Sementara Arjuna yang masih mengatur nafasnya karena kelelahan menatap langit-langit kamar ketika ujung telunjuk Shinta kekasihnya bermain-main di atas dadanya yang berkeringat.
"Aku pingin buka usaha apa gitu.... " Ucap Shinta.
"Apa?" Arjuna segera mengalihkan tatapannya pada wajah kelewat cantik yang tampak sedang berpikir itu.
"Mmm aku pingin usaha butik sih...." Jawab Shinta.
"Butik?" Arjuna kembali menatap langit-langit kamar. "Di mana?" Tanya Arjuna
"Di sini aja." Jawab Shinta.
Seketika Arjuna mengernyitkan dahi. "Kenapa di sini? Kenapa nggak di Jakarta aja?"
"Kayaknya aku betah di sini. Aku pingin menetap deh di Surabaya."
"Kenapa?" Arjuna menatap heran.
"Aku suka di sini." Jawab Shinta dengan yakin
"Jadi kamu... nggak pingin balik ke Jakarta?"tanya Arjuna
"Aku pingin menjauh dari ortu aku.... mereka toxic. Mendingan aku di sini dan mulai hidup di sini. Aku pingin buka usaha, buat bekal resign. Aku pikir usaha butik oke juga." Jawab Shinta.
"Kenapa kepikiran resign? Bukannya kamu suka kerja?" Tatapan Arjuna menyusuri wajah dan pundak putih Shinta.
Mereka masih berada di bawah selimut yang sama setelah pergumulan barusan.
Sejak makan malam tadi mereka hanya membicarakan hal-hal biasa.
Arjuna sedikit terkejut ketika Shinta tiba-tiba mengutarakan wacana resign.
"Aku udah males kalo dipindah lagi. Kamu tahu kan posisi manajer di perusahaan aku itu cepet banget mutasinya? Aku denger, di luar Jawa lagi butuh banyak posisi setingkat manajer. Ya aku khawatir aja, gimana kalo aku dipindah jauh sampe ke luar Jawa?" Jawab Shinta.
"Emang udah ada selentingan kalo kamu bakal dipindah lagi?"
"Enggak sih. Tapi makin lama aku juga ngerasa tekanan kerja aku makin berat gitu. Jadi aku mulai mikir buat buka usaha sampingan."jawab Shinta.
"Nikah sama aku." Tanya Arjuna sambil menatap lurus kedua mata Shinta penuh harap.
"Junaaaaaa... " Senyuman Shinta tertahan di sudut bibir. "Nggak semua masalah itu solusinya nikah.... " Jawab Shinta.
"Kenapa nggak? Kamu udah nggak kuat sama kerjaan kamu, pingin hidup yang nyaman. Aku bisa kasih itu semua. Kenapa kita nggak nikah aja Shinta? Aku bukan papa kamu, aku udah buktiin itu sepuluh tahun..... Aku nungguin kamu. Sepuluh tahun lho.. "
"Nikah and what? Aku jadi perempuan yang ngerjain kerjaan rumah tangga gitu? Cuma itu? Atau aku cuma jadi pelengkap kehidupan kamu?" Jawab Shinta.
"Aku nggak bilang gitu." Arjuna menggeleng. "Aku bakal dukung kamu jadi apa aja yang kamu mau." Jawab Arjuna.
"Bullshit. Laki-laki di mana-mana sama. Kalo aku nikah sama kamu, kamu cuma mau aku layani. Prioritas aku bakalan...." Ucapan Shinta terhenti seiring dengan tatapan Arjuna yang tengah memperhatikan gerak bibir Shinta yang seketika terhenti, bagai menyadari sesuatu.
".....aku?" sambung Arjuna
Hening seketika.
"Jadi kamu nggak mau prioritasin aku? Terus.... kamu pikir aku pindah ke sini demi apa?" Arjuna mulai kesal
"Juna, aku belum siap... "
"Oke. Sukses buat usaha kamu." Arjuna dengan kesal menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan bergegas menuruni ranjang.
"Juna... "
Kirana menatapnya yang berjalan menuju toilet. Ares memasang tampang acuh dan menutup pintu. Melepas kondom yang masih terpasang dan membersihkan dirinya di bawah pancuran air shower.
Brengsek...Ia mengumpat di dalam hati. Bersama Shinta topik pernikahan tidak pernah menemukan ujungnya.
Arjuna tidak tahu, mengapa mereka tetap bertahan. Lebih tepatnya, mengapa ia memilih tetap bertahan. Ia pikir bercinta sebelum pulang ke rumah bisa membuat tubuhnya lebih ringan.
Nyatanya, malah semakin menambah beban pikiran. Seketika batinnya lelah. Jadi untuk apa ia berjuang sejauh ini?
Berkali-kali ia sudah mencoba untuk berhenti. Setiap kali hubungan mereka mengambang tanpa status, ia kembali mencoba membuka hatinya untuk peluang yang baru.
Namun tiap kali ia mulai menemukan wanita baru, Shinta akan kembali mendekat dan membuatnya goyah. Terang saja si wanita baru tidak akan pernah ada apa-apanya dibanding Kirana yang sudah terlanjur kuat di hatinya. Ia bahkan tidak bisa menyediakan toleransi bagi sekecil-kecilnya kekurangan, jika wanita itu bukan Shinta.
Berulang kali Arjuna mencoba, tetapi Shinta yang datang kembali membuat pertahanannya jebol berkali-kali. Hatinya tidak kuat tega mengabaikan Shinta, meski wanita itu sungguh tega berpaling tiap kali bosan. Lebih tepatnya, ia tidak tega pada hatinya sendiri yang selalu memuja Shinta.
Masalahnya selalu sama. Mereka berpisah karena Shinta yang bosan dengan hubungan mereka dan sambil menunggu Shinta kembali ia akan mencoba peruntungan hati dengan wanita lainnya.
Mungkin saja ada pesona lain yang menyeret seluruh perasaannya dan membuatnya lupa akan rasa cinta terhadap Shinta yang begitu menyiksa.
Akan tetapi, tidak ada bibir yang semanis bibir Shinta. Tiap kali ia menyentuh bibir wanita lain, hatinya mencari makna yang sama dan ia tidak menemukan yang ia cari. Hanya ada pagutan tawar yang membuat Arjuna tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi. Ia hanya ingin terseret dalam perasaan cinta, tapi sejauh ini belum ada wanita yang mampu melakukannya selain Shinta.
Senyuman malu dan obrolan canggung, tidak cukup membuat jantungnya berdetak gentar. Semua wanita itu terbaca begitu menginginkannya.
Ketertarikannya dengan cepat menguap, tanpa sebab yang jelas. Harus berapa lama lagi ia menunggu Shinta? Ataukah ia harus benar-benar berhenti sekarang?
Nggak, sedikit lagi. Arjun memutuskan tahan banting. Toh sudah sepuluh tahun. Rasanya juga terlambat untuk menyerah setelah sekian lama penantian. Lagi pula, selama ini cintanya tidak pernah hilang. Memang tidak menggebu-gebu seperti tahun-tahun awal pacaran, tetapi sungguh cinta itu masih bertahan kuat di hatinya.
Arjuna membuka pintu toilet. Ia melihat Shinta sudah berdiri dengan handuk kecil di tangan.
"Berapa kali aku bilang, jangan lupa handuknya." Shinta mengusap wajahnya dengan handuk di tangan. Lembut.
Tatapan Arjun terjerat pada wajah sendu Shinta.
Hanya wajah itu, yang ia inginkan seumur hidupnya. Tapi....
"Aku pulang." Shinta berpaling sambil menahan perih di kedua matanya. Dengan lesu ia mengambil alih handuk untuk mengeringkan tubuhnya, kemudian segera mengenakan celana dan kemejanya.
"Arjuna... " Shinta menyentuh lembut punggungnya.
"Makasih." Ucap Arjuna sambil berbalik dan mengecup kening Shinta saat hatinya mendadak cengeng.
Hanya perempuan ini yang bisa membuat air matanya menetes hingga kering.
"Good night." Tanpa menatap lagi ia membuka pintu kamar dan berjalan gontai sambil menyahut kunci mobil di atas bufet.
Bagimu aku apa? Arjuna hanya menyimpan pertanyaan yang sudah sering ia lontarkan. Akan tetapi, Kirana tidak pernah memberikan jawaban yang paling ia harapkan. Semua makna dirinya terdengar sia-sia, ketika pada kenyataannya kepastian itu tidak pernah ia dapatkan.
Malam itu setibanya di rumah.
Arjuna duduk sendiri di sofa ruang tamunya. Menyalakan rokok dan menatap hening keadaan rumah dinas yang sunyi senyap.
Sungguh kehidupan yang sunyi dan sendiri. Arjuna terpekur menatap meja.
Coba kalau Shinta ada di sini, ide itu hanya sebatas angan yang tidak ingin Arjuna wujudkan.
Meski hidup sendiri, ia tidak pernah mengizinkan Shinta menginap di rumah yang disediakan oleh kantornya semacam rumah dinas atau inventaris kantor lah.
❤️❤️
Raisa Dewi Amelia terhenyak saat mendengar ucapan Ricky suaminya.
Tak ada angin! Tak ada hujan! Ucapan Ricky, bak petir nan menggelegar di siang bolong. Menghancurkan semua persendian dan tubuh Raisa.
Membuat Raisa yang selalu berpenampilan sederhana itu luruh di kursi meja makan. Tubuhnya bergetar. Seketika, gelas yang ada di genggaman pun membentur lantai. Hancur! Sehancur hatinya yang berdarah kesakitan.
"Apa salah Aku Mas?" tanya Raisa pelan dengan getar suara yang tak dapat ia sembunyikan. Meski sakit, ia masih berusaha bertutur kata baik pada lelaki yang telah menjadikanya istri sejak enam bulan lalu.
Ricky tergagap! Ia bingung, mesti bagaimana menjawab pertanyaan perempuan yang telah dihancurkan hatinya.
"Aku janji Mas, aku janji akan berusaha memperbaiki diri dan belajar lebih banyak lagi untuk memantaskan diri mendampingi Mas Ricky. Tolong kasih tahu! Apa yang harus aku lakukan, agar Mas tak menjatuhkan talak padaku!"
Raisa yang sempoyongan, bangkit dari duduk dan menatap suaminya dengan mata yang mengembun.
Sementara, Ricky yang saat itu mengenakan kemeja putih bergaris biru yang digulung sebatas lengan itu memalingkan wajah. Ada rasa tak tega melihat telaga yang selalu bersinar itu terlihat berembun akibat ulahnya.
"Mas!" Ucap Raisa pilu dengan kedua tangan menggenggam lengan Ricky.
Ricky yang terperanjat, sontak menyentakkan tangan Raisa seolah jijik, Membuat perempuan itu semakin hancur dengan perlakuan suaminya itu
"Aku tak mencintaimu!" Jawab Ricky singkat.
Kembali tubuh Raisa meluruh. Kali ini, lantai yang menjadi tempatnya berpijak seakan berguncang. Membuat tubuhnya tersungkur dan bersimpuh di sana.
"Bukankah Mas pernah berjanji untuk belajar mencintai Aku?" Dengan suara serak menahan tangis, Raisa mengajukan tanya. Sementara itu, ketidakberdayaannya membuat ia tak mampu untuk sekedar mengangkat kepala.
"Maaf! Aku tak bisa memenuhi janji!" ucap Ricky seakan apapun yang pernah diucapkannya itu adalah hal biasa yang boleh dilupakan.
"Kenapa tidak mencoba? Bukankah kita baru melangkah? Aku akan sabar menunggu hingga cinta itu datang!" Ujar Raisa masih mencoba mempertahankan pernikahan yang baru seumur jagung itu.
"Maaf! Aku tak bisa!" Jawab Ricky tak peduli dengan perasaan istri nya yang sangat terluka.
"Kenapa Mas..?" Tanya Raisa
"Lidya telah kembali!"jawab Ricky
"Lidya...?" Tanya Raisa dengan suara bergetar.
"Ya! Dan kami akan segera menjalankan rencana yang tertunda." Jawab Ricky.
"Tertunda? Bukankah Mbak Lidya sendiri yang telah membatalkannya?"
Pertanyaan tersebut membuat Ricky terdiam. Ia pun tak dapat mengingkari ucapan Rania yang tepat sasaran.
Ia sadar, gadis yang enam bulan lalu bekerja sebagai sekertaris Lidya itu mengetahui persis seluk beluk penyebab kegagalan pernikahan mereka.
Tapi, bukankah Lidya telah kembali dan menyadari kesalahannya? Gadis itu pun sudah meminta maaf dan bersedia melanjutkan rencana mereka. Saat itu, ia yang tengah patah hati, tidak sabar hingga memilih gadis lain untuk dinikahinya.
Apa salah jika ia memilih kembali pada Lidya? Bukankah gadis cantik itu yang selalu ia impikan untuk menjadi pendamping hidupnya? Bahkan, sejak zaman putih abu-abu. Dimana, bunga yang selalu menguarkan wangi itu selalu menjadi incaran para kumbang. Termasuk dirinya! Apakah ia akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut? Saat sebentar lagi, kemenangan berada di depan mata.
Ricky begitu senang saat Lidya akhirnya kembali menghubunginya.
"Silahkan Mas menikah dengan Mbak Lidya ! Aku rela! Meski harus di madu." Ujar Raisa benar benar melupakan sakit hatinya demi mempertahankan rumah tangganya.
"Sepertinya, itu bukan pilihan yang tepat untuk kami, karena Lidya tidak mau dikatakan pelakor. Karena, memang hak dialah berada di posisimu sekarang." Ujar Ricky menolak dengan tegas tawaran dari Raisa.
Raisa mengangkat wajah! Tanpa belas kasih, lelaki yang enam bulan ini selalu bersikap manis, ternyata tak lebih dari sandiwara. Dengan kejam, ia menggores luka di sudut hatinya.
"Jangan ceraikan Aku Mas..!" Raisa yang masih berusia delapan belas tahun itu menghiba. Namun, sepertinya sia-sia! Dengan angkuhnya Ricky menggelengkan kepala.
"Maaf! Aku tidak bisa!" Jawab Ricky.
Dengan manik yang bersimbah air mata, Raisa menatap lekat lelaki yang telah ia serahkan seluruh hati dan cintanya. Lelaki yang ia harapkan untuk menua bersama. Bak pungguk merindukan bulan, sepertinya harapan Raisa yang tinggi telah terhempas. Menyadari semua, ia pun menunduk dalam.
Cukup lama Raisa tersedu. Setelah menguasai hati dan emosinya, Raisa menghapus jejak tangis. Dengan pipi yang yang sudah basah airmata serta puncak hidung dan mata memerah Raisa mengangkat kepala. Mensejajarkan pandangan dengan lelaki yang sebentar lagi meninggalkannya.
"Apakah Mas sudah yakin dengan keputusan ini?" Dengan tenang dan tanpa air mata, Raisa berusaha berbicara mengajukan tanya.
"Ya!" Jawab Ricky dengan yakin.
"Tak inginkah Mas berpikir kembali?"
"Tidak!" ucap Ricky yakin.
"Aku sudah memutuskan semua! Segera ku ceraikan dan mengembalikan mu pada Abi dan Umi kamu ," lanjutnya tanpa memikirkan perasaan Raisa yang hancur.
"Apakah Mas tidak akan berubah pikiran? Dan menyesalinya nanti? Bagiamana kalau aku hamil...?" tanya Raisa memastikan keputusan Ricky.
"Ini yang aku inginkan! Menikah dengan perempuan yang dicintai. Dipastikan, aku takkan berubah dan menyesali semua. Dan "
"Yakin?"
"Ya!"
"Baik! Saat ini juga, silahkan Mas Ricky talak aku, aku siap!"
Ricky seketika tergagap! Permintaan istrinya itu diluar praduganya. Ia tak menyangka, Raisa akan secepat itu berubah pikiran dalam menanggapi perceraian mereka.
"Baiklah, jika itu yang kamu mau. Jangan takut! Meski hanya enam bulan menikah, hakmu atas harta gono gini akan aku berikan sepenuhnya. Termasuk rumah beserta isinya. Pun dengan kendaraan dan sejumlah uang akan aku transfer. Tentunya, uang sebanyak itu tidak akan membuat hidupmu melarat hingga berjumpa dengan lelaki yang bersedia menerima dan menikahi mu yang berstatus janda. Kamu juga tidak akan putus kuliah"
Mendengar ucapan Ricky, mata Raisa kembali mengembun. Berusaha menyembunyikan kepedihan, ia pun berpaling.
Ricky , bukan tidak tahu kepedihan seperti apa yang telah dialami oleh Raisa.
Namun, cintanya tidak bisa dipaksakan. Hidup bersama Lidya adalah impiannya. Jadi, tak ada salahnya mengorbankan perasaan Raisa. Bukankah ia juga telah memberikan kompensasi yang banyak atas kegagalan pernikahan mereka?
"Raisa Mahira binti Bapak Rahman, saat ini juga kau bukan lagi istriku. Aku menalak dan menceraikan serta menjatuhkan talak untuk memutuskan ikatan pernikahan kita." Ucap Ricky.
Meski Raisa mencoba tegar. Namun, kata-kata tegas Ricky bagai serangan typon itu telah mengguncang tubuhnya. Ia oleng! Berjalan tertatih Raisa menyeret langkah. Seakan enggan tersentuh, ia pun menepis kasar tangan Ricky yang hendak membimbingnya.
❤️❤️❤️
"Mas !" Tepukan kuat dan keras di pundak menyentak Ricky dari lamunan. Ia yang terhanyut bayang-bayang masa lalu, terperanjat dan menyeret paksa kesadarannya.
"Mas Ricky!" Kembali terdengar teguran dari perempuan berpakaian yang menunjukkan betapa indah tubuhnya dengan kulit putih yang lalu duduk di sebelahnya.
"Hmm!" Ricky berusaha menyembunyikan kegundahan hati, Ricky menunduk. Mengalihkan pandangan dari sosok yang menariknya ke peristiwa hampir lima tahun silam.
Padangan Ricky yang awalnya tertuju pada. Seorang wanita berhijab dengan sepasang anak duduk di meja tak jauh dari tempat duduknya.
"Oh, kamu melihat mantan pembantuku..! Raisa anjing.." Mendengar nama mantan istrinya itu terucap dari bibir Lidya , sontak Ricky mengangkat wajah.
Ia tak menyangka, perempuan yang sebentar lagi akan menjadi mantannya itu mengenali sosok Raisa yang tengah duduk bersama dua bocah.
"Ternyata, semua gara-gara perempuan kampungan itu!" Dengan beringas, Lidya menatap geram pada Raisa yang tampak asik melayani sepasang balita duduk bersamanya.
"Lihat saja! Apa yang bisa aku lakukan pada perempuan murahan itu!" ancam Lidya seraya bangkit dan melangkah menuju meja mereka.
Ricky segera menarik lengan Lidya,
" Bukan karena dia aku akan menceraikan mu tapi karena kelakuanmu."
❤️❤️❤️
Samuel Tirtha pria 41 tahun berwajah tampan putra konglomerat itu menampakkan raut putus asa, menggeleng kecil sebelum membuang asap rokoknya. Saat ini ia sedang bertemu dengan Fredi , salah satu sahabat baiknya yang bekerja di bank sebelah dan kebetulan baru seminggu dimutasi ke Surabaya sebagai Area Manager. Mereka berdua sedang duduk di smoking area kedai kopi yang berada di salah satu mall.
"Sam, mau sampe kapan lo nungguin Lidya jadi janda? Sepuluh tahun Bro, sampe anak gue mau tiga!" Fredi
mengacungkan ketiga jemarinya dengan senyuman tertahan sebelum menggulung ujung kemeja slim fit-nya hingga mendekati siku.
"Apa lo nunggu anak gue empat?" Fredi lalu memantik api dan membuang asap rokoknya. "Bucin boleh, bulol jangan....." Ujar Fredi pada sahabat nya itu.
"Gue tahu gue bego...." Jawab Samuel kembali menggeleng kecil. Sebelah tangannya yang bebas memangku kening. "Tapi cuma sama dia gue bisa ngerasa kayak gini. Pokoknya gue harus dapetin dia. Gue udah invest banyak waktu, uang, tenaga..... masa gue nggak dapetin dia? Gue udah effort abis-abisan. Gue sampe digosipin gay bertahun-tahun, gue terpaksa nggak peduli." Jawab Samuel menyesap frustasi rokoknya. Tentu saja ia tahu mengenai gosip itu.
"She's just playing games. Kalian pacaran putus, nyambung, putus, nyambung, putus lagi.... gitu terus. Sampai akhirnya dia nikah sama pengusaha batubara. Mau sampe kapan lo putus nyambung kek gini?" Ujar Fredi mencoba mengerutkan sahabatnya itu.
"Lo tahu gimana perjuangan gue sama dia..." Jawab Samuel.
"Perjuangan apa? Jadi selingkuhan istri orang?" Ledek Fredi sambil tersenyum menatap wajah Samuel.
"Ck." Samuel mendecih kecil. "Harus gue bilang berapa kali, waktu itu kita cuma temenan deket...."
"Waktu itu dia udah punya pacar," tukas Fredi. "Selama setahun lo rela nunggu dia putus sama pacarnya. Mau lo bilang bukan selingkuhan dia, tapi kalian deket waktu dia belum putus...."
Samuel membuang napas kasar.
"Terus itu namanya apa kalo bukan selingkuhan?" Fredi sengaja memasang raut sangsi.
"Ya karena emang gue bukan selingkuhan. Kita nggak ngapa-ngapain kok cuma temen curhat," kilah Samuel sambil membuang abu rokoknya pada asbak.
Fredi tersenyum kecil sambil mengernyitkan dahi. "Tapi kayaknya lo udah tahu sifat Si Lidya itu. Lo bisa terima dia punya banyak temen cowok. I mean.... lo bisa santai gitu dengan track record dia? Kalo gue sih, nggak terima ya cewek gue deket sama cowok lain, selain gue." Ujar Fredi mengemukakan keberatan nya.
"Lidya itu emang friendly...." Bela Samuel kekeh dengan pembelaannya.
"Lo nggak usah ngebela dia. Iya gue tahu dia friendly, temen cowok dia banyak. Yakin dia cuma friendly? Se-friendly itu sampe.... nggak ada batasan? Kalo gue nggak mau sih cewek gue akrab sama cowok lain. Gue seposesif itu demi harga diri gue sendiri. Tapi kalo gue anggep itu cewek just for fun, oke lah, serah dia mau mepet cowok lain. Tapi kalo gue serius, ogah! Kalo gue. Apalagi sekarang dia statusnya bini orang. Lo mau dibilang pembinor"
Samuel menyesap frustasi rokoknya.
"Dulu lo rela nunggu dia putus sama pacarnya, sampe setahun. Lo selalu available buat dia. Tiap dia ribut sama pacarnya, dia lari ke lo. Lo bilang, dia nggak bahagia sama pacarnya dan lo jadi tempat ternyaman buat curhat bla bla bla. Akhirnya dia beneran putus dan jadian sama lo. Selama ini lo dalem sama dia, tapi nyatanya nggak cukup bikin dia yakin nikah sama lo. Kenapa nggak lo jadiin baby aja tiap kalian ketemu?dan sekarang dia bilang ga nyaman sama suaminya dan Lo balik jadi tempat dia curhat. Curhat kok dihotel..?" Cengiran nakal Fredi mengembang. "Dari pada lo digantung lebih lama lagi? Lo udah habis banyak waktu, uang, tenaga, pikiran buat dia. Toh kalian juga udah kayak begitu kan? Jadi kalian ini sekarang apa? Mantan with benefit? Nggak ada hubungan tapi kayak orang pacaran, mana lo setia nunggu dia." Tukas Fredi.
"Ya mana bisa gue begitu?" Samuel menatap protes. "Dia yang punya rahim, dia yang mutusin mau hamil apa nggak... Dan dia masih bini orang"
"Terus?"
"Ya udah...."
"Ya udah gitu aja?"
"Ya gue bisa apa? Gue udah berkali-kali ajak dia nikah tapi dia masih belum mau cerai,dan sekarang suaminya yang mau nyerein dia." Jawab Samuel.
"Ya dia nggak mau, soalnya dia masih pingin nguasaian harta suaminya! Sam come on, wake up!" Fredi menatap gemas. "Gue nggak tahu apa yang dia cari. I mean, umur dia juga udah 36."
"Ya dia emang, liberal gitu. Dia nganggap pernikahan itu ngerugiin cewek. Dia nggak pingin punya anak, cuma pingin hidup buat diri dia sendiri. Cowok itu buat dia cuma....."
"....... temen uhu uhu?" tukas Fredi santai sebelum membuang asap rokoknya. "Apa yang lo tunggu dari cewek yang pola pikirnya kayak gitu? Dia kayaknya nggak bakalan berubah pikiran mau nikah sama lo. Kalian udah jelas beda tujuan. Apa ntar lalu nih kalau kalian nikah, dan dia ga mau punya anak, Lo masih mau...?"
Fredi terpekur menatap meja. Sebenarnya, sampai detik ini ia masih berharap bisa merubah pandangan Lidya terhadap pernikahan itu harus mempunyai keturunan.
"Apalagi dia sekarang lagi deket sama cowok lain juga kan? Pengusaha Tionghoa yang kata lo koko itu punya pabrik? Sam, lo yakin mau saingan sama koko koko punya pabrik? Apalagi kata lo tuh koko bawaannya Mercy. Itu yang hari-hari, who knows di garasinya ada Lambo or Ferari. Pabrik lho Sam. Udah jelas jauh lebih tajir dia daripada suaminya sekarang,Lo nggak capek saingan terus? Jangan jangan Lo nanti bakal muncul bawa bawa bahwa Lo pewaris Tirtha Group...? Selama ini si Lidya belum tau kalau Lo anak konglomerat kan...?"
"Gue udah singkirin lawyer, jaksa, pegawai pajak, bankir juga, dokter bedah, owner club dugem, apalagi.... Gua yakin kok Lisdya bukan money oriented, jadi ga perlu gua nunjukin identitas gue." Jawab Samuel mengabsen satu demi satu laki-laki yang pernah ia kalahkan. Apa ada yang terlewat?
"Yang koko owner club dugem itu nggak lo kalahin. Si Lidya gagal sama tuh koko, soalnya si koko milih married sama cewek lain pilihan keluarganya yang mengharuskan si Koko nikah sama orang Thionghoa juga. Akhirnya Lidya balik kucing ke lo. Yang dokter bedah juga nikah sama sesama dokter." Fredi mengangkat kedua alisnya saat mengingatkan Samuel yang sesumbar dan berlagak amnesia.
"Gue curiga Lidya ini cindo hunter, tapi yang tajir. Lo bukan cindo, lo cuma cindang... " Ujar Fredi yang membuat bengong Samuel
"Cindang?" Samuel menatap heran.
"Cinta cadangan." Jawab Fredi menampakkan cengiran tanpa dosa.
"Ck!" Samuel kembali menatap meja dengan muram sambil memangku sebelah pipi seperti orang sakit gigi.
"Ya gue tahu, Lydia menurut lo cakep banget. Selera lo banget. Tapi, apa gunanya kalo lo cuma dimainin? Lo singkirin mereka semua tapi lo juga nggak dapetin dia. Sori, lo yakin kalo lo itu pemenang? Gimana kalo ternyata lo itu cuma ban serep? Atau coba tunjukkan kalau Lo seorang Tirta..?" Ujar Fredi.
Samuel menatap hampa wajah tega Fredi. Memang seperti inilah mulut Fredi yang sering kali kelewat pedas demi menyadarkannya.
"Sam , jangan saingan sama koko punya pabrik. Dah nyerah aja! Cari cewek lain. Lo ganteng, sukses, Man! Cewek kayak Lidya banyaaak! Satu lagi ..! Jangan rusak rumah tangga orang...!" Fredi menatap gemas pada Samuel.
"Lo tahu gue dalem banget sama dia," sahut Samuel lirih. Ia tahu Fredi tidak akan pernah berhenti menajamkan kembali logikanya yang sudah kelewat tumpul. Tapi hanya memang Lidya yang ia inginkan. Samuel tidak ingin mengganti pilihannya, hanya demi bersanding dengan perempuan yang tidak akan menyeret seluruh hatinya tanpa tersisa.
"Sammmmmmmm..." Fredi menatap malas sahabatnya sejak kuliah. Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga berada dengan latar belakang yang baik, membuat Samuel menjadi sangat pemilih dalam urusan tambatan hati, khususnya dari segi fisik. Apa daya, temannya yang kelewat pemilih itu terlanjur terpikat pada Lidya , yang sejauh ini di matanya hanya seorang player.
" Pagi ....."
Begitu sapaan ramah yang kerap terdengar genit di telinga Raisa setiap Ia datang berbarengan dengan Dewi salah satu sekertarisnya Direktur. Meski pun sapaan itu bukan untuknya, tetap saja Raisa merasa para pria-pria itu genit.
Hampir setiap pagi ia mendengar sapaan demikian dari para bujang-bujang hingga bapak-bapak jika kebetulan datangnya bersamaan dengan Dewi. Tentu saja ia kerap luput dari sapaan. Jika pun ada yang menyapa, paling-paling hanya dari orang yang kebetulan mengenalnya saja.
Tapi sejauh yang Raisa amati, hampir semua lelaki yang berkantor di lantai atas dan lantai bawah menyempatkan untuk menyapa ramah Dewi, salah satu karyawan primadona di kantor ini. Kadang beberapa staf yang tidak pernah bersinggungan pekerjaan dengan Dewi Pun turut menyapa melalui senyuman jika kebetulan sedang bertatap mata.
Raisa sendiri pun jadi sering mendapati senyuman para lelaki jika mereka berhadapan dengan Dewi.
Namun sejak Dewi berhijab dua bulan yang lalu, sapaan itu seringnya menjadi, "Assalamualaikum Kak Dewiiiii....."
Hanya Dewi lah , satu-satunya yang diberi sapaan Assalamualaikum meski yang berhijab di gedung ini bukan hanya Dewi.
Sejauh ini hanya sapaan Arjuna dan Sofyan yang terdengar bernada normal di telinga Raisa.
Arjuna yang masih bujangan dan bapak Sofyan memang selalu bersikap cool di hadapan para karyawan wanita, meski terbaca dengan cara yang berbeda.
Pak Sofyan pria beristri yang dikenal taat beribadah. Sudah selayaknya pria beristri yang taat beragama bersikap demikian. Tetapi Arjuna? Meski pun terlanjur dicurigai penyuka sesama jenis, nyatanya Arjuna masih kerap membuat para karyawan wanita di Bank Thirta itu tersipu, terutama Dewi yang sangat terlihat menaruh harap pada Arjuna.
Percaya tidak percaya, telah lama terbangun yel yel ber cieeee dan deheman berisi gurauan di belakang punggung Arjuna setiap kali Dewi salah tingkah di dekat Arjuna.
Demikian situasi yang terbaca oleh Ais. Para pegawai di departemen ini, kerap menggoda Dona jika itu berhubungan dengan Ares.
"Pagi," sapaan berwibawa terdengar seperti biasanya saat Raisa sedang menggambar alis di balik meja.
"Pagi Pak Arjuna" jawab Raisa sambil mengangguk dan tersenyum setelah mengenakan kacamata minusnya sebelum mengangkat wajah, tepat ketika Arjuna muncul di depan mejanya. "Pagi Pak." Ia membalas dengan senyuman seperti biasa.
Arjuna segera meletakkan kantung kresek sambil menatap lurus wajahnya.
"Eh? Apa ini Pak?" tanya Raisa dengan raut bingung.
"Coba kamu liat di cermin..!." Arjuna melirik sekilas pada gigi Raisa yang berwarna merah terkena lipstik lalu pada kantung kresek yang baru saja ia letakkan di atas meja. Kedua matanya turut menangkap pensil alis dan bedak padat di meja sekertarisnya itu.
Raisa yang penasaran segera melihat wajahnya di cermin namun karena bibirnya tertutup, Ia tidak bisa melihat giginya yang terkena lipstik, lalu mengecek isi kantung kresek di atas meja dan dengan terheran-heran mengeluarkan satu bungkus tisu beserta kotak tisu. "Ini.... buat apa Pak?"
"Buat meja kamu. Di meja kamu nggak ada tisu. Sekarang, di meja kamu udah ada kotak tisu sama isinya. Bisa untuk menghapus lipstik di gigi kamu...!" Jawab Arjuna sambil memiringkan kepala. Kini tidak ada alasan lagi untuk sekertaris nya itu bersikap jorok dan mengelap gigi yang terkena lipstik dengan ujung lengan kemeja karena sudah tersedia tisu di atas mejanya.
"Ma... makasih Pak!" Raisa mengangguk dalam hatinya malu tapi juga senang, meski tidak mengerti mengapa tiba-tiba Arjuna begitu perhatian terhadap kondisi meja kerjanya? Terutama dengan lipstik di giginya.
Sedangkan Arjuna hanya mengangguk sebelum menuju ruangannya.
Dan tidak mengerti ada perempuan membiarkan buku hidungnya panjang melambai keluar.
Semalam ia sempat berbelanja sebelum pulang dan ia memutuskan membeli tisu untuk meja kerja Raisa. Ia tidak bisa bertahan melihat hal-hal jorok lainnya. Sudah cukup ia melihat Raisa mengusap lipstik di gigi dengan ujung lengan kemeja. Arjuna tidak ingin melihat hal-hal yang lebih jorok dari itu.
Seperti biasa, sebelum memulai aktivitas pagi, Raisa selalu minum segelas kopi susu terlebih dahulu.
Raisa segera menuju pantry sambil menenteng gelas berikut kopi sachet-nya dan melihat Benny dan Benno juga Rahma sedang bicara pelan.
"Hayo ngegosip apaan?" Tanya Raisa sambil bersiap menyobek bungkusan kopi di tangannya.
Tanpa banyak basa basi Benny menyeret lengannya agar menjauhi dispenser dan ikut bergabung dengan mereka di pojokan pantry yang memanjang.
"Sssttt.... kita liat pacarnya Pak Arjuna." Ucap Benny setengah berbisik.
"Hah?" Raisa tentu saja menatap sangsi.
"Kemarin aku sama Benny jalan ke mall ." Benny menyebut nama mall legendaris di Surabaya.
"Selesai kalian beauty class kita mampir ke mall?" Benny kembali berbisik sambil melirik ke arah pintu yang terbuka. "Nah, kita liat Pak Arjuna ngopi berduaan sama laki-laki..."
Kedua mata Arjuna segera melebar. Sepertinya ini sesuatu yang seru. Ia sempat mencuri raut Rahma yang bereaksi sama sepertinya.
"Pak Arjun keliatan sedih, kayaknya ribut sama cowoknya. Aku yakin dia nangis sih, soalnya nunduk gitu lho. Jadi kan tempat ngopinya itu smoking area. Dan kita tuh makan di tempat lain tapi di seberangnya tempat dia ngopi gitu lho." Benny menjelaskan dengan kedua mata berbinar.
"Ssst.... ssst." Benno memberi isyarat dengan telunjuknya agar Benny memelankan suaranya.
"Aku perhatiin cowoknya. Badannya tegap, gede, pake slim fit. Macho banget. Terus ada lesung pipinya. Kulitnya kuning gitu." Benny menepuk gemas lengan Raisa . "Ih gila Pak Arjuna ! Aku kira Pak Arjuna itu yang jadi cowoknya lho...."
Raisa dan Rahma saling berpandangan dengan heran sebelum menatap Benny.
"Lah emang Pak Arjuna itu cowok kan..?" tanya Raisa dengan polos yang segera mengundang tawa tertahan pasangan ipin Upin itu.
Lagi-lagi Raisa dan Rahma hanya bisa saling pandang.
Raisa yakin bukan hanya ia yang tidak mengerti, buktinya Rahma yang baru berusia 30 tahun juga tidak mengerti.
"Tapi emang cakepan Pak Arjun sih. Cuma cowoknya nggak kalah karismatik gitu lho. Berkacamata, kayak orang pinter dan elite berkelas lah ," sambung Benny sambil menahan senyumannya.
"Lengan cowoknya tuh gede. Gila. Lebih macho daripada Pak Arjuna tau ga lhoooo" Benny kembali menegaskan. "Duh, kecewa aku. Aku kira Pak Arjuna yang jadi cowoknya. Dia tuh sangat lelaki gitu lho. Eh ternyata pacarnya lebih lelaki lagi."
Rahma dan Raisa saling menatap dengan tawa tertahan.
"Kamu yakin? Kalo itu temennya gimana?" tanya Rahma dengan senyuman geli.
"Dia nangis! Pak Arjuna nangis! Ya kan?" Ucap Benny sambil menoleh pada Benno.
"Nggg...." Benno memutar kedua mata dengan ragu.
"Aku yakin Pak Arjuna itu nangis di depan pacarnya! Sekarang pikir, ngapain nangis di depan temen cowok? Malu lah..." Benny menegaskan pendapatnya. "Terus, kita sengaja nunggu dia cabut kan? Penasaran mereka mau ke mana. Eh belanja dong, berdua!" Benny mengacungkan kedua jarinya dengan antusias.
"Ya terus? Pacaran gitu?karena mereka belanja berdua..." Raisa menatap sangsi.
"Ya iyalah Bund.... sekarang ngopi berdua, belanja berdua, udah jelas itu pacaran. Pak Arjuna itu kan tinggi ya, ini cowoknya lebih tinggi dari Pak Arjuna lho. Pokoknya macho pol! Aku perhatiin pas mereka jalan. Mataku jeli. Cara cowoknya mandang Pak Arjuna itu soft banget. Aku tahu itu." Ucap Benny sambil tersenyum kecil.
Raisa melirik Benno yang tampak tidak yakin. Entahlah.
Raisa lalu berjalan kembali ke mejanya dengan perasaan antara percaya tidak percaya. Masa sih Arjuna beneran seperti omongan mereka?
Diam-diam terselip rasa tidak rela. Bukannya karena Raisa memendam rasa suka, tetapi Arjuna dalam persepsinya selama ini jauh dari kesan seperti itu.