Kurang dari sepuluh langkah Nando akan memasuki gedung utama, berjalan dengan gayanya yang tengil merapikan dasi bak CEO. Walaupun jika dilihat penampilan sudah jelas jika Nando hanyalah peserta yang datang sebagai pelamar.
"Mbak, saya Nando Saputra ... saya datang buat interview." katanya kepada resepsionis yang berjaga. Nama resepsionis itu adalah Ratu, wanita keturunan Jawa asli dengan warna kulit sawo matang. Ratu mengangkat wajahnya sesaat, kemudian mengangguk lirih.
"Tunggu aja di kursi Mas ... pihak HRD baru aja dateng, nanti kalo udah giliran juga dipanggil." jawabnya.
"Oh ... oke." jawabnya kemudian melihat ada banyak deretan kursi kosong. Tanpa cap cip cup kembang diucup Nando memilih deretan kursi diposisi tengah.
"Ahh ... masih untung gak telat ... gak papa deh ...yah walaupun harus nunggu." guman Nando menyandarkan kepalanya di bahu kursi. Nando menghela nafasnya, setelah melewati perjalanan berat sejak pertama kali membuka matanya.
Hingga dia tersentak membuka pergelangan tangan yang menutupi matanya yang terpejam karena lelah. Nando menyudutkan retina matanya melihat sosok laki-laki duduk disampingnya dengan setelan baju yang sama.
"Mas mau interview juga ya?" tanyanya, dengan tangan sibuk merapikan tali tasnya yang melorot.
"Iya Mas ... masnya juga,?" tanya Nando balik,
"He.eh Mas ... saya udah dua kali ditelepon sebenarnya saya udah kerja tapi kayaknya sayang banget kalo gak dicoba." jawab Rehan tulus tanpa ada niat menyombongkan diri.
"Cih sombong amat! tukang kibul ajah ni orang pakai ngaku-ngaku." guman Nando tentu saja Rehan bisa mendengarkan segala ucapannya tanpa terkecuali.
Setelah itu mereka menjadi canggung tak ada pembicaraan lagi, hingga datanglah satu lagi seorang pelamar dengan baju putih yang sama seperti mereka.
"Mas mau interview juga?" tanya Rehan mengubah posisi tubuhnya membelakangi Nando.
Terdengar suara perbincangan yang hangat,
dan saling memperkenalkan diri. Diketahui jika laki-laki yang baru saja datang adalah Nino.
Rehan sebenarnya orang yang supel dan mudah bergaul. Tetapi tidak bagi Nando yang menilainya dari sisi berlainan.
Nando tak perduli memilih sibuk bermain ponselnya.
"Mas tahu gak pemilik Perusahaan ini?" tanya Nino kepada Rehan,
"Bu Larissa itu?" jawab Rehan mengingat nama pemilik Perusahaan.
"Iya ... dia ternyata janda loh Mas ... saya kok heran ya janda secantik dan sesukses dia kok bisa ditinggal selingkuh sama suaminya yang dulu." kata Nino mengajak Rehan untuk bergosip. Sebelum Nino mengirimkan surat lamaran kemari banyak teman-temannya yang memberitahu.
Siapa yang tidak tahu dengan cerita kelam sang CEO yang juga menyandang status sebagai seorang janda. Apalagi desas-desus perselingkuhan sang mantan suami yang juga bocor dikalangan orang-orang.
"Larissa? janda?" guman Nando daun telinganya seakan langsung mendengar nama tak asing karena sama dengan nama mantan istrinya.
"Ah mana mungkin dia Larissa mantan istriku ... apalagi tadi Mereka bilang kalau Larissa yang ini cantik sama sukses ... kalau Larissa mantan istri gue kan udah jelek buluk sukanya minta-minta aja ... aahh pokoknya gak mungkin." kata Nando dengan tatapan remeh tak percaya.
Nando menghimpit kakinya, terasa geli karena ingin buang air kecil, ia melihat ke sekeliling dan melihat ada pintu bertuliskan toilet. Nando langsung berlalu tak ingin sampai mengompol.
Ketika Nando pergi ke kamar kecil, Larissa datang berjalan dengan anggunnya dengan sepatu heels bewarna hitam pekat.
"Woah cantik banget ya." puji Nino sampai tak mengedipkan mata. Rehan mengangguk yakin serasa setuju dengan pujian yang Nino katakan.
Salah satu tangan Larissa menenteng plastik berisi makanan, matanya langsung mengarah kepada Rehan dan Nino.
"Mas udah sarapan belum,?" tanya Larissa.
"Hehe belum Bu," jawab mereka berdua,
Larissa sibuk mengambil 2 wadah berisi makanan itu untuk kedua laki-laki ini,
"Nih Mas, tolong dimakan ya." katanya ditutup dengan senyuman manis.
"Woahh ... iya Bu terimakasih banyak." jawab Rehan menundukkan kepalanya.
Larissa berlalu, berbelok ke pintu lift. Tangannya menekan angka tiga untuk menuju ke ruangan kerjanya.
Hingga tubuhnya tenggelam tertutup pintu lift yang menutup. Nando justru keluar membenarkan kerah lengannya yang ia lepas ketika mencuci tangan.
Nando melihat Rehan dan Nino sedang asik memakan bubur ayam pemberian Larissa. Ia menelan salivanya mengelus perutnya yang lapar karena sejak pagi belum disisi apapun.
"Iya yah baik baik Bu Larissa tau aja kalo kita belum sarapan." kata Rehan menanggapi pujian yang dikatakan Nino.
Nando memutar tubuhnya, ketika tahu ternyata mereka mendapatkan bubur ayam itu.
"Kalian dapet bubur ayam dari siapa?" tanyanya, sesekali matanya melirik kearah bubur ayam yang terlihat sangat menggoda.
"Dari Bu bos Larissa." jawab Rehan singkat.
"Kok aku gak dikasih?" protes Nando kepada mereka.
Rehan dan Nino hanya saling melemparkan tatapan, hingga akhirnya terdengar seseorang memanggil nama Nando.
"Tuan Nando Saputra silahkan masuk!" kata Ratu tegas dari ruang resepsionis. Ia diberikan perintah dari pihak HRD untuk segera melakukan pemanggilan pelamar yang akan melakukan interview.
"Huh ... kalo gak karena udah dipanggil gue gibeng Lo ...." ketus Nando melemparkan tatapan tajam kearah Rehan dan Nino.
Dengan posisi mulut yang penuh sebenarnya Rehan merasa tak enak hati, ia melihat kepergian Nando berjalan dengan rasa kecewa. melihat ekspresi Rehan, menyenggol tubuhnya dengan siku tangan.
"Udah gak usah sedih kayak gitu deh! lagian kita kan cuman dikasih ... mana mungkin kita minta jatah buat orang lain ... emangnya Lo berani?" katanya.
Rehan langsung menggeleng, benar yang dikatakan Nino mana mungkin dia akan memintakan jatah untuk orang lain yang posisinya saja tidak ada.
"Udah mendingan Lo habisin sekarang ... nanti habis ini giliran Lo kan?" kata Nino lagi,
Mereka bagai sohib dekat padahal belum lama bertemu, Nino dan Rehan membersihkan mulut mereka ke kamar kecil. kemudian mengatur pakaiannya yang terlihat kusut supaya kembali rapi.
*
Larissa menyandarkan tubuhnya di kursi mahal yang selalu menemani dirinya diruang kerjanya. menggoyangkan ke kanan dan ke kiri menikmati hembusan angin dingin yang berasal dari air conditioner.
Hingga goyangan itu terhenti saat matanya menembus pemandangan di luar kaca tembus pandang.
"Hah ... jadi kayak gini ya rasanya jadi orang kaya ... padahal kehidupanku dua tahun lalu pait banget." ucapnya.
Tak seperti awan putih bersih yang sering Larissa lihat setiap hari, kehidupan nyata rasa kotor. Apalagi ketika dulu waktu SMA dia telah membohongi orang tuanya sendiri.
"Ayah,Ibu aku janji bakalan bikin Kalian bahagia!" guman Larissa penuh tekad hanya untuk kedua orangtuanya.
Masa lalu kelam terbayang kembali ketika Larissa berbohong tentang mengada-ada kehamilannya agar bisa menikah dengan Nando saat itu juga.
Mengira jika cinta akan selamanya berjalan indah, dengan sangat terpaksa kedua orang tuanya menyetujui pernikahan Larissa. Padahal Larissa belum resmi lulus dari sekolah SMA nya.
Hasil pengorbanannya ternyata tak sesuai, yang ia dapatkan hanyalah sebuah penghianatan yang kejam. Untungnya Tuhan masih melindungi dirinya dengan cara tersendiri. Walaupun tak pernah melakukan KB selama menikah dengan Nando, dia tak kunjung hamil bahkan sampai bercerai pun tak ada ada tanda-tanda kehamilan pada rahimnya.
Kesusksesan Larissa tentu saja ada campur tangan dari kedua orangtuanya. Ditambah Sang Ibu Rahima adalah seorang MUA terkenal di kampungnya. Mengubah penampilan Larissa dengan cara merawat diri dan mengajarinya makeup.
"Tok ... tok ... tok."
hingga suara ketukan pintu membuat Larissa harus membuyarkan lamunannya.
Nando mengetuk pintu yang salah, seharusnya dia mengetuk pintu disebelah sisi kanan bukan sisi kiri.
Untungnya Ratu naik ke lantai atas untuk melihat, dan benar saja ia menggeleng lirih saat melihat Nando sedang berdiri di depan ruang kerja milik Larissa.
"Mas Nando kan tadi saya bilang apa? kiri apa kanan?" tanya Ratu penuh teka-teki dengan hidung kembang kempis menatap Nando.
"Eh iya ya ... yang kanan ya ... hehe maaf Bu," jawab Nando menggaruk rambutnya yang tak gatal itu kemudian memutar arah kakinya.
Nando membalikan badannya hingga akhirnya tak nampak wajahnya dengan jelas ketika Larissa membuka pintu.
"Ratu, ada apa?" tanya Larissa,
Suara serak basah yang terdengar familiar ditelinga Nando kembali memutar kepalanya.
Dalam hitungan detik mata mereka saling bertemu, Nando terperangah melihat mantan istrinya dengan penampilan yang jauh berbeda.
"Larissa?" ucapnya dengan tak kunjung mengatup mulutnya.
"Mas Nando?" ucap Larissa dengan jelas,
"Woahh ... gak ku sangka akhirnya kita ketemu lagi ya Mas ... oh sekarang mau ngelamar kerjakah?" tanya Larissa mengejek menutup mulutnya dengan kelima jarinya tak lupa ditambah dengan tatapan remeh tertuju pada sang mantan suami.
Nando mengusap matanya berkali-kali, seakan tak percaya jika yang dilihat adalah sosok Larissa.
"Kenapa Mas? kok kaget?" kata Larissa memotong tatapan Nando tak berkedip melihat dirinya dari ujung kaki hingga kepala.
"Kamu beneran Larissa?" tanya Nando lagi,
Larissa tersenyum masam, tak ingin memperlama waktu untuk sekedar mengobrol atau melepas rasa rindu. Tak sudi mengotori matanya untuk sekedar melihat Nando si penghianat.
"Brak." Suara pintu tertutup meninggalkan bunyi keras, membuat Nando tersentak.
"Maaf Mas Nando, udah ditunggu sama pihak HRD." sela Ratu berusaha menahan tawanya hingga membuat bibirnya bergetar.
"Iya Bu." jawab Nando dengan raut wajah menahan malu, matanya melirik ke papan yang terpasang diatas pintu milik Larissa.
"Ruang CEO ... jadi dia benar Larissa mantan istriku?" guman Nando setelah membaca dengan jelas. Hingga akhirnya dia kembali memusatkan perhatian untuk melakukan interview.
Ratu merasa yakin, dengan sikap tak sopan Larissa terlihat jelas jika Nando adalah mantan suaminya dulu.
"Haha keren banget deh Ibu Larissa ... siapa yang ngira kalo mantan yang udah tega jahatin dia ternyata datang ke kantor buat jadi karyawannya sendiri?" kata Ratu sambil berjalan kembali berjaga di ruang resepsionis.
Beberapa menit Nando menjalani sesi wawancara, kemudian keluar dengan tertunduk lesu. Ada perasaan sedih juga bahagia, akhirnya setelah menanti selama satu tahun lamanya ada Perusahaan yang mau menerima dirinya sebagai karyawan.
"Bangsat! mau ditaro mana ni muka gue! ternyata pemilik Perusahaan ini memang punya Larissa mantan istri gue dulu ... tapi kok penampilan dia beda banget ya ... buset cantik banget! coba aja kalo tampilan dia kayak gitu gak bakalan gue selingkuh." kata Nando penuh rasa sesal. Memang karena jiwa sebagai buaya darat melekat erat dalam tubuhnya. Masih saja tak mengakui kekurangan dirinya sendiri.
Nando berjalan lemas, kali ini ia memilih melewati anak tangga daripada menggunakan lift.
"Ah ... kalo gue kerja disini ... harga diri gue makin hancur dong ... mana Larissa yang punya kantornya lagi ... terus posisi gue sendiri cuma jadi cleaning service ... mendingan gue tolak aja ni kerjaan daripada nahan malu." katanya bertekad,
hingga terdengar suara musik yang berasal dari nada panggilan milik ponselnya.
Nando buru-buru mengangkat telepon itu, terlihat nomor baru yang tak tersimpan dari ponselnya.
"Nando : Halo? siapa ya?"
"No name: Siapa! Siapa mata Lo! ni gue anak buah bang Burhan ... sekarang cepet bayar utang-utang Lo yang udah numpuk macem sampah di Bantar gebang ... atau gue ambil rumah Lo buat jaminan!" sentak seorang rentenir menagih hutang kepada Nando.
"Nando : Eh ... iya Bang ... jangan dong Bang ... tenang akhir bulan saya bakalan cicil kok ... soalnya hari ini saya udah keterima kerja Bang ... tolong Bang kasih saya waktu." pinta Nando memohon,
"No name: enak aja kalau ngomong ... dari kemarin lo bilangnya juga gitu ... ngomong katanya akhir bulan dari Januari sekarang mau ke Desember ... mentang-mentang akhir bulan banyak ... nggak bisa pokoknya gua kasih waktu sampai seminggu ... kalau Lo belum bisa bayar silahkan segera angkat kaki dari rumah mewah lo itu."
"Nut."
Nanda mengayunkan kakinya menendang dinding tembok,
"Dugh."
"Bangsat! kapan hidup gue bisa lega gitu ... makan aja susah sekarang di tagih utang... belum lagi benerin mobil yang rusak ... dapet kerjaan malah jadi bawahan mantan istri ... suekk ... suekk ...." kesal Nando menjambak keras rambutnya.
Berbanding balik dengan kehidupan mantan suaminya, Larisa duduk tenang menikmati secangkir kopi dengan kaki menyilang. Tak lupa beberapa camilan berjajar diatas meja serta acara televisi yang ia tonton sebagai hiburan.
"Haha ... aku beneran gak nyangka bisa ketemu sama Mas Nando lagi ... gila sih tampilnya macam gembel aja ... eh ya kok gue penasaran dia ngelamar kerja di bagian apa ya?" kata Larissa merasa penasaran kemudian berlari untuk menghubungi Ratu.
"Larissa : Hallo Ratu?"
"Ratu: Ya, Bu? ada apa?"
"Larissa : Ratu boleh saya tahu, Mas Nando tadi keterima dibagian apa?"
"Ratu : Kata Pak Jaka bagian HRD sih cleaning service Bu."
"Larissa: Hahaha ... apa? hahah ... em maaf-maaf ... oke makasih ya infonya." kata Larissa menutup panggilan intercom.
"Cih ... ternyata dia keterima dibagian Cleaning service? Woah cocok sih biar sekalian dia bersihin otak dia yang kotor." kata Larissa puas dengan senyuman merekah.
"Mas silahkan terima karma kamu ...." imbuhnya serambi menyeruput kopi dalam gelas.
*
Nando berjalan keluar gedung, ia berniat menjual mobil butut itu untuk biaya hidup sehari-hari. Dengan posisi berjalan tangannya sibuk memosting mobilnya diaplikasi jual beli kendaraan.
Karena hanya fokus melihat layar ponsel,ia tak sadar dari lawan arah ada seseorang yang sedang sibuk menawarkan kue donat.
"Brukk."
Benar saja tubuh mereka saling bertabrakan, tangan wanita itu dengan sigap melindungi barang dagangannya yang nyaris jatuh.
"Eh mas! kalo jalan lihat-lihat dong!" ketusnya.
Nando kembali mengangkat dagunya, bahunya terasa ngilu karena terhantam ujung wadah berisi donat.
"Reita?" ucap Nando, sebenarnya merasa sangat pangling dengan tampilan Reita yang jauh berbeda. Memakai daster kembang-kembang serta rambutnya bergelombang tak beraturan.
Reita seketika menutup wajahnya, ia tahu jika orang ini adalah Nando sang mantan pacar.
"Maaf anda salah orang Kak ... saya permisi dulu!" katanya berusaha melarikan diri,
tapi tak semudah itu Nando langsung menarik tangannya,
"Elo gak usah bohong deh ... gue tau kalo elo itu Reita? tapi bentar? kenapa tiba-tiba Lo harus susah-susah jualan donat?" kata Nando menyelidik,
"Apa sih lepasin! Lo gak perlu tahu! lagian bukan urusan Lo juga!" kata Reita menepis kasar, secara tidak langsung mengakui jika dirinya adalah Reita.
"Hahah ... gila sih ... gue puas banget lihat Lo kayak gini ... setelah semua yang gue lakuin buat Lo, tapi Lo malah tega ninggalin gue nikah? karma is real Reita." kata Nando lantang,
Reita meletakkan wadah jualannya ke tepi jalan agar tak tertabrak orang.
"Eh kadal buntung! terus Lo sendiri gimana? enak hidup Lo sekarang? gue lihat tampilan Lo aja macem gembel gak beda sama gue! ini gue apal banget sama baju modelan kayak gini ... ahh ... Lo lagi ngemis cari kerjaan kan?" ejek balik Reita,
Nando mendengus kesal, menampik telunjuk tangan Reita mengarah padanya,
"Diem Lo! gak usah ikut campur!" sentak Nando mendorong Reita melewatinya dengan tatapan benci.
Reita merasa sangat puas, melipat kedua tangannya.