Bab 1

"Saya terima nikah dan kawinnya Merrisa Amalia binti Adan dengan mas kawin cincin emas seberat lima gram dan uang tunai sebesar lima puluh juta rupiah dibayar tunai."

Adinandya Kharisma Putra mengucapkan kalimat kabulnya dengan hanya satu tarikan napas saja, tentu saja hal itu membuat sang mempelai wanita benar-benar merasa bangga dan juga bahagia.

"Bagaiaman para saksi?" tanya pak penghulu.

SAH! "

Kata itu seakan mengalun indah di gendang telinga Merrisa Amalia. Dia begitu senang, karena akhirnya dia bisa menikah dengan lelaki yang melamarnya secara baik-baik ke rumahnya.

Lelaki dewasa yang terpaut usia tiga belas tahun dengannya. Lelaki dewasa yang sudah berhasil menaklukan hati seorang Merrisa Amalia.

Lelaki itu, memang baru saja dikenalnya selama 3 bulan. Akan tetapi, lelaki itu sangat baik dan dia begitu perhatian terhadap Merrisa.

Lelaki itu juga sangat baik terhadap pak Adan, bapaknya Merrisa. Lelaki itu juga sangat baik terhadap Johan, adiknya Merrisa.

Merrisa pun langsung jatuh hati terhadap kebaikan lelaki itu, Merrisa menyukai sifat lelaki itu yang dia rasa sangat lembut dan berwibawa.

"Akhirnya, Sayang. Kamu sudah sah menjadi istriku, bersiaplah." Bisik Adinandya tepat di telinga Merrisa.

Merrisa terlihat tersipu malu, dia jadi membayangkan hal yang tidak-tidak gara-gara ucapan Adi. Adi yang melihat akan hal itu langsung terkekeh, dia merasa begitu gemas ketika wanita yang kini baru saja sah menjadi istrinya itu tersipu malu karena ulahnya.

Pernikahan sederhana yang Adinandya rencanakan dengan matang pun telah terlaksana, dia memang sengaja tak mengundang banyak orang.

Dia beralasan, bahwa dia tidak ingin melakukan pernikahan secara besar, karena ingin melaksanakan acara pernikahannya dengan khidmat yang hanya dihadiri oleh pihak keluarga inti saja.

Merrisa pun setuju, kerena dia memang tidak terlalu suka akan keramaian. Lagi pula, menurut Merrisa uang untuk acara resepsi mending ditabung saja buat masa depan daripada dihamburkan secara sia-sia.

Toh yang terpenting masa setelah mereka menikah nanti seperti apa. Bukan tentang pernikahannya semewah apa.

Semua rangkaian acara dilaksanakan dengan khidmat. Walaupun tak banyak tamu yang datang, seakan tak mengurangi kebahagiaan dari Merrisa dan juga Adinandya.

Bahkan, sepanjang acara berlangsung Merrisa dan Adinandya terlihat sangat senang, begitupun dengan pak Adan dan juga Johan, adik dari Merrisa.

"Kamu senang, Mer?" tanya Adi.

"Tentu," jawab Mer tersipu-sipu.

Sepanjang acara resepsi pernikahan yang digelar secara sederhana berlangsung, Adi dan juga Mer terus saja tersenyum dengan begitu bahagia.

Mer terlihat begitu lengket kepada pria yang baru saja mengesahkan dirinya sebagai istrinya, Adi juga memperlakukan Mer dengan penuh cinta selama acara berlangsung.

Tentu saja hal itu membuat keduanya terlihat merasakan kebahagiaan yang tiada tara, hingga tidak lama kemudian acara resepsi pernikahan sudah berakhir. Adi menghampiri pak Adan dan juga Johan, dia ingin berpamitan dan meminta izin untuk memulai rumah tangga mereka.

"Pak, izinkan saya membawa Mer ke rumah saya. Saya ingin berumah tangga secara mandiri dengan Mer," ucap Adi.

Mer merasa terharu mendengar ucapan dari Adi, ternyata Adi begitu sopan saat meminta izin kepada bapaknya.

Pak Adan tersenyum, lalu menepuk pelan pundak lelaki yang baru saja menjadi menantunya. Pria yang dia rasa bisa menuntun putrinya menjadi istri yang sholeha.

"Silakan, Nak. Bawalah istrimu pergi ke rumahmu. Akan tetapi, bapak minta tolong jaga anak Bapak dengan baik. Bahagiakan dia, buatlah dia menjadi istri yang patuh terhadap suaminya."

Pak Adan berpesan kepada lelaki yang baru saja menjadi menantunya, tentunya dia meminta menantunya tersebut untuk membahagiakan putri tersayangnya.

Adi terlihat menganggukan kepalanya, sebagai tanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh mertuanya.

"Pasti, Pak. Saya sangat menyayangi istri saya, saya pasti akan berusaha untuk membahagiakan putri Bapak. Kalau begitu, kami permisi, Pak." Adi langsung mencium punggung tangan pak Adan.

Adi juga tak lupa berpamitan dengan Johan, adik laki-laki Merrisa yang kini tengah menjadi adik iparnya. Pria itu terlihat menatap Adi dengan tatapan penuh harap, dia berharap jika Adi mampu membahagiakan kakak perempuannya itu.

"Abang pulang dulu, kalau kamu sempat mainlah ke rumah." Pamit Adi pada Johan seraya menepuk pundak adik iparnya.

"Iya, Bang. Jaga Kakak aku dengan baik ya, jangan sakiti dia," pinta Johan pada Adi.

"Pasti!" jawab Adi dengan yakin.

Sebelum Mer ikut ke rumah Adi, Mer memeluk bapaknya dengan erat. Dia juga memeluk adiknya dengan sangat erat, Mer sebenarnya merasa sangat berat untuk meninggalkan mereka berdua.

Bahkan air Mata Mer kini mulai turun dan membasahi kedua pipinya, Mer dengan cepat mengusap air matanya, lalu melerai pelukannya.

"Mer pergi, Bapak sama Johan jaga diri baik-baik." Mer berucap dengan suara yang serak, karena dia terus saja menangis.

"Kakak, tenang saja. Ada johan yang akan jaga Bapak, Kakak berbahagialah dengan kehidupan baru Kakak." Johan tersenyum seraya mengusap lengan Mer dengan penuh kasih.

Mer langsung tersenyum, dia senang karena ternyata adiknya sudah dewasa. Walaupun Mer berat untuk meninggalkan mereka, Mer harus ikhlas. Karena hari ini dia telah melepaskan masa gadisnya, dia juga sudah menjadi seorang istri dari Adinandya Kharisma Putra.

Sudah tidak mungkin lagi jika dia masih harus bermanja pada bapak dan adiknya lagi. Mer juga sadar jika dia sudah mempunyai tanggung jawab yang baru, dia sudah harus patuh terhadap suaminya itu.

"Pergilah, Nak. Berbahagiah dengan suami kamu," ucap Pak Adan.

Setelah berpamitan kepada pak Adan dan juga Johan, Mer langsung masuk ke dalam mobil milik Adi. Lalu, dia duduk di bangku samping kemudi.

Setelah memastikan jika istrinya sudah masuk ke dalam mobilnya dengan benar, Adinandya pun langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Adi, Mer terlihat sangat bahagia. Senyum pun, tak pernah pudar dari bibirnya. Walaupun memang pada awalnya sempat dia merasakan kesedihan karena baru saja berpisah dengan kedua lelaki yang dia sayang.

Sesampainya di rumah Adi, Mer langsung diajak ke dalam kamar utama oleh suaminya. Semua barang-barang yang mereka bawa, langsung dirapikan oleh asisten rumah tangganya.

Adi yang terlihat tak sabar langsung menggendong istrinya, Mer. Adi menidurkan Mer di atas kasur berukuran besar milik Adi.

"Mas mau apa?" tanya Mer saat melihat Adi mulai mengungkung pergerakan tubuhnya.

Adi dengan tidak sabarnya langsung mengunci pergerakan tubuh Mer, tentu saja hal itu membuat Mer tidak bisa bergerak dengan bebas.

"Sayang, Mas, pengen. Mas mau kamu, Mas udah ngga tahan." Adi langsung menautkan bibirnya tanpa mendengarkan Mer mau berbicara apa.

Mer yang tahu dengan apa yang diinginkan oleh suaminya dengan senang hati langsung menyambut tautan bibir suaminya itu, dia mengimbangi permainan bibir suaminya yang dirasa begitu lihai.

"Mas!" erang Mer kita pagutan bibir mereka terlepas.

Mer terlihat terengah-engah, dia seolah kehabisan napas karena Adi mencium bibir Mer dengan tidak sabarnya.

"Apa, Yang? Mas udah ngga tahan, sekarang ya?" pinta Adi yang mulai membuka gaun pengantin yang dipakai oleh Mer.

"Iya, Sayang. Aku tahu kalau kamu udah pengen banget, tapi... izinkan aku untuk membuka gaun pengantinnya dulu. Izinkan aku untuk mencuci muka terlebih dahulu," ujar Mer.

Bab 2

"Apa, Yang? Mas udah ngga tahan, sekarang ya?" pinta Adi yang mulai membuka gaun pengantin yang dipakai oleh Mer.

Pria itu menatap wajah Mer dengan tatapan penuh damba, tentu saja hal itu membuat Mer malu tapi juga bahagia. Terlebih lagi mendapatkan tatapan yang begitu dalam dari pria yang baru saja mempersunting dirinya.

"Iya, Sayang. Aku tahu kalau kamu udah pengen banget, tapi... izinkan aku untuk membuka gaun pengantinnya dulu. Izinkan aku untuk mencuci muka terlebih dahulu," ujar Mer.

Walaupun mereka menikah dengan cara yang sederhana, tetapi tetap saja Mer menyewa perias pengantin untuk merias wajahnya. Pastinya kini wajahnya harus dibersihkan terlebih dahulu, agar Mer lebih fresh dan juga segar.

"Baiklah," jawab Adi dengan berat hati.

Adi yang tidak mau khilaf akhirnya menunggu Mer di atas tempat tidur, dia mengambil ponselnya dan bermain dengan ponselnya itu.

Berbeda dengan Mer, wanita itu langsung masuk ke dalam walk in closet untuk membuka gaun pengantinnya. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja.

"Ya ampun! Jantungku deg-degan kaya mau copot," ujar Mer seraya berdiri di depan cermin.

Wanita itu masih merasa belum percaya jika dirinya kini sudah menjadi seorang istri, hal ini masih seperti mimpi bagi Mer.

Mer tersenyum bahagia dengan jantung yang berdebar dengan cepat, lalu dia membersihkan make up yang menempel di wajahnya. Setelah itu, dia menatap wajahnya dari pantulan cermin.

"Semoga saja pernikahan ini adalah pernikahan yang pertama dan juga terakhir untuk aku, semoga saja mas Adi merupakan pria yang baik dan juga bertanggung jawab."

Selesai dengan apa yang ingin dia lakukan, Mer langsung keluar dari dalam kamar mandi. Dia menatap Adi dengan malu-malu, karena pria itu ternyata kini sedang menatap dirinya.

"Kemarilah, Sayang." Adi melambaikan tangannya.

Mer menurut, dia berjalan dengan begitu perlahan menghampiri suaminya. Lalu, dia duduk tepat di sampingnya suaminya dengan jantung yang berdebar dengan begitu cepat.

"Sekarang kamu adalah istri aku, aku udah boleh, kan?" tanya Ad.

"Ya, Mas," jawab Mer.

Mendapatkan jawaban seperti itu dari Mer, akhirnya Adi pun melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dia meminta haknya sebagai suami, Mer yang memang begitu mencintai Adi tentunya menyerahkan kesuciannya dengan senang hati.

Adi yang mengetahui Mer adalah wanita yang mampu menjaga kehormatannya merasa bangga, karena itu artinya dia adalah pria pertama yang menyentuhnya.

"Terima kasih, Sayang. Kamu sangat luar biasa," ucap Adi sesaat setelah dia menembakkan cairan cintanya.

"He'em," jawab Mer yang masih menikmati sisa-sisa puncak kenikmatannya.

Setelah kegiatan panas mereka yang berlangsung cukup lama, Mer langsung tumbang karena kelelahan. Mer bahkan dengan cepat terlelap dalam tidurnya, Adi tersenyum kala melihat istri kecilnya tertidur dengan pulas.

"Tidurlah, Sayang. Semoga kamu cepat mengandung," ujar Adi seraya mengusap perut istrinya.

Ya, dia berharap jika istrinya bisa cepat mengandung. Karena seperti itu lengkap sudah kebahagiaannya, mempunyai istri yang cantik dan segera memiliki keturunan.

Beberapa jam kemudian.

Rasa kering di tenggorokan membuat Mer terbangun di malam hari, Mer langsung duduk untuk mengurangi rasa kantuknya. Saat matanya terbuka dengan sempurna, dia merasa sangat senang sekali.

Karena kini di sampingnya ada sosok lelaki yang sangat dia sayang, sosok lelaki yang tadi pagi baru saja resmi menjadi suaminya. Lelaki yang tadi sore baru saja memberikan nikmatnya surga dunia kepada dirinya.

"Kamu sangat tampan, Mas," puji Mer ketika melihat suaminya yang begitu pulas dalam tidurnya.

Mer pandang wajah suaminya dengan penuh cinta, tidak lama kemudian dia tersenyum saat mengingat kegiatan panas yang mereka lakukan sore tadi. Adi benar-benar sangat tidak sabaran, hal itu membuat Mer harus mengingatkan Adi berkali-kali.

Ini adalah hal yang pertama kali dia lakukan di dalam hidup Mer. Jadi, Adi harus benar-benar melakukannya dengan lembut dan dengan sabar.

Walaupun area intinya terasa sakit, Mer berusaha untuk bangun. Karena Mer benar-benar sudah sangat haus. Mer segera mengambil kimono mandinya dan langsung berjalan ke arah dapur.

Sampai di dapur, Mer langsung meminum segelas air putih sampai tandas. Basah sudah tenggorokannya saat ini, dia tersenyum dan duduk di atas bangku yang ada di sana.

"Ya Tuhan! Ini semua seperti mimpi, aku sudah bersuami," ucap Mer dengan wajah yang memerah.

Setelah mengucapkan hal itu, Mer langsung kembali ke kamarnya. Dia kembali ke dalam kamar dengan membawa segelas air putih di tangannya. Mer sengaja melakukan itu untuk berjaga-jaga, takutnya dia ingin meminum air putih kembali.

Baru saja dia duduk di tepian tempat tidur, tapi tatapan mata Mer tertuju pada ponsel milik suaminya yang tergeletak begitu saja di atas nakas.

"Bolehkah aku membuka ponsel Mas Adi?" tanya Mer seraya menatap wajah suaminya yang terlelap dalam tidurnya.

Mer sangat penasaran, dengan perlahan Mer mengambil ponsel milik suaminya. Keberuntungan seolah memihak pada Mer, karena ternyata ponsel milik suaminya tidak terkunci atau menggunakan kode password.

Mer bisa dengan mudah membuka ponsel milik suaminya, dia tersenyum senang. Hal pertama yang ingin Mer ketahui adalah isi pesan yang masuk ke dalam ponsel suaminya.

Mer dengan tidak sabar langsung mengecek isi pesan di dalam ponsel suaminya tersebut. Mata Mer menelisik ke semua pesan yang masuk. Dia membacanya satu persatu, hingga tatapan matanya tertuju kepada satu nama.

Di sana, tertulis 'my wife'. Mata Mer langsung terasa panas, dia menjadi bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa orang itu, apakah Mer sudah salah menikah dengan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu.

Dengan ragu-ragu Mer membuka chat tersebut, sesekali dia melihat ke arah suaminya. Saat dia membaca pesan dari orang itu, Mer sangat kaget.

"Honey, kami Rindu. Kalau bisa pulanglah besok, aku ingin kita jalan bersama."

Jeger!

Seakan ada petir yang menyambar, seakan ada ribuan anak panah yang menghujam jantungnya, seakan ada bom atom yang baru saja meledakan kepalanya.

Tiba-tiba saja, dada Mer terasa sesak. Lututnya terasa sangat lemas dan juga kopong, kepalanya tiba-tiba saja terasa berdenyut nyeri. Air matanya pun tak bisa dibendung lagi. Buliran bening itu tiba-tiba saja jatuh dan membasahi pipi Mer.

Mer langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai keramik yang dingin, rasanya dia ingin menangis sambil berguling-guling di sana. Ditatapnya wajah pria yang tengah tertidur lelap yang tak jauh darinya, dia terlihat tampan dan manis sekali.

Sayangnya, dia pembohong. Hati Mer, benar-benar terasa teriris sembilu. Jantungnya seakan di hujam ribuan belati, sakit tapi tak berdarah.

"Kenapa kamu tega, Mas?" tanya Mer dengan sedih.

Bab 3

Malam yang terasa kelam dan mencekam kini telah berganti siang, hawa panas dari teriknya sang surya mulai menyeruak ke dalam kamar yang Mer tempati.

Mer mulai mengerjapkan matanya. Seingatnya, dia sedang menangis di lantai yang dingin. Hatinya yang terasa bahagia karena pernikahannya bersama suami tercintanya, langsung berganti dengan rasa duka yang mendalam.

Mer meratapi nasibnya yang--ah, entahlah. Mer harus merasa bangga, atau malah sedih. Karena di hari pertama menjadi istri dari Adi, dia malah langsung tahu status suaminya yang telah beristri.

Akan tetapi, kenapa saat ini Mer malah sedang terbaring di atas tempat tidur. Siapa yang memindahkannya, atau mungkin suaminya yang telah beristri itu yang sudah memindahkan dirinya, pikirnya.

Bahkan, tubuh Mer kini dibalut dengan selimut yang tebal. Mer merasa jika kini seluruh tubuhnya terasa dingin dan juga menggigil.

Saat dia meraba keningnya, di keningnya terdapat handuk kompres. Mer mengernyit heran. Apa yang terjadi kepada dirinya saat ini, pikirnya. Mungkinkah ada sesuatu hal yang dia lupakan atau seperti apa, dia tidak tahu.

"Sudah bangun?" tanya Adi yang ternyata sudah datang dan langsung menghampiri Mer.

Suara penuh kelembutan, terasa mendayu di telinga Mer. Mer suka suara lembut itu. Juga Mer, benci jika ingat akan pesan yang dia baca tadi malam.

Kalau saja bisa, Mer ingin memukul dan memaki lelaki yang ada di hadapannya itu. Lelaki yang telah berhasil membuatnya bahagia dan kecewa dalam satu waktu.

Namun, dia masih menahan keinginannya. Tentunya karena dia ingin tahu kenapa suaminya tersebut mampu melakukan hal seperti itu, kenapa suaminya menikahi dirinya kalau memang dia sudah memiliki istri dan juga seorang putri.

Tidakkah Adi memikirkan perasaan dari istri dan juga putrinya, ataukah mungkin memang pernikahan yang kini terlaksana atas izin istri pertamanya, pikirnya.

"Sudah," jawab Mer pelan.

Mer seakan masih enggan untuk berbicara dengan pria yang kini sudah menjadi suaminya tersebut, rasa cintanya tiba-tiba saja berubah menjadi rasa benci.

Akan tetapi, Mer juga takut jika dia bertindak gegabah. Karena hal itu, bisa merugikan dirinya sendiri. Mer tak mau jika keluarganya akan menanggung malu atas perbuatannya. Untuk beberapa saat, Mer harus diam dan bersabar.

Mer memutuskan, untuk pura-pura tidak tahu tentang pesan chat itu, sebuah pesan yang masuk kedalam ponsel suaminya. Dia ingin menyelidikinya terlebih dahulu, apakah benar suaminya itu sudah memiliki istri dan juga seorang putri atau bagaimana.

Melihat Mer yang diam saja, Adi merasa heran. Padahal, sejak datang ke rumahnya, Mer terlihat sangat bahagia. Namun, ini wajah istrinya tersebut terlihat begitu muram.

"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa tadi pagi aku malah melihat kamu tidur sambil memeluk lutut di lantai?" tanya Adi.

Mer untuk sesaat terdiam, dia berusaha untuk mencari alasan yang tepat. Karena jika dia asal bicara, takutnya suaminya akan menganggap yang tidak-tidak terhadap dirinya.

"Ngga tahu, mungkin aku mengigau." Mer menjawab dengan asal. 'Aku sedih, Mas. Aku sedih karena kelakuan kamu, karena kamu yang ternyata adalah pria beristri,' lanjut Mer di dalam hati.

Adi langsung mengelus puncak kepala Mer, lalu dia tersenyum dengan sangat manis. Lalu, pria matang itu menunduk dan mengecup kening istrinya dengan begitu lembut.

"Ya ampun! Bisa-bisanya kamu masih ngigo aja, besok-besok kalau bobo pasti Mas peluk. Biar kamu ngga ngigau sambil jalan lagi," ucap Adi seraya terkekeh.

Mer memaksakan senyumnya. Dia tidak mau jika suaminya tahu kalau hati Mer saat ini sedang terluka, terluka karena mengetahui kebenaran yang sulit untuk dipercaya itu.

"Mungkin harus seperti itu," kata Mer. 'Atau mungkin kamu yang harus aku peluk atau perlu aku ikat, agar tak pergi ke rumah istri pertama kamu,' sambung Mer dalam hati.

Ya, Mer hanya mampu mengatakan hal itu di dalam hati saja. Karena Jujur saja keberaniannya tidak ada untuk berkata secara langsung kepada suaminya tersebut.

Adi, mengambil semangkok bubur yang di simpan di atas nakas. Kemudian, dia pun meminta Mer untuk memakan bubur tersebut.

"Makanlah dulu, biar kamu cepat sembuh. Setelah buburnya habis, kamu harus segera minum obat." Adi berucap seraya menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut Mer.

Mer menerima suapan dari Adi dengan terpaksa, karena kenyataannya dia memang sedang tak ingin disuapi oleh Adi. Jangankan untuk disuapi, rasanya untuk berdekatan dengan pria itu saja Mer merasa begitu enggan.

Saat sedang asik mengunyah makanan, Mer memperhatikan penampilan dari Adi yang terlihat sangat rapih. Dia menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, bukankah Adi meminta cuti selama satu minggu, lalu, kenapa penampilannya begitu rapih? Mer jadi curiga dibuatnya, tapi dia seakan enggan untuk bertanya.

Akan tetapi, jika mengingat pesan chat tadi malam, Mer berusaha untuk menebak. Mungkinkah suaminya akan menemui istri pertamanya, pikirnya.

"Ehm! Sayang, Mas, mau ngomong. Tetapi, kamu jangan marah." Adi berbicara sambil mengusap puncak kepala Mer dengan lembut.

Dari ucapan Adi dan bahkan dari penampilannya yang sudah terlihat sangat rapih. Mer bisa menebak jika Adi pasti ingin menemui istrinya dan juga anaknya.

Hati Mer, langsung menjerit. Sekuat tenaga Mer menahan agar air matanya agar tidak tumpah. Sekuat tenaga Mer berusaha agar tak mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kotornya.

Dia tidak mau menjadi istri yang berdosa, dia lebih bertahan dalam diamnya walaupun terasa begitu sakit dan napasnya seakan tercekat.

"Iya, Mas. Ngomong aja, aku ngga apa-apa." Mer menjawab sambil menelisik wajah suaminya.

Adi kembali menyuapi Mer, karena istrinya tersebut sedang sakit. Adi tidak mungkin meninggalkan Mer dalam keadaan belum sarapan, tidak lama kemudian dia berkata.

"Mas, ada tugas mendadak ke luar kota selama 2 hari. Akan tetapi, Mas janji. Setelah 2 hari, Mas akan meneruskan masa cuti Mas. Kita akan berlibur, Sayang. Maafin, Mas. Mas tahu, kamu lagi sakit. Namun, Mas ngga tahu harus bagaimana lagi? Ini tugas dari kantor," ucap Adi.

Adi memasang wajah sedih di depan Mer, padahal Mer tahu jika Adi sedang bersandiwara. Dia bisa melihat dengan jelas jika pria itu memasang wajah palsunya.

Mer bisa melihat dengan jelas raut kebohongan di wajah Adi, bahkan sorot mata Adi terlihat tidak tulus saat mengatakan hal itu. Hati Mer benar-benar terasa tertusuk ribuan belati.

Akan tetapi, dengan sekuat tenaga Mer berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Mer memutuskan, jika dia akan mengikuti suaminya, karena rasanya itu adalah hal yang terbaik.

Mer harus membuktikan seperti apa suaminya di belakangnya, seperti apa istrinya. Satu hal yang pasti, Mer ingin tahu bagaimana kelakuan Adi yang sebenarnya.

Mer benar-benar ingin membuktikannya, ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana hubungan suaminya dengan anak dan istri pertamanya, kenapa dia memilih untuk menikahinya di kala dia sudah berkeluarga.

"Penting banget ya, Mas? Aku lagi sakit loh! Masa akunya malah kamu tinggalkan?" protes Mer.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED