Bab 1

Pagi itu, Jakarta masih dibalut suasana yang sama-padat, bising, namun penuh cerita di balik setiap langkah manusia yang bergegas mengejar waktu. Di tengah keramaian itu, Nayara berdiri di depan cermin panjang yang menempel di dinding kamarnya. Rambut hitamnya yang tergerai ia rapikan dengan jari-jari lentiknya, lalu ia kenakan blazer krem dipadu dengan celana kain high waist yang membuat penampilannya terlihat profesional sekaligus fashionable.

Nayara memang selalu punya cara untuk tampil memikat tanpa terkesan berlebihan. Meski hanya staf biasa di sebuah perusahaan swasta, ia tidak pernah membiarkan dirinya tampil seadanya. Bukan karena ia ingin dipuji, tapi karena itu bagian dari dirinya-ia percaya bahwa kepercayaan diri berawal dari cara seseorang menghargai dirinya sendiri.

"Hmm, cukup," gumamnya sambil mengambil tas kerja berwarna hitam yang tergantung di kursi.

Ia menatap jam dinding. Hampir pukul delapan. Jalanan pasti sudah mulai padat. Dengan langkah cepat, ia keluar dari kamar, menyapa ibunya yang sedang menyiapkan sarapan sederhana di meja makan.

"Nay, makan dulu sebentar. Mama sudah bikin nasi goreng," ucap ibunya, Bu Ratna, sambil tersenyum hangat.

Nayara menghela napas pelan. "Ma, aku harus buru-buru. Kalau macet, aku bisa telat masuk kantor."

"Ya ampun, kamu ini kerja terus, sayang. Sesekali santai juga tidak apa-apa."

Nayara tersenyum kecil, lalu mendekati ibunya. "Aku janji nanti malam kita makan bareng, Ma. Jangan lupa minum obat, ya."

Ada sorot khawatir yang sempat singgah di mata Nayara setiap kali ia mengingat kondisi ibunya yang masih harus rutin minum obat. Sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu, Nayara menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Ia tidak bisa hanya berdiam diri, apalagi kebutuhan rumah dan kesehatan ibunya cukup besar.

Setelah berpamitan, Nayara melangkah keluar rumah menuju halte bus TransJakarta. Ia lebih memilih transportasi umum ketimbang membawa mobil atau motor karena lebih praktis, meski harus berdesakan.

Hari itu di kantor, suasana agak berbeda. Para karyawan tampak lebih sibuk dari biasanya. Nayara baru saja duduk di meja kerjanya ketika sahabat sekaligus rekan kerjanya, Dita, langsung menghampiri.

"Nay! Kamu sudah dengar kabar belum?" Dita menepuk pundaknya dengan ekspresi heboh.

Nayara mengernyit. "Kabar apa? Aku baru aja duduk."

"Katanya hari ini bakal ada kunjungan dari pemilik perusahaan induk kita. Bukan cuma perwakilan, tapi langsung pewarisnya yang datang."

"Oh, ya? Terus kenapa kamu heboh banget?" Nayara menatap Dita dengan nada heran.

"Ya ampun, Nay. Kamu ini ketinggalan banget deh. Pewaris Arvandre Global itu bukan orang sembarangan. Namanya Leonardo Arvandre. Orangnya masih muda, ganteng banget, miliarder pula. Setengah darah Prancis gitu. Semua orang di kantor udah sibuk gosipin dia dari tadi."

Nayara hanya terkekeh kecil. "Dita, kita ini cuma staf biasa. Menurut kamu, dia bakal peduli sama kita?"

"Siapa tahu? Kan nggak ada yang tahu takdir. Bisa aja kamu ketemu dia terus jatuh cinta." Dita menutup mulutnya sambil cekikikan.

"Jangan ngawur ah. Aku realistis aja. Orang kaya gitu mana mungkin peduli sama orang kayak aku," jawab Nayara sambil membuka laptopnya.

Namun jauh di dalam hatinya, Nayara merasa sedikit terusik. Nama itu terasa tidak asing. Leonardo Arvandre. Ia seolah pernah mendengarnya.

Sementara itu, di gedung pusat Arvandre Global cabang Jakarta, sebuah mobil hitam mewah berhenti di lobi utama. Dari dalam mobil, seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas abu-abu elegan melangkah keluar. Sorot matanya tajam, rahangnya tegas, dan aura berwibawanya membuat semua orang yang melihatnya otomatis menunduk hormat.

Dialah Leonardo Arvandre.

Bagi banyak orang, ia adalah sosok yang nyaris sempurna: kaya, tampan, cerdas, dan pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Arvandre. Tapi sedikit yang tahu, di balik itu semua, ia menyimpan luka lama dan rahasia yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Hari ini, ia datang untuk memantau perkembangan perusahaan cabang di Indonesia. Namun jauh di dalam hatinya, ada alasan lain yang membuat langkahnya kembali ke negeri ini. Alasan yang tidak ingin ia akui, bahkan pada dirinya sendiri.

Waktu istirahat siang tiba. Kantor menjadi lebih tenang karena sebagian besar karyawan turun ke kantin. Nayara memilih tetap di meja kerjanya, menyelesaikan laporan yang harus dikirim sebelum sore. Ia baru saja meneguk air mineral ketika tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka.

Seorang pria asing melangkah masuk, diikuti oleh beberapa orang staf manajerial. Semua orang berdiri. Nayara ikut berdiri dengan bingung.

"Teman-teman, izinkan saya memperkenalkan beliau," ujar salah satu manajer. "Ini adalah Tuan Leonardo Arvandre."

Seolah waktu berhenti sejenak, mata Nayara bertemu dengan mata pria itu. Ada kilasan aneh yang muncul di ingatannya. Wajah itu... ia pernah melihatnya. Tiga tahun lalu.

Tiga tahun lalu, Nayara pernah menghadiri sebuah acara amal yang digelar di sebuah hotel mewah di Jakarta. Ia datang karena membantu temannya yang bekerja sebagai panitia. Malam itu, di antara keramaian tamu undangan berkelas, ia tanpa sengaja menabrak seorang pria dengan setelan jas hitam. Gelas sampanye di tangannya hampir jatuh, namun pria itu dengan sigap menahannya.

"Are you okay?" suara bariton itu terdengar lembut, namun penuh wibawa.

Nayara gugup, wajahnya memerah. "M-maaf, saya tidak sengaja."

Pria itu tersenyum samar. "Hati-hati lain kali."

Itu pertemuan singkat, tapi cukup meninggalkan kesan dalam. Sejak malam itu, ia tidak pernah lagi melihat pria tersebut. Hingga kini.

Leonardo menatap Nayara lebih lama daripada yang seharusnya. Ada sesuatu pada gadis itu yang mengusik pikirannya. Ia seolah mengenalnya.

"Senang bertemu dengan kalian semua," ucap Leonardo dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Para staf menyambutnya dengan hormat. Namun matanya sekali lagi melirik ke arah Nayara, yang berdiri kaku di sudut ruangan.

Setelah perkenalan singkat, Leonardo dan tim manajerial masuk ke ruang rapat. Suasana kantor kembali normal, kecuali bagi Nayara yang masih merasakan jantungnya berdegup kencang.

Dita segera menghampirinya. "Nay! Kamu lihat nggak tadi? Dia ngeliatin kamu, loh."

"Apaan sih? Nggak ada," Nayara mengelak, meski pipinya merona.

Hari berlanjut hingga sore. Ketika Nayara hendak pulang, ia menyadari ada file penting yang tertinggal di meja rapat. Ia kembali ke lantai atas untuk mengambilnya. Begitu membuka pintu ruangan, ia terkejut melihat Leonardo masih ada di sana, duduk sendiri sambil menatap layar laptop.

Pria itu mendongak. "Kamu."

Nayara tercekat. "S-saya hanya mau mengambil file, Tuan."

"Nama kamu siapa?" tanyanya tiba-tiba.

"N-Nayara, Tuan."

Leonardo menatapnya lama, seolah mencoba mengingat sesuatu. "Tiga tahun lalu... di acara amal di Hotel Grand Luxe. Itu kamu, kan?"

Nayara terkejut. "A-anda... ingat?"

Senyum tipis terukir di bibir Leonardo. "Aku jarang melupakan sesuatu yang penting."

Degup jantung Nayara kian kencang. Pertemuan singkat yang dulu ia kira tidak berarti, ternyata meninggalkan jejak dalam ingatan pria yang kini berdiri di hadapannya-seorang miliarder pewaris kerajaan bisnis dunia.

Dan sejak saat itu, tanpa mereka sadari, hidup keduanya mulai kembali saling terikat dalam sebuah cerita yang lebih rumit dari yang pernah mereka bayangkan.

Bab 2

Suasana malam di Jakarta selalu sibuk. Jalanan penuh dengan kendaraan yang berebut ruang, suara klakson bersahutan, dan lampu-lampu kota yang berkelip tak kenal lelah. Nayara melangkah keluar dari gedung kantor sambil menenteng tas kerjanya. Udara agak lembap karena sejak sore hujan sempat turun, meninggalkan aroma tanah basah yang samar-samar menyegarkan.

Namun pikirannya jauh dari tenang. Kata-kata Leonardo tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya.

"Tiga tahun lalu... di acara amal di Hotel Grand Luxe. Itu kamu, kan?"

Bagaimana mungkin pria sekelas dia masih mengingatnya? Nayara bahkan berpikir pertemuan itu hanyalah sebuah insiden kecil yang tidak berarti. Tapi kenyataannya, Leonardo benar-benar mengenali dirinya.

"Kenapa harus aku yang dia ingat?" gumam Nayara sambil menghela napas panjang.

Ia menghentikan langkahnya di pinggir jalan, menunggu bus kota. Pikirannya masih penuh tanda tanya. Apakah ini hanya kebetulan? Atau ada alasan lain di balik sikap Leonardo yang seakan terlalu memperhatikannya?

Di sisi lain, Leonardo duduk di kursi belakang mobilnya yang melaju meninggalkan gedung kantor. Sorot matanya kosong, menatap keluar jendela yang dipenuhi pantulan lampu kota. Namun pikirannya justru terikat pada satu sosok-gadis yang ia temui kembali setelah tiga tahun.

"Nayara..." ia menyebut nama itu pelan, seolah mencoba mengukirnya di ingatan.

Asistennya, Marco, yang duduk di samping sopir, melirik dari kaca spion. "Tuan, apakah ada yang mengganggu pikiran Anda?"

Leonardo menoleh sekilas, lalu kembali menatap ke luar. "Tidak ada yang penting."

Namun hatinya berkata lain. Sejak malam itu tiga tahun lalu, bayangan gadis dengan tatapan gugup dan senyum canggung itu sesekali muncul di kepalanya. Ia memang jarang mengingat wajah orang dengan jelas, tapi entah kenapa, wajah Nayara berbeda. Dan kini, takdir mempertemukan mereka lagi.

Keesokan paginya, Nayara kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk. Ia berusaha bersikap biasa saja, tapi jantungnya berdebar begitu melihat iring-iringan mobil hitam berhenti di depan lobi.

"Dia datang lagi," bisik Dita sambil mendorong lengan Nayara.

"Ya sudah, biarin. Kan dia memang pemilik perusahaan," balas Nayara setengah malas.

"Tapi aku yakin dia bakal nyari alasan buat deketin kamu, Nay. Percaya deh."

"Dit, jangan sembarangan ngomong. Aku nggak mau orang salah paham."

Namun kenyataannya, tak butuh waktu lama sampai ucapan Dita terbukti. Siang itu, saat Nayara sedang menyalin beberapa dokumen di ruang printer, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Dan sosok yang masuk membuatnya refleks menegakkan badan.

"Selamat siang," suara bariton itu terdengar jelas.

"Tu-tuan Leonardo?" Nayara tergagap.

Leonardo menatapnya dengan senyum samar. "Kebetulan saya sedang mencari seseorang untuk membantu memahami laporan keuangan cabang ini. Apakah kamu punya waktu?"

Nayara terperangah. "M-maksud Anda, saya?"

"Ya." Tatapan Leonardo tajam, tapi tidak menakutkan. Lebih seperti sebuah perintah halus yang sulit ditolak.

Nayara menelan ludah. "Baik, Tuan."

Mereka berdua akhirnya duduk di ruang rapat kecil. Leonardo membuka laptopnya, sementara Nayara menyiapkan dokumen yang diperlukan. Suasana canggung tercipta, hanya suara kertas dan ketikan keyboard yang terdengar.

Sesekali, Leonardo menatap Nayara dengan tatapan penuh arti. Nayara yang menyadarinya menjadi semakin salah tingkah.

"Kenapa Anda memilih saya untuk membantu, Tuan? Masih banyak staf senior yang lebih berpengalaman," tanya Nayara akhirnya, mencoba memecah keheningan.

Leonardo tersenyum tipis. "Karena saya percaya, terkadang orang yang terlihat biasa justru punya cara pandang yang lebih jujur."

Nayara terdiam. Jawaban itu terlalu aneh untuk sekadar basa-basi.

Waktu berjalan, dan tanpa mereka sadari, sudah lebih dari satu jam mereka berada di ruangan itu. Nayara mulai bisa sedikit rileks, menjelaskan angka-angka dengan lancar. Leonardo pun tampak memperhatikannya dengan serius, meski sesekali ia melirik wajah Nayara lebih lama daripada yang seharusnya.

Saat Nayara menunduk untuk mengambil dokumen, sebuah pulpen tergelincir dari meja dan jatuh ke lantai. Nayara buru-buru membungkuk untuk mengambilnya, namun di saat yang sama, Leonardo juga melakukan hal yang sama. Kepala mereka nyaris bertabrakan.

"Ah!" Nayara refleks mundur, wajahnya memerah.

Leonardo menatapnya dalam, lalu tersenyum samar. "Hati-hati."

Detik itu, jantung Nayara berdetak tak karuan. Ada sesuatu pada tatapan mata pria itu yang membuatnya sulit bernapas.

Usai pertemuan, gosip segera menyebar di kantor. Beberapa rekan kerja mulai berbisik-bisik setiap kali Nayara lewat. Ada yang menatapnya dengan iri, ada pula yang mencibir.

"Lihat tuh, Nayara kayaknya dekat sama bos besar."

"Wajar sih, dia kan cantik. Tapi ya ampun, cepat banget dapat perhatian."

Nayara pura-pura tidak mendengar, meski hatinya terasa sesak. Ia tidak pernah mencari perhatian siapa pun, apalagi Leonardo.

Dita mencoba menenangkannya. "Nay, biarin aja orang ngomong. Kamu nggak salah apa-apa. Lagian, siapa yang nggak bakal diperhatikan kalau ada di posisi kamu?"

"Tapi Dit, aku nggak nyaman. Aku cuma staf biasa, dan aku nggak mau masalah."

"Tapi kalau memang dia suka sama kamu, kenapa nggak? Hidup kan penuh kejutan, Nay."

Nayara hanya menghela napas. Ia tahu Dita bermaksud baik, tapi kenyataan tidak sesederhana itu.

Sore itu, saat semua karyawan bersiap pulang, Nayara kembali dipanggil oleh sekretaris pribadi Leonardo.

"Nona Nayara, Tuan Leonardo ingin bertemu dengan Anda di ruangannya," ucap sang sekretaris sopan.

Nayara tercekat. "S-sekarang?"

"Ya, sekarang."

Dengan langkah gugup, Nayara mengetuk pintu ruangan mewah itu. Dari dalam terdengar suara berat yang mempersilakan masuk.

Begitu pintu terbuka, ia melihat Leonardo sedang duduk di balik meja kerja besar dengan pemandangan kota Jakarta di belakangnya. Pria itu menatap Nayara dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Duduklah," ujarnya singkat.

Nayara duduk pelan, mencoba menenangkan dirinya. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

Leonardo menautkan jemarinya di atas meja. "Aku hanya ingin berbicara."

"Berbicara... tentang apa?" Nayara bingung.

Leonardo mencondongkan tubuhnya sedikit. "Tentang kamu."

Nayara terbelalak. "S-saya?"

"Ya. Tiga tahun lalu, aku hanya bertemu kamu sebentar. Tapi entah kenapa, wajahmu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku. Dan sekarang, kita dipertemukan lagi."

Nayara tercekat. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Leonardo melanjutkan dengan suara lebih pelan, namun tegas. "Aku ingin mengenalmu lebih jauh, Nayara."

Kata-kata itu menggema di telinga Nayara, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Ia tidak pernah membayangkan seorang pria sekelas Leonardo Arvandre akan mengucapkan hal seperti itu padanya.

Namun, di balik rasa gugup dan jantung yang berdegup kencang, Nayara tahu satu hal: jalan yang baru saja terbuka di hadapannya bukan jalan yang mudah. Karena sejak hari itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Bab 3

Suasana ruang kerja Leonardo seakan membeku. Dari balik jendela besar, cahaya sore menyelinap masuk, menimpa wajah pria itu yang terlihat begitu tenang. Sementara di seberangnya, Nayara duduk dengan tubuh kaku, jantungnya berdegup kencang, dan matanya masih menatap tak percaya.

"Apa maksud Anda dengan... ingin mengenal saya lebih jauh?" suara Nayara akhirnya pecah, nyaris bergetar.

Leonardo tidak menjawab langsung. Ia menatap Nayara dalam-dalam, lalu menyandarkan punggung ke kursinya. "Maksudku sederhana, Nayara. Aku ingin kamu menjadi kekasihku."

Hening.

Seakan seluruh ruangan terhisap udara, Nayara membeku. Ia sampai harus memastikan telinganya tidak salah dengar.

"A... apa?" bibirnya gemetar. "T-tunggu. Kekasih Anda?"

"Ya," jawab Leonardo datar, seolah sedang membicarakan urusan bisnis.

Nayara menutup mulut dengan tangan, lalu mendengus, mencoba menahan tawa getir. "Hahaha... astaga. Tuan pasti bercanda, kan? Mana mungkin... saya?"

Leonardo mengangkat alis. "Apa yang lucu?"

"Semua ini!" Nayara menepuk dadanya sendiri dengan emosi. "Saya? Kekasih Anda? Tuan Leonardo Arvandre, miliarder, pewaris konglomerasi besar dunia, datang-datang bilang ingin menjadikan saya kekasihnya? Kenapa bukan perempuan lain saja? Perempuan yang lebih cantik, lebih seksi, lebih sepadan dengan Anda? Bukannya saya hanya staf biasa, bahkan bukan siapa-siapa?"

Suara Nayara meninggi, matanya berkaca-kaca tapi penuh keberanian.

"Saya ini perempuan biasa, Tuan! Hidup sederhana, miskin, tidak punya apa-apa selain pekerjaan ini. Saya bukan tipe perempuan yang bisa Anda pajang di samping Anda saat acara formal. Jadi kenapa harus saya?!"

Napasnya terengah setelah kata-kata panjang itu meluncur.

Leonardo masih menatapnya tanpa ekspresi. Seolah tidak terguncang sedikit pun oleh ledakan emosi Nayara. Bahkan, ia tampak tenang... terlalu tenang.

Perlahan, ia membuka laci meja kerjanya, menarik sebuah map tebal berwarna hitam, lalu meletakkannya di hadapan Nayara.

"Apa ini?" Nayara menatap dengan bingung.

"Kontrak," jawab Leonardo singkat.

Nayara mengernyit. "Kontrak? Maksudnya?"

Leonardo menautkan jemarinya. "Jika kamu setuju menjadi kekasihku, semuanya akan jelas secara hitam di atas putih. Tidak ada yang abu-abu, tidak ada yang menggantung."

Nayara ternganga. "Anda... serius?"

Leonardo menatapnya dalam. "Aku selalu serius."

Tangannya bergerak membuka map itu. Di dalamnya, beberapa lembar kertas dengan tulisan resmi, lengkap dengan logo perusahaan Arvandre di pojok atas.

"Aku tahu kamu butuh uang, Nayara," ucap Leonardo tiba-tiba.

Nayara sontak terlonjak, matanya melebar. "A-apa? Dari mana Anda tahu?"

Leonardo mencondongkan tubuhnya, sorot matanya tajam menembus pertahanan Nayara. "Aku tahu tentang ibumu. Aku tahu kamu bekerja keras siang dan malam demi biaya pengobatannya. Aku tahu kamu menahan diri, hidup sederhana, demi bisa tetap membayar rumah dan kebutuhan sehari-hari. Jangan kaget, Nayara. Aku tidak pernah melangkah tanpa riset."

Nayara terdiam. Tubuhnya bergetar. Ada rasa malu, marah, sekaligus tak berdaya. "Anda... menyelidiki saya?" suaranya lirih, nyaris serak.

Leonardo tidak menjawab, hanya menatapnya datar.

Nayara menggenggam tangannya erat, lalu mendesis. "Kalau Anda tahu, maka Anda juga tahu saya tidak butuh belas kasihan."

"Ini bukan belas kasihan," potong Leonardo cepat. "Ini tawaran. Kontrak. Kamu dapat uang dalam jumlah besar, rumah, mobil, dan uang bulanan. Sebagai gantinya, kamu menjadi kekasihku-secara resmi."

Nayara membeku. Rasanya seperti mimpi buruk.

Leonardo melanjutkan dengan tenang, seakan sedang menjelaskan pasal bisnis. "Kamu akan mendapatkan rumah mewah yang bisa kamu tempati bersama ibumu. Sebuah mobil, supir pribadi bila perlu, dan uang bulanan dalam jumlah yang cukup untuk membuatmu tidak perlu bekerja lagi. Semua tertulis di sini."

Tangannya menepuk kertas kontrak.

Nayara menelan ludah. "Berapa... jumlahnya?" tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.

Leonardo menatapnya lurus. "Uang muka seratus juta. Uang bulanan lima puluh juta. Plus semua fasilitas yang sudah kusebutkan."

Nayara menutup mulut, dadanya naik turun cepat. Angka itu begitu besar. Bahkan gajinya setahun pun tidak ada apa-apanya dibanding jumlah itu. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa melunasi hutang rumah sakit, memberi ibunya perawatan terbaik, bahkan menyekolahkan adik sepupunya yang sempat putus sekolah.

Tapi... harga dirinya?

"Kenapa saya?" suara Nayara serak, matanya berkaca-kaca. "Kenapa bukan orang lain? Perempuan lain di luar sana rela mengantri hanya untuk jadi kekasih Anda. Mereka jauh lebih pantas. Sedangkan saya..." ia menggigit bibir, "saya bukan siapa-siapa."

Leonardo tetap tenang. "Justru karena kamu bukan siapa-siapa, Nayara."

Nayara menatapnya bingung.

"Perempuan yang terbiasa hidup dengan kemewahan sering kali lupa siapa dirinya. Mereka mudah goyah. Mereka punya banyak kepentingan. Aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh seseorang yang jujur, sederhana... dan kamu adalah itu."

Nayara merasa dadanya semakin sesak. Kata-kata itu seakan menamparnya.

Namun saat ia meraih kontrak itu, matanya terpaku pada salah satu pasal yang membuat darahnya berdesir panas.

"Tidak boleh berdekatan dengan lelaki lain, dalam bentuk apa pun."

Nayara mengangkat kepalanya cepat. "Apa-apaan ini?!"

"Itu syarat utama," jawab Leonardo datar.

Nayara membanting map itu di meja. "Anda gila! Saya manusia, bukan barang kepemilikan Anda! Bagaimana bisa Anda menulis syarat seperti ini?!"

Leonardo tidak bergeming. "Itu demi kepastian. Aku tidak ingin berbagi. Kalau kamu menjadi kekasihku, maka kamu hanya milikku. Tidak ada yang lain."

Nayara berdiri dengan napas terengah. "Tuan, saya sudah bilang, saya perempuan biasa. Saya tidak bisa jadi bagian dunia Anda, apalagi dengan syarat gila seperti ini!"

Namun sebelum ia melangkah pergi, suara berat Leonardo menghentikannya.

"Pikirkan baik-baik, Nayara. Jangan buru-buru menolak. Aku tahu kamu butuh ini."

Langkah Nayara terhenti di depan pintu. Air matanya jatuh begitu saja. Ia menoleh sekilas, menatap Leonardo dengan mata berkilat.

"Uang bisa menyelamatkan ibu saya, Tuan. Tapi kalau harga diri saya harus dijual... apa bedanya saya dengan perempuan murahan?" suaranya lirih, namun menusuk.

Leonardo menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata pelan. "Kamu berbeda, Nayara. Justru karena itu aku memilihmu."

Nayara menggertakkan gigi, lalu membuka pintu dengan kasar dan melangkah keluar.

Namun di dalam hatinya, pertempuran besar baru saja dimulai-antara kebutuhan, cinta diri, dan tawaran gila yang bisa mengubah hidupnya selamanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED