*h, dan kemudian bayi itu diangkat oleh pembantu ndara Kusumo agar semua mudah diatur dan ndara Kusumo bisa juga mewariskan ilmu hitamnya pada anak laki-lakinya yang diberi nama Sapto Aji.

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Janji

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED