Bab 1

Prolog

Di dalam sebuah kamar yang telah dihias ala pengantin baru, dengan temaram sinar lilin sebagai penerang, dan kelopak bunga mawar yang bertebaran memenuhi permukaan ranjang, meruapkan aroma manis yang menggoda, tampak seorang perempuan tengah duduk di tepiannya.

Saat mendengar pintu terbuka, perempuan itu mendongak, menyambut lelaki yang kini telah sah sebagai suaminya.

Bahkan meski ini bukan pengalamannya yang pertama, tetap saja perempuan itu merasa gugup bukan kepalang. Tangannya terasa dingin—yang tak ada hubungannya dengan seberapa minim gaun tidur yang dia kenakan—dan irama jantungnya bertalu-talu. Jari-jarinya saling meremas mengepal tatkala langkah lelaki itu kian mendekat.

Perempuan itu kemudian memilih menunduk, jengah dengan tatapan lekat yang lelaki itu tujukan padanya, pada sekujur tubuhnya.

Bahkan hingga kini dia masih serasa tak menyangka bahwa akhirnya dia menikah dengan cinta pertamanya.

Bukan, bukan berarti dia tidak mencintai mendiang suaminya, tapi laki-laki yang ada di depannya kini adalah kisah lain, kisah lain yang dia kira telah pupus saat mereka masih remaja. Namun ternyata takdir menjalin kisah mereka untuk kembali berlanjut, untuk mengarungi titik baru, sebagai sepasang suami istri.

Perempuan itu menahan napas sewaktu sang lelaki menjulurkan tangan untuk mengelus pipinya. Elusan yang kemudian turun ke leher, ke tulang selangka, dan ke tali bajunya yang setipis lidi, untuk kemudian menanggalkannya.

Detik sebelum perempuan itu terbaring di ranjang, dia membatin, betapa beruntung dirinya. Bahwa badai yang selama ini harus dia hadapi seorang diri, sebagai janda, telah berlalu. Kini telah ada sosok lain untuknya bertumpu.

Perempuan itu hanya tidak tahu, bahwa suami barunya tak sebaik itu. Ada rencana culas yang diam-diam lelaki itu simpan.

**

Part 1

“Lo yakin nggak liat dia? Iya, koper sama semua barang-barangnya nggak ada yang tersisa. Semuanya diangkutin sama dia. Mangkanya gue ngira dia pasti kabur ke kampung.”

“Gue udah pantau rumahnya dari beberapa hari ini, Ka. Tapi nggak ada tanda-tanda dia ada di sini. Orang tuanya juga gue liat biasa aja. Nggak yang mukanya seneng kayak kalo anaknya abis pulang kampung.”

“Lo yakin mereka bukan pura-pura?”

Terdengar tawa di seberang telepon. “Lo kayak nggak tahu aja, orang-orang di sini tuh polos. Kami cuma orang kampung yang kalau disuruh akting macam artis sinetron nggak bakal tahu. Ya … kecuali si Acung. Nggak ngerti deh dia berguru akting di mana. Tapi percaya deh, kalau dia emang ada di sini, pasti keliatan. Dia pasti kabur ke tempat lain, Ka.”

Arka pun mematikan telepon. Rasanya sedikit tergelitik dengan kata “polos” yang disebutkan Danu barusan. Setelah bertahun-tahun tinggal di kota metropolitan, bahkan kini telah terbiasa menggunakan lo-gue, Arka tidak menyangka bahwa dia masih bisa jadi seseorang yang polos. Seseorang yang mudah dibodohi.

Bagaimana bisa seorang Arka yang terkenal pintar dan teliti bisa jatuh dalam jebakan khas kelas teri.

Bagaimana bisa seorang Arka memercayakan begitu saja tabungan yang sudah dia kumpulkan dengan telaten selama ini pada cungpret kurus nan tengik bernama Acung. Pemuda yang bahkan tak becus lulus kuliah dan berakhir “mengembara” dari satu kerja serabutan ke kerja serabutan lainnya. Bagaimana bisa sampai Arka terlintas menjalin kerjasama dengan orang seperti itu.

Arka tak habis pikir.

Dan rambut yang biasanya tertata rapi itu pun berakhir acak-acakan jadi sasaran kefrustrasiannya.

**

Beda dengan kebanyakan orang yang biasanya menggunakan weekend sebagai hari santai, tidur sampai siang dan bermalas-malasan, semacam ritual balas dendam setelah lima hari membanting tulang dalam kerasnya dunia kerja, tetapi Arka berbeda. Dia bukan penganut kebiasaan itu. Arka akan menggunakan weekend-nya untuk melakukan aktivitas yang sama aktifnya seperti saat hari kerja. Entah dengan melakukan hal-hal domestik seperti bersih-bersih apartemennya, mencuci motor kesayangannya, berbelanja stok makanan di dapur. Lalu setelah semua itu selesai, Arka akan kembali mengecek pekerjaannya di kantor. Menyelesaikan berkas yang harus dia presentasikan besok di depan bos.

Awalnya Arka menikmati gaya hidupnya yang semacam ini, tetapi ….

Di umurnya yang ke-32 tahun, setelah 7 tahun bekerja di kantor yang sama, dan mendapatkan gaji yang lumayan, Arka mulai merasa jenuh. Dia mulai jenuh dengan rutinitas lima hari kerja dua hari libur. Dia mulai jenuh dengan setumpuk pekerjaan yang tak ada habisnya. Dia mulai jenuh dengan perlombaan tak sehat dalam memperebutkan promosi. Dia ingin formula yang berbeda. Bahkan meski harus bekerja dengan jumlah hari yang lebih banyak, Arka tak keberatan. Tentu, jumlah hari libur yang lebih banyak pasti yang lebih menggiurkan. Karena itu Arka ingin menentukan sendiri hari kerja dan hari liburnya, juga seberapa besar tekanan yang mampu diterimanya. Dia ingin terbebas dari titel seorang karyawan, menjadi bos bagi dirinya sendiri. Dia ingin memulai usahanya sendiri.

Tapi siapa sangka, sekali Arka mencoba keluar dari zona amannya, dia langsung tertendang dengan telak. Bukan hanya modalnya dibawa kabur oleh Acung, Acung juga telah menjadikan nama Arka sebagai penjamin atas sejumlah pinjaman yang fantastis di bank. Dan kini para rentenir terus mengejar-ngejarnya.

Itu sebabnya, di hari weekend ketika seharusnya Arka pergi keluar untuk olahraga di gym, dan sederet lis lainnya, dia malah terjebak di dalam rumah. Bersembunyi dari rentenir yang terus menggedor-gedor pintu rumahnya.

**

“Anjiir! Lo masih hidup ternyata. Kirain udah jadi bangkai!” Resya, teman sekaligus rekan kerjanya di kantor, langsung menghadiahi umpatan saat akhirnya Arka muncul di gym. Tak seperti biasanya yang selalu on time, kali ini Arka telat sampai satu jam. Benar-benar rekor telat yang mencengangkan. Bahkan sebenarnya kalau lima menit lagi Arka tidak datang, Resya sudah berencana menelepon 119, berpikir temannya itu pasti mengalami kecelakaan serius entah di tempat mana.

Tebakan yang tak begitu jauh sebenarnya. Beberapa menit yang lalu, Arka memang sangat membutuhkan bantuan 119. Para rentenir itu melihat saat Arka menyelinap keluar dari rumahnya lewat jalan belakang. Lalu terjadilah kejar-kejaran antara para rentenir bertubuh tambun dan penuh tato itu dengan dirinya.

Arka hanya bersyukur bahwa motornya beperforma maksimal dan dapat mengebut serta meliuk-liuk gesit di jalanan. Hingga para rentenir itu ketinggalan jejaknya.

“Diem lo,” sentak Arka dengan napas terengah-engah. Peluh membanjiri dahi hingga lehernya.

Tapi bukannya diam, Resya malah terkekeh sambil lanjut mencerocos. “Gua kirain lo ke mana, ternyata lo abis asoy-asoyan sama cewek, ya. Ngaku aja. Lo napasnya sampe ngap-ngap kayak gitu, pasti saking capeknya ngelayanin itu cewek.” Lalu dengan alis terangkat dan muka makin mesum, Resya berbisik, “Dia minta berapa ronde, Bro? Goyangannya sebombastis itu ya?”

Tak mau menghiraukan temannya yang memang ke mana-mana pikirannya tak jauh dari selangkangan, Arka melirik saku celananya saat terasa benda pipih di sana bergetar.

Tanpa memperhatikan nomor si pemanggil, Arka langsung menerima telepon dengan suara lemah, masih kelelahan, “Halo.”

Lalu meluncurlah kata umpatan yang disertai ancaman dari seberang telepon.

Bab 2

Wajah Arka seketika kaku, mengetahui dengan pasti siapa peneleponnya ini. Si rentenir yang tadi mengejarnya.

Arka mematikan sambungan telepon secara sepihak, kemudian menonaktifkan ponsel pintarnya.

“Siapa, Bro? Cewek yang tadi? Kok muka lo sepet banget. Jangan-jangan cewek yang lo tidurin itu bini orang, ya? Terus barusan yang nelepon itu lakinya dan damprat-damprat lo,” ucap Resya.

Tak tahan dengan analisis-analisis Resya yang meliar, Arka akhirnya menepuk belakang kepala pria seumurannya itu. “Jaga omongan lo. Gue bukan penjahat kelamin kayak lo.”

“Alah, sok suci lo.”

Arka mendengkus. Bibirnya terkatup, tak ingin meladeni.

Melihat wajah Arka yang berkerut seakan dipenuhi masalah serius, Resya akhirnya menghentikan ocehannya. “Lo kenapa, Ka?”

“Nggak kenapa-napa,” jawab Arka sambil menggelengkan kepala. Kemudian menumpukan kepalanya di tangan.

“Serius deh, lo sekarang lebih stres dari pas ngadepin proyeknya Pak Kuncoro yang revisinya berlapis-lapis kayak bajunya cewek.”

Arka terkekeh singkat mendengar perumpamaan yang digunakan Resya. Pria yang masih mengenakan tracksuit dengan keringat yang sudah kering itu memang mengesalkan, tapi entah bagaimana selalu bisa melawak kapan pun seperti badut.

“Bilang sama gue, ada apa. Gue bakal bantu sebisa gue.”

Arka menggeleng. Tak jauh beda darinya, Resya adalah pria lajang dengan ekonomi menengah mapan, yang bisa bersenang-senang di mal atau di klub tanpa perlu mengkhawatirkan tagihan bill. Tapi tetap saja, semapan-mapannya Resya, dia tak akan bisa membantu utang-utang Arka.

“Njir! Gue nggak terima ya kalo didiemin gini,” sentak Resya. Bangkit dari kursinya dengan ekspresi beringas.

Arka lagi-lagi menggelengkan kepala, menundukkan kepalanya makin dalam, memilih mengabaikan tingkah berlebihan Resya.

Arka luput memperhatikan bahwa setelah dianggap angin lalu oleh dirinya, Resya kemudian mengambil inisiatif sendiri untuk mencari tahu masalah apa yang tengah dihadapi temannya itu. Dan Resya tahu ke mana harus mencari tahu.

Satu-satunya teman Arka selain dirinya, hanyalah Danu.

Selagi Arka tidak memperhatikan, Resya pergi ke sudut ruangan. Ruang ganti gym untungnya sedang kosong. Resya kemudian menekan panggilan pada Danu.

“Lo bilang sama gue, si Arka lagi kena masalah apa?” Tanpa basa-basi, Resya langsung menodong pertanyaan pada Danu.

“Oh. Nggak lo tanyain sendiri aja ke orangnya?”

“Nggak. Dia cuma geleng-geleng terus kayak boneka India. Imut nggak, ngeselin yang ada.”

Terdengar gelak dari seberang. Danu tahu, meski Resya terkesan serampangan dan berotak sekotor comberan, tapi dia setia kawan. Dan untuk saat-saat seperti ini, Danu merasa kehadiran seorang kawan amatlah penting. Arka tak boleh menanggung semuanya sendiri, begitu pikir Danu. Maka Danu mulai menceritakan kronologis masalah Arka secara lengkap.

“What the fyuh fyuh! Gila! Arka? Seorang Arka ketipu penjahat kelas teri?”

Dan orang yang disebut namanya pun akhirnya mendongak. Menatap temannya yang seperti kebakaran jenggot, berteriak-teriak tidak jelas pada ponsel di kupingnya. Tapi beberapa saat setelah menyimak ucapan-ucapan Resya—yang masih dipenuhi umpatan—akhirnya Arka sadar siapa yang temannya itu bicarakan.

Pasti Danu sudah cerita, batin Arka.

Mereka bertiga—Arka, Resya, dan Danu—adalah sahabat sejak kecil. Mereka bertiga berasal dari desa yang sama, dan setelah lulus SMA, ketiganya juga bersama-sama merantau ke kota untuk melanjutkan kuliah. Hanya saja setelah lulus, sementara Arka dan Resya memilih menetap di rantau untuk melanjutkan karier mereka, Danu memilih pulang.

“Mending lo pulang aja deh, Ka,” ucap Resya, tiba-tiba mukanya sudah memenuhi seluruh pandangan Arka karena pria itu berjongkok begitu dekat.

“Bentar. Gue baru nyampe sini udah lo suruh pulang aja,” keluh Arka. Kesal karena temannya ini tak perhatian.

“Bukan pulang ke apartemen lo, tapi pulang ke kampung.”

Ucapan Resya seketika menyentak atensi Arka.

“Gini ya, gue bukannya pelit nggak mau nalangin utang lo. Gue ikhlas kok jual semua sepatu kulit koleksi gue, sama jam tangan gue juga, deh. Semua itu emang nggak bakal langsung lunasin utang lo, tapi paling tidak ngurangin setoran bulan ini. Nah, masalahnya ini. Ini lo masalahnya sama rentenir, Ka. Sama bunga. Lo nyetor bulan ini, masih ada bulan depan dan bulan depan-depannya lagi. Mati deh lo dicekek bunga segede itu. Kayak yang gue bilang, gue ikhlas bantuin lo, tapi bantuan gue cuma bakal kayak pasir di laut, nggak ada arti. Menurut gue, mending lo kabur aja ke kampung. Ngehindarin mereka buat sementara dulu. Lagian, kalau gue jadi lo, ogah gue bayar utang ke mereka. Enak di mereka. Apalagi ini juga bukan utang lo, tapi si keparat Acung. Anjir emang itu Acung. Muka aja kalem kelemer-kelemer, tahunya wataknya bandit. Awas aja kalo ketemu. Sekalian di kampung lo cari tahu keberadaan Acung sama Danu. Kalo udah ketemu, serahin deh kepalanya ke rentenir-rentenir itu.”

Arka ternganga. Tak menyangka, bahwa dari sahabatnya yang punya otak paling ngeres, akan ada solusi keluar dari mulutnya.

**

“Ini Arka? Ini beneran Arka?”

Seorang perempuan berumur lima puluhan tampak terpana takjub melihat sosok yang tiba-tiba hadir di ambang pintunya sore ini. Sutia awalnya hendak mengantar gorengan ke masjid. Sebagaimana kebiasaannya tiap malam Jumat, dia akan membawa entah gorengan atau makanan komplet dengan lauknya sebagai selamatan di masjid. Sebagai doa, moga-moga keluarganya sehat dan selamat, dan terutama moga-moga anak lelakinya di rantau dilindungi Yang Kuasa. Siapa sangka, anak lelakinya yang telah tahunan tak pulang, tiba-tiba sore ini sudah ada di depan matanya.

“Gusti Allah, akhirnya kamu pulang, Nak. Kamu sehat? Ya Allah, makin gagah ya anak Ibu,” ucap Sutia, merasa kagum pada penampilan anaknya. Sejak dulu Arka memang bertubuh tinggi, persis bapaknya, tapi dulu sebelum pergi merantau, tubuh Arka tak sepadat saat ini. Kini, selain bertubuh tinggi dan padat berisi, putranya juga berpenampilan lebih rapi. Trendi, Sutia mencoba mengingat-ingat istilah yang dipakai kawula muda. “Coba, sekarang kamu umur berapa?”

“32, Bu,” jawab Arka. Tersenyum melihat tingkah ibunya yang tangannya terus mengusap bahu, muka, dan rambut Arka, seakan untuk mengetes apakah anaknya ini adalah sosok nyata, bukan hanya bayangan.

“32. Sudah dewasa kamu, Nak. Sudah waktunya nikah. Mana calonmu coba?”

Ah, inilah alasan kenapa Arka malas pulang. Lagi-lagi soal kapan nikah. Tiap ibunya menelepon, topik ini tak pernah absen dibahas. Kini pun sama saja.

Arka menghela napas, bibirnya mengulaskan senyum tipis. Betapa pun dirinya kesal kalau ditanya-tanyai topik ini, tapi Arka tak bisa kesal kalau pada ibunya.

“Nanti, Bu, nanti.”

“Ah, kamu ini, selalu nanti. Itu Nilam yang temen si Nida, adekmu, sudah nikah kapan tahun. Kamu, lebih tua jauh kok ya bahkan nggak pernah kelihatan bawa pacar sama sekali. Ibu kan pengen punya mantu.”

Bab 3

“Ibu kan udah punya mantu. Tuh suaminya Nida.”

“Aduh, nggak usah sebut-sebut si Lutfi itu. Nyesel Ibu ngasi Nida ke dia. Lagaknya sudah macam orang asing. Main ke sini cuma tiap Lebaran atau kalau udah terpaksa bener pas Ibu ancem-ancem. Padahal rumahnya ya nggak jauh-jauh banget. Punya mobil pula. Sejam paling cuma ya jalannya ke sini?”

Arka mengangguk. Bersyukur topik pembahasan sudah berpindah pada nama lain, bukan dirinya.

“Kamu kalau udah nikah jangan kayak gitu juga ya, Ka. Kalau perlu kamu cari perempuan yang deket-deket sini aja. Biar nanti kalau punya anak, Ibu bisa bantu momong sering-sering.”

Arka meringis, rupanya dia belum benar-benar keluar dari lubang jarum. Namun, sebelum ucapan ibunya makin panjang mengulik masa depannya, kemunculan sosok dari ruang tengah menyelamatkan Arka.

“Bapak, assalamualaikum.” Arka langsung melangkah menyongsong sosok laki-laki yang di usia kepala enam masih tampak bugar dan penuh stamina. Arka kemudian menyalami tangan bapaknya.

“Kapan datang, Ka?” Berbeda dengan Sutia, sosok Bambang tampak lebih kalem.

“Barusan, Pak.”

“Loh, ini barusan sampe kok langsung dicecar sama pertanyaan, Buk. Bapak dari kamar denger lo sama cerewetnya Ibuk. Coba anak kalau baru datang perjalanan jauh itu disuruh duduk, dikasi minum teh.”

Mendengar kata minum, Arka baru tersadar bahwa tenggorokannya memang terasa kering. Pria itu kemudian meletakkan tasnya di bawah, dekat kaki meja. Kemudian beranjak ke dapur.

“Eh, mau ke mana kok pergi aja? Ibu belum selesai ngomongnya sama kamu.”

“Bentar, Bu, Arka haus, mau minum.”

“Eh, kamu haus beneran, Ka? Nggak bohong kan gara-gara dengar omongan bapakmu barusan?”

Bambang menggeleng-geleng melihat kelakuan istrinya.

Sejenak Arka merasa sengatan rasa asing saat memasuki area dapur. Semuanya tampak berbeda dari yang terakhir kali diingatnya. Seluruh permukaan dindingnya telah dikeramik, tak lagi seperti dulu yang hanya pada bagian depan kompor gas saja yang dikeramik, untuk menghalau cipratan minyak goreng supaya tak menempel di dinding. Ada kulkas dua pintu, dispenser listrik, lemari rak piring yang lebih kokoh dan tampak cantik, dan lain-lain yang kesemuanya menimbulkan kesimpulan bahwa beberapa tahun ini kondisi keluarga mereka membaik sehingga bisa memperbaiki dapur dan isinya—juga beberapa area rumah yang lain yang belum sempat Arka tengok.

Semua ini tak lepas dari peran Arka juga. Anak sulung Bambang dan Sutia itu tak pernah absen mengirim sebagian gaji bulanannya ke kampung. Bahkan meski Bambang dan Sutia sudah bilang cukup, kebutuhan di kampung sudah cukup terpenuhi semuanya, tapi Arka tetap rutin mentransfer. Sebab Arka merasa ini sudah jadi kewajibannya sebagai anak sulung untuk berbakti pada kedua orang tuanya.

Namun, mengingat kondisi keuangannya saat ini, Arka merasa sangsi apakah bulan ini bisa memberi uang pada kedua orang tuanya. Tapi satu hal yang pasti, Arka tak akan menceritakan apa yang menimpanya, bahwa putra mereka ditipu oleh anak tetangga yang rumahnya tak jauh dari tempat mereka.

Setelah beberapa tegukan air dingin, Arka mendesah, dahaganya terpenuhi.

“Kamu kalau memang belum ada calon, Ibu bisa bantu carikan.”

“Astagfirullah!” sentak Arka, kaget dengan kehadiran ibunya yang tiba-tiba di belakang punggungnya. Untung dia sudah selesai minum, kalau tidak pasti barusan dia tersedak.

Sutia menepuk-nepuk punggung putranya, membantu meredakan kagetnya. Namun sembari melakukan hal itu, dia juga berucap, “Ada Nadia anaknya temen arisan Ibu. Ada juga Rara, anaknya Bu Farida. Semuanya cantik-cantik. Tapi … yang paling cantik di desa ini ya menurut ibu tetep si Nilam.”

“Bukannya Nilam sudah nikah, Bu?” ucap Arka, mengingat apa yang tadi sempat diucapkan ibunya.

“Iya, sudah nikah. Tapi sekarang juga sudah janda. Setahun lalu suaminya, si Andre, meninggal waktu kecelakaan lalu lintas. Masyaallah, nggak nyangka pokoknya Ibu, masih muda, masih gagah, kaya pula, tapi umurnya ternyata pendek.”

Arka tertegun selama beberapa saat, mencoba memproses info yang baru didengarnya. Selain mengingat Nilam sebagai teman adiknya semasa sekolah, Arka juga mengingat Nilam sebagai gadis—ah, kini dia bukan lagi gadis—yang memiliki kenangan khusus baginya. Memang benar Nilam cantik, amat cantik, sampai-sampai Arka heran sendiri kenapa gadis secantik itu dulu sampai tertarik padanya.

Ya, dulu Nilam pernah mengutarakan perasaannya pada Arka. Gadis yang ketika itu masih mengenakan seragam putih-dongker, tersipu malu saat menyerahkan surat cintanya pada Arka.

Namun Arka menolak perasaan Nilam saat itu juga. Dengan tegas pria yang ketika itu sedang berada di bangku kelas 3 SMA menjawab bahwa anak kecil seperti Nilam seharusnya jangan terpikir soal pacaran. “Harusnya kamu fokus sama sekolah, Dek.”

“Aku tetep akan fokus sama sekolah kok, Kak. Tapi aku juga mau pacaran sama Kakak. Aku cuma mau pacaran sama Kak Arka pokoknya.”

Arka tertawa geli kalau mengingat dialog perempuan itu. Meski tampak malu dan wajahnya sudah semerah udang rebus, tapi dia masih dengan keras kepala menyanggah ucapannya.

“Aku cuma mau pacaran sama Kak Arka” katanya. Tapi lihat, beberapa tahun kemudian perempuan itu ternyata sudah berhasil move on dan bisa menikah dengan pria lain, meski harus berujung kehilangan.

“Ibu mau jodohin Arka sama Nilam? Nggak apa-apa nih meski Nilamnya janda?” tanya Arka, menanggapi ucapan ibunya sebelumnya. Arka ingin mengetes bagaimana respons sang ibu.

“Tentu, Ibu nggak keberatan. Ibu yakin kamu nggak akan merasa rugi meski kamu masih perjaka lalu dapatnya bukan yang perawan. Nilam itu meski janda, tetep—kayak yang Ibu bilang tadi—yang paling cantik di antara semua perempuan sebayanya di desa ini. Dia juga baik hati, berbudi pekerti halus. Dan yang paling penting, kalau kamu mendapatkan Nilam, Ibu ingin kamu menjaga Nilam dan anaknya dengan baik,” ucap Sutia serius.

Satu info lagi Arka terima, bahwa Nilam sudah punya anak.

“Menjaga gimana, Bu?” tanya Arka, terpancing dengan nada serius ibunya.

“Masa kamu nggak ngerti juga, Ka?”

Arka menggeleng, benar-benar tak mengerti jalan pikir ibunya.

“Nilam itu jandanya Andre, Ka,” bisik ibunya.

“Oh ….” Langsung terang di kepala Arka apa maksud ibunya sejak tadi.

Andre, pengusaha paling kaya di kampung mereka. Konon dia memiliki usaha pertambangan dan sejumlah saham yang diputar secara cantik. Intinya, menjadi janda Andre, bahkan memiliki anak dari Andre, berarti menjadi ahli waris atas begitu banyak aset berharga.

Sutia meletakkan sebelah tangannya di samping mulutnya, kemudian kembali berbisik, “Udah banyak yang antre mau ngelamar Nilam. Mulai dari orang kampung sini sampai orang kampung jauh. Coba, itu kalau bukan karena dengar warisannya karena apa lagi coba?”

Karena kecantikan Nilam yang tak tertandingi? Karena kebaikan hatinya? reka Arka dalam hati, lagi-lagi mengingat apa yang ibunya kemukakan baru saja. Tapi Arka tak bisa menampik bahwa analisis ibunya memang masuk akal.

“Kalau kamu yang nikahin Nilam, Ibu percaya kamu bakal lindungin Nilam dan anaknya dengan sungguh-sungguh. Tidak terpengaruh soal harta,” simpul ibunya.

Deg.

Sebuah pikiran yang amat keji baru saja terlintas dalam kepala Arka. Pikiran yang berseberangan dengan kesimpulan ibunya. Justru kalau dia menikahi Nilam, dia akan sama saja dengan semua pria-pria itu, Arka hanya akan berakhir dengan tujuan untuk mencuri harta Nilam, untuk mengatasi situasi pelik yang tengah menjepit dirinya.

Arka buru-buru menggeleng, menghalau pikiran tidak-tidaknya.

“Arka ke kamar dulu ya, Bu. Mau istirahat,” ucap Arka, ingin menghindar untuk sementara dari ibunya, dari rencana-rencananya yang berbahaya terutama.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED