Bab 1

Siapa yang tak kenal dengan Larissa seorang wanita berstatus janda kaya yang menjabat sebagai seorang CEO di sebuah Perusahaan miliknya sendiri.

Larissa bersiap untuk berangkat kerja menggunakan mobil jazz kesayangannya.

"Oke waktunya kerja ... biar makin kaya." ucap Larissa memacu semangatnya sendiri menekan starter mobilnya.

Larissa keluar dari halaman rumah yang ia kontrak beberapa tahun terakhir.

Ditemani musik pop Larissa menginjak pedal gas meningkatkan kecepatan mobilnya membelah jalan panjang berwarna hitam menuju Kantor.

Dilain tempat ada seorang laki-laki berhenti di pinggir jalan dengan mulut tak berhenti mengumpat.

"Arggh ... Sial! pakai mogok segala lagi ... mana udah udah mau jam 07.00 ... kalau kayak gini sih gue bisa telat." gerutu Nando menendang keras bamper mobilnya.

Padahal hari ini dia harus datang memenuhi undangan interview di sebuah Perusahaan ternama di tengah kota Maju.

Tak seperti biasanya nasib sial sedang Nando alami bertubi-tubi. Dari bangun kesiangan hingga lupa mencolokkan kabel magicom. Ditambah sekarang dia harus mengalami pecah ban di waktu yang mepet.

Perkenalkan laki-laki berumur 25 tahun ini adalah Nando Saputra. Meskipun usianya masih tergolong muda Nando harus menyandang status sebagai seorang duda muda. Nando hidup lontang lantung setelah mendapatkan karma instan.

Bagaimana tidak? setelah ia menceraikan istrinya Larissa, dia justru mendapatkan pembalasan kontan dari sang mantan selingkuhannya Reita yang memilih menikah dengan lelaki kaya yang lebih mapan dari dirinya.

Semula kehidupan Nando penuh dengan harta yang kecukupan memiliki istri yang sangat mencintai dirinya. Namun, semua harus berakhir ketika dia mensia-siakan istrinya sendiri. Setelah bercerai Nando mengalami pemutusan hak kerja sepihak. Tidak mendapatkan uang pesangon sepeserpun karena Perusahaan mengalami kebangkrutan. Beberapa kali Nando memasukkan surat lamaran tapi tak kunjung mendapatkan balasan. Hingga akhirnya setelah dua tahun ada setitik harapan undangan interview untuknya.

"Dugh ... dug ... dug."

"Bangsat! kayaknya ni mobil mendingan gue jual aja ke tukang pengepul barang bekas ... mana pakai acara mogok, ban pecah segala bengek campur jadi satu!" gerutu Nando tak pernah habis menjambak kasar rambutnya.

Nando tak ingin berlama-lama segera mengambil ponsel di saku untuk memesan ojek online. baju yang semula Ia setrika halus dengan rapi kini menjadi kusut tak beraturan setelah Nando sebelumnya berusaha untuk memperbaiki mobilnya dengan masuk ke kolong mobil.

"Brakk." Suara pintu mobil yang tertutup dengan keras setelah Nando mengambil barang penting di dalam mobil berupa surat lamaran dan beberapa lembar CV.

"Ini lagi kenapa drivernya lama banget!" sungut Nando tak sabar dengan hati was-was takut terlambat.

Karena sibuk meratapi nasib, Nando tak melihat gambar yang terpasang besar di sebuah papan baliho.

Hingga akhirnya ada masa ketika dia mengangkat kepalanya, mencari tempat untuk meneduh menghindari panasnya matahari. Meskipun panas matahari dibawah jam 9 membuat tubuh sehat karena banyak mengandung vitamin D.

"Eh kok muka tu cewek macem pernah lihat ya? tapi dimana ya?" guman Nando berusaha mengingat. Sayangnya konsentrasi Nando harus terhenti ketika Driver pesanannya datang,

"Lama amat sih Bang ... gue keburu telat tauk!" keluh Nando,

Sang Driver mencebik bibirnya lirih nyaris tak terdengar.

"Ya namanya juga baru jalan mas ... apa mau di cancel aja cari Driver yang lain?" balasnya dengan nada menyindir,

"Eh jangan dong ... udah gak usah banyak ngomong sekarang anterin saya sesuai alamat ya ... cepetan jangan pake lama!" titah Nando, menepuk keras bahu sang Driver meninggalkan rasa ngilu.

"Ah ni orang gak sabaran banget! padahal juga cuma lima menit masak dibilang lama." batin Driver melaju memutar gas motornya.

Mereka berhenti di lampu merah, sejajar sebuah mobil jass berwarna merah menyala. Melihat kaca mobil terbuka, Nando menoleh sosok wanita rupawan dengan pakaian tanpa lengan memperlihatkan kulit putihnya yang mulus tanpa cacat.

"Gila nih cewek cantik banget!" puji Nando dengan mata keranjang tak berkedip.

Selang 1 menit lampu merah berubah menjadi hijau, membuat Nando tak bisa lagi melihat pemandangan indah ketika wanita itu kembali menutup kaca mobil.

Jaraknya dari tempat mobil yang mogok ke Perusahaan yang Nando tuju tidaklah jauh. Hanya tiga kilometer, gedung tinggi yang berdiri kokoh terlihat nyata di matanya.

Nando merogoh sakunya untuk mengambil uang guna membayar ojek online, terlihat uang receh yang lusuh memenuhi telapak tangannya. Nando kembali menghitung uang itu, untuk membayar ojek online membutuhkan uang sebanyak sepuluh ribu.

"Nih Bang!" kata Nando menyerahkan uang ditangannya kepada Driver.

Terdengar suara nyaring dari uang koin yang saling bertabrakan.

Tanpa mengucapkan kata terimakasih Nando pergi meninggalkan Ojek online yang belum selesai menghitung uang receh pemberiannya.

"Bang ini uangnya kurang seribu!" teriak sang Ojol dari kejauhan.

Nando memutar tubuhnya,

"Udah sih Bang, itung-itung sodhaqoh." balas Nando seenaknya dan berlalu begitu saja.

"Tadi aja protes ngomel-ngomel ... lah sekarang bayar aja kurang ... mana uangnya buluk banget lagi." keluh sang driver pasrah memasukkan uang itu kedalam tas selempang miliknya.

Nando berdiri di depan pintu utama, ia melihat jam tangannya, masih ada waktu lima menit dari jam yang ia janjikan.

Dengan alat seadanya Nando merapikan bajunya yang kusut hanya menggunakan tangan.

"Oke ... lumayan lah ya ... masa depan yang cerah iam ready!" kata Nando penuh percaya diri. Andaikan dia tahu pemilik Perusahaan komestik yang sedang ia lamar adalah milik Larissa sang mantan istri.

Meskipun perekrutan tak ada campur tangan Larissa karena semua yang melakukan tugas itu adalah bagian pihak HRD.

Bab 2

Kurang dari sepuluh langkah Nando akan memasuki gedung utama, berjalan dengan gayanya yang tengil merapikan dasi bak CEO. Walaupun jika dilihat penampilan sudah jelas jika Nando hanyalah peserta yang datang sebagai pelamar.

"Mbak, saya Nando Saputra ... saya datang buat interview." katanya kepada resepsionis yang berjaga. Nama resepsionis itu adalah Ratu, wanita keturunan Jawa asli dengan warna kulit sawo matang. Ratu mengangkat wajahnya sesaat, kemudian mengangguk lirih.

"Tunggu aja di kursi Mas ... pihak HRD baru aja dateng, nanti kalo udah giliran juga dipanggil." jawabnya.

"Oh ... oke." jawabnya kemudian melihat ada banyak deretan kursi kosong. Tanpa cap cip cup kembang diucup Nando memilih deretan kursi diposisi tengah.

"Ahh ... masih untung gak telat ... gak papa deh ...yah walaupun harus nunggu." guman Nando menyandarkan kepalanya di bahu kursi. Nando menghela nafasnya, setelah melewati perjalanan berat sejak pertama kali membuka matanya.

Hingga dia tersentak membuka pergelangan tangan yang menutupi matanya yang terpejam karena lelah. Nando menyudutkan retina matanya melihat sosok laki-laki duduk disampingnya dengan setelan baju yang sama.

"Mas mau interview juga ya?" tanyanya, dengan tangan sibuk merapikan tali tasnya yang melorot.

"Iya Mas ... masnya juga,?" tanya Nando balik,

"He.eh Mas ... saya udah dua kali ditelepon sebenarnya saya udah kerja tapi kayaknya sayang banget kalo gak dicoba." jawab Rehan tulus tanpa ada niat menyombongkan diri.

"Cih sombong amat! tukang kibul ajah ni orang pakai ngaku-ngaku." guman Nando tentu saja Rehan bisa mendengarkan segala ucapannya tanpa terkecuali.

Setelah itu mereka menjadi canggung tak ada pembicaraan lagi, hingga datanglah satu lagi seorang pelamar dengan baju putih yang sama seperti mereka.

"Mas mau interview juga?" tanya Rehan mengubah posisi tubuhnya membelakangi Nando.

Terdengar suara perbincangan yang hangat,

dan saling memperkenalkan diri. Diketahui jika laki-laki yang baru saja datang adalah Nino.

Rehan sebenarnya orang yang supel dan mudah bergaul. Tetapi tidak bagi Nando yang menilainya dari sisi berlainan.

Nando tak perduli memilih sibuk bermain ponselnya.

"Mas tahu gak pemilik Perusahaan ini?" tanya Nino kepada Rehan,

"Bu Larissa itu?" jawab Rehan mengingat nama pemilik Perusahaan.

"Iya ... dia ternyata janda loh Mas ... saya kok heran ya janda secantik dan sesukses dia kok bisa ditinggal selingkuh sama suaminya yang dulu." kata Nino mengajak Rehan untuk bergosip. Sebelum Nino mengirimkan surat lamaran kemari banyak teman-temannya yang memberitahu.

Siapa yang tidak tahu dengan cerita kelam sang CEO yang juga menyandang status sebagai seorang janda. Apalagi desas-desus perselingkuhan sang mantan suami yang juga bocor dikalangan orang-orang.

"Larissa? janda?" guman Nando daun telinganya seakan langsung mendengar nama tak asing karena sama dengan nama mantan istrinya.

"Ah mana mungkin dia Larissa mantan istriku ... apalagi tadi Mereka bilang kalau Larissa yang ini cantik sama sukses ... kalau Larissa mantan istri gue kan udah jelek buluk sukanya minta-minta aja ... aahh pokoknya gak mungkin." kata Nando dengan tatapan remeh tak percaya.

Nando menghimpit kakinya, terasa geli karena ingin buang air kecil, ia melihat ke sekeliling dan melihat ada pintu bertuliskan toilet. Nando langsung berlalu tak ingin sampai mengompol.

Ketika Nando pergi ke kamar kecil, Larissa datang berjalan dengan anggunnya dengan sepatu heels bewarna hitam pekat.

"Woah cantik banget ya." puji Nino sampai tak mengedipkan mata. Rehan mengangguk yakin serasa setuju dengan pujian yang Nino katakan.

Salah satu tangan Larissa menenteng plastik berisi makanan, matanya langsung mengarah kepada Rehan dan Nino.

"Mas udah sarapan belum,?" tanya Larissa.

"Hehe belum Bu," jawab mereka berdua,

Larissa sibuk mengambil 2 wadah berisi makanan itu untuk kedua laki-laki ini,

"Nih Mas, tolong dimakan ya." katanya ditutup dengan senyuman manis.

"Woahh ... iya Bu terimakasih banyak." jawab Rehan menundukkan kepalanya.

Larissa berlalu, berbelok ke pintu lift. Tangannya menekan angka tiga untuk menuju ke ruangan kerjanya.

Hingga tubuhnya tenggelam tertutup pintu lift yang menutup. Nando justru keluar membenarkan kerah lengannya yang ia lepas ketika mencuci tangan.

Nando melihat Rehan dan Nino sedang asik memakan bubur ayam pemberian Larissa. Ia menelan salivanya mengelus perutnya yang lapar karena sejak pagi belum disisi apapun.

"Iya yah baik baik Bu Larissa tau aja kalo kita belum sarapan." kata Rehan menanggapi pujian yang dikatakan Nino.

Nando memutar tubuhnya, ketika tahu ternyata mereka mendapatkan bubur ayam itu.

"Kalian dapet bubur ayam dari siapa?" tanyanya, sesekali matanya melirik kearah bubur ayam yang terlihat sangat menggoda.

"Dari Bu bos Larissa." jawab Rehan singkat.

"Kok aku gak dikasih?" protes Nando kepada mereka.

Rehan dan Nino hanya saling melemparkan tatapan, hingga akhirnya terdengar seseorang memanggil nama Nando.

"Tuan Nando Saputra silahkan masuk!" kata Ratu tegas dari ruang resepsionis. Ia diberikan perintah dari pihak HRD untuk segera melakukan pemanggilan pelamar yang akan melakukan interview.

"Huh ... kalo gak karena udah dipanggil gue gibeng Lo ...." ketus Nando melemparkan tatapan tajam kearah Rehan dan Nino.

Dengan posisi mulut yang penuh sebenarnya Rehan merasa tak enak hati, ia melihat kepergian Nando berjalan dengan rasa kecewa. melihat ekspresi Rehan, menyenggol tubuhnya dengan siku tangan.

"Udah gak usah sedih kayak gitu deh! lagian kita kan cuman dikasih ... mana mungkin kita minta jatah buat orang lain ... emangnya Lo berani?" katanya.

Rehan langsung menggeleng, benar yang dikatakan Nino mana mungkin dia akan memintakan jatah untuk orang lain yang posisinya saja tidak ada.

"Udah mendingan Lo habisin sekarang ... nanti habis ini giliran Lo kan?" kata Nino lagi,

Mereka bagai sohib dekat padahal belum lama bertemu, Nino dan Rehan membersihkan mulut mereka ke kamar kecil. kemudian mengatur pakaiannya yang terlihat kusut supaya kembali rapi.

*

Larissa menyandarkan tubuhnya di kursi mahal yang selalu menemani dirinya diruang kerjanya. menggoyangkan ke kanan dan ke kiri menikmati hembusan angin dingin yang berasal dari air conditioner.

Hingga goyangan itu terhenti saat matanya menembus pemandangan di luar kaca tembus pandang.

"Hah ... jadi kayak gini ya rasanya jadi orang kaya ... padahal kehidupanku dua tahun lalu pait banget." ucapnya.

Tak seperti awan putih bersih yang sering Larissa lihat setiap hari, kehidupan nyata rasa kotor. Apalagi ketika dulu waktu SMA dia telah membohongi orang tuanya sendiri.

"Ayah,Ibu aku janji bakalan bikin Kalian bahagia!" guman Larissa penuh tekad hanya untuk kedua orangtuanya.

Masa lalu kelam terbayang kembali ketika Larissa berbohong tentang mengada-ada kehamilannya agar bisa menikah dengan Nando saat itu juga.

Mengira jika cinta akan selamanya berjalan indah, dengan sangat terpaksa kedua orang tuanya menyetujui pernikahan Larissa. Padahal Larissa belum resmi lulus dari sekolah SMA nya.

Hasil pengorbanannya ternyata tak sesuai, yang ia dapatkan hanyalah sebuah penghianatan yang kejam. Untungnya Tuhan masih melindungi dirinya dengan cara tersendiri. Walaupun tak pernah melakukan KB selama menikah dengan Nando, dia tak kunjung hamil bahkan sampai bercerai pun tak ada ada tanda-tanda kehamilan pada rahimnya.

Kesusksesan Larissa tentu saja ada campur tangan dari kedua orangtuanya. Ditambah Sang Ibu Rahima adalah seorang MUA terkenal di kampungnya. Mengubah penampilan Larissa dengan cara merawat diri dan mengajarinya makeup.

"Tok ... tok ... tok."

hingga suara ketukan pintu membuat Larissa harus membuyarkan lamunannya.

Bab 3

Nando mengetuk pintu yang salah, seharusnya dia mengetuk pintu disebelah sisi kanan bukan sisi kiri.

Untungnya Ratu naik ke lantai atas untuk melihat, dan benar saja ia menggeleng lirih saat melihat Nando sedang berdiri di depan ruang kerja milik Larissa.

"Mas Nando kan tadi saya bilang apa? kiri apa kanan?" tanya Ratu penuh teka-teki dengan hidung kembang kempis menatap Nando.

"Eh iya ya ... yang kanan ya ... hehe maaf Bu," jawab Nando menggaruk rambutnya yang tak gatal itu kemudian memutar arah kakinya.

Nando membalikan badannya hingga akhirnya tak nampak wajahnya dengan jelas ketika Larissa membuka pintu.

"Ratu, ada apa?" tanya Larissa,

Suara serak basah yang terdengar familiar ditelinga Nando kembali memutar kepalanya.

Dalam hitungan detik mata mereka saling bertemu, Nando terperangah melihat mantan istrinya dengan penampilan yang jauh berbeda.

"Larissa?" ucapnya dengan tak kunjung mengatup mulutnya.

"Mas Nando?" ucap Larissa dengan jelas,

"Woahh ... gak ku sangka akhirnya kita ketemu lagi ya Mas ... oh sekarang mau ngelamar kerjakah?" tanya Larissa mengejek menutup mulutnya dengan kelima jarinya tak lupa ditambah dengan tatapan remeh tertuju pada sang mantan suami.

Nando mengusap matanya berkali-kali, seakan tak percaya jika yang dilihat adalah sosok Larissa.

"Kenapa Mas? kok kaget?" kata Larissa memotong tatapan Nando tak berkedip melihat dirinya dari ujung kaki hingga kepala.

"Kamu beneran Larissa?" tanya Nando lagi,

Larissa tersenyum masam, tak ingin memperlama waktu untuk sekedar mengobrol atau melepas rasa rindu. Tak sudi mengotori matanya untuk sekedar melihat Nando si penghianat.

"Brak." Suara pintu tertutup meninggalkan bunyi keras, membuat Nando tersentak.

"Maaf Mas Nando, udah ditunggu sama pihak HRD." sela Ratu berusaha menahan tawanya hingga membuat bibirnya bergetar.

"Iya Bu." jawab Nando dengan raut wajah menahan malu, matanya melirik ke papan yang terpasang diatas pintu milik Larissa.

"Ruang CEO ... jadi dia benar Larissa mantan istriku?" guman Nando setelah membaca dengan jelas. Hingga akhirnya dia kembali memusatkan perhatian untuk melakukan interview.

Ratu merasa yakin, dengan sikap tak sopan Larissa terlihat jelas jika Nando adalah mantan suaminya dulu.

"Haha keren banget deh Ibu Larissa ... siapa yang ngira kalo mantan yang udah tega jahatin dia ternyata datang ke kantor buat jadi karyawannya sendiri?" kata Ratu sambil berjalan kembali berjaga di ruang resepsionis.

Beberapa menit Nando menjalani sesi wawancara, kemudian keluar dengan tertunduk lesu. Ada perasaan sedih juga bahagia, akhirnya setelah menanti selama satu tahun lamanya ada Perusahaan yang mau menerima dirinya sebagai karyawan.

"Bangsat! mau ditaro mana ni muka gue! ternyata pemilik Perusahaan ini memang punya Larissa mantan istri gue dulu ... tapi kok penampilan dia beda banget ya ... buset cantik banget! coba aja kalo tampilan dia kayak gitu gak bakalan gue selingkuh." kata Nando penuh rasa sesal. Memang karena jiwa sebagai buaya darat melekat erat dalam tubuhnya. Masih saja tak mengakui kekurangan dirinya sendiri.

Nando berjalan lemas, kali ini ia memilih melewati anak tangga daripada menggunakan lift.

"Ah ... kalo gue kerja disini ... harga diri gue makin hancur dong ... mana Larissa yang punya kantornya lagi ... terus posisi gue sendiri cuma jadi cleaning service ... mendingan gue tolak aja ni kerjaan daripada nahan malu." katanya bertekad,

hingga terdengar suara musik yang berasal dari nada panggilan milik ponselnya.

Nando buru-buru mengangkat telepon itu, terlihat nomor baru yang tak tersimpan dari ponselnya.

"Nando : Halo? siapa ya?"

"No name: Siapa! Siapa mata Lo! ni gue anak buah bang Burhan ... sekarang cepet bayar utang-utang Lo yang udah numpuk macem sampah di Bantar gebang ... atau gue ambil rumah Lo buat jaminan!" sentak seorang rentenir menagih hutang kepada Nando.

"Nando : Eh ... iya Bang ... jangan dong Bang ... tenang akhir bulan saya bakalan cicil kok ... soalnya hari ini saya udah keterima kerja Bang ... tolong Bang kasih saya waktu." pinta Nando memohon,

"No name: enak aja kalau ngomong ... dari kemarin lo bilangnya juga gitu ... ngomong katanya akhir bulan dari Januari sekarang mau ke Desember ... mentang-mentang akhir bulan banyak ... nggak bisa pokoknya gua kasih waktu sampai seminggu ... kalau Lo belum bisa bayar silahkan segera angkat kaki dari rumah mewah lo itu."

"Nut."

Nanda mengayunkan kakinya menendang dinding tembok,

"Dugh."

"Bangsat! kapan hidup gue bisa lega gitu ... makan aja susah sekarang di tagih utang... belum lagi benerin mobil yang rusak ... dapet kerjaan malah jadi bawahan mantan istri ... suekk ... suekk ...." kesal Nando menjambak keras rambutnya.

Berbanding balik dengan kehidupan mantan suaminya, Larisa duduk tenang menikmati secangkir kopi dengan kaki menyilang. Tak lupa beberapa camilan berjajar diatas meja serta acara televisi yang ia tonton sebagai hiburan.

"Haha ... aku beneran gak nyangka bisa ketemu sama Mas Nando lagi ... gila sih tampilnya macam gembel aja ... eh ya kok gue penasaran dia ngelamar kerja di bagian apa ya?" kata Larissa merasa penasaran kemudian berlari untuk menghubungi Ratu.

"Larissa : Hallo Ratu?"

"Ratu: Ya, Bu? ada apa?"

"Larissa : Ratu boleh saya tahu, Mas Nando tadi keterima dibagian apa?"

"Ratu : Kata Pak Jaka bagian HRD sih cleaning service Bu."

"Larissa: Hahaha ... apa? hahah ... em maaf-maaf ... oke makasih ya infonya." kata Larissa menutup panggilan intercom.

"Cih ... ternyata dia keterima dibagian Cleaning service? Woah cocok sih biar sekalian dia bersihin otak dia yang kotor." kata Larissa puas dengan senyuman merekah.

"Mas silahkan terima karma kamu ...." imbuhnya serambi menyeruput kopi dalam gelas.

*

Nando berjalan keluar gedung, ia berniat menjual mobil butut itu untuk biaya hidup sehari-hari. Dengan posisi berjalan tangannya sibuk memosting mobilnya diaplikasi jual beli kendaraan.

Karena hanya fokus melihat layar ponsel,ia tak sadar dari lawan arah ada seseorang yang sedang sibuk menawarkan kue donat.

"Brukk."

Benar saja tubuh mereka saling bertabrakan, tangan wanita itu dengan sigap melindungi barang dagangannya yang nyaris jatuh.

"Eh mas! kalo jalan lihat-lihat dong!" ketusnya.

Nando kembali mengangkat dagunya, bahunya terasa ngilu karena terhantam ujung wadah berisi donat.

"Reita?" ucap Nando, sebenarnya merasa sangat pangling dengan tampilan Reita yang jauh berbeda. Memakai daster kembang-kembang serta rambutnya bergelombang tak beraturan.

Reita seketika menutup wajahnya, ia tahu jika orang ini adalah Nando sang mantan pacar.

"Maaf anda salah orang Kak ... saya permisi dulu!" katanya berusaha melarikan diri,

tapi tak semudah itu Nando langsung menarik tangannya,

"Elo gak usah bohong deh ... gue tau kalo elo itu Reita? tapi bentar? kenapa tiba-tiba Lo harus susah-susah jualan donat?" kata Nando menyelidik,

"Apa sih lepasin! Lo gak perlu tahu! lagian bukan urusan Lo juga!" kata Reita menepis kasar, secara tidak langsung mengakui jika dirinya adalah Reita.

"Hahah ... gila sih ... gue puas banget lihat Lo kayak gini ... setelah semua yang gue lakuin buat Lo, tapi Lo malah tega ninggalin gue nikah? karma is real Reita." kata Nando lantang,

Reita meletakkan wadah jualannya ke tepi jalan agar tak tertabrak orang.

"Eh kadal buntung! terus Lo sendiri gimana? enak hidup Lo sekarang? gue lihat tampilan Lo aja macem gembel gak beda sama gue! ini gue apal banget sama baju modelan kayak gini ... ahh ... Lo lagi ngemis cari kerjaan kan?" ejek balik Reita,

Nando mendengus kesal, menampik telunjuk tangan Reita mengarah padanya,

"Diem Lo! gak usah ikut campur!" sentak Nando mendorong Reita melewatinya dengan tatapan benci.

Reita merasa sangat puas, melipat kedua tangannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED