"Ya sudah kalau kamu tidak mau pulang! arka akan aku bawa bersamaku kamu di sini saja tidak apa-apa, Arka tidak membutuhkanmu!" kalimat paksaan itu meluncur dari bibir seorang Iqbal suami dari Almira.
"Tidak!! Arka tetap bersamaku, Arka masih membutuhkanku, Arka masih membutuhkan asiku, aku ibunya aku yang mengandungnya aku yang melahirkannya kamu tidak berhak mengambilnya dariku!" teriak Almira tak kalah sengit saat dengan sengaja suaminya Iqbal ingin mengambil paksa arka dari pelukannya.
"Kamu jadi perempuan jangan egois, Apa alasanmu minta pisah dariku? oke fine! katakanlah aku salah, tapi tak bisakah kau memberikan aku satu kesempatan saja? lagi pula Apakah kamu punya bukti dengan kesalahan yang kamu tuduhkan kepadaku itu?" suara Iqbal mulai melunak mencoba menggoyahkan pendirian seorang Almira.
Sesaat Almira pun diam coba mencerna yang dikatakan oleh suaminya itu. dalam hati Almira membenarkan bahwa dirinya tidak mempunyai bukti kuat bahwa suaminya berselingkuh, yang dia tahu hanyalah Iqbal berselingkuh dengan seorang wanita yang selama ini mengaku sebagai kawannya saja.
Malam itu pukul 11.00 malam, saat Almira menginap di rumah ibunya dia mendapatkan chat wa dari keponakan dari suaminya yang selama ini memang tidak pernah akur dengan suaminya itu.
Keponakannya itu bernama Dewi, rumah Dewi berada tepat di samping rumahnya Almira.
"Te, Apa kamu tahu kalau Om Iqbal sedang keluar rumah? barusan aku lihat om Iqbal keluar dengan mobil selingkuhannya itu, mobil sport hitam yang dulu diakui oleh Om Iqbal sebagai mobil bosnya!" tanya Dewi dalam pesan whatsapp tersebut.
"Tidak Wi, katanya Om kamu sedang sakit kepala, jadi dia tadi tidak mau menyusulku ke rumah ibuku di sini!"jawab Almira lewat pesan juga.
"Fix ini Tante, Om pasti keluar dengan perempuan gatal itu!" jawab Dewi lagi.
Almira tidak membalas lagi pesan dari keponakannya itu, hatinya terbakar emosi dan cemburu yang naik ke ubun-ubun.
Jam 11.00 malam Dia pamit kepada ibunya keluar sebentar.
"Mira mau keluar sebentar ya Bu? Mira kepengen martabak telor punya kang Diman di perempatan sana!" pamit Almira kepada ibunya.
Bu Aminah yang tidak mencurigai sama sekali gelagat Anaknya pun hanya mengizinkannya.
"Emang kamu berani sendiri Al? ini sudah malam loh! sana minta sama kakakmu Eni untuk menemani!" jawab Bu Aminah dengan kalimat memerintah untuk mengajak sang kakak menemani.
"Tidak Bu, sepertinya Mbak Eni sedang sibuk! Almira bisa sendiri kok bu! nggak usah kuatir."Almira sengaja memasang senyum merekah mungkin untuk menutupi kegundahan hatinya.
Bu Aminah yang sama sekali tidak mencurigai gelagat anaknya pun mengizinkan begitu saja.
"Ya sudah hati-hati, nggak usah ngebut, ini sudah malam!"jawab Bu Aminah akhirnya.
Tak menunggu lama, Almira menstater motornya lalu mengetesnya dengan kekuatan penuh, Bu Aminah yang melihatnya sontak kaget, Dia baru menyadari Kalau Putri sapihannya itu sedang tidak baik-baik saja.
Kekhawatiran menguasai hati Bu Aminah, dia menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi!
"Ya Allah ya Robb lindungilah putriku, jauhkan dia dari semua bahaya yang mendekati, aku serahkan keselamatan putriku kepadamu ya Rabb ku!"dengan menengadahkan tangannya Bu Aminah berdoa dalam hati, kemudian beliau melangkahkan kaki ke kamar putrinya untuk melihat cucu-cucunya.
Arka sengaja tidak dibawa oleh Almira dan tidur bersama anak dari kakaknya Eni yang bernama Naila.
"Cucu ganteng Nenek, ternyata kamu masih pulas boboknya, doain mamamu nak, Semoga Allah melindunginya!" Bu Aminah berkata lirih sambil mengelus lembut kepala sang cucu.
5 menit setelah Almira pamit keluar, handphonenya berbunyi.
"Bu tolong aku, kecelakaan di depan persimpangan SD, tolong aku Bu tolong mbak Eni dan Mas Aldo suruh ke sini! Aku takut Bu!" Almira di seberang telepon berbicara tanpa mengucapkan salam.
Bu Aminah panik lalu segera keluar mencari keberadaan Eni dan juga Aldo.
"Eni Aldo sekarang juga tolong susul adikmu persimpangan SD, katanya dia kecelakaan tolong berangkatlah sekarang juga!" perintah Bu Aminah yang kebetulan melihat Aldo dan Eni sedang bersama di satu ruangan.
Tanpa menunggu diperintah dua kali Mereka pun segera berangkat ke tempat yang ditunjukkan oleh Bu Aminah.
Mereka hanya memakai jaket agar tidak kedinginan saja.
Bu Aminah sangat tidak tenang di rumah menunggu kedatangan menantu dan anaknya, berkali-kali dia melihat jalanan menunggu sang anak pulang.
15 menit kemudian Almira dibonceng oleh Eni, Aldo membawa motor yang sudah rusak oleh kecelakaan tadi. dengan segera Bu Aminah menghampiri Almira yang sudah terlihat bengkak mukanya, Bagaimana kecelakaan itu terjadi, Bu Aminah syok bukan main.
"Alhamdulillah Kamu masih selamat anakku, apa yang sakit nak? Sebenarnya ada apa? kalau ada apa-apa cerita sama Ibu, jangan buat Ibu seperti ini!" dengan berlinang air mata Bu Aminah menanyakan perihal apa yang sedang terjadi kepada putrinya tersebut.
"Sudah ya Bu Jangan ditanya dulu almiranya, biarkan dia istirahat dulu!" ini pun memberi instruksi kepada sang ibu untuk tidak bertanya macam-macam dulu.
"Tunggu ya dek Mbak ambilkan dulu air mineral!"pamit Eni kepada adiknya.
Tak lama setelah anak dan menantunya sampai di rumah, selang lama datang segerombolan orang, ternyata mereka adalah lawan dari kecelakaan yang yang dialami putrinya, mereka menuntut rugi atas kerusakan motor yang dimilikinya.
Bu Aminah yang sudah terbakar emosi pun berdiri lalu bertanya kepada semua orang itu, meskipun mereka datang secara ramai-ramai, tapi hal itu tidak menyurutkan keberanian Bu Aminah.
"Siapa pemilik motor ini? yang mengalami kecelakaan tadi siapa?"tanya Bu Aminah menatap satu persatu ke arah semua orang yang ada di ruangan itu.
Kemudian maju seorang pemuda dengan pongahnya dia berkata.
"Saya tadi yang kecelakaan dengan Putri Ibu, lihat Bu motor saya rusak, saya menuntut ganti rugi! seperti kesepakatan awal di tempat tadi, Saya ingin dibantu membayar kerusakan motor saya!"jawab pemuda tersebut tanpa rasa malu.
Padahal jika dilihat dari kondisinya dan juga motor yang dikendarainya, justru kondisi Almira lah yang paling parah, di mana setengah dari muka Almira bengkak entah karena apa, dan juga motor yang di kendarai Almira pun slebor beserta dek nya hancur bahkan velg-nya pun bengkong.
"Almira keluar sebentar, Ibu mau ngomong sesuatu!" dipanggilnya lembut sang anak untuk keluar dan duduk karena memang kondisinya sedang sangat tidak memungkinkan untuk berdiri lama.
"Kamu bisa lihat kondisi anak saya seperti apa? kamu bisa lihat kondisi motor yang dikendarai anak saya seperti apa? kurasa matamu tidak buta untuk melihat itu semua!"Bu Aminah menunjuk muka Almira dan juga motor yang tadi dikendarainya!.
"Di sini yang pantas meminta pertanggungjawaban itu saya atau Anda?"teriak Bu Aminah tak mampu menahan emosinya lebih lama lagi.
"Tidak bisa begitu dong Bu,yang salah itu posisinya anak ibu, dia mengendarai motor yang tidak ada lampunya Bagaimana saya bisa melihatnya, apalagi kondisinya ini malam, meskipun saya yang menabrak, tapi kesalahan bukan pada saya!"elak pemuda itu.
"Aldo, coba aktifkan motor itu di standar tengahnya!"Bu Aminah memerintah menantunya.
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Aldo mengerjakan apa yang diperintahkan oleh sang mertua. Langsung Bu Aminah menyalakan motornya kemudian menyalakan lampu yang dikatakan oleh pemuda tadi mati.
"Jangan mengada-ada kamu, kalau lampu ini mati itu apa yang menyala?atau jangan-jangan Kamu benar-benar buta?"sinis Bu Aminah yang membuat pemuda itu gelagapan. rupanya pemuda itu memang sengaja untuk playing victim.
"Ya pokoknya saya mau kesepakatan tadi terjadi, Saya mau kedua motor ini masuk ke bengkel, dan biayanya kita tanggung bersama!"ucap pemuda tersebut Dengan bodohnya.
Padahal kalau dilihat dari kondisi motornya dan motor yang dikendarai oleh Almira tentu biasanya akan lebih banyak dikeluarkan oleh motor yang dikendarai Almira. dengan tersenyum sinis Bu Aminah pun menjawab.
"Kalau biaya motor ini ditanggung bersama, lalu bagaimana dengan pengobatan untuk anak saya? Apakah juga akan ditanggung bersama?"Bu Aminah ingin memastikan sejauh mana kebodohan orang yang ada di hadapannya ini.
"Kalau tentang pengobatan anak ibu, itu urusan masing-masing! Saya hanya mau motor yang saya kendarai kembali seperti semula, itu saja kok!"jawabnya pongah.
"Oke Deel, besok kalian ke sini, kita akan ke bengkel bersama-sama!"jawab Bu Aminah tegas.
Aldi dan Eni terbengong melihat sikap Bu Aminah yang terlihat sangat tegas dan galak, padahal selama ini yang mereka kenal Bu Aminah orangnya sangat lembut dan tidak mudah marah.
Pak Handoko suami dari Bu Aminah kebetulan tidak ada di rumah beliau sedang ikut ziarah ke wali songo dan baru keesokan harinya akan pulang.
Setelah segerombolan orang itu berpamitan, Bu Aminah pun beristighfar dengan berulang kali.
Aldo dan Eni yang menyaksikan itu pun tersenyum, kemudian mendekati beliau dan bertanya.
"Ibu hebat loh, Ibu bisa menghadapi segerombolan orang begitu dengan sangat menakutkan! ini tidak seperti itu yang biasanya loh?"Eni berkata dengan memeluk ibunya.
tiba-tiba Bu Aminah luruh ke lantai kemudian bertanya kepada mereka berdua.
"Apakah ibu berdosa besar dengan berkata sedemikian kasar kepada mereka?"tanya Bu Aminah menatap ke arah Eni.
"Ibu tadi terbakar emosi dengan sikap pemuda bodoh tadi, lha wong jelas-jelas dia tidak apa-apa kok, motornya saja cuma lecet sedikit, kok bisa-bisanya malah meminta ganti rugi sama kita!" terang Bu aminah yang hanya di tanggapi dengan memeluk oleh Eni.
"Bodoh atau memang bodoh dia ya? tentu jika dimasukkan ke bengkel motor kita dan motornya dia akan habis banyak, karena motor kita jauh lebih parah dari motornya!"Ibu masih mengomel tidak percaya.
"Sudahlah Bu biarkan saja, biarkan pemuda itu keluar duit banyak untuk biaya motor kita,toh emang dasarnya dia yang salah, iya loh yang menabrak Almira bukan Almira yang nabrak dia!" jawab eni menjelaskan.
"Sebenarnya tadi kami sudah menyarankan damai dan mengurus urusan masing-masing, eh dianya malah nyolot Ya sudah aku iyain aja apa yang dia katakannya tadi, yang penting kami sudah bisa pulang dulu! tak tahunya dia memang benar-benar bodoh mengejar Kami sampai ke rumah." jawab Eni yang seketika memecahkan gelak tawa Aldo.
"Anak itu kayaknya memang bodoh deh kayaknya, tadi aku sempat dengar kalau dia mengatakan motor yang dia pakai itu bukan motornya tapi motor milik adiknya!" ucapkan masih dengan menahan tawanya.
"Ya sudahlah dek, kita tunggu besok saja, kita cobain saja keinginan dia, bengkelnya nggak usah jauh-jauh yang dekat sini saja, biar kita juga bisa pantau seperti apa kerusakan dan kerugian yang akan ditanggung olehnya!"jawab Aldo lagi.
"Eni kamu hubungi kakakmu Aida dulu, biasanya kamu kakakmu akan sikap kalau mendengar adik kesayangannya sedang kena musibah seperti ini!" Bu Aminah memerintahkan ini untuk menghubungi aida yang tinggal jauh dari rumah beliau.
Aida ini merupakan Kakak tertua dari empat bersaudara tersebut, dia tinggal di rumah suaminya yang beda kecamatan dengan tempat tinggal Bu Aminah, tapi jika diukur dengan jarak dari rumah Bu Aminah maka rumah aida sama jauhnya dengan rumah yang ditempati oleh Almira.
Ini pun segera menghubungi kakaknya aida,” assalamualaikum Kak, Almira adik kesayangan kakak kecelakaan barusan, besok pagi kakak ke rumah Ibu ya? coba nanti kakak bawa Almira untuk melakukan rontgen ke rumah sakit, mukanya bengkak separuh!" Eni menyapa ke sang kakak tanpa memberi sang kakak kesempatan untuk menjawab salam yang diucapkannya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, kenapa bisa Almira kecelakaan? dia sendiri atau sama suaminya? kamu ini juga aneh loh Dek kenapa pulang kak aida yang kamu hubungi, harusnya kamu tuh menghubungi suaminya, kalau memang suaminya tidak sedang berada di sisi Almira!"kini giliran aida yang berbicara panjang lebar memarahi adiknya itu.
Aida sedikit bingung kenapa yang dihubunginya malah dirinya dan bukan suami dari adiknya itu, ada perasaan takut kaget dan juga gelisah saat mengetahui adiknya itu kecelakaan, tapi di hatinya timbul sedikit kecurigaan kenapa malah dirinya yang dihubungi, tak mau menduga-duga tak jelas, Di tengah malam tersebut Dia segera menstarter motornya untuk menuju kediaman ibunya setelah sebelumnya dia membangunkan putrinya untuk ikut bersamanya, aida sedikit tidak tenang takut apa-apa terjadi kepada adiknya itu, padahal perjalanan dari rumahnya ke rumah Bu Aminah melewati persawahan dan juga jalan yang lumayan sepi, tapi aida tidak memikirkan semua itu, yang ada di pikirannya, dia ingin segera tahu keadaan adik tersayangnya.
Aida memiliki seorang putri bernama Nisa, Anisa ini berusia 8 tahun, dan kebetulan bersekolah di dekat rumah Bu Aminah.
Kurang lebih 15 menit Aida pun sampai di rumah Bu Aminah, dengan tergesa-gesa dia turun dari motornya kemudian mencari keberadaan sang adik.
"Assalamualaikum!"ada mengucapkan salam Saat memasuki rumah ibunya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" Bu Aminah menjawab salam dari anak tertuanya itu, kemudian Aida mencium takzim tangan sang ibu yang sudah mengeriput itu.
"Almira mana Bu? terus Arka bagaimana? terus suaminya Iqbal di mana? Bagaimana bisa kecelakaan Bu?"Aida bertanya kepada bu Aminah.
"Kamu itu loh, kalau nanya mbok ya satu-satu, ibumu ini harus menjawab yang mana dulu?"Bu Aminah dengan pertanyaan anaknya yang banyak itu.
"Sudah sana temui dulu adikmu ada di kamarnya, ini sudah malam kalau mau nanya apa-apa besok saja kalau dia sudah tenang!" memperingatkan anak sulungnya ya memang terkenal dengan ketidaksabarannya, apalagi bila itu menyangkut tentang Almira.
Aida tersenyum mendengar peringatan dari ibunya, aida hafal betul dengan
khawatiran yang tergambar jelas di mata wanita tua itu.
"Aida titip Nisa ya Bu? kayaknya dia masih ngantuk malam ini biar tidur sama ibu dulu ya? Bapak belum pulang kan Bu?" Aida mengangguk sambil menitipkan sang anak untuk diajak tidur bersamanya.
"Mbak Nisa ikut tidur sama nenek ya? ibu biar tidur sama bulek mu dulu!" Bu Aminah menggandeng cucunya yang masih terlihat ngantuk untuk diajak ke kamarnya dan melanjutkan tidur yang tertunda.
Bu Aminah menggelengkan kepalanya Tak habis pikir dengan anak sulungnya itu, bisa-bisanya Anaknya tidur dibangunkan untuk diajak ke rumahnya, padahal bila mau besok pun bisa ke sininya.
Melihat keadaan sang cucu yang tak bersemangat karena terlihat masih mengantuk timbul rasa iba di hati Bu Aminah. sampai di kamar nya langsung menata tempat tidur untuk segera ditempati sang cucu Nisa.
Nisa ini adalah merupakan anak angkat dari Aida, aida yang pernah gagal dalam berumah tangga dulu memilih mengadopsi anak di usia pernikahannya yang kedua tahun, dia tidak mau karena masalah keturunan akan menghancurkan rumah tangganya lagi, dan kebetulan Nisa itu memang cucu kandung dari Bu Aminah, yang itu berarti Nisa adalah anak kandung dari salah satu anak Bu Aminah.
Nisa terlahir di luar nikah, karena kekhilafan anak bungsu dari Bu Aminah yaitu adiknya Almira yang bernama David. Demi menyelamatkan status dari anak tersebut Aida memberanikan diri untuk mengasuhnya sebagai anak, toh Aida pikir dia juga berniat untuk mengasuh anak, mungkin itulah jawaban dari doa-doanya, Aida mengasuh anak yang memang masih satu darah dengannya.
***
Pagi pun menjelang, sesuai peringatan dari sang ibu, Aida tidak menanyakan hal apapun kepada Almira malam tadi, dan pagi ini Aida mencecar adik kandungnya itu dengan berbagai macam pertanyaan yang ada di benaknya.
Almira pun menceritakan secara runtut segala permasalahan yang menimpanya, mulai dari permasalahannya dengan suaminya hingga kecelakaan itu terjadi. Sedang Almira bercerita tentang semua yang masalah yang ada, tiba-tiba datang dua orang yang salah satunya adalah orang yang menabrak Almira Semalam.
Cerita Almira terjeda, baik Almira dan Aida memilih untuk keluar dan menemui kedua tamu tersebut.
Melihat keadaan penabrak yang keadaannya jauh lebih baik dari Almira tapi malah menuntut yang lebih kepada Almira membuat Aida naik pitam. "Maaf ini motornya mau dibawa ke bengkel mana?" tanya Aida menahan geram.
"Menurut kesepakatan semalam motor akan kami bawa ke dekat tempat kecelakaan semalam!" jawab salah satu pemuda tersebut.
"Tapi saya maunya dibawa di bengkel dekat sini saja, kalau kalian mau silakan kalau tidak mau terserah, urus urusan masing-masing!"jawab Aida terdengar dingin dan sedikit sombong.
"Tidak bisa begitu dong mbak, mbak ini siapa kenapa memutuskan hal seperti itu?"protes kedua pemuda itu tidak terima.
"Saya ini kakak dari perempuan ini, perempuan yang sudah kamu tabrak semalam, sudah untung kamu tidak saya tuntut, lihat keadaan adik saya, sekarang bandingkan dengan keadaan mu? apakah masih mau bilang kalau kamu ini korban? Sinting memang kamu itu!" Aida masih bicara dengan gaya sadisnya.
"Tapi kan semalam sudah sepakat Mbak, kenapa sekarang bisa lain lagi? Jangan gitu dong Mbak, ya sudah, bengkel mana aja nggak papa, yang penting motor saya kembali sedia kala, tentang biaya berapapun itu habisnya kita tanggung bersama!" akhirnya pemuda itu mengalah tentang bengkel yang disebut.
Saat mereka sudah pergi membawa motor Ke bengkel yang dimaksud oleh Aida, Aida memutuskan untuk membawa Almira ke rumah sakit untuk diperiksa keadaannya.
Aida sedikit garam dengan cerita yang disampaikan oleh Almira adiknya tentang suami Almira, ternyata kecelakaan itu bermuara dari perselingkuhan sang suami. Dan lagi sampai sekarang Iqbal belum juga mengunjungi Almira.
"Kamu ada uang nggak dek untuk periksa?" tanya Aida kepada adiknya itu.
"Nggak ada Mbak, aku rencananya ingin meminjam dulu sama Mbak Aida, Nanti kalau aku sudah ada, aku ganti Mbak!" jawab Almira.
"Nggak usah pinjam, biar aku mintakan uangnya sama suamimu, kamu diam saja!" terlihat Almira mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan dari sang kakak.
"Apa yang akan Mbak lakukan? tadi Mas Iqbal sudah bilang sendiri sama aku tidak mau membiayai pengobatan ini kok, katanya ini adalah salahku sendiri dan dia tidak mau bertanggung jawab!" jawab Almira keheranan.
"Itu kan ngomongnya sama kamu, lihat aja nanti, jangan panggil Mbak mu ini namanya Aida kalau tidak bisa membuat suamimu membiayai pengobatan mu ini!" Aida berkata dengan mengedipkan sebelah matanya kepada sang adik.
Aida terlihat mengutak-atik hp-nya, sepertinya dia hendak mengirimkan sebuah pesan entah untuk siapa, saat Almira memperhatikan kakaknya itu, Almira mengerutkan keningnya, hendak bertanya tapi takut kena semprot sang kakak.
"Nah lihat, berhasil kan? suamimu mengirimkan satu juta untuk pengobatanmu kali ini!" Aida memperlihatkan handphonenya kepada Almira untuk dibacanya.
Almira tersenyum saat membaca chat antara suaminya dan kakak kandungnya itu.
"Mbak Aida bisa aja sih, mudah sekali Mas Iqbal memberikan uang kepada Mbak Aida, Mbak Aida tahu? setiap hari aku hanya dijatah uang belanja sebesar 50 ribu saja, itu pun harus disimpan sebagian untuk tabungan. lah ini hanya karena Mbak Aida sedikit menyanjungnya saja uangnya langsung menggelontor sebanyak ini, Mbak Aida tahu? ini untuk jatahku selama 20 hari!" Almira berkata kepada kakaknya dengan mengacungkan dua jempol nya.
"Aku akui mbak Aida hebat!" lanjut Almira lagi memuji kakaknya.
"Makanya belajar dari kakakmu ini, ingat dek, cinta boleh bodoh jangan!" Aida berkata dengan menunjukkan satu tangannya ke kening.
"Iya deh iya, Aku akan belajar dari kakakku yang satu ini!" Almira menyerah dan mengakui kepintaran kakaknya.
"Nomor rekeningmu mana Dek? nanti uang ini biar Mbak transferkan saja ke nomor rekening mu, untuk biaya pengobatan ini nanti biar Mbak yang bayar saja!" aida berkata kepada adiknya tentang nomor rekening untuk pemindahan dana yang baru saja ditransfer oleh Iqbal suami Almira.
Hasil pemeriksaan dokter sungguh sangat melegakan Almira dan Aida, di sana dokter menerangkan bahwa pembengkakan di wajah Almira tidak sampai ke dalam dan keadaan nya akan pulih setelah 2 minggu, selama 2 minggu itu dokter meresepkan obat yang bisa ditebus di apotek.
Obat dan rontgen yang dijalani oleh Almira hanya menghabiskan sekitar kurang lebih 275.000 saja, dan semua itu ditanggung oleh Aida seperti yang dikatakan Aida tadi.
Pulang dari rumah sakit Aida dan Almira langsung menuju ke rumah Bu Aminah, Almira sengaja tidak pulang ke rumahnya sendiri, karena dia berharap dijemput oleh suaminya Iqbal.
***
"Baiklah Mas, Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi, Semoga kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini, Andai kesempatan yang aku berikan kepadamu kamu sia-siakan begitu saja, maaf dengan atau tanpa persetujuan darimu aku akan berlalu dan pergi meninggalkan rumah tangga kita!"ucapan Almira langsung mendapatkan pelukan mesra dari sang suami.
"Terima kasih ya Dek? terima kasih karena kamu sudah mau memberiku kesempatan sekali lagi, Aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahan yang kamu tuduhkan tadi!" dalam pelukannya, Iqbal berkata kepada Almira mengucapkan janji-janjinya.
"Aku tidak butuh semua janjimu Mas, aku hanya membutuhkan sebuah bukti bukan janji!" dengan linangan air mata dan berkata sangat lirih Almira menjawab perkataan suaminya.
Akhirnya malam itu Almira ikut pulang bersama dengan Iqbal ke rumahnya, Almira bertekad akan mengumpulkan bukti-bukti jika memang suaminya tidak mau berubah, di hati Almira dia meragukan janji suaminya yang mengatakan bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan Yang Sama.
Almira menyadari satu perkataan dari suaminya yang mengatakan bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahan yang dituduhkannya, itu berarti bahwa Iqbal tidak mengakui kesalahan itu.
Kali ini Almira akan mengikuti permainan dari Iqbal, dia ingin menguji sejauh mana Iqbal mau berubah, meski dalam keadaan belum sembuh Almira mau diboyong pulang oleh Iqbal.
Aida yang masih khawatir dengan keadaan Almira, setiap hari dia berkunjung ke rumah Almira, hanya sekedar untuk mengetahui perkembangan dari Almira. dua Minggu telah berlalu, keadaan Almira pun sudah mulai membaik dan Aida sudah tidak lagi mengunjungi Almira..
Dalam hati Aida dia selalu berdoa untuk kebaikan adiknya, Semoga rumah tangga yang di bina adiknya selalu dalam keadaan baik-baik saja, dan suami Almira yang bernama Iqbal itu bisa berubah dan tidak lagi mempermainkan sebuah pernikahan.
Hingga pada suatu hari, kejadian serupa kembali terulang, Iqbal kembali berselingkuh di belakang Almira, sama dengan kejadian yang telah lalu Iqbal pun melakukannya waktu malam hari, dia jalan kasih dengan seorang perempuan yang ternyata adalah istri dari lelaki lain, bisa dikatakan perempuan itu adalah perempuan kesepian karena wanita itu jarang di tunggui oleh suaminya, suaminya sering mengerjakan proyek di luar kota bahkan ke luar pulau, tidak di ragukan memang uangnya unlimited dan bisa untuk memanjakan si Iqbal yang notabene memang matre, mungkin hal yang membuat Iqbal tertarik dengan perempuan tersebut adalah uangnya.
Malam itu Almira menelpon Aida dan kebetulan Aida Tengah berada di rumah Ibu Aminah, Almira meminta Aida untuk menjemputnya di rumah, saat Almira mengatakan hal itu, hati Aida sudah mencurigai sesuatu” ini pasti Iqbal berulah lagi!"batin Aida dalam hatinya.
Aida yang tak pernah bisa menolak keinginan adiknya langsung meluncur ke rumah Almira, meski hatinya berkecamuk dia tetap menuju ke rumah Almira untuk menjemputnya.
"Kali ini kita lihat apa yang akan terjadi!" Aida berkata dalam hatinya.
Sesampai di rumah Almira, Almira pun bercerita tentang apa yang dilakukan oleh suaminya, saat bercerita Almira masih terlihat tegar.
"Ayo kita pulang ke rumah ibu mbak, aku sudah tidak sanggup kalau seperti ini lagi, Mas Iqbal tidak pernah menghargai kesempatan yang aku berikan!"aida menurut saja apa yang menjadi keinginan adiknya.
sepanjang perjalanan Almira menumpahkan tangisnya di belakang kemudi.
"Kenapa nasibku begini amat ya mbak? dulu di pernikahanku yang pertama aku tak pernah dianggap, di pernikahanku kali ini, aku pun seolah tak berarti untuk mas Iqbal!" keluh Almira di sela tangisnya.
"Yang sabar Dek, mbak yakin bahwa kamu sangat kuat, sehingga Allah selalu menguji mu dengan masalah dalam rumah tangga seperti itu!" dengan sedikit berteriak Aida berucap kepada adiknya. karena dalam perjalanan itu mereka menggunakan motor jadi jika Aida tidak mengeraskan suaranya maka Almira tidak akan mendengarnya, karena bersaing dengan suara angin dan juga deru motor.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega, tapi setelah itu berjanjilah untuk kuat, ada arka yang membutuhkanmu, Jangan hanya berfokus kepada suami mu yang brengsek itu! air matamu terlalu berharga jika hanya untuk menangisi lelaki seperti itu!" Aida tidak bisa bicara sepanjang lebar seperti itu karena posisi masih ada di jalan, semua kata-kata itu hanya ada dalam hatinya.
Aida teriris melihat adiknya terluka sekali lagi, dulu saat Almira memutuskan untuk memaafkan suaminya begitu saja, ada rasa tidak rela di hati Aida, hatinya sangat membenci keputusan sang adik yang terkesan sangat mudah memaafkan.
Jika itu terjadi pada Aida, bisa dipastikan rumah tangga itu akan hancur seketika itu juga, bagi Aida sebuah pengkhianatan itu pasti akan berulang jika tidak diberikan efek jera.
Tiba di rumah Bu Aminah, lagi-lagi ini Almira menumpahkan tangisnya, Bu Aminah sebagai seorang ibu tentu sangat sakit melihat air mata yang jatuh dari pipi anak sapihannya itu.
“Ada apa lagi nduk? Apakah Iqbal berulah lagi? Apakah sekali lagi dia berselingkuh? dengan orang yang sama atau dengan wanita lain lagi? Apakah kamu menangis untuk lelaki seperti itu? Apakah air mata ini untuk menangisi suami yang tak tahu diri itu? jangan terlalu bodoh anakku! air matamu terlalu berharga kalau hanya untuk menangisi semua itu!" Bu Aminah bicara panjang lebar mencecar anaknya yang terkesan bucin dengan suami yang tak bertanggung jawab seperti Iqbal.
Aida yang mendengar perkataan dari ibunya untuk sang adik kini terwakili sudah, jika yang ada dalam hatinya sudah diucapkan oleh Bu Aminah kini tinggal Aida menunggu jawaban dari adik tersayangnya itu.
"Bu, kenapa aku memiliki suami seperti Mas Iqbal? kenapa seolah aku ini tidak ada harganya sama sekali di matanya, kenapa seolah aku ini hanya pelengkap dan hanya menjadi istri formalitas saja!" bukannya menjawab pertanyaan sang Ibu justru Almira malah melontarkan pertanyaan kepada ibunya, lebih tepatnya seperti sebuah penyesalan.
"Apakah dulu saat kamu memilih Iqbal kamu mendengarkan kata-kata ibu? Apakah dulu saat ibu menentang hubungan kalian kamu mau mendengarkan kata-kata ibu? dan apakah dulu saat ibu memintamu untuk menjauh dari Iqbal kamu pun menurut dengan perkataan ibu? jawabannya tentu kamu lebih tahu sendiri!" Bu Aminah menatap sendu netra sang anak!
"Jika kamu menanyakan apa yang kamu utarakan tadi, maka jawabannya adalah, kamu salah alamat menanyakan itu ke ibu, tanyakanlah ke hatimu sendiri kenapa kamu bisa sampai jatuh hati kepada lelaki seperti itu!"jawab Bu Aminah lagi.
"Sejak kamu berpisah dari imam dulu, Ibu lebih setuju kamu untuk berpuasa dulu, menjalani kehidupanmu sendiri dan memperjuangkan kedua anakmu yang telah direnggut darimu oleh suamimu dulu! tapi apakah kamu mendengar ibu? tentu jawabannya tidak!" seolah Bu Aminah memiliki waktu yang tepat untuk mencecar sang anak, maka dengan enteng Bu Aminah berbicara panjang lebar kepada anaknya itu.
"Usiamu baru 28 saat itu, dan jika kamu puasa 10 tahun saja maka usiamu baru 38 tahun,dan pandangan ibu usia 38 tahun itu belum begitu tua, menikah sekarang atau nanti tentu yang didapat nanti hanyalah anak, betul Apa betul? tapi lagi-lagi kamu membantah kata ibumu ini, dan sekarang jika terjadi seperti ini, itu tandanya kamu harus intropeksi diri!" kata Bu Aminah lagi.
rasanya Bu Aminah masih ingin mencecar anaknya itu dengan semua kekecewaan-kecewaan yang ada di hati beliau terhadap anak sapihannya.
"Marah lah Bu marah lah, maki aku sepuas hati ibu, jika setelah itu ibu lega dan mau memelukku kembali, peluklah aku dengan doa-doamu ibu, peluklah aku dengan kasih sayangmu, Hari ini aku rapuh Bu hari ini aku benar-benar hancur, Maafkan Aku!" ucap Almira menjawab semua perkataan ibunya yang panjang lebar.
Seketika Bu Aminah sadar, saat ini yang dibutuhkan anaknya bukanlah makian atau cercaan, seperti yang dikatakan Almira barusan bahwa anaknya ini sedang rapuh dan hancur dia tidak butuh saran ataupun makian, dibutuhkan Almira sekarang adalah pelukan dan tempat bersandar.
"Maafkan Ibu nduk, maafkan Ibu yang tidak bisa menahan amarah yang bergejolak dalam hati ibu, sudahlah nduk, apapun yang terjadi di hidupmu kita hadapi bersama-sama, kamu tidak sendiri ada Ibu kedua mbakmu dan juga adikmu meskipun dia tidak ada di rumah!" Bu Aminah memeluk anaknya yang terlihat sangat rapuh.
"Assalamualaikum!"terdengar salam seseorang Saat memasuki pintu rumah, kan orang tersebut tak lain adalah Pak Handoko suami Bu Aminah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,!" jawab semua yang ada di ruangan itu serempak.
di ruangan tersebut ada Aida Eni Almira Bu Aminah dan juga Aldo sedangkan Nayla dan Nisa sedang asyik nonton serial kartun di ruang tv.
Saat Pak Handoko melihat tas pakaian yang ada di dekat Almira membuat Pak Handoko mengernyitkan dahi tanda bingung, ada pertanyaan bergejolak di hati Pak Handoko, saat melihat Almira yang matanya memerah pertanda bahwa dia sedang menangis membuat Pak Handoko diam dan menahan rasa penasarannya.
"Ada kamu Al? kapan kamu datang ke sini perasaan Bapak tadi waktu pergi ngopi di warung kamu belum ada di sini kan?"Pak Handoko bertanya dengan anak sapihannya itu dengan pertanyaan yang biasa saja.
"Almira Baru saja sampai pak, dijemput sama Mbak Aida tadi!"Almira menjawab pertanyaan dari Pak Handoko dengan suara yang serak khas orang habis menangis.
"Loh kok bisa dijemput mbakmu? memangnya Iqbal ke mana? ini sudah malam loh? kok kayaknya nggak pantes aja ke rumah ibunya bukannya diantar sama suami, tapi malah dijemput sama kakakmu!" Pak Handoko bertanya demikian untuk memancing Apa yang sebenarnya terjadi kepada Almira, terlebih saat beliau melihat tas pakaian milik Almira tersebut.
Seketika Almira bersimpuh di kaki Sang Bapak yang sudah duduk di kursi panjang di ruang tersebut, tangis Almira tiba-tiba pecah lagi, tentu hal itu membuat Pak Handoko sangat kaget.
"Ada apa? Apakah Iqbal mengusirmu dari rumah? atau ada masalah apa? ceritakan yang jelas kepada bapak, Bapak tidak pernah mengajarimu untuk menjadi anak yang cengeng! meskipun kamu seorang wanita, kuatlah Jangan hanya mengandalkan air mata!"Pak Handoko mencoba mengangkat tubuh Almira yang semakin kurus.
Pak Handoko sangat kaget saat memegang bahu tersebut yang terkesan seperti tulang yang hanya berbungkus kulit saja.
"Apa yang sebenarnya terjadi di rumah tangga mu nduk? Apakah sekali lagi kamu menderita?"batin Pak Handoko dalam hatinya.
"Tatap mata Bapak nduk, ceritalah! tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan sebuah air mata!"Pak Handoko berkata kepada putrinya itu seperti sebuah perintah.
"Jawablah pertanyaan Bapak tadi, Jangan membuat bapak memiliki praduga yang tidak tidak!" tegas Pak Handoko lagi.
Dengan menatap mata bapaknya, seolah kini Almira mendapatkan kekuatan di sana.
ini dengan gamblang Almira menceritakan tentang masalah rumah tangga yang dihadapinya dia bercerita panjang lebar tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Semua orang yang mendengarkan cerita Almira secara detail, merasa geram dengan ulah Iqbal.
bisa-bisanya seorang Iqbal yang mereka kenal sangat baik bisa berbuat demikian kepada Almira Putri kesayangan di rumah itu.
Banyak yang tidak menyadari bahwa Pak Handoko mencengkram kuat tangannya di kursi yang didudukinya, hati orang tua tersebut sangat panas dan merasa diinjak oleh seorang Iqbal.
Meskipun Pak Handoko mengetahui masa lalu dari Iqbal tapi Pak Handoko mau memberi kesempatan kepada Iqbal untuk berubah, apalagi saat diketahui bahwa Almira sangat mencintai Iqbal, tapi kepercayaan yang diberikan oleh Pak Handoko ternyata disalah artikan oleh Iqbal, tentu semua itu sangat membuat Pak Handoko garam dan marah.
Bu Aminah yang menyadari perubahan wajah Pak Handoko segera menghampiri suaminya tersebut, Bu Aminah takut jika Pak Handoko akan mengalami serangan jantung, sebab selama ini gejala sakit jantung sudah terdeteksi diri pak Handoko.
"Sabar Pak, nanti kita cari bersama-sama solusi untuk permasalahan Putri kesayangan kita itu, semua tidak akan ada gunanya bila kita marah-marah!" Bu Aminah mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus lembut punggung suaminya itu.
"Apa yang Ibu harapan dari sikap bapak? Apa Bapak harus menghajarnya? atau Bapak memisahkan mereka saja? lelaki tak tahu diuntung seperti Iqbal tak layak memperlakukan Putri kita seperti itu!" ada kelihatan amarah di mata Pak Handoko saat mengatakannya.
"Untuk sementara ada baiknya kita pura-pura tidak tahu saja dulu tentang masalah yang terjadi antara Almira dan Iqbal, jika Iqbal ke sini kita sambut seperti biasanya saja, tidak terjadi apa-apa! kita beri kesempatan Iqbal untuk menjelaskan semuanya!"usul Bu Aminah atas kebingungan sang suami.
"Tapi hati Bapak tidak terima Bu melihat putri kita diperlakukan seperti itu, Andai memang dia tidak lagi membutuhkan Almira kenapa tidak diserahkannya kembali kepada Bapak? tangan ini masih sanggup menafkahi Almira beserta anaknya!"ucap apa penuh kekecewaan.
"Udah malam ada baiknya kalian tidur saja, tak baik begadang sampai larut malam, kamu menginap di sini lagi Aida? Bagaimana dengan rumahmu? dan bagaimana dengan suamimu? Apakah dia nanti dia marah?" kini tinggal giliran Aida yang ditanya oleh Pak Handoko.
Aida cengengesan mendengar pertanyaan dari bapaknya, "Ttadi Aida sudah izin sama ayahnya Nisa Pak, katanya boleh menginap semalam lagi! tapi bila tambah lagi menginapnya, maka suruh membawa semua pakaian Aida dan Nisa sekalian!"meskipun menjawab demikian tapi Aida masih bisa cengengesan di hadapan bapaknya dan itu membuat Pak Handoko naik pitam.
"Dasar bocah gemblung, sudah diberi ultimatum begitu dengan suaminya masih bisa bersikap enteng! Malam ini kamu boleh nginap di sini, dan besok pagi kamu sudah harus angkat kaki dari rumah bapak, Bapak tidak mengizinkanmu menginjakkan kamu di rumah bapak jika suamimu tidak mengizinkan! paham kamu Aida?"tanya Bapak dengan melotot ke arah Aida.