“Kau pilih cerai atau ijinkan Haris menikah lagi?!” tanya Ibu mertua tiba-tiba. Jantungku seperti mau copot mendengarnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa Ibu mertua yang selama ini aku anggap seperti ibu kandung sendiri bertanya demikian?
Aku mendongak sambil mencengkeram sepatu high heels yang baru saja kulepas. Andai saja bukan orang tua, sudah kusumpal mulutnya dengan sepatu ini. Tidak punya perasaan bertanya seperti itu. Pada menantunya pula!
“Maksud Ibu apa?” Aku berdiri menghadap Ibu mertua. Raut wajahnya tidak seperti biasa, tampak tak bersahabat. Sepersekian menit ia tetap bungkam, enggan menjawab.
Aku mengembuskan napas.
Sudah letih pulang kerja, sampai rumah ditodong pertanyaan macam itu. Kulirik Bang Haris. Wajahnya tenang sekali. Bahkan kedua matanya tak ingin menoleh. Memilih asyik menonton televisi. Aku mengembuskan napas panjang.
“Kenapa tiba-tiba Ibu nanya kayak gitu? Masih kurang uang bulanan dari Laila?” Aku bertanya lagi dengan nada tinggi. Kali ini Ibu mertua menyilangkan tangan ke depan dada.
Aiih sombong sekali gayanya. Lupa apa? Kalau mereka itu cuma menumpang di rumah ini. Mentang-mentang sekarang aku sudah tidak punya orang tua, Ibu seenaknya bicara. Dulu aja, sewaktu Abi dan Umi masih ada, mulut Ibu mertua sangat manis, mengalahkan manisnya madu.
“Bukan masalah uang, Laila. Tapi masalah keturunan! Kalian itu hampir tujuh tahun menikah tapi sampe sekarang, kamu belum juga hamil!”
“Lantas?” Aku memicingkan kedua mata. Menunggu jawaban yang sebenarnya jawabannya sudah dapat kutebak.
“Ibu pengen punya cucu!”
“Biasanya Ibu gak masalahin anak, kenapa sekarang tiba-tiba menginginkannya?” tanyaku menelisik.
“Sekarang itu waktunya! Ibu udah tua. Malu juga, tiap ikut arisan selalu ditanya, 'Jeng udah punya cucu belum?’ kan malu.” Halah ... alasan. Aku tahu betul watak Ibu. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal lebih dalam sifat dan tabiat Ibu.
“Kalau gitu, jangan ikut arisan lagi,” usulku sembari berlalu.
“Gak bisa gitu, Laila. Pokoknya Ibu pengen punya cucu! Percuma kamu cantik, kaya raya kalau kamu mandul!” Aku terkejut mendengar kata terakhir yang dilontarkan Ibu. Kata yang sangat menusuk jantungku. Aku membalikkan badan. Menatap Ibu dengan sorot mata tajam.
“Mandul? Ibu bilang aku mandul? Bukannya Ibu pernah lihat hasil tes kesuburan Laila? Kandungan Laila baik-baik saja.” Aku berkilah. Mengingatkan kembali kalau aku pernah periksa kandungan dan hasilnya aku bisa hamil walau aku tak tahu kapan waktunya.
“Gak nutup kemungkinan kalau dokter itu salah!” tuduh Ibu mertua membuka kipas yang selalu ada di tangannya. Aku menggeleng kepala.
Ya Allah sebenarnya ada apa? Kenapa ibu mertuaku jadi berubah ketus begini?
“Bisa jadi Bang Haris yang mandul,” kataku datar.
Memang selama ini selalu aku saja yang disuruh periksa. Dari mulai dicek alat reproduksi sampai keadaan rahim. Dan semuanya baik-baik saja, sehat. Sedangkan Bang Haris, dia selalu berkelit tiap kali aku ajak ke dokter.
“Jaga mulut kamu, Laila! Haris bilang dia udah periksa ke dokter. Dia subur kok,” bela Ibu mertua.
“Kapan? Abang kapan periksa ke dokter? Laila kok gak tau?”
“Bawel kamu! Seminggu yang lalu!” sahutnya tanpa menoleh ke arahku.
“Mana hasilnya?”
“Hilang. Ketinggalan di restoran waktu Abang ketemu klien.”
Aku mencebik. “Heleh alasan! Bilang aja emang pengen kawin lagi. Udahlah Laila capek! Mau istirahat!”
Kutinggalkan ibu dan anak itu. Tak peduli teriakan Ibu mertua yang memanggil namaku.
***
Sarapan pagi ini, membuatku kurang berselera. Bagaimana tidak? Kedua makhluk di hadapanku wajahnya sangat tidak enak dipandang. Cemberut semua.
“Ehm.” Aku berdehem memecah keheningan. Bang Haris melirik. Ibu mertua masih enggan menatapku. Aku menyimpan sisa roti bakar di atas piring.
“Apa ucapan Ibu semalam serius?” tanyaku menatap intens wajah wanita yang melahirkan Haris Prayoga. Ibu mendongak.
“Serius. Bahkan calonnya sudah a ....“ Ibu menggantung kalimat ketika tangan Bang Haris menyenggol lengan Ibu. Sekarang aku mengerti, pasti Bang Haris sudah selingkuh. Pantas saja, handphone-nya di-password segala. Tapi aku gak boleh gegabah, belum ada bukti kalau suamiku punya wanita lain.
“Calon sudah, apa? Calon apa?” Aku pura-pura tak mengerti. Ibu kelihatan grogi. Meneguk susu. Mungkin untuk menghalau rasa gugupannya.
“Pokoknya ibu pengen punya cucu! Kamu tau sendiri kan Laila. Haris itu anak ibu satu-satunya. Harus ada penerus keturunan kami,” tandas Ibu mengalihkan pertanyaanku.
Sudahlah, anggap saja benar, kalau Bang Haris punya simpanan. Masih pagi malas berdebat.
“Abang sendiri gimana? Dari semalam ibu terus yang bicara.”
“Omongan Ibu ada benarnya. Abang emang harus punya keturunan." Ucapan suamiku semakin membuat hati ini teriris sembilu.
“Apa harus dengan bercerai? Apa harus dengan poligami? Bukannya masih ada cara lain. Program bayi tabung misalnya,” kataku mengajukan pilihan lain.
“Buang-buang duit, Laila. Itu kan mahal banget. Mending kalau berhasil, kalau enggak? Sayang kan uangnya?”
Luar biasa matrenya ibu mertuaku. Lebih mengorbankan kehancuran rumah tangga anaknya dari pada kehilangan uang untuk usaha punya anak. Padahal dia tahu dari dulu, kalau aku paling tidak mau dipoligami. Apa pun alasannya.
“Abang maunya gimana? Kita cerai?”
“Abang gak mau cerai, tapi Abang pengen punya anak.”
“Ya udah ayo kita periksa bareng ke dokter,” ajakku dengan serius.
“Kamu gak percaya kalau Abang udah periksa ke dokter?”
“Enggak!”
“Ya sudah, terserah. Yang pasti Abang pengen punya anak!” tandasnya, lalu meneguk segelas air susu.
“Kita coba program bayi tabung. Biar biayanya aku tanggung semua.”
“Bayi tabung itu lama! Benar kata Ibu, mending kalau berhasil, kalau enggak?”
“Jalan satu-satunya Haris harus menikah lagi! Dalam agama pun boleh kan menikah lebih dari satu kali?” sela Ibu mertua.
Aku mendengus kesal. Ternyata memang benar. Bang Haris diam-diam sudah punya wanita lain. Ingin nikah lagi. Aku yakin, pasti di mata Ibu, calon istri Bang Haris wanita yang tajir dan kaya raya.
Aku melirik arloji, sudah pukul tujuh. Harus segera ke kantor, satu jam lagi ada meeting.
“Nanti malam kita bahas lagi. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
***
Sepanjang perjalanan ke kantor, aku masih memikirkan permintaan Bang Haris dan Ibunya. Aku sangat curiga, kalau mereka sebenarnya sudah punya wanita yang akan menggantikan posisiku sebagai istri Bang Haris. Kira-kira siapa wanita itu? Sehingga Ibu yang biasanya sangat baik dan manis di hadapanku berubah. Bahkan sebelumnya dia kerap kali berkata.
“Mungkin belum waktunya. Gak apa-apalah. Punya anak itu banyak biaya. Mending sekarang kalian cari uang sebanyak-banyaknya.”
Tapi sekarang? Seolah sangat menginginkan seorang anak.
Aku harus cari tahu penyebab sebenarnya. Apa benar Bang Haris punya wanita lain?
Tiba di ruang meeting, semua mata menatapku. Mungkin merasa aneh, kenapa kali ini aku telat. Biasanya datang lebih dulu atau tepat waktu. Semua ini gara-gara membahas omongan ibu mertua semalam. Aku mengatur napas, mengembuskan, lalu berdehem.
“Maaf saya terlambat tujuh menit. Silakan meeting-nya dimulai,” ucapku melirik arloji. Menyimpan tas, Kemudian duduk.
Seperti biasa, Siska mengawali pembahasan. Wanita seumuran denganku itu menceritakan tentang pertemuannya kemarin dengan salah satu pengusaha pabrik Mi Instan untuk mengiklankan produknya. Alhamdulillah, perusahaan itu mempercayakan produknya pada perusahaan Advertising kami.
Aku mendirikan perusahaan Advertising atau periklanan bekerja sama dengan Siska. Dia adalah sahabat karib sejak sekolah menengah dahulu. Sampai kuliah kami tetap bersama.
“Masalahnya kita belum punya pengganti Merry yang cuti melahirkan. Jadi, siapa yang akan gantiin Merry di bidang kreatif?” tanya Siska, bimbang.
“Kenapa gak buka lowongan kerja? Gimana sih kalian?” tanyaku kecewa. Tujuh karyawanku saling pandang.
“Sudah, Bu. Tiga hari yang lalu,” sahut Rano yang bekerja di bagian Riset Pemasaran.
“Sudah ada yang melamar?”
“Baru satu orang. Tapi baru diwisuda tahun ini. Belum ada pengalaman.”
“Ah, ribet. Cari yang sudah berpengalaman,” tolakku langsung. Kalau menerima karyawan yang belum berpengalaman, bakal menyita waktu lama. Khawatir mengecewakan Klien.
“Gak keburu, Laila,” jawab Siska dengan suara lemah. Dia memang aku larang memanggil dengan panggilan formal. Bahkan perusahaan ini pun dapat berdiri atas kerja sama dengannya. Hanya saja, aku dan kedua orang tuaku yang lebih banyak menanam saham.
“Klien minta dalam seminggu iklannya sudah bisa tayang. Jadi tiga hari lagi kita harus presentasi. Apalagi perusahaan itu udah ngasih uang di muka setengah dari harga yang disepakati,” lanjut Siska menyerahkan cek ke hadapanku. Aku mengambil cek tersebut dan melihat nominal tersebut.
“Astaghfirullah ....” Aku mendesah frustrasi. Menyandarkan kepala pada sandaran kursi yang aku duduki. Bukan tidak bersyukur, tapi aku takut mengecewakan klien. Apalagi bagian kreatifnya orang baru. Tapi kalau menunggu pelamar lainnya, bisa rusak reputasi perusahaan ini karena tidak profesional.
“Ya sudah, panggil saja pelamar itu. Besok aku sendiri yang mengujinya. Ada lagi yang mau disampaikan?” tanyaku memandang satu persatu mereka.
“Kayaknya udah selesai. Nanti meeting lagi pas bagian kreatifnya sudah ada.” Sahut Siska mewakili yang lain. Aku mengangguk, mengucapkan salam, kemudian keluar ruang meeting menuju ruang kerjaku.
“Laila!” seru Siska.
“Napa?” sahutku sembari membuka pintu. Siska mengekor saat aku masuk ruangan. Wanita itu duduk di kursi yang berseberangan dengan meja kerja.
Aku pun duduk, menyimpan tas di atas meja, kemudian menutup wajah. Pikiranku penat luar biasa. Kalau soal pekerjaan sudah biasa menghadapinya tapi kalau soal rumah tangga sangat menyita pikiran.
Selama hampir tujuh tahun berumah tangga, jarang sekali dilanda masalah apalagi masalah yang rumit. Meskipun rumah tangga sudah tidak terlalu harmonis karena kesibukan masing-masing tapi aku dan Bang Haris tetap menjaga komunikasi. Setidaknya saat kami sedang di rumah.
“Lu lagi ada masalah?” Siska bertanya, seolah tahu apa yang sedang kualami. Aku menghela napas berat. Menyandarkan punggung di kursi.
“Soal ibunya Bang Haris,” jawabku malas.
“Kenapa lagi dia? Minta dibeliin perhiasan? Mobil baru?” cecar Siska yang sudah tahu watak ibu mertuaku yang sangat matre.
Aku menggeleng.
“Kalau soal itu gue gak sepaneng kayak sekarang.”
“Udahlah ... jangan lu manjain mertua matre kayak gitu. Ngelunjak tau! Lama-lama dia bakal minta lu buat dipoligami.” Aku melebarkan mata mendengar ucapan Siska.
Tahu dari mana dia? Aku kan belum cerita. Kalau Bang Haris atau ibunya yang cerita gak mungkin. Karena dua manusia itu dari dulu tidak suka aku dekat-dekat dengan Siska. Mereka bilang, takut ketularan tomboi.
Siska memang agak tomboi. Selama kenal dengannya belum pernah satu kali pun melihat dia mengenakan rok. Mungkin Cuma sewaktu wisuda saja.
“Lu tau dari mana?” tanyaku penasaran.
“Tau apaan?”
“Kalau ibunya Bang Haris nyuruh gue milih dipoligami atau dicerai.” Siska terlonjak. Dia hampir terjatuh dari tempat duduk.
“Hah? Serius nenek sihir bilang gitu?” tanya Siska. Bola matanya membulat seketika.
“Jadi bener, tadi lu cuma nebak?”
“Hooh! Gimana ceritanya dia berani bilang gitu? Halah gak tau diri amat sih? Udah numpang, dikasih makan, laki dikasih kerjaan, apa-apa lu turutin. Sekarang nyuruh lu milih dicerai apa dipoligami! Sarap dua orang itu!! Makanya Laila ... dari dulu gue sering bilang ke lu, jangan terlalu manjain dua manusia itu!” omel Siska panjang lebar. Napasnya memburu. Matanya melirik ke arahku. Lalu menumpu kedua tangan di atas meja.
“Sorry gue emosi. Sekarang lu cerita dah dari awal. Gedein dulu tuh AC, mendadak panas nih hati gue. Rasanya pengen banget makan orang pake sambel geprek!” pungkasnya.
“Ngaco, lu!” Kuraih remote AC, lalu menuruti permintaan sahabatku, Siska.
“Udah, segitu. Sekarang lu mulai cerita dah!”
“Semalam pas gue baru balik kerja, tuh mertua tiba-tiba bilang, ‘kau pilih dicerai atau dipoligami’, edan kan?”
“Idih amit-amit jabang orok. Ya Tuhan ... tolong jauhkan hamba dari mertua macam mertuanya Laila. Aamiin. Terus-terus?”
Aku pun menceritakan semua yang terjadi malam itu hingga kejadian tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.
“Dasar parasit! Dugaan lu kemungkinan besar bener! Tuh nenek sihir pasti udah nemuin cewek yang lebih tajir dari lu. Soal anak, itu mah alesan mereka doang.” Siska menanggapi dengan yakin. Sebelah kakinya ia naikkan ke atas kursi.
“Turunin kaki. Cewek gak pantes kayak gitu!”
“Elah ... yang beginian lu urusin. Lanjut dah ceritanya.”
Aku memutar bola mata malas.
“Masalahnya gue belum tau siapa cewek itu.”
“Gampang! Kita punya anak buah banyak. Ngapain pusing? Tinggal suruh, beres!”
Aku menimang perkataan Siska. “Gak segampang itu kali, Sis!”
Siska menghadapku intens. “Terus lu mau pilih yang mana? Dicerai? Apa dipoligami?”
“Ngapain lu nanya? Jelaslah gue pilih cerai!”
“Bagus. Biar nyaho tuh bekas laki ama bekas mertua lu! Gembel-gembel dah! Hidup cuma numpang aja banyak tingkah!” gerutu Siska.
“Tapi, Sis ... gue ngeri juga kalau sampe jadi janda.” Mataku menerawang. Membayangkan ada orang yang bilang.
“Janda Laila. Oh, Ya Allah ...,” cetusku bergidik. Menutup wajah dengan kedua tangan.
“Mending dibilang Janda Laila. Dari pada lu diomongin, Ya Allah ... si Laila jadi istri tua.” Siska mulai mengejek. Kutimpuk ia dengan pulpen. Sue banget punya teman.
“Tau ah. Gue pusing! Lu keluar deh! Keluar!” Aku mengusir Siska, mengibas-ngibaskan tangan agar ia segera keluar dari ruanganku.
“Iya-iya! Cuma saran gue sebagai sahabat, jangan sampe lu mau dipoligami! Mending lu tendang dua parasit itu!” Siska sudah keluar ruangan. Pikiranku kembali membayangkan, bagaimana nasibku setelah menyandang status Janda Laila?
Rasanya baru kali ini malas pulang rumah. Ibu pasti akan membahas hal yang sama. Apalagi tadi pagi aku sudah bilang, membahasnya nanti malam selepas pulang kerja.
Kuhembuskan napas. Membuka ponsel. Barang kali Bang Haris masih memberiku perhatian seperti dua minggu lalu.
Astaghfirullah ... aku baru sadar, ternyata dia sudah jarang mengirim pesan whatsapp atau menelepon. Banyaknya pekerjaan membuatku lupa urusan pribadi.
Kurapikan berkas-berkas, memasukkan ponsel ke dalam tas, kemudian keluar ruangan.
“Bu Laila!” Suara laki-laki memanggil. Aku menoleh. Ternyata Adam, karyawan yang bekerja di bagian Eksekusi Iklan.
“Iya, ada apa?”
“Cuma mau bilang, gambar untuk iklan yang tadi pagi kita bahas sudah ada.”
“Lho kok bisa? Bukannya harus nunggu kreatifnya dulu?”
“Harusnya emang gitu. Tapi kan Merry lagi cuti, udah gitu calon penggantinya juga belum berpengalaman. Jadi ya ... nanti bilamana udah ada, orang kreatif itu harus ikuti gambar yang sudah saya buat.”
Aku masih belum mengerti maksud Adam. Kenapa mendahului tugas kreatif? Ah sudahlah, terserah saja. Yang penting hasilnya membuat klien suka. Kepalaku sudah pusing dengan masalah Bang Haris dan ibunya.
“Kamu atur aja deh. Saya pulang duluan ya?”
“Iya, Bu.”
***
Benar saja, saat aku keluar mobil. Ibu mertua duduk di kursi depan rumah. Dia seolah sedang menunggu kepulanganku.
Usai menguruk salam, Ibu mertua mengulurkan tangannya untuk aku cium. Aiiih ... sebenarnya aku sudah malas. Tapi ya sudahlah, saat ini statusnya masih ibu mertua. Yang semestinya harus aku hormati.
“Pulangnya malam amat?” tanya Ibu mertua sambil tangannya membuka kipas lepit yang selalu dibawa.
“Banyak kerjaan,” sahutku singkat, bergegas masuk ke dalam.
“Laila, tunggu!” panggil ibunya Bang Haris. Aku menghentikan langkah tanpa menoleh.
“Bagaimana?” tanya Ibu mertua. Kini tubuhnya sudah berada di hadapanku.
“Laila mau mandi dulu, mau salat isya dulu, mau makan dulu. Nanti ya Bu bahasnya,” pintaku sambil melanjutkan langkah.
“Kamu bilang kita bahas habis kamu pulang kerja? Sekarang malah banyak alasan. Dasar mantu tukang bohong!!”
Degh!
Dia bilang aku tukang bohong? Enak saja. Mereka berdua yang selalu membohongiku. Bang Haris dan Ibunya pikir mungkin aku gak tahu tentang ia yang selalu menggelapkan beberapa persen dari hasil perkebunan teh warisan Abi dan Umi.
Aku selalu diajarkan untuk tidak berbohong sepahit apa pun kenyataan itu. Dan sekarang, seenak jidat Ibu mertua melabeliku tukang bohong!
Aku membalikkan badan. Menghampiri ibu mertua yang berkacak pinggang. Kedua mataku mulai terasa panas menahan amarah.
Aku dan ibu mertua saling berhadapan. Kutelisik kedua netranya, apa masih ada kelembutan dan kasih sayang di sana, dari seorang mertua terhadap menantunya? Nihil! Yang terlihat hanya tatapan keangkuhan dan sok berkuasa.
“Kalau Ibu gak sabar ....” Aku menggantung kalimat. Menelan saliva, menghela napas, kemudian
“Silakan keluar!” Tubuh Ibu mertua bergetar, mundur beberapa langkah. Tangan kanannya spontan memegang dada.
“Menantu lancang! Percuma kau punya wajah cantik, pake jilbab, suka salat, kalau sama orang tua gak ada sopan santun! Pantas saja Tuhan menghukummu dengan tidak memberikan anak!”
Astaghfirullah ... Ya Allah ampuni kekhilafanku. Aku merunduk lesu. Ya aku emang salah. Sudah terpancing emosi.
“Ada apa ini ribut-ribut?” Bang Haris menghampiri kami.
“Itu si Laila. Sekarang sudah berani ngebentak Ibu. Dia mau ngusir Ibu Haris.” Ibu mertua dengan lancar mengadu pada anaknya. Bang Haris langsung memeluk Ibu.
“Apa-apan kamu, Laila? Berani kurang ajar sama Ibu mertua.” Aku tak menjawab. Memilih masuk kamar, mandi, salat, lalu makan. Percuma meladeni mereka. Yang ada, aku bisa lepas kendali lagi.
Nanti saja baru bicaranya. Kalau memang mau mereka Bang Haris menikah lagi, silakan. Aku tidak akan mencegah atau memberi pilihan lain. Yang terpenting ceraikan aku lebih dulu.
***
Usai makan malam sendiri, aku berencana membicarakan keputusanku pada Ibu dan Bang Haris.
“Non Laila?” panggil Bi Inah. Asisten rumah tangga keluarga sejak aku masih kecil.
“Iya, Bi?”
“Boleh Bibi bicara sebentar?” tanya Bi Inah sambil kepalanya melongok ke ruang televisi.
“Boleh.”
“Tapi ... kalau Non gak keberatan, kita bicaranya di kamar Bibi aja. Maaf Non.”
Aku mengerti ke mana arah pembicaraan Bi Inah. Kayaknya apa yang akan Bi Inah bicarakan itu soal Bang Haris dan ibunya.
Aku mengangguk. “Laila mau bicara di kamar Bibi. Ayok!” ajakku berjalan mendahului Bi Inah.
“Kunci aja pintunya, Bi!” titahku. Aku yakin, yang dibicarakan Bi Inah nanti adalah suatu hal yang penting.
Aku duduk di tepian ranjang. Begitu pun dengan Bi Inah.
“Non maaf ... bukan maksud Bibi ikut campur, atau mengadu domba.” Aku tersenyum mendengar penuturannya.
“Bicara saja, Bi. Gak usah sungkan. Insyaallah apa yang Bibi omongin nanti, Laila percaya.”
Bi Inah membetulkan tempat duduknya. Kentara sekali dia begitu gugup.
“Non, seminggu lalu ... Bibi mendengar obrolan nyonya besar sama Tuan Haris di kamar nyonya besar. Nyonya besar bilang, dia punya teman arisan seorang wanita cantik keturunan Korea. Katanya ... uangnya banyak, perhiasannya juga banyak. Wanita ... sos-sos- ....” Bi Inah berpikir sejenak.
“Sosialita?” tanyaku.
“Nah itu Non.”
“Terus, Bi?”
“Nyonya besar bilang, dia pengen ngenalin Tuan Haris sama wanita itu. Malahan ... nyonya besar pengen Tuan Haris menikah sama wanita itu.”
Ternyata benar dugaanku. Ini bukan masalah anak. Perkara anak Cuma alasan mereka saja.
“Terus, Bi? Eh sebentar, kok Bibi bisa denger obrolan mereka?” tanyaku penasaran. Sebab aku tahu, Ibu mertua paling tidak mau kalau sedang ngobrol ada Bi Inah di dekatnya. Dia bilang, “Bau bawang.”
“Waktu itu Nyonya nyuruh Bibi bersihin toilet yang di kamarnya. Nyonya besar itu kan kalau bicara keras suaranya. Jadi kedengeran.”
“Oh gitu. Terus mereka ngomong apalagi, Bi?”
“Sebenarnya ... nyonya gak mau Tuan Haris sama Non Laila cerai. Tuan Haris suruh mempertahankan rumah tangga sama Non Laila, tapi harus juga nikahin wanita itu. Biar dapat uang dari sana-sini.”
Astaghfirullah ... menghadapi mertuaku itu memang harus banyak-banyak istigfar. Matrenya nauzubillah.
“Tapi kenapa mereka nyuruh Laila pilih dicerai atau dipoligami?”
“Nah itu Non ... kata Nyonya besar lagi, itu cuma ancaman. Karena Nyonya pikir, Non Laila gak bakal mau kehilangan Tuan Haris. Soalnya Non Laila udah gak punya orang tua. Mereka pikir, Non Laila sangat butuh kehadiran mereka.”
Aku menutup mulut menahan tawa. Ada-ada aja mereka!
“Laila rasa ya, Bi. Ibu dan anak itu kegeeran. Kepedean. Emangnya mereka siapa? Laila gak selemah itu. Lagian kan, ada Bibi yang selalu temenin Laila.”
“Iya Non, alhamdulillah ... Gusti Allah masih ngasih Bibi umur panjang. Moga saja ... Bibi bisa lihat anak Non Laila kelak.”
“Aamiin. Terus, masih ada lagi gak yang mereka omongin?”
“Ada Non. Menurut Bibi ini sangat penting.”
“Apaan, Bi?”
“Apa Non Laila pernah tanda tangan di map yang Tuan Haris sodorkan sebulan lalu?” Aku mengingat-ingat apa yang Bi Inah sampaikan.
Seingatku, waktu itu aku buru-buru pergi buat nemuin klien. Bang Haris menyuruh aku tanda tangan di atas kertas yang belum sempat aku baca. Katanya, itu persetujuan kontrak panen setahun hasil kebun teh pada pengusaha teh kemasan. Dan harus ditanda tangani pagi itu juga. Sebab siangnya Bang Haris harus ke Bogor.
“Kayaknya pernah. Kenapa emang, Bi?”
Wajah Bi Inah terlihat lesu. Pundaknya melorot ke bawah.
“Kata Nyonya Besar ... itu surat pemindahan sertifikat perkebunan di Bogor menjadi atas nama Tuan Haris.”
“Apa?”